Aing Collections

... anything 2 collect...

Friday, October 29, 2004

 

Resensi Film

Aing Collections

Judul (Nilai)- tahun rilis / Sutradara / Pemeran-pemeran utama / (NEGARA PRODUSEN JIKA BUKAN AMERIKA SERIKAT) {Bahasa yang digunakan jika bukan Bahasa Inggris}/ [durasi] / (( Judul Lain jika ada )) Komentar. [Batas Usia]
* Penghargaan Yang Diperoleh

Batas Usia Versi MPAA
NC-17 = Seseorang yang berusia di bawah 17 tahun sama sekali tidak diperbolehkan menonton
R = Penonton yang berusia di bawah 17 tahun harus didampingi orang tua (kira-kira setara "Untuk Dewasa" versi LSF)
PG-13 = Penonton yang berusia di bawah 13 tahun harus didampingi orang tua (kira-kira setara "Untuk Remaja" versi LSF)
PG = Anak-anak sebaiknya didampingi oleh orang tua.
G = Penonton dari semua umur boleh menontonnya. (kira-kira setara "Untuk Semua Umur" versi LSF)
































Arti Nilai, dari Tertinggi sampai Terendah:

 adalah nilai tertinggi yang diberikan dalam resensi ini. Film dengan nilai ini adalah film yang kami anggap sangat istimewa, mengagumkan, dan hampir sempurna dalam segala segi.
½ adalah nilai yang kami berikan pada film yang juga lebih dari sekedar “menghibur”. Resensi ini selalu memuji habis-habisan film seperti ini, namun biasanya kami sampaikan juga apa yang membuat film ini tidak sampai mendapat nilai sempurna (empat bintang).
 adalah nilai yang diberikan untuk film yang mempunyai beberapa aspek yang pantas dipuji dan membuatnya lebih dari sekedar “biasa-biasa saja”. Walau mungkin tidak terlalu istimewa, film seperti ini setidaknya memenuhi syarat untuk dijadikan sekedar hiburan.
½ adalah nilai yang paling sering diberikan dalam resensi ini. Film yang mendapat nilai ini bisa berarti memuaskan dalam beberapa hal sekaligus mengecewakan dalam hal lainnya, atau bisa juga berarti bahwa film ini sangat “biasa” hingga sulit dipuji ataupun dikecam.
 adalah nilai yang kami berikan pada film yang mengandung beberapa “kesalahan yang tidak fatal” namun cukup untuk membuatnya tidak terlalu memuaskan.
½ adalah nilai yang didapat oleh film-film yang benar-benar mengecewakan, membosankan, atau film yang nilai hiburan atau nilai "artistik"-nya hampir tak bisa ditemukan sama sekali.
 adalah nilai terendah yang diberikan resensi ini. Hanya film yang benar-benar memuakkan atau menjijikkan yang kami berkati nilai ini.


A



Accidental Hero (lihat: Hero)
Ace Ventura. Pet Detective (½)- 1994 / Tom Shadyac / Jim Carrey, Courteney Cox, Sean Young, Tone Loc, Dan Marino, Noble Willingham, Troy Evans, Randall “Tex” Cobbs, Udo Kier, John Capodice, Alice Drummond, Mark Margolis / [80 mnt] Film ini membuktikan bahwa profesi apapun bisa dieksploitasi hingga menghasilkan banjir uang di Hollywood. Ketika maskot tim Miami Dolphins hilang, satu-satunya harapan adalah usaha pencarian gila-gilaan oleh Ace Ventura (Carrey), detektif spesialis hewan hilang. Di sinilah dunia mulai mendapat kesan pertama dari sensasi yang ditimbulkan Carrey dan wajah karetnya, hanya itulah aksi yang bisa dipertahankan komedi yang sering kehabisan bahan guyonan ini, Jim (yang juga turut menulis skenarionya) mendominasi, merusak, dan menyelamatkan seluruh tontonan dari awal sampai akhir, dan beruntunglah durasinya tidak mencapai satu jam setengah hingga ketika film berakhir kita masih merasa segar dan belum benar-benar marah pada orang ini. [PG-13]
Addams Family, The ()-1991 / Barry Sonnefield / Anjelica Huston, Raul Julia, Christopher Lloyd, Dan Hedaya, Christina Ricci, Elizabeth Wilson, Judith Malina, Carel Struycken, Dana Ivey, Paul Benedict / (101 mnt) Keluarga hantu paling unik di dunia televisi dan komik kini menyempatkan diri juga tampil di layar lebar. Fester (Lloyd), saudara Gomez yang menghilang sejak remaja, tanpa disangka-sangka kembali ke tengah-tengah keluarga Addams, tentu saja Gomez dan keluarga menyambutnya dengan gembira. Si kecil Wednesday adalah anggota keluarga pertama yang mempunyai kecurigaan: apakah ini paman Fester asli atau penipu yang berniat buruk? Cerita tidak usah menjadi perhatian utama di sini, penampilan para Addams, gaya hidup mereka, dan lingkungan mereka tetap enak ditonton walau kita tidak dibebani rasa ingin tahu kemana cerita akan berjalan. Sonnenfeld, mantan penata kamera kepercayaan mavericks The Coen Brothers, tak henti-hentinya bermain-main, baik dengan setting, spesial efek, maupun dengan sudut-sudut gambar. Pemilihan pemain yang cukup berani, juga ternyata sangat memuaskan, terutama Julia yang membuat Gomez menjadi sangat kharismatik. Jangan harap anda akan menemukan karakterisasi yang sama dengan serial televisinya, film ini tak punya banyak persamaan dengan serial semi legendaris itu dan lebih setia pada versi asli komik Charles Addams. [PG-13]
Addams Family Value, The ()- 1993 / Barry Sonnenfeld / Anjelica Huston, Raul Julia, Christopher Lloyd, Joan Cusack, Christina Ricci, Carol Kane, Jimmy Workman, Carel Struycken, Dana Ivey, Peter McNichol, Christine Baranski, Mercedes McNab, Nathan Lane, Peter Graves, Tonny Shalhoub / [93 mnt] Keluarga favorit dunia kembali lagi ke layar perak. Cerita dimulai dengan kelahiran anak ketiga di keluarga Addams yang disambut dengan kebencian luar biasa oleh kedua kakaknya. Pembukaan ini menjadi sebab terpecahnya cerita menjadi dua : kehadiran babysitter psikopat (Cusack) yang mengincar kekayaan Fester dan diasingkannya kedua anak Addams ke sebuah perkemahan musim panas yang riuh rendah. Sequel pertama penerus “The Addams Family” ini tak menawarkan kesegaran visual yang liar seperti pendahulunya, dan tanpa itu, apa yang bisa diharapkan dari film seperti ini? Secara tematis pun film ini jauh lebih kering dari film pertama. Untunglah masih ada aksi Ricci yang berhasil membuat si supercuwek Wednesday menjadi bintang. Sementara Cusack mencuri perhatian di banyak adegan dengan membuktikan bahwa overakting tidak selalu berarti buruk. [PG-13]
Adventures of Rocky & Bullwinkle, The (½)- 2000 / Des McAnuff / Robert DeNiro, Rene Russo, Jason Alexander, Piper Perabo, Randy Quaid, Janeane Garofalo, Carl Reiner, Jonathan Winters, John Goodman, Billy Crystal, Whoopi Goldberg, Kenan Thompson, Kel Mitchell, James Rebhorn, David Alan Grier, Norman Lloyd, John Polito, Don Novello. Suara : June Foray, Keith Scott / (88 mnt) Rocky dan Bullwinkle adalah tokoh kartun Jay Ward yang lahir dari film-film pendek berdurasi tiga menit (!). Tapi ternyata versi layar lebar ini berhasil memberi cerita yang cukup “berarti” hingga pasangan ini bisa beraksi selama hampir satu setengah jam. Bersama seorang agen FBI, Karen Sympathy (Perabo), kedua pahlawan ini berhadapan dengan musuh besar, Fearless Leader (De Niro), yang siap menguasai dunia lewat televisi. Rocky, Bullwinkle, dan Karen hanya punya waktu dua hari. Film yang memadukan animasi dengan live-action ini tak pernah kekurangan imajinasi tematis, baik para protagonis maupun antagonisnya tak pernah berhenti melakukan perbuatan-perbuatan yang penuh kejutan dan sering kali benar-benar lucu, mereka juga berada dalam plot yang menarik. Rocky, Bullwinkle, Fearless Leader, dan semua tokoh dalam film ini adalah karakter-karakter hiperaktif yang sangat menghibur (mereka sangat lincah, hingga kadang tampak kejam, ini membuat film ini memperoleh batas usia “PG”, bukan “G” sebagaimana kebanyakan film animasi Hollywood). Namun penyajian animasi dan seluruh setting nyata film ini selalu terasa setengah hati, mungkin inilah film campuran animasi dan live-action yang paling tidak spektakuler di zamannya. Sayang. [PG]
Advocate, The (½)- 1995 / Leslie Megahey / Colin Firth, Ian Holm, Donald Pleasence, Amina Annhabi, Nicol Williamson, Sophie Dix, Michael Gough, Harriet Walter, Jim Carter, Lysette Anthony / (( Trial of the Pig )) (( Hour of the Pig )) {AMERIKA SERIKAT-BRITANIA} / [101 mnt] Pada pertengahan zaman kegelapan di Prancis, sekte-sekte agama berdiri dan mempunyai hukum dan pengadilan sendiri, beberapa diantaranya memperlakukan binatang seperti manusia: bisa dituntut hukuman yang sama seperti manusia dan berhak mendapatkan pengacara! Richard Courtouis (Firth) adalah seorang pengacara yang datang ke sebuah kota kecil, salah satu pekerjaan yang paling menyibukannya adalah membela seekor babi milik seorang gadis Timur Tengah (Annhabi). Courtouis juga memasuki kehidupan kota kecil yang misterius dan penuh skandal. Beberapa bagian film ini cukup menarik untuk disimak, baik thriller maupun unsur komedinya, namun secara keseluruhan tidak termasuk istimewa walau telah mencoba untuk menampilkan satir sosial secara provokatif. Banyak kritikus begitu terkesan dan memuji film ini tinggi-tinggi, namun kami berpendapat film ini terbebani sendiri oleh satir transparan yang coba dibawanya, hingga beberapa potensi besarnya untuk menjadi film yang enak dinikmati malah tidak termanfaatkan secara sempurna. [R]
Affliction ()- 1998 / Paul Schradder / Nick Nolte, Sissy Spacek, James Coburn, Willem Dafoe, Mary Beth Hurt, Jim True, Marian Seld, Holmes Osborne, Brigid Tierney, Sean McCann, Wayne Robson, Eugene Lipinski / [114 mnt] Wade Whitehouse adalah seorang polisi alkoholik yang mempunyai hubungan yang buruk dengan orang-orang dekatnya, terutama putrinya (Tierney), pacarnya (Spacek), dan ayahnya (Coburn). Sebuah peristiwa kematian misterius di lingkungannya tiba-tiba membangkitkan berbagai sisi yang lama lumpuh dalam dirinya, dan sekaligus membawa kita ke rahasia-rahasia kehidupan tragis Wade. Terdengar menarik dan dalam, namun film ini gagal memaksa kita perduli pada semua itu, kita seakan selalu menunggu sesuatu yang signifikan, namun tak ada yang pernah terjadi. Schradder mengadaptasi novel Russell Bank (yang juga menulis “Sweet Hereafter”) dengan tanggung dan tak lancar, bahkan kehadiran tokoh “poros” (adik Wade) yang diperankan Dafoe malah membuat film super serius ini semakin tumpul. Akting brilian Nolte adalah alasan utama untuk mengampuni film ini, dan Coburn juga bermain spektakuler dalam ruang yang lebih terbatas. [R]
* Academy Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Coburn)
Afterburn ()- 1992 / Robert Markowitz / Laura Dern, Robert Loggia, Michael Rooker, Vincent Spano, Richard Jenkins, Andy Romano / [105 mnt] (Film Televisi) Janet Harduvale (Dern), janda seorang penerbang muda, berjuang melalui jalan hukum melawan perusahaan perancang pesawat F-16 dan mencoba meyakinkan AU A.S bahwa kematian suaminya (Spano) tidak termasuk katagori pilot’s error melainkan karena ketidaksempurnaan pesawatnya. Seperti kebanyakan film kabel yang dibuat dengan penghematan yang teliti, film ini tak memberikan sesuatu yang luar biasa, namun gaya bertuturnya cukup enak dinikmati dengan beberapa variasi visual yang efektif. Dern juga bermain sangat bagus.
After Glow()- 1997 / Alan Rudolph / Julie Christie, Nick Nolte, Lara Flynn Boyle, Jonny Lee Miller / [105 mnt] Lucky Mann (Nolte), seorang penata ruangan, dan Phyllis (Christie), seorang bekas aktris Hollywood kelas dua, adalah sepasang suami istri yang dipenuhi kenangan masa lalu dan kehidupan seksual yang tidak mulus. Joe (Miller) dan Marianne (Boyle) adalah sepasang suami istri muda, Joe tidak ingin mempunyai anak, Marianne yang lugu percaya bahwa suaminya sepenuhnya frigid. Bagaimana jika suami yang satu bertemu istri yang lain? Bagaimana jika suami dan istri mereka juga saling bertemu dan menemukan kecocokan? Bagaimana jika kemudian kedua pasangan gelap yang baru itu saling memergoki? Apakah semuanya akan mengakibatkan sesuatu yang sangat buruk? Atau tidak? Mudah sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan itu jika bukan Rudolph yang menciptakan permasalahannya Dengan gaya puitisnya yang khas, yang mengandalkan transisi adegan yang halus dan dialog-dialog aneh, kali ini Rudolph bisa menciptakan sebuah karya yang lumayan lebih berarti daripada kebanyakan film-film buatannya yang cenderung genit dan superfisial. Dia juga kali ini berhasil menciptakan karakter tokoh yang menarik, salah satunya dimainkan dengan sangat bagus oleh Christie. [R]
Age of Innocence, The ()- 1993 / Martin Scorsese / Daniel Day-Lewis, Michelle Pfeiffer, Winona Ryder, Geraldine Chaplin, Richard Grant, Alec McCowen, Mary Beth Hurt, Miriam Margolyes, Sian Philips, Michael Gough, Norman Lloyd, Jonathan Pryce, narasi oleh Joanne Woodward / [133mnt] Kisah film ini diangkat dari novel klasik Edith Wharton yang berjudul sama. Tokoh utamanya adalah Newland Archer (Day-Lewis), seorang pengacara muda yang muak dengan kehidupan aristokrat di New York pada akhir abad ke sembilanbelas yang penuh dusta dan kemunafikan, namun tetap tak mampu untuk melepaskan diri dari gaya hidup seperti itu, sehingga dia merasa tak mempunyai kekuatan untuk menentukan sendiri arah hidupnya, termasuk dalam menentukan pilihan atas dua orang wanita yang dicintainya, May Weiland (Ryder), isterinya yang masih sangat muda, jujur, dan lugu, dan sepupu May, Countess Ellen Olenska (Pfeiffer), istri seorang bangsawan Polandia, wanita matang yang banyak mempunyai banyak persamaan dengan Archer, termasuk sama-sama sering menjadi bahan gunjingan. AoI adalah film yang indah dengan tema yang getir. Di satu pihak, Scorsese menghasilkan karya dengan gaya yang lain dari biasanya, kali ini dia tampil jinak dan tanpa bumbu kekerasan pisik, namun di pihak lain, tokoh orang-orang dengan idealisme yang tertindas seperti Newland atau Ellen adalah khas tokoh film Scorsese. Dia juga adalah master dalam soal menggarap detil, dan dalam film dengan fotografi, tata artistik, dan tata kostum sempurna ini, kesupertelitiannya itu sangat membantu meningkatkan kenikmatan mata menontonnya, namun - bahu-membahu dengan pemakaian narasi yang lebih dari cukup - itu juga membuat tempo menjadi lambat sehingga beberapa bagian menjadi agak melelahkan untuk ditonton. Day-Lewis juga ikut menjadi titik lemah film ini, tidak seperti biasanya, kali ini dia sangat gagap dalam menghayati perannya, untunglah, tak ada yang harus dikeluhkan dari akting Pfeiffer dan Ryder, dua makhluk cantik ini dengan sempurna menjalankan observasi psikologis dua tokoh yang sangat kontras. [PG]
* Academy Awards: Tata Kostum Terbaik, Golden Globe: Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Ryder), British Academy Awards: Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Margolyes), National Boards of Review Awards: Sutradara Terbaik (Scorsese), Aktris Pendukung Terbaik (Ryder)
Alien3 (½) - 1991 / Dave Fincher / Sigourney Weaver, Charles Dutton, Carl Dance, Paul McGann, Lance Henriksen, Brian Glover, Ralph Brown, Danny Webbs, CJ Fields, Pete Postletweithe / [115 mnt] Cerita tentang makhluk dari planet lain ini mulai terasa membosankan, dan ketika dia menanamkan benihnya di rahim Letnan Ripley (Weaver), semuanya menjadi terasa dipaksakan. Kemulusan spesial efek membuat film ini selamat dari kelas “di bawah standar”, ditambah lagi permainan total Weaver yang lebih bagus dari yang dibutuhkan film ini. Bagaimanapun, film ini bukan tandingan kedua pendahulunya, baik dalam hal suspense atau tampilan visual. [R]
Alien IV: Resurrection (½) - 1997 / Jean Pierre Jeunet / Sigourney Weaver, Winona Ryder, Ron Perlman, Dominique Pinon, Dan Hedaya, J.E.Freeman, Brad Dourif, Raymond Cruz, Kim Flowers, Gary Dourdan, Leland Oster, Michael Wincott / [105 mnt] Sig ternyata tidak sungguh-sungguh bosan pada Ellen Ripley. Setelah dua ratus tahun, Jendral Perez dan timnya “menghidupkan” lagi letnan ini dalam bentuk sesosok makhluk perkasa. Namun hal utama yang dicari Perez sesungguhnya tentu saja bukan Ripley, melainkan benih yang ada dalam tubuhnya. Maka sang “It” pun kembali terlahir, kali ini dengan kemampuan reproduksi seperti manusia. Keadaan menjadi kacau bersamaan dengan datangnya gerombolan tentara bayaran yang dipimpin Eglyn (Wincott) yang semula datang untuk mengantar cargo dan menginap di kapal Perez. Anda bisa tahu kelanjutannya. Alien kembali pada waktu yang tepat ketika film-film raksasa Hollywood sedang kembali pada puncak kejayaannya. Film ini dipenuhi banyak sekali keajaiban dan khayalan futuristik yang menyedihkan, namun sulit sekali menemukan alasan yang bisa membuat kita terlarut penuh ke dalamnya. Sutradara fenomenal Prancis, Jeunet (terkenal lewat hit cult “Delicatessen” dan dongeng gila “The City of Lost Children”), mampu memperlihatkan beberapa keliaran fantasi visualnya, namun tidak banyak dan tidak ada yang luar biasa. Jika anda menonton seluruh sekuel Alien ini, maka anda pasti bisa merasakan bahwa sejak “Aliens” (seri kedua), sosok Ripley semakin bukan manusia, mungkin kalau mereka sampai ke seri ke sepuluh, Ripley sendiri yang akan menjadi Aliennya. [R]
Alive ()- 1993 / Frank Marshall / Ethan Hawke, Vincent Spano, Josh Hamilton, Bruce Ramsay, John Haymes Newton, David Kriegel, Kevin Breznahan, Sam Behrens, Illeana Douglas, Jack Noseworthy, Christian Meoli, Jake Carpenter / [125 mnt] Film ini diangkat dari kisah nyata menggetarkan tentang beberapa anggota sebuah tim rugby yang berhasil bertahan hidup setelah selama 72 hari terkepung di salju pegunungan Andes menyusul kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi. Salah satu pengalaman terhebat mereka: sempat memakan daging penumpang lain yang mati! Sesungguhnya film ini hanya mengandalkan gaya bercerita yang kronologis tanpa mengandalkan potensi-potensi lain untuk membuat film ini lebih mencekam, namun mungkin itu sudah cukup. Satu-satunya hal khusus yang cukup menarik perhatian adalah spesial efek yang efisien dan efektif dalam adegan kecelakaan pesawat. [R]
Amantes (lihat: Lovers)
Amateur ()- 1994 / Hal Hartley / Isabelle Huppert, Martin Donovan, Elena Löwensohn, Damian Young, Chuck Montgomery, David Simonds, Pamela Stewart, Erica Gimpel / (A.S - PRANCIS) / [105 mnt] Seorang laki-laki amnesia yang tidak sadar bahwa nyawanya sedang terancam, seorang bekas biarawati yang beralih profesi menjadi penulis cerita porno dan mengaku sebagai nymphomaniac (namun tetap tak pernah melakukan hubungan sex), seorang bintang film porno yang baru sekali melihat disket seumur hidupnya namun dikejar-kejar kelompok penjahat gara-gara disket, seorang akuntan yang kehilangan hampir seluruh kesadarannya dan lantas mengamuk, dua orang kaki tangan penjahat jaringan besar yang tak punya kemampuan cukup untuk jadi kaki tangan penjahat, dan puluhan tokoh ganjil lain hadir dalam film ini, dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang dapat ditemukan dalam film Hartley yang manapun sebelum ini (“Unbelievable Truth”, “Trust”, “Surviving Desire”, “Simple Men”). Disajikan dengan gaya khas Hartley - kelabu, sunyi, kacau, bingung namun tidak membingungkan, Amateur menjamin kepenasaran dan keterhiburan, termasuk untuk penggemar Hartley yang meminta yang terbaik darinya, inilah filmnya yang paling menghibur sebelum “Henry Fool” (1998) Menarik sekali melihat Huppert - aktris Prancis paling populer di Amerika dalam duapuluh tahun terakhir di samping Deneuve, Adjani, dan belakangan Binoche - bermain dalam film “tolol” seperti ini, dia ternyata bisa bermain dalam “nada dasar” yang sama dengan Donovan, Young, Löwensohn, dan pemain-pemain lain yang hanya cocok untuk ditampilkan dalam film Hartley. [R]
American Beauty (½)- 1999 / Sam Mendes / Kevin Spacey, Annette Bening, Thora Birch, Wes Bentley, Mena Suvari, Peter Gallagher, Allison Janey, Chris Cooper, Scott Bakula, Sam Robards, Barry Del Sherman / [118 mnt] / Tak ada yang mengharapkan sesuatu yang istimewa dari film ini, namun drama komedi yang suram ini memberikan ratusan kali lebih banyak daripada yang diminta. Di awal narasinya Lester Burnham (Spacey) berkata bahwa dia akan meninggal sebelum hari ulang tahun terdekatnya. Kita akan lupa perkataannya itu karena kita kemudian diperkenalkan pada kehidupan sehari-hari Lester. Dia adalah seorang pria setengah baya yang hampir dipecat dari kantornya. Istrinya, Carolyn (Benning) adalah teror terdekatnya, dan putrinya, Jane (Birch), tak mau menjadi sahabatnya. Di tengah kehidupan seperti itu, Lester melihat sesuatu pada teman Jane, Angela Hayes (Suvari), gadis di bawah umur yang tak segan mengumbar perkataan-perkataan orang dewasa. Tak pernah terlintas dalam pikiran Lester bahwa daya tarik Angela akan membangkitkan banyak hal – baik yang baru ataupun yang pernah hilang - dalam dirinya, walau mungkin agak terlambat. Mendes membuat salah satu debut penyutradaraan layar lebar paling mengesankan dalam dekade ini, AB adalah satu dari sedikit film akhir abad yang merupakan rangkaian adegan-adegan yang SEMUANYA efektif dan berkarakter. Skenario Alan Ball memang tak bisa dibilang sempurna, namun kadang bisa membuat kita bertanya-tanya bagaimana dia bisa membuat sesuatu yang sangat unik, observatif, dan meluas dari pokok bahasan sesederhana itu, keistimewaan film ini berawal darinya. Enam tokoh utama yang menarik mengisi film ini, tak satupun diciptakan sambil lalu, dan tak satupun dimainkan dengan buruk oleh para pemerannya. Akting Spacey dalam film ini adalah petualangan, dia menangani setiap ekspresi dramatik dan komedik film ini dengan sempurna, Bening tampil dengan karikatur histeria yang seharusnya, Cooper - sebagai seorang gay mantan marinir – mencuri setiap adegan yang melibatkannya, Bentley dan Birch bersinar dengan akting “freezer” mereka, dan Suvari hanya satu atau setengah titik saja dari sensasional dalam film Amerika paling mengesankan di akhir millenium kedua ini. [R]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Mendes), Skenario Asli Terbaik (Alan Ball), Aktor Terbaik (Spacey), Tata Musik Terbaik, Golden Globe : Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Terbaik
American Buffallo ()- 1996 / Michael Corrente / Dustin Hoffman, Dennis Franz, Sean Nelson / [79 mnt] Film ini muncul ketika semua orang Amerika kelihatannya bersedia diseret masuk ke dalam film-film indie (film produksi perusahaan kecil), tidak terkecuali “The Little Big Man” Hofman. Di sini diceritakan bagaimana Don (Franz) ngotot menyuruh Jim (Nelson) untuk mencari kembali sebuah uang logam lama yang dijualnya US$90 pada seseorang, Don baru saja mendapat informasi bahwa ternyata uang itu bisa dijual dengan harga US$ 900. Teacher (Hoffman) datang belakangan mencoba memberi masukan pemikiran, sebagian diterima Don, sebagian lagi dianggap mengacaukan. Suasana kemudian memanas, dan akhirnya terjawab, mereka meributkan sesuatu yang tak mungkin lagi diperbaiki. Hanya tiga orang yang tampil dalam film ini, mereka juga tak pernah pergi jauh-jauh dari sekitar toko Don, namun ketiganya berakting gila-gilaan. Hofman sekali lagi membuat semua orang harus mengangguk pada pernyataan bahwa tak banyak aktor sehebat dia, sementara akting Franz (lebih dikenal lewat serial “NYPD Blue”) tak pernah terteter sedikitpun dari Hofman, dan aktor muda, Nelson, menyelingi dengan sangat memuaskan. Ketiganya didukung skenario yang sangat alami yang membuat film ini tak pernah membosankan. [R]
American History X ()- 1998 / Tony Kaye / Edward Norton, Richard Furlong, Fairuza Balk, Stacy Keach, Jennifer Lien, William Russ, Ethan Suplee, Joe Cortese, Guy Torry, Giuseppe Andrews, Antoni David Lyons, Karem Malicki Sanchez, Jordan Marder, Nicholas Oleson, Anne Lambton, Avery Brooks, Beverly D’Angelo / [120 mnt] / Derek (Norton) tumbuh untuk menjadi seorang pemuda kulit putih yang sangat mengagungkan rasnya dan tentu sangat membenci orang kulit hitam. Dia kemudian meringkuk di penjara karena membunuh beberapa orang pemuda hitam yang hendak mencuri mobilnya. Di penjara, Derek mulai menemukan bahwa seluruh alam pikiran fanatiknya sama sekali tidak membawa kebaikan apa-apa bagi siapapun. Dia keluar dari penjara sebagai Derek yang baru, namun sepulangnya ke rumah dia menemukan adiknya (Furlong) telah menjadi Derek lama, seorang skinhead fanatik yang rajin berkumpul dengan teman-teman sefahamnya. Kaye, yang juga menggarap fotografi film ini, membuat sebuah karya yang sangat jelas dan tajam, sangat berpotensi untuk menarik perhatian. Filmnya ini sangat layak secara teknis, logis secara psikologis, netral secara moral, dan sah secara politis, kurang apa lagi? Sayang, ketika menontonnya, dengan tanpa terlalu banyak berpikirpun, kita bisa menangkap pretensi khotbah dosis tinggi dan melankolisme yang kental, Kaye juga cenderung “bermain safe” dengan endingnya yang tragis. Namun kalau anda ternyata tak berkeberatan dengan semua itu, anda akan menyebut film ini bagus sekali. Fakta yang tak usah didebat adalah sensasionalnya akting Norton, film ini melejitkannya ke papan atas aktor muda Amerika dan itu memang pantas. Furlong berhasil mengimbanginya dengan akting yang sangat sensitif. [R]
American Pie ()- 1999 / Chris Weisz / Jason Biggs, Jennifer Coolidge, Shannon Elizabeth, Alyson Hannigan, Chris Klein, Clyde Kusatsu, Eugene Levy, Natasha Lyonne, Thomas Ian Nicholas, Chris Owen, Lawrence Pressman, Tara Reid, Seann W. Scott, Mena Suvari, Eddie Kaye Thomas, Molly Cheek / [100 mnt] / Lima orang siswa tingkat akhir sebuah SMU merasa begitu terganggu oleh kenyataan bahwa mereka belum pernah melakukan hubungan seks. Maka mereka berikrar dalam semacam pakta bahwa mereka akan melakukannya sebelum pesta perpisahan. Film ini berhasil menyadarkan kita bahwa komedi seks remaja Amerika belum benar-benar bertambah baik dari zaman “Private School for Girls” (1985), diperlukan dua atau tiga manusia seperti John Hughes atau Amy Heckerling untuk membuat sesuatu yang lebih berarti. Humor-humor dan suasana-suasana seksualnya memang menggelitik di awal-awal, namun setelah itu kita mulai bosan dan tak lagi penasaran, daya tarik film ini habis begitu kita tahu kemana semua akan berjalan, dan tak ada hal lain yang bisa menambalnya. Suvari berhasil mencuri simpati sebagai seorang gadis koor dan Lyonne adalah pilihan yang sangat tepat sebagai seorang mak comblang komersial, namun anak-anak muda yang lain tak menunjukkan bakat akting sebesar mereka berdua. Anda, para orangtua yang menonton film ini, mungkin akan berharap bahwa film ini masih terlalu ngeseks untuk remaja-remaja Indonesia. [R]
American Psycho ()- 2000 / Mary Harron / Christian Bale, Willem Dafoe, Jared Leto, Josh Lucas, Samantha Mathis, Matt Ross, Reese Witherspoon, Chloe Sevigny, Cara Seymour, Justin Theroux, Bill Sage, Guinevere Turner, Park Bench / {AMERIKA SERIKAT-KANADA} (101 mnt) Dalam kehidupan yang sedemikian hedonis dan sibuk, orang bisa kehilangan semua makna, seks terasa hambar, cinta tak punya kekuatan, semua tujuan menjadi samar, dan frustrasi mudah sekali muncul. Patrick Bateman (Bale) adalah wakil dari generasi nothing itu, dia adalah seorang pialang muda – tipikal yuppie kota besar Amerika – yang mulai kehilangan semua pijakan moralitasnya. Dimulai dengan perasaan-perasaan iri dan keinginan untuk menjadi “lebih berarti”, Bateman memasuki hari-hari baru yang penuh darah, beberapa orang tewas di tangannya dengan cara yang sangat kejam dan motif yang tidak masuk akal. Dia menjelma menjadi salah satu American Psycho. Para penulis skenarionya, Harron, Turner, dan Roberta Hanley, tidak membuat sebuah kisah satir dan sadis yang datar, mereka menyusun plot yang bisa membuat pemirsa tak bisa melepaskan diri lagi dengan alam pikiran Bateman, sekaligus terputus hubungan dengan kenyataan-kenyataan lain di luar itu, film ini hanya berjalan di kepala seorang monster yang sangat anti-sosial. Harron membuat filmnya menjadi sangat gelap dan tak kenal belas kasihan, American Psycho tak memberi kita kesempatan untuk berpikir cerah. Film ini luar biasa pekat dan tajam, namun begitu angkuh dan tak pernah mengizinkan kita untuk menarik kesimpulan yang memuaskan. Catatan : Mary Harron (“I Shot Andy Warhol”) dam Guin Turner (“Go Fish”, “Chameleon Woman”) termasuk tokoh-tokoh muda utama kebangkitan feminisme – dan kadang lesbian – dalam perfilman Amerika. Kisah American Psycho selintas seperti tak ada kaitannya dengan reputasi mereka, namun kalau anda perhatikan lebih teliti, dimensi moral yang wajar hanya diterapkan pada tokoh-tokoh wanita dalam film ini, sementara semua tokoh prianya mirip monster atau robot rusak. [R]
American Werewolf in Paris, An ()- 1997 / Anthony Waller / Tom Everett Scott, Julie Delpy, Vincent Verluf, Phil Buckman, Julie Bowen, Pierre Cosso, Tom Novembre, Thierry Lhermitte / (A.S - PRANCIS) / [105 mnt] Tiga orang remaja Amerika pergi ke Paris, di sana mereka melakukan beberapa hal yang termasuk gila, ini membawa salah satu dari mereka (Scott) berkenalan dan jatuh hati pada Serafine (Delpy), seorang gadis yang pernah nekat meloncat dari Eiffel. Tentu kisah Serafine bukan hanya itu, dia ternyata membawa darah keturunan manusia srigala. Film ini diilhami oleh film John Landis “An American Werewolf in London” (1980), namun rasanya barang Amerika-Prancis ini tak mampu memberikan kesegaran yang sama dalam hal humor dan intrik. Bahkan, tujuh belas tahun berlalu, anda masih akan lebih terkesan oleh metamorfosa David Naughton oleh Rick Baker daripada seluruh spesial efek dalam film ini. [R]
Amistad (½)- 1997 / Steven Spielberg / Morgan Freeman, Nathaniel Hawthorne, Anthony Hopkins, Djimon Hansou, Matthew McConaughey, David Paymer, Pete Postlewaithe, Stellan Skarsgard, Razaaq Adoti, Abu Bakar Fofanah, Anna Paquin, Thomas Millian, Chjwetel Ejiofur, Derrick N.Ashong, Geno Silva / [141 mnt] / Film ini berkisah tentang kasus pemberontakan budak-budak belian dari Afrika terhadap awak-awak kapal Amistad milik Spanyol di tahun 1839. Budak-budak itu kemudian “terdampar” di Amerika dan menjadi objek pengujian hukum yang belum sepenuhnya mapan di negara muda itu. Spielberg kembali mengambil sudut pandang yang unik dalam mengamati sejarah, dia membongkar buku semi faktual William Owens dan lewat filmnya, Spielberg dan penulis skenario David Franzoni lebih cenderung membuat sebuah antropologi sejarah tentang moral, mereka seperti ingin membuktikan betapa canggung kita melihat masa lalu dari masa kini. Amistad tidak pernah dibicarakan sehangat “Schindler’s List” atau “Saving Private Ryan”, mungkin karena pesan-pesan idenya tampil terlalu telanjang sementara pokok bahasannya jauh lebih asing, namun secara filmis, Amistad tetap sesuatu yang istimewa. [R]
Analyze This ()- 1999 / Harold Ramis / Billy Crystal, Robert De Niro, Lisa Kudrow, Joe Viterelli, Chazz Palmenteri, Leo Rossi, Molly Shannon / [105 mnt] Crystal bermain sebagai Ben, seorang psikiater yang sudah sangat siap untuk melaksanakan pesta perkawinannya yang kedua, namun segalanya berpotensi untuk menjadi kacau balau sejak pertemuannya dengan Paul Vidi (De Niro), dedengkot mafia yang sangat membutuhkan bantuan profesional Ben sebagai psikiater. Humor dan action segar dihidangkan sekaligus dengan cukup lezat dalam komedi yang sebenarnya bergaya sangat standar ini. Beberapa adegannya berpotensi serius untuk mengundang tawa meriah. Crystal dan De Niro juga bermain sangat atraktif dalam peran mereka. Komedi romantis yang berputar-putar di dunia mafia bukanlah barang yang terlalu lazim, namun di tahun 1999 malah ada dua film sejenis, satu lagi adalah “Mickey Blue Eyes” dari pabrik pasangan Hugh Grant dan Elizabeth Hurley, bila harus memilih dan membandingkan, Analyze This terasa lebih segar dan unik. [R]
Angela's Ashes (½)- 1999 /Alan Parker / Emily Watson, Robert Carlyle, Joe Breen, Ciaran Owen, Michael Legge, Ronnie Masterson, Pauline McLynn, Liam Carney, Eanna McLiam, Moira Deady, Kerry Condon, Gerard McSorley, Eamonn Owens, Andrew Bennet (narasi) / (145 mnt) / Film ini adalah biografi masa kecil dan remaja Frank McCourt, salah satu penulis ternama Irlandia. Frank (dimainkan oleh Breen, Owen, dan Legge) lahir di New York sebagai putra dari pasangan miskin Malachy (Carlyle) dan Angela (Watson). Bagian awal film ini lebih dititik beratkan pada tanggapan Frank tentang sang ayah, seorang pria pemabuk yang tinggi hati, namun berhasil menyisakan berbagai kenangan manis pada sang anak. Setelah Malachy membawa keluarganya kembali ke Irlandia dan kemudian dia sendiri menghilang, kehidupan Angela dan anak-anaknya tak sungguh-sungguh bertambah baik, perjalanan mereka adalah kemalangan panjang. Anda yang mudah terlarut dalam sebuah cerita akan merasakan rangkaian sakit hati yang seakan tanpa akhir, itu diwakili dengan kontradiktif oleh tokoh Angela yang seakan telah menyerah walau tampak kuat dan Frank yang sinis namun masih menyisakan harapan kemenangan. Dengan kisah sedepresif ini, film ini tetap memberikan berbagai tawaran sebagai sesuatu untuk dinikmati dalam gaya konvensional namun tanpa sentimentalisme murahan. Penyutradaraan teliti Parker (yang juga menulis skenarionya bersama Laura Jones) membuat setiap suasana terasa dekat. Ketiga aktor mudanya berhasil menghidupkan Frank dalam berbagai usia setelah di bagian awal Carlyle merajai film dengan membuat Malachy begitu penuh dimensi, sementara itu Watson berkali-kali menusuk hati dengan akting sensitifnya yang memang selalu istimewa (perhatikan ekspresi sekilasnya saat Frank menampar wajahnya, what an actress!). [R]
Angel Baby (½)- 1995 / Michael Rhymer / John Lynch, Jacqualine McKenzie, Colin Friels, Debora Lee Furness, Daniel Daperis, Robyn Nevin, David Argue, Jane Manelaus, Geoff Burke, Humprey Bower / (AUSTRALIA) / [100 mnt] Film ini adalah sebuah kisah cinta yang sangat depresif dan tragis. Harry tidak mempunyai pekerjaan tetap dan masih tinggal bersama keluarga kakaknya, Kate tak punya sanak saudara dan selalu mempercayakan guratan nasibnya pada hasil sebuah kuis di televisi yang sangat mengobsesinya (lihat bagaimana jadinya jika pada suatu hari kuis itu tidak mengudara tepat waktu!). Lebih dari itu, keduanya mengidap gangguan psikosis kambuhan. Namun cinta tidak membiarkan sesuatupun menghalangi mereka untuk hidup bersama dan memutuskan untuk mempunyai anak. Penyutradaraan yang sangat bagus oleh Rhymer - variasi visualnya memadai dan penggambaran kegetirannya mantap - serta akting hebat Lynch dan McKenzie mampu membayar tipisnya plot yang sangat taat formula, mudah ditebak, dan tak jauh berbeda dengan roman abnormal lain. Film ini juga diisi banyak lagu yang bagus, antara lain dari Nusrat Fateh Ali Khan, Brian Eno, Maurice Seezer, Gavin Friday, dan Enya, namun…..terlalu banyak sampai kadang mengganggu. [R]
Angels & Insects (½) - 1996 / Philip Haas / Mark Rylance, Patsy Kensit, Kristin Scott Thomas, Saskia Wickham, Chris Larkin, Douglas Henshell, Annette Badland, Lindsay Thomas, Michael Sylvester, Jeremy Kemp / (BRITANIA) / [85 mnt] William (Rylance) adalah seorang ahli serangga berjiwa lurus, dia baru pulang dari Amerika Latin dan tinggal di rumah induk semangnya. Di situ, dia bertemu seorang staff rumah (Scott-Thomas) yang sangat tertarik dengan ilmu serangga, William sendiri kemudian lebih tertarik pada Eugenia (Kensit), putri sang induk semang. William akhirnya berhasil mendapatkan gadis impiannya itu, namun kenyataan tidak selalu seindah impian, sebuah rahasia besar dan menyakitkan terungkap kemudian di depan mata Wiliams (anda tahu kata apa yang paling dekat dengan “serangga” dalam Bahasa Inggris), menghancurkan kehidupan rumah tangganya dan membelokkan jalur hidup pria jujur ini. Penyutradaraan Haas mengesankan ketelitian yang baik, dia juga tahu banyak tentang keindahan, sementara skenario yang ditulisnya bersama istrinya, Belinda, diadaptasi dari novelet A.S. Byat, bahkan mencoba memparalelkan dunia serangga yang digeluti William dengan lingkungan sosial yang ditinggalinya. Namun tempo film ini cukup membuat kesal; dia terasa bertele-tele ketika kita tidak sabar, dan melonjak-lonjak saat kita perlu kejelasa. Kebanyakan pemain terlihat tidak menarik, kecuali Rylance yang bermain bagus, dan Scott Thomas yang selalu tampil baik dalam setiap film yang dibintanginya. [R]
Animal Instinct (½)- 1992 / Alexander Gregory Hippolyte / Maxwell Caulfield, Jan Michel Vincent, Mitch Gaylord, Shannon Whirry, Delia Sheppard, David Carradine / [85 mnt] Setelah meminum sejenis obat, seorang wanita menyadari dirinya menjadi mempunyai nafsu sexual yang aneh dan berlebihan, dan suaminya, seorang polisi, mulai menemukan kesenangan mengintipnya berhubungan dengan pasangan yang berganti-ganti. Film yang genit, kaku (walau bergaya pseudo-dokumenter), dan juga tidak sexy walau dipenuhi adegan sex. [R]
Anna and the King ()- 1999 /Andy Tennant / Jodie Foster, Chow Yun Fat, Bai Ling, Tom Felton, Syed Alwi, Randall Duk Kim, Lim Kay SIu, Melissa Campbell, Keith Chin, Mano Maniam, Shanthini Venugopal, Deanna Yusoff, Geoffrey Palmer, Ann Fairbank, Bill Stewart, Sean Ghazi, K.K. Moggie / (147 mnt) / Anna Leonowens, wanita Inggris abad XIX, mungkin adalah salah satu guru yang paling terkenal di dunia. Pada tahun 1862, Anna (Foster) dan putranya (Felton) tiba di Siam dengan tugas mengajar putra-putri Raja Mongkut (Chow). Kehidupan dan tradisi Sang Raja dan masyarakatnya membuat Anna membuka mata bahwa dunia bukan hanya Inggris. Film ini merangkai kisah Anna dengan latar belakang tinjauan sosial pada masa itu, hasilnya jelas ratusan kali lebih keras dan satiris daripada kisah musikal “The King and I” yang legendaris. Sub-plot tentang selir Tuptim (Bai Ling) dan kiprah politik Raja Mongkut membuat film ini semakin tampak ambisius, dan tanpa itupun – dengan hanya menyaksikan gaya produksinya yang luar biasa mewah – kita tahu betapa ambisiusnya film ini, begitu luas permukaan yang coba ditelusurinya hingga kedalamannya tak begitu terasa. Setidaknya kesan spektakuler dan kejutan yang berani masih mewarnai film ini. Sosok serius Foster dan sosok romantis Chow banyak membantu dengan kharisma yang mereka miliki. [PG- 13] Anna Karenina (½) / Bernard Rose / Sophie Marceau, Sean Bean, Alfred Molina, Mia Kirshner, Fiona Shaw, James Fox, Danny Huston, Phyllida Law, Saskia Wickham, Jennifer Hall / (AMERIKA SERIKAT - BRITANIA) / [85 mnt] Paling tidak ini adalah adaptasi filmis keempat dari karya legendaris Tolstoy tentang Anna, wanita Russia abad kesembilanbelas yang berani membuat skandal dengan meninggalkan suaminya, Karenin, dan pergi bersama seorang anggota militer, Vorinsky. Pasti ada cara yang lebih baik untuk memfilkan sebuah novel, apalagi novel sepopuler “Anna Karenina”, daripada membiarkannya bercerita lurus seperti buku. Fotografinya lumayan dan sangat memanjakan kecantikan termasyhur yang dimiliki Marceau, namun selebihnya tak ada yang istimewa dari film bertempo lambat ini [R]
Another Day in Paradise (½)- 1999 / Larry Clark / James Woods, Melanie Griffith, Vincent Kartheiser, Natasha Gregson Wagner, James Ottis, Paul Hipp, Brent Briscoe, Peter Sarsgard, Kim Flowers, Branden Williams / [110 mnt] / Sepasang petualang ulung dunia kejahatan (Woods dan Griffith) memungut sepasang remaja hijau (Kartheiser dan Wagner) dari jalanan dan membawa mereka dalam sebuah perjalanan keras yang belum siap dihadapi kedua anak muda yang tak tahu masa depannya itu. Clark yang sempat menghentak Amerika dengan “film anak-anak” kontroversialnya “Kids” (1995) kali ini tak membuat karya yang istimewa, novel Eddie Little ini diadaptasi dan difilmkannya dengan tanggung. Woods, yang untungnya bermain sebagus biasanya, adalah produser film ini. [R]
Antonia & Jane ()- 1991 / Beeban Kidron / Saskia Reeves, Imelda Staunton, Bill Nighy, Brenda Bruce, Alfred Marks, Lila Kaye / (BRITANIA) / [76 mnt] Film kecil ini berkisah tentang hubungan dua orang wanita sebaya, Antonia (Reeves) yang cantik dan ambisius, dengan Jane (Staunton) yang jauh dari cantik, naif, namun berjiwa petualang. Setelah lama bersahabat, Antonia menikah dengan Howard (Nighy), pacar Jane. Setelah kejadian itu, kedua wanita ini memutuskan untuk hanya bertemu setahun sekali, makan malam setiap malam tahun baru. Dalam masa jarang bertemu itulah hidup mereka berubah banyak, mereka mulai menyadari bahwa mereka adalah dua orang teman yang saling berpengaruh, saling membenci, saling iri, sekaligus saling membutuhkan dan saling menyayangi, hal itu hanya mereka utarakan pada psikiater mereka…..yang kebetulan sama (Bruce). Komedi ringan ini menggali persahabatan dan persaingan panjang khas wanita dengan gaya yang cerdas, jenaka, dan kadang-kadang agak gila. Reeves dan Staunton bermain ideal di garis depan. [R]
Apollo 13 ()- 1995 / Ron Howard/ Tom Hanks, Bill Paxton, Kevin Bacon, Gary Sinise, Ed Harris, Kathleen Quinlan, Clint Howard, Mary Kate Schellhardt, Emily Ann Lloyd, Miko Hughes, Max Elliott Slade, Jean Speegle Howard, Tracy Reiner, David Andrews, Michelle Little, Chris Ellis, Xander Berkeley, Loren Dean, Ray McKinnon / [136 mnt] Tiga orang awak Apollo 13 yang gagal melakukan pendaratan di bulan karena kerusakan pesawat, berhasil dengan selamat kembali ke bumi setelah melalui pekan yang sangat menegangkan, baik untuk ketiganya maupun untuk orang lain yang mempunyai hubungan dengan mereka dan peluncuran pesawat. Howard dan sepasang penulis skenario, William Broyles Jr dan Al Reinert, sangat cerdik dalam mengupas detil teknis peristiwa sehingga pemirsa yang awam akan astronautika bisa mengikuti dengan mudah. Penggambaran setiap adegan terealisasi dengan mulus dengan fotografi dan spesial efek yang bagus. Namun secara dramatik film ini tak selalu bercerita lancar, beberapa bagian terasa mengganggu dan beberapa bagian justru terasa hilang, selain itu pemanusiaan figur para astronot dilakukan seadanya, sehingga film ini sering terasa sebagai sebuah film dokumenter karena kekuatan eventnya hampir mengubur karakter tokoh-tokohnya, dan itu membuat film ini mengasyikan untuk ditonton namun cukup mudah dilupakan setelah itu. [PG-13]
*Academy Awards: Editing Film Terbaik, Tata Suara Terbaik
Apostle, The (½)- 1997 / Robert Duvall / Robert Duvall, Farah Fawcett, Miranda Richardson, Todd Allen, Billy Bob Thornton, June Carter Cash, Billy Joe Shaver, John Beasley, Walt Goggins, Rick Dial, Mary Lynette Braxton, Zelma Loyd, Sister Jewell Jernigan / [120 mnt] Duvall dan opusnya menceritakan seorang pendeta Pantekosta Amerika yang dikhianati istrinya (Fawcett), dia lalu melakukan pembunuhan dan bertualang dengan membaptis dirinya sebagai rasul penyampai kebenaran. Film ini secara mengejutkan berhasil menjadi box-office di Amerika (di zaman seperti ini!) dan juga cukup sukses secara kritikal. Duvall memang berhasil menciptakan sebuah film dengan kisah yang mengalir sangat rapi dan enak diikuti, semua adegan juga terlaksana dengan baik, dan nilai yang sangat tinggi pantas dialamatkan pada akting fenomenalnya sebagai seorang pendeta yang mencoba untuk menjadi lebih manusia sekaligus lebih transendental. Namun, saling beriringan dengan semua nilai lebih itu, egosentrisme seorang aktor kawakan dan melankolisme tema sangat kuat mewarnai film ini dan membuatnya menjadi terasa tak lebih dari film yang sangat biasa tentang perjuangan seorang pahlawan. [PG-13]
*Independent Spirits Award: Film Terbaik, Aktor Terbaik (Duvall)
Armageddon () -1998 / Michael Bay / Bruce Willis, Billy Bob Thornton, Liv Tyler, Ben Affleck, Will Patton, Peter Stormare, Keith David, Steve Buscemi, Owen C. Wilson, William Fichtner, Jessica Steen, Jason Isaacs, Ken Campbell, Grayson McCouch, Clark Heathcliffe Brolly, Marshall Teague, Chris Ellis, Eddie Griffin, Michael Clarke Duncan, Grace Zabriskie, Udo Kier, Lawrence Tierney Narasi: Charlton Heston / [150 mnt] Sebuah asteroid melaju dengan kecepatan tinggi menuju bumi, bila tak ada yang bisa menahannya maka kisah manusia akan berakhir. NASA kemudian mengirimkan sebuah tim yang sengaja dilatih untuk melakukan pengeboran sedalam 800 kaki di asteroid tersebut. Maka berangkatlah Willis dan krunya, meninggalkan segala roman dan penantian seluruh pengisi dunia. Armageddon memang bukan trend-setter film sejenis, namun tak pelak lagi inilah film yang menjadi wakil utama orgy spesial efek Hollywood di sekitar 1997-1998. Dengan anggaran hampir US$ 160.000.000,00 (sebaiknya anda tidak usah susah-susah mengkonversinya ke rupiah), apa yang tak bisa dilakukan Bay dan krunya? Walau belum tentu setiap orang menganggapnya optimal, film ini memang berhasil tampil memukau dan mewakili sesuatu yang “besar”. Dibanding saingan-saingan genrenya, film ini juga mempunyai keunggulan di titik lemah film-film lain sejenisnya: struktur dramatisnya bertenaga dan barisan pemainnya sangat simpatik. [R]
Army of Darkness (½) -1992 / Sam Raimi / Bruce Campbell, Embeth Davidtz, Marcus Gilbert, Ian Abercrombie, Richard Grove, Michael Earl Reid, Tim Quill, Patricia Tallman, Theodore Raimi, Ivan Raimi / [78 mnt] Campbell (juga bertindak sebagai co-produser) bereuni dengan Raimi setelah dua sequel banjir darah, “Evil Dead”, kali ini sebagai Ash, karyawan S-mart yang terdampar ke zaman kegelapan Inggris dan kemudian memimpin massa sebuah kastil untuk bertarung dengan sepasukan mayat hidup. Keliaran Raimi tak usah diragukan lagi, seperti biasa dia memadukan sadisme dengan guyonan ringan, kali ini disertai dengan pesta efek visual, beberapa bagian memang orijinal, sisanya adalah proyeksi inspirasi dari film lama (pasukan tengkorak hidup, pernah menonton “Jason the Argonaut”?). Durasi yang pendek membuat kita masih bisa menikmati dan tak sempat terlalu bosan dengan kedatarannya. Catatan: Hanya anda yang menonton film ini dari awal yang akan sempat melihat Bridget Fonda dalam film ini. [R]
As Good as It Gets (½) -1997 / James L. Brooks / Jack Nicholson, Helen Hunt, Greg Kinnear, Cuba Gooding, jr., Shirley Knight, Skeet Ulrich, Jesse James, Randal Batinkoff / [138 mnt] Melvin Udall (Nicholson) adalah seorang pengarang yang mampu melakukan banyak hal, namun tidak termasuk bertindak luwes dan menyenangkan orang lain. Dia bertetangga dengan Simon (Kinnear), seorang pelukis gay yang hampir bangkrut, tentu saja hubungan pertetanggaan ini jauh dari baik. Melvin juga tertarik pada kehidupan seorang pramusaji, Carol Connolly (Hunt), yang mempunyai anak sakit-sakitan, namun tetap saja tingkah laku Melvin tidak begitu menyenangkan di mata wanita tigapuluhan ini. Ketika Melvin terpaksa mengantar Simon ke Baltimore, dengan ditemani Carol, dia mulai menyadari bahwa dirinya adalah seorang yang bisa berbuat baik, bahkan bisa juga jatuh cinta, pada Carol tentunya. Pada kenyataannya, kisah film ini tidak sebiasa sinopsis di atas, dari mulai karakterisasi tokoh, dialog, permasalahan, sampai pemecahannya, kita tak melihat banyak hal yang mengingatkan kita pada roman komedi lainnya. Skenarionya yang ditulis oleh Brooks dan Mark ANdrus memberikan banyak sekali kesegaran dalam arti yang agak “sakit”. Pasangan aneh Melvyn - Carol diinterpretasikan sampai titik sempurna oleh kedua pemainnya, Nicholson mendapat ruang yang sangat sangat tepat untuk mendemonstrasikan segala keistimewaannya, sementara bagi Hunt, aktingnya dalam film ini mungkin merupakan salah satu hal terbaik yang pernah dilakukan selama hidupnya yang menahun di “Mad About You”. Dalam tahun pesta spesial efeknya, Hollywood ternyata masih berbaik hati untuk menyisakan film ini, kandidat utama komedi romantis paling berkesan dalam dekade sembilanpuluhan. [R]
*Academy Awards: Aktor Utama Terbaik (Nicholson), Aktris Utama Terbaik (Hunt)
Assassin, The (½) -1993 / John Badham / Bridget Fonda, Dermott Mulroney, Gabriel Byrne, Harvey Keitel, Anne Bancroft, Olivia D’Abo, Miguel Ferrer, Richard Romanus, Geoffrey Lewis / [109 mnt] / (( Point of No Return )) Ini adalah versi Amerika untuk “La Femme Nikita”, kisah seorang gadis berandal (Fonda) yang diubah menjadi seorang pembunuh ahli oleh sebuah institusi. Film ini jelas tak lebih baik dibanding “LFN”, walau tak jauh lebih buruk, hentakan actionnya lumayan menambal kementahan skenarionya. Penyelamat lain adalah Keitel dan terutama Mulroney, walau keduanya muncul kurang banyak, mereka memperlihatkan akting terbaiknya, dan memperlihatkan bahwa mereka pantas untuk skenario yang lebih baik. Sementara itu, model akting Anne Parillaud dalam “La Femme Nikita” membuat Fonda kelihatan serba salah, walau dia juga tidak bermain jelek. [R]
Assassins (½) -1996 / Richard Donner / Sylvester Stallone, Antonio Banderas, Julianne Moore, Anatoly Davydov, Muse Watson, Stephen Kahan, Kelly Rowan, Reed Diamond, Kai Wulff / [132 mnt] / Robert Rath (Stallone) adalah seorang pembunuh bayaran yang beranjak tua dan mulai berpikir tenrang pengunduran diri. Untuk menambah kekayaannya di akhir karir, dia bersedia untuk mengejar satu target terakhir, Elektra (Moore), sosok tipikal “gadis laptop dalam bahaya” versi Hollywood. Adrenalin mulai melimpah dan berpacu sejak kedatangan Miguel Bain (Banderas), assassin muda, flamboyan, dan berdarah lebih dingin daripada Rath. Donner dan penulis skenarionya, Warchavsky bersaudara, membuat film yang, singkat kata: super klise dan penuh omong-kosong moral yang naif, plot seperti ini sudah muncul puluhan kali dalam puluhan versi. Tapi kalau anda bisa mengabaikan semua itu dan memilih untuk hanya menikmati saja kemeriahannya, film ini cukup layak untuk sekedar menjadi pengisi waktu sambil iseng-iseng mencoba menangkap setiap kata yang keluar dengan tidak jelas dari mulut Sly. [R]
At First Sight ()- 1999 / Irwin Winkler / Val Kilmer, Mira Sorvino, Kelly McGillis, Nathan Lane, Steven Weber, Bruce Davison, Ken Howard, Drena DeNiro / (128 mnt) Virgil (Kilmer) adalah seorang tuna netra yang bekerja sebagai seorang pemijat, dia tinggal bersama kakaknya, Jennie (McGillis). Suatu hari Virgil mendapat seorang pasien bernama Amy (Sorvino), arsitek dari New York, bisa ditebak, mereka jatuh cinta. Beberapa waktu kemudian Amy menyarankan agar Virgil menjalani operasi yang bisa mengembalikan penglihatannya, melalui perdebatan alot, Virgil akhirnya setuju, namun semuanya tidak berjalan mulus, tidak banyak yang berjalan mulus. Winkler tentu tidak sekedar tertarik dengan kisah nyata pasen dr. Oliver Sacks (penulis “Awakenings”) ini, dia mencoba menggali hal-hal yang “tidak terlihat” oleh kemanusiaan, namun hasilnya justru menjadi agak eksploitatif, tidak jelas arahnya, dan berakhir begitu saja, kemenarikan film ini hanya terbatas pada garis besar kisahnya saja yang memang menggugah, sementara Winkler nyaris tidak melakukan apa-apa kecuali menghilangkan dimensi-dimensinya. Akting Kilmer membuat film ini bertambah canggung, sementara segala usaha Sorvino tak banyak berguna untuk perannya yang superfisial. [PG-13]
At Play in the Fields of the Lord ()- 1991 / Hector Babenco / Tom Berenger, Aidan Quinn, Kathy Bates, John Lithgow, Daryl Hannah, Tom Waits, Stenia Garcia, Nelson Xavier / [193 mnt] Ada dua sub-plot yang mengisi film ini, keduanya berasal dari satu kisah, terpisah, kemudian bertemu lagi. Yang pertama adalah usaha Kristenisasi di pedalaman Riaruna Amazon oleh dua orang misionaris Amerika Serikat (Quinn dan Lithgow). Quinn mengalami goncangan yang luar biasa pada kehidupannya, anaknya meninggal dan istrinya mengalami krisis kepercayaan yang hebat, yang kemudian menimpa juga dirinya. Mereka juga menghadapi cara berpikir dan gaya hidup masyarakat pedalaman yang sama sekali tak pernah bisa mereka mengerti sepenuhnya. Sub-plot kedua adalah kisah seorang keturunan Indian Amerika Utara (Berenger) yang ingin menemukan lagi jati dirinya sebagai seorang Indian sehingga menggabungkan diri dengan sebuah suku di Riaruna. Pertemuan kedua sub-plot ini membawa sebuah akhir yang tragis dan berdarah, setengah menyatakan bahwa manusia hadir di dunia dalam kodrat dan lingkungannya masing-masing. Besar, panjang, eksotik, dan ambisius, begitulah kira-kira film ini. Dengan beban yang berat, tentu saja tak semua berhasil diwujudkan dengan baik, terdapat beberapa keganjilan yang melemahkan, terutama dalam skenarionya. Namun bagaimanapun film ini sulit sekali untuk tidak menarik perhatian, dan walau durasinya cukup menakutkan, namun tidak terasa membosankan, bahkan kadang-kadang terasa sangat menggetarkan. Secara keseluruhan, APitFotL sangat dekat dengan ½. [R]
Austin Powers: International Man of Mystery (½)- 1997 / Jay Roach / Mike Myers, Elizabeth Hurley, Michael York, Mimi Rogers, Robert Wagner, Seth Green, Fabiana Udenio, Mindy Sterling, Paul Dillon, Charles Napier, Will Ferrell, Joann Richter, Anastasia Nicole Sakelaris, Afifi Alaouie, Monet Mazur, Mark Bringelson, Clint Howard, Elya Baskin, Carlton Lee Russell / [87 mnt] Austin Powers adalah agen tingkat tinggi Inggris tahun enampuluhan, persilangan antara James Bond, John Steed, Demolition Man, gorilla, dan berbagai makhluk yang lebih primitif lagi. Austin membeku selama bertahun-tahun, diaktifkan kembali di tahun sembilanpuluhan, menghadapi dr. Evil (wawww, cermin Austin, aktor yang sama), berpartner dengan si sexy Vanessa Kensington, dan setelah itu: get psychedellic! Lewat “Wayne’s World”, Myers telah membuktikan bahwa kehiperaktivannya disukai dunia. Lewat ancang-ancang seri Austin ini, dia – yang juga menulis skenario dan memproduseri bersama Demi Moore – mengeksploitasi diri melalui segala sesuatu yang berhubungan dengan gaya ceria enampuluhan, kisah detektif, dan vulgarisme, dan bagaimanapun perasaan anda terhadap film ini sepenuhnya tergantung pada apakah anda suka atau jijik pada gaya Austin/Myers. Tapi Hurley, Wagner, Rogers dan yang lainnya tampaknya bisa bersenang-senang bersama Myer - beraksi bersama, bercanda bersama, dan kehabisa humor bersama - kenapa anda tidak? Lagipula film ini mempunyai beberapa adegan yang layak dikenang (termasuk adegan bugil koreografis Myers-Hurley), nama-nama tokoh yang manis (Basil Exposition, Number Two., Alotta Fagina, dll), musik yang meriah, dan…..surprise!…sebuah sekuel. [PG-13]
Austin Powers: The Spy Who Shagged Me (½)- 1999 / Jay Roach / Mike Myers, Heather Graham, Michael York, Robert Wagner, Rob Lowe, Seth Green, Verne J. Troyer, Mindy Sterling, Elizabeth Hurley, Gia Carides, Tim Robbins, Will Ferrell, Kirsten Johnston, Charles Napier, Fred Willard, Oliver Muirhead, Clint Howard / [89 mnt] Austin Powers kembali! Kembali ke tempat asalnya yang maha nostalgik: 1969, dia berhadapan lagi dengan dr. Evil yang masih muda dan masih ditemani Mini Me (Troyes). Kita juga dipertemukan lagi dengan berbagai menu “klasik” Austin Powers pertama. Sekuel – atau mungkin entri serial - ini memang mempuyai tone yang nyaris sama sempurna dengan hit pendahulunya. Hanya saja, dalam seri kedua ini kepercayaan diri Myers seakan berlipat ganda hingga dia tampak 100% yakin bahwa 100% vulgarismenya bisa menghibur orang. Mmm…mmmungkin. [PG-13]
Autumn in New York ()- 2000 / Joan Chen / Richard Gere, Winona Ryder, Anthony LaPaglia, Elaine Stritch, Vera Farmiga, Sherry Stringfield, Jill Hennessy, J.K. Simmons, Mary Beth Hurt, Sam Trammell, Kali Rocha, Steven Randazzo / (105 mnt) Dalam sebuah pesta, Will (Gere), 49 tahun dan tampan, bertemu dengan Charlotte (Ryder), 22 tahun dan cantik. Tanpa proses yang terlalu rumit, mereka saling jatuh cinta. Suasana yang rumit baru terjadi setelah itu, perbedaan usia, sejarah, sudut pandang, dan rencana hidup membuat mereka menjadi pasangan yang penuh perjuangan. Sayang, perjuangan mereka tidak terlalu menarik untuk disimak. Entah kenapa Chen begitu tertarik untuk memfilmkan sebuah roman yang hampir setiap potongan kisahnya bernada klise, dangkal, dan mudah ditebak. Dia sendiri berhasil sedikit menyelamatkan prestasi kerjanya dengan ketelitian yang tidak mengecewakan terhadap detil-detil visual, film ini cukup cantik untuk sekedar dipandang mata. Chen juga telah sejak awal salah memilih pasangan utamanya, ini membuat bentuk hubungan yang ingin ditampilkan kisahnya tak sampai pada pemirsa; sosok Gere menjadikan Will begitu tak bersemangat, pria seperti ini dalam usia seperti itu hampir tak mungkin jatuh cinta pada seorang gadis muda, dan Ryder terlambat tiga empat tahun untuk memainkan Charlote, kecantikannya terlalu matang dan keanggunannya kekurangan spontanitas. Autumn in New York mencoba untuk mencapai plot point puncak ketika Charlotte terjatuh saat bermain ice-skating, ketika sampai di titik itu, pemirsa mungkin sudah tidak perduli atau malah berkata “Mati kamu!”. [PG-13]
Avengers, The ()-1998 / Jeremiah Chechik / Ralph Fiennes, Uma Thurman, Sean Connery, Jim Broadbent, Fiona Shaw, Eddie Izzard, Eileen Atkins, John Wood, Carmen Ejogo, Keeley Hawes, Shaun Ryder, Nicholas Woodeson / (BRITANIA – AMERIKA SERIKAT) [121 mnt] Seakan tak mau tertinggal oleh Austin Powers, pasangan agen rahasia paling populer dalam sejarah fiksi peragenan Inggris, John Steed dan Miss Emma Peel kini hadir dalam sosok sexy Fiennes dan Thurman. Mereka harus berhadapan dengan nemesis jenius yang bisa menciptakan cuaca artifisial (Connery). Film ini mempunyai tampilan visual yang lumayan jreng, namun tak ada lekuk-lekuk cerita yang bisa membuatnya lebih meriah. Versi layar lebar ini terasa hanya sebagai sebuah pembengkakan dari salah satu episode layar kacanya. Fiennes, Thurman, dan Connery bagaimanapun adalah daya tarik yang tak bisa disalahkan. [PG-13]
Awakenings (½)-1990 / Penny Marshall / Robin Williams, Robert De Niro, Penelope Ann Miller, Julie Kavner, Ruth Nelson, John Heard, Max von Sydow, Alice Drummond, Mary Alice, Anne Meara, Richard Libertini / [121 mnt] Cerita ini diambil dari otobiografi dr.Oliver Sacks, seorang ahli penyakit syaraf. Sacks (dimainkan dengan sangat bagus oleh Williams) menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan berusaha membuktikan keampuhan obat L-Dope untuk menyembuhkan pasien-pasien yang berada dalam keadaan “state of vegetable”, usahanya itu sempat mendapat tantangan dari pemilik rumah sakit tempat perawatan pasien-pasien tersebut dan juga dari dokter lainnya, bahkan pasien-pasien itu - yang memang sempat sembuh karena L-Dope - pernah memberontak dan menuntut “kebebasan” mereka untuk hidup normal. Skenario yang ditulis Marshall sebenarnya lurus-lurus saja, namun terealisasiakan dengan penyutradaraan yang sangat teliti terhadap segala aspek film. De Niro memainkan peran dengan tingkat kesulitan super sebagai Leonard, pasien terdekat Sacks, dan dia berhasil melakukannya, jika banyak bagian dalam film ini terasa menyentuh, hampir semuanya diakibatkan oleh Leonard. Para pasien yang lain, semua berakting bagaikan aktor dan aktris top dunia, kapan Academy Awards akan memberikan Oscar untuk: “film dengan figuran terbaik”? [PG-13]
Awfully Big Adventure, An ()- 1995 / Mike Newell / Georgina Cates, Hugh Grant, Alan Rickman, Alun Armstrong, Peter Firth, Prunella Scales, Risa Tushington, Alan Cox, Nicole Pagget, Edward Petherbridge, Gerard McSorley, Carol Drinkwater, Clive Merrison / (BRITANIA) / [104 mnt] / Stella (Cates) adalah seorang gadis lugu berusia limabelas tahun yang sangat terobsesi untuk terlibat dalam dunia teater. Berkat kegigihannya, gadis Liverpool ini berhasil membuka jalan menuju obsesinya dengan bekerja sebagai assisten pribadi seorang sutradara eksentrik (Grant). Selanjutnya Stella bahkan berhasil berkenalan seorang legenda dunia panggung (Rickman), mereka berhubungan cukup jauh, tanpa sadar bahwa sebuah rahasia besar berada di balik hubungan mereka. Newell hampir tak melakukan secuil kesalahanpun dalam mengikuti perjalanan Stella dan menyoroti kehidupan para pekerja teater, bahkan ABA sampai batas-batas tertentu termasuk komedinya yang paling unik. Namun begitu suasana menjadi serius sejalan bertambah intensifnya permasalahan para tokoh, tempo film ini mulai tidak terlalu enak diikuti, dan ketika film berakhir kesan yang kita dapat tidak seberapa, dan kita kemudian akan berpikir bahwa judul film ini hanya humor orang Inggris. Cates, Rickman, dan Grant memberikan yang terbaik yang mereka bisa. [R]




B


Babe (½) -1995 / Christ Noonan / James Cromwell, Magda Szubanski, Zoe Burton, Paul Goddard, Wade Hayward, Brittany Byrne, Pengisi Suara: Christine Cavanaugh, Miriam Margolyes, Danny Mann, Hugo Weaving, Miriam Flynn, Russi Taylor, Evelyn Krappe, Michael Edward Stevens, Charles Bartlett, Paul Livingston, Roscoe Lee Browne (narator) / (AUSTRALIA) / (( Babe. The Gallant Pig )) [101 mnt] Inilah hiburan paling meriah di tahunnya, kisah Babe, babi kecil lucu yang menjadi “anjing” gembala biri-biri ini, dipastikan akan menghibur hampir seluruh lapisan penonton waras dari usia manapun dan dari kelas intelektual apapun. Seluruh hasil kerja keras Noonan dkk di sini tak ada yang tidak memuaskan, dari mulai ide awal, penyutradaraan - dalam arti dan dengan cara apapun - aktor dan aktris dari berbagai macam spesies mamalia dan unggas (dengan Babe, sang pemeran utama, benar-benar superstar), visualisasi yang penuh kesan dengan transisi-transisi sekuen yang manis, dan tentu saja ide dan pelaksanaan komputerisasi yang berhasil membuat semua ternak berakting dan bicara. Tidak seperti yang diduga sebelumnya, isi cerita film ini juga tidak klise, bahkan terkesan satiris, dan “manusiawi” walau tidak 100% formula baru, kita bahkan sempat hampir percaya bahwa ada dunia lain di luar alam insani ini. Kucing adalah satu-satunya binatang yang gagal mendapatkan nama baik dari film ini.
*Academy Awards: Efek Visual Terbaik, Australian Film Institute Award : Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Tata Kamera Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik (Cromwell), Tata Suara Terbaik, Efek Visual Terbaik
Babe 2. Pig in the City ()- 1999 / George Miller / Magda Szubanski, James Cromwell, Mary Stein, Mickey Rooney, Julie Godfrey Pengisi Suara: E.G. Daily, Danny Mann, Glenne Headly, Steven J. Wright, James Cosmo, Myles Jeffrey, Nathan Kress, Stanley Ralph Ross, Russi Taylor, Adam Goldberg, Elizabeth Daily / [120 mnt] Ini adalah sequel buatan Amerika untuk “Babe”, hit terbesar Australia sejak seri “Mad Max”. Penyutradaraanya tetap dipercayakan pada orang Australia, Miller, orang yang melahirkan “Mad Max”, dan juga produser film Babe pertama. Kali ini si babi kecil lucu ini bertualang ke kota bersama ibu pemilik peternakannya (Szubanski), namun kemudian Babe terperangkap dalam sebuah hotel aneh bersama sekelompok primata, dia juga kemudian menjalani kehidupan sirkus yang.tidak begitu menyenangkan Miller mempunyai persediaan imajinasi yang tidak kalah dari Chris Noonan (sutradara “Babe”), film ini berhasil menjadi sekuel yang tidak asal nyambung. Sesuatu yang hilang adalah KECERIAAN YANG MURNI, film ini begitu murung dan gelap, banyak permasalahan yang menyakitkan di dalamnya, dan untuk seekor Babe, kita selalu mengharapkan sesuatu yang cerah. [G]
Baby of Macon, The (½)- 1995 / Peter Greenaway / Julia Ormond, Ralph Fiennes, Philip Stone, Jonathan Lacey, Don Henderson, Jeff Nuttall, Kathryn Hunter, Gabrielle Reid, Jesse Stevenson, Nills Dorande / (BRITANIA - BELANDA - FINLANDIA) / [95 mnt] / Dengan kadar sensasi yang tdak setinggi biasanya, Greenaway hadir dengan panggung sephianya yang bisa membuat orang meringis. Film ini adalah sebuah “pertunjukan dalam pertunjukan”, kita diajak untuk menonton sebuah drama panggung yang dipertunjukkan di sebuah teater di abad ke XVII. Dalam drama itu kita – dan penonton dalam film – menemukan sebuah komunitas yang baru saja menyambut kehadiran seorang bayi yang dilahirkan dari seorang ibu yang sudah tak layak untuk melahirkan, si ibu sendiri kemudian meninggal. Penduduk yang menyucikan bayi itu kemudian dipusingkan oleh seorang wanita muda (Ormond), putri si ibu bayi. Wanita muda ini menyatakan bahwa dialah ibu si bayi yang sebenarnya, penduduk menjadi geger karena gadis ini juga mengaku bahwa dia melahirkannya dalam keadaan perawan, seperti Maria melahirkan Isa. Cerita kemudian menjadi semakin brutal, bahkan sesungguhnya kejadian di atas panggunglah yang menjadi brutal tanpa disadari oleh penonton. Seperti biasa Greenaway menjadikan filmnya sebagai tombak yang langsung menohok naluri-naluri dasar manusia. Film ini menyerang tradisi-tradisi di sekitar moralitas seksual, agama, dan penghukuman, diperlukan kearifan yang cukup dari kita untuk bisa melihat ke hal-hal yang berada di belakang suasana ekstrim yang tampil di permukaan. Greenaway juga adalah orang yang mendesain wajah filmnya dengan keindahan yang mengerikan, Sacha Vierny, penata kamera kepercayaannya, adalah orang yang selalu mengerti kemauannya, rasakan apa yang dihasilkan oleh setiap pengambilan sudut pencahayaan film ini! Ormond, yang berada tepat di tengah-tengah kegilaan film, berakting normal dalam beberapa adegan, namun dalam adegan lain kita tidak yakin apakah dia memang berakting atau kehilangan kesadarannya. [NC-17]
Baby’s Days Out ()- 1993 / Pattrick Read Jonson / Adam Worton, Jacob Worton, Joe Mantegna, Lara Flynn Boyle, Joe Pantoliano, Fred Dalton Thompson, John Neville, Brian Haley, Matthew Clave / [98 mnt] Seorang bayi (sebenarnya diperankan dua orang Worton) diculik oleh sekelompok penjahat, namun ternyata menjinakkan bayi ini jauh lebih sulit dari menjinakkan orang dewasa. Kelanjutannya bisa diduga yaitu parade kesialan para penjahat ala “Home Alone”, hanya saja dalam film ini hal itu semakin lama semakin membosankan, dan film ini juga tak punya karakter penjahat semenarik karakter Pesci dan Stern. Lihat juga betapa dalam beberapa adegan si bayi kelihatan lebih besar, waktu shooting yang hampir setahun memang tidak membuat Boyle (sebagai ibu) berkurang cantiknya, namun untuk bayi urusannya lain lagi, satu tahun berarti gigi, beberapa kilogram, dan belasan sentimeter. [PG]
Babysitter, The ()- 1996 / Jerry Goldsmith / Alicia Silverstone, Jeremy London, Nicky Katt, Lee Garlington, J.T. Walsh, Lois Chiles, George Segal / [119 mnt] Silverstone bermain sebagai seorang babysitter yang digilai - namun tak pernah diganggu - oleh Walsh yang mempekerjakannya. Garlington, istri Walsh, selalu membayangkan menjalin hubungan dengan tetangganya, Segal. Sementara pacar Silverstone, London, diperalat oleh temannya, Katt, seorang berandal untuk mendapatkan sang babysitter cantik. Karena tak sesuatupun terjadi sebelum akhir, maka film ini mencoba memvisualkan khayalan obsesif para tokohnya. Usaha itu tak menghasilkan sesuatu yang istimewa, tak cukup untuk merebut seluruh perhatian. Film ini tak lebih dari lanjutan sindrom Madness to Alicia, dan dalam film ini, objek fantasi Amerika ini terlihat tak bisa berakting. [R]
Backbeat ()- 1993 / Iain Softley / Stephen Dorff, Sheryl Lee, Ian Hart, Gary Bakewell, Chris O’Neill, Scott Williamson, Kai Weisinger, Paul Humpoletz / (AMERIKA SERIKAT - BRITANIA) / [100 mnt] Banyak orang tahu bahwa legenda The Beatles tidak hanya dimulai oleh John, Paul, George, dan Ringo, tapi juga Pete Best dan Stu Sutcliffe. Nama yang terakhir inilah yang tampil sebagai poros film ini. Stu (Dorf) adalah seorang pelukis muda berbakat yang tergoda sahabatnya, John Lennon (Hart), untuk menemaninya membentuk sebuah band bernama Silver Beatle atau The Beatles. Backbeat kemudian mengikuti petualangan John, Stu, Paul, George, dan Pete di Hamburg, Jerman, hingga awal kepopuleran mereka di tahun-tahun pertama dekade enampuluhan. Cerita tetap berpusat pada Stu dan hubungannya dengan dua orang terdekatnya yaitu Lennon dan Astrid Kirscherr (Lee), fotografer intelek Jerman yang sangat berpengaruh dalam membentuk kesan visual Beatles muda (bahkan potongan rambut yang terkenal itu konon adalah tiruan dari potongan rambut Astrid). Di sini diperlihatkan bagaimana Stu pada akhirnya memilih untuk terus melukis dan hanya menyaksikan The Beatles menjadi besar sementara dia berjuang melawan kanker otaknya. Film yang sepertinya hanya bermaksud sok beda dengan mengambil sudut pandang yang terlupa ini ternyata memang pantas diperhitungkan sebagai salah satu film paling menarik tentang The Beatles, alurnya enak diikuti, dan setiap kepentingan cerita diprioritaskan dengan adil. Dorf mungkin bermain terlalu dingin sebagai Stu hingga sebagai peran utama dia sering tenggelam oleh Hart yang menerjemahkan John dengan sangat meledak-ledak dan Lee yang – lebih dari yang bisa diharapkan dari aktris seperti dia - tampil sangat kharismatik sebagai Astrid. NB: Lagu-lagu Beatles dalam film ini dimainkan oleh sebuah grup yang terdiri dari para generator senior musik “alternatif” yaitu Thurston Moore (Sonic Youth), Dave Grohl (saat itu masih Nirvana), Mike Mills (R.E.M), Don Flemming (Grant Lee Bufallo), dan Greg Dulli. [R]
Backdraft ()- 1991 / Ron Howard / Kurt Russell, William Baldwin, Robert De Niro, Donald Sutherland, Jennifer Jason Leigh, Scott Glenn, Rebecca De Mornay, JT Walsh, Jason Gedrick / [135 mnt] Sebuah "gaya baru" pergerakan api penyebab kebakaran, memaksa sepasang kakak beradik petugas pemadam kebakaran untuk menemukan jawaban dari sebuah rangkaian pembunuhan ketika hubungan mereka jauh dari mesra. Ini adalah satu dari sedikit film yang menjadikan api sebagai ide utama cerita dan mengangkat peranan ahli pyroteknik dalam suatu film, juga satu dari hanya sedikit film yang menjadikan petugas pemadam kebakaran sebagai tokoh utamanya. Tampilan Backdraft memang cukup mencengangkan, keberhasilannya menyiasati dan mengumbar api membuat tekanan ketegangan dan emosi film ini terjaga dengan baik, meninggalkan hal-hal lain (hubungan kakak-adik, pacar-pacar, suami-istri, ayah-anak, atasan-bawahan dll) sebagai bumbu saja. Ngomong-ngomong, memberi peran sedatar peran pacar Baldwin pada Leigh sulit sekali disebut sebagai ide yang bagus (walaupun sama-sama bernama Jennifer), namun masih lebih bagus daripada menjadikan Russell dan Baldwin kakak beradik. [R]
Back to the Future Part III  ()- 1991 / Robert Zemeckis / Michael J.Fox, Christopher Lloyd, Mary Steenburgen, Thomas Wilson, Lea Thompson, Elisabeth Shue, Matt Clark, Richard Dysart, Harry Carey / [118 mnt] Fox dan Lloyd tak bosan-bosannya meloncat - atau tepatnya diloncatkan - ke zaman lain, kali ini ke era old wild wild west akhir abad 19. Kita pun tak/belum bosan menonton film ini. Secara tematis dan teknis film ini memang berhasil mengimbangi kedua pendahulunya, cukup jarang untuk sebuah sequel. Zemeckis tak membuat pengulangan bodoh di sini, tapi tolong jangan buat lagi lanjutannya saat ini juga, kami sudah cukup puas (jangan sampai huruf ‘p’ dan ‘s’ berubah menjadi ‘m’ dan ‘k’ gara-gara munculnya Part IV terlalu cepat)! [PG]
Bad Girls ()- 1994 / Jonathan Kaplan / Madelaine Stowe, Andie MacDowell, Mary Stuart Masterson, Drew Barrymore, Dermott Mulroney, James Russo, Robert Loggia / [99 mnt] Setelah membunuh seorang kolonel dan kemudian lolos dari tiang gantungan, Stowe dan tiga orang temannya sesama pelacur (MacDowell, Masterson, Barrymore) menjadi buronan. Selanjutnya....begitulah, sejak pertemuan Stowe dengan Mulroney, tak banyak yang harus diperdulikan, kecuali beberapa kerja editing yang cukup apik dalam adegan-adegan actionnya. BG adalah satu dari sekian banyak film western tahun sembilanpuluhan yang tak bisa dibilang berhasil, baik secara mutu maupun secara komersial. Dengan menjual nama keempat bintangnya (yang dengan mengharukan mencoba bermain sebaik mungkin untuk skenario yang dibuat sedatar mungkin, itupun hanya Stowe yang bisa dibilang berhasil), film ini tetap tak bisa dipercaya dan hanya pantas dikenang sebagai eksploitasi yang tidak cermat atas kepahlawanan, feminisme, dan kecantikan. Film ini juga cukup ricuh dalam proses produksinya, Kaplan menyutradarai sebagai pengganti Tamra Davis yang dipecat karena frustrasi, dan gosip mengatakan bahwa para pemain utamanya jarang bertegur sapa selama shooting, Masterson dan Barrymore bahkan diberitakan sebagai benar-benar “sepasang musuh”. [R]
Bad Lieutenant ()- 1992 / Abel Ferrara / Harvey Keitel, Brian McElroy, Frankie Thorn, Victor Argo, Paul Calderone, Paul Hipp, Stella Keitel / [98 mnt] Seperti apakah letnan polisi yang buruk itu? Seperti tokoh tanpa nama yang diperankan Keitel di sini: korup, emosional, pecandu, penjudi, sering pergi ke tempat pelacuran, tidak membahagiakan keluarga, dan bisa jadi lebih busuk dari semua itu. Namun ketika dia menghadapi kasus perkosaan terhadap seorang biarawati (Thorn) yang dilakukan sekelompok berandal di gereja, moral beragamanya tiba-tiba tersinggung dan dia malah merasakan pertentangan yang menyakitkan dalam batinnya walau itu tak membuatnya menjadi manusia yang lebih baik. Sebagian pemirsa tak akan tahan menyaksikan beberapa adegan dalam film ini, kata “kurang ajar!” mungkin akan keluar dalam mengomentari kekasarannya dalam menggambarkan adegan sex yang cenderung mengerikan dan bukan sensual, kekerasan yang penuh darah, penggunaan narkotik yang sangat jelas, atau serapah Sang Letnan terhadap Isa yang menjelma di gereja. Namun sebagian lagi tak akan berkeberatan dengan semua itu dan justru akan jatuh cinta pada film kelam ini, inilah karya Ferrara yang dibuat dengan paling penuh percaya diri dan inilah penampilan paling total dalam karir si “pengembara sejati”, Keitel, salah satu aktor paling konsisten dan konsekwen - namun tak pernah mendapat penghargaan yang pantas - di Hollywood.. [NC-17]
* Independent Spirits Award: Aktor Terbaik (Keitel)
Barcelona (½) -1994 / Whit Stillman / Taylor Nichols, Chris Eigeman, Tushka Bergen, Mira Sorvino, Pepi Munne, Helena Schmeid, Nuria Badia, Jack Gilpin, Thomas Gibson / [101 mnt] Ted (Nichols), seorang pengusaha muda Amerika di Barcelona, mendapat kunjungan dari sepupunya, Fred (Eigeman), seorang anggota US Army. Dengan segala perbedaannya, keduanya mencoba mencari makna cinta dan gadis idaman di Barcelona, kota unik yang dipenuhi generasi muda bergaya hidup radikal, sekaligus kota yang senantiasa dikacau teroris kecil-kecilan, terutama gerakan anti Amerika. Film ini sangat menunjukkan bahwa Stillman adalah seorang yang cerdas, berwawasan luas, dan memiliki sudut pandang-sudut pandang yang mandiri dalam meninjau kehidupan para bujangan intelek, humornya pun cukup menggigit. Namun cara pembahasannya yang kelihatan hanya ingin memuaskan diri sendiri bisa membuat banyak penonton sama sekali merasa tidak berkepentingan untuk mengikutinya. [PG-13]
Barton Fink (½)- 1991 / Joel Coen / John Turturro, John Goodman, Michael Lerner, Judy Davis, John Mahoney, Steve Buscemi / [117 mnt] Barton Fink (Turturro) adalah seorang penulis naskah drama panggung dari New York yang mencoba menembus Hollywood dan tinggal di sebuah hotel di sana untuk beberapa lama sambil menulis sebuah skenario film, selama itulah dia mengalami banyak pengalaman paling menyengsarakan dalam hidupnya, dipenuhi kejadian-kejadian aneh dan tokoh-tokoh kurang waras. Joel dan Ethan benar-benar menggebrak dengan film ini, lewat kemasan yang begitu redup, kusam, sering kali ganjil, dan dipenuhi humor yang sakit, mereka sangat berhasil menggambarkan perjalanan Fink yang tersesat di “alam seni” yang penuh penderitaan. Ini adalah film paling serius, mungkin juga paling “sulit” dan “khusus”, yang pernah dibuat The Coens sampai saat ini. Namun bagaimanapun, kakak beradik ini membuktikan bahwa mereka pantas mendapat tempat sangat khusus di jajaran pembuat film Amerika dalam dua dekade terakhir ini. Hanya mereka yang bisa membuat penonton melahap dengan sukarela ketidakwajaran-ketidakwajaran yang tidak dibungkus dengan gaya surrealisme warna-warni. Salut juga untuk seluruh pemeran film ini yang tampak tahu pasti (dan mampu melakukan) apa yang diinginkan The Coens, terutama Turturro, Goodman, dan Lerner. [R]
* Cannes: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Coen), Aktor Terbaik (Turturro)
Basic Instinct (½)-1992 / Paul Verhoeven / Michael Douglas, Sharon Stone, Jeanne Tripplehorn, George Dzundza, Leilani Sarelle, Dennis Arndt, Bruce Young, Chelcie Ross, Dorothy Malone, Wayne Knight, Stephen Tobolowsky / [127 mnt] Thriller mega box office ini memang kelihatan sangat basah, tapi sebenarnya kering. Intensitas suspense di antara adegan-adegan yang kemudian menjadi sensasi itu tak pernah mencapai puncak untuk membuat teka-teki yang menjadi inti ceritanya (tentang benar tidaknya Catherine Tromell (Stone), seorang penulis novel, membunuh teman kencannya, seorang bintang rock masa lalu) menjadi lebih menarik. Berputar-putar di masalah sex yang dibesar-besarkan, skenario sensasional (baik isinya maupun harganya) yang ditulis Joe Eszterhas tidak terlalu berhasil membentuk bangunan cerita yang menarik, dan walau sering dianggap sebagai trend-setter thriller erotik, film ini sebenarnya hanya bermain di wilayah-wilayah yang tidak baru lagi. Bukan film jelek, sama sekali bukan, hanya tidak memiliki keistimewaan yang sebanding dengan ledakannya. Tata musik serta akting Douglas dan Tripplehorn adalah unsur-unsur yang bagus, tapi semua bagai tak berarti apa-apa bagi dunia dibanding setiap gerakan kecil yang dilakukan Stone dalam film ini. [R]
Basil ()- 1998 / Radha Bharadwaj / Christian Slater, Jared Leto, Derek Jacobi, Claire Forlani, Rachel Pickup, Stephanie Bagshaw, Crispin Bonham-Carter, Jackson Leach, David Ross / (BRITANIA) / [113 mnt] / Basil adalah seorang pemuda yang tinggal bersama ayahnya (Jacobi) dan seorang adik angkat yang mencintainya, Claire (Pickup). Melalui sebuah kecelakaan, Basil berkenalan dengan seorang gentleman bernama John Mannion (Slater), inilah awal segalanya, apalagi setelah Mannion secara serius mendukung cinta Basil pada Julia Sherwin (Forlani). Ini adalah tipe film yang menggambarkan segalanya dengan banal dan telanjang, sehingga nasib dan perasaan terkesan begitu sederhana dan bersisi tunggal. Bharadwaj tak melakukan sesuatu yang istimewa untuk menutupi itu. Jacobi bermain bagus sebagai sang ayah, Leto agak hambar di peran utama dan siapa mau percaya bahwa Slater adalah pemuda Inggris dari akhir abad XIX? [R]
Basketball Diaries, The (½) -1995 / Scott Calvert / Leonardo di Caprio, Lorraine Bracco, Mark Wahlberg, Michael Imperioli, Bruno Kirby, Ernie Hudson, Pattrick McGaw, Barson Heyman, Roy Cooper / [102 mnt] Film ini diambil dari otobiografi Jim Caroll, musisi, novelis, dan penulis puisi dari New York. Caroll remaja (di Caprio) adalah seorang pemain bolabasket yang sangat baik, namun semua impiannya untuk menjadi bintang bolabasket dan bermain di NBA kandas begitu dia menyeret dirinya ke dalam pergaulan hitam penuh obat bius dan kekerasan. Film ini cukup enak ditonton, aliran ceritanya enak diikuti, dan di Caprio bermain dengan sangat baik (walau tidak semua pemain lain mengimbanginya). Namun segala sesuatunya tak pernah mencapai klimaks dan berlalu begitu saja. Irama film yang sejak awal terjaga baik, dengan gaya penyutradaraan yang baik, tiba-tiba menjadi kacau menjelang akhir, dan ketika film berakhir kita tetap tidak tahu bagaimana caranya Caroll menjadi musisi (dalam film dia tak pernah terlihat mempunyai hasrat besar terhadap musik), betapa mudahnya dia menjual karya tulisnya, dan betapa mudahnya dia diterima masyarakat. Di film ini tersimak bahwa dia menyelamatkan diri dari kehidupan lamanya dengan tanpa pergulatan akhir yang hebat (tentu saja pada kenyataannya tak mungkin demikian, tanyakan pada Caroll!). Sebuah film yang hampir bagus, penuh dengan visualisasi yang memikat, namun tak sampai bagus karena terlalu “percaya diri”. Catatan kecil: Juliette Lewis dan Michael Rappaport hadir tanpa tercantum di kredit pembukaan. [R]
Basquiat () -1996 / Julian Schnabel / Jeffrey Wright, David Bowie, Claire Forlani, Dennis Hopper, Gary Oldman, Michael Wincott, Benicio del Torro, Courtney Love, Parker Posey, Elina Lowensohn, Paul Bartel, Tatum O’Neall, Willem Dafoe, Christopher Walken / [111 mnt] Jean Michel Basquiat adalah pelukis kontemporer Amerika berdarah Haiti yang sempat terkenal di tahun delapanpuluhan. Basquiat (Wright) memulai karirnya sebagai pelukis grafiti jalanan sebelum mengakhiri karirnya dengan kematiannya pada usia sangat muda akibat overdosis. Film ini, secara agak episodik, menggambarkan perjalanan Basquiat (Wright) sejak merintis karirnya, perkenalannya dengan kekasihnya, Gina (Forlani), kegalauannya dalam menjalani kehidupan ditengah-tengah popularitas dan lingkungan glamor, serta persahabatannya dengan si super eksentrik Andy Warhol (dimainkan Bowie dengan akurasi tinggi). Penyutradaraan dan skenario Schnabell rasanya hanya akan dapat dinikmati oleh orang-orang yang benar-benar perduli pada seni dan masyarakat khusus yang terlibat di dalamnya, sedang untuk para pemirsa biasa, film ini akan terasa seperti lukisan sebuah dunia yang benar-benar asing, maka nilai film ini mungkin sekali berkisar dari  sampai . Fakta yang harus diakui pemirsa dari golongan manapun adalah bahwa Wright bermain luar biasa, penerjemahannya terhadap karakter Jean Michael adalah hasil kerja yang bisa dinikmati siapapun. [PG-13]
Batman & Robin (½)- 1997 / Joel Schumacher / George Clooney, Arnold Schwarzenegger, Uma Thurman, Chris O’Donnell, Alicia Silverstone, Michael Gough [128 mnt] Keaton pergi, Kilmer tiba, dan begitu Kilmer pergi, muncullah Mr.E.R, Clooney. Untuk menambah lagi gebyarnya, Schumacher menarik Robin ke dalam judul, dan memberinya kisah sendiri. Namun jurus utamanya tetap dengan menghadirkan dua supervillain untuk melakukan “urusan segitiga” dengan Bruce Wayne, kali ini muncul Dr. Freeze dengan sosok ultrapopuler Schwarzenegger dan Poison Ivy dengan eksotika ala Thurman, keduanya muncul dengan kostum yang sangat fantastis dan agak menggelikan. Tanpa revolusi visual yang berarti, hanya dengan modal cerita yang lebih mudah dinikmati daripada “Batman Forever” sekaligus lebih naif dan simplistik, “B&R” yang mudah dilupakan ini hampir berhasil membawa kembali kesegaran dua entri pertama Batman cyber, hanya sampai “hampir”. [PG-13]
Batman Forever ()- 1995 / Joel Schumacher / Val Kilmer, Tommy Lee Jones, Jim Carrey, Nicole Kidman, Chris O’Donell, Alicia Silverstone, Michael Gough, Drew Barrymore, Debi Mazar, Pat Hingle, Ed Begley jr., Rene Auberjonis, Joe Grifasi / [128 mnt] Film ketiga dari masa Batman Postmo ini tampak lebih meriah dari dua pendahulunya. Tata artistik, spesial efek, dan deretan bintangnya benar-benar dimaksudkan untuk melipatgandakan sukses komersial - dan kalau mungkin mutu - “Batman” dan “Batman Returns”, masih dengan resep sama: mempertemukan Batman dengan karakter lain yang justru lebih menarik dari karakter Batman sendiri. Kali ini Batman (Kilmer, sebagai aktor: lebih kharismatik daripada Keaton, sebagai Bruce Wayne: entahlah) bertemu dua tokoh penuh dendam, Two Face dan Riddler (dua dobel maniak yang masing-masing didobelkan lagi kemaniakannya dengan luar biasa oleh Jones dan Carrey), disaat dia juga menerima kehadiran dr.Chase Meridian yang obsesif (namun diperankan dengan sangat luruuuuus oleh Kidman) dalam hidupnya. Kerja Schumacher, Burton sang produser, dan tim ambisiusnya ternyata hanya menghasilkan sebuah rangkaian episode action yang riuh rendah dan kelihatan seperti tak terkendali, menyia-nyiakan segala teknik tingginya. Terus terang, sulit menemukan cara bagaiman menikmati film ini sepenuhnya. [PG-13]
Batman Returns () -1991 / Tim Burton /Michael Keaton, Danny DeVito, Michelle Pfeiffer, Christopher Walken, Michael Gough, Michael Murphy, Pat Hingle, Cristi Conaway, Andrew Byniarski, Vincent Schiavelli, Paul Reubens [126 mnt] Batman bertemu Penguin dan Cat Woman, dua lambang fantastik pembengkokan kodrat manusia ke arah binatang. Para penggemar komik Batman akan protes dengan penyelewengan-penyelewengan cerita dan perubahan image yang dilakukan Burton, apalagi kadang-kadang terdapat kejadian-kejadian yang terlalu dipaksakan untuk hadir dalam film bercitarasa aneh ini. Namun selain itu tak banyak hal yang salah. Tata artistik dan make-upnya tidak bisa mengundang banyak protes dan karakterisasi tokohnya cukup mendalam (setidaknya cukup untuk ukuran film fantasi ekstrem seperti ini), apa lagi yang kurang? Sebenarnya ada yang kurang : Penguin dan Cat Woman, atau pada dasarnya DeVito dan Pfeiffer, terlalu kharismatik, sehingga Keaton Sang Batman malah tenggelam daya tariknya (tapi ini bukan salah siapa-siapa!). [PG-13]
Bawang Bie Ji (lihat: Farewell My Concubine )
Beach, The (½)- 1999 / Danny Boyle / Leonardo di Caprio, Tilda Swinton, Virginie Ledoyen, Guillaume Canet, Robert Carlyle, Paterson Joseph, Lars Arentz Hansen, Abhijati Muek Jusakul, Zelda Tinska, Victoria Smurfit, Daniel Caltagirone, Peter Gevisser, Lidija Zovkic, Staffan Kihlbom / {BRITANIA} / (118 mnt) / Richard (di Caprio) adalah seorang pemuda Amerika yang datang sebagai turis ke Tahailand untuk “mendekati alam”, namun Thailand di akhir abad ke duapuluh tak lebih dari fotokopi Amerika di Asia Tenggara. Seorang tamu hotel misterius yang mengaku bernama Daffy Duck (Carlyle) menjanjikan sebuah pulau impian padanya, Richard sangat tertarik dan mengajak sepasang anak muda Prancis (Canet dan Ledoyen) untuk mencari surga dunia itu. Mereka menemukan pulau itu, juga sebuah komunitas pencari kedamaian yang dipimpin oleh Sal (Swinton) yang kharismatik dan keras kepala. Semula, semua yang ditemukan ketiga anak muda ini memang surga, namun selama masih mengambil ruang di dunia ini, tak ada sesuatu yang abadi, kekacauan bisa saja muncul di tempat seperti itu. Film ini diambil dari novel Alex Garland yang penuh teror moral, dan di tangan seniman sinema pop seperti Boyle, roh ceritanya memang masih tetap terasa, namun sering tenggelam oleh visualisasi-visualisasi centil yang menjadi merek dagang Boyle selama ini. Kita masih sempat merasa betapa banyak dilema-dilema moral yang dilemparkan pada kita oleh cerita The Beach, namun kita juga lebih sering tak sadar karena tampilan gambar-gambar stylish Darius Khondji begitu memabukkan. Jadi maksud yang sesungguhnya dari film ini memang tak pernah sampai, walau kita tetap disuguhkan suatu tontonan yang secara sinematis di atas rata-rata. [R]
Beethoven (½)- 1992 / Brian Levant / Charles Grodin, Bonnie Hunt, Dean Jones, Oliver Platt, Stanley Tucci, Nicholle Tom, Christopher Castille, Sarah Rose Karr, David Duchovny, Patricia Heaton, Lauren Cronin, CHRIS / [89 mnt] / Beethoven di sini tentu bukan Ludwig dari Austria, melainkan nama seekor anjing St. Bernard yang kehadirannya di keluarga semula sangat ditentang Grodin, sang ayah. Ketika seeroang veterenian dan sepasang “eksekutif” jahat mengancam rumah keluarga ini, Beethoven pun menjadi bintang. Film ini adalah anggota genre “Home Alone” dengan perbedaan pada spesies pahlawannya. Target pasar utama film seperti ini tentu adalah para penonton yang sangat muda, keaksesibilitas humornya pada orang dewasa membuatnya menjadi hit yang tidak sia-sia. [G]
Beethoven’s 2nd (½)- 1993 / Rod Daniel / Charles Groddin, Bonnie Hunt, Nicholle Tom, Christopher Castille, Sarah Rose Karr, Christopher Penn, Ashley Hamilton/ [87 mnt] / Beethoven kini telah dikaruniai beberapa putra dari kekasihnya, Missy. Itu adalah perkembangan pertama sequel ini, setelah itu muncullah penjahat baru agar segalanya tidak persis sama dengan film pertama, dan sequel ini memang tidak menjadi sequel yang tampak bodoh dan hanya mengada-ada, kesegaran-kesegaran baru berhasil didapat, hampir menyamai pendahulunya. [G]
Being Human (½)- 1994 / Bill Forsyth / Robin Williams, John Turturro, Anna Galiena, Vincent D'Onofrio, Hector Elizondo, Kelly Hunter, Lorraine Bracco, Helen Miller, Charles Miller, William H. Macy, Ewan McGregor, Jonathan Hyde, Lindsay Crouse, Lizzy McInnernie, David Proval Narasi oleh Theresa Russell /(BRITANIA - A.S) / [122 mnt] Williams berturut-turut bermain sebagai seorang manusia gua dari zaman sepuluh ribu tahun sebelum Masehi, seorang budak Romawi, seorang Inggris dari abad pertengahan, seorang bangsawan Portugis yang terdampar di Afrika, dan seorang pengusaha Amerika yang mempunyai kehidupan rumah tangga yang kacau balau. Ide cerita di atas tampak sangat gemilang, sangat pantas menjadi sebuah box-office, apalagi dengan Williams di dalamnya. Lalu kenapa tidak terjadi? Karena jika anda mengharapkan suatu hiburan yang spektakuler, film ini tak akan memberikan apa-apa kecuali kekecewaan. Selain persamaan nama, penampilan pisik, dan sedikit persamaan guratan hidup, tak ada persamaan lain antar tiap tokoh yang dimainkan Williams, Forsyth ingin menciptakan benang merahnya tidak dengan peristiwa namun dengan “sesuatu” yang lebih penuh makna, tapi intinya ternyata sulit sampai pada penonton sehingga hasilnya malah seperti antologi film pendek. Film ini punya cukup alasan untuk mengecewakan penggemar Forsyth, sutradara yang terkenal ahli membuat film eksentrik, namun penggemar Williams boleh tetap bangga pada Robin mereka yang sekali jenius tetap jenius. [PG-13]
Belle Epoque ()- 1992 / Fernando Trueba / Fernado Fernan Gomez, Jorge Sanz, Miriam Diaz-Aroca, Ariadna Gil, Meribel Verdu, Penelope Cruz, Gabino Diego, Chus Lampreave, Mary Carmen Ramirez, Michel Galabru, Agustin Ramirez / [SPANYOL] / (Bahasa Spanyol) [108 mnt] ((Spanish Girls)) Film ini adalah film Spanyol yang paling sukses di pasar internasional dalam dekade sembilanpuluhan. Komedi seks ini memmbawa kita ke awal tahun tigapuluhan, masa dimana Jendral Franco siap berkuasa di Spanyol dan telah mulai memberikan janji-janji yang menciptakan optimisme pada masyarakat. Tokoh utama kita adalah Fernando (Sanz), seorang prajurit muda yang menjadi desertir dalam perang saudara. Fernando tersesat ke sebuah kota kecil, di sana dia bertemu dengan seorang pria, Manolo (Gomez) yang tua, kesepian, namun tampak bahagia dan puas dengan hidupnya. Hanya dalam waktu semalam mereka bersahabat, keesokan harinya Fernando bersiap pergi ke Madrid, namun dia mengurungkan niatnya ketika dilihatnya empat orang putri Manolo justru baru datang dari Madrid. Maka kita kembali ke rumah Manolo dan mulailah sebuah suasana domestik yang merupakan ramuan comedy of error dengan roman kehidupan yang sangat manis, penuh dengan karakterisasi tokoh yang membuat penasaran. Film ini memang seakan hanya dibuat untuk merayakan keindahan seks dan euphorianya. Walau tanpa menampilkan satu adeganpun yang eksplisit, kita bisa mengerti bahwa birahi mengendalikan hampir semua orang yang terlibat dalam kisah ini. Dalam nadanya yang sangat ringan, Belle Epoque berhasil menjadi sebuah menu segar sekaligus punya daya hipnotis, walau kadang temponya tidak selalu sesuai dengan kenyamanan pemirsa. Catatan : Film ini diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 2000, delapan tahun setelah perilisannya, dengan judul yang agak norak, Spanish Girls. Alasan pemberian judul itu mungkin cukup memalukan.
* Academy Award: Film Asing Terbaik
Better than Chocolate (½)- 1999 / Ann Wheeler / Wendy Crewson, Karin Dwyer, Christina Cox, Ann-Marie MacDonald, Marya Delver, Kevin Mundy, Tony Nappo, Jay Brazeau, Beatrice Zeillinger, Peter Outerbridge / {KANADA} / (104 mnt) Maggie (Dwyer) mendapatkan pekerjaan di sebuah toko buku, dia kemudian berkenalan dengan seorang pelukis, Kim (Cox), dan mulai menjalin sebuah roman lesbian dengannya. Pada saat yang bersamaan, ibu Mandy, Lila (Crewson), seorang wanita yang “tahu apa itu cinta” tapi “tak pernah menemukan cinta” datang berkunjung ke tempat Mandy tinggal. Kepentingan-kepentingan beradu di sini, tapi ini adalah sebuah komedi yang tidak memungkinkan hal-hal tragis terjadi. Karya Wheeler ini penuh dengan hal-hal eksentrik yang di luar dugaan, namun semua itu hanya cukup untuk menggelitik tanpa menambah bobot substansi filmmnya, kebanyakan tampak seperti basa-basi yang genit. Beberapa tokoh lain juga mmuncul dengan prioritas yang hampir sama besarnya dengan kisah Maggie-Kim-Lila, namun tak ada yang benar-benar berpengaruh pada kemenarikannya. Penampilan Outerbridge sebagai seorang waria drag queen mungkin adalah unsur terbaik dalam film ini, bersaing dengan hasil kerjasama Wheeler dan Fritz Thomas, bedanya, hasil kerja Outerbridge tampak sangat wajar sementara kolaborasi Wheeler dan Thomas agak sok dan lebih cocok diterapkan pada video-klip musik pop alternatif.
Bill and Ted's Bogus Journey () -1991 / Peter Hewitt / Keanu Reeves, Alex Winter, William Sadler, Joss Ackland, George Carlin, Hal Landon jr, Pam Grier, Sarah Trigger / [98 mnt] Sekuel dari “Bill and Ted's Excellent Adventure” (1989) ini kembali bercerita tentang perjalanan dua orang pemuda, yang keduanya sulit digambarkan dengan kata sifat lain selain ‘tolol’ dan ‘beruntung’, dalam menembus waktu. Mereka bertemu dengan tokoh-tokoh terkenal (tokoh nyata atau tokoh fantasi) dari berbagai masa, dan juga bertemu dengan dua duplikat mereka. Spesial efeknya lumayan, Reeves dan Winter juga berhasil membuat Bill dan Ted cukup tolol untuk memancing kelucuan, namun hanya untuk setengah bagian pertama, selanjutnya hampir sepenuhnya memuakkan. [PG]
Big Man, The (½)- 1991 / David Leland / Liam Neeson, Joanne Whaley-Kilmer, Ian Bannen, Billy Connolly, Maurice Roeves, Hugh Grant, Rob Affleck / [BRITANIA] / [93 mnt] ((Crossing the Line)) Neeson bermain sebagai seorang buruh tambang Skotlandia yang kehilangan pekerjaannya. Dia kemudian menerima tawaran dari seorang tokoh misterius untuk ikut dalam pertarungan brutal satu lawan satu yang bisa membuatnya kaya, di lain pihak dia menyadari bahwa itu bukanlah pilihan terbaik yang bisa diambilnya, moralitasnya terabaikan, harga dirinya tersinggung, dan keluarganya dalam bahaya Beberapa kali skenario film ini mengedepankan pesan moral yang agak dipaksakan, itu lumayan mengganggu kenikmatan menontonnya ketika penyutradaraan Leland lumayan enak dinikmati dan para pemain bermain bagus (terutama Neeson dan Connelly). Film ini - walau sentimen pribadi pembuatnya cukup kentara - berhasil memperlihatkan sebuah sisi kelam dari masa pemerintahan Margaret Thatcher. [R]
Big Squeeze, The (½)- 1996 / Marcus de Leon / Lara Flynn Boyle, Luca Bercovici, Peter Dobson, Danny Nucci, Sam Vlahos, Valente Rodriguez, Theresa Disfina / [105 mnt] Henry (Bercovici) adalah seorang bekas bintang baseball yang kini cacat dan tak mempunyai penghasilan kecuali simpanan uangnya di bank. Istrinya, Sonya (Boyle), seorang pramusaji, ingin menariknya keluar. Munculah Benny O’Malley (Dobson), pengembara yang tertarik pada Sonya dan pada uang itu. Dengan strategi “keajaibannya” di sebuah gereja, O’Malley mempunyai peluang untuk memiliki uang itu, namun untuk memiliki Sonya, peluang Jesse (Nucci), seorang tukang kebun Hispanik, tampaknya lebih besar. Film ini mempunyai konstruksi dan tekstur cerita yang terlalu rapi sehingga ada kesan superficial, namun sekaligus memiliki beberapa bagian yang menggelitik berkat keorisinalannya, endingnya memuncaki superfisialitas dan orisinalitasnya, dua sisi yang iromisnya memang sering paralel dalam sebuah film itu. [R]
Billy Bathgate (½)- 1991 / Robert Benton / Dustin Hoffman, Loren Dean, Nicole Kidman, Bruce Willis, Steven Hill, Steve Buscemi, Stanley Tucci, Tim Jerome, Moira Kelly, Mike Starr / [107 mnt] Billy Bathgate (Dean) adalah seorang anak muda yang sangat terpesona pada kharisma Dutch Schulz (Hoffman), gangster legendaris di tahun tigapuluhan. Billy berhasil menceburkan dirinya ke dalam dunia gangster dan belajar makna yang sesungguhnya dari keglamoran yang selama ini dia kagumi. Selain penggarapan detil yang menarik pada setting tahun tigapuluhannya, film ini tak punya banyak yang harus dibicarakan, kita hampir pernah melihat segalanya sebelum ini. [R]
Birdcage, The ()- 1996 / Mike Nichols / Robin Williams, Gene Hackman, Nathan Lane, Dianne Wiest, Dan Futterman, Calista Flockhart, Hank Azaria, Christine Baranski / [119 mnt] Film ini adalah Amerikanisasi dari “La Cage aux Folles”, film Prancis yang secara mengejutkan menjadi superhit Internasional di akhir tujuhpuluhan. Armand (Williams) adalah seorang gay yang mengelola sebuah night club, dia tinggal bersama pacarnya, Albert (Lane), primadona night club itu. Armand cukup dikejutkan oleh anaknya yang baru berusia duapuluh tahun, Val (Futterman), yang tiba-tiba berencana hendak menikah, itu bukan masalah yang terlalu besar, yang membuat mereka harus memainkan berbagai macam permainan adalah rencana kunjungan calon mertua Val (Hackman dan Wiest) ke rumah mereka, calon mertua laki-laki ini adalah seorang senator konservatif yang terkenal moralis, yang tentu saja tak akan bersedia anaknya mempunyai mertua seorang homosexual. Orang-orang berakting sangat bagus di film ini, dengan Lane menjadi bintang utama, dibawah bayang-bayang Michel Serrault dari versi aslinya. Nichols masih mempunyai cukup energi untuk merambah bidang komedi. Film ini berhasil dengan baik dalam menjalankan misi utamanya, melucu, namun sebaiknya lupakan saja bahwa film ini kemungkinan membawa misi lain, moral, yang tentu saja absurd untuk timbangan orang Indonesia. [PG-13]
Bird on a Wire ()- 1990 / John Badham / Mel Gibson, Goldie Hawn, David Carradine, Stephen Tobolowsky, Bill Duke, Joan Severance / [110 mnt] Mel dalam pelarian dari kejaran FBI, Goldie membantunya. Film ini kemudian berusaha keras untuk menjadikan suasana pelarian menjadi lucu sekaligus tegang, sayang tidak berhasil. Mel dan Goldie adalah superstar, tapi di sini mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan film ini tidak tahu bagaimana memperlakukan mereka. [PG-13]
Bitter Harvest (½) -1993 / Duane Clark / Stephen Baldwin, Jeniffer Rubin, Patsy Kensit, M.Emmett Walsh, Sam Baldwin / [96 mnt] Travis (Baldwin), seorang pemuda lugu yang mempunyai banyak misteri keluarga, digariskan untuk menjadi korban dua orang wanita binal yang penuh muslihat (Rubin dan Kensit). Di samping cerita yang disampaikan lewat cara penceritaan yang payah, film ini tak berisi apa-apa kecuali eksploitasi sex dan akting lesu para pemainnya. [R]
Bitter Moon()- 1992 / Roman Polanski / Paul Coyote, Emmanuelle Segner, Hugh Grant, Kristin Scott-Thomas, Victor Barnejee / (AS - JERMAN) / [119 mnt] Osker (Coyote) adalah seorang penulis Amerika yang harus menghabiskan sisa hidupnya dalam keadaan lumpuh. Ketika dia sedang berada di atas sebuah kapal pesiar, dia mulai menceritakan masa lalunya pada salah seorang rekan seperjalanannya, Nigel (Grant). Cerita Osker ini sebagian besar berisi kisah kehidupan sexualnya yang ganjil dengan Mimi (Segner, Ny. Polanski), istrinya yang juga berada di atas kapal itu. Nigel semula tidak tertarik dengan cerita Osker, namun selanjutnya dia bahkan selalu menagih kelanjutan cerita Osker. Semua ini membawa Osker, Mimi, Nigel, dan Fiona (Scott-Thomas), istri Nigel, ke dalam sebuah masalah besar yang berakhir dengan tragis. Polanski memvisualkan cerita ini dengan sangat genit dan berlebihan, seluruh bagian film menjadi sangat kaku dan dibuat-buat, overdirected, padahal ide ceritanya tidaklah jelek. Akting Coyote dan Segner luar biasa menjemukan, Grant biasa-biasa saja, dan Scott Thomas yang bermain bagus tak mungkin menebus semuanya seorang diri. [R]
Blackrock ()- 1998 / Steven Fidler / Laurence Breuls, Linda Cropper, Simon Lyndon, Nicole Avaramidis, Gina Bortolin, George Basha, Pip Branson / (AUSTRALIA) / [100 mnt] Pada suatu malam, Jarred (Breule) pergi ke sebuah pesta ABG yang sangat panas dan liar. Sepulangnya dari pesta, tanpa sengaja dia menyaksikan dari jauh seorang gadis bernama Suzy (Bortolin) diperkosa secara brutal oleh empat temannya. Jarred tidak berbuat apa-apa, bahkan tidak memperdulikan teriakan minta tolong si gadis dan malah pergi meninggalkannya. Keesokan harinya polisi menemukan mayat gadis itu. Peristiwa ini sangat mengguncang sekolah, lingkungan orang tua para dan siswa, dan tentu saja Jarred yang tak menyangka gadis itu terbunuh. Beberapa hari kemudian Jarred mendapat pengakuan bahwa pembunuhnya bukanlah keempat pemerkosa itu, melainkan Ricko (dimainkan dengan sangat bagus oleh Lyndon), teman berselancar dan sahabat terdekat Jarred, Ricko melanjutkan kekerasan terhadap Suzy setelah Jarred pergi. Film ini kemudian mengikuti kegelisahan dan rasa bersalah Jarred setelah kejadian itu dan juga bagaimana hubungannya dengan ibunya (Cropper) yang juga merahasiakan sesuatu terhadapnya. Blackrock memang bukan film Australia yang menyebabkan sensasi seperti "The Piano", "Sirens", "Muriel’s Wedding", “The Adventure of Priscillia, Queen of the Desert”, atau "Babe", tapi percayalah, film ini punya kekuatan yang hampir sama besarnya. Dengan pendekatan sinematis yang tidak terlalu mengada-ada, Findler menyoroti dunia remaja-remaja tanggung dari sudut yang sangat berani, jauh sekali dari genre film remaja Amerika generasi Jenny Love Hewitt.
Blast from the Past ()- 1998 / Hugh Wilson / Brendan Fraser, Christopher Walken, Sissy Spacek, Alicia Silverstone, David Foley, Don Yesso, Joey Slotnick, Scott Thomson / [93 mnt] Pada saat konfrontasi Amerika-Kuba sedang panas-panasnya, seorang profesor yang sangat komunis-phobia (Walken) mendengar sebuah ledakan di depan rumahnya, dia segera berlari menyelamatkan dirinya dan istrinya yang sedang hamil (Spacek), di sebuah bunker bawah tanah yang telah disediakannya sejak lama. Mereka hidup selama lebih dari tigapuluh tahun di bunker itu, selama itu sang profesor yakin bahwa di atas sana perang masih terjadi. Orang pertama dari mereka yang naik ke atas adalah putranya yang kini telah dewasa, Adam (Fraser). Komedi roman ini kemudian mengikuti perjalanan Adam yang tentu saja menemukan dunia luar yang begitu mengejutkan, dan dari sinilah komedi tercipta, sementara roman tercipta dari pertemuan Adam dengan seorang working girl sembilanpuluhan (Silverstone). Penamaan tokoh Eve pada gadis yang dimainkan Silverstone adalah hal terbodoh yang dilakukan film ini, karena selain itu BftP adalah komedi meriah yang berhasil memaksakan ketidakseriusannya pada penonton. Kita juga tidak akan berkeberatan dengan sisi-sisi cutesynya yang memang tidak berlebihan. Fraser memang hanya tinggal meneruskan tradisi peran “si culun tersesat di dunia baru” yang dimainkannya dalam “California Man” atau “George of the Jungle”, tapi yang jelas daya tarik orang ini memang sulit ditahan. Sementara Silverstone mengatasi peran uniknya dengan akting yang matang dan variatif. Walken, Spacek, dan Foyle - sebagai seorang gay teman Eve – juga tampak menikmati peran mereka.. [R]
Blaze (½)-1990 / Ron Shelton / Paul Newman, Lolita Davidovich, Jerry Hardin, Gailaird Sartain, Jeffrey de Munn, Garland Bunting, Richard Jenkins, Ben Cock/ [119 mnt] Film kelas menengah ini bercerita tentang hubungan cinta terbuka antara Earl Long (Newman), seorang gubernur Louisiana tahun limapuluhan yang selalu berkelakuan kontroversial, dengan Blaze Starr (Davidovich), seorang penari erotis. Permainan Newman sangat enerjik, dan tak pernah membosankan. Davidovich mengimbanginya dengan sangat baik, walau rasanya dia kurang cocok untuk peran Blaze. Keduanya membuat film ini tidak terlalu kalah jauh dari kemenarikan kisah aslinya. Catatan kecil: Blaze asli muncul sebentar sebagai Lily, seorang stripteaser tua. [R]
Blink (½)- 1994 / Michael Apted / Madeleine Stowe, Aidan Quinn, Laurie Metcalf, James Remar, Peter Friedman, Bruce A. Young, Matt Roth, Paul Dillon, Michael Kirkpattrick / [106 mnt] Emma Brodie (Stowe) adalah seorang musisi yang sedang berada dalam proses penyembuhan dari kebutaan, dalam proses ini pandangannya masih kabur, tanpa pengertian kedalaman/jarak, bahkan kadang ada semacam penundaan penampilan objek. Pada saat inilah terjadi pembunuhan berantai, tetangganya adalah salah satu korbannya. Emma sempat melihat si pembunuh namun dia tak bisa meyakinkan polisi tentang hal itu. Selanjutnya ditemukan bahkan ternyata dialah sebenarnya sasaran pembunuhan itu. Thriller ini menggunakan formula yang hampir tak ada bedanya dengan yang lain (salah membunuh, detektif tergoda oleh saksi atau sebaliknya, dll), untunglah Stowe dan Quinn bermain bagus, dan efek komputer untuk menggambarkan penglihatan Emma juga lumayan menjadi daya tarik tambahan. Catatan kecil: Stowe sengaja belajar bermain fiddle (biola khas Irlandia) untuk berperan dalam film ini sebagai anggota fiktif The Dovers, grup musik Amerika-Irlandia yang tidak fiktif. [R]
Blood Games ()- 1990 / Tanya Rosenberg / Laura Albert, Greg Cummings, Shelly Ablett, Luke Shay, Ross Hagen / [90 mnt] Para jagoan film ini adalah para pemain sebuah tim baseball wanita, mereka beraksi memberi perhitungan pada kelompok yang telah melakukan pelecehan sexual terhadap mereka. Satu bintang saja. [R]
Blown Away (½)- 1994 / Stephen Hopkins / Jeff Bridges, Tommy Lee Jones, Suzi Amis, Forest Whitaker, Lloyd Bridges, Stefi Lineburg, John Finn, Caitlin Clarke, Brendan Burns / [120 mnt] Seru tapi klise, atau klise tapi tetap seru. Itu dua kesan utamanya. Kisah kedendaman Lee Jones (bermain sebagus biasanya), yang gemar bermain-main dengan bom, terhadap Bridges (bermain hampir sebagus biasanya), bekas sahabatnya ketika aktif di IRA, diramu Hopkins dalam ketegangan yang berhasil dipaksakan sampai titik maksimal. Tapi, semua formulanya telah kita temukan sebelumnya. Dan perhatikan karakter yang dimainkan Lee Jones, psikopat yang sesungguhnya jenius dan punya sense of humor tinggi. Terlalu sering melihat figur seperti ini? Peran De Niro dalam “Cape Fear”, Hopper dalam “Speed”, dan masih banyak lagi? Ssssst…...tak usah terlalu dipermasalahkan! [R]
Blue ()- 1993 / Krzysztof Kieslowski / Juliette Binoche, Benoit Regent, Charlotte Verry, Julie Delpy, Alain Decaux, Emanuelle Riva / (PRANCIS - POLANDIA) {Bahasa Prancis}/ [98 mnt] / (( Trois Couleurs: Bleu )) (( Three Colors: Blue )) Setelah mengalami kecelakaan yang menyebabkan suami dan anaknya meninggal, Julie (Binoche) mencoba untuk hidup dengan lebih penuh perenungan, penuh ketenangan, meditatif, dan perlahan-lahan membebaskan diri dari kenangan masa lalunya. Tentu saja usaha ini tidak selalu mudah, baik untuknya pribadi maupun untuk orang-orang yang selama ini ada di sekitarnya. Bukanlah sesuatu yang di luar dugaan kalau gaya hidup baru Julie membuat film ini juga menjadi sangat dingin dan sunyi, bahkan lambat, banyak adegan yang begitu panjang tanpa banyak pesan verbal yang disampaikan. Kieslowski menggambarkannya dengan teknik sinematografi kelas tinggi yang tampaknya sengaja menggiring film ke suasana sunyi. Dia juga membiarkan Binoche menguasai film ini, inilah akting dan peran terbaiknya sejak the unforgettable Therese dalam “The Unbearable Lightness of Being” (1988), fotografi film inipun begitu memusatkan perhatian pada wanita berkulit pucat ini, setiap ekspresinya - sekecil apapun - selalu tertangkap dengan efektif, hingga film ini benar-benar sesuatu tentang dia. Film ini diikuti oleh dua film lain dari trilogi Trois Coleuers, yaitu “Blanc” (“White”) dan “Rouge” (“Red”), sebuah trilogi yang sepintas terkesan sangat nasionalis, namun sebenarnya ketiga warna itu hanya menandakan tema utama ketiga film yang dilambangkan dengan arti warna bendera Prancis: Libèrte, Egalite, Fraternite, dan bagaimanapun sang sutradara justru berdarah Polandia murni dan berkewarganegaraan ganda. [R]
* Venice Film Festival: Film Terbaik, Aktris Utama Terbaik (Binoche), Cesar Awards: Aktris Terbaik (Binoche), Berlin Film Festival: Aktris Utama Terbaik (Binoche)
Blue Desert (½)- 1993 / Bradley Buttersby / Courteney Cox, D.B.Sweeney, Craig Sheffer, Philip Baker Hall, Sandy Ward, Peter Scrum / [98 mnt] Cox bermain sebagai Lisa Roberts, seorang pengarang cerita komik yang pernah menjadi korban kekerasan sexual tanpa pernah melihat kasusnya terselesaikan. Dia mencoba untuk tinggal di sebuah kawasan gurun, di sana dia terjepit di antara dua laki-laki yang kelihatan mencintainya dan juga sangat berbahaya baginya, seorang narapidana (Sweeney) dan seorang polisi (Scheffer). Film lesu tanpa unsur yang bagus, hanya untuk penggemar berat serial "Friends" yang ingin tahu apa yang dilakukan (dan seberani apa) Fox sebelum bermain di sana. Dia dan Sheffer benar-benar kelihatan kurang darah, Sweeney sangat over-akting, dan tak banyak bagian film ini yang lebih baik dari mereka. [R]
Blue Juice ()- 1995 / Carl Prechezer / Sean Pertwee, Catherine Zeta-Jones, Steven Mackintosh, Ewan McGregor, Peter Gunn, Heathcote Williams, Colette Brown, Michelle Chadwick, Keith Allen, Robin Soans, Jenny Agutter, Guy Leverton / {BRITANIA} / [90 mnt] J.C (Pertwee) adalah seorang peselancar berusia tigapuluhan yang mulai mendapat tuntutan dari kekasihnya (Zeta-Jones) untuk hidup lebih teratur dan terencana. Namun jiwa muda J.C menempatkannya pada dilema, karena dia juga merasa harus selalu loyal pada teman-temannya, sekumpulan anak muda duapuluhan yang hanya hidup untuk berselancar, berpesta, bermimpi, dan sedikit mabuk. Film ini mengupas pilihan J.C ini dengan simbol-simbol kecil, semua dibiarkan mengalir begitu saja. Kisah ini sepertinya akan menjadi sebuah film yang cerdas dan menarik, namun Blue Juice lebih pantas mendapat label “membosankan”. Prechezer, yang juga menulis skenarionya, begitu jatuh cinta pada tokoh-tokohnya sehingga dia mengikuti mereka sampai ke detil-detil kecil yang akhirnya hanya menghabiskan waktu dan membuat film ini tersesat jauh dari tujuannya semula. Menjelang akhir, suasana yang lebih menarik dan signifikan mulai bisa dikembalikan, tapi “emang gue pikirin”, pada saat itu tak ada jaminan apakah pemirsa masih mau memperhatikannya atau tidak. Catatan : Blue Juice pada awalnya hanya didistribusikan secara domestik di Inggris Raya, barulah ketika popularitas Zeta-Jones dan terutama McGregor terus melambung secara global film ini diedarkan ke luar negeri. Lucunya, semua poster publikasi dan sampulnya memajang wajah kedua bintang internasional itu, padahal keduanya hanyalah pemeran pendukung, sementara wajah Pertwee sama sekali tidak terlihat!
B-Monkey (½)- 1998 / Michael Radford / Asia Argento, Jared Harris, Rupert Everett, Jonathan Rhys Myers / {BRITANIA - ITALIA - AMERIKA SERIKAT} / {97 mnt} Alan (Harris) adalah seorang guru di London yang selama ini hidup normal, namun dunianya tiba-tiba terguncang ketika dia tertarik pada seorang gadis cantik Italia bernama Beatrice (Argento). Beatrice mengaku sebagai seorang perampok ulung yang ingin keluar dari dunia hitamnya, B-Monkey adalah nama panggilannya dalam operasi, dia bersedia hidup normal dan mencintai Harris. Ini berarti Beatrice harus meninggalkan Paul (Everett) dan Bruno (Myers), sepasang homoseksual (?) yang selama ini tinggal bersamanya, dan juga meninggalkan berbagai masalah yang belum selesai yang dibuatnya ketika masih beraksi di dunia kejahatan. Kisah selanjutnya dari film ini adalah prosa sederhana yang mudah diduga, namun disampaikan dengan gaya yang sangat puitis oleh Radford, itu membuatnya indah dan bergaya sekaligus bertele-tele dan kadang picisan. Sadar atau tidak sadar, yang membuat kita terus mengikuti film ini dengan perhatian lebih adalah keempat pemeran utamanya, Argento sulit didebat lagi adalah salah satu pendatang baru dengan daya tarik seksual terdahsyat di akhir abad XX (dan dalam film ini sensualitasnya digeber habis), Harris menerjemahkan Alan menjadi sebuah karakter yang sangat simpatik dan patut disukai, Everett tampil dengan akting yang penuh detil-detil gaya, dan Myers adalah ahli muda untuk peran-peran remaja yang kebingungan dengan identitasnya. Film yang murung dan seksi, terlalu murung untuk membahas roman dan terlalu seksi untuk membahas dunia penjahat. [R]
Body of Evidence ()- 1992 / Uli Edel / Madonna, Willem Dafoe, Joe Mantegna, Anne Archer, Michael Forest, Charles Hallahan, Mark Rolston, Richard Riehle, Julianne Moore, Frank Langella, Jurgen Prochnow, Stan Shaw / (118 mnt) / Inilah pesta sex yang serba tidak orisinal, mengorbankan kredibilitas setiap orang yang ada di dalamnya, beruntunglah sebagian besar dari mereka bisa kembali menjaga karirnya. Madonna adalah seorang wanita yang terlibat sebuah kasus pembunuhan, Dafoe adalah pengacaranya, sex adalah segalanya. Sex memang sering menjadi alasan kita menonton sebuah film, sering juga nuansa seksual yang kuat membuat sebuah film terasa lebih baik, namun tidak berlaku bagi film ini. Semua thriller erotis dan drama pengadilan yang sempat laris dalam tahun-tahun terakhir delapanpuluhan dan awal sembilanpuluhan dikuras sarinya untuk dijadikan ide film ini, para pembuatnya mungkin tak mengerti bahwa sensasi “Basic Instinct” sulit terjadi dua kali. Body of Evidence sempat mengundang perdebatan di MPAA apakah harus mendapat katagori “R” atau “NC-17”. Melihat filmnya sendiri, perdebatan seperti itu sama sekali tidak perlu, apapun rating film ini, pemirsa dari semua lapisan usia lebih baik menjauhinya. [R]
Body Snatchers (½)- 1993 / Abel Ferrara / Gabrielle Anwar, Meg Tilly, Terry Kinney, Forest Whitaker, Billy Wirth, R. Lee Ermey / [117 mnt] Kinney dan keluarganya pindah ke sebuah perumahan militer. Beberapa saat kemudian istrinya (Tilly) mulai berkelakuan aneh, dan anak gadisnya (Anwar) yang berjiwa gelisah mulai menemukan banyak hal aneh. Ternyata perkampungan militer ini telah “diduduki” oleh makhluk asing yang bisa meniru sosok makhluk hidup yang diserangnya. Film ini adalah pembuatan ulang dari film hit tahun1956 dan 1978. Ferrara membuat beberapa pembaharuan yang dibantu kemajuan pesat dibidang efek khusus visual, namun dia justru membiarkan cerita berjalan lambat, tidak menegangkan, dan mempunyai klimaks yang tidak menghentak. [R]
Boogie Nights (½)–1997 / Paul Thomas Anderson / Mark Wahlberg, Burt Reynolds, Julianne Moore, John C Reilly, Don Cheadle, Heather Graham, Luis Guzman, Philip Baker Hall, Seymour Philip, Thomas Jane, Ricky Jay, William H Macy, Alfred Molina, Nicole Parker, Robert Ridgely / Slice of life ini mencoba mengajak bernostalgia ke malam-malam boogie dekade tujuhpuluhan. Fokus ceritanya adalah lingkungan produksi sebuah film triple-x. Anderson menciptakan atmosper setiap vignet dengan baik, namun bagaimanapun film ini tak punya muatan yang cukup untuk membuatnya menarik dan menjadi sebuah kesatuan. Bau karya Robert Altman, “Short Cuts”, juga tercium di sana-sini, kehadiran Moore membuat bau itu bertambah kuat. Bicara tentang Julianne, dia dan semua orang, terutama Reynolds, bermain bagus di sini. [R]
Boris and Natasha: The Movie ()- 1992 / Charles Martin Smith / Sally Kellerman, David Thomas, Paxton Whitehead, Andrea Martin, Alex Rocco, Christopher Neame / [88 mnt] Boris dan Natasha adalah nama sepasang agen Russia yang ditugaskan di....mana lagi kalau bukan A.S. Selanjutnya, berbagai hal membuat mereka menyimpang jauh dari tugasnya, Natasha bahkan sempat menjadi foto model yang cukup terkenal. Ini adalah film komedi (atau begitulah maunya), jangan ditanggapi terlalu serius kalau memang masih berharga untuk ditanggapi. [PG]
Borrowers, The ()- 1998 / Peter Hewitt / John Goodman, Jim Broadbent, Celia Imrie, Bradley Pierce, Flora Newbigin, Tom Felton, Mark Williams, Hugh Laurie, Aden Gillet, Doon Mackichan, Ruby Wax, Raymond Pickard / [83 mnt] Pod Clocks (Broadbent) dan istrinya Homily (Imrie) mempunyai dua orang anak, Arietty (Newbigin) yang selalu penasaran dan Peagreen (Felton) yang nakal. Mereka adalah keluarga yang berbentuk manusia seperti kita, bedanya, ukuran mereka tak sampai sejengkal, mereka konon adalah makhluk “Borrower” terakhir yang tersisa. Berkat ukuran tubuh mereka yang tidak boros, keluarga Borrower ini bisa hidup dengan tidak terlalu tenang di bawah lantai keluarga Lenders, keluarga manusia biasa yang terancam kehilangan rumah mereka yang diincar oleh pengacara licik, Ocious P. Potter (Goodman). Pertemuan tidak sengaja Arietty dengan Pete (Pierce), putra tunggal keluarga Lenders, mengancam kehidupan Borrower terakhir ini, namun ternyata Pete bisa bersahabat dengan keluarga Clock, dan mereka kemudian bahu-membahu menyelamatkan rumah mereka dari Ocious yang rakus. Tidak semua yang ada dalam film ini adalah sesuatu yang baru, Hewitt berutang cukup banyak pada beberapa film yang lebih tua. Namun bagaimanapun dia berhasil menciptakan sebuah tontonan yang segar dengan pemandangan-pemandangan yang memukau tanpa harus mengumbar efek visual yang berlebihan, tata artistik Gemma Jackson/Jim Monahan?Careen Hertzog dan fotografi John Fenner berperan besar dalam hal ini. Imajinasi penonton kecil akan termanjakan oleh film ini, dan orang dewasa pun dijamin masih akan bisa menikmati adaptasi dari buku Mary Norton ini. [PG]
Bound ()- 1996 / The Warchawsky Brothers / Jennifer Tilly, Geena Gershon, Joe Pantoliano, John Ryan, Christopher Meroni, Richard Serafian, Barry Kivel, Mary Mara / [109 mnt] / Ceasar (Pantoliano) berurusan dengan para mafia mengenai uang dalam jumlah yang sangat besar. Pacarnya, Violette (Tilly), mempunyai rencana lain yang bisa membantunya untuk lepas dari semua itu. Dalam hal ini, Violette dibantu oleh tetangga sebelah, Corky (Gershon), dan lebih dari bantuan itu, Violette menikmati dunia aslinya dengan Corky yang digambarkan dalam adegan sex yang cukup provokatif antara Tilly dan Gershon. Walaupun idenya bisa dibilang berani dan kakak beradik Warchawsky memvisualkannya dengan flamboyant, film ini tak memberikan banyak kepuasan karena ceritanya tetap terlalu tipis dan tanpa tegangan. Kalau ada hal lain yang juga kurang enak dilihat, itu pasti overaktingnya Gershon dan Pantoliano, serta monotonnya akting Tilly yang biasanya bagus. [R]
Boxer, The (½)- 1997 / James Sheridan / Daniel Day-Lewis, Emily Watson, Brian Cox, Ken Stott, Gerard McSorley, Eleanor Methvern, Ciaran Fitzgerald, David McBlain, Damien Denny, Clayton Stewart, Kenneth Carnham / (REP. IRLANDIA) / [107 mnt] Danny Boy Flynn (Day Lewis), seorang petinju Belfast, mendekam di penjara selama 14 tahun karena dituduh pro IRA oleh pemerintah Inggris. Setelah bebas, dia pulang dan ikut mengaktifkan lagi sasana tinju “Holy Family” yang merupakan wadah tak sengaja bersatunya kaum Katolik dan Protestan. Danny juga bertemu dengan cinta lamanya, Maggie (Watson), putri orang yang sangat berkepentingan dengan hal yang menyebabkan dia masuk penjara. Danny menghadapi lagi kehidupan keras penuh kepentingan politik yang dipraktiskan, semuanya semakin memuncak ketika Liam, putra Maggie dan juga salah satu anak didiknya Boy di HF, membakar sasana tinjunya karena mengetahui ibunya bercinta lagi dengan kekasih lamanya itu. Sheridan sangat bisa dipercaya dalam membesut kehidupan penuh kekerasan di Irlandia Utara dengan sealami mungkin, kali ini dia bahkan sempat mengedepankan kesan betapa “jiwa pekelahi” telah terpatri sejak kecil pada anak-anak Belfast. Ini adalah duet keduanya bersama penulis skenario Terry George (setelah “In the Name of the Father”) dan ketiga bersama Day-Lewis (ditambah “My Left Foot”), dibanding dua film terdahulunya itu, ada sesuatu yang kadarnya bertambah di sini: melankolisme, dan itu membuat film ini tak mempunyai kesan semendalam dua pendahulunya. [R]
Boxing Helena ()- 1994 / Jenniffer Chamber-Lynch / Julian Sand, Sherilyn Fenn, Bill Paxton, Art Garfunkel, Kurtwood Smith, Betsy Clark, Nicolette Scorsese / [107 mnt] Nicholas (Sands) adalah seorang ahli bedah yang sangat kaku, penggugup, dan obsesif. Salah satu hal yang sangat menyakitkannya adalah perasaan cintanya terhadap seorang wanita cantik bernama Helena (Fenn) yang selalu melecehkannya. Nick kemudian membuktikan cinta dan kekuasaannya atas Helena dengan cara yang gila, mengamputasi semua tangan dan kaki Helena (setelah wanita itu mengalami kecelakaan) dan menyekap dan mengurus Helena yang tak berdaya di rumahnya. Cerita yang sangat mandiri dari Jenniffer ini digubah dalam bahasa gambar yang eksentrik dan berani. Namun untuk hal itu (penyutradaraan) justru Jeniffer tidak tampil dalam gaya mandiri, pengaruh ayahnya, David Lynch, pakar film-film avant-garde Amerika, tak tertahankan sedikitpun olehnya. Harus diakui, kemampuan Jeniffer masih jauh dari (form terbaik) David, terutama dalam kemampuan memaksakan perkawinan dunia real penonton dengan dunia surreal sang sutradara, Boxing Helena - sebagai sebuah film yang ingin tampil beda - sangat genit, kaku, dan bahkan terkesan norak. Mungkin hal yang istimewa dari film ini adalah rekor yang dicatat Jennifer sebagai sutradara wanita pertama yang film layar lebarnya “divonis” dengan rating NC-17 yang berarti akan mengurangi jumlah penontonnya di Amerika, dan itu bisa disebut sebagai hukuman lain untuk film ini, karena sesungguhnya film ini sama sekali tidak radikal dalam menampilkan kekerasan atau adegan seks, dan temanyapun tidak terlalu “heboh”. Kemalangan Jennifer belum berakhir sampai di situ, Kim Bassinger – yang semula dipilihnya untuk peran yang dimainkan Fenn - menuntut dia dan studionya jutaan dollar karena ketidakjelasan kontrak. Secara umum, kesialan Jenny tidak kalah jauh oleh kesialan Helena. [NC-17]
Boys (½)- 1996 / Stacey Cochran / Winona Ryder, Lukas Haas, John C.Reilly, James LeGros, Skeet Ulrich, Christine Keener, Bill Sage, Chris Cooper, Matt Maloy, Jessica Harper / [88 mnt] John Baker, jr. (Haas), seorang siswa SMA yang bermasalah, menemukan seorang wanita pingsan yang terjatuh dari kudanya, pemuda hijau ini kemudian merawatnya dan menyembunyikannya. Patty (Ryder), nama wanita misterius itu, ternyata adalah seorang gadis yang menyimpan masa lalu gelap yang dekat dengan urusan kepolisian. Sulit sekali dimaklumi bagaimana skenario film ini bisa diberi lampu hijau produksi oleh Touchstone lalu mendapatkan Ryder yang biasanya sangat selektif memilih peran (untunglah di sini dia tidak bermain terlalu bagus). Ide ceritanya terlalu naif dan tak memadai untuk dibuat menjadi sebuah film hiburan, singkatnya film ini sama sekali tidak seru, parahnya, penyutradaraan Cochran (yang pernah dipuji lewat “My New Gun”, debutnya) tidak mencoba - atau tidak mampu - menutupinya dengan gaya yang bisa menarik perhatian. Tidak usah membuang uang untuk menonton film ini kecuali jika anda rela mati untuk Winona seperti John Baker, jr.. [PG-13]
Boys Don't Cry (½)- 1999 / Kimberly Peirce / Hilary Swank, Chlöe Sevigny, Peter Sarsgaard, Brendan Sexton, Alison Folland, Alicia Goranson, Matt McGrath, Rob Campbell, Jeannetta Arnette / (114 mnt) Brandon Teena (Swank) datang ke Falls City sebagai seorang pemuda yang sangat simpatik. Dia bergaul dengan kelompok yang salah satu anggotanya adalah Jim (Sarsgaard) yang bisa disebut semi-psiko. Salah satu anggota kelompok itu adalah Lana (Sevigny), gadis resah yang kesepian. Brandon dan Lana tertarik satu sama lain, saling jatuh cinta, saling menjanjikan masa depan yang lebih baik, dan tentu saja berhubungan seks. Persetubuhan mereka ternyata belum membuat Lana sadar bahwa Brandon sesungguhnya adalah seorang wanita seperti dia. Brandon – yang bernama asli Teena Brandon – tak bisa menyembunyikan hal ini selamanya, terutama pada Jim yang semakin curiga padanya. Pilihan hidup yang tidak sejalan dengan keinginan dunia ini membawa akhir yang sangat tragis bagi Brandon alias Teena. Kisah ini adalah tragedi unik yang terjadi pada tahun 1993, Peirce – yang juga menulis skenarionya – mengangkatnya ke layar lebar sebagai sebuah drama yang luar biasa mengoyak emosi. Versinya mungkin bukanlah yang paling benar secara faktual - Peirce tidak memperhatikan setiap fakta dengan prioritas yang sama – namun sebagai sebuah film, Boys Don’t Cry adalah salah satu yang terbaik di tahunnya, lama kita tak melihat sebuah film dengan tenaga sebesar ini. Peran unik seperti Teena Brandon memang potensial membuat seorang aktris menjadi bintang, namun bukan berarti sembarang aktris mampu melakukannya dengan baik, dan Swank ternyata melakukannya dengan sempurna, rasanya tak akan cukup kata untuk memujinya. Kita hampir tak percaya pada apa yang kita saksikan dari aktris yang tak dikenal ini, dengan satu saja penampilan spektakuler seperti ini, kita akan seumur hidup percaya pada kemampuannya. Kita tak tahu jelas apa maksud utama Peirce membuat film ini, yang jelas BDC berhasil menyadarkan kita bahwa kita hidup dalam suatu budaya moral yang sangat rumit (kasus yang hampir mirip pernah terjadi di Indonesia), yang kita sendiripun sesungguhnya tak sepenuhnya memahaminya, ‘benar’ dan ‘salah’ selalu menjadi misteri dan obyek pencarian tanpa akhir. [R]
* Academy Awards: Aktris Terbaik (Swank), Golden Globe : Aktris Terbaik (Swank)
Boys on the Side ()- 1995 / Herbert Ross / Whoopi Goldberg, Mary Louise Parker, Drew Barrymore, James Remar, Billy Wirth, Matthew McConnaughey, Jude Cicolella, Estella Parsons, Denis Boutsikaris, Anita Gillette / [117 mnt] Tiga orang wanita, Jane (Goldberg), seorang musisi klub yang kehilangan pekerjaan, Robin (Parker), seorang agen real estat yang biasa hidup tertib namun meragukan identitas dirinya, dan Holly (Barrymore), seorang….entah apa, yang jelas dia hamil, memutuskan untuk melakukan perjalanan bertiga. Dalam kebersamaan itu mereka mengalami berbagai kejadian dan akhirnya mengetahui bahwa masing-masing dari mereka menyimpan rahasia yang sangat mengejutkan temannya, juga penonton. Sebagai sebuah drama komedi standar tentang wanita dengan wacana yang itu-itu juga (sex, perkawinan, lesbianisme, AIDS, hubungan antar ras, hubungan dengan orang tua, orang tua tunggal, karir, dll), film ini berkelas di atas rata-rata berkat humor yang enak, perspektif yang menarik, kadar gula yang tidak berlebihan, dan tiga pemain utama yang sangat atraktif, Goldberg mendapat salah satu peran terbaiknya, Barrymore semakin menyadarkan kita bahwa dia sangat berbakat, dan kecemerlangan Parker menyinari seluruh film, film ini membuat kita tidak mengerti apa yang salah dengan Mary Louise hingga Hollywood tak pernah memberinya kesempatan untuk menjadi bintang top. Memang ada beberapa bagian yang terlalu terasa “dibuat untuk menjadi enak”, namun kita sudah terbiasa memaklumi hal seperti itu dalam film seperti ini. [R]
Boyz N the Hood ()- 1991 / John Singleton / Cuba Gooding.jr, Lawrence Fishburne, Ice Cube, Morris Chestnut, Nia Long, Tyra Ferrell, Angela Basset, Desi Arnez Hengen III / [107 mnt] Bukan yang pertama, namun film inilah yang menyemangati suburnya film keresahan kaum kulit hitam AS (orang sinis menyebutnya “Neo-Blaxploitation”). BNtH bercerita tentang betapa rawannya keselamatan seseorang, walau seseorang yang mencoba hidup di jalan yang damai, jika menjadi bagian dari perkampungan kulit hitam dimana ledakan senapan dan bangkai manusia berlumur darah adalah hal yang mudah ditemukan setiap hari dan telah dikenal anak-anak kecil. Film ini penuh dengan ironi, kaya intsropeksi diri, dan sentimentalitasnya bisa diterima, namun bertempo agak lambat dan tidak setiap bagiannya menarik. Memang bukan film hebat, namun setidaknya berhasil sebagai sebuah potret kehidupan yang mendekati bentuk nyatanya, dan juga sebagai pembuka jalan untuk film-film sejenis, dan ingat: tahun 1991 Singleton belum genap berusia 23 tahun! Apa yang lebih mengagumkan dari itu? [R]
Bram Stoker’s Dracula (½)-1992 / Francis Ford Copolla / Gary Oldman, Winona Ryder, Keanu Reeves, Anthony Hopkins, Cary Elwess, Sadie Frost, Richard E.Grant, Bill Campbell, Jay Robinson, Tom Waits / [123 mnt] Pangeran Dracula dari Trannsylvania, vampire berumur ratusan tahun, jatuh cinta pada Whilhelmina Murray, gadis London, yang diyakini Dracula sebagai titisan istrinya yang telah meninggal ratusan tahun sebelumnya. Entah sudah berapa film yang mengangkat kisah rekaan Bram Stoker ini. Kali ini giliran sang singa film, Copolla, mengangkatnya dalam kemasan yang sangat kelam didukung fotografi, make up, tata kostum, spesial efek, dan tata artistik yang mendekati sempurna. Kecuali beberapa kegagalan dalam memadatkan luasnya cerita, hambarnya bagian akhir, dan lesunya akting Reeves dan Ryder, Copolla tak membuat kesalahan apapun dalam film ini. Walau cukup banyak pemirsa dan kritisi yang kurang menyukai film ini, sutradara dan produser lain akan selalu memikirkan film ini bila ada diantaranya yang berniat membuat lagi film dengan cerita yang sama, kemegahan karya Copolla ini akan lebih menakutkan mereka daripada sang Dracula sendiri. [R]
* Academy Awards: Tata Kostum Terbaik, Tata Rias Terbaik, Editing Efek Suara Terbaik
Braveheart (½)- 1995 / Mel Gibson / Mel Gibson, Sophie Marceau, Pattrick McGoohan, Peter Hanly, David O’Hara, Angus McFayden, Catherine McCormack, Ian Bannen, James Robinson, Gerard McSorley, Brendan Gleeson, James Cosmo, Brian Cox, Alun Armstrong / [163 mnt] Hit ini adalah epos kepahlawanan Skotlandia tentang tokoh legendaris William Wallace sejak dia kecil, diikuti kematian ayahnya, pernikahannya dengan Murron (McCormack), dibunuhnya sang istri oleh tentara Inggris, perjuangannya memimpin rakyat Skotlandia melawan Inggris, hubungannya dengan Putri Isabelle (Marceau), sampai saat-saat kematiannya yang mengenaskan. Ini adalah sebuah kerja besar yang sangat sukses dari Gibson sebagai sutradara dengan dukungan tata kamera yang cantik oleh John Toll dan desain produksi spektakuler oleh Tom Sanders dan setiap aspek teknis yang berhasil mengubur materi cerita yang tidak istimewa. Braveheart tampil dengan kekuatan yang berlipatganda dari skenarionya yang datar-datar saja walaupun sudah ditulis dengan ambisi untuk menjadi kolosal (oh ya, skenario film ini dibuat oleh sorang penulis bernama William Randall Wallace!). Unsur pop yang kental dalam film ini tentu bisa dimaklum untuk sutradara seperti Gibson, namun apakah itu bisa juga dimaklum dalam menceritakan tokoh seperti Wallace? Terlalu ngepop atau apapun, pantas atau tidak pantas, Braveheart disanjung habis di tahunnya, bahkan – bersama film yang hampir menjadi ironinya “Trainspotting” - menciptakan romantisme Skot di Amerika. [PG-13]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Gibson), Tata Kamera Terbaik, Tata Rias Terbaik, Tata Kostum Terbaik, Tata Suara Terbaik, Editing Efek Suara Terbaik,Golden Globe: Sutradara Terbaik (Gibson)
The BreakUp (½)- 1998/ Paul Marcus / Bridget Fonda, Steven Weber, Kiefer Sutherland, Penelope Ann Miller, Tippi Hedren / (110 mnt) Fonda berperan sebagai seorang wanita bisu dengan suami yang sangat brutal. Kematian yang tidak jelas dan uang yang hilang menambah keruwetan hidupna. Ini adalah standar thriller yang penuh kejanggalan namun tak pernah membosankan. Tak ada yang istimewa dalam film ini, akting yang bagus dari sebagian besar pemain menyelamatkannya (R)
Bridges of Madison County, The ()- 1995 / Clint Eastwood / Clint Eastwood, Meryl Streep, Anne Corley, Viktor Slezak, Jim Haynie / [135 mnt] Kisah hubungan gelap seorang ibu (Streep) dengan seorang fotografer (Eastwood) baru diketahui dua anaknya lewat catatan-catatan yang ditemukan setelah sang ibu meninggal. Film ini disampaikan dalam waktu yang agak berlebihan, untuk menyampaikan satu pesan sekuen sering sekali diperlukan waktu yang lama. Namun seperti bisa diduga, duet kedua manusia kharismatik ini bisa menyelamatkan apa saja. Eastwood meyakinkan kita bahwa dia belum kehilangan daya tariknya sedikitpun, dan Grand Master Streep kembali memberi tahu kenapa dia begitu mudah mengumpulkan uang tanpa harus bermain di film-film box-office atau film-film yang sangat bagus, memang tak pantas ada istilah “terlalu mahal” untuk menghargai kemampuan akting si ibu yang entah kapan akan ada duanya ini.
Bright Angel (½)- 1991 / Michael Field / Dermott Mulroney, Lili Taylor, Bill Pullman, Sam Shepard, Valerie Perrine, Burt Young, Benjamin Bratt, Delroy Lindo, Kevin Tighe, Sheilla McCarthy, Mary Kay Place / [102 mnt] / Mullroney bermain sangat bagus sebagai seorang anak muda dari keluarga yang selalu oleng. Dia kemudian pergi mengembara untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di perjalanan, dia bertemu dengan seorang gadis (Taylor, aktris yang tak pernah bermain jelek) yang sedang mencari kakaknya, maka berdua mereka menjalani berbagai kejadian yang kadang bisa membahayakan jiwa mereka. Bagi sebagian pemirsa film ini akan terasa sangat biasa, sebagian lagi akan menganggapnya genit, dan sebagian lagi akan menemukan sesuatu yang sangat bisa dinikmati dari film ini, mudah-mudahan anda termasuk golongan terakhir ini. [R]
Bright Shining Lie, A (½)- 1998 / Terry George / Bill Paxton, Amy Madigan, Eric Bogosian, Kurtwood Smith, Vivian Wu, Donald Logue, Robert John Burke, Harve Presnell, Les Mau, Picharika Narabunchai, Ed Lauter, Jon Marsh, Jon Lafayette / (Film Televisi) / [130 mnt] Film ini mengisahkan perjalanan karir perwira menengah John Paul Vann (Paxton) sejak kampanye kooperatifnya di Vietnam sampai saat-saat kematiannya. Vann kadang bisa dianggap sebagai seorang yang sulit dimengerti, dia selalu penuh motivasi namun tak selalu bisa menerangkan motivasinya. Film ini juga menyoroti kehidupan pribadi Vann, seorang suami yang mengkhianati istrinya (Madigan) dan menjalin hubungan gelap dengan seorang guru di Vietnam (Wu). George adalah orang Irlandia dan bukan Amerika, tapi dia dikenal selalu tertarik pada kisah-kisah moral politik, berdasar dua fakta itu tak heran jika Bright Shining Lie menyoroti masalah Vietnam dengan secara lebih universal daripada sudut pandang yang biasa diambil seorang penulis/sutradara Amerika. George juga lebih cenderung meminjam sudut pandang Vann – makhluk obsesif yang universal, tidak hanya “American” - sebagai sudut pandangnya. George mencoba membuat sesuatu yang agak lain, namun terlalu banyak film tentang Vietnam hingga hampir tak ada tempat untuk membuat sesuatu yang benar-benar baru. Paxton memainkan salah satu peran paing serius yang pernah dia dapat, dia sangat mampu melakukannya. [R]
Bringing out the Dead ()- 1999 / Martin Scorsese / Nicolas Cage, Patricia Arquette, John Goodman, Ving Rhames, Tom Sizemore, Marc Anthony, Mary Beth Hurt, Cliff Curtis, Nestor Serrano, Aida Turturro / [123 mnt] Dua master kontemporer Amerika, Stanley Kubrick dan Martin Scorsese, meluncurkan masing-masing satu film petualangan moral di tahun terakhir abad ini. Kubrick dengan “Eye Wide Shut” yang membongkar seksualitas, Scorsese dengan “Bringing out the Dead” yang non-seksual dan lebih brutal. Cage berperan sebagai Frank Pierce, seorang petugas paramedik yang seolah merekapitulasi seluruh hidupnya dalam masa tiga hari yang penuh pengalaman. Kesensitifan terhadap realita NYC yang penuh sampah dan kesadaran pribadi seseorang yang kesepian dengan dipenuhi rasa bersalah dan dendam adalah sesuatu yang beradu dalam Travis Bickle, tokoh legendaris rekaan Richard Price dalam film kontroversial Scorsese, “Taxi Driver” (1974), dan dengan sama-sama duduk di dalam mobil, Frank Pierce menjelmakannya lagi dalam sosok seseorang yang akan mengambil konsekuensi yang berbeda dari Bickle. Kali ini Scorsese dan Price, yang mengadaptasi skenarionya dari novel karya Joe Connelly, tidak begitu berhasil. Peristiwa film yang berulang-ulang seragam memang menciptakan suasana intens dalam nada yang semakin naik, namun juga melelahkan. Endingnya juga merupakan antiklimaks yang kurang beralasan, untuk pertama kalinya, penemuan pengampunan ala Scorsese hadir dengan hambar dan tanpa kesan. Kebetulan, atau tidak kebetulan, seorang sutradara debutan bernama Scott Ziehl membuat cerita yang hampir sejenis di tahun yang sama, “Broken Vessel”, dan hasilnya sangat lebih menarik dibanding karya seorang raksasa bernama Martin Scorsese. [R]
Brokedown Palace ()- 1999 / Jonathan Kaplan / Claire Danes, Kate Beckinsale, Bill Pullman, Jacqui Kim, Lou Diamond Phillips, Daniel Lapaine, Tom Amandes, Aimee Graham, John Doe, Kay Tong Lim, Beulah Quo, Amanda De Cadenet / ({Bahasa Inggris – Bahasa Thai} / ((Two Girls)) / (100 mnt) Dua orang remaja Amerika, Alice Marano (Danes) dan Darlene Davis (Beckinsale) melakukan wisata secara sembunyi-sembunyi ke Thailand. Di sana polisi menemukan sejumlah narkotika di dalam tas mereka. Alice dan Darlene mencoba membela diri sekuat tenaga karena mereka merasa bukan penyelundup, mereka juga meminta bantuan dari “Yankee” Hank Green (Pullman), seorang pengacara Amerika di Thailand. Dusta dan ketidaksiapan membuat kedua gadis ini mempersulit posisi mereka sendiri sehingga keduanya gagal menghindari kehidupan di penjara wanita Thailand - yang tentu tidak ramah, merekapun “dipaksa” untuk lebih saling mengenal satu sama lain selama itu. Bagi beberapa pemirsa, mungkin sulit sekali untuk bisa menikmati dan menilai film dengan cerita seperti ini – dengan setting yang begitu dekat dengan kita - tanpa kecurigaan apa-apa. Kewaspadaan menonton bisa menjadi begitu tinggi sambil menghitung setiap keangkuhan yang muncul dari sosok “Amerika” yang selalu mencoba mengobjektifikasi setiap hal yang tidak “Amerika”. Namun secara umum, orang Thailand pun belum tentu tersinggung oleh film yang memang berhasil untuk menjadi tidak ofensif ini. Terlepas dari itu, ini adalah sebuah film yang cukup menarik tanpa banyak basa-basi. Duet bagus Danes-Beckinsale (yang lagi-lagi memerankan gadis Amerika dengan baik) adalah salah satu modal besar film ini, Pullman juga selalu berhasil membuat setiap kehadirannya terasa. [PG-13]
Broken Vessels ()- 1999 / Scott Ziehl / Todd Field, Jason London, Roxana Zal, Susan Traylor, James Hong, Patrick Cranshaw, Brent David Fraser, Stephanie Feury, Dave Nelson, William Smith, Charley Spradling London, Ashley Rey, Rodrigo Castillo, David Baer, Al Israel, Bobby Harwell / [90 mnt] / Tanpa pernah memperhitungkan Scorsese dan “Bringing out the Dead”-nya, Ziehl mengawali karir penyutradaraannya dengan sebuah cerita tentang sepasang paramedis Los Angeles. Tom (London), seorang paramedis baru, bukanlah orang yang berbahaya, asalkan dia tidak sedang berpasangan dengan Jimmy (Field), rekan sekerjanya, seorang pecandu, pencuri, dan – terus terang saja – teman yang setia. Film dimulai dengan agak lambat dan tidak begitu menjanjikan, namun perkembangan masalah semakin menghanyutkan kita kedalamnya, kita berhasil menemukan isi dan daya tarik dari film yang berkutat dalam lingkup yang sangat terbatas ini. London dan Field bermain meyakinkan, namun Traylor sering mencuri perhatian dengan sebuah akting “kaliber award” sebagai seorang tetangga Jimmy, begitu juga Cranshaw sebagai kakek Jimmy yang semi-junkie. Ziehl memproduseri film ini bersama beberapa pemain yaitu Field, Zal, dan Baer (penulis skenario). (R)
Bronx Tale, A (½) - 1993 / Robert De Niro / Robert De Niro, Chaz Palminteri, Lillo Brancato, Francis Capra‚ Taral Hicks, Katherine Narducci‚ Joe Pesci / [122 mnt] Si (dimainkan oleh Capra dan kemudian Brancato) adalah seorang anak dari keluarga Italia Amerika yang dibesarkan di salah satu sudut Bronx, lingkungan membuatnya menjadi sangat dekat dengan kekerasan, gaya hidup para gangster, dan bentrokan antar ras. Dalam perkembangan jiwa mudanya, ada dua orang laki-laki yang memenuhi figur ayah untuknya, pertama ayah kandungnya sendiri (De Niro), seorang sopir bus berjiwa sederhana yang ingin anaknya hidup bersih, dan yang kedua adalah Sony (Palminteri), seorang gembong gangster lokal yang sangat kharismatik dan ditakuti oleh setiap orang di daerah tersebut, tentu saja hampir tak ada titik temu dari gaya mendidik kedua ayah ini. Sudah bisa diduga dari dulu, jika De Niro membuat film, pasti yang seperti inilah yang dibuatnya. Hasilnya seberisi dan seberkesan yang bisa diharapkan dari karya pertama seorang sutradara. Palminteri, yang juga menulis skenarionya, bermain sangat bagus, sementara De Niro kentara sekali meredam diri dengan memainkan peran yang sangat bersahaja. Mirip dalam tema namun tidak mirip dalam gaya penggarapan, film ini jelas wajib tonton untuk penggemar film jalanan ala Scorsese, baik sebagai hiburan biasa atau sebagai perbandingan. [R]
Brothers McMullen, The (½)- 1995 / Edward Burns / Jack Mulcahy, Mike McGlone, Edward Burns, Connie Britton, Maxine Bahns, Elizabeth McKay, Shari Albert, Jennifer Jostyn / [92 mnt] Film ini bercerita tentang tiga bersaudara berdarah Irlandia. Jack (Mulcahy), si realis, telah menikah dengan seorang istri yang nyaris sempurna (Britton), namun kini dia tergoda untuk menyeleweng. Barry (Burns), si skeptis, tak mau mengakui bahwa dirinya sedang jatuh cinta. Sementara Pattrick (McGlone), seorang Katolik yang sangat taat, ingin mempunyai jawaban yang meyakinkan apakah pacarnya benar-benar pilihan terbaik untuknya. Film ini mendapat pengakuan yang lumayan dari pengamat dan penggemar film Amerika, gayanya yang jujur dan bersahaja mampu menarik perhatian masyarakat film yang mencari alternatif di luar film yang rumit dan “pandai”. Namun di balik kesederhanaan karya indie itu, kita justru bisa menemukan beberapa bagian yang penuh polesan manis ala Hollywood, dan sebagian dari kita mungkin berkeberatan dengan gaya bertuturnya yang hampir sepenuhnya verbal. [PG-13]
* Sundance Film Festival: Film Terbaik
Buffalo’66 ()- 1997 / Vincent Gallo / Vincent Gallo, Christina Ricci, Anjelica Huston, Ben Gazzara, Kevin Corrigan, Rosana Arquette, Mickey Rourke, Jan Michael Vincent / [110 mnt] Billy Brown (Gallo) baru keluar dari penjara. Langkah besar pertamanya langsung gila: menculik seorang gadis muda (Ricci) dan memaksanya ikut mengunjungi orangtuanya (Huston dan Gazzara) dengan berpura-pura sebagai istrinya. Setelah itu semua kejadian dalam film ini hanya menampilkan orang-orang yang bertindak dengan akal sehat yang tidak begitu berfungsi. Sebagai karya penyutradaraan pertama seorang aktor yang berselera eksentrik seperti Gallo, B’66 adalah sebuah karya yang lebih dari cukup. Sepanjang film dia tak pernah mau takluk pada gaya visualisasi yang konvensional, skenario debutannya juga dipenuhi black humor yang segar. Sebagai aktor, dia tahu apa yang harus dilakukannya dengan tokoh sakit seperti Billy Brown. Ricci, aktris cilik anak keluarga Addams yang telah tumbuh menjadi gadis yang sintal, berhasil mengimbanginya. Sementara duet senior, Huston dan Gazzara tak kalah gilanya. [R]
Bugsy ()- 1990 / Barry Levinson / Warren Beatty, Annette Bening, Harvey Keitel, Ben Kingsley, Elliot Gould, Joe Mantegna, Richard Sarafian, Wendy Philips, Bill Graham, Robert Beltran, Lewis van Bergren, Debrah Farentino / [135 mnt] Kisah tentang gangster dan tycoon terkenal, Benjamin “Bugsy” Siegel ini difokuskan pada usaha Siegel (dimainkan dengan sangat bagus dan tidak simpatik oleh Beatty) dalam mewujudkan impian gilanya: membangun pusat keramaian di atas gurun pasir Las Vegas, Nevada, dan pada kecintaannya pada Virginia Hill (Bening, juga bermain bagus) yang membuat Siegel meninggalkan istri dan anak-anaknya. Film ini cukup bagus sebagai sebuah karya artistik visual, namun terasa terlalu panjang dan lambat untuk dapat menjaga modal ceritanya yang sangat lurus dan familiar menjadi tetap menarik untuk diikuti secara serius (Setidaknya masih kalah menarik dari kisah nyata Beatty-Bening). [R]
* Academy Awards: Tata Artistik Terbaik, Tata Kostum Terbaik, Golden Globe: Film Terbaik Drama
Bulan Tertusuk Ilalang (½)- 1995 / Garin Nugroho / Norman Wibowo, Ratna Paquita, Ki Sutarman, Pramana Padmadarmaya, Sri Rahayu, Wiwiek Handawiyah, Bambang S. Djajantoro / (INDONESIA) / {Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia} / [148 mnt] (( …and the Moon Dance )) Kebanyakan orang berpandangan bahwa film ini tak pernah terbentuk sempurna menjadi sebuah film cerita, tapi “kenapa kita berpura-pura tidak tahu bahwa ada sudut pandang lain?” (kalimat inti “Cinta dalam Sepotong Roti”). Tanpa kepura-puraan itu, kami justru menganggap film ini sebagai karya terlengkap Garin sejauh ini dan salah satu harta paling berharga dunia film Indonesia. Dalam film ini kita dipaksa mengambil jarak dengan para tokohnya, dengan Bulan (Paquita) dan Ilalang (Norman), dua orang anak didik Ki Waluyo (Ki Sutarman) yang terlibat dalam sebuah medan gravitasi seksual yang sepintas terkesan enigmatik, namun sesungguhnya wajar dan bisa difahami, walau kita memang tak akan pernah diizinkan untuk 100% mendekati mereka, kita selalu berada di antara mereka. Berbeda dengan apa yang dia lakukan dalam film-filmnya terdahulu, semua simbol dan keeksotikan dalam film ini bukan hanya dekor, Garin berhasil menyampaikan semuanya sebagai sebuah kesatuan. Sisi naratif film ini memang tak seberapa jika dibandingkan dengan perannya sebagai sebuah ilustrasi tentang seksualitas, kesenimanan, kekerasan, dan kebudayaan Jawa pada umumnya, tapi setiap kita sedang berhadapan dengan karya Garin, kita memang tidak akan didongengi sesuatu melainkan diajak untuk melihat dan mengerti sesuatu. Lewat film ini Garin juga telah melangkah ke penciptaan aura-aura non-fisik dari sebuah film – seperti yang telah dicapai Bunuel, Kurosawa, atau Greenaway - beberapa image yang diciptakannya benar-benar penuh daya hipnotis, bahkan magis. Untuk pertama kalinya juga Garin berhasil menampilkan akting yang mengesankan dari para pemainnya, terutama ketiga pemeran utamanya, dan lebih terutama lagi Paquita yang begitu kharismatik dalam debutnya. Bagaimanpun, BTI memang tak akan memuaskan semua orang, walau sedih sekali rasanya jika mengingat fakta bahwa film seperti ini justru ditonton sedikit sekali orang di negerinya.
Bulletproof Heart (½)- 1995 / Mark Malone / Anthony LaPaglia, Mimi Rogers, Matt Craven, Peter Boyle, Josef Sommer, Joseph Maher / [96 mnt] / (( The Killer )) Mick (LaPaglia, dengan akting yang berbau Pacino), seorang pembunuh bayaran berjiwa gelisah, ditugasi oleh George (Boyle) untuk membunuh Fiona (Rogers). Ini bukan pekerjaan mudah bagi Mick, sejak Archie (Craven), yang memaksa untuk mendampinginya, lebih banyak mengganggu daripada membantu, dan lebih dari itu, ternyata Fiona adalah seorang penggoda kelas satu dan mempunyai latar belakang yang misterius. Anda boleh berpikir bahwa anda bisa menebak kelanjutannya, tapi maaf bila ternyata tebakan anda lebih banyak salah daripada betulnya. Ini adalah sebuah film yang pendek, berbudget minimal, kelam, dimainkan dengan bagus oleh para pemainnya yang sangat sedikit, ceritanya sempit namun perkembangannya tidak terduga (di sini Rogers bahkan sempat membeku segala), dan selalu berkembang ke arah yang tidak wajar. Bukankah banyak yang menginginkan yang seperti ini dalam dekade abnormal ini? [R]
Bullets Over Broadway (½) - 1994 / Woody Allen / John Cusack, Chazz Palminteri, Dianne Wiest Jennifer Tilly, Mary Louise Parker, Tracey Ullman, Jim Broadbent, Harvey Fierstein, Rob Reiner, Joe Viterelli, Jack Warden, Debi Mazar / [95 mnt] Tinjauan khas Allen atas kekejaman sekaligus manisnya ambisi, cinta, dan usaha penemuan diri - masih dalam komedi neurotik yang meriah dan penokohan yang berwarna-warni unik - kali ini menceritakan David Shayne (Cusack) yang mencoba menembus Broadway sebagai seorang penulis dan sutradara. Perjuangan David berurusan dengan geng mafia, termasuk jago tembaknya yang “artistik” (Palminteri), hubungannya dengan aktris eksentrik, Helen Sinclair (West), dan dengan teman hidupnya, Ellen (Parker), semua penuh gelombang yang tak bisa diduga. Rasanya inilah karya Allen paling memuaskan dalam dekade ini, penceritaannya yang sangat menarik - mengundang tawa segar dan getir di sana-sini - terbantu oleh penciptaan suasana setting yang sempurna. Semua pemeran berperan dengan gaya se-Allen mungkin - yang jarang ada di film buatan orang lain - dan semuanya sangat pas, dengan pujian khusus untuk Palminteri, Wiest (contoh lain bahwa over-akting tidak selamanya menyebalkan), dan Ullman yang mendapat peran yang tidak begitu luas. Film ini adalah jaminan keterhiburan yang sempurna, dan jangan terlalu mengharap sesuatu yang tidak demikian dari Allen. [R]
* Academy Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Wiest)
Bulworth ()-1998 / Warren Beatty / Warren Beatty, Halle Berry, Oliver Platt, Christine Baranski, Don Cheadle, Paul Sorvino, Jack Warden, Joshua Malina, Richard Sarafian, Isaiah Washington, Amiri Baraka, Sean Astin, Laurie Metcalf, Michele Morgan, Ariyan Johnson, Graham Beckel, Scott Michael Campbell / Lebih dari Bob Roberts-nya Tim Robbins atau Jack Stanton dalam “Primary Colors”, Jay Billington Bulworth adalah sosok yang kurang lebih menjelmakan salah satu tipe politikus Amerika dalam gaya komedi satir yang sadis. Bulworth (Beatty) adalah seorang senator yang tidak begitu layak, saking tidak layaknya dia sampai tidak bisa merasakan bahwa dia tidak layak Namun di usia tengah bayanya, Bulworth mulai merasakan banyak hal, semuanya bisa dirangkum dalam satu kata: muak!Dalam satu kampanye dia kemudian berkenalan dengan Nina (Berry), seorang wanita cantik kulit hitam, dan ini baru awal dari petualangan. Bulworth kemudian mulai melonggarkan hidupnya, berkeliaran di ghetto penduduk kulit hitam, dan menyerap cara mereka mengaktualkan diri. Isi paling konyol, namun boleh juga disebut unsur yang menyimpulkan seluruh film ini, adalah rap politis Bulworth dimana dia melontarkan segala sesuatu yang melintas di kepalanya pada saat itu, tentang dirinya, tentang Amerika, dan tentang dunia. Skenario superbrutal yang ditulis Beatty dan Jeremy Pikser mungkin adalah kumpulan ide-ide politik dan komedi yang terkumpul selama bertahun-tahun kemudian diaduk dalam satu film dan disebrotkan langsung seluruhnya tanpa setitik malupun. Bicara tentang malu, kita pantas salut pada Beatty – salah satu aktor aktif paling terpandang di Hollywood – yang masih bersedia berakting sedemikian gila dalam keseniorannya, dan dia melakukannya dengan luar biasa. Film ini menghadirkan Larry King, Jann Carl, Dave Allen Clark, Jerry Dunphy, George Hamilton, dan suara William Baldwin sebagai cameo. [121 mnt] [PG-13]
Butcher Boy, The ()- 1998 / Neill Jordan / Eamon Owens, Stephen Rea, Aisling O’Sullivan, Fiona Shaw, Alan Boyle, Sinéad O’Connor, Gerard McSorley, Niall Buggy, Brendan Gleason, Peter Gowen, Stuart Graham, Ian Hart, Tom Hickey, Sean Hughes, John Kavanagh, Patrick McCabe, Sean McGinley, Rosaleen Linehan, Gina Moxley, Ardal O’Hanlon, Milo O’Shea, Anita Reeves / (REP. IRLANDIA) [116 mnt] Owens bermain sebagai Liam, seorang anak Irlandia yang tinggal di tengah-tengah keluarga dan lingkungan yang mengizinkannya untuk tumbuh menjadi anak yang brutal. Ibu yang terkena depresi berat, ayah yang selalu mabuk, dan tetangga yang tidak ramah membuatnya menjalani masa kecil yang jauh dari indah. Dalam kesehariannya, dia selalu merasa dibimbing oleh Colleen (O’Connor), penjelmaan Maria yang tak bisa dilihat orang lain. Namun Colleen yang bersuara indah ini tetap tak mampu menahan Liam untuk memuncaki petualangan masa kecilnya dengan sebuah tindakan sadis yang menggemparkan. Jordan membiarkan filmnya ini berjalan dengan sangat lambat, namun dia masih sempat menyisipkan unsur-unsur khas penyutradaraannya yang berhasil menambahkan sedikit kesan magis pada film ini. Owens memainkan perannya dengan sangat bersemangat dan tanpa keraguan, dia berhasil menjadi pusat film ini. [R]



C



California Man ()- 1992 / Les Mayfield / Sean Astin, Pauly Shore, Brendan Fraser, Megan Ward, Robin Tunney, Rick Ducommun, Mariette Hartley, Richard Massur / [89 mnt] / ((Encino Man )) Kisahnya segar, dua orang pemuda (Astin dan Shore) dari Encino, California, menemukan seorang manusia Cro-Magnon yang masih hidup (Fraser, sangat berhasil memainkan perannya) terawetkan dalam es. Si Cro-Magnon itu akhirnya hidup di dunia nyata Amerika. Kisah semustahil ini akan menjadi film yang sangat menarik andaikan skenario dan penyutradaraannya teliti dalam menyiasati kemustahilannya itu, sayang sekali bukan penulis skenario dan sutradara seperti itu yang menghasilkan film yang - bagaimanapun - cukup suskses di pasaran ini. [PG]
Candyman ()- 1992 / Bernard Rose / Virginia Madsen, Tony Todd, Xander Berkeley, Kasi Lemmons, Vanessa Williams, De Juan Guy, Michael Culkin / [93 mnt] Madsen berperan sebagai Helen Lyle, seorang sarjana yang baru saja lulus, dia kemudian tertarik untuk mempelajari cerita-cerita legenda komunitas-komunitas tertentu tentang tokoh-tokoh “hantu”. Objek khususnya adalah mitos Candyman yang dipercayai oleh sekelompok penduduk perkampungan kumuh Chicago. Konon Candyman adalah hantu seorang budak belian yang kini menjelma dengan tangan kait dan akan datang apabila dipanggil empat kali sambil menghadap cermin. Semula, Helen hanya tertarik pada Candyman dengan alasan akademis, namun - seperti bisa diduga - dia kemudian menjadi salah satu “favorit” Candyman (Todd) yang ternyata memang benar-benar menjelma. Helen bahkan sempat dituduh melakukan beberapa kejahatan akibat pertemuan-pertemuannya dengan Candyman yang sadis dan obsesif. Film ini cukup memuaskan untuk ukuran kisah sejenis, ketegangannya disusun dengan cerdas sehingga tetap tidak berlebihan namun mencekam. Semua adegan juga terlaksana dengan baik, namun dalam beberapa bagian, ceritanya masih terlalu mudah diduga. [R]
Can’t Hardly Wait (½)- 1998 / Harry Elfant, Deborah Kaplan / Jennifer Love Hewitt, Ethan Embry, Lucien Ambrose, Peter Facinelli, Charlie Korsmo, Jenna Elfmann, Jerry O’Connell / [90 mnt] / Film ini hanya berkisar pada sebuah pesta generasi khas akhir abad (Kurt Cobain akan menyebut mereka jock atau semacamanya) yang menjejalkan puluhan stereotip anggota-anggotanya. Embry mendapat porsi terbesar sebagai seorang penyendiri yang nekat mengejar ratu pesta (Hewitt) yang sedang bermasalah dengan pacarnya (Facinelli). Film ini memang tak memberikan tinjauan apa-apa, masih belum tiba waktunya sampai ada film sejenis sebaik “Fast Time at Ridgemont High” (1982) atau “Say Anything” (1989), namun juga tak usah terlalu sinis menanggapi CHW karena film ini tak bisa juga dibilang jelek, penyutradaraannya cukup lincah dan beberapa potong humor mengenai “sakitnya jadi ABG” yang dikandungnya juga cukup menggelitik. Ensembel aktingnya juga lumayan, walau justru dua pemain utamanya Embry dan Hewitt bermain tidak mengesankan, malah Ambrose dan Korsmo yang bermain sangat menarik sebagai pasangan aneh yang terdiri dari seorang gadis cerdas yang kuper dan seorang punk-wanna-be-black yang sering lupa membawa otak. [PG-13]
Cape Fear (½) - 1991 / Martin Scorsese / Robert De Niro, Nick Nolte, Jessica Lange, Julliette Lewis, Joe Don Baker, Robert Mitchum, Martin Balsam, Illeana Douglas, Fred Dalton Thompson, Gregory Peck / [128 mnt] Ini adalah film kedua yang diambil dari novel “The Executioner”, Scorsese membuatnya lebih brutal daripada yang pernah dibuat Lee Thompson tahun 1962. Kisahnya tetap sama, teror habis-habisan oleh Max Cady (De Niro), seorang psikopat terpelajar yang baru keluar dari penjara, terhadap Sam Bowden (Nolte) dan keluarganya. Bowden adalah pengacara yang menangani kasus yang menyebabkan Cady mendekam selama 14 tahun di penjara. Film ini sendiri memang hampir menjadi sebuah parade teror, belum tentu bisa disebut sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan. Scorsese tak membatasinya dalam batas apapun, itulah sebabnya kenapa sebagian pengamat menyebut film ini bagus sekali dan sebagian lain menyebutnya sampah tak bermoral. Memang, sebagian dari adegan kekerasannya (pisik dan mental) termasuk agak berlebihan dan tidak perlu. Namun, secara sinematis Cape Fear versi baru ini sesungguhnya hampir sempurna, keartistikan visualisasinya tidak kalah dibanding film Scorsese manapun, ditambah kekuatan besar dari aktor dan aktris yang bermain dalam kemampuan maksimal mereka, Juliette menampilkan debut yang terlalu bagus untuk ukuran seorang gadis remaja, Lange dan Nolte bermain sebagus biasanya, dan inilah salah satu akting terbaik De Niro setelah bertahun-tahun. [R]
Captives (½)- 1996 / Angela Pope / Julia Ormond, Tim Roth, Keith Allen, Siobhan Redmond, Peter Capaldi, Colin Salmon, Richard Hawley, Annette Badland, Jeff Nuttall / (BRITANIA) / [104 mnt] Rachel (Ormond) adalah seorang dokter gigi yang mulai bekerja di penjara London, dia kemudian berkenalan dengan salah satu narapidana, Philip (Roth), dan kemudian memulai sebuah hubungan yang problematik dengannya. Dengan materi cerita demikian, seharusnya film ini bisa menjadi sebuah tontonan menarik. Namun beberapa sisi dari psikologi film ini rasanya kurang memaksa untuk bisa diterima akal. Ormond dan Roth, salah dua bintang Inggris paling bersinar dalam dekade ini, sangat berjasa untuk membuat kita tetap mau menikmati film ini. [R]
Carlito’s Way (½)- 1993 / Brian De Palma / Al Pacino, Penelope Ann Miller, Sean Penn, Luis Guzman, Ingrid Roberts, John Leguizamo, Viggo Mortensen, James Rebhorn, Joseph Siravo, Adrian Pasdar / [144 mnt] Film yang diangkat dari novel karya Edwin Torres ini berisi balada getir Carlito Brigante (Pacino), seorang bekas napi berdarah Puerto Rico yang berniat kembali ke jalan yang bersih secara bertahap, demi impiannya untuk hidup bebas sebagai orang baik-baik dan juga demi impian kekasih setianya, Gail (Ann-Miller), tentu saja Carlito akan sulit mewujudkan impiannya ini karena pilihan hidup yang diketahuinya tak pernah membiarkannya jauh dari kekerasan. Ini adalah jenis film dengan penuturan yang menumpuk semua bibit masalah dengan efektif dalam setiap menitnya kemudian menuainya ketika mendekati akhir, berpuncak dengan adegan menegangkan di statsion kereta api Grand Central. De Palma memang sedang mendapatkan materi yang tepat untuk dia garap, sehingga hampir tak ada adegan yang tak mengesankan. Pacino adalah The Man of The Show, namun Penn adalah The Stealer of the Show dengan akting hebatnya sebagai Dave Kleinfeld, pengacara yang bermuka banyak dan kemaruk harta dalam film keras yang juga romantis ini. Tidak banyak kritisi yang terkesan oleh film ini, namun banyak sekali penonton awam menjadikannya film favorit mereka. [R]
Caroline at Midnight (½) - 1993 / Scott McGinnis / Clayton Rohner, Mia Sara, Timothy Daly, Judd Nelson, Virginia Madsen, Zach Galligan / [92 mnt] Caroline adalah nama seorang wanita yang terbunuh secara misterius. Jack (Rohner, juga bertindak sebagai produser), seorang reporter, menduga bahwa Victoria (Sara) tahu banyak tentang kasus itu. Jack dan Victoria kemudian tertarik satu sama lain, Victoria ternyata terhubung sangat erat dengan sebuah sindikat narkotika yang melibatkan para polisi korup. Thriller erotis ini mempunyai plot yang agak membingungkan namun tidak terlalu mengundang kepenasaran. Elemen yang lumayan menolong adalah semua pemainnya yang bermain cukup bagus, Madsen paling menarik perhatian walau perannya sangat kecil sebagai seorang pengedar dan pecandu. Catatan kecil: Roger Corman adalah produser eksekutif film ini. [R]
Carried Away (½)- 1996 / Bruno Barreto / Dennis Hopper, Amy Irving (prod. exec), Amy Locane, Julie Harris, Gary Busey, Hal Holbrook, Christopher Pettiet, Priscilla Pointer, Gail Cronauer / (104 mnt) Joseph (Hopper) dan Rosalee (Irving) adalah sepasang guru SMU yang telah lama hidup bersama. Hubungan mereka mulai memasuki fase jenuh, mereka membutuhkan jawaban-jawaban yang lebih terang dalam hidup mereka. Pada saat goncang itulah, muncul sosok Chaterine Wheeler (Locane) secara tiba ke dalam kehidupan Joseph, Chaterine adalah seorang remaja yang sangat membutuhkan figur seperti Joseph. Kehadiran Chaterine menjauhkan Joseph dari Rosalee, namun sekaligus membuat dia merasa perlu meluruskan berbagai hal dengan Rosalee. Secara sepintas hampir tak ada yang istimewa dalam film ini, kisah seorang murid seksi dan guru renta bukan baru sekali ini masuk ke layar. Namun, terutama menjelang akhir, kita menemukan beberapa sisi yang cukup berarti dalam film yang diadaptasi dari novel Jim Harrison ini, Baretto berhasil menangkap dan menyodorkan permasalahannya dengan baik. Yang menjadi masalah mungkin adalah sulitnya para tokoh dalam film ini membuat para pemirsa setuju dengan pertimbangan-pertimbangan mereka. [R]
Carrier Girls ()- 1997 / Mike Leigh / Katrin Cartlidge, Lynda Steadman, Mark Benton, Kate Byers, Andy Serkis, Joe Tucker / (BRITANIA) / [68 mnt] Dua orang wanita dewasa, Annie dan Hannah, bertemu lagi setelah enam tahun berpisah, dulu mereka adalah sepasang teman satu flat ketika kuliah di London. Annie muda (Steadman, adik ipar Leigh) adalah seorang gadis yang mempunyai kerusakan kulit, tidak bahagia, dan kekurangan kepercayaan diri, sementara Hannah muda (Cartlidge) adalah seorang gadis yang terkesan seenaknya, keras, suka mengatur, namun juga tidak bisa dibilang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Selain kesukaan mereka pada grup musik The Cure, kedua gadis muda ini hampir tak memiliki persamaan, mereka lebih banyak berselisih daripada bercengkrama. Setelah keduanya dewasa dan cukup sukses dalam karir masing-masing, banyak perubahan yang terjadi pada mereka walau yang lama tidak betul-betul semuanya hilang. Dalam reuni sehari kedua sahabat ini, mereka secara kebetulan bertemu beberapa teman lama mereka yang banyak menyadarkan mereka pada dinamisme sekaligus stagnansi hidup mereka, masa untuk menengok ke belakang dan memandang ke depan. Leigh termasuk golongan sutradara yang bisa membuat cerita apapun jadi berkesan, termasuk cerita sederhana dengan durasi sependek ini. Gaya karikatur brutal dalam menggarap cerita masa muda Annie dan Hannah adalah sisa dari gaya film-film awal Leigh, sementara gaya drama komedi yang lebih tenang dalam sub-plot lainnya adalah gaya yang lekat dengan Leigh sejak “Secrets & Lies”. Bentuk CG yang sangat kecil mungkin membuatnya tidak termasuk karya utama Leigh, namun dalam ukuran sekecil ini masih saja banyak momen khas Leigh dimana kita masih diberi kesempatan untuk tersenyum atau bahkan tertawa ketika perasaan kita justru sedang tersentuh haru. [R]
Carrington ()- 1996 / Christopher Hampton / Emma Thompson, Jonathan Pryce, Steven Wardington, Rufus Sewell, Samuel Welch, Penelope Wilton, Janet McTeer, Peter Blythe, Jeremy Northam / (BRITANIA - PRANCIS) / [76 mnt] Di Inggris, di penghujung zaman Victoria beserta represinya yang masyhur (jika bisa diakui), tepatnya di sekitar Bloomsburry, tempat tumbuhnya komunitas seniman yang melahirkan Virginia Woolf dan E.M.Forster, hiduplah pelukis wanita bernama Dora Carrington. Carrington (Thompson) yakin bahwa Lytton Strachey (Pryce), kritikus sastra dan biografer terkenal di zamannya, adalah satu-satunya laki-laki yang dia cintai, namun dia dan juga Strachey – yang sesungguhnya adalah seorang homoseksual - tidak percaya bahwa mereka memang harus hidup bersama untuk memadu cinta, maka mulailah Carrington menjalani petualangan seks yang lebih dari cukup untuk menjadi gaya hidup yang sangat tidak biasa di zaman itu. Film ini lebih melihat semua kejadian dari sisi motivasi Carrington atau Strachey, hingga tidak banyak melibatkan diri dalam penciptaan sensasi yang menganggap Carrington sebagai makhluk skandal. Menjadikan Carrington tokoh utama juga adalah hasil dari kejelian, karena Carrington tidak pernah menjadi seterkenal Strachey (bahkan sumber utama film ini adalah biografi Strachey yang ditulis Michael Hollroyd, karena Theodora Carrington tak akan ditemukan dalam daftar seniman terpandang Inggris). Penyutradaraan Hampton sangat memadai dalam menyoroti detil sebuah pribadi unik dari lingkungan unik di masa lalu, namun cara bertutur film ini memang tak bisa dikatakan terlalu menarik, selalu ada jarak emosi yang bisa dirasakan penonton walau kadang itu bisa ditutupi oleh kesegaran gambar atau dialog. Thompson berhasil memainkan salah satu peran terberatnya dengan baik dan Pryce mengimbanginya dengan santai dan efisien. Penataan musik Michael Nyman sangat membantu penciptaan suasana. [R]
Casino (½)- 1995 / Martin Scorsese / Robert de Niro, Sharon Stone, Joe Pesci, Don Rickles, Alan King, James Woods, Kevin Pollak, I.Q.Jones, Dick Smother, Frank Vicent, John Bloom / [179 mnt] Film ini adalah sebuah kisah panjang tentang kehidupan yang penuh kejayaan dan juga bencana yang dijalani Sam “Ace” Rothstein, seorang pemilik kasino dan hotel besar di Las Vegas. Dua tokoh paling penting dalam hidupnya adalah Nicky Santoro (Pesci), gembong mafia yang menjadi sahabatnya sejak kecil, dan Ginger McKenna (Stone), istrinya, seorang bekas pelacur, keduanya adalah jenis manusia yang mampu mengacaukan kehidupan siapa saja. Walaupun resensi ini menganggapnya pantas untuk nilai sempurna, namun pemirsa yang tidak terbiasa menonton film-film Scorsese sangat berpotensi untuk “menyerah” pada panjangnya bagian awal film ini, namun jika kita mampu melewati setengah bagian pertama yang sebagian besar disampaikan lewat narasi Ace dan Santoro (narasi yang mengantar visualisasi dengan cara yang hebat!), kita akan menyaksikan sebuah karya dengan banyak hal yang tak sering kita saksikan dalam film buatan orang Amerika yang lain, walau karakter-karakter dalam film ini adalah karakter-karakter yang sangat mudah ditemui dalam film lain. Pengaturan tempo dengan dinamika yang mencengangkan, kewajaran per adegan yang sempurna, dan suasana yang selalu tajam dan memikat bukanlah hal-hal yang baru dalam film-film Scorsese, namun memang hanya dia yang bisa begini, Marty sanggup mengajar setiap orang bagaimana caranya menggambarkan sesuatu. Dia juga selalu berhasil berkerjasama dengan para pemeran film-filmnya, dalam film ini De Niro, Stone, Pesci, Woods (sebagai germo pacar Ginger), dan yang lainnya bermain dengan sempurna. Casino agak dicuwekin Hollywood di tahunnya, mungkin mereka mulai bosan melihat paduan kejeniusan Scorsese dan teman-temannya (yang kebanyakan masih tetap yang itu-itu saja). [R]
* Golden Globe: Aktris Utama Terbaik Drama (Stone)
Cell, The (½)- 2000 / Tarsem Singh / Jennifer Lopez, Vince Vaughn, Vincent D'Onofrio, Marianne Jean-Baptiste, Jake Weber, Dylan Baker, James Gammon, Patrick Bauchau, Tara Subkoff, Catherine Sutherland, Jake Thomas, Pruitt Taylor Vince / (115 mnt) Seorang pembunuh berantai (D’Onofrio) tertangkap, namun dia berada dalam keadaan setengah koma sehingga tak mungkin dimintai keterangan, sementara beberapa korbannya belum – dan harus segera - ditemukan. Kebetulan, sebuah proyek eksperimental memungkinkan kita untuk bisa memasuki pikiran orang lain. Catherine Deane (Lopez) adalah seorang psikiater anak yang ditugaskan untuk memasuki pikiran si pembunuh dan menjalani sebuah perjalanan yang sangat mencengangkan. Ya, mencengangkan, karena film ini adalah pameran visual paling mengagumkan dalam beberapa tahun terakhir ini. Perjalanan Catherine ke dunia yang mirip lukisan Salvador Dali – plus sadisme dan brutalisme – digambarkan dengan luar biasa indah, atau mengerikan. Hasil kerja fenomenal Paul Lafer (penata kamera), Geoff Hubbard dan Tessa Posnansky (penata artistik), dan Eiko Ishioka (penata kostum) akan dikenang sepanjang sejarah perfilman andai saja semuanya tidak diterapkan pada sebuah cerita seperti ini, yang selain membingungkan juga klise dan terlalu mengingatkan kita pada berbagai film lain. Sebagai seorang debutan, bagaimanapun Singh telah memberi janji, dia memulainya dengan sangat jelas: dia punya visi dan fantasi yang istimewa, namun masih bingung tentang apa yang harus diceritakannya. [R]
Cemetery Man, The (½)- 1996 / Michele Soavi / Rupert Everett, Francois Hadji-Lazaro, Anna Falchi, Mickey Knox, Clive Riche, Fabiana Formica, Katja Anton, Barbara Cupisti, Pietro Genuardi, Anton Alexander, Patrizia Punzo, Stefano Marcianelli / (ITALIA - PRANCIS) / [86 mnt] Everett bermain sebagai seorang penjaga kuburan yang kesepian dan hanya ditemani asistennya yang idiot (Lazaro). Masalah terbesar yang dihadapinya adalah terjangkitnya semua mayat oleh semacam “sindrom” yang membuat mereka selalu bangkit pada malam ke tujuh sejak dikuburkan, cara mengatasinya memang tidak terlalu sulit: pecahkan kepala mereka. Cerita kemudian mulai melebar ke berbagai hal, mulai dari wanita yang dicintainya (Falchi) yang berkali-kali menjelma dalam sosok lain, kasus pembunuhan “setengah sadar” yang dilakukannya, sampai sebuah ending yang sangat cerdik, namun perlu waktu sebelum sampai ke sana. Film horor komedi ini memang lebih enak dinikmati setelah pertengahan ketika kejutan-kejutan dan humor-humor anehnya mulai bermunculan, sedangkan pada setengah bagian pertama tak ada sesuatu yang baru yang dijanjikan. [R]
Chained Heat II ()- 1994 / Lloyd A. Simandl / Kimberley Kates, Brigitte Nielsen, Catherine O’Hara / (AS - JERMAN) / [93 mnt] Seorang wanita Amerika (Wilson) dituduh membawa heroin di Cekoslowakia dan kemudian di jebloskan ke penjara wanita yang kepala sipirnya adalah seorang lesbian sadis, Magda (Nielsen). Parah dalam segala segi, tidak cukup berharga untuk ditonton. [R]
Chameleon () - 1998 / Stuart Cooper / Philip Casnoff, Bobbie Philips, Eric Lloyd, John Adams, Mark Lee, Inga Hornstra, Anthony Neat, Jacky Miragliotta, Frank Whitten, Laurie Foel, Cormac Costello, Tara Jaksewicz, Gavin Coleman / (90 mnt) (Film Televisi) / Kam (Phillips) adalah sejenis cyborg – dengan unsur manusia besar sekali – yang dibuat untuk menumpas sepasang pemberontak. Kam mampu melaksanakan tugasnya namun dia ternyata tak tega menghabisi putra mereka (Lloyd), dan malah menyembunyikan anak ini di tengah-tengah para pemberontak lain. Kini Kam berseberangan pihak dengan para pembuatnya, dia menentang bahaya. Film ini bukan sajian intelektual, logikanya acak-acakan, tampilan dan plotnya klise sekali. Terlalu sederhana untuk menjadi fiksi ilmiah dan terlalu naif untuk menjada melodrama moral. Namun Philips mampu membuat kita bertoleransi pada semua itu, dia secara mengejutkan mampu menyiratkan secercah kharisma dalam penampilan yang wajar dan tidak “sok serius” seperti layaknya aktor/aktris dalam film seperti ini. [R]
Chaplin (½)- 1992 / Richard Attenborough / Robert Downey, jr., Moira Kelly, Paul Rhys, Anthony Hopkins, Geraldine Chaplin, John Thaw, Dan Aykroyd, Kevin Dunn, Milla Jovovich, Kevin Kline, Diane Lane, Penelope Ann Miller, Marisa Tomei, Nancy Travis, Deborah Maria Moore, James Woods / (BRITANIA-AS) / [144 mnt] Biografi Charlie Chaplin ini disusun dengan sangat kronologis, saking tekunnya film ini mengikuti jalannya waktu, akhirnya aspek emosional dan keindahannya justru tak muncul, apalagi dengan gaya penuturannya yang monoton hingga menjadi melelahkan untuk dinikmati. Film terselamatkan oleh keberhasilannya menciptakan nuansa Hollywood di awal pergerakannya, dan oleh interpretasi Downey yang - mengejutkan sekali - bisa dibilang sempurna, bahkan, kalau boleh dibandingkan, lebih menarik dari film ini sendiri (tapi masih kalah menarik dari janji judulnya dan deretan bintang pendukungnya yang sesungguhnya begitu penuh janji - yang tak terpenuhi). [PG-13]
* British Academy Awards: Aktor Utama Terbaik (Downey)
Chase, The ()- 1994 / Adam Rifkin / Charlie Sheen, Kristy Swanson, Henry Rollins, John Mostel, Wayne Grace, Rocky Caroll, Miles Dougal, Ray Wise, Flea, Anthony Kiedis / [94 mnt] Seorang pelarian (Sheen) menyandera putri salah satu orang terkaya di California tanpa sengaja, selanjutnya keduanya tertarik satu sama lain. Film ini tidak jelas memilih gaya full action atau komedi tapi juga gagal memadukannya, dan dipenuhi karakter yang datar seperti papan. Kegiatan yang terjadi dalam helikopter yang meliput kejadian penculikan merupakan bagian yang banyak memberi kesegaran. [PG-13]
Child’s Play 4. Bride of Chucky (½)- 1999 / Ronny Yu / Jennifer Tilly, Brad Douriff, Katherine Heigl, Nick Stabile, John Ritter, Alexis Arquette, Gordon Michael Woolvett / [105 mnt] Chucky kembali! Si boneka mainan berisi roh jahat itu kini menginginkan seorang pasangan bagaikan monster Frankenstein. Tiffany (Tilly), seorang wanita jalanan, bersedia menemaninya, tentu dalam wujud boneka, maka mengamuklah pasangan kecil ini. Setelah sequel kedua dan ketiga benar-benar menjadi film eksploitasi murahan, Chucky akhirnya berhasil menemukan waktunya lagi, dia memanfaatkan booming film-film horror/thriller komedi anak muda di akhir abad ini. Hasilnya: hardcore, konyol, dan mudah diduga, namun cukup untuk sekedar hiburan. [R]
Chinese Box, The ()- 1997 / Wayne Wang / Jeremy Irons, Gong Li, Maggie Cheung, Michael Hui, Ruben Blades/ (BRITANIA - HONGKONG) {Bahasa Inggris - Bahasa Mandarin Kanton} / [104 mnt] John (Irons) adalah seorang reporter Inggris yang berniat menghabiskan sisa hidupnya, yang tinggal beberapa bulan lagi karena leukemia, di Hongkong pada sekitar masa-masa peralihan Hongkong dari tangan Inggris ke Cina. John mencoba memanfaatkan waktunya untuk melakukan apapun yang dia inginkan, termasuk mengutarakan isi hatinya pada wanita bersuami yang sangat dia cintai, Vivian (Gong). Sutradara/penulis Wang sangat jeli dalam mengamati Hongkong baik secara pisik, sosial, maupun politik, umumnya sebagai sebuah kota yang memang unik, dan khususnya sebagai sebuah kota yang sedang mengalami transisi besar. Dia mengemas filmnya dengan sinematografi yang sangat lincah, walaupun cerita yang dikemasnya sesungguhnya sering terasa terlalu melodramatis. Dua bintang dari dua belahan dunia, Irons dan Gong bermain biasa saja untuk level mereka, yang sangat menyita perhatian justru adalah akting Cheung sebagai seorang pelacur eksentrik berwajah rusak. [R]
Chinese Chocolate, The ()- 1995 / Yan Chui, Qi Chang / Diana Peng, Shirley Cui, Bo Z. Wang, James Purcell / (KANADA) {Bahasa Inggris - Bahasa Mandarin} / [94 mnt] Kisah yang tidak semanis coklat ini bercerita tentang imigran-imigran yang baru datang dari China ke Kanada. Mereka mencoba menemukan kehidupan baru di negara baru mereka, beberapa di antaranya menjalin hubungan dengan penduduk kulit putih, namun tanpa meninggalkan kecenderungan untuk tetap saling membutuhkan sesama orang China. Kisah difokuskan pada kehidupan getir dua orang wanita, Maggie yang tidak pernah bisa menjalani perkawinan yang bahagia, dan Jessie seorang penari cantik yang selalu cenderung hanyut oleh situasi. Film yang sederhana, jujur, dan bisa dipercaya.
Cinta dalam Sepotong Roti (½)- 1991 / Garin Nugroho / Adjie Massaid, Rizky Theo, Tio Pakusadewo, Monica Oemardi, Soepinah / (INDONESIA) / {Bahasa Indonesia} / [118 mnt] ((Love in a Slice of Bread)) Inilah film yang meluncurkan nama Garin Nugroho menjadi salah satu sineas terpenting dalam sejarah perfilman Indonesia, film ini adalah tarikan nafas segar menjelang kepingsanan dunia film Indonesia. Pasangan suami istri muda Haris (Massaid) dan Mayang (Theo) melakukan perjalanan ke Banyuwangi sebagai usaha pelepasan dari permasalahan mereka, teman mereka Topan (Pakusadewo) “terbawa” dalam perjalanan ini. Segala yang terjadi kemudian dalam puisi pertama Garin tentang represi dan frustrasi seksual ini bukanlah kejutan. Tapi siapa perduli? Karena toh film ini lebih terasa sebagai kumpulan ide dimana isi dan bentuk berebutan mencari prioritas. Beberapa adegan paling bagus selama sejarah perfilman Indonesia ada dalam film ini (Mayang menjadi ronggeng, Topan berpamitan dibawah crane-shot yang nyaris spektakuler, dll.), tetapi kehebatan-kehebatan itu dengan cemerlang pula menenggelamkan seluruh pesan film ini, pemirsa akan dengan mudah terputus dengan semua permasalahan para tokohnya, sementara para tokoh sendiri sebenarnya hanya merupakan sketsa ide tentang karakter, bukan manusia seutuhnya. Film ini – yang dalam beberapa bagian merangkum semua mantra sinematografi orang IKJ – juga seakan menjadi penunjuk arah bagi para pemirsa kemana Garin akan melangkah setelah ini, semua yang dibuatnya kemudian meluaskan teknik dan selera yang telah ditunjukannya dalam CDSR. [R]
Citizen Cohn (½) -1992 / Frank Pierson / James Woods, Joe Don Baker, Joseph Bologna, Ed Flanders, Frederic Forrest, Lee Grant / [115 mnt] Roy Marcus Cohn (Woods) adalah seorang jaksa Amerika yang brillian dan sangat ambisius. Selama karirnya dia banyak terlibat dalam kasus-kasus politik besar yang melibatkan orang-orang penting, beberapa orang telah berhasil diseretnya ke kematian lewat kursi listrik, beberapa di antaranya hanya karena mereka adalah Yahudi atau karena mereka gay, Cohn memang sejenis makhluk “anti-nepotisme” karena dia sendiri adalah Yahudi homoseks. Cerita film ini disampaikan dengan kilas balik sementara monster pengadilan ini sedang berada dalam keadaan hampir sekarat di rumah sakit akibat AIDS. Sayang, penuturan film yang diambil dari biografi Cohn yang ditulis Nicholas von Hoffman ini terasa lambat dan melelahkan sekali, hanya tata kamera dan penampilan bagus Woods yang membuatnya masih menarik dinikmati, walau itu juga tak masuk kelas istimewa. [R]
City Hall (½) - 1996 / Harold Becker / Al Pacino, John Cusack, Bridget Fonda, Danny Aiello, David Paymer, Martin Landau, Tonny Franciosa, Lindsay Duncan, Angel David, Nestor Serrano, Richard Schiff / [104 mnt] Kredibilitas Pappas (Pacino), walikota New York yang sangat berwibawa dan dicintai, serta deputinya (Cusack) mulai terganggu ketika seorang anak kulit hitam tertembak peluru nyasar. Fonda bermain sebagai seorang jaksa wilayah bergaya detektif yang dengan gigih mencoba mengungkap segala hal yang menyangkut peristiwa ini, terutama karena kecurigaannya atas hubungannya dengan sebuah sindikat kejahatan besar dan Pak Walikota. Skenario City Hall tak tanggung-tanggung ditulis oleh tiga pendekar kawakan, Paul Schradder, Nicholas Pilleggi, dan Bo Goldman, ditambah Ken Lipper, seorang deputi walikota, maka bisa diduga garis besar cerita film ini sangat menarik, namun penyampaiannya sangat deras dan “tiada maaf bagimu” untuk pemirsa yang sempat lengah. Film ini juga kehilangan beberapa bagian kesegarannya oleh dialog-dialog yang terlalu enak dan indah. Penyelamat yang sangat berarti adalah paduan akting para pemerannya yang hampir tanpa cacat, bahkan Fonda yang sama sekali tak cocok untuk perannya memainkannya dengan baik pula. [R]
City of Joy (½)- 1992 / Roland Joffe / Pattrick Swayze, Om Puri, Pauline Collins, Shabana Azmi, Ayesha Draker, Santu Chowdury, Art Malik, Imrat Badsah Khan /(BRITANIA - PRANCIS) / [134 mnt] Swayze bermain sebagai seorang dokter Amerika yang kesepian dan mengalami krisis kepercayaan diri. Dia kemudian datang ke Kalkuta dan bersahabat dengan seorang penarik angkong miskin (Puri), keduanya saling membantu menemukan sahabat sejati dan menjadi “manusia yang lebih baik” dalam sebuah film dengan cerita dan gaya bercerita yang hitam putih dan tak bertenaga. Setting daerah kumuh Kalkuta dan masyarakatnya yang terasa begitu nyata adalah daya tarik tunggal film ini, selebihnya tak ada yang pantas dibanggakannya. [PG-13]
City of Lost Children, The (½)- 1995 / Jean Pierre Jeunet, Marc Caro / Ron Perlman, Daniel Emilfork, Judit Vittete, Dominique Piñon, Jean Claude Dreyfuss, Genevieve Brunet, Odile Mallet, Mirelle Mosse, Serge Merlin, François Hadji-Lazaro, Rufus, Tricky Hogaldo / (PRANCIS) / {Bahasa Prancis} / [118 mnt] ((La Cité des Enfants Perdus)) Duet fenomenal Prancis yang mencuat lewat “Delicatessen”, Jeunet-Caro, kini kembali dengan sesuatu yang lebih besar, walau tidak lebih gila. Setelah adiknya diculik oleh sekelompok Cyclop, One (Perlman), seorang manusia lugu berbadan besar, memulai sebuah petualangan dalam dunia yang sangat fantastis bersama seorang gadis jalanan yang cerdik (Vittete, sembilan tahun dan sensasional). Kejutan datang susul menyusul, begitu juga karakter-karakter yang hanya bisa tercipta lewat imajinasi yang luar biasa. Imajinasi sepertinya memang berkah yang dimiliki Jeunet dan Caro dengan kwantitas dan kwalitas yang jauh di atas manusia normal, dan mereka menjadikannya sesuatu yang bisa dilihat orang lain dengan hasil yang bisa membuat mata terbelalak. Fotografi yang mencengangkan (Darius Khondji), efek visual yang selalu efektif (Pitof), dan tata artistik yang fantastis (Jean Rabasse), membuat tontonan ini selalu segar di mata, walau tidak semua permasalahannya mudah dimengerti. Catatan kecil: Suara Irvin (dengan tampilan yang hanya berupa otak) diisi oleh Jean Louis Trintignant, kostum film ditata oleh Jean-Paul Gaultier. [R]
City Slickers ()- 1991 / Ron Underwood / Billy Crystal, Daniel Stern, Bruno Kirby, Patricia Wettig, Helen Slater, Noble Willingham, Jack Palance, Tracy Walter, Josh Mostel, Kyle Secor, David Paymer / [112 mnt] Sekelompok orang sibuk yang sedang mengalami krisis usia pertengahan mencoba mengendorkan stres mereka di sebuah peternakan jauh dari kota tempat mereka tinggal, dan di peternakan inilah semua hal baru, baik yang menyenangkan, menggelikan, menyembuhkan, mengharukan, bahkan yang tragis, terjadi. Bila film ini adalah sebuah film komedi, maka dia termasuk salah satu yang paling serius, jika bukan, maka dia termasuk yang paling komedik. Skenario yang menggigit dan orkestra akting yang sangat bagus membuat film ini konstan menarik dari awal sampai akhir. [PG-13]
* Academy Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Palance), Golden Globe: Aktor Pendukung Terbaik (Palance)
Civil Action, A ()- 1998 / Steven Zaillian / John Travolta, Robert Duvall, Stephen Fry, James Gandolfini, Dan Hedaya, Zeljko Ivanek, John Lithgow, William H.Macy, Kathleen Quinlan, Tony Shalhoub, Bruce Norris, Sydney Pollack, Mary Mara, Peter Thornton, Ned Eisenberg, Peter Jacobson, Paul Ben-Victor, Daniel von Bargen / [114 mnt] Film ini adalah kronologi ketat perjuangan Schitchmann (Travolta) dalam menuntut hak-hak sekelompok penduduk yang keluarganya terracuni limbah perusahaan W.R. Grace & Co.. Pertempuran semut lawan gajah ini berlangsung selama delapan tahun, Schitchmann dan para penduduk sesungguhnya meneruskan perjuangan karena "terlanjur basah", bukan karena harapan yang menjanjikan. Begitu banyak detil dalam film ini, tapi tidak terlalu banyak kesabaran yang diminta dari kita, karena Civil Action berhasil ditampilkan dalam drama hukum yang manusiawi dan tidak melulu berputar-putar membosankan di ruang sidang. [R]
Clay Pigeons (½)- 1998 / David Dobkin / Joaquin Phoenix, Vince Vaughn, Janeane Garofalo, Georgina Cates, Greggory Sporleder, Vince Cielur, Scott Wilson, Philip Morris, Nicky Arlin / [104 mnt] Clay Bidwell (Phoenix) kehilangan kehidupan tenangnya setelah dia menjalin affair semalam dengan Amanda (Cates), istri temannya (Sporleder). Clay menjadi tersangka pembunuhan berantai. Diapun sadar bahwa Amanda ternyata adalah seorang wanita yang sangat berbahaya. Kedatangan soopir truk misterius (Vaughn) memperburuk keadaan. Dalam debutnya Dobkin berhasil menciptakan drama kriminal yang cukukp bergaya, namun semua masih dalam teritori noir kontemporer Amerika yang terlalu akrab - dan terlalu sering dibuat. Penampilan Vaughn dalam film ini menciptakan kesannya sebagai aktor muda paling menakutkan di Amerika, sementara bagi Cates akting bagusnya sebagai seekor wanita iblis justru menghapus kesan gadis naif dalam peran-perannya terdahulu. [R]
Client, The ()- 1994 / Joel Schumacher / Susan Sarandon, Brad Renfro, Tommy Lee Jones, Mary-Louise Parker, Anthony LaPaglia, Ossie Davis, Bradley Whitford, Anthony Edwards, J.T. Walsh, Walter Okewicz, Will Patton / [122 mnt] Mark Sway (Renfro), seorang anak berusia sebelas tahun dari keluarga yang hancur, tanpa sengaja memergoki seorang pengacara mafia yang hendak bunuh diri, pengacara itu kemudian bercerita tentang banyak hal pada Mark sesaat sebelum dia bunuh diri. Ternyata pengetahuan baru Mark ini terlalu banyak dan membuat dia menjadi incaran FBI sekaligus incaran mafia. Reggie Love (Sarandon), pengacara yang menangani kasusnya, mau tidak mau melibatkan diri juga dalam bahaya. Film semi thriller ini semakin mendekati akhir semakin menarik, walau karakterisasi tokoh dan keseruan even berebutan menduduki prioritas utama untuk digali, hingga akhirnya tak satupun dari keduanya tergarap sempurna. Paduan akting para pemerannya hampir sempurna, itu sangat banyak membantu. [PG-13]
Cliffhanger (½)- 1993 / Renny Harlin / Sylvester Stallone, John Lithgow, Janine Turner, John Rooker, Paul Winfield, Ralf White, Caroline Goodall, Leon, Max Perlich / (A.S-PRANCIS) / [118 mnt] Sly bermain sebagai seorang petugas penyelamat di pegunungan yang kehilangan rasa percaya dirinya setelah satu kali kegagalan melaksanakan tugasnya. Tanpa pernah dia bayangkan sebelumnya, suatu ketika dia terlibat dengan sekelompok penjahat (Lithgow dkk) yang sedang melacak uang seratus juta dollar yang jatuh ke pegunungan bersalju. Paduan yang sangat cocok, dan entah kenapa tidak terjadi dari dulu, antara Stallone dan Harlin, hasilnya bisa diduga: tak perlu cerita yang bagus, dibuat dengan tingkat kesulitan tinggi, memerlukan stunt-stunt kelas utama (atau aktor yang berani mati), dan penuh dengan situasi ajaib dan kejutan besar-besaran. Pembuat film bertambah pandai, penonton......tergantung. [R]
Clockers ()- 1995 / Spike Lee / Harvey Keitel, Mekhi Phifer, Delroy Lindo, John Turturro, Isaiah Washington, Keith David, Pee Wee Love, Regina Taylor, Tom Byrd, Sticky Fingaz, Fedro, E.O.Nelasco, Laurence B.Adissa, Hassan Johnson, Frances Foster, Michael Imperioli, Mike Starr, Spike Lee / [129 mnt] Film jalanan yang sangat menggigit ini bercerita tentang Strike (Phifer, tentu saja Afro-Amerika), seorang remaja jalanan yang menjadi kunci bagi polisi dalam mengungkap sebuah kasus terbunuhnya seorang pengedar obat bius saingan Rodney (Lindo). Strike terjepit di antara keselamatan kakaknya (Washington) yang menjadi tersangka pertama, ancaman Rodney, dan pemeriksaan oleh Rocco (Keitel), seorang polisi yang terobsesi secara murni untuk menyingkap kenyataan yang sesungguhnya. Satu dari sekian banyak film bagus dari Lee ini hanya terganggu oleh penyelesaian yang berkepanjangan dan akting Phifer yang tidak konsisten, selebihnya hampir sempurna. [R]
Close My Eyes ()- 1991 / Stephen Poliakoff / Alan Rickman, Clive Owen, Saskia Reeves, Karl Johnson, Lesley Sharp, Kate Gartside, Karen Knight, Niall Buggy / (BRITANIA) / (100 mnt) Richard dan Natalie Gillespie adalah sepasang kakak beradik yang sangat akrab namun jarang sekali bertemu. Richard tak pernah menerima/menikmati kemapanan dalam hidupnya, begitu juga Natalie sebelum dia menikah dengan Sinclair (Rickman) yang membuatnya bahagia. Pada sebuah pertemuan dengan Sinclair dan Natalie, Richard tak sanggup menetralisir daya tarik seksual kakaknya, dan – sadar atau tidak sadar pada umpannya sendiri – Natalie tidak memberi batas. Inilah inti film ini : incest. Memang bukan hanya itu, seperti kebanyakan film Britania sejak akhir delapanpuluhan sampai pertengahan sembilanpuluhan, CME juga bertindak sebagai sebuah satir sosial, kali ini mengarah pada industrialisasi yang mengosongkan jiwa manusia. Poliakoff memberi nilai yang lain pada dua inti ini, dia begitu netral memandang incest, dan begitu penuh kebencian pada dehumanisasi. CME menyampaikan muatannya dalam tekstur yang cukup sulit diduga, kehangatan dan kegetiran kadang muncul pada tempat yang tidak biasanya, sikap dan perasaan setiap pemirsa akan sangat berbeda pada bagian akhirnya yang sunyi (dan, seperti semua bagian lain dalam film ini, difotografikan dengan sangat indah oleh Wiltod Stok), namun mengatakan segalanya. Tiga akting yang sangat bagus, dari Owen, Reeves, dan Rickman, turut memaksa kita perduli pada ketiga anak manusia ini.
Closet Land (½)- 1991 / Radha Bharadwaj / Madeleine Stowe, Alan Rickman / [92 mnt] Jika anda berpikiran bahwa resensi ini terlalu malas atau terlalu pelupa untuk menulis nama pemeran lain selain Stowe dan Rickman, anda salah. Sepanjang film hanya wajah mereka berdua yang pernah muncul di film. Stowe bermain sebagai seorang pengarang buku anak-anak yang dituduh mencoba menghasut dengan alegori subversif di buku karangannya, Rickman adalah aparat pemerintah sebuah negara antara berantah yang menculik dan kemudian menginterrogasinya dengan berbagai cara. Film ini difoto dengan sangat imajinatif, dunia nyata dan bawah sadar ditumpuk dengan enak dan tidak sekedar tempel menempel. Stowe dan Rickman juga memuaskan, mereka bermain dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka, mau tidak mau mereka memang diminta seluruhnya oleh film ini. Susunan plot sebenarnya menarik dan tidak membosankan, namun waktu satu jam setengah cukup untuk membuat kita sadar bahwa film ini terlalu aneh dan dipaksakan. Sudah pasti bukan untuk semua golongan, beberapa orang dari anda disarankan menontonnya, sebagian besar lagi: hindari! [R]
Clueless ()- 1995 / Amy Heckerling / Alicia Silverstone, Stacey Dash, Brittany Murphy, Paul Rudd, Dan Hedaya, Donald Faison, Elisa Donovan, Breckin Meyer, Jeremy Sisto, Aida Linares, Wallace Shawn, Twink Caplan, Justin Walker, Sebastian Rashidi, Herb Hall, Julie Brown, Ron Orbach / [97 mnt] Jika harus selalu ada tonggak jelas yang mendahului sebuah trend, mungkin kita harus menganggap Clueless sebagai awal dari trend besar film-film remaja sejak pertengahan sembilanpuluhan. Film ini menyoroti sebuah SMU di – mana lagi kalau bukan – Beverly Hills, terutama sepak terjang seorang siswi bernama Cher (Silverstone) dan sahabatnya, Dionne (Dash). Mereka adalah remaja Amerika pada umumnya, bahkan kecintaan Cher pada dirinya dan zamannya mungkin agak ekstrem. Tiba-tiba sesuatu menyadarkan kedua anak gaul ini untuk berbuat lebih baik dan berhenti memandang segala sesuatu dengan dangkal, apa yang dilakukan Cher dan Dionne kemudian tentu bukanlah gerakan moral ala aktivis politik atau filsuf, mereka cukup memulainya dengan hal-hal remaja yang ringan saja, namun yang mereka anggap “berbudi” dan “bermoral” dalam dunia ABG yang clueless itu. Heckerling adalah orang yang membuat “Fast Time at Ridgemont High” menjadi film remaja yang begitu penting dalam dekade delapanpuluhan, dia lama tak membuat film remaja lagi setelah itu, sampai dia rasa tiba saatnya untuk kembali dengan Clueless yang ternyata tak kalah bertenaganya. Hampir semua jargon dan sudut pandang khas remaja – yang kadang sangat menyebalkan untuk anak-anak dan orang dewasa – berhasil dieksploitasi dalam film ini, Heckerling tidak segan-segan menampilkan yang paling dalam dan paling dangkal dari mereka. Bahkan kalau kita hanya berbicara soal dialog, mungkin satu-satunya film Amerika dekade sembilanpuluhan yang mempunyai kumpulan kalimat yang lebih lezat dari Clueless hanya “Pulp Fiction” Film ini juga melejitkan nama Silverstone yang sebelumnya sempat mempermalukan dirinya dalam thriller “Crush”, Alicia memang sangat pantas dijadikan simbol aktris remaja lewat penampilannya dalam Clueless. Sebagian orang berkata bahwa film ini mengambil karya Jane Austen “Emma” sebagai poros ceritanya, anda boleh percaya atau tidak. [PG-13]
Cook, The Thief, His Wife, & Her Lover, The ()- 1990 / Peter Greenaway / Richard Bohringer, Michael Gambon, Helen Mirren, Alan Howard, Tim Roth / (BRITANIA - BELANDA - PRANCIS) [119 mnt] Ini memang hanya satu dari film-film “wah” yang pernah dibuat Greenaway, sutradara liar dari Wales, namun film ini disebut-sebut sebagai kulminasi kejeniusan dan kegilaan Greenaway. Seperti biasa, fokusnya adalah pada moralitas dan kejiwaan tokoh-tokoh yang tidak biasa dan cenderung mengerikan. Kali ini restoran mewah “Le Holandais” menjadi ajang pameran ide Greenaway, segala macam kegilaan, penyelewengan, pencurian, dan kekejaman terjadi di sini, film sarat dengan adegan yang bisa membuat kita tertawa sambil menahan rasa ngeri bahkan bergidik. Kecuali kita orang Britania Raya, tidak terlalu mudah menangkap aspek politik di dalamnya, yang jelas gambar dan kata bicara sama nyaringnya dalam satir ini. Gayanya bagaikan sebuah teater absurd yang difotografikan dengan luar biasa bagus, settingnya menawan, para pemain berakting gila-gilaan (terutama Gambon sebagai Albert) dalam gaya yang mengerikan dan dialog yang tajam dengan materi cerita yang sepintas terasa sebagai eksploitasi psiko manusia. Namun, hati-hati, kekerasan yang ekstrim, ketelanjangan, dan adegan seks bertabur di mana-mana. Adegan pertama yang menampilkan penyiksaan dan penghinaan, adegan terakhir yang menampilkan hidangan badan manusia, dan berpuluh adegan di antara kedua adegan itu, jelas bukan untuk dilihat semua orang. [NC-17]
Cookie’s Fortune ()- 1999 / Robert Altman / Patricia Neal, Julianne Moore, Glenn Close, Liv Tyler, Chris O'Donnell, Charles S. Dutton, Lyle Lovett, Ned Beatty, Courtney B. Vance, Donald Moffatt, Danny Darst, Matt Malloy, Randle Mell, Niecy Nash, Rufus Thomas, Ruby Wilson, Preston Strobel, Ann Whitfield / (118 mnt) / Sebuah keluarga terdiri dari empat orang wanita, Jewel Mae Ocutt alias Cookie (Neal) yang tua dan penuh kenangan, kakak beradik Camille (Close) yang licin dan Cora (Moore) yang naif, serta Emma (Tyler), putri Cora yang baru kembali ke kota kecil tempat mereka tinggal. Dutton memerankan Willis, seorang laki-laki kulit hitam yang sangat dekat dengan Cookie. Dengan motif yang agak unik, Cookie tiba-tiba melakukan bunuh diri. Seluruh kota gempar, dan Camille menyudutkan Willis ke posisi tersangka pembunuhan. Komedi kecil Altman ini terasa kurang memadai untuk dijadikan sebuah film layar lebar, kisahnya sangat kekurangan tenaga untuk sekedar menjaga ketertarikan. Masalah itu ada pada skenarionya, sementara penyutradaraan khas Altman yang selalu berusaha menampilkan detil-detil eksentrik kali ini malah membuat pemirsa semakin mudah lelah. Moore, Tyler, dan terutama Dutton bermmain sangat baik, sementara Neal terkesan underacting, kontras dengan Close yang habis-habisan overacting. Ada dua jenis film Altman: yang sangat mengesankan dan yang mudah dilupakan, Cookie’s Fortune tak diragukan lagi termasuk jenis yang kedua. [PG-13]
Cool Running (½)- 1993 / John Turteltaub / Leon, Doug E. Doug, John Candy, Marco Bambrilla, Malik Yoba, Rawle Lewis, Raymond J. Barry, Peter Outerbridge, Larry Gillman, Paul Coeur / [98 mnt] Atlet Jamaika memenangkan emas kereta luncur di Olimpiade Musim Dingin, sepertinya itu hanya pantas terjadi dalam mimpi. Namun itu betul-betul terjadi! Cool Running adalah kilas balik kemenangan besar itu, dari masa-masa latihan sampai saat bersejarah ketika mereka mengalahkian atlet Jerman Timur. Tapi jangan terlalu serius, film ini adalah sebuah komedi slapstik yang sentimental, cukup lucu dan menghibur, apalagi jika anda berusia di bawah 15 tahun. [PG]
Cool Surface (½)- 1992 / Erik Anjou / Robert Pattrick, Teri Hatcher, Matt McCoy, Cyril O’Reilly, Ian Buchanan / [82 mnt] Patrick adalah seorang penulis yang tergila-gila pada Hatcher. Juga masih banyak lain masalah yang dihadapinya. Kita tidak tertarik untuk membantunya. [R]
Copland ()- 1996 / John Mangold / Sylvester Stallone, Ray Liota, Harvey Keitel, Robert De Niro, Michael Rappaport, Annabella Sciorra, Janeanne Garofalo / [103 mnt] Sly dengan senang hati membuncitkan perutnya untuk berperan sebagai Freddy, seorang sheriff di sebuah kota kecil tempat tinggal anggota NYPD. Freddy sendiri mempunyai sedikit masalah ketulian sehingga dia tak pernah berhasil masuk squad elite NYPD. Sementara itu, Ray (Keitel), dan teman-temannya sedang sibuk memanipulasi kasus “bunuh diri” seorang polisi muda (Rappaport). Atas dorongan Mol (De Niro), Freddy berniat untuk melakukan sesuatu dalam karirnya yang sepi. Kehadiran Stallone dalam film independen ini memang sangat menarik perhatian, walau dia tak harus melakukan eksplorasi yang memerlukan skill akting yang hebat (Liotta lah yang bermain sangat bagus). Bagaimanapun, cara penuturan cerita yang enak dinikmati membuat film ini jadi menarik. [R]
CopyCat (½)- 1995 / Jon Amiel / Sigourney Weaver, Holly Hunter, Dermott Mulroney, Harry Connick jr, William McNamara, Will Patton, John Rothman, J.E. Freeman / [123 mnt] Weaver bermain sebagai seorang psikiater-kriminolog yang menderita claustrophobia, Hunter bermain seorang polisi seksi pembunuhan. Keduanya menjadi pelaku utama dalam penghentian aksi pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seseorang yang membunuh dengan gaya meniru gaya pembunuh-pembunuh berantai terdahulu dan menganggap membunuh sebagai seni. Skenario cerdas Ann Biederman dan David Madsen diwujudkan dengan cerdas pula oleh Amiel, dia tahu jelas bagaimana membuat film ini tidak menjadi monoton atau melelahkan. Iramanya enak, visualisasinya sangat variatif, dan akting para pemainnya cukup meyakinkan. Bahkan penggalian psikologis tokoh-tokohnya termasuk istimewa untuk standar thriller Hollywood sezamannya. Namun semua itu ditutup dengan bagian akhir yang menunjukkan kehabisan akal dari pembuatnya. [R]
Coyote Ugly (½)- 2000 / David McNally / Piper Perabo, Adam Garcia, Maria Bello, Melanie Lynskey, Izabella Miko, Bridget Moynahan, Tyra Banks, Del Pentecost, Michael Weston, John Goodman, LeAnn Rimes / (94 mnt) Violet Sanford (Perabo) adalah seorang gadis yang bercita-cita menjadi penulis lagu yang sukses. Untuk itu dia harus pergi ke New York dan meninggalkan ayahnya (Goodman) di kota kecil di New Jersey. Berkarir di industri musik bukanlah sesuatu yang mudah dimulai apalagi untuk seorang gadis dari kota kecil. Untuk sekedar menopang hidup, Violet terdampar bekerja di sebuah bar pimpinan Lil (Bello). Untuk bisa bekerja di bar ini dibutuhkan kombinasi kecepatan, kreativitas, kesupelan, kecantikan, dan kelihaian menari. Bar kecil bernama Coyote Ugly ini adalah sebuah bar yang sangat panas dan pramuniaganya yang cantik-cantik menyajikan hiburan multimedia (hey, hey, jangan berpikiran macam-macam, film ini berbatas usia PG-13). Violet sendiri tentu masih terus mengejar karir penulisan lagunya. Suasana bar Coyote Ugly digambarkan dengan sangat menarik, dan di luar itu, beberapa bagian sentimentil dari film ini harus diakui memang murni menyentuh. Tetapi tidak banyak sisi lainnya yang istimewa, impian yang dijual film ini pada dasarnya disajikan dalam gaya yang sangat steril dan satu dimensi. Goodman dan Bello adalah dua pemeran yang paling menyita perhatian dalam film ini, sementara Perabo sendiri tidak mempunyai cukup kharisma dan energi untuk menjadi pusat perhatian. [PG-13]
Crash ()- 1996 / David Cronenberg / James Spader, Elias Koteas, Holly Hunter, Deborah Kara Unger, Rosanna Arquette / (KANADA) / [90 mnt] Inilah film yang dianggap paling berani di tahunnya, Crash selalu mengundang reaksi di setiap pemutaran dalam festival yang diikutinya. Satire tentang materialisme ini tak tanggung-tanggung menggambarkan mobil sebagai benda yang bukan lagi hanya bermakna sebagai penentu status sosial, melainkan telah menjadi nafas hidup, bahkan hanya dengan keterlibatan mobil orang bisa terangsang untuk melakukan hubungan sexual, dan itu lebih dari sekedar fetisme. James Ballard (Spader) mengalami kecelakaan mobil, sejak itu dia mulai dekat dengan Vaughn (Koteas), yang mempunyai “proyek” untuk membentuk lagi hidup manusia lewat membudayakan pengapresiasian aneh terhadap mobil dan terutama kecelakaan lalu lintas. Ballard mulai melibatkan istrinya (diperankan dengan dingin dan unik oleh Unger, perhatikan terus arah tatapannya!) dalam semua ini, dan pada dasarnya semua orang yang dekat dengan mereka mulai memasuki sebuah gaya hidup - dengan titik berat sexual - yang tak terbayangkan. Tak heran jika film ini mendapat pengatagorian batas usia NC-17 di Amerika atau yang setingkat dengan itu di negara lain, topiknya saja sudah cukup untuk membuat anak-anak dan remaja terlarang menontonnya, belum lagi ketidakterbatasannya dalam menggambarkan adegan-adegan sex yang sangat “liberal”. Cronenberg, sutradara barisan depan Kanada, lagi-lagi membuat karya yang menghentak, lebih menghentak dari karya-karyanya yang lain. Apapun kelebihan dan kekurangan film ini, yang jelas film seperti ini bukan untuk semua jenis pemirsa, sebagian penonton akan terpukau melihatnya, sebagian lagi akan merasa muak sebelum pertengahan. Oh, ya, film ini diambil dari novel karya….J.G.Ballard! [NC-17]
Crazy in Alabama ()- 1999 / Antonio Banderas / Melanie Griffith, David Morse, Lucas Black, Cathy Moriarty, Meatloaf, Rod Steiger, Ricard Schiff, John Beasley, Robert Wagner, Noah Emmerich, Sandra Seacat, Paul Ben-Victor, Brad Beyer, Fannie Flagg, Elizabeth Perkins, Linda Hart, Paul Mazursky, Holmes Osborne, William Converse Roberts, David Speck / (111 mnt) Lucille (Griffith) memenggal suaminya lalu pergi dengan membawa kepala laki-laki malang itu melintasi Amerika dari sebuah kota kecil di Alabama ke tempat-tempat impian seperti Vegas dan akhirnya mana lagi kalau bukan Hollywood. Sementara itu, PeeJoe (Black), adalah keponakan Lucille yang selalu merasa khawatir akan keselamatan bibinya yang petualang. Pada saat itu di kota tempat tinggal PeeJoe isu rasialis sedang mencuat menyusul pembunuhan seorang remaja kulit hitam oleh Sheriff Doggett (MeatLoaf). Cerita film ini kemudian melompat-lompat antara kisah Lucille di perjalanan dan PeeJoe di kotanya. Banderas membuka filmnya dengan sekuen kredit yang centil dan lucu, namun segala sesuatu yang datang setelah itu tak pernah mengenai sasaran. Kontradiksi antara karikatur kisah Lucille dan melodrama kehidupan kota kecil terasa sangat janggal, apalagi keduanya secara terpisah terasa sangat berlebihan, yang satu terlalu cute dengan keeksentrikan-keeksentrikannya, sementara yang lain mempunyai romantisme yang terlalu telanjang. Penampilan Griffith juga selalu berlebihan sehingga kita semakin kehilangan simpati padanya, padahal jelas sekali bahwa film ini tidak mengharapkan kita membenci Lucille (bayangkan kalau Lucille dimainkan dalam nada yang lebih rendah oleh – misalnya - Jennifer Tilly, hasilnya bisa lebih baik, tapi lupakan saja itu karena kita tahu Griffith tentu otomatis menjadi pilihan nomor satu Banderas). Film ini berusaha untuk menjadi kisah tentang kebebasan, tapi tak mampu menyampaikan pesan apapun pada pemirsa. [PG-13]
Crossing Guards, The (½)- 1996 / Sean Penn / Jack Nicholson, David Morse, Anjelica Huston, Robin Wright, Piper Laurie, Richard Bradford, Priscillia Barnes, David Baerwald, John Savage, Kari Wuhrer, Richard Serafian / [97 mnt] Nicholson bermain sebagai seorang duda berjiwa resah yang kehilangan anak gadisnya yang mati terbunuh, dan ketika si pembunuh (Morse) keluar dari penjara, dia berniat menghabisinya. Mengingat kepercayaan yang layak kita berikan pada Penn dan deretan pemainnya, film ini cukup mengecewakan. Pembentukan karakter-karakternya memang kuat, Penn juga mampu menampilkan filmnya dengan cukup bergaya, namun semua belum cukup untuk menutupi tipisnya cerita yang mudah ditebak kemana arahnya, dan lihatlah bagian akhirnya yang mungkin akan membuat anda menyesal menghabiskan waktu lebih dari satu setengah jam menunggunya. [R]
Crossing the Line (lihat: The Big Man )
Crow, The (½)- 1992 / Alex Proyas / Brandon Lee, Ernie Hudson, Angel Davids, Michael Wincott, David Pattrick Kelly, Rochelle Davids, Bai Ling, Jon Polito, Michael Berryman, Bill Massey, Bill Raymond, Anna Thompson, Tony Todd / [100 mnt] Setahun setelah dibunuh dengan brutal oleh sekelompok berandal, Eric (Lee), seorang rocker, bangkit dari kubur dan melakukan aksi balas dendam yang tak kalah brutalnya dengan dibimbing oleh seekor gagak hitam. Hit ini punya kekuatan pada penciptaan suasana komik yang kelam yang tercipta oleh fotografi dan tata artistik yang bagus, humor-humornya juga cukup enak, namun karakter para tokohnya membosankan, formula ceritanya luar biasa klise, dan dipenuhi muatan-muatan moral yang romantis dan melelahkan. Film ini memang lebih menyenangkan daripada yang pantas diharapkan dari film-film jenis begini, namun lebih membuat jenuh daripada yang dikatakan orang tentangnya. Catatan besar: Lee, yang di sini bermain sangat simpatik, meninggal di tengah-tengah proses pembuatan, namun teknologi komputerisasi film sudah terlalu ajaib hingga dia bisa tetap tampil tanpa diganti pemeran lain. [R]
Crow 2, The: City of Angels (½)- 1996 / Tim Pope / Vincent Perez, Mia Kirshner, Richard Brooks, Vincent Castellanos, Ian Durry, Tracy Ellis, Thomas Jane, Iggy Pop, Thuy Trang / [109 mnt] Sekuel dari hit kelam ini tidak mempunyai hubungan dengan film terakhir Brandon Lee tersebut, kecuali bahwa sang tokoh utama (kali ini diperankan playboy Prancis, Perez) sama-sama menjadi korban kejahatan geng penjahat sadis, dan kemudian bangkit kembali dengan dibimbing gagak hitam dan akhirnya melakukan pembalasan yang jauh lebih brutal daripada cara kematiannya. Plot rutin yang sama dan membosankan tertolong oleh keberhasilan Pope dan kawan-kawan menciptakan nuansa dekadensi di City of Angels dengan fotografi dan tata artistik yang pas. Film ini jauh lebih kelam, buas, dan liar daripada yang pertama, sebagian dari pemirsa boleh menyebutnya “film setan”, yang jelas ada ironisme bahwa film dengan cerita sesederhana begini justru sangat tak pantas ditonton anak-anak. [R]
Crucible, The (½)- 1996 / Nicholas Hytner / Daniel Day-Lewis, Winona Ryder, Paul Scofield, Joan Allen, Bruce Davison, Rob Campbell, Jeffrey Jones, Peter Vaughan, Elizabeth Lawrence, Mary Pat Gleason / [123 mnt] Film ini adalah cuplikan fiktif dari “pembasmian tukang sihir” (witch-hunts) yang terjadi di Salem, Massachussets, pada tahun 1692. Abigail Williams (Ryder) menyusun sebuah rencana yang sangat rapi untuk membalas dendam pada Elisabeth Proctor (Allen), istri bekas majikan sekaligus bekas kekasihnya, John Proctor (Day Lewis). Dengan sangat meyakinkan, Abby dan kawan-kawannya menggemparkan Salem dengan “bukti-bukti” bahwa beberapa penduduk adalah pemuja setan, termasuk Elisabeth. Keortodokan cara berpikir saat itu memungkinkan berita ini untuk ditanggapi dengan sangat serius oleh gereja dan pengadilan, selanjutnya Salem harus menerima sebuah tragedi yang jauh lebih menggemparkan, dendam pribadi Abby bukan lagi hal besar dibanding nasib beberapa warga Salem yang menjadi korban peristiwa ini. Skenario film ini diangkat dari drama panggung populer karya Arthur Miller (mantan suami Marilyn Monroe dan mertua Day Lewis), yang juga menulis skenarionya. Pada tahun 1940-an, drama ini dianggap alegori transparan dari sikap penuh curiga pemerintah A.S terhadap masyarakatnya atas isu “Non-Amerikanisme”, yang juga ditanggapi masyarakatnya dengan cukup naif. Sekarang, film ini juga masih berbau alegori, bahkan lebih global, walau juga terlalu naif kalau kita menganggapnya sebuah isu serius. Bagaimanapun, film ini adalah sebuah karya visual yang sangat memuaskan yang menunjang modal skenario yang penuh daya tarik dramatis. Day Lewis dan Allen adalah yang paling bersinar di sini, namun pada umumnya semua pemain bermain bagus. Salah satu film Amerika terbaik di tahunnya. [PG-13]
Crying Game, The (½)- 1992 / Neill Jordan / Stephen Rea, Jaye Davidson, Miranda Richardson, Forest Whitaker, Jim Broadbent, Ralph Brown, Adrian Dunbar / (BRITANIA) / [112 mnt] Jika anda mengaku sebagai penggemar film realis yang bagus, bijak sekali kalau anda tidak melewatkan film ini. Fergus (Rea) adalah seorang anggota IRA yang turut menyandera seorang polisi Inggris bernama Judy (Whitaker). Setelah Judy terbunuh tanpa sengaja dan markas para penyandera diserbu, Fergus pergi ke Inggris, berkenalan dengan Dil (Davidson), kekasih Judy. Dil jatuh cinta pada Fergus, dan sempat berbalas sebelum Fergus tahu bahwa.....Dil adalah laki-laki! Kalau saja Jordan memperkuat plot point menjelang bagian akhir, mungkin nilai  akan pantas untuk film ini. Namun, tanpa itupun film ini sudah cukup memukau Jordan menulis naskah dan menyutradarai dengan agak flamboyan, hasilnya melodrama, thriller, dan intrik politik terangkum dengan baik dan enak diikuti. Rea, Richardson, Whitaker, dan terutama Davidson (seorang waria asli dan ini adalah film pertamanya) bermain luar biasa bagus. Film ini sedikit lebih dari katagori “sangat memuaskan”, namun sebagian dari kita mungkin agak risih dengan beberapa dialognya yang sangat puitis. Catatan: Sebelum munculnya “Babe” dan “Trainspotting”, The Crying Game pernah tercatat sebagai film impor terlaris di Amerika sepanjang zaman, setelah memecahkan rekor “The Gods Must Be Crazy” dan “Chariots of Fire”. [R]
* Academy Awards: Skenario Asli Terbaik (Jordan)
Cutthroat Islands (½)- 1995 / Renny Harlin / Geena Davis, Matthew Modine, Frank Langella, Maury Chaykin, Pat Malahide, Stan Shaw, Harris Yulin, Paul Dillon / (A.S - PRANCIS) / [124 mnt] Lama kita tak melihat bajak laut masuk pita seluloid, entah orang masih perduli atau tidak, ini adalah sebuah kisah tentang bajak laut dari abad ke tujuhbelas, dengan masalah utama perebutan harta karun, dan tokoh utama Morgan Adams (Davis), seorang bajak laut wanita. Semua permasalahan dan semua tokoh dalam film ini hadir hampir tanpa karakter, tanpa keterangan psikologis sama sekali. Untunglah, Harlin berhasil memimpin krunya menciptakan sebuah tontonan sarat suasana spektakuler, aksi-aksi yang hingar bingar, stunt yang berani, dan teknik filmis yang tinggi, itu pun penuh dengan kejadian-kejadian yang sulit diterima akal. Memang, kelebihan dan kekurangan film ini hanya sampai pada titik berimbang, namun secara keseluruhan tidak menjengkelkan. [PG-13]




D



Damage (½)- 1992 / Louis Malle / Jeremy Irons, Juliette Binoche, Rupert Graves, Miranda Richardson, Ian Bannen, Peter Stormare / (PRANCIS - BRITANIA) / [111 mnt] Stephen (Irons, dengan akting yang terlalu khas), seorang politikus Inggris, menghancurkan sendiri segala sesuatu yang dia miliki dengan berselingkuh dalam sebuah affair penuh birahi dengan Anna (Binoche), seorang wanita misterius yang “kebetulan” adalah pacar anaknya (Graves). Hubungan gelap calon mertua dan calon menantu ini digambarkan dengan sunyi secara psikologis dan brutal secara pisikal, nyaris mengabaikan semua motivasinya (walau dalam versi LD, Malle mencoba menerangkannya dalam komentar chanel analog), dan “kerusakan” (damage) yang diakibatkannya - yang justru ingin menjadi esensi tema - tidak menimbulkan kesan yang menggetarkan, setidaknya pada penonton awam. Richardson bermain sangat bagus sebagai istri Stephen. Sementara itu, Binoche terlihat sangat “mati” dan menjadi titik lemah yang sering tak enak dilihat, padahal karakternya adalah kunci film ini dan dia sesungguhnya tepat untuk peran Anna. Damage cukup untuk menjadi kekecewaan kecil dari sesuatu yang sangat menjanjikan. Catatan : Batas usia film ini bervariasi, tergantung versi mana yang anda tonton, satu versi berating “NC-17” dan versi lainnya berating “R”, pembedanya hanyalah lamanya adegan sex nomor tiga antara Irons-Binoche yang sempat menjadi kontroversi, visualisasi Malle atas adegan ini memang cukup untuk membuat heboh. [R]
* British Academy Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Richardson)
Dances With Wolves ()- 1991 / Kevin Costner / Kevin Costner, Mary McDonnell, Graham Greene, Rodney Grant, Floyd Red Crow Westerman, Tantoo Cardinal, Maury Chaykin, Robert Pastorelli, Charles Rocket, Nathan Lee Chasing His Horse, Wes Studi / [181 mnt] Jarang ada sutradara debutan yang bisa membuat film sebesar ini. Costner membuktikan bahwa dirinya bukan sekedar orang film berkelas rata-rata. Kisah film ini diangkat dari novel karya Michael Blake, yang juga menulis skenarionya, tentang transformasi batin John Dunbar (Costner) dari seorang letnan dalam perang saudara Amerika menjadi Dances With Wolves, seorang anggota sejati sebuah suku Sioux. Costner merealisasikan skenario Blake yang sangat kuat penggalian psikologisnya menjadi sebuah karya audio visual yang hampir sempurna, walau dalam gaya yang sangat standar Film ini juga kelihatan sangat terpengaruh oleh gaya film-film western lama, dan sangat intensifnya penggalian karakter Dunbar membuat banyak karakter lain menjadi hitam-putih atau tak berwarna sama sekali. [R]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Costner), Skenario Adaptasi Terbaik (Michael Blake), Tata Kamera Terbaik, Editing Film Terbaik, Tata Suara Terbaik, Tata Musik Terbaik, Golden Globe: Film Terbaik Drama, Sutradara Terbaik (Costner), DGA. Awards: Sutradara Terbaik (Costner)
Dangerous Game ()- 1993 / Abel Ferrara / Harvey Keitel, Madonna, James Russo, Nancy Ferrara, Reilly Murphy, Victor Argo, Leonard Thomas, Christina Fulton, Heather Bracken, Glenn Plummer / [108 mnt] Eddie Israel (Keitel) tak menyangka sebelumnya bahwa cerita film yang sedang disutradarainya, hubungan brutal sepasang suami istri, terjadi dalam kehidupan nyata kedua pemerannya (Madonna dan Russo) dan membawa pengaruh yang menimbulkan bencana dalam hidupnya. Film ini sangat genit dan susah dimengerti, Ferrara lebih perduli pada penciptaan suasana unik yang dipaksakan daripada kenikmatan pemirsa menontonnya. Beberapa bagian dari kerja kamera, yang mampu menghasilkan beberapa adegan kelam yang cukup menggetarkan, lumayan menolong. [R]
Dangerous Ground (½)- 1996 / Darrel James Roodt / Ice Cube, Elizabeth Hurley, Sachaba Morojele, Erik “Waku” Miyoni, Ving Rhames / [98 mnt] Vusi (Cube), seorang doktor sastra, kembali dari San Francisco ke kampung halamannya di Afrika Selatan. Vusi menemukan era baru Afrika Selatan yang memang telah hampir melenyapkan masalah rasial namun menimbulkan berbagai masalah lain yang tak kalah parah di kalangan masyarakatnya. Adiknya, Steven (Miyoni), terlarut dalam gaya hidup yang sangat berbahaya bersama pacarnya (Hurley, bermain lebih baik dari biasanya), seorang striptease. Plot yang begitu lurus dan dialog yang sangat efisien membuat film ini menjadi memaksa namun justru kurang bertenaga walau bukan berarti tidak menarik. Cube, yang juga bertindak sebagai produser eksekutif, cukup simpatik dalam memainkan perannya. [R]
Dangerous Minds (½)- 1995 / John N.Smith / Michelle Pfeiffer, George Dzundza, Renoly Santiago, Courteney B.Vance, Wade Dominguez, Robin Bartlett, Bruklin Harris, Beatrice Winde, Lorraine Toussaint, John Neville / [96 mnt] Film ini diambil dari buku “My Posse Doesn’t Do His Homework” yang ditulis LouAnne Johnson, seorang bekas marinir yang menjadi guru di sebuah kelas yang terdiri dari remaja-remaja yang berasal dari daerah-daerah kumuh yang dekat dengan segala macam kejahatan dan kesulitan hidup lainnya. Tentu saja mengajar di kelas seperti ini memerlukan keuletan dan ketabahan yang belum tentu dimiliki setiap orang, dan itu dimiliki Johnson (dimainkan Pfeiffer dengan akting yang tak istimewa). Film yang sangat biasa: tak ada hentakan dalam plot, tak ada saat-saat yang pantas dikenang, tak ada sesuatu yang baru, juga tak ada bumbu komersialisme yang berlebihan selain kesentimentalannya, tapi bisa dipercaya atau tidak: inilah box office terbesar di tahunnya, senasib dengan soundtracknya, “Gangsta’s Paradise”, lagu terlaris di tahunnya. Bahkan setahun kemudian, CBS sampai merasa perlu membuat serial televisinya (Johnson dimainkan oleh Annie Potts). Bagaimana perasaan LouAnne pada Pfeiffer yang bayarannya untuk sekali main film ini pasti lebih besar daripada jumlah total gaji sang guru teladan selama karir mengajarnya? [R]
Dangerous Woman, A (½)- 1993 / Stephen Gyllenhall / Debra Winger, Barbara Hershey, Gabriel Byrne, Chloe Webb, David Strathairn, John Terry, Laurie Metcalf, Jan Hooks, Paul Dooley / [94 mnt] Martha (Winger) adalah seorang wanita yang naif dan kekanak-kanakan, dia tinggal bersama kerabatnya (Hershey), janda yang segar dan menarik. Keluguan Martha ini, tanpa pernah disadari oleh siapapun, sewaktu-waktu bisa menjadi sesuatu yang berbahaya ketika dibawa ke dalam sosialisasi. Film ini hadir dalam tampilan yang tak begitu menarik, lebih hambar dari yang diharapkan. Plotnya berjalan ke sana kemari tanpa mempunyai kekuatan untuk memaksa kita ikut serta di dalamnya dengan sepenuh hati. Satu-satunya aspek yang bisa membuat kita bersimpati pada film ini adalah akting sempurna Winger, satu dari sedikit permata asli Hollywood, yang sayangnya semakin jarang tampil dalam film yang sepadan dengan bakat dan kharismanya. [R]
* Golden Globe: Aktris Utama Terbaik Drama (Winger)
Dark Harbor (½)- 1999 / Adam Coleman Howard / Alan Rickman, Polly Walker, Norman Reedus / (96 mnt) Seluruh rerncana perjalanan pasangan Rickman dan Walker berubah total sejak seorang pria muda misterius (Reedus) hadir di tengah mereka. Misteri dibalik semmua itu adalah apakah pria itu muncul karena kebetulan atau dengan membawa rencana lain. Film Coleman Howard sebelum ini adalah “Dead Girl”, filmm yang sangat gelap dan sulit dinikmati. Namun “Dead Girl” setidaknya masih membawa modal cerita yang lumayan orisinal, berbeda dengan Dark Harbor yang sama gelapnya, namun tak membawa sesuatu yang baru. [R]
Darkman (½)- 1990 / Sam Raimi / Liam Neeson, Frances McDormand, Lary Drake, Colin Fields, Nelson Mashita, Jenny Agutter, Jesse Lawrence Fergusson / [96 mnt] Peyton (Neeson), seorang ilmuwan yang bertujuan memungkinkan duplikasi penampilan fisik manusia, dianggap membuat masalah oleh sebuah perusahaan besar yang kemudian menghancurkan laboratoriumnya. Payton selamat, namun dengan wajah yang rusak parah. Inilah kesempatannya untuk memanfaatkan hasil penelitiannya! Peyton beraksi kembali dengan penampilan yang berganti-ganti - dan emosi yang tidak stabil - untuk membalas dendam dan memulihkan lagi hubungannya dengan pacarnya (McDormand). Film ini punya ketegangan yang cukup tinggi dan konflik-konflik psikologis yang cukup bisa dipercaya, namun untuk urusan action, Raimi sering membiarkan logika agak tertinggal di belakang dan mutu spesial efeknya juga berkisar dari hebat ke tidak memuaskan. [R]
Dark Obsession()- 1990 / Nicholas Broomfield / Gabriel Byrne, Amanda Donohoe, Michael Hordern, Judy Parfitt, Douglas Hodge, Sadie Frost, Ian Carmichael / (BRITANIA) / [100 mnt] (( Diamond Skull )) Byrne adalah seorang pria berpangkat yang selalu menikmati dan tersiksa oleh fantasi-fantasi seksual tentang istrinya sendiri (Donohoe). Pada suatu malam, dia dan teman-temannya menabrak seorang wanita sampai mati. Dari sinilah beberapa hal mulai terungkap, dan juga semakin rumit. Kalaupun ada yang rumit, kita tak akan mau terlalu sibuk memikirkannya karena film dengan beberapa adegan seks yang eksplisit ini cepat sekali menjadi tidak menarik. Broomfield, seorang sutradara dokumenter terkemuka, melakukan banyak hal yang membuat film ini berjalan dengan sangat lesu. Sepasang pemain utamanya sama-sama membosankan, Byrne seperti tidak tahu harus bagaimana, dan Donohoe memang don’t know how. [NC-17]
Das Schrekliche Mädchen (lihat: The Nasty Girl )
Dead Again ()- 1992 / Kenneth Branagh / Emma Thompson, Kenneth Branagh, Andy Garcia, Lois Hall, Richard Easton, Hanna Schygulla, Sir Derek Jacobi, Campbell Scott, Wayne Knight, Christine Ebersole, Gregor Hesse, Robin Williams / (A.S - BRITANIA) / [107 mnt] (( Dying Again for Love )) Roman Straus (Branagh) adalah seorang komposer Austria yang dicurigai membunuh istrinya (Thompson). Kasus ini terangkat lagi setengah abad kemudian lewat mimpi-mimpi buruk Amanda (Thompson lagi), dan inilah yang harus diungkap oleh Mike Church (Branagh lagi), seorang polisi Los Angeles. Sulit untuk membuat cerita seperti ini menjadi sepenuhnya masuk akal, Branagh tahu itu, maka dia memilih untuk menciptakan kompensasi dengan kemampuannya menjaga kadar suspense lewat penyusunan dan penciptaan adegan yang selalu enak dinikmati. Gaya back and forth dalam tampilan warna yang berbeda sangat banyak membantu dalam hal ini. Sementara itu, walau aktris sekaliber Thompson (saat itu masih Ny. Branagh) mendapat porsi paling besar, namun akting sang sutradaralah yang paling menyita perhatian, terutama sebagai Mike Church (tidak semua orang Amerika bisa memainkan orang Amerika sebaik Branagh!). [R]
Dead End (½)- 1999 / Iren Koster / William Snow, Victoria Hill, Matthew Dyktynski, Peter Hardy, Michael Edward-Stevens, Gabriel Dargan, Jerome Dargan / {AUSTRALIA} / [90 mnt] Seorang penulis sukses (Snow) berkenalan dengan seorang penulis muda yang sangat mengaguminya (Dyktynski). Pada saat yang bersamaan, sebuah kasus pembunuhan berantai terjadi dengan pola yang mirip salah satu tulisannya. Mudah diduga dan tak sungguh-sungguh bisa menghibur.
Dead Girl (½)- 1995 / Adam Coleman Howard / Adam Coleman Howard, Anne Parillaud, Amanda Plummer, Val Kilmer, Seymour Cassel, Betsy Clark, Peter Dobson, Famke Janssen, Ken Lerner, Emily Lloyd, William McNamara, Anna Thomson, Damian Young / [100 mnt] Drama ultra-gelap, ultra-surealis, ultra-simbolis, dan juga ultra-stylish ini bagaikan sebuah cermin, yang kusam dan maya, yang memantulkan lingkaran fantasi manusia dan sarana pemuasnya. Coleman Howard bermain sebagai Ari, seorang penulis skenario yang tergila-gila pada gadis impiannya (Parillaud) yang terjelmakan ke alam nyata lalu dibunuhnya, dan akhirnya dipacarinya dalam sosok mayat. Gaya Coleman adalah puisi visual hitam lanjutan dari generasi Lynch, Figgis, dan Egoyan, kita tidak terdorong untuk terlalu berusaha menempatkan diri di tengah-tengah cerita, style sang sutradara/penulis sudah lebih dulu memberi pilihan sebelum ceritanya : mempesona atau memuakkan. Film seperti ini jelas bukan untuk konsumsi semua orang. [R]
Deadlock (lihat: Wedlock )
Dead Man Walking (½)- 1995 / Tim Robbins / Susan Sarandon, Sean Penn, Robert Prosky, Raymond J.Barry, R.Lee Ermey, Scott Willson, Celia Weston, Roberta Maxwell, Margo Martindale, Lois Smith / [122 mnt] Biarawati Helen Prejean (Sarandon) diminta untuk menjadi pembimbing spiritual seorang narapidana yang sedang menunggu saat-saat eksekusi hukuman mati. Matthew Poncelet (Penn) dijatuhi hukuman mati setelah dinyatakan bersalah membunuh sepasang remaja dan memperkosa salah satunya. Poncelet adalah sebuah pribadi rumit yang mengharuskan Sister Helen mempertanyakan lagi kesiapannya sebagai seorang pembimbing, apalagi kedua keluarga korban selalu memberi kesan bahwa sang biarawati sedang berada di pihak seseorang yang lebih biadab daripada binatang. Skenario Robbins (ditulis berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis Helen Prejean) mengalir deras lewat ketepatan penyusunan plot yang sempurna dan dipenuhi dialog-dialog yang selalu mengena. Namun sebagai sutradara, terlihat sekali bahwa Robbins mempunyai perbendaharaan cara yang sangat terbatas dalam menyampaikan pesan-pesan filmnya secara non-verbal, sehingga pada beberapa bagian sangat terasa bahwa film ini terlalu mengandalkan penjelasan langsung. Namun untunglah DMW mempunyai penyelamat yang sangat berarti, berlimpahnya dialog-dialog itu menjadi mudah dicerna dan tidak terasa melelahkan ketika disampaikan oleh aktor dan aktris sehebat Sarandon dan Penn, akting keduanya berhasil menyembunyikan hampir semua kekurangan film ini. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya itu, DMW berhasil membekaskan kesan emosional yang luar biasa ketika kita sampai di akhir. Terimakasih atas judulnya yang begitu mantap dan mengena, dan terimakasih juga atas partisipasi Michelle Shocked, Suzanne Vega, dan terutama Nusrat Fateh Ali Khan dan Eddie Vedder lewat lagu-lagu yang membuat film ini semakin emosional. [R]
* Academy Awards: Aktris Utama Terbaik (Sarandon)
Dead Presidents ()- 1996 / The Hughes Brother / Larenz Tate, Keith David, Chris Tucker, Freddy Rodriguez, Rose Jackson, N'Bushe Wright, Abaletah Guesz, James Pickens jr, Jennifer Lewis, Clifton Powell, Elizabeth Rodriguez, Michael Imperioli / [119 mnt] Anthony (Tate) adalah seorang pemuda kulit hitam dari Brooklyn Timur Laut yang, seperti banyak yang lainnya, sangat sulit untuk tidak hidup dalam dunia kekerasan. Dia dengan "setengah terdampar" menjadi petempur dalam Perang Vietnam. Sekembalinya dari sana, kehidupan tidak menjadi lebih baik, tidak ada yang menghargainya lebih dari sebelumnya. Frustrasi dan putus asa, Anthony bersama beberapa orang kawannya menyusun aksi perampokan terhadap mobil baja berisi jutaan dolar uang tunai. Ide ceritanya sebenarnya sangat potensial untuk menghasilkan sebuah film yang fenomenal, apalagi dengan gaya realisme ekstrim ala Hughes Brother. Namun sayangnya mereka tak mampu memberikan tekanan yang lebih besar pada salah satu bagian hidup Anthony, sehingga film menjadi tak mempunyai klimaks yang jelas dan kita jadi tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita tunggu. Harap dicatat: film ini tidak memuat adegan sex atau ketelanjangan, tapi jangan biarkan anak-anak melihat kepala pecah, kepala bocor, leher putus, isi perut terburai, dan banjir darah dalam Dead Presidents, salah satu film dengan kekerasan berdosis paling tinggi dalam dekade sembilanpuluhan, dan berarti sepanjang zaman sampai saat ini. Oh, ya, “Dead President” adalah istilah untuk uang kertas A.S yang selalu bergambar wajah mantan presiden yang sudah meninggal. [R]
Death & the Maiden ()- 1996 / Roman Polanski / Sigourney Weaver, Ben Kingsley, Stuart Wilson / [103 mnt] Paulina Escobar (Weaver) adalah seorang wanita yang pernah menjadi tahanan politik dan mendapat berbagai penyiksaan, termasuk perkosaan berulang-ulang, selama berada di penjara. Suatu malam, di rumahnya sendiri, dia berkesempatan untuk bertemu lagi dengan orang yang dia anggap bertanggung jawab untuk penderitaannya (Kingsley). Paulina menyanderanya dan memaksanya untuk mengakui perbuatan kejinya, sesuatu yang masih menjadi teka-teki film ini. Wilson bermain sebagai suami Paulina yang harus menyaksikan pengadilan intens ini. Dengan hanya menampilkan tiga pemeran, film ini berhasil menjadi sebuah tontonan yang cukup mempesona bahkan mencekam berkat skenario Rafael Yglesias, penyutradaraan Polanski, dan permainan ketiga pemainnya yang benar-benar tepat sasaran. Bahkan bila kita menghayati lebih dalam, film ini berhasil menyampaikan filsafat tentang “kejahatan”, “hukuman”, dan “pembalasan” dengan cukup lancar. [R]
Death Becomes Her ()- 1992 / Robert Zemeckis / Merryl Streep, Goldie Hawn, Bruce Willis, Isabella Rossellini, Ian Ogilvy, Adam Storke, Jonathan Silverman / [104 mnt] Komedi hitam yang terbang jauh diatas jangkauan rasio manusia ini berkisah dengan nyinyir tentang kekotoran hati dua orang sahabat lama, Helen dan Madelaine (diperankan dengan akting komedi gila-gilaan oleh Streep dan Hawn), yang selalu bersaing dalam segala hal dan sama-sama terobsesi oleh kehidupan abadi yang akhirnya mereka dapatkan (secara terpisah) dari seorang dukun cantik (Rosellini). Hel dan Mad juga mencintai pria yang sama (Willis), seorang dokter yang puas dengan kehidupan yang apa adanya. Film ini penuh dengan kemustahilan, dan di tangan Zemeckis, segala kemustahilan itu menjadi hiburan yang sanggup memaksa (sebagian) penonton untuk menerimanya tanpa protes. Simak juga make up dan efek visualnya yang punya andil besar dalam menghidupkan skenarionya yang sudah terlanjur terkartunisasi. [PG-13]
* Academy Awards: Efek Visual Terbaik
Death Train ()- 1993 / David Jackson / Pierce Brosnan, Alexandra Paul, Pattrick Stewart, Ted Levine, Christopher Lee / (A.S - BRITANIA - YUGOSLAVIA) / [100 mnt] Brosnan tergabung dalam gabungan petugas kemanan internasional yang bertugas menghentikan seorang tentara bayaran kereta api yang ditugaskan membajak sebuah kereta api untuk menyelundupkan bom ke Irak. Sangat biasa, mudah ditebak, dan tidak menegangkan seperti seharusnya. [R]
Debt Collector, The () - 1999 ./ Anthony Neilson / Billy Connolly, Ken Stott, Francesca Annis, Iain Robertson, Annette Crosbie, Alistair Galbraith / {BRITANIA} / (109 mnt) Nick Dryden (Mr. Scotsman, Connelly) pernah menjadi seorang bajingan yang hampir melegenda di masa mudanya, namun kini Dryden telah memilih untuk hidup bersih sebagai seorang seniman patung yang sangat sukses. Dryden tidak sadar bahwa ada dua orang yang sangat terobsesi dengannya, untuk sebab yang berbeda. Pertama adalah Gary Keltie (Storr, sangat mirip dengan perannya dalam “Plunkett & MacLeane), seorang polisi setengah baya dan frustrasi yang tidak rela melihat seorang bekas penjahat buruannya menjadi orang baik-baik yang sukses. Kedua adalah Flipper (Robertson), tipikal pengacau muda yang menganggap kejahatan masa lalu Dryden sebagai sebuah dongeng kepahlawanan yang selalu dipujanya. Kebencian dan kekaguman ini suatu waktu sempat menyentuh obyeknya, ini mengguncang kembali kehidupan Nick yang selama ini tenang bersama istrinya (Annis). Film-film seperti inilah yang berhasil diekspor Skotlan pada pertengahan sembilanpuluhan, beruntung setiap film bisa menampilkan gaya dan sudut pandang yang berbeda hingga kita tidak dibuat bosan. Nelison berhasil menciptakan suasana-suasana ekstrim yang mencekam, dan semua pemerannya bermain baik, terutama Robertson.
Deceiver ()- 1996 / Josh Pate, Jonas Pate / Tim Roth, Chris Penn, Michael Rooker, Rene Zellweger, Ellen Burstyn, Rosana Arquette, Don Winston, Michael Parks / [mnt] Roth berperan sebagai seorang pengidap epilepsi yang menjadi tersangka pembunuhan seorang wanita muda (Zellweggr). Kini dia diinterograsi oleh dua orang polisi (Penn dan Rooker). Tapi siapa sebetulnya menginterograsi siapa? Siapa yang akan merasa terintimidasi? Siapa yang jadi boss di sini? Dan misteri apa yang harus lebih dulu terungkap? Dengan hanya melibatkan tiga pemain utama, film yang sangat gelap ini mampu menjamin kemenarikan. Pate bersaudara menulis dan menyutradarainya tanpa pernah kehabisan persediaan tipuan. Roth, Penn, dan Rooker bermain luar biasa. [PG-13]
Deconstructing Harry (½)- 1997 / Woody Allen / Woody Allen, Caroline Aaron, Kirstie Alley, Bob Balaban, Richard Benjamin, Eric Bogosian, Mariel Hemingway, Amy Irving, Julie Kavner, Eric Lloyd, Julia Louis-Dreyfuss, Tobey Maguire, Demi Moore, Elisabeth Shue, Stanley Tucci, Robin Williams, Billy Crystal, Hazelle Williams / [100 mnt] Psiko-komedi ini adalah film kelima Allen dalam dekade ini, DH membawa gaya hipperrealis bercampur gaya absurd ala Allen sekaligus. Harry (Allen) adalah seorang penulis Yahudi yang sedang mengalami berbagai masalah berkaitan dengan novel terbarunya. Sambil mengikuti pengalaman nyata dan surreal Harry, film ini juga menampilkan kisah-kisah para tokoh rekaan Harry dalam batas antara nyata dan tidak nyata (yang paling menarik adalah kisah Williams sebagai aktor yang out of focus secara pisik dan yang melibatkan Crystal sebagai setan). Walaupun ini adalah film yang sangat tajam dan menarik, dengan berbagai metafor atas segala sesuatu - terutama kisah pribadi Allen sendiri - disertai tumpukkan humor yang cerdas, namun seperti banyak film Allen lainnya (“Annie Hall” jelas adalah salah satu kekecualian), film ini selalu menyisakan sesuatu sehingga tidak memberikan kepuasan 100%, namun hampir pasti mendekati itu. [R]
Deep Blue Sea ()- 1999 / Renny Harlin / Samuel L. Jackson, Saffron Burrows, Thomas Jane, Stellan Skarsgard, LL Cool J, Jacqueline McKenzie, Michael Rapaport / (110 mnt) Dr. Susan McAllister (Burrows) mencoba menemukan penyembuh penyakit alzheimer dalam otak hiu. Dia melakukan percobaannya bersama tim kecil dan hiu-hiu di sebuah aquatica di tengah lautan. Karena film ini dibuat oleh sutradara seperti Harlin, tentu aquatica itu akan jebol dan hiu-hiu akan mengamuk dengan spesial efek yang menggila. Apalagi yang bisa kita harapkan dari film yang berharap menjadi “Jaws” sembilanpuluhan ini? Tak ada, kita hanya datang ke bioskop atau menyewa disknya hanya untuk menonton tokoh-tokoh yang diciptakan seadanya dikejar-kejar oleh hiu-hiu dengan kecerdasan yang bisa diragukan kemasukakalannya. [R]
Deep Cover (½)- 1990 / Bill Duke / Jeff Goldblum, Lawrence Fishburne, Victoria Dillard, Charles Martin Smith, Sydney Lassick, Clarence Williams III / [107 mnt] Fishburne berperan sebagai seorang polisi yang bertugas mengungkap sindikat narkotika, dia kemudian berpartner dengan Glodblum, seorang pengacara yang agak misterius. Mereka berdua kemudian - setengah sengaja - justru terlibat dalam dunia yang seharusnya mereka berantas. Walau cukup mengumbar gaya yang unik, film ini tidak juga menjadi terlalu menarik, bahkan beberapa bagiannya begitu mudah diduga. Goldblum dan Fishburne bagaimanapun lumayan menambah daya tariknya. [R]
Deep Down the Ocean (½)- 1998 / Ullu Grossbard / Michelle Pfeiffer, Treat Williams, Jonathan Jackson, John Kapelos, Ryan Merriman, Whoopi Goldberg, Tony Musante, Rose Gregorio, Lucinda Jenney, Cory Buck, John Roselius, Brenda Strong, K.K.Dodds / [107 mnt] Pfeiffer dan Williams adalah sepasang suami istri yang kehilangan anak kedua mereka di sebuah pesta. Delapan tahun kemudian si anak muncul kembali. Hukum bisa saja mengembalikannya pada mereka, namun benarkah mereka bisa berbaur lagi dengan semudah itu? Film yang kisahnya diadaptasi Stephen Schiff dari buku Jacquelyn Mitchard ini bertutur dengan halus dan rapi walau mudah sekali diperkirakan arahnya. Bagaimanapun, kta akan lebih terhanyut andaikan cerita ini bisa lebih dipadatkan dan tersampaikan penuh sepuluh atau dua puluh menit lebih cepat. [R]
Deep Rising (½)- 1998 / Stephen Sommers / Treat Williams, Famke Janssen, Anthony Heald, Kevin J. O'Connor, Wes Studi, Derrick O'Connor, Jason Flemyng, Cliff Curtis, Clifton Powell, Trevor Goddard, Djimon Hounsou, Una Damon, Clint Curtis, Warren Takeuchi / (106 mnt) Sesosok makhluk aneh misterius nan perkasa mengamuk di sebuah argonautika (tahukah anda apa itu argonautika?) di Laut Cina Selatan. Finnegan (Williams) dan gerombolannya harus berusaha menyelamatkan diri dan membasmi makhluk itu. Segala sesuatu dalam film ini mengingatkan kita pada seri Alien minus keinovativan. Namun tak bisa dipungkiri bahwa dalam beberapa bagian Deep Rising berhasil menciptakan ketegangan sesuai dengan yang kita harapkan dari film seperti ini. Spesial efeknya juga cukup efektif dalam gaya yang tidak spektakuler, namun kejar-kejaran itu seakan tiada akhir sehingga semmakin lama film ini semakin senada dan agak membosankan.[R]
Delusion ()- 1990 / Carl Colpaert / Jim Metzler, Jeniffer Rubin LaBoe, Kyle Secor, Robert Costanzo, Tracy Walter, Jerry Orbach / [100 mnt] Karya yang cukup menjanjikan dari sutradara muda Colpaert ini adalah sebuah kisah petualangan unik tentang seorang jenius komputer (Metzler) yang ditawan sepasang kekasih neurotik (Secor dan Rubin) ketika hendak menuju Reno untuk mendirikan sebuah perusahaan sendiri. Cerita dipenuhi dialog-dialog yang “miring” dan ditutup dengan ending yang kering namun menghentak. Film ini disajikan dengan gaya bertutur yang menarik namun terlemahkan oleh beberapa bagian penyutradaraan yang malas-malasan dan beberapa sub-plot yang tak jelas. Secara keseluruhan, Delusion tidak mengecewakan. Selain karakterisasi tokohnya, hal lain yang sangat menarik perhatian adalah permainan enerjik Secor dan Rubin. [R]
Demolition Man (½)- 1993 / Marco Bambrilla / Sylvester Stallone, Wesley Snipes, Sandra Bullock, Nigel Harthworne, Benjamin Bratt, Bob Gunton / [111 mnt] Stallone adalah seorang polisi yang dibekukan selama tigapuluh enam tahun sebelum dibangkitkan kembali untuk mengejar musuh lamanya, Snipes, di San Angeles 2032. Cukup spektakuler dalam berbagai hal, terutama adegan-adegan pertempurannya. Film ini juga penuh humor yang cukup segar. Tidak mengecewakan, walau jangan mengharapkan apa-apa selain tontonan yang hingar bingar. [R]
Desperado (½)- 1995 / Robert Rodriguez / Antonio Banderas, Joaquim de Almeida, Salma Hayek, Steve Buscemi, Cheech Marin, Quentin Tarantino / [89 mnt] Satria bergitar favorit sembilanpuluhan beraksi lagi! Kali ini El Mariachi mengamuk dengan wajah hispanik populer milik Banderas dan background anggaran besar melawan Bucho (de Almeida). Rodriguez kali ini bisa beraksi dengan cipratan darah yang sangat mirip aslinya dan ledakkan pyroteknik yang tak kalah oleh film manapun. Kalau Robert bisa membuat film seru dengan modal kecil apalagi dengan modal besar. Tapi terus terang, ada kesimpatikan yang hilang bila kita membandingkannya dengan “El Mariachi” (1993). Plot tipis yang termaafkan dalam film pertama, rasanya sudah kurang memadai untuk sekuelnya ini. Tanpa wajah polos seperti Gallardo, Banderas tetap pantas menjadi Sang Mariachi, dan memang tak ada akting pemain yang mengecewakan, namun Tarantino langsung 100% menjadi bintang utama ketika dia bercerita tentang “raja kencing” di bar. Catatan kecil: Carlos Gallardo, Mariachi dalam film pertama, bertindak sebagai salah satu produser eksekutif, sementara Rodriguez, seperti biasa, memborong banyak jabatan, sutradara, produser, penulis, dan juga editor. [R]
Deuce Bigalow. Male Gigolo (½)- 1999 / Mike Mitchell / Rob Schneider, Arija Bareikis, William Forsythe, Eddie Griffin, Oded Fehr, Gail O'Grady, Richard Riehle, Jacqueline Obradors, Big Boy, Amy Poehler, Dina Platias, Torsten Voges, Deborah Lemen, Bree Turner, Andrew Shaifer / (86 mnt) Deuce Bigalow (Schneider) sepertinya tidak pernah tahu apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup. Inspirasinya tiba-tiba mengalir lancar beberapa saat setelah pertemuannya dengan Antoine (Fehr), seorang gigolo papan atas, kenapa tidak mencoba mengikuti jejak Antoine? Kemunculan germo Antoine (Griffin) semakin mempermudah langkah Deuce, kini dia tahu kemana mencari klien. Tetapi tentu saja klien-klien Deuce - yang penampilannya tak memenuhi syarat menjadi gigolo - bukanlah wanita-wanita muda yang cantik, melainkan wanita-wanita aneh yang memang pantas hanya mengandalkan gigolo sebagai satu-satunya jenis manusia yang mau menemani mereka. Hubungan Deuce dengan para kliennya adalah senjata utama komedi ini, beberapa di antaranya memang sangat lucu (kencan dengan wanita yang tak bisa berbicara tanpa menyumpah-nyumpah) dan sebagian lagi sama sekali tidak lucu (sayangnya, kencan terpenting Deuce dengan Bareikis justru termasuk golongan ini). Baiklah, komedi ini mungkin bukan yang terlucu di dunia, dan dari sudut-sudut tertentu Schneider terlihat sangat memuakan, namun perhatikan lagi sosk Bigalow, anda adalah orang yang sangat tidak berperasaan bila sampai tidak bisa bersimpati pada karakter yang sesungguhnya berhati emas dan sangat toleran ini. [R]
Devil in the Flesh (½) - 1998 / Steve Cohen / Rose McGowen, Alex McArthur, Peg Shirley, J.C. Brandy, Phil Morris, Robert SIlver, Sherrie Ross, Ryan James Bittle, Julia Nickson-Soul, Krissy Carlson, Wendy Robie, Philip Boyd / (99 mnt) (( Dearly Devoted )) McGowen, dengan bodi yang montok dan wajah sensual, berperan sebagai Debbie, seorang remaja brokenhome yang tinggal bersama nenek yang galak. Lelah dengan disiplin kaku di rumah, Debbie menggantungkan harapannya pada Peter Rinaldi, guru SMU yang penuh pengertian. Sebenarnya perhatian Rinaldi pada Debbie hanyalah perhatian wajar seorang guru pada muridnya, namun Debbie menginginkan lebih dari itu, dan ketika Rinaldi tak mau menemukan lebih, Debbie siap melakukan teror ala “Fatal Atraction”. Kesan eksploitatif yang malu-malu muncul dari awal hingga akhir, naif sekali kalau kita masih menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat menarik. Catatan : Jangan tertukar, pada pertengahan delapanpuluhan sebuah film Itali berjudul sama dirilis dan menjadi hit internasional yang sangat kontroversial karena memuat beberapa adegan sex paling eksplisit dalam sejarah film mainstream dunia. Kedua film ini tak ada hubungan dan kemiripan sama sekali. [R]
Devil’s Advocate ()- 1997 / Taylor Hackford / Keanu Reeves, Al Pacino, Charlize Theron, Jeffrey Jones, Judith Ivey, Connie Nielsen, Craig T. Nelson, Tamara Tunie, Ruben Santiago, Debra Monk, Vito Rugynis, Laura Harrington, Pamela Gray, Heather Matarazzo, Leo Burmester / [128 mnt] Kevin Lomax (Reeves) adalah seorang pengacara muda dari kota kecil yang tak pernah kalah dalam menangani kasusnya, sebusuk apapun bajingan yang dibelanya. Kesuksesan mendamparkan dia dan istrinya, Marie Anne (Theron), di alam kosmopolitan New York. Di sana dia bertemu dengan Milton (Pacino), tokoh besar misterius pemilik sebuah firma pengacara yang mengaku bisa melakukan apa saja. Maka, mulailah Kevin dan Marie Anne menjalani sebuah kehidupan penuh tragedi, halusinasi, dan keanehan-keanehan supranatural. Cerita film ini selalu berusaha menyentuh hal-hal dasar dalam kehidupan manusia, dan ketika Milton telah benar-benar menjadi setan, suspensi yang telah dibangun dengan mulus sejak awal oleh Hackford, justru terasa melemah, sebagian dari kita akan tega menertawakan kebanalannya yang sering terasa tidak relevan dengan intelektualisme yang ditawarkannya. Bagaimanapun, film ini adalah sebuah hiburan yang sangat berhasil dalam mengundang kepenasaran penonton. [R]
Devil's Arithmetic, The ()- 1999 / Donna Deitch / Kirsten Dunst, Brittany Murphy, Paul Freeman, Mimi Rogers, Louise Fletcher, Nitzan Sharron, Shelly Skandrani, Kirsty McFarland / (95 mnt) (Film Televisi) Hannah Stern (Dunst) adalah seorang gadis keturunan Yahudi yang tak mau tahu dengan segala tradisi etnis keluarganya. Dalam suatu pertemuan keluarga, Hannah tertidur dan tiba-tiba bangun di tahun 1940 sebagai seorang gadis perkampungan Yahudi di Polandia, pada saat itu NAZI mulai menduduki kampungnya. Film ini adalah mimpi panjang Hannah di kamp Yahudi. Mimpi inilah yang "mendidiknya" sehingga ketika dia bangun dia menjadi gadis Yahudi yang lebih sensitif. Deitch dan penulis skenario Robert Avnech sama-sama berperan menjadikan kisah dari novel Jane Yolen ini menjadi sangat banal dan pretensius, kepentingan untuk membuat cerita enak diikuti dan bisa dipercaya hampir terkalahkan oleh kepentingan untuk menyisipkan berbagai pesan kemanusiaan, yang tak satupun berupa sesuatu yang baru. O.K, jika maksud Deitch adalah untuk sekedar mengingatkan, namun ada cara-cara yang lebih efektif untuk mengingatkan orang. Akhirnya semua bertumpu pada Dunst dan Dunst lagi sang penyelamat, gadis ini bisa memaksa kita memaafkan berbagai kekurangan yang dibuat oleh sebuah film yang dibintanginya. [R]
Diabolique ()- 1996 / Jeremiah Chechik / Sharon Stone, Isabelle Adjani, Chaz Palminteri, Kathy Bates, Spalding Gray, Shirley Knight, O’Neall Compton, Allen Garfield, Adam Hann-Byrd / [108 mnt] Mia (Adjani) tak tahan lagi hidup menderita dibawah tekanan suaminya, Guy Baran (Palminteri). Hanya mantan istri Baran (Stone) yang bisa membantunya melenyapkan penderitaan itu. Persekongkolan, sex-affair, pembunuhan, dan kejutan adalah warna film ini. Sayang sekali warna yang terakhir muncul dengan tanpa cita rasa karena film ini gagal membuat alur ceritanya yang ajaib menjadi bisa dipercaya. Diabolique yang hadir dalam gaya slasher Hollywood yang penuh bumbu macam-macam terasa semakin melelahkan dari menit ke menit. Menambah kekecewaan, harapan menyaksikan adu akting antara tiga aktris handalnya sama sekali tak pernah terwujud, Bates tak memiliki banyak ruang, Stone luar biasa monoton, dan Adjani kembali membuktikan bahwa dia sering gagal bermain baik dalam film Hollywood. Palminteri yang juga biasanya bagus, kali ini hanya memperburuk keadaan. Tontonlah film aslinya, “Les Diaboliques” (1955), anda akan percaya bahwa waktu empatpuluh tahun ternyata lebih dari cukup untuk mengajar orang membuat sebuah film menjadi lebih buruk. [R]
Diamond Skull (lihat: Dark Obsession)
Diary of a Hit Man ()- 1991 / Roy London / Forest Whitaker, John Bedford-Lloyd, Sherilynn Fenn, James Belushi, Seymour Cassel, Lewis Smith, Sharon Stone, Lois Chiles / [91 mnt] Dekker (Whitaker), seorang pembunuh bayaran, mendapat tugas membunuh Jain (Fenn), seorang wanita muda, dan bayinya dengan imbalan yang bisa membuatnya kaya, Dekker bertekad untuk menjadikan tugas ini sebagai akhir dari karir berdarahnya. Ternyata Jain bukan tipe korban yang menimbulkan nafsu membunuh. Seperti judulnya, film ini mengikuti perjalanan Dekker dengan detil bahkan diiringi narasi latar yang sangat menarik, baik isinya maupun cara Whitaker membacakannya. Karater tokoh-tokohnya juga dihidupkan dengan unik. Whitaker, yang memang lebih sering bermain bagus daripada tidak, menjalankan tugasnya dengan sangat baik sebagai pusat perhatian utama, pemain-pemain lain berhasil menjadi lawan main yang baik pula untuknya, terutama Fenn, 90% dari akting eksentriknya sebagai Jain benar-benar hebat, jauh di atas kemampuan rata-ratanya. Kelemahan mendasar: anda mungkin sudah pernah melihat cerita yang mirip. [R]
Dick (½)- 1999 / Andrew Fleming, Sheryl Longin / Kirsten Dunst, Michelle Williams, Dan Hedaya, Jim Breuer, Will Ferrell, Teri Garr, Ana Gasteyer, Devon Gummersall, Bruce McCulloch, Ted McGinley, Ryan Reynolds, Saul Rubinek, Harry Shearer, G.D. Spradlin, David Foley / (93 mnt) Jika anda tahu banyak tentang skandal-skandal politik besar internasional, tahukah anda bahwa skandal Watergate melibatkan dua orang gadis imut bernama Betsy dan Arlene. Di tahun 1972, keduanya adalah gadis usia SMP biasa yang beruntung bertemu dengan Checker, anjing kesayangan Richard Nixon, dan itu adalah suatu jalan untuk bertemu dengan sang presiden (Hedaya). Keduanya malah diangkat menjadi pengurus resmi Checker dan sahabat resmi Sang Presiden. Arlene (Williams) bahkan tergila-gila setengah mati pada Nixon, dia sampai-sampai merasa harus merekam kata-kata cintanya selama 18 menit dalam pita rekaman di meja presiden tanpa perduli apa kata Betsy (Dunst). Nah, sekarang anda tahu bukan apa hubungannya dengan Watergate! Tapi tunggu dulu, film ini hanyalah sebuah komedi fiktif. Jika anda menonton "All the President's Men" (1979), komedi ini akan tampak lebih lucu lagi karena Dick memanfaatkan bayak sekali plot film serius itu untuk dipelesetkan, juga tidak lupa menampilkan Bob Woodward dan Carl Bernstein dalam sosok konyol Will Ferrell dan Bruce McCullough yang bergaya ala Dustin Hoffman dan Robert Redford. Sesungguhnya ada kecenderungan bahwa Fleming dan Longin ingin menjadikan Dick sebuah satir, namun itu tak kesampaian, mereka terlalu asyik bermain-main dengan kekonyolan yang tak menyimpan maksud apa-apa, dan juga tak begitu lucu. Bagaimanapun, ide mereka boleh juga. Dunst dan terutama Williams sangat cute sekaligus simpatik, mereka memaksa kita untuk perduli. [PG13]
Dick Tracy ()- 1990 / Warren Beatty / Warren Beatty, Al Pacino, Glenne Headly, Madonna, Mandy Patinkin, Charles Durning, Paul Sorvino, William Forsythe, Seymour Cassel, Dick van Dyke, Catherine O’Hara, Dustin Hoffman, James Caan, Kathy Bates / [104 mnt] Dick Tracy keluar lagi dari komik Chester Gould, masih sambil membawa pertentangannya dengan Big Boy Caprice, penjahat yang ingin menguasai kota, dan kekacauan lain yang diakibatkan tokoh misterius, No Face. Ide yang bagus dari Beatty diwujudkan menjadi sebuah film yang berhasil mengumbar fantasi yang berwarna-warni, terutama lewat tata artistik ala Gotham-nya Bruce Wayne dan penampilan pisik tokoh-tokohnya yang diciptakan dengan make-up yang meyakinkan. Beatty rasanya bukan orang yang paling cocok untuk menjadi Dick Tracy, sementara itu Pacino - yang hanya bisa dikenali sorot mata dan suaranya - bergaya dengan sangat tepat dalam memainkan Big Boy. Gaya penceritaan film ini, tanpa perlu terlalu disesali, memang tidak terlalu memikat, apalagi dengan banyaknya intercut adegan-adegan pendek yang membuat film terlalu sering meloncat kesana ke mari. Jika anda tidak terganggu dengan hal itu, anda akan sangat menyenangi film ini. [PG]
* Academy Awards: Tata Artistik Terbaik, Tata Rias Terbaik, Lagu Terbaik (“Sooner or Later (I Always Get My Man)”)
Die Hard II Die Harder (½)- 1990 / Renny Harlin / Bruce Willis, Boni Bedellia, William Alherton, Franco Nero, Reginald VelJohnson, William Sadler, Fred Dalton Thompson, Robert Pattrick, John Leguizamo / [124 mnt] Willis kembali tempil sebagai seorang Vietnam-Vet yang juga seorang polisi yang secara kebetulan menjadi pahlawan penumpas teroris. Film ini penuh dengan aksi kepahlawanan dan juga penuh kebetulan. Harlin menciptakan suasana dengan memanfaatkan setting tempat yang sangat sempit, dan mau tidak mau film jadi punya dua alternatif potensi yang bertentangan: membuat penonton tegang atau membuat penonton bosan. [R]
Disclosure (½)- 1994 / Barry Levinson / Michael Douglas, Demi Moore, Donald Sutherland, Dennis Miller, Caroline Goodall, Dylan Baker, Roma Maffia, Alan Rich, Rosemary Forsyth / [120 mnt] Berawal dari merger perusahaan komputer tempat dia bekerja, Tom (Douglas) mulai mendapat teror dari Meredith (Moore) seorang wanita dari masa lalunya yang muncul lagi dan langsung menempati jabatan yang semula diperkirakan akan ditempati Tom. Meredith menghembuskan fitnah bahwa Tom melakukan pelecehan sexual terhadapnya dan juga mencoba berbagai cara lain untuk merusak hidup Tom. Kenapa Meredith bisa begitu mendendam pada Tom? Kita harus mereka-rekanya sendiri (dan itu bukan maksud film ini) karena skenario Disclosure dangkal sekali dalam mengungkapkan latar belakang tokoh-tokohnya juga dalam memperlihatkan efek psikologis peristiwa-peristiwanya. Douglas menjadi salah satu kekuatan terbesar film dengan aktingnya yang mulai kembali sebagus puncak karirnya di akhir delapanpuluhan, tata kamera dan efek visual film ini juga enak dilihat, sementara itu permainan Moore justru malah mulai terasa begitu-begitu saja dari film ke film. [R]
Divorcing Jack (½)- 1998 / David Caffrey / David Thewlis, Rachel Griffiths, Robert Lindsay, Jason Isaacs, Laura Fraser, Richard Gant, Bronagh Gallagher / {BRITANIA – PRANCIS – IRLANDIA} / (110 min.) Seorang penulis artikel di Belfast, Dan Starkey (Thewlis), gagal menghabiskan malam dengan seorang gadis yang baru ditemuinya (Fraser), karena sebuah tembakan tiba-tiba menembus jendela dan membunuh si gadis. Starkey kemudian menjadi orang yang dicurigai, dia melarikan diri dan ternyata ini hanya memperluas dan memperberat masalahnya, Thewlis terjerat dalam intrik politik yang sangat berbahaya. Dalam petualangannya Caffey ditemani oleh seorang wartawan Amerika (Isaacs) dan biarawati misterius, Lee Cooper (Griffith). Nama peran yang dimainkan Griffith memberi tahu anda bahwa film ini lebih dekat dengan gaya komedi, maka nada superserius yang dibawanya menjelang akhir film malah membuat kita kehilangan sebagian ketertarikan kita yang terjaga baik dari awal.[R]
Dr. T & The Women ()- 2000 / Robert Altman / Richard Gere, Helen Hunt, Farrah Fawcett, Laura Dern, Shelley Long, Tara Reid, Kate Hudson, Liv Tyler, Robert Hays, Matt Malloy, Andy Richter, Lee Grant, Janine Turner, Holly Pellham-Davis / (122 mnt) Sullivan Travis alias Sully alias Dr.T (Gere) adalah seorang gineakolog yang sangat laris -terlalu laris, mungkin. Pasien mengantri berdesakan setiap hari, sebagian dari mereka bahkan sama sekali tak punya masalah dengan alat reproduksi mereka. Film ini menjadikan Dr.T sebagai pusat dari tokoh-tokoh wanita yang berada di sekitarnya. Barisan wanita ini bisa juga disebut sebagai tumpukan masalah, istrinya (Fawcett) mengalami kemunduran psikologis cukup parah, putri sulungnya (Hudson) menyimpan misteri besar pada pesta pernikahannya yang akan datang, saudari iparnya (Dern) tiba-tiba datang berkunjung permanen bersama tiga orang putri kecilnya, salah satu staf kliniknya (Long) ternyata adalah penggemar rahasianya, seorang wanita yang tampak akan menjadi pasangan idelanya (Hunt) ternyata punya rencana sendiri, belum lagi pasien-pasiennya yang sering berulah, satu-satunya wanita yang belum memberinya masalah adalah putri bungsunya (Reid) yang selalu harus berkata, "…and don't ever worry about me, Dad, everything is fine with me." Di setengah bagian pertama, kita boleh curiga bahwa film ini hanyalah kumpulan basa-basi tanpa substansi, sesuatu yang sangat mungkin dibuat Altman. Tapi ternyata tidak kali ini, film yang skenarionya ditulis Annie Rapp ini terus menaikkan giginya, mulai memperlihatkan jalinan cerita yang berarti, dan terus berjalan lancar menuju klimaks (atau klimaks-klimaks?) yang mengesankan, semua dalam gaya yang tak mungkin tertukar dengan karya sutradara lain. Sementara itu, peran Dr.T memang harus dimainkan oleh seorang aktor bertipe seperti Gere, dan Richard tampak tak perlu terlalu bersusah payah mempelajarinya, dia dibesarkan untuk peran seperti ini. Lama sekali kita tak pernah melihatnya bermain sepas ini. Semua wanita yang mengelilinginya juga berhasil mencuatkan karakter mereka masing-masing, semua bermain bagus, tanpa kecuali. [R]
Dogfight ()- 1991 / Nancy Savoca / River Phoenix, Lily Taylor, Richard Panebianco, Anthony Clark, Mitchell Whitfield, Holly Near, EG Daily, Brendan Fraser / [93 mnt] Empat orang marinir muda Amerika tahun enampuluhan bertaruh masing-masing limapuluh dolar, barang siapa yang membawa teman kencan berpenampilan paling buruk dia berhak mendapatkan duaratus dolar itu. Rose (Taylor) adalah salah seorang gadis yang menjadi korban permainan keji itu. Mengingat modal ceritanya yang tidak begitu menjanjikan, Savoca menghasilkan sebuah karya yang lebih baik dari yang diharapkan, skenario dan visualisasinya sangat mendukung hidupnya sisi emosional film ini. Nilai tambah lain adalah Taylor yang bermain hampir sempurna, Phoenix pun cukup berhasil mengimbanginya. Sayang, film berjalan terlalu cepat hingga kita bahkan tak siap untuk menemui akhirnya yang datang ketika kita belum mengharapkannya (seperti juga kita belum mengharapkan akhir karir aktor muda seberbakat Phoenix). Tetap sebuah film bagus yang hangat, walau tak terdengar gemanya di pasaran. [R]
Dogma (½)- 1999 / Kevin Smith / Ben Affleck, George Carlin, Matt Damon, Linda Fiorentino, Salma Hayek, Jason Lee, Jason Mewes, Kevin Smith, Alan Rickman, Chris Rock, Alanis Morisette, Bud Cort, Janeane Garofalo, Dwight Ewell, Guinevere Turner / (96 mnt) / Sepasang malaikat yang dicekal dari surga (Damon dan Afleck) mencoba dengan segala cara mencari jalan kembali. Seorang wanita biasa, Bethany (Fiorentino), telah dipilih langsung dari surga untuk menghentikan mereka. Komedi ini juga menampilkan murid Isa yang berkulit hitam (Rock), sepasang malaikat baik (Mewes dan Smith), dan bahkan Tuhan sendiri (Morissette,salah satu senjata rahasia film ini). Cerita berjalan dengan cukup rumit karena banyaknya detil permasalahan yang harus diselesaikan, konsekuensinya film ini terasa lambat. Dengan cerita seperti ini, Smith tentu bermaksud memberi kejutan-kejutan yang nakal. Tapi terus terang saja, di zaman seperti ini humor-humor spiritual sedatar itu tak lagi istimewa, dan ketika kenakalannya tak lagi terasa, apalagi yang bisa diandalkan film ini? Masih ada, beberapa humornya memang murni lucu (terutama yang berkaitan dengan seksualitas) dan beberapa tokoh diciptakan Smith dengan cukup imajinatif (misalnya setan kotoran dan peran yang dimainkan Smith sendiri), juga endingnya yang lumayan ricuh.
Don’t Look Back (½)- 1996 / Geoff Murphey / Eric Stoltz, John Corbett, Josh Hamilton, Billy Bob Thornton, Annabeth Gish, Dwight Yoakam, Amanda Plummer / [97 mnt] Seorang musisi (Stoltz) yang pernah mengalami kecanduan terhadap obat bius tanpa sengaja menemukan ratusan ribu dolar uang yang diperebutkan dalam sebuah transaksi narkotik yang sama sekali tak melibatkannya. Dia membawa lari uang itu ke lingkungan teman-teman lamanya, kelanjutannya dapat diduga, bukan? Sindikat pemilik uang tak akan membiarkannya. Akting para pemain yang kebanyakan sangat bagus tak cukup untuk menjadikan film ini istimewa. [R]
Doors, The ()- 1991 / Oliver Stone / Val Kilmer, Meg Ryan, Kevin Dillon, Kyle McLachlan, Frank Whaley, Kathleen Quinlan, Michael Madsen, Billy Idol, Crispin Glover, Josh Evans, John Densmore, William Jordan, Mimi Rogers, Michael Wincott, Paul Williams, Bill Graham, Billy Vera, William Kunstler, Wes Studi, Costas Mandylor, Floyd Red Crow Westerman, Christina Fulton, Jeniffer Ruubin / [136 mnt] Film yang sangat mencintai warna merah ini bagaikan syair ritual Stone untuk penyair dan ritualis terbesar kaum hyppies, Jim “Lizard King” Morrison. Kisah ini memperlihatkan betapa naik turunnya karir The Doors sebagai sebuah band hampir sepenuhnya tergantung pada tingkah laku Morrison, seorang seniman yang bisa menjadi lebih dari sekedar simbol bagi generasinya, dan juga lebih dari sekedar setan bagi dirinya sendiri. Terkadang bergelora namun sering juga bisu, film ini memang tak kalah puitis dari lirik lagu Morrison yang manapun, gaya ini membuat film ini seakan hanya dibuat untuk penggemar Big Jim atau penggemar Stone dan kisah-kisah akhir enampuluhannya, sedang penonton yang tidak termasuk golongan itu akan merasakan adanya jarak yang tak tertanggulangi dengan emosi film (walau dalam hal informasi, non-fan akan lebih beruntung karena untuk para penggemar berat Jimmy film ini tidak menceritakan hal yang baru atau tersembunyi). Kilmer memainkan peran paling penting dan paling riskan sepanjang karirnya, dia melakukannya dengan luar biasa, kita bahkan tak sanggup menyebut nama yang diperkirakan bisa melakukannya lebih baik dari dia (ada kritikus yang berkomentar bahwa Jim Morisson pun tak akan bisa memfoto kopi dirinya sendiri seperti itu). Catatan: Salah satu sumber film ini adalah buku “Raiders of the Storm” karya John Densmore, drummer The Doors, dia hadir juga beberapa detik dalam film ini sebagai seorang roadie. [R]
Double Impact (½)-1991 / Sheldon Lettich / Jean Claude van Damme, Geoffrey Lewis, Alona Shaw, Alan Scarfe, Corry Everson / [118 mnt] Van Damme memainkan dua karakter sekaligus: dua orang kembar yang terpisah sejak kecil dan dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda untuk kemudian bertemu lagi setelah dewasa, sebagai dua orang yang bermusuhan. Penggemar fanatik bela diri ala van Damme mungkin memberi nilai tiga bintang untuk film ini, namun sesungguhnya unsur actionnya pun tidak seberapa seru, dan selain unsur itu tak ada lagi yang pantas mendapat bintang (tidak juga adegan panas van Damme-Shaw yang memakan waktu hampir lima menit). [R]
Drawning Mona (½)- 2000 / Nick Gomez / Danny DeVito, Bette Midler, Neve Campbell, Jamie Lee Curtis, Casey Affleck, William Fichtner, Marcus Thomas, Peter Dobson, Kathleen Wilhoite, Tracey Walter, Paul Ben-Victor, Paul Schulze, Mark Pellegrino, Raymond O'Connor, Will Ferrell, Lisa Rieffel, Robert Arce, Brittany Peterson, Marla Lasala, Philip Perlman, Melissa McCarthy, Brian Doyle-Murray / (91 mnt) / Mona Dearley (Midler) adalah wanita yang paling dibenci di kota kecilnya, Verplanck. Maka ketika Mona mati tenggelam, semua orang di kota itu seolah-olah mempunyai motif membunuh wanita tak berperasaan itu. Mereka juga tak terlalu perduli dengan kematiannya, tapi tentu tetap saja kasus ini harus diungkap, sherif Rash (de Vito) menanggung tugas itu. Harus diketahui, kota ini dipenuhi karakter-karakter karikatural yang eksentrik berwarna-warni. Sngat mungkin salah satu atau beberapa dari mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Mona. Dari situlah kelucuan komedi ini mencoba digali, dari penampilan para tokoh dan situasi yang tercipta jika orang-orang seperti ini dipersatukan. Suasananya memang cukup menghibur pada awalnya, namun lama kelammaan tokoh-tokoh ini mulai membosankan seentara inti ceritanya mulai terabaikan. [PG-13]
Dream Lover (½)- 1994 / Nicholas Kazan / James Spader, Mädchen Amick, Bess Armstrong, Frederic Lehne, Kathleen York, Larry Miller / [100 mnt] Jangan terlalu percaya bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan! Setelah sekian lama menanti dan mencari, Ray (Spader), seorang arsitek muda, akhirnya merasa telah menemukan kekasih impiannya (Amick). Namun setelah menikah, masa lalu misterius wanita sexy ini mendatangkan berbagai macam kejadian yang tak termimpikan sebelumnya, jauh lebih buruk dari mimpi terburuk Ray sekalipun! Pada awalnya, thriller ini cukup menarik, apalagi dengan penampilan bagus Spader dan idealnya peran untuk Amick sebagai gadis dengan kecantikan pisik hampir sempurna (anda akan cukup merasa bersalah karena telah menikmati seluruhnya di sini), tata kameranya juga cukup bagus, namun sejak pertengahan film kita sudah bisa menduga bahwa film ini tak akan memberikan sesuatu yang benar-benar memuaskan, dan bagian akhirnya membuktikan kebenaran dugaan itu. [R]
Drive Me Crazy (½)- 1999 / John Schultz / Melissa Joan Hart, Adrian Grenier, Stephen Collins, Mark Metcalf, William Converse Roberts, Faye Grant, Susan May Pratt, Kris Park, Ali Larter, Mark Webber, Gabriel Carpenter, Lourdes Benedicto, Keri Lynn Pratt, Natasha Pearce, Derrick Shore, Jordan Bridges, Jacque Gray / (103 mnt) Melisa (Hart) adalah seorang anak gaul yang tertarik mati-matian pada Brad (Collins), seorang jagoan basket ganteng,yang juga anak gaul. Untuk menarik perhatian Brad, Melisa meminta bantuan Chase (Grenier), pemuda tetangga sebelah yang sama sekali bukan anak gaul. Kebetulan pada saat itu Chase sedang bermasalah dengan pacarnya yang cantik, Lisa (Larter). Maka Melisa dan Chase pura-pura berpacaran demi kepentingan masing-masing, untuk membuat Brad dan Lisa cemburu. Menebak kelanjutannya semudah menikmati sinar matahari, Melisa dan Chase malah menemukan kecocokan satu sama lain, hingga Brad dan Lisa pun terlupakan. Banyak sekali film dengan kisah serupa, kebanyakan terkesan bodoh dan dipaksakan, namun adaptasi karya Tod Straser ini berhasil selamat dari kedua kesan itu. Dialog-dialog yang menarik dan penyutradaraan Schultz yang segar dan efektif berhasil membuatnya menjadi hiburan kelas ringan yang tidak terlalu kosong. Duet Hart dan Grenier juga begitu simpatik dan tidak semata memajang tampang manis seperti umumnya bintang-bintang remaja dalam film seperti ini, bahkan mungkin inilah duet paling berkesan dalam genrenya. [PG-13]
Drop Dead Gorgeous (½)- 1999 / Michael Patrick Jann / Kirsten Dunst, Ellen Barkin, Allison Janney, Denise Richards, Kirstie Alley, Sam McMurray, Mindy Sterling, Brittany Murphy, Amy Adams, Laurie Sinclair, Shannon Nelson, Tara Redepenning, Sarah Stewart, Alexandra Holden, Brooke Bushman, Matt Malloy, Michael McShane, Will Sasso, Lona Williams, Adam West / [93 mnt] / Dengan gaya pseudo-dokumenter yang meledek, film ini menggambarkan obsesi sebuah kota kecil di Minnesota pada pemilihan ratu remaja Amerika. Ambisi Gladys, nasib Amber, dan tingkah laku masyarakat lain menjelang dan sesudah pemilihan menjadi rangkaian vignet dan karikatur yang kemudian menjadi menu film ini, sebagian cukup menggelitik dan mengesankan, namun banyak juga yang terasa sangat mengada-ada, satir moralnya pun terlalu transparan, dan remeh. Para pemain adalah faktor penyelamat film ini, Richards berhasil membuat kita membenci tokoh yang diperankannya, tiga aktris senior Barkin, Alley, dan Jenney, sama-sama bermain dengan penuh energi, dan terus terang saja, sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada tokoh protagonis apapun yang dimainkan Dunst, salah satu aktris muda berbakat dan berdaya pikat paling besar dalam angkatannya. [PG-13]
Dying Again for Love (lihat: Dead Again)


E


EdTV (½)- 1998 / Ron Howard / Matthew McConaughey, Woody Harrelson, Jenna Elfman, Sally Kirkland, Ellen DeGenerese, Martin Landau, Dennis Hopper, Elisabeth Hurley, Rob Reiner, Adam Goldberg, Viveka Davis, Clint Howard / [107 mnt] / Ed (McConnaughy) adalah seorang pria biasa yang dipilih oleh sebuah stasiun televisi kabel untuk menjadi tokoh dalam sebuah show yang akan disiarkan ke seluruh negeri. Dalam acara ini Ed hanya harus berperan menjadi dirinya sendiri. Acara ini mendokumentasikan kehidupan sehari-harinya dengan detil, karena ternyata realisme yang paling murnilah yang paling menarik untuk diintip dalam dunia voyeur ini. Ed kemudian menjadi bintang, namun, bisa diduga, kehidupan pribadinya malah semakin rumit dan hampir tak bisa diatasi lagi, wah, tentu ini malah semakin mengasyikan bagi penonton acara itu! Beberapa tahun setelah meninggalnya Lady Diana, EdTV muncul dalam gaya black comedy tajam dengan satir yang hampir selalu mengena dan penokohan yang sangat menarik. Film ini juga punya "hati" di bawah permukaannya yang kasar. Kekuatan yang sangat mencolok adalah para pemainnya, McConaughey bermain sempurna sebagai Ed, dengan ekspresi cengok yang sulit ditebak namun kadang meledak, sementara semua pemeran pendukung bermain luar biasa, terutama Harrelson sebagai kakak Ed, Kirkland sebagai ibunya, dan Reiner sebagai eksekutif televisi yang tamak. Sekarang kita masuki pertanyaan yang sangat menentukan nilai film ini: apakah EdTV mencoba mengekor sukses "Truman Show" (1998)? Jika jawabannya "ya", kami hanya mau memberinya nilai ½, dan kalau saja tak pernah ada film yang bernama "Truman Show", kami berani memberi EdTV nilai ½. Maka, dalam keadaan seperti ini - EdTV mungkin tak bermaksud mengekor, tapi "Truman Show" telah terlanjur lahir lebih dulu - nilai ½ adalah pilihan paling aman bagi kami. [R]
Edward Scissorhands ()- 1990 / Tim Burton / Johnny Depp, Winona Ryder, Dianne Wiest, Anthony Michael Hall, Alan Arkin, Kathy Baker, Conchata Ferrell, Vincent Price, Caroline Aaron, Dick Anthony Williams, Robert Oliveri, John Davidson / [100 mnt] Fantasi komikal ala Burton ini bercerita tentang Edward (Depp), seorang manusia buatan yang ditinggalkan di rumah besar yang sepi oleh pembuatnya (Price) sebelum dia menerima sepasang tangan. Edward terpaksa harus memakai tangan sementara yang berupa beberapa buah gunting. Seorang saleswoman Avon (Wiest) menemukannya dan mengajaknya ke kehidupan biasa. Sosialisasi jelas tak mudah untuk “makhluk aneh” seperti Edwards. Sekali lagi, cerita film ini sangat komikal, maka, jangan mengharapkan sesuatu yang terlalu berisi. Namun jangan khawatir selama cerita seperti ini ditangani pengkhayal seperti Burton, gambar-gambar yang bagai lukisan mimpi tampil untuk membuatnya semarak, tanpa itu film ini tak akan pantas menjadi hit besar. [PG-13]
Eat Drink Man Woman ()- 1995 / Ang Lee / Sihung Lung, Kuei Mei Yang, Chien Lien Wu, Yu Wen Wang, Winston Chao, Sylvia Chang, Ah Leh Gua / (TAIWAN) {Bahasa Mandarin} / [125 mnt] Seorang koki yang hidup menduda harus mempersiapkan dirinya menghadapi dunia dewasa tiga anak wanitanya yang berkarakter berbeda, dan mungkin tak terbayangkan sebelumnya oleh sang ayah. Pada saat yang sama diapun mulai harus berurusan dengan kenyataan bahwa dia adalah koki yang berbeda dengan masa mudanya yang membuatnya terkenal. Ini adalah karya sutradara yang mengecap sukses komersial dan kritikal secara internasional melalui “The Wedding Banquet” dan yang lebih global, “Sense & Sensibility”. EDMW adalah film yang dibuat Ang di antara keduanya. Dengan tambahan berbagai intrik lain, film ini berhasil menjadi sebuah drama komedi yang segar dan hidup. Para pemain juga bermain bagus dengan dipermudah oleh skenario yang sangat wajar. [R]
Eel, The (½)- 1997 / Shohei Imamura / Koji Yakusho, Misa Shimizu, Fujio Tokita, Mitsuko Baisho, Akira Emoto, Sho Aikawa, Ken Kobayashi, Sabu Kawahara, Etsuko Ichihara / {JEPANG} / (Bahasa Jepang) / (( Unagi )) / (117 mnt) Takuro Yamashita (Yakusho) selalu mendapatkan surat berantai yang melaporkan perselingkuhan istrinya. Suatu hari Yamashita memergoki sendiri istrinya berhubungan sex di rumahnya sendiri dengan seorang laki-laki lain. Yamashita tanpa ampun membantai istrinya dan kemudian menyerahkan dirinya ke polisi. Beberapa tahun kemudian pria ini keluar dari penjara sebagai seorang yang sangat kaku dan tertutup. Dia membuka sebuah salon rambut dan mempekerjakan Keiko Hatori (Shimizu), seorang wanita dengan permasalahannya sendiri, Hatori juga kebetulan berwajah sangat mirip istri dengan istri Yamashita dulu. Film ini mendapat pujian yang sangat besar dari banyak pengamat dan festival film Eropa, sedang kami sendiri hampir tak bisa menikmatinya. The Eel adalah sebuah film yang sangat bisu dan arogan, kenapa kita harus menyukai film yang selalu meminta kita mengerti sesuatu tanpa melihat banyak hal di layar? Hubungan antara kejadian-kejadian penting yang dialami para tokoh sangat samar, motivasi mereka juga sangat sulit difahami. Hampir semua adegan dalam film ini diambil dalam shot yang berkisar dari extreme close-up sampai medium shot, semua dengan sudut-sudut yang tak mengizinkan kita terlibat dalam kisah para tokohnya, beberapa adegan percakapan hanya menampilkan master shot yang berkepanjangan, apa yang bisa kita bantu? Tempo yang dipakainya juga luar biasa lambat, dengan cara yang agak lain kisah film ini mungkin bisa selesai disampaikan dalam waktu satu jam. Para pemainnya berakting lumayan, tapi itupun tak bisa banyak kita nikmati. Truly annoying.
Elizabeth (½)- 1998 / Shekhar Kapur / Cate Blanchet, Geoffrey Rush, Joseph Fiennes, Christopher Eccleston, Sir Richard Attenborough, Kathy Burke, Eric Cantona, Fanny Ardant, Vincent Cassel, James Fran, Daniel Craig, Angus Deatton, Edward Hardwicke, James Foreman, Terence Ujgay, Amanda Ryan, Kelly McDonald, Emily Mortimer / (BRITANIA) / [130 mnt] Elizabeth ini bukan nama gadis punk London, mahasiswi Cambridge, atau mertua Diana, melainkan nama salah satu monarkh paling berpengaruh dalam sejarah Inggris Raya, Elizabeth, Sang Ratu Perawan dari abad XVI yang mengorbankan sisa hidupnya untuk “menikah dengan Inggris” dan tidak dengan lelaki manapun. Film ini menyoroti masa-masa awal kekuasaan sang ratu muda di saat kerajaan dilanda konflik Katolik - Protestan, rongrongan bangsa lain, dan terutama kecenderungan saling menjatuhkan di antara para elit politik yang berlomba menanamkan pengaruh mereka atas ratu. Tampilan film yang megah dan teliti, alur yang berpola lepas (kadang terlalu lepas), ditambah keberanian mengungkapkan hal-hal yang tidak banyak diungkap, membuat film ini berdiri agak di depan dibanding epik-epik besar sezamannya. Blanchet (fresh from oven dan tidak dikenal banyak orang) dengan manis berhasil menangani setiap kerumitan perannya. Parade aktor-aktris pendukung yang kharismatik - hampir semuanya lebih berpengalaman dari Cate - melatarinya dengan kekuatan besar berkat keberhasilan mereka mewarnai berbagai karakter yang menarik (bahkan seorang aktor debutan seperti mantan bintang sepakbola, Eric “Le Roi” Cantona, pun tidak kekurangan kharisma akting). Film ini memang tak punya banyak kekurangan, kami hampir tega memberinya nilai sempurna. [R]
* British Academy Awards: Aktris Terbaik (Blanchet)
El Mariachi ()- 1993 / Robert Rodriguez / Carlos Gallardo, Consuelo Gomez, Peter Marquardt, Jaime de Hoyos, Reinol Martinez, Ramiro Gomez / {Bahasa Spanyol} / [80 mnt] Inilah film yang disebut-sebut sebagai salah satu tonggak kebangkitan film-film “murahan” di Amerika. Gallardo, yang juga bertindak sebagai produser bersama Rodriguez, bermain sebagai seorang pemuda yang datang ke sebuah kota kecil di perbatasan Mexico-A.S untuk mencari keberuntungan sebagai seorang Mariachi (pemusik solo di klub-klub). Namun ternyata justru malang yang diperolehnya, dia malah disangka sebagai seorang residivis yang sedang menjadi incaran gembong penjahat lokal kota itu. Pembuatan film ini terselesaikan dengan kru minimum (Rodriguez merangkap sutradara, penulis, produser, editor, dan penata kamera), anggaran hanya US$ 7.000,00, kamera pinjaman, 14 hari shooting, dan pemain-pemain yang jangan harap anda kenal. Namun akan mudah sekali menemukan film-film berdana raksasa dan bertabur bintang yang lebih jelek dari film ini! Rodriguez, pemuda berusia 24 tahun, berhasil membuat sebuah cerita sederhana - bahkan nyaris naif - menjadi segar berkat perpaduan humor yang konyol, kejutan, dan dosis kekerasan yang pas. Keaslian El Mariachi tak akan tertandingi film Rodriguez yang lainnya, termasuk sequelnya, “Desperado” (1995). Anda pemerhati film-film indie 90-an? Jangan jawab “ya” bila tidak pernah menonton El Mariachi! Catatan kecil: Laser disc film ini memuat juga film pendek Rodriguez, Bedhead, yang juga sangat pantas mendapat tepuk tangan. [R]
* Sundance Film Fetival: Film Terbaik Pilihan Pemirsa, Independent Spirit Award: Film Debut Terbaik
Emma (½)- 1996 / Douglas McGrath / Gwyneth Paltrow, Jeremy Northam, Toni Collette, Ewan McGregor, Alan Cummings, Gretta Scacchi, Juliet Stevenson, Polly Walker, Sophie Hompton, James Cosmon, Denys Hawtorn, Phyllida Law / (BRITANIA) / [100mnt] Satu lagi novel Jane Austen tampil di layar perak, dan lagi-lagi ratu roman Inggris abad sembilanbelas ini beruntung mendapatkan orang-orang yang mampu membuat ceritanya menjadi film yang bagus. Emma Woodhouse (Paltrow), gadis cerdas tipikal pahlawan Austen, tanpa sadar selalu menempatkan dirinya sebagai mak comblang untuk setiap orang di sekelilingnya yang belum mempunyai pasangan, terutama untuk Harriet (Collete), sahabatnya yang punya terlalu banyak kekurangan jika dibandingkan dengannya. Sementara Emma sendiri seakan tak punya waktu untuk menentukan pilihan yang tepat bagi dirinya sendiri, walau cukup banyak pemuda yang ingin memilihnya. Satir moral tentang benturan status sosial ala Austen jelas tak banyak relevan dengan keadaan masa kini, namun film ini tetap berhasil menjadi roman komedi yang menarik. Dengan gaya yang sangat berbeda, McGrath ternyata tak kalah dari sutradara lain manapun yang sama-sama sedang keranjingan sastra Inggris era Austen. Paltrow dengan cemerlang melaksanakan tugas aneh yang dipercayakan padanya, para pendukungnya juga bermain bagus, terutama Collete. [PG-13]
Empire Record (½)- 1995 / Allan Moyle / Anthony LaPaglia, Maxwell Caulfield, Debi Mazar, Rory Cochrane, Johnny Withworth, Robin Tunney, Rene Zellweger, Liv Tyler, Ethan Randall, Coyotte Shivers, Brendan Sexton / [91 mnt] Film ini hanya bercerita tentang suatu hari biasa yang dialami pekerja-pekerja Empire Records, sebuah toko kaset/disc. Mereka adalah karakter-karakter biasa dengan masalah-masalah khas anak muda, mereka bekerja dibawah pimpinan Joe (LaPaglia), manajer yang selalu berusaha mendinginkan suasana. Ide dan masalah-masalahnya cukup menarik dan berani, dialog-dialognya sering menggelitik (jelas dibuat oleh seseorang yang mengerti dunia manusia akhir belasan), namun beberapa kekakuan penyutradaraan membuat film sesegar ini gagal menjadi cuplikan realita yang bisa sepenuhnya hidup dan nyata, sebuah potensi yang tersia-siakan. Orkestra aktingnya cukup memberikan sesuatu, LaPaglia “mengasuh” barisan pemain yang “fresh from oven”, dalam film ini beberapa di antara anak-anak muda ini memang sering over-akting, namun anda pasti bisa merasakan bahwa gadis seperti Tunney atau Zellweger memang berbakat Catatan kecil: Film ini menelurkan albumm soundtrack hit yang diisi oleh Edwin Collins, Better Than Ezra, Gin Blossoms, the cranberries, Cracker, Evan Dando, Toad the Wet Sprocket, dll. [PG-13]
Encino Man ( lihat: California Man )
End of Violence (½)- 1997 / Wim Wenders / Bill Pullman, Andie MacDowell, Gabriel Byrne, Loren Dean, Traci Lind, K.Todd Feldman, Daniel Benzali, John Diehl, Pruitt Taylor Vince, Peter Horton, Udo Kier, Enrique Castillo, Nicole Parker, Sam Fuller, Rosalind Chao, Frederic Forrest, Marisol Padilla Sanchez, Marshall Bell / (AMERIKA SERIKAT - GERMAN) / [125 mnt] Satu lagi proyek ambisius dari salah satu sutradara Eropa paling boros dalam dekade sembilanpuluhan. Kali ini Wenders – masih dengan kepala yang penuh isu global – mengorek-ngorek Los Angeles dengan pusat cerita hilangnya seorang produser Hollywood (Pullman) dan pengaruh yang timbul pada orang-orang di sekelilingnya. Terus terang, Wenders terlalu percaya diri dengan materi film yang skenarionya ditulis Nicholas Klein ini, sehingga akhirnya ia jadi tampak ribut sendiri. Tak ada yang kurang dalam skillnya sebagai seorang sutradara, namun siapapun tak akan mampu membuat banyak orang perduli dengan cerita seperti ini, bahkan satirenya tentang kekerasan pun sama sekali tidak efektif. Ide besar memang tidak selalu menjadikan film besar walau film ini telah dipenuhi dengan visualisasi yang bagus dan beberapa akting yang menarik (terutama Parker, gadis mulato dengan sebuah monolog yang sangat ekspresif dalam sebuah forum kulit hitam). [R]
Englishman who Went up a Hill but Came down a Mountain, The ()- 1995 / Christopher Monger / Hugh Grant, Tara Fitzgerald, Colm Meaney, Ian McNeice, Ian Hart, Kenneth Griffith, Tudor Vaughan, Hugh Vaughan, Robert Pugh, Robert Blythe, Garfield Morgan, Lisa Palfrey, Dafydd Wyn Roberts, Ieuan Rhys, Anwen Williams / {BRITANIA} / (99mnt) / Reginald Anson (Grant) adalah seorang pegawai pemerintah yang bertugas menyurvei sebuah……tanah tinggi. Kami tak berani menyebut apakah itu sebuah bukit atau sebuah gunung, karena hampir dalam sepanjang film Anson yang menganggapnya sebuah bukit berdebat dengan penduduk setempat yang tersinggung dengan sebutan yang merendahkan itu, karena sejak dulu mereka dan nenek moyangnya telah menganggapnya sebuah gunung. Film ini berhasil mengedepankan perbedaan pandangan itu sebagai sebuah contoh dari perbedaan-perbedaan lain yang lebih universal, dengan potret sebuah masyarakat pedesaan yang konservatif – namun kadang-kadang mengejutkan dengan kemoderatan eksentriknya – sebagai latar belakang. Dan karena film ini pada dasarnya adalah sebuah komedi romantis, maka perlu hadir sebuah roman untuk Anson, Betty (Fitzgerald) seorang gadis lokal adalah sarananya; dan kisah mandiri Anson-Betty ini mempunyai cukup dimensi dan kedalaman sebagai sebuah roman yang lengkap. Bagaimanapun, sebagian pemirsa akan merasakan sedikit kemonotonan dalam pokok bahasan film ini, baik yang disammpaikan dalam guyonan ataupun yang lebih serius. TEMwWuaHaCdaM (begitulah kira-kira singkatan judul gila film ini) memang bukan film yang memuat banyak hal, namun kami berpendapat bahwa film ini berhasil memanfaatkan modal minim temanya itu untuk mengumbar humor-humor verbal yang menggelitik dan berwawasan. Film ini menampilkan juga karakter-karakter yang penuh warna, namun tetap wajar, semua dimainkan dengan sangat menarik oleh para pemainnya. [PG]
English Patient, The (½)- 1996 / Anthony Minghella / Ralph Fiennes, Juliette Binoche, Kristin Scott-Thomas, Willem Dafoe, Naveen Andrews, Jurgen Prochnow, Collin Firth, Julian Waldham, Kevin Whateley /(BRITANIA - AMERIKA SERIKAT) / [105 mnt] Film megah yang nyaris membangkrutkan para penyandang dananya ini diambil dari novel karya Michael Ondaatje, bertutur tentang dua kisah yang terjadi di masa sekitar PD II, disampaikan secara maju mundur antara ranjang dan gurun. Yang pertama adalah kisah Hana (Binoche), perawat Kanada yang kesepian dan selalu ditinggalkan oleh orang yang dicintainya, Hana kini bertugas di Italia merawat seorang pasien misterius berlogat Inggris yang mengalami luka bakar yang sangat parah di sekujur tubuhnya. Yang kedua adalah kisah tentang masa lalu si pasien sebagai seorang bangsawan Hungaria bernama Count Lašzlo de Almašczy (Fiennes), seorang anggota tim penelitian arkeologi dan geografi Inggris di Afrika Utara, tempat dia menjalin hubungan asmara gelap dengan Katherine (Scott Thomas), istri teman sekerjanya. Secara visual, film ini adalah sebuah karya besar, ketelitian dan keindahannya mencengangkan hingga semua gambar yang ada di layar tak pernah berhenti mempesona kita, Minghella dan krunya benar-benar tim terbaik di tahunnya. Namun, mudah sekali untuk merasa bahwa penuturan ceritanya - terutama ketika tiba pada saat menggilir topik - sering menimbulkan sedikit ketidaknyamanan yang menyebabkan arus emosinya sering kali tersendat-sendat. Beberapa karakter pun ditampilkan dengan tidak terlalu berarti, untunglah semua dimainkan dengan bagus oleh para pemerannya, dengan pujian khusus untuk Scott-Thomas, Binoche, dan terutama Fiennes, sang “English Patient”, akting Englishman tampan ini adalah salah satu sisi sempurna film ini. Film ini berpesta pora dengan piala dari berbagai festival, dan - yang agak unik - rasanya ini adalah satu dari sedikit sekali film terbaik versi Oscar yang mempunyai tema yang berlumur nafsu dan sensualitas. [R]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Minghella), Aktris Pendukung Terbaik (Binoche), Tata Kamera Terbaik, Editing Terbaik, Tata Musik Terbaik, Tata Kostum Terbaik, Tata Artistik Terbaik, Golden Globe: Film Terbaik Drama, Sutradara Terbaik (Minghella), Tata Musik Terbaik, DGA Awards: Sutradara Terbaik (Minghella), British Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Minghella), Aktor Utama Terbaik (Fiennes)
Eternal, The (½)- 1999 / Allan Smithee / Allison Elliott, Christopher Walken, Jarred Harris, Karl Geary, Paul Feritter, Lois Smith, Jeffrey Goldschraffe, Rachel O’Rourke, Jason Miller / [100 mnt] Nora (Elliott), seorang New Yorker dengan masalah alkohol dan migrain, memutuskan untuk mengunjungi kampung halamannya, sebuah desa di Irlandia, bersama suami dan anaknya. Mereka tiba di kastil paman Nora (Walken, dengan brogue setengah jadi) yang berisi berbagai misteri dan hal aneh, nenek dengan pikiran terganggu, pelayan kecil yang serba tahu, dan yang paling hebat : mumi wanita druid yang hidup kembali dalam sosok Nora. Tak mengherankan melihat orang Amerika bercerita dengan penuh emosi nostalgik tentang Irlandia, namun film ini justru dibuat tanpa emosi dengan unsur horor, misteri, dan mistik yang menguap begitu saja walaupun sesungguhnya bagian awalnya cukup menjanjikan dan beberapa adegan dibuat dengan sangat apik. [R]
Equinox (½)- 1993 / Alan Rudolph / Mathew Modine, Lara Flynn Boyle, Fred Ward, Tyra Ferrell, Marisa Tomei, Kevin J. O’Connor, Tate Donovan, Lori Singer, M. Emmet Walsh, Gailard Sartain, Mark Modine / [107 mnt] Modine memainkan peran ganda sebagai dua orang kembar yang terpisah yang mengalami nasib berbeda: Henry adalah pemuda miskin yang lugu sedang Freddy adalah pemuda perlente yang materialis dan hidup di dunia gangster. Ferrell mendapatkan sesuatu yang bisa mengungkap jalan hidup keduanya, cerita pun berjalan dengan cukup membingungkan. Rudolph tidak membuat sesuatu yang klise, namun dengan segala macam gayanya dia malah membuat film bertele-tele dan, sekali lagi, membingungkan. Cukup menarik, namun tidak terlalu memuaskan. Tomei muncul sebentar dua bentar dengan daya tarik khasnya yang selalu mencuri perhatian. [R]
Even Cowgirls Get the Blues (½)- 1994 / Gus van Sant / Uma Thurman, Lorraine Bracco, Rain Phoenix, John Hurt, Angie Dickinson, Noriyuki "Pat" Morita, Victoria Williams, Roseanne Arnold, Keanu Reeves, Grace Zabriskie, Sean Young, Crispin Glover, Ed Begley. jr, Faye Dunaway, Steve Buscemi, Heather Graham, Carol Kane / [106 mnt] Melihat nama sutradara dan parade bintang-bintang terpercaya di atas, kita langsung bisa menebak bahwa film yang diadaptasi dari novel Tom Robbins ini adalah film yang terkenal, dan begitulah kenyataanya, film ini memang terkenal. Film yang terkenal ini memuat banyak hal: petualangan dengan menumpang mobil lewat (hitchhiking), ranch, cowgirl, feminisme, lesbianisme, modeling, dan apa saja yang lewat di kepala para pembuatnya. Tokoh utamanya adalah Sissy Hawshank (Thurman), seorang gadis dengan ibu jari tangan berukuran tiga kali ukuran rata-rata. Dengan dipenuhi hal yang ngawur, sexist, kadang menjijikkan dan membuat kita malu sendiri melihatnya, film ini mencoba untuk menggebrak, akhirnya malah digebrak dengan ejekan yang didapat dari hampir setiap orang yang mengomentarinya. Sebenarnya ini bukan film bodoh, namun "kecerdasannya" sulit sekali untuk dihargai. Film ini juga tidak betul-betul pantas untuk disebut sebagai film mahal terjelek dalam dekade ini, sebagian kecil (sangat kecil) dari keunikannya masih dapat dinikmati - dengan kepala kosong. Semua memang tergantung selera, namun siapa yang sungguh-sungguh mengharapkan film seperti ini dari orang-orang seperti itu? [R]
Eternity (½)- 1990 / Anthony Paul / Jon Voight, Armand Assante, Wilford Brimley, Eileen Davidson, Kaye Ballard, Lainie Kazan / [122 mnt] Seorang pangeran dari masa lalu mengalami kegagalan cinta. Seorang wartawan jatuh cinta pada seorang model. Adakah hubungan antara kedua kejadian yang terpisah oleh waktu ratusan tahun itu? Siapa mau perduli? [R]
Ever After ()- 1998 / Andy Tennat / Drew Barrymore, Anjelica Huston, Melanie Linskey, Dougray Scott, Jeanne Moreau, Megan Dodds, Jeroen Krabbe, Patrick Godfrey, TImothy West, Judy Parfitt, Richard O'Brien, Lee Ingley, Kate Lansbury, Matyelok Gibbs, Walter Sparrow / [121 mnt] Cinderella datang lagi di akhir abad ke XX dengan nama Danielle dan dalam versi revisionisnya, lengkap dengan ibu dan saudari tiri yang pendengki juga pangeran impian, bahkan kali ini Leonardo da Vinci pun ikut hadir, dan tentu saja kilatan feminisme harus ada di akhir abad ini. Tak ada yang harus terlalu dikagumi dari film hit ini walau tak ada juga sisi yang betul-betul buruk dalam perealisasiannya. Semua orang memenuhi syarat untuk terlibat dalam film ini, namun tak bisakah mereka memikirkan seseorang yang lebih fresh daripada Barrymore untuk memainkan perannya? [PG-13]
Everyone Says I Love You (½)- 1996 / Woody Allen / Woody Allen, Alan Alda, Natasha Lyonne, Drew Barrymore, Goldie Hawn, Julia Roberts, Tim Roth, Edward Norton, Lukas Haas, Gaby Hoffman, Natalie Portman, David Odgen Stiers, Billy Crudup / [112 mnt] Allen melakukan selingan pembelokan ke arah komedi musikal (disindirnya sendiri berkali-kali lewat narasi Lyonne) tentang pasangan Alda - Hawn yang berputri empat (Lyonne, Barrymore, Hoffman, Portman) dan berputra satu (Haas). Allen sendiri berperan sebagai bekas suami Hawn dan ayah Dj (Lyonne) yang merebut cinta Roberts dengan cara berdusta. Everyone Says I Love You adalah film yang berkelas di bawah standar untuk ukuran komedi musikal, dan juga untuk ukuran komedi buatan Allen. Bisa dibilang hanya sebuah nomor musikal di rumah sakit jiwa saja yang membuat film ini masih terasa layak ditonton. Allen dan para pemainnya adalah orang-orang yang berpengalaman, namun bukan di bidang ini, di sini mereka mempermalukan diri dengan penampilan yang sangat amatiran. [R]
Exception To the Rule ()- 1997 / David Winning / Sean Young, Kim Cattrall, Eric McCormack, William Devane, Diego Wallraff, Stephen Mendel, Bob Lujan, Mark Acheson, Rob Daprocida / (98 mnt) Pada dasarnya semua intrik film ini berasal dari sebuah berlian dan asuransi, namun permasalah menjadi begitu meluas dengan setting mencakup berbagai belahan dunia, dengan A.S dan Afsel sebagai pusatnya. Kisah seperti ini biasanya hadir dalam film-film Hollywood berbudget besar, sementara EttR adalah produksi independen yang tak akan mampu mencakup semua kebutuhannya, maka cerita yang sesungguhnya cukup menarik hadir sangat hambar dan bahkan menjadi klaustropobik dengan terpaksa. [R]
Exotica ()- 1995 / Atom Egoyan / Bruce Greenwood, Mia Kirshner, Don McKellar, Arsinee Khanjian, Elias Koteas, Victor Garber, Sarah Polley / (KANADA) / [105 mnt] Egoyan keluar dari dunia video recordernya dan beralih ke dunia yang lebih obsesif, dunia striptease. Exotica adalah nama sebuah klub striptease yang dikelola oleh seorang wanita bernama Zoe (Khanjian), klub ini mempertemukan beberapa karakter bermasalah seperti seorang penari remaja cantik (Kirshner), seorang akuntan yang dihantui kenangan hidup (Greenwood), seorang pemilik toko binatang yang terancam hukuman penjara (McKellar), dan seorang D.J eksentrik (Koteas, peran maniaknya yang kesekian). Orang-orang ini mengetahui beberapa hal tentang yang lain, mereka berguna dan berbahaya untuk yang lain. Selama hampir satu jam kita akan merasa kebingungan – namun luar biasa penasaran - melihat apa yang terjadi, semuanya baru terjelaskan menjelang akhir film, hampir seluruhnya secara verbal ataupun kilas balik. Cara bertutur dan visualisasinya tergolong jinak dibanding film-film Egoyan sebelumnya, namun justru film inilah yang membuka jalannya ke jajaran elit sutradara dunia, sebelum “benar-benar terdaftar” lewat “The Sweet Hereafter” dua tahun kemudian. Egoyan adalah saingan rekan senegaranya, David Cronenberg, dalam hal menjejalkan orang-orang bermasalah psikologi serius ke dalam film-filmnya. [R]
Eye of Beholder (½)- 1999 / Stephen Elliott / Ashley Judd, Ewan McGregor, Jason Priestley, k.d. lang, Patrick Bergin, Genevieve Bujold, Ann-Marie Brown / {AMERIKA SERIKAT - KANADA - BRITANIA - AUSTRALIA) / (( Voyeur )) / (107 mnt) / McGregor dalam film ini dikenal hanya sebagai Eye, seorang detektif yang bekerja pada sebuah biro misterius. Eye adalah figur yang juga misterius, kita tak diberitahu banyak siapa dia sebenarnya, kita hanya tahu bahwa dia terobsesi oleh anak gadisnya yang hilang bersama istrinya bertahun-tahun sebelumnya. Film ini kemudian memperkenalkan seorang wanita yang terus mengganti-ganti identitasnya (Judd), ada kesan yang menunjukkan bahwa Eye terobsesi juga pada gadis ini, proyeksi dari obsesinya terhadap putri kecilnya. Pada kelanjutannya yang terlihat justru adalah obsesi seksual Eye pada si gadis, entah mana yang sebenarnya dimaksudkan oleh film ini. Hampir sepanjang waktu kita dibuat bingung dan menunggu-nunggu, penyutradaraan stylish Elliott (yang sebenarnya hanya membongkar pasang unsur-unsur klise film noir) memaksa kita menunggu-nunggu, ketika kita tiba di akhir film, kita hanya punya kekecewaan, ketidakpuasan, dan perasaan telah membuang-buang waktu percuma. McGregor dan Judd adalah dua nama yang punya penggemar lumayan banyak, aktris klasik Bujold juga mungkin masih punya penggemar, jika anda termasuk salah satu yang menyukai mereka, berusahalah untuk menghindari film ini. [R]
Eyes Wide Shut ()- 1999 / Stanley Kubrick / Tom Cruise, Nicole Kidman, Sydney Pollack, Marie Richardson, Rade Serbedzija, Todd Field, Vinessa Shaw, Alan Cumming, Sky Dumont, Fay Masterson, Leelee Sobieski, Thomas Gibson, Louise J. Taylor, Stewart Thorndike, Julienne Davis / [159 mnt] / Tahun 1999, dunia film modern Amerika ditinggalkan salah satu master utamanya, Stanley Kubrick, dan EWS adalah hadiah terakhirnya, Big Stan meninggal pada masa post produksinya. Dongeng moral kontemporer ini diapdaptasi Kubrick dan Frederic Raphael dari buku Arthur Schnitzler mengikuti kecemburuan Bill (Cruise), seorang dokter, terhadap istrinya (Kidman, siapa lagi?) yang dinilainya bisa menarik siapa saja untuk berhubungan seks. Dengan terhanyut oleh kebimbangannya, dia mulai menjalani petualangan “naluriah” melalui malam yang penuh petualangan seksual. Kubrick mencoba menggali sedalam mungkin ide-ide terdasar psikologi seksual, dan film ini memang dipenuhi pertanyaan dan gagasan besar, walau bungkusnya begitu sensasional sehingga mungkin mengubur pesan-pesannya, apalagi bagi pemirsa yang kurang observatif dan lebih terpukau pada adegan mass swinging-nya. Banyak juga orang yang menilai bahwa film ini berbicara panjang lebar tentang sesuatu yang tidak substansial hingga terkesan mengada-ada (“much ado about nothing”?), anda tentukan saja sendiri. Di antara hanya sekedar selusin film yang pernah dibuatnya dalam 45 tahun karir panjangnya, EWS jelas tidak termasuk karya Kubrick yang terbaik, namun dari seseorang yang menghasilkan masterpiece-masterpiece klasik seperti “Paths of Glory” (1957), “Dr. Strangelove…..” (1964), “2001. Space Oddysey” (1967), dan “A Clockwork Orange” (1971), anda bisa mengharapkan apa saja yang tajam dan memuaskan. Ingat film-film sebagus “Spartacus” (1969) dan “Full Metal Jacket” (1987) juga tidak pernah digolongkan film terbaik Kubrick! [R]


F



Face/Off ()- 1997 / John Woo / John Travolta, Nicolas Cage, Joan Allen, Alessandro Nivo, Gina Gershon, Dominique Swain, Nick Cassavettes, Harve Pressnell, Colm Feore, John Caroll Lynch, CCH. Pounder, Robert Wisdom, Margaret Cho, Jamie Denton, Matt Ross / [120 mnt] / Dongeng aksi Hollywood difilmkan dengan sensasional oleh sutradara laga terpanas dari Hongkongwood, Mr. Woo. Kisahnya bagai dari dunia lain: agen intelijen Travolta bertugas mengejar penjahat super licin, Cage. Ular licik ini berhasil ditangkap, namun tugas Travolta semakin berat: dia harus terus merangsek ke jaringan Cage dengan mengubah penampilan pisiknya, menjadi 100% pisik Cage! Itu sudah menjadi masalah besar bagi sang agen, namun semua orang mulai tertimpa masalah sejak Cage bangkit dari komanya dan mencuri “kulit” yang ditinggalkan Travolta. Maka dua karakter inipun bertukar wujud, dan selamat menikmati kelanjutannya. Film ini benar-benar tipikal ledakan ala Woo yang dibiayai sebesar mungkin hingga hasilnya hampir spektakuler dan sanggup memaksa logika diam membisu. Tak banyak bangunan dramatik yang bisa diprotes dari dongeng gelap yang membakar layar dengan cukup stylish ini. Kegenitan film ini tentu saja jadi berlipat ganda oleh salah dua aktor blockbuster paling genit di Hollywood: Cage dan Travolta, bukan pilihan yang salah kalau Woo – atau siapapun – memilih dua tipe karakter khas tersebut untuk menghidupkan film tentang karakter ini. Tapi lama kelamaan akting khas kedua manusia yang sudah terlalu akrab dengan kita ini muncul terlalu depan sehingga kita lupa mana aktor dan mana tokoh film. Akting bagus Allen sebagai istri Travolta mungkin lebih mudah dikomentari. [R]
Faculty, The ()- 1998 / Robert Rodriguez / Elijah Wood, Jordana Brewster, Laura Harris, Shawn Hatosy, Clea Duvall, Josh Hartnet, Salma Hayek, Piper Laurie, Bebe Neuwirth, Robert Pattrick, Fammke Jansen, Christopher McDonald, Daniel von Bargen, Jon Stewart, Usher Raymonds, Summer Phoenix, John Abraham / [110 mnt] The Faculty dibuka dengan adegan awal yang cukup lincah, dari sini kita semakin penasaran akan seperti apa hasilnya kolaborasi unik Rodriguez (si Hispanik revisionis) dengan penulis skenario Kevin Williamson (Bapak ABG se-Amerika) ini. Ceritanya mengambil tempat di sebuah SMU di Ohio, Casey (Wood), seorang pelajar yang tak punya banyak teman, menemukan benda aneh di halaman kampus, dia lalu membawanya ke laboratorium untuk diteliti bersama guru-guru dan teman-temannya. Tak lama kemudian beberapa guru telah berubah menjadi alien! Maka Casey dan beberapa orang temannya – yang komposisinya sangat stereotip film-film ABG Amerika -–harus menyelamatkan diri mereka sendiri, sekolah, Ohio, Amerika, dan pada dasarnya dunia, dari serangan makhluk jahat dari luar angkasa. Tentu masih ada kejutan-kejutan lain di belakang itu. Film ini memang tidak selalu menarik dari menit ke menit, namun setidaknya bagian yang menghibur lebih banyak dari bagian yang membosankan, walau dengan satu syarat: jangan jadikan kata “klise” dan “formulaic” sebagai barang haram, lagipula Rodriguez berhasil menebus beberapa ketidakbaruan plot dan hook-nya dengan beberapa sentuhan penyutradaraan yang segar. Nilai plus: semua pemeran film ini sangat atraktif dan tokoh-tokoh yang mereka mainkan pun memang patut diperdulikan. Itu saja cukup untuk membuat The Faculty sebagai sesuatu yang bernilai di atas rata-rata karya Williamson. [R]
Fair Game ()- 1995 / Andrew Sipes / William Baldwin, Cindy Crawford, Steven Berkoff, Christopher McDonald, Salma Hayek, Miguel Sandoval, Johann Carlo, Jenette Goldstein, Olek Krupa, John Bedford Lloyd, Don Yesso, Sonny Davis, Scott Campbell, Frank Medrano / [91 mnt] Crawford bermain sebagai seorang pengacara, Baldwin sebagai seorang polisi yang harus melindunginya dari kejaran seorang bekas agen KGB. Secantik apapun sang pengacara, pekerjaan ini tetap saja bukan sesuatu yang terlalu menyenangkan bagi sang polisi, karena kemanapun mereka pergi, sang pengejar selalu bisa mengikuti mereka berkat teknologi tinggi yang dimilikinya. Maka………. anda tahu sendiri bagaimana kelanjutannya. Film ini berhasil mengumpulkan segala macam keklisean film action menjadi sebuah tontonan yang….klise juga, tak ada hal baru di sini. Daya tarik utamanya mungkin hanya kehadiran Crawford, yang ternyata memang ditakdirkan untuk menjadi supermodel dan sekitarnya saja (sebagai perbandingan, Elle MacPherson mungkin lebih punya “takdir sampingan” sebagai aktris yang cukup baik). Efek visualnya menggelegar, namun bukankah itu cuma bagian dari keklisean? [R]
FairyTale: A True Story ()- 1997 / Charles Sturridge / Florence Hoath, Elizabeth Earl, Paul McGann, Phoebe Nicholls, Bill Nighy, Bob Peck, Peter O'Toole, Harvey Keitel, Anton Lesser (cam: Mel Gibson) / {BRITANIA} / (98 mnt) / (( Illumination )) / Film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Cottingley sekitar Bradford pada tahun 1917. Dua orang anak, Elsie Wright (Hoath) dan Frances Griffiths (Earl), mengaku telah bergaul dengan dunia peri-peri kecil dan membuktikannya dengan foto-foto yang berhasil mereka ambil. Mereka semula hanya menunjukannya pada orang tua mereka, namun tak urung ini menarik perhatian wartawan, dan bahkan - tak tanggung-tanggung - perhatian Sir Arthur Conan Doyle (O’Toole) dan Harry Houdini (Keitel)! Film ini kemudian mencoba berpolemik menyangkut kisah kedua gadis tadi. Fairytale dituturkan dengan gaya bercerita dan visualisasi yang sama manisnya, semua sudut pandang terseimbangkan dan dunia peri tanpa malu-malu diserempetnya pula. Beberapa aspeknya agak getir (film ini bersetting masa Perang Dunia I), namun sisi-sisi yang manis tentang dunia anak yang penuh semangat dan impian juga tergarap rapi. Duet Hoath dan Earl tampil menawan, mereka membuat kita selalu berada di pihak mereka. Kehadiran O’Toole dan Keitel sudah menunjukkan bahwa film ini tak segan mempekerjakan bintang, namun selain menikmati akting matang mereka, jelikanlah mata anda dan temukan juga Mel Gibson dalam film ini! Catatan kecil : 1) Pada waktu hampir bersamaan, film “Photographing Fairies” dirilis sebagai adaptasi resmi dari novel Steve Szilagy, Szilagy sendiri berkeras bahwa Fairytale menjiplak novelnya, 2) Foto kontroversial itu dilelang sekitar tujuhpuluh tahun kemudian dengan harga sekitar £20.000,00. [PG]
Fall () -1997 / Eric Schaeffer / Eric Schaeffer, Amanda De Cadenet, Francie Swift, Lisa Vidal, Roberta Maxwell, Jose Yenque, Josip Kuchan, Rudolph Martin, Rocket Redgrave / (94 mnt) Michael (Schaeffer) adalah seorang penulis novel sekaligus sopir taksi. Dia tergila-gila pada seorang model bernama Sarah (De Cadenet). Dengan berbagai cara dan pemanfaatan kesempatan, Michael berhasil menarik Sarah dari sebuah angan-angan menjadi kenyataan sehari-hari dalam hidupnya. Semua tidak selalu berjalan mulus, nah, film ini menggunakan teman-teman Michael sebagai komentator untuk segala permasalahannya. Karya Schaeffer sebelum ini “If Lucy Fell” adalah sebuah komedi romantis yang mengecewakan, namun kata “mengecewakan” sedikit lebih baik dibanding “menjijikan” yang hampir pantas disandang film ini. Dalam Fall Schaeffer benar-benar membuktikan bahwa dirinya adalah seorang narsistis yang begitu percaya diri sehingga menganggap segala sesuatu yang dilakukan dan dibuatnya adalah hal yang harus disukai orang lain. Semua yang tampil dalam film ini tak pernah mengenai sasaran, apa yang diharapkan Schaeffer bisa mengundang simpati kita malah membuat kita muak, sementara apa yang dia anggap “salah” dan “antagonis” malah menjadi bagian yang paling kita sukai dalam film ini. Setelah menonton “If Lucy Fell” dan Fall, kami berharap tak ada studio yang memberi Schaeffer kesempatan ketiga, kecuali kalau dia berjanji akan membuat film yang lebih menyenangkan. [R]
Falling Down ()- 1993 / Joel Schumacher / Michael Douglas, Robert Duvall, Barbara Hershey, Rachel Ticotin, Frederic Forrest, Tuesday Weld, Lois Smith, Raymond J.Barrie, Michael Paul Chan, DeeDee Pfeiffer, Jack Kahoe / [115 mnt] Sudah lama kita tak melihat seorang pemarah digambarkan semarah ini. Douglas bermain sebagai seorang penderita depresi "korban modernisme" yang mengamuk dalam sebuah petualangan berdarah di kotanya, mengeluhkan dan menggugat sistem, kenyataan hidup, dan juga nasibnya pribadi. Duvall bermain sebagai polisi yang di hari terakhirnya di kepolisian mencoba menjinakan amukan Douglas. Film ini mempunyai irama yang sangat enak untuk dinikmati, alurnya padat, bisa dipercaya, dan dialog-dialognya tajam (walau sering kali agak rasialis). Douglas pun memperoleh ruang yang tepat untuk mendemonstrasikan kemampuan beraktingnya. Tapi, jika anda hanya bisa menikmati film dengan tema yang luas dan mempunyai kekuatan pada hubungan sebab-akibat kejadian-kejadiannya, Falling Down sama sekali bukan pilihan yang tepat! [R]
Falling from Grace ()- 1992 / John Mellencamp / John Mellencamp, Mariel Hemingway, Kay Lenz, Claude Akins, Dub Taylor, Larry Crane, Brent Huff, Deidre O’Connell / [100 mnt] Mellencamp tiba-tiba menyutradarai film dan berakting sebagai seorang penyanyi country yang kembali ke kampung halamannya bersama anak dan istrinya. Di sana dia bernostalgia secara agak berlebihan dengan bekas pacarnya (Lenz) yang sekarang telah menjadi adik iparnya sekaligus pacar ayahnya. Film ini memang tidak sepenuhnya jelek, ada beberapa bagian yang cukup menarik, namun sentimentalitas dan keklisean yang berlebihan membuatnya kehilangan tenaga untuk menarik perhatian kita. Hemingway dan Lenz patut dihargai atas usaha mereka untuk bermain baik, sementara di antara begitu banyak hal membosankan dalam film ini, rasanya akting sang sutradara adalah salah satu yang paling mengganggu. [PG-13]
Fall Time (½)- 1993 / Paul Warner / Stephen Baldwin, Mickey Rourke, Sheryl Lee, Jason London, David Arquette, John Blechman /[93 mnt] Tiga orang pemuda tanggung bermain-main sebagai kelompok kecil gangster yang berencana melakukan penembakan di depan sebuah bank, namun tanpa disangka-sangka mereka harus berurusan dengan sepasang perampok sungguhan (Baldwin dan Rourke). Setelah seorang pegawai bank (Lee) ikut terlibat, nyawa kelima orang ini bagaikan seutas benang tipis. Film keras dan pendek ini terasa terlalu mengada-ada, namun tetap tidak kekurangan daya tarik. [R]
Fan, The (½)- 1996 / Tony Scott / Robert De Niro, Wesley Snipes, John Leguizamo, Ellen Barkin, Benicio del Torro, Patti D’Arbanville-Quinn, Chris Mulker, Brandon Hammond, Charles Hallahan, Andrew Ferchland / [112 mnt] Gil (De Niro) adalah seorang duda yang mempunyai hubungan yang sangat buruk dengan bekas istrinya sehingga dia sangat sulit untuk berhubungan secara lancar dengan anak laki-lakinya, dia juga baru kehilangan pekerjaannya sebagai seorang salesman pisau, pendeknya, laki-laki ini hampir tak pernah berhasil mengerjakan hal-hal penting dalam hidupnya dengan benar. Hiburan yang paling disukai Gil adalah menonton baseball, dia sangat mengagumi Joe Rayburry (Snipes), dia akan melakukan apa saja untuk memuaskan kekagumannya pada Joe. Joe sendiri adalah seorang bintang yang baru ditransfer dengan harga 40 juta dollar, namun di tim barunya namanya sempat tenggelam di bawah bayang-bayang Primo (Del Torro) yang kebetulan menggunakan nomor kesayangan Joe, 11. Pamor Joe baru terangkat lagi setelah Primo terbunuh dengan tragis, kejadian ini juga mengubah semua pandangan Joe tentang karir, kehidupan, dan juga penggemar. Joe juga merasa tidak diuntungkan dengan kematian Primo dan tidak harus berterimakasih pada pembunuh Primo. Scott menyutradarai film ini dengan sangat baik lewat gaya yang berdebu dan penuh lonjakkan, fotografinya juga sangat bagus. Film ini menanjak dengan sangat menarik, namun begitu memasuki setengah bagian kedua, film ini mulai kehilangan unsur logisnya walau tidak terlalu kehilangan kemenarikan. Gil adalah sebuah peran yang hanya bisa dimainkan dengan baik oleh hanya satu aktor di dunia, walau terus terang saja kita tidak habis pikir kenapa orang itu belum juga bosan memainkan peran seperti ini. [R]
Far and Away (½)- 1992 / Ron Howard / Tom Cruise, Nicole Kidman, Thomas Gibson, Robert Prosky, Barbara Babcock, Colm Meaney, Eilleen Pollock, Michelle Johnson, Cyril Cusack, Clint Howard, Rance Howard / [140 mnt] Pada akhir abad 19 di Irlandia, Joseph Donelly, seorang petani miskin (tapi tampan), melakukan kesalahan pada tuan tanahnya, dan dia melipatgandakan kesalahan itu dengan pergi ke Amerika bersama Shannon, putri sang tuan tanah. Materi cerita film ini sesungguhnya tak mencukupi untuk dijadikan sesuatu yang menarik, dan merentangkannya hingga dua jam lebih bukanlah keputusan yang bijaksana. Untunglah beberapa adegan action tercipta dengan sangat baik berkat ketelitian Howard dan penata kameranya. Cruise dan Kidman boleh dituduh terlalu memuja diri sendiri dengan bermain bersama dalam film ini, namun bagaimanapun keduanya memang memancarkan daya pikat yang luar biasa lewat akting dan tampang yang sama bagusnya. Penataan musik John Williams cukup mengesankan, bidadari jenius Irlandia, Enya, juga ikut menyumbang salah satu lagu, “Book of Days”. [PG-13]
Farewell My Concubine (½)- 1993 / Chen Kaige / Leslie Cheung, Zhang Fengyi, Gong Li, Lu Qi, Ying Da / (CINA) / {Bahasa Mandarin} [155 mnt] ((Bawang Bie Ji)) Kisah besar dan panjang ini menceritakan persahabatan Duezhi dan Shitou sejak kecil sebagai dua orang anak laki-laki yang ikut dalam sebuah grup opera, sampai mereka dewasa dan menjadi pemain opera terkemuka dengan nama Cheng Dieyi dan Yang Xiaolou. Selama itu, Cheng selalu memainkan peran wanita, dan dia terobsesi oleh perannya dalam sebuah lakon (“Farewell My Concubine”) yang menyebabkan dia jatuh cinta pada Yang yang selalu menganggapnya teman biasa. Sulit mengambil kesimpulan tentang emosi dan motivasi para tokoh yang terlibat dalam film ini, semuanya tampil dengan kerumitannya masing-masing dan membias dalam rangkaian peristiwa yang teruntai sejak tahun 20-an sampai melewati zaman penjajahan Jepang dan revolusi kebudayaan komunis. Sungguh sebuah film besar dengan penyutradaraan, sinematografi, tata artistik, akting, dan segala aspek filmis lainnya yang hampir tanpa cacat, begitu besarnya sehingga berkali-kali kita merasa bahwa kita telah melewati klimaks.
* Cannes: Film Terbaik
Fargo (½)- 1996 / Joel Coen / Frances McDormand, William H.Macy, Steve Buscemi, Harve Presnell, Peter Starmare, Kristin Rudrud, Tony Denman, John Carroll Lynch, Bruce Bohne / [98 mnt] Seorang manajer eksekutif di sebuah perusahaan mobil, Jerry Lundegaard (Macy) yang sedang berada dalam kesulitan keuangan, meminta seorang penjahat kecil (Buscemi) dan rekannya (Stormare) untuk menculik istrinya sendiri/Ny Lundergard (Rudrud) agar Jerry bisa menikmati uang tebusan yang akan dibayar mertuanya (Presnell) yang juga atasannya. Kurang kejikah itu? Tentu saja sangat keji, apalagi di mata Marge Gunardsson (McDormand), seorang sheriff yang sedang hamil tujuh bulan, yang akhirnya menjadi pemeran utama dalam menangani kasus ini. Ini adalah kisah nyata dari tahun delapanpuluhan, dan mungkin sulit mempercayai itu ketika filmnya dibuat oleh Coens bersaudara. Memang Fargo tidak mungkin seliar film-film mereka yang murni fiksi (jangan harapkan keriuhrendahan tanpa henti ála “Raising Arizona” atau pameran surrealisme ála “Barton Fink”!), namun komik thriller ini masih dengan tega menggabungkan aktualisasi tragis dengan unsur komedi yang kadang “kurang sopan” untuk ukuran sebuah film yang diilhami oleh kisah nyata seperti ini, mungkin itulah nilai lebihnya sehingga endingnya yang seenaknya pun tidak menjadi masalah besar untuk penonton. Tapi tentu Joel dan Ethan tidak hanya sekedar nakal, mereka juga berwawasan dan observatif. Fargo mengajak kita mengenal berbagai jenis manusia dan kehidupan sosial tanpa terasa menerangkan dengan sengaja. Secara umum tak ada pemain yang tidak bermain baik (tentu kebanyakan dalam gaya yang agak karikatural), namun cara McDormand dan Macy menghidupkan peran unik yang mereka mainkan benar-benar sulit dilupakan, termasuk logat mereka. Para penilai film yang kurang akrab dengan gaya The Coens akan menganggap Fargo pantas untuk dianggap sebagai hiburan terunik di tahunnya, namun penggemar Coen bersaudara justru akan menganggapnya terlalu jinak dan terlalu mengingatkan mereka pada “Blood Simple”. Bisa kita anggap sangat bagus secara keseluruhan? “Yaa, yaa, you betcha!” seperti kalimat Marge yang langsung terkenal di Amerika begitu Fargo, salah satu sensasi indie terbesar sepanjang dekade ini, diributkan orang. [R]
* Academy Awards: Skenario Asli Terbaik (Joel & Ethan Coen), Aktris Utama Terbaik (McDormand), Cannes: Sutradara Terbaik (Coen), SAG. Awards: Aktris Utama Terbaik (McDormand), Independent Spirits Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Joel & Ethan Coen), Aktris Utama Terbaik (McDormand), Aktor Pendukung Terbaik (Macy)
Fear and Loathing Las Vegas ()- 1997 / Terry Gilliam / Johnny Depp, Benicio Del Toro, Tobey Maguire, Ellen Barkin, Gary Busey, Christina Ricci, Mark Harmon, Cameron Diaz, Katherine Helmond, Michael Jeter, Penn Jillette, Craig Bierko, Lyle Lovett, Harry Dean Stanton, Flea, Richard Portnow / (128 mnt) / Gilliam memfilmkan novel Hunter S. Thompson dalam bentuk komik gila tentang Raoul Duke (Depp) yang berada dalam perjalanan untuk mereporteri sebuah pertandingan balap. Dunia Duke adalah tumpukkan dunia nyata dan dunia di bawah pengaruh obat bius, dan Gilliam tidak memberinya batas yang jelas. Depp mungkin sangat menjijikan dan dianggap over akting, seover-overnya, oleh sebagian pemirsa, tapi yang lain akan menganggapnya penampilan komik paling sukses dalam dekade ini. Film yang sangat ribut dan sangat unik, bukan untuk memenuhi selera semua orang. [R]
Fear Inside, The (½)- 1991 / Leon Ichaso / Christina Lahti, Dylan McDermott, Jennifer Rubin, David Ackroyd, Thomas Ian Nicholas / [115 mnt] Thriller sakit berbudget rendah ini bercerita tentang Meredith (Lahti), seorang seniman yang mengidap banyak sekali phobia hingga suaminya (Ackroyd) tak tahan lagi untuk tinggal bersamanya. Suatu hari datanglah sepasang buronan berkelakuan tak kalah anehnya (McDermott dan Rubin) untuk menumpang di rumahnya dengan segala macam dalih dan tipuan, dan mulailah teror nyata dari dunia luar mengancam Meredith. Ichaso cukup berhasil memvisualkannya dengan lumayan mencekam hanya dengan memakai lima pemain aktif, dan semuanya - terutama Lahti dan Rubin - pantas meminta bayaran dua kali lipat untuk akting mereka dan skenario dua kali lebih baik dari yang mereka mainkan. [R]
Fearless (½)- 1993 / Peter Weir / Jeff Bridges, Isabella Rosellini, Rosie Perez, Tom Hulce, John Turturro, Benicio del Torro, Deidre O’Connell, John de Lancie, Spencer Voorman / [122 mnt] Setelah selamat dari sebuah kecelakaan pesawat terbang, Max (Bridges) mulai mempertanyakan pemahamannya akan makna hidupnya selama ini. Perubahan Max ini membuat istrinya, Laura (Rosellini) harus kembali berusaha untuk mengenal suaminya dari awal, apalagi setelah masuknya Clara (Perez), penumpang lain yang selamat, dalam kehidupan mereka. Skenario Rafael Yglesias yang penuh petualangan batin, direalisasikan Weir dengan tempo dan dinamika yang pas dan tepat sasaran, walau pada bagian awal banyak scene yang terlalu pendek hingga awal cerita terasa tidak tersusun lancar. Fotografi, editing, dan penataan musik adalah kekuatan lain yang turut menciptakan tekanan emosional yang tepat. Akting Bridges pantas disebut hampir sempurna. Mendampinginya, Rosellini bermain cemerlang, ini adalah penampilan terbaik selama karir aktingnya yang selalu berada di bawah bayang-bayang kebesaran nama Mama Bergman, sementara Perez juga tak kalah bagusnya, karena aktingnyalah beberapa scene menjadi terasa begitu nyata. Film bagus ini tidak begitu dilirik Hollywood di tahunnya. Fearless hampir pantas mendapat nilai , dan pantas untuk menjadi sebuah penebus disaat melodrama-melodrama lain buatan Hollywood semakin mudah membuat kita tertidur saat menonton. [R]
Feeling Minnesota ()- 1996 / Steven Baigelman / Keanu Reeves, Vincent D’Onofrio, Cameron Diaz, Delroy Lindo, Courtney Love, Tuesday Weld, Dan Aykroyd / [96 mnt] Film ini mulanya hanya bercerita tentang cinta segitiga yang kotor antara Jjak (Reeves), kakaknya, Tom (D’Onofrio), dan Freddie (Diaz), wanita yang baru dinikahi Tom. Keadaan kemudian berkembang memburuk, sangat memburuk, setelah Jjak dan Freddie lari bersama dari kota tempat tinggal mereka. Cinta dan uang menjadi masalah yang membuat segala hal di dunia, termasuk cerita film ini, menjadi sangat rumit dan kacau balau. Karakter-karakter sakit berseliweran lalu lalang di film ini dan terciptalah situasi-situasi yang hanya mungkin terjadi apabila orang-orang aneh terlibat di dalamnya, itulah modal yang membuat penonton merasa selalu ingin mengetahui kelanjutannya. D’Onofrio adalah pemeran yang paling pantas menjadi sasaran pujian, namun para pemain lain (termasuk Love dalam debutnya sebagai seorang pramuniaga kedai kopi) juga bermain bagus. [R]
Few Good Men, A ()- 1992 / Rob Reiner / Tom Cruise, Demi Moore, Kevin Pollack, Kevin Bacon, James Marshall, Jack Nicholson, J.T.Walsh, Kieffer Sutherland, Matt Craven, Cuba Gooding, jr., Xander Berkeley, Christopher Guest / [135 mnt] Dua orang anggota marinir muda AS diajukan ke pengadilan dengan tuduhan pembunuhan rekannya, Kafee (Cruise) adalah pengacara militer yang menangani kasus ini dan menyingkap apa sebenarnya yang telah terjadi. Film ini berjalan lurus-lurus saja dengan gaya tampilan yang standar, sekuen terakhir pengadilan adalah bagian yang paling bagus setelah sebelumnya banyak hal terjadi secara kebetulan dan luar biasa. Nicholson bermain mengandalkan kharismanya, Moore dan Pollack bermain lumayan untuk casting yang kurang tepat, sementara sang pahlawan utama, Cruise yang biasanya bagus, anehnya sering terasa over-akting. [R]
Fifth Element, The ()- 1996 / Luc Besson / Bruce Willis, Milla Jovovich, Gary Oldman, Chris Tucker, Brion James, Ian Holm, Luke Perry, Tricky / (A.S - PRANCIS) / [107 mnt] Menjelang pertengahan abad duapuluh satu, dunia memerlukan lima elemen untuk membuat pengisinya selamat, salah satunya adalah sesosok “makhluk mulia” bernama Leeloo (Jovovich, kemudian menjadi Ny.Besson). Willis adalah sebuah seorang sopir taxi biasa di New York abad 21 yang tiba-tiba harus terlibat dalam sebuah urusan yang menyangkut nasib dunia ketika Leeloo tiba-tiba nyasar ke dalam taxinya tanpa bisa diajak berkomunikasi dalam Bahasa Inggris sepatah katapun. Menarik sekali menikmati Besson berkarya dengan budget besar di Hollywood, keeksentrikannya sangat terasa hingga dalam beberapa hal film ini masih terasa berbau budaya alternatif Eropa sembilanpuluhan, namun ngepopnya Hollywood masih juga nimbrung di sana-sini. Bagaimanapun, film ini cukup menarik untuk dijadikan hiburan ringan, memang banyak hal klise di dalamnya, namun termasuk salah satu yang kurang klise dibanding science fiction sezamannya. Kostum film ini dirancang oleh Jean Paul Gaultier, penuh warna dan senada dengan selera humor yang dibawanya. [PG-13]
Fight Club (½)- 1999 / David Fincher / Brad Pitt, Edward Norton, Helena Bonham Carter, Meat Loaf, Jared Leto, Van Quattro, Markus Redmond, Michael Girardin, Rachel Singer, Sydney "Big Dawg" Colston, Pat McNamara, Zach Grenier / (139 mnt) Pegawai kantoran tanpa nama (Norton) bertemu dengan Tyler (Pitt) di atas sebuah pesawat terbang, bentung tas mereka adalah hal pertama yang membuat mereka akrab. Hubungan mereka berkembang ke keterlibatan mereka dalam sebuah klub yang terdiri dari para pria yang menemukan diri mereka dalam pertarungan adu pukul satu lawan satu. Otot, otak, dan filsafat semua digunakan dalam proporsi yang tidak wajar, tetapi semua anggota klub ini telah benar-benar hidup di dunia mereka sendiri, dan Tyler adalah orang yang paling berpengaruh. Karakter Norton sendiri kemudian berada dalam proses menemukan kembali kesadaran lamanya, namun proses ini tak pernah lengkap karena dia segera terjerumus dalam pengalaman-pengalaman yang bahkan lebih ekstrem. Siapa Tyler sesungguhnya? Atau lebih tepatnya lagi, apa yang cooba dipersonifikasikan film ini dalam sosok Tyler? Kisah "Fight Club" dalam beberapa segi mempunyai kemiripan dengan kisah film David Cronneberg "Crash", tentang manusia-manusia yang terjebak dalam kehampaan modernisme, kemudian mencoba memuaskan sisi spiritual mereka dengan fetisme yang…ternyata juga hampa. Fincher memfilmkan novel Chuck Palahniuk dengan gayanya yang khas, dinamis, brutal, dan bertempo tinggi. Kita benar-benar tak bisa melepaskan diri dari tegangannya. Pitt dan Norton mengeluarkan segenap kemampuan mereka, dan kita tahu seperti apa kemampuan mereka. Para pemeran pendukung, terutama Bonham-Carter, sebagai wanita yang coba mengembalikan Norton (walau diapun tidak 100% bias), dan Meat Loaf, sebagai salah satu anggota klub, juga mengagumkan. Salah satu film wajib tonton di tahun 1999. [R]
Final Analysis ()- 1992 / Phil Jouanou / Richard Gere, Kim Basinger, Uma Thurman, Eric Roberts, Paul Guilfoyle, Keith David, Agustin Rodriguez / [125 mnt] Judulnya terdengar cerdas, popularitas trio pemain utamanya mentereng, dan ceritanyapun tak terlalu jelek: dua orang wanita (Basinger dan Thurman) yang sanggup mengelabui setiap orang, termasuk seorang psikiater (Gere) yang merawat Basinger. Film ini dimaksudkan untuk menjadi sebuah thriller, namun penyusunan plotnya tak mendukung hingga hasilnya menjadi hambar sekali. Akting bagus Basinger dan Thurman adalah dua unsur yang tidak hambar. [R]
Finding Graceland (½)- 1999 / David Winkler / Harvey Keitel, Jonathon Schaech, Bridget Fonda, Gretchen Mol, John Aylward, Susan Traylor, Tammy Isbell, Peggy Gormley / (97 mnt) / Satu lagi eksploitasi mitos ala Hollywood. Byron (Schaech) adalah seorang laki-laki yang terus menerus menyesali kematian istrinya (Mol). Dalam sebuah perjalanan dia bertemu dengan seorang laki-laki setengah baya (Keitel) yang mengaku sebagai Elvis! Sepanjang perjalanan si Elvis ini berlaku macam-macam, sebagian tindakannya mengesalkan Byron, namun tak kurang juga yang membawanya keluar dari kesulitan. Pria ini juga berkali-kali menunjukkan bukti-bukti yang sulit dibantah bahwa dia adalah Elvis. Banyak hal yang menentukan suka atau tidak sukanya kita pada film ini, apakah cerita seperti ini cukup masuk akal bagi kita, apakah kita menjadi bagian dari dunia mitologi modern Amerika, apakah kita bisa melihat sesuatu yang “Elvis” dalam Keitel, dan banyak lagi. Keterlibatan janda Elvis, Priscillia, dalam deretan produser eksekutif film ini bisa dianggap sebagai bentuk narsisme yang mengherankan. Itulah Hollywood, yang - seperti juga Elvis – selalu penuh misteri. {PG-13}
Firefall (½)- 1993 / John Irvin / Pamela Gidley, Eric Roberts, Jeff Fahey / [95 mnt] Kathy (Gidley) adalah seorang fotografer yang pernah menjalin hubungan dengan Grant (Roberts), seorang atlet. Ketika mereka bertemu lagi, Grant mengaku bahwa dia adalah seorang interpol internasional dan terpaksa membawa Kathy ke dalam situasi yang berbahaya menghadapi sekelompok penjahat Prancis. Pacar Kathy (Fahey) tidak menyukai semua ini. Alasan pertama: dia cemburu, alasan kedua? Temukan jawabannya sendiri jika anda masih bisa tertarik oleh film ini. [R]
Firelight (½)- 1997 / William Nicholson / Sophie Marceau, Stephen Dillane, Kevin Anderson, Joss Ackland, Lia Williams, Dominique Belcourt / {BRITANIA - AMERIKA SERIKAT} / (103 min.) / (( Le Lien Sacre )) / Ketika ayahnya sedang terlibat utang, Elizabeth (Marceau) mengorbankan dirinya untuk sebusah perjanjian yang riskan: memberi anak pada seorang bangsawan Inggris (Dillane). Setelah anak itu lahir, wanita Swiss ini membiarkan orang Inggris itu membawa si bayi. Beberapa tahun kemudian, kita menemukan Elizabeth bekerja sebagai pengasuh/guru pribadi bagi si anak (Belcourt), tentu dia tidak diizinkan meberi tahu anak itu siapa dirinya sebenarnya. Sekarang, rumah aristokrat itu menjadi tempat berkumpulnya emosi-emosi yang terkekang dan siap untuk meledak. Tugas pertama kita sebagai penonton adalah menerima jalinan kisah dilema moral melodramatis itu sebagai sesuatu yang mungkin terjadi, bila kita tidak bisa menganggapnya demikian, maka sulit sekali bagi kita untuk bisa menikmati film ini secara keseluruhan. Nicholson tak pernah menciptakan adegan standar yang hanya seindah aslinya (penata kamera Nic Morris berperan besar dalam hal ini), pada titik terbaik mereka menampilkan adegan yang terlihat bagai isi sebuah mimpi indah dan dahsyat, dan pada titik terburuk kita temukan beberapa adegan yang secara teknik visual hanya merupakan pengulangan dari adegan lain dalam setting berbeda. Tapi apapun yang dicobanya, sekali lagi, kita harus berurusan dulu dengan ceritanya lebih dulu dan mengadilinya : menghanyutkan atau sangat tidak masuk akal. [R]
Firm, The (½)- 1993 / Sidney Pollack / Tom Cruise, Gene Hackman, Jeanne Tripplehorn, Holly Hunter, Ed Harris, Hal Holbrook, Terry Kinney, Wilfrod Brimley, David Strathairn, Garry Busey, Tobin Bell, Steven Hill, Barbara Garrick, Jerry Hardin, Paul Calderon, Karina Lombard / [154 mnt] Seorang pengacara muda berbakat (Cruise) menyimpan rahasia keluarga yang bisa mengancam karirnya. Dia menerima tawaran kerja yang menjanjikan kesejahteraan dari sebuah firma, di sinilah, segala sesuatu yang disembunyikan - baik oleh dia maupun oleh firma tempatnya bekerja - membawa semua fihak pada persoalan rumit dan penuh kebusukan yang mengundang FBI untuk turut campur di dalamnya. Kita tak akan merasa lelah membaca novel “The Firm” karya John Grisham, serumit apapun jalan ceritanya, namun film ini tak memvisualkannya dengan efektif, banyak plot yang bertumpuk dengan tak jelas. Satu-satunya hal yang jelas adalah: film ini terlalu panjang, pengetatan cerita mungkin akan bisa membuatnya lebih baik. Terimakasih untuk ensemble aktingnya, dipimpin kharisma Cruise, yang berhasil membuat karakterisasi tokoh-tokoh yang mereka mainkan tetap menarik. [R]
First Knight (½)- 1994 / Jerry Zucker / Richard Gere, Sean Connery, Julia Ormond, Ben Cross, Liam Cunningham, Chris Villiers, Val Verke, Colin McCormack, Ralph Ineson, John Gielgud, Jane Robbins / [133 mnt] Kisah cinta segitiga King Arthur, permaisurinya Guinevere, dan ksatrianya Lancelot kembali lagi ke layar perak dengan gaya pop “Robin Hood. Prince of Thieves” (studio yang sama, produser yang sama dan beberapa kru yang sama). Akting Gere tidak sedikitpun membuat film ini lebih menarik, untunglah Connery begitu kharismatik sebagai King Arthur, dan kharisma juga terpancar kuat dari aktris semuda Ormond. Dengan tata artistik yang “wah” dan skenario yang sangat manis film ini tak memberikan banyak hal selain hiburan ringan khusus untuk para pengagum gemerlapnya Hollywood. [R]
Fisher King, The (½)- 1991 / Terry Gilliam / Jeff Bridges, Robin Williams, Mercedes Ruehl, Amanda Plummer, Michael Jater, John de Lancie / [137 mnt] Komedi eksentrik ini bercerita tentang persahabatan mutual dan unik antara Jack (Bridges), seorang penyiar radio yang sedang menuju perusakan diri sendiri, dengan Parry (Williams), profesor sejarah yang menggelandang dan selalu dihantui halusinasi-halusinasi yang disebabkan oleh obsesinya akan Holy Grail setelah istrinya dibantai oleh seorang penggemar fanatik Jack. Kemandirian gaya penyutradaraan yang khas Terry “Monty Python” Gilliam serta akting hebat keempat pemain utamanya, dengan dukungan para pemain tambahan yang juga hebat, membuat hiburan segar ini tak pantas dinilai dengan kata lain selain “BAGUS”, kecuali “SANGAT BAGUS”. Film ini akan lebih mendapat simpati dari pemirsa yang tahu apa artinya "kesepian" dan "tak punya teman". [R]
* Academy Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Ruehl), Golden GapeGlobe: Aktor Terbaik Musikal/Komedi (Williams), Aktris Pendukung Terbaik (Ruehl)
Flesh and Bone ()- 1993 / Steve Kloves / Dennis Quaid, Meg Ryan, James Caan, Gwyneth Paltrow, Scott Wilson, Christopher Rydell, Betsy Brantley, Julia Mueller, Ron Kihlman, Ryan Bohls / [127 mnt] Quaid menjalani kehidupan yang monoton dari hari ke hari berkeliling dengan truknya sebagai sales mesin koin, dia kemudian bertemu Ryan, seorang wanita alkoholik yang telah mencoba berbagai macam gaya hidup namun belum juga menemukan sesuatu yang berarti. Keduanya tampak akan menikmati kebersamaan dengan tentram sampai kehadiran kembali Caan, ayah Quaid, yang membuka kenangan penuh darah dan penuh kejahatan dari masa kecil Quaid, yang ternyata lebih dari sekedar berhubungan dengan masa kecil Ryan. Apa yang harus dipecahkan oleh cerita film ini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang sangat menarik, bahkan di akhir cerita pun kita tidak menemukan sesuatu yang hebat. Namun perealisasian ala Kloves dan krunya cukup untuk membuat kita terus terpaku di depan layar, terutama berkat fotografi yang sangat ekspresif. Suami istri Quaid dan Ryan bermain sangat baik, Caan - walau sangat tipikal - juga patut mendapat pujian, sedangkan Paltrow membuat loncatan besar lewat peran penting pertamanya ini, setiap kehadirannya sebagai pacar Caan di sini selalu membuat kita tak bisa mengalihkan pandangan darinya. [R]
Flinstones, The ()- 1994 / Brian Levant / John Goodman, Rick Moranis, Elizabeth Perkins, Rosie O’Donnell, Elizabeth Taylor, Kyle McLachlan, Halle Berry, Jonathan Winters, Richard Moll, Irwin Keyes / [92 mnt] Menyusul keluarga Addams dan keluarga-keluarga TV lainnya, keluarga Flinstones dari Bedrock ikut menembus layar perak dengan budget besar. Fred (Goodman), dengan pertolongan Bernie (Moranis), menempatkan dirinya menjadi wakil presiden di sebuah perusahaan besar. Kenaifan Fred membuatnya tidak waspada akan niat buruk presiden eksekutifnya (McLachlan) dan sekretarisnya (Berry). Untuk beberapa saat film ini cukup lucu dan spektakuler, tetapi jalinan cerita semakin lama semakin tidak menarik, dan kalau itu bukan prioritas utama, penciptaan suasana unik Bedrock pun semakin lama semakin hambar dan semakin muluk. Tidak memuaskan, namun tidak jelek, setidaknya kita boleh memuji pemilihan para pemain yang sangat mirip penampilan pisiknya dengan tokoh kartunnya, terutama Moranis dan Perkins, dua orang ini betul-betul seperti fotokopi dari sosok Bernie dan Wilma versi kartun. Pokoknya, Yabbadabadooo…..! [PG]
Flirt (½)- 1995 / Hal Hartley / Bill Sage, Dwight Ewell, Miho Nikaidoh, Robert Burke, Martin Donovan, Erica Gimple, Michael Imperioli, Harrold Perrinau, Parker Posey, Patricia Scanton, Paul Shulzie, Karen Silias, Hannah Sullivan, Jose Zuniga, Erina Lowensohn, Miho Nikaidoh / (A.S - JERMAN - JEPANG) / {Bahasa Inggris - Bahasa Jerman - Bahasa Jepang} [100 mnt] Ini adalah sebuah antologi film pendek ala Hartley dengan tiga kisah serupa yang terjadi di New York, Berlin, dan Tokyo dalam selang waktu masing-masing setahun 1993, 1994, dan 1995. Semuanya berkisah tentang persahabatan dan penyelewengan, yang semuanya diakhiri dengan penembakan. Hartley mengumbar semua jampi-jampinya di sini, sekali saja anda pernah menonton filmnya, anda akan tahu film siapa ini. Semua yang biasa ditampilkannya kali ini mendapat ruang yang seluas-luasnya, terutama kebiasaannya dalam menciptakan suasana yang sunyi, eksentrik, dan penuh pengulangan dialog-dialog pendek. Dia juga memakai barisan pemain yang merupakan wajah-wajah dari album masa lalunya. Untuk penggemar fanatiknya, Flirt adalah hiburan yang sempurna, untuk yang sekedar mengenal karya Hartley, segala sesuatunya terlalu mudah ditebak arahnya, dan untuk yang tidak mengenalnya, menonton film ini hanya membuang-buang waktu. [R]
Flirting (½)- 1990 / James Duigan / Noah Taylor, Thandy Newton, Nicole Kidman, Riri Paramore, Felix Nobis, Bartholomew Rose, Joshua Marshall, Josh Picker / (AUSTRALIA) / [100 mnt] Kelanjutan dari “The Year When My Voice Broke” (1987) ini masih tetap bercerita tentang pencarian identitas diri oleh remaja-remaja tanggung. Taylor yang masih hidup dengan penuh kesalahtingkahan kali ini terpikat pada seorang gadis Uganda (Newton) yang bersekolah di sekolah gadis-gadis di dekat sekolah remaja prianya. Film ini penuh dengan tinjauan yang mengena dan cukup untuk membuat kita mangut-mangut, tidak lebih dari itu (kecuali dengan maksud bertemu dengan Kidman pada saat-saat terakhirnya sebagai bintang lokal Australia). [R]
* Australian Film Institute Awards: Film Terbaik
Flirting with Disaster ()- 1996 / David O. Russell / Ben Stiller, Patricia Arquette, Tea Leoni, Mary Tyler Moore, George Segal, Alan Alda, Lily Tomlin, Richard Jenkins, Josh Brolin, Celia Weston, David Pattrick Kelly / [91 mnt] Stiller adalah seorang pria yang sejak kecil diadopsi oleh Moore. Setelah menikah dengan Arquette dan mempunyai seorang putra yang belum diberi nama, dia meminta bantuan dari badan adopsi untuk mencari tahu jejaknya. Leoni, seorang petugas adopsi, mencoba membantunya. Maka, suami istri dan petugas adopsi ini pergi menyusur negeri mencari sang orang tua asli, sepanjang perjalanan inilah rangkaian kekonyolan terjadi dalam komedi ini. Seperti kebanyakan komedi pop yang lain, sebagian humornya enak dinikmati, sebagian lagi membosankan dan membuat film ini terasa tidak berarti. [R]
Forever: A Ghost of a Love Story (½)- 1990 / Thomas Palmer, jr. / Keith Coogan, Sean Young, Sally Kirkland, Dianne Ladd, Terence Knox, Nicholas Guest, Renee Taylor, Steve Railsback / [93 mnt] Seorang sutradara video-clip muda (babyface Coogan) pindah ke sebuah rumah tua yang ternyata dihuni seorang hantu cantik (Young). Dengan cepat, Coogan jatuh cinta, sementara itu dia juga terlibat hubungan panas dengan agennya (Kirkland). Dengan gaya visualisasi yang sangat genit, film ini menjadi agak menyebalkan ketika para pemain - dipimpin oleh Coogan - menampilkan akting yang menjijikkan. [R]
Forrest Gump ()- 1994 / Robert Zemeckis / Tom Hanks, Robin Wright, Gary Sinise, Sally Field, Mykelti Williamson, Hanna Hall, Michael Humphreys, David Brisbin, Afemo Omilami / [144 mnt] Pendekatan rasio tak berguna lagi untuk menilai film, Saudara-Saudara! Mungkinkah seseorang dengan IQ 80 bisa menjadi jagoan football, pahlawan perang, juara tenis meja, tamu istimewa presiden, dan milyarder udang? Tapi, pantaskah sebuah film dengan struktur dramatis sekuat ini, tata kamera seekspresif ini, editing sepas ini, spesial efek sespektakuler ini, dan dengan aktor utama yang bermain dengan kemampuan sesuper ini mendapat nilai selain ? Bercerita dari A sampai Z, ke A lagi, dan kemudian kemana-mana, film ini menjadi film hiburan terlengkap sepanjang zaman, film yang siap menjadi klasik. Komedi, satire, melodrama, fantasi liar, sampai bagaimana cara membuat Hanks menungging di muka Richard Nixon, dapat ditemukan di sini, dan kalau kita mencari sebuah film dengan cerita yang membuat anda tersentuh secara manusiawi, tak banyak pilihan yang lebih baik dari ini. Mahal meriah, semahal dan semeriah yang kita bisa bayangkan dengan kata “mahal” dan “meriah”. Film ini berdiri sebagai pelopor dalam berbagai bidang, terutama dalam teknik komputer grafisnya, kita hanya bisa menghitung-hitung kesalahannya karena terlalu banyak kehebatannya yang harus kita hitung. Kejeniusan Zemeckis, seluruh krunya, dan Hanks membuat semua penonton terbawa idiot oleh Forrest, salah satu tokoh paling berpengalaman dalam sejarah fiksi manusia. Ingat dongeng legendaris Hollywood, ingat “Gone With the Wind”, ingat “Star Wars”, ingat juga “Forrest Gump”, film yang sekali saja ditonton dengan serius, bertahun-tahun akan bertahan di kenangan. [PG-13]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Zemeckis), Skenario Adaptasi Terbaik (Eric Roth), AKtor Utama Terbaik (Hanks), Editing Terbaik, Efek Visual Terbaik, Golden Globe: Film Terbaik Drama, Sutradara Terbaik (Zemeckis), Aktor Utama Terbaik Drama (Hanks), DGA Awards: Sutradara Terbaik (Zemeckis), SAG Awards: Aktor Utama Terbaik (Hanks)
Fortress ()- 1993 / Stuart Gordon / Christopher Lambert, Kurtwood Smith, Loryn Locklin, Lincoln Kickpattrick / [91 mnt] Di suatu masa di abad 21, seorang wanita tidak diperbolehkan mempunyai lebih dari satu anak. Namun, Karen (Locklin) malah hamil untuk keduakalinya. Maka, dia dan suaminya (Lambert) diasingkan ke sebuah penjara super modern yang tertutup dan diorganisasi dengan sangat rapi dan kejam. Klise dan tidak begitu menarik, namun film ini justru meraih sukses komersial yang tidak mengecewakan. Kharisma kelas ringan ala Lambert cukup menjadi daya tarik yang umum. [R]
Four Rooms (½)- 1995 / Allison Anders, Alexandre Rockwell, Robert Rodriguez, Quentin Tarantino / Tim Roth, Valeria Golino, Sammi Davis, Madonna, Ione Skye, Lili Taylor, Alicia Witt, Amanda de Cadete, Jennifer Beals, David Proval, Antonio Banderas, Tamlyn Tomita, Marisa Tomei, Kelly Griffin, Paul Calderon, Quentin Tarantino / [98 mnt] Film ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing disutradarai oleh satu dari empat nama sutradara di atas. Semuanya bergaya komedi fantasi yang memadukan suasana film komedi bisu dengan dialog gila-gilaan. Semuanya juga menceritakan hari pertama dalam karir Ted The Bellhop (Roth) sebagai pelayan di sebuah hotel dengan tamu-tamu aneh. Keempat bagian itu adalah: Missing Ingredients (paling tolol dari keempat bagian) tentang pertemuan Ted dengan sekelompok wanita "peri" penganut ilmu hitam, The Wrong Man (paling tidak terasa keberadaannya) tentang pertemuan Ted dengan seorang suami berkelainan jiwa, The Misbehavers (paling liar, brutal, mungkin lucu dan inovatif, tapi entah apa maksudnya) tentang sepasang suami istri yang menugaskan Ted menjaga dua orang anaknya yang sangat nakal, dan terakhir adalah The Man from Hollywood (paling biasa) tentang pertaruhan sinting Ted dengan orang-orang aneh. Jika anda kuat bertahan menyaksikan penampilan slapstick yang tidak konsisten ala Roth, anda akan mau menyaksikan semua bagian itu. Jika tidak, kemuakan Anda akan bertambah-tambah dari bagian ke bagian. Suasana gila-gilaan dan dialog-dialog tajamnya tidak akan cukup menolong. Secara umum: konyol. Terlalu menjanjikan untuk tidak ditonton, terlalu genit untuk dinikmati. Catatan Kecil: Bruce Willis dan Lawrence Bender, produser tersibuk dalam era Tarantino, hadir tanpa terdaftar di kredit titel. [R]
1492 The Conquest of Paradise ()- 1993 / Ridley Scott / Gérard Depardieu, Sigourney Weaver, Armand Assante, Frank Langella, Loren Dean, Angela Molina, Fernando Rey, Vincent Perez / (AS - BRITANIA - PRANCIS - SPANYOL) / [145 mnt] Ini adalah salah satu dari dua film buatan 1992 yang bercerita tentang penemuan dan pengelolaan pulau-pulau di Caribia oleh Christopher Colombo (Depardieu), pelaut gigih yang sebenarnya berharap menemukan benua besar yang diyakininya berada tak jauh dari sana. Colombus, dalam film ini, bukanlah tokoh yang bergelimang kekayaan dan penuh kemenangan, Scott menyorot sisi lain, yaitu tentang kegagalan Colombus memenuhi obsesinya dalam menemukan daratan besar dan kegagalannya mendobrak tirani kekuasaan kaum bangsawan di istana Spanyol (Colombus sendiri adalah orang Itali). Bukan film bermutu istimewa, namun banyak adegan bagus yang sayang untuk dilewatkan dan tata musiknya (oleh Vangelis) sangat istimewa. [R]
Four Weddings and a Funeral ()- 1994 / Mike Newell / Hugh Grant, Andie MacDowell, Kristin Scott Thomas, Simon Callow, Rowan Atkinson, James Fleet, John Hannah, Corin Redgrave, Kenneth Griffith / (BRITANIA) / [117 mnt] Sebelum bisa menikah dengan Carrie (MacDowell), seorang wanita Amerika yang dicintainya, Charlie (Grant) harus menunggu sampai empat upacara pernikahan - termasuk pernikahan Carrie dengan pria lain dan upacara pernikahannya sendiri dengan wanita lain - serta sebuah upacara pemakaman. Kita mengikuti langkah Charlie melalui setiap upacara itu, bertemu dengan berbagai macam tokoh, yang kebanyakan tidak jelas asal-usulnya namun jelas sekali karakternya (termasuk Charlie sendiri). Inilah komedi kontemporer versi Inggris untuk cerita sejenis “Sleepless In Seattle”. Sejak awal film ini sudah terasa segar, cerdas, agak sinis, dan enak ditonton, apalagi dengan dilengkapi akting Grant yang selalu memikat (film ini melambungkan namanya ke tingkat teratas aktor Inggris paling populer di Hollywood, yang tak lama kemudian “dimeriahkan” dengan kasus heboh Divine Brown-nya). Kesegaran film ini jatuh akibat ending yang dipaksakan untuk nada yang terlalu merdu (semerdu “Love is All Around” versi Wet Wet Wet), dan apa MacDowell adalah orang yang tepat untuk perannya? Secara keseluruhan, nilai film hit ini hanya sedikit di atas rata-rata serta tak cukup untuk membuatnya istimewa seperti yang banyak dikatakan orang. Catatan: Jangan lupa memperhatikan akting singkat yang bagus dari Rowen “Mr. Bean” Atkinson sebagai seorang pendeta! [R]
* British Academy Awards: Aktor Utama Terbaik (Grant)
Foxfire (½)- 1996 / Annette Haywood Carter / Hedy Burres, Angelina Jolie, Jane Shimizu, Jenny Lewis, Sarah Rosenberg, Peter Fachelli, Dash Mihok, Michelle Brookhurst, Edlin Ratcliff, Cathy Moriarty, Robert Baymer, Frank Bennet, John Diehl, Chris Mulcey, Jay Acovone / [90 mnt] Empat orang siswi SMU mendapat perlakuan tidak senonoh dari salah satu guru mereka. Kehadiran seorang hirchiker tomboy bernama Legs Madovsky menyatukan mereka dan memberi mereka keberanian untuk membalas dendam. Itu baru awal cerita, sejak kejadian itu, lima sekawan ini semakin dekat dan semakin berani menentang apa saja, dalam beberapa hal keradikalan sikap mereka mulai melewait batas-batas keselamatan. Film yang diangkat dari novel .…… ini secara mengejutkan berhasil menjadi hit minor di tahun 1996. Firefox dibuka dengan adegan-adegan awal yang cukup menjanjikan, namun pada kelanjutannya kita mulai sering menemukan ketidakinovativan yang klise dan mudah diduga, walaupun mungkin masih sangat bisa ditolerir oleh para pemirsa yang seusia dengan tokoh-tokohnya. Dari kelima pemain utamanya, rasanya hanya Buress (sebagai Maddy) saja yang bermain bagus, namun tampang dan gaya Jolie (putri Jon Voight) sebagai Legs bagaimanapun teralu hot sekaligus cool untuk tidak diperhatikan, sehingga cukup pantas kalau ternyata namanyalah yang paling berhasil mencuat di antara aktris-aktris muda alumni film ini. [R]
Francesco (½)- 1990 / Lilian Cavani / Mickey Rourke, Helena Bonham-Carter, Andrea Fereol, Hans Zichler, Mario Adorf, Nikolaus Dutsch, Peter Berling, Diego Ribon, Fabio Bussotti, Ricardo de Torrebruna / (ITALIA) / [120 mnt] Kisah metamorphosa Francesco de Amassi (Rourke) dari abad ke tigabelas, dari seorang berandalan sampai menjadi pemuka agama Katholik di Itali, dituturkan secara kilas balik oleh kenangan dan diskusi orang-orang dekatnya setelah dia meninggal. Divisualkan dengan teliti dan penuh warna oleh orang-orang film kawakan Eropa, namun secara tematis miskin hentakan dan mengalami keterputusan hubungan emosi dengan pemirsa. [R]
Frankie and Johnny ()- 1991 / Garry Marshall / Al Pacino, Michelle Pfeiffer, Hector Elizondo, Kate Nelligan, Nathan Lane, Jane Morris / [118 mnt] Johnny (Pacino) adalah mantan napi yang mencoba kehidupan baru yang lebih baik dengan bekerja sebagai juru masak serabutan, Frankie (Pfeiffer) adalah seorang pramuniaga yang kaku, minder, pencuriga, dan tertutup. Kedua jiwa yang sederhana ini terjepit dalam kehidupan kota besar yang tanpa kompromi, mereka menemukan kecocokan serta mengatasi ketidakcocokan satu sama lain. Marshall berkarya dengan kemasan yang sederhana (walau sangat meng-Hollywood), yang membuat film menjadi sangat emosional dan mampu menyita perhatian penonton. Kehebatan Pacino dalam memerankan Johnny tak akan didebat siapapun, dia sangat santai di sini, dan tak ada yang lebih baik dari Al ketika santai. Sementara itu, memang kurang masuk akal wanita berpenampilan pisik semenarik Pfeiffer bisa berjiwa seperti Frankie, apalagi di Amerika orang sudah mempunyai bayangan tentang Frankie dari versi panggung Broadway yang dimainkan oleh Kathy Bates, seorang aktris yang benar-benar kelas berat, baik mutu aktingnya maupun bobot tubuhnya, tapi semua itu tak harus menjadi masalah serius, The Fabulous Pfeiffer bermain menawan dan setidaknya berhasil membuang beberapa kilogram dari imej orang Amerika tentang Frankie. [R]
* British Academy Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Nelligan)
Freeway II: Confessions of a Trickbaby (½)- 1999 / Matthew Bright / Natasha Lyonne, María Celedonio, Vincent Gallo, David Alan Grier, Michael T. Weiss, April Telek, Bob Dawson, Jennifer Griffin, John Landis, Max Perlich / (97 mnt) / Crystal alias White Girl (Lyonne) adalah seorang remaja psikopatik yang untuk beberapa saat tinggal di sebuah penjara remaja sebelum meloloskan diri dari situ bersama Cyclona (Celedonio), gadis yang bahkan lebih labil dan impulsif dari Crystal sendiri. Sepanjang perjalanan mereka bertengkar, bercengkrama, berhubungan seks, dan kadang-kadang membunuh lagi. Tujuan perjalanan ini adalah milik Cyclona, Crystal hanya mengantar kekasih barunya itu ke tempat seorang transvetit misterius bernama Sister Gomez (Gallo). Cyclona yakin bahwa hanya Sister Gomez yang bisa menolong mereka, benarkah demikian. Nuansa kebrutalan film ini mungkin hanya kalah oleh film semacam “Natural Born Killers”, dalam Freeway 2 kita temukan tokoh-tokoh yang membuat kita sulit bersikap, kejadian-kejadian yang sepenuhnya abnormal, dan gurauan-gurauan yang sungguh mengerikan. Hal-hal seperti itu berada di batas yang tidak jelas antara sesuatu yang menyenangkan dengan sesuatu yang menjijikan. Di sini kembali kita temukan Lyonne, satu dari sedikit sekali aktris remaja Amerika yang tak pernah takut pada peran-peran yang riskan, dia adalah pilihan tepat untuk peran Crystal dan melakukannya dengan sempurna. Catatan : “Freeway” (tanpa angka “2” dan tanpa judul lanjutan) adalah film tahun 1996 dengan pemeran utama Reese Whiterspoon, kecuali bahwa film itupun berkisah tentang seorang gadis pelarian, tak ada hubungan jelas antara “Freeway” dengan Freeway 2. [R]
Fried Green Tomatos()- 1991 / Jon Avnet / Kathy Bates, Jessica Tandy, Mary Louise Parker, Mary Stuart Masterson, Cicely Tyson, Chris O’Donell, Stan Shaw, Gaillard Sartain, Timothy Scott, Gary Basaraba, Lois Smith, Grace Zabriskie / (130 mnt) Bates berperan sebagai wanita setengah baya yang sedang mengalami berbagai kegelisahan, di sebuah rumah sakit jompo dia berkenalan dengan Ninny (Tandy) yang kemudian memikatnya dengan sebuah cerita tentang persahabatan dua orang wanita, Ruth (Parker) dan Idgie (Masterson), di zaman depresi besar Amerika dan zaman keemasan rasisme. Segala sesuatu berjalan dengan baik dalam film ini, film ini juga banyak memberikan pemahaman baru, para pemainnya juga bermain baik (termasuk Tyson dalam peran yang tidak begitu besar), namun kadang kita merasakan bahwa film ini sangat episodik, penuh basa-basi, dan tidak mampu memberi tahu kita dimana kita harus menempatkan emosi. [PG-13]
From Dusk to Dawn (½)- 1996 / Robert Rodriguez / George Clooney, Quentin Tarantino, Harvey Keitel, Juliette Lewis, Ernest Liu, Cheech Marin, Tim Sezeni, Fred Williamson, Kelly Preston, John Saxon, Michael Parks / [108 mnt] Kakak beradik Gecko (Clooney dan Tarantino) menjadi buronan polisi dan FBI atas serentetan kasus perampokan dan pembunuhan yang mereka lakukan. Untuk bisa lolos ke Mexico, mereka menyandera sebuah keluarga. Segala sesuatu berjalan lancar sampai mereka tiba di sebuah bar, dan setelah itu jangan terkejut apabila film ini tiba-tiba berubah total menjadi sebuah film horor penuh cipratan darah tentang....sekelompok monster vampire! Bisa dikatakan mudah diterima, tetapi bisa juga dikatakan sulit diterima. Simpati kita terhadap film ini tergantung pada bersedia atau tidaknya kita menerima kombinasi yang ganjil ini. Namun secara terpisah, kedua bagian tersebut (kalau bisa disebut bagian) tergarap dengan sempurna, walau untuk bagian pertama kesempurnaan itu hanya berguna untuk menahan penonton agar tetap setia menonton sebelum mengikuti bagian kedua, dan untuk bagian kedua kesempurnaan penggarapan tidak didasari oleh cerita yang berisi. Rodriguez selain menyutradarai juga mengerjakan editing, sedang Tarantino menulis skenario dan memproduseri. [R]
Fugitive, The ()- 1993 / Andy Davis / Harrison Ford, Tommy Lee Jones, Joe Pantoliano, Jeroen Krabbe, Sela Ward, Julianne Moore, Andreas Katsulas / [127 mnt] Ford bermain sebagai Kimbell, seorang dokter yang harus menjalani hukuman atas tuduhan membunuh istrinya (Ward). Kimbell yang sebenarnya tak melakukan pembunuhan itu kemudian melarikan diri dari bis tahanan yang mengalami kecelakaan. Lee Jones adalah polisi detektif yang mengejarnya kemanapun dia pergi. Kejar-kejaran antara keduanya inilah yang menjadi daya tarik utamanya. Davis menyiasatinya menjadi sebuah tontonan full action yang cukup untuk membuat penonton menempel di kursinya, Ford tentu ikut menjadi magnetnya, namun Lee Jones punya daya tarik yang malah lebih efektif. [R]
* Academy Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Jones), Golden Globe: Aktor Pendukung Terbaik (Jones)
Full Eclipse (½)- 1994 / Anthony Hickox / Mario van Pebbles, Patsy Kensit/ [96 mnt] Film tentang polisi-polisi berjiwa srigala ini dicoba dibuat dengan gaya yang eksentrik, terutama dalam penataan gambar dan akting para pemainnya. Maaf saja kalau hasilnya malah membuat kita muak menonton kekakuan-kekakuannya. [R]
Full Monty, The ()- 1997 / Peter Cattaneo / Robert Carlyle, Tom Wilkinson, Mark Adoy, Leslie Sharp, William Shape, Emily Woof, Steve Wilson, Paul Barber, Hugo Speer, Bruce Jones / (BRITANIA) / [97 mnt] FM termasuk yang paling berhasil meraih sukses komersial secara internasional di antara maraknya film yang berisi tinjauan tentang masyarakat kelas pekerja Britania di masa Thatcher-Major-Blair, sebuah genre film yang tiba-tiba meledak lagi sejak pertengahan delapanpuluhan. Yang satu ini bercerita tentang beberapa orang laki-laki yang baru terkena PHK menyusul bangkrutnya industri baja di Shefield. Mencari kerja lain adalah pekerjaan yang lebih sulit daripada pekerjaan yang dicari, mereka harus mempunyai ide lain untuk memperpanjang hidup, ide mereka : penari striptease! Hanya dua orang dari mereka yang tahu bagaimana caranya menari, dan tak satupun dari mereka berpotongan tubuh menggairahkan (walaupun salah satu dari mereka mempunyai modal utama “sebesar termos”). Dengan ide cerita seperti itu, film ini tentu saja mempunyai banyak modal untuk menjadi sebuah komedi sosial, hanya setengah dari potensi itu termanfaatkan, namun itu sudah cukup menyenangkan untuk menjadi hiburan yang menggelitik, setidaknya jauh lebih menghibur daripada “Striptease”-nya Demi Moore yang memuakkan. [R]
Funeral, The(½)- 1996 / Abel Ferrara / Christopher Walken, Chris Penn, Anabella Sciorra, Isabella Rosellini, Vincent Gallo, Benicio Del Torro, Gretchen Mol / [70 mnt] Kematian Johnny (Gallo), seorang mafioso muda yang tak mengacuhkan apapun selain kesenangannya, menciptakan ketegangan dalam keluarganya yang dipimpin sang kakak, Ray (Walken). Siapa yang membunuh Johnny dan kenapa? Ferrara mengajak kita menemukan jawabannya dengan flash-back yang, seperti biasa, dingin dan redup, walau patut dicatat bahwa ini adalah film Ferrara yang paling normal. Banyak yang bisa diharapkan dari film seperti ini, apalagi dengan barisan pemain terpercaya seperti di atas, namun gayanya yang terlalu puitis cukup untuk menghilangkan beberapa bagian keperdulian kita. [R]




G


Game, The ()- 1997 / David Fincher / Michael Douglas, Sean Penn, Deborah Kara Unger, James Rebhorn, Peter Donat, Carroll Baker, Anna Katarina, Armin Mueller-Stahl, Tommy Flanagan / (128 mnt) / Nicholas van Orton (Douglas) adalah seorang banker yang hendak merayakan ulang tahunnya yang ke 48, pada usia itu, ayahnya dulu melakukan bunuh diri. Muncullah adiknya, Conrad (Penn), yang memberikan sebuah tiket permainan bersama CRS (Consumer Recreation Service) sebagai hadiah ulang tahun. Permainan ini adalah rangkaian kejadian yang terskenariokan secara integral ke dalam kehidupan sehari-hari pesertanya, dalam hal ini kita mengikuti perjalanan Nicholas. Semula Nicholas sangat terhibur dan terkagum-kagum, dia merasa hidupnya lebih bervariasi, namun lama kelamaan dia merasa bahwa permainan yang berkepanjangan ini mulai merembet ke masalah-masalah serius: kenyamanan, keuangan, dan keselamatan nyawanya. Hidup Nicholas menjadi begitu penuh ancaman, orang-orang di sekelilingnya semakin mencurigakan dan mencelakakan, maka dia bertekad untuk bertahan melawan permainan ini dan menemukan sendiri rahasianya. Seperti dalam filmnya sebelum ini, “Seven” (1995), Fincher memaksimalkan kemenarikan filmnya dengan dua modal yang memang sangat penting: visualisasi yang selalu mencekam (walau kadang seperti terlalu bermain-main seenaknya) dan pengefektifan masalah dan kesibukan dalam menit ke menit ceritanya. Sekali lagi Fincher berhasil, walau kali ini muatan ceritanya terlalu sulit untuk dibawa ke alam rasio. [R]
Gas, Food, Lodging ()- 1992 / Allison Anders / Brooke Adams, Ione Skye, Fairuza Balk, James Brolin, Robert Knepper, David Lansburry, Jacob Vargas, Donovan Leitch, Chris Mulkey, Tiffany Anders / [101 mnt] Di sebuah kota kecil, Laramie, di tengah gurun New Mexico, hiduplah seorang wanita empatpuluhan yang bekerja sebagai pelayan restoran, dia bernama Nora (Adams). Nora harus berjuang menghidupi dua orang anak wanitanya, Trudi (Skye) yang cantik dan liar, dan Shade (Balk), gadis ABG yang tidak cantik dan jarang berkesempatan menampilkan sisi baik dirinya, yang sesungguhnya banyak sekali. Sebagian besar persoalan yang diangkat film ini memang tidak termasuk wacana baru, anda sudah sering melihat film yang membahas ketidakharmonisan ibu dan anak, gadis baik hati yang kurang percaya diri, laki-laki tak bertanggung jawab yang meninggalkan seorang gadis hamil, dan semacamnya, tak ada isu besar. Namun GFL punya kesegaran istimewa yang membuat semua itu terasa baru. Penggunaan sudut pandang Shade benar-benar efektif dan memberikan kesan subjektif yang menyentuh dan humoris. Anders juga begitu jeli dengan memilih sebuah tempat, yang mungkin tidak terlalu tepat disebut kota, seperti yang terlihat dalam film ini, semua yang ada di daerah seperti itu bisa dimanfaatkan untuk mendukung muatan filmnya. GFL mungkin tak akan semengesankan ini andai peran Shade tak dimainkan dengan begitu baik oleh Balk, dia bahkan berhasil membuat tokoh gadis biasa itu menjadi istimewa di mata pemirsa, dan dia tidak sendirian, Adams, Skye, Brolin, dan semua pemain lain juga menampilkan akting yang sangat bagus. [R]
Gattaca (½)- 1998 / Andrew Niccol / Ethan Hawke, Uma Thurman, Alan Arkin, Jude Law, Loren Dean, Gore Vidal, Ernst Borgnine, Blair Underwood, Xander Berkley, Tony Shalhoub, Jayne Brook, Maya Rudolph, Mason Gamble, Elias Koteas / [100 mnt] Gattacca adalah sebiah institusi penyelidikan luar angkasa yang menerapkan teknologi tinggi dan hanya menerima orang-orang yang secara genetis “terpilih” sebagai karyawan. Namun kecurangan bisa terjadi di mana saja. Hawke adalah seorang pemuda obsesif yang secara genetis tidak memenuhi syarat, namun keinginan besar dan nasib mempertemukannya dengan Law, seorang “terpilih” yang tidak bisa mendaftar karena mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh. Maka terjadilah jual beli identitas. Dengan menggunakan ciri-ciri fisik Law (dari contoh darah sampai sidik jari dan bulu badan), Hawke berhasil bekerja di Gattacca. Akhirnya, sebuah kasus pembunuhan mengacaukan kelicikan mereka, seorang detektif muda yang penasaran (Dean) mulai mencium sesuatu yang tidak beres, dan ternyata dia bukan orang asing untuk Hawke. Ide cerita film ini sebenarnya cukup menarik dan seharusnya menghasilkan film yang jauh lebih baik dari ini, namun pemaparan Niccol (menyutradarai dan juga menulis skenarionya) sangat over-efektif dan gagal meciptakan kedalaman. Para pemain tampil tanpa kesan di dalam sosok tokoh-tokoh yang kekurangan dimensi. [R]
General, The ()- 1998 / John Boorman / Brendan Gleeson, Adrian Dunbar, Sean McGinley, Maria Doyle Kennedy, Angeline Ball, Jon Voight, Eanna MacLiam, Tom Murphy, Paul Hickey, Tommy O'Neill, Brenda Fricker, Eamonn Owens, Jim Sheridan / {REP. IRLANDIA} / (129 mnt) / (( I Once Had a Life )) / < Berwarna & Hitam Putih > / (100 mnt)/ Martin Cahill (Gleeson) adalah semacam Robin Hood modern Irlandia yang beraksi dengan modus-modus yang sebenarnya sangat sederhana, namun kerapian kerja kelompoknya membuat Cahill selalu berhasil mengelabui siapapun. Cahill, yang bergelar “The General”, adalah seorang manusia eksentrik yang berhasil menarik semua perhatian – termasuk simpati – ke arahnya, dia adalah target kejaran aparat keamanan, idola/ilham bagi para penjahat kecil, dan obyek yang mengasyikan bagi pers. Boorman membawakan kisah ini dalam berbagai bingkai cerita: kisah masa lalu Cahill, hubungannya dengan IRA, dan obsesi seorang polisi (Voight) yang selalu mengejarnya. Ini ternyata mengizinkan Boorman untuk membuat filmnya lebih variatif, setiap sub-plot hadir dengan gaya penyutradaraan yang berbeda-beda (perhatikan ini sampai ke detil-detil kecil dalam setiap sub-plot!). Gleeson juga menjadi kekuatan film ini, dia tak pernah membiarkan sedetikpun Cahill menjadi orang yang “biasa-biasa”. Kita memang tidak begitu tahu semirip apa film ini dengan kisah nyatanya dan kebenaran versi apa yang dipakai Boorman, yang jelas – ini adalah fakta yang menarik – Boorman adalah salah satu orang kaya yang pernah tinggal di Irlandia dan rumahnya pernah dibobol Cahill!. [R]
Georgia (½)- 1995 / Ulu Grosbard / Jennifer Jason Leigh, Mare Winningham, Ted Levine, Max Perlich, John Doe, John C. Reilly, Tom Bower, Jim Carter / [117 mnt] Beberapa tahun sebelum “Hillary and Jackie” menyayat Inggris dan dunia, Amerika telah punya Georgia. Kisah dengan berbagai rasa ini menceritakan perjalanan hidup Sadie (Leigh, yang juga menjadi produser eksekutif bersama penulis skenario, Barbara Turner, ibunya sendiri) yang terobsesi untuk menjadi seorang penyanyi folk-rock terkemuka seperti kakaknya, Georgia (Winningham), tanpa mau tunduk pada kenyataan bahwa Georgia adalah seorang penulis lagu dan penyanyi yang sangat berbakat, sedangkan dia hanya mengandalkan semangat membuta, itupun masih disertai dengan kegemarannya pada minuman keras dan obat bius. Jauh, Saudara-Saudara, jauh sekali, dari runtutan standar kisah tentang persaingan kakak beradik atau kisah tentang musisi, sentimentalitas klise tidak pernah sekalipun muncul dalam kisah yang kedalamannya sangat terasa ini. Sesuatu yang agak mengganggu, dan itu tidak seberapa, mungkin adalah pemadatan cerita yang membuat beberapa sekuen terasa melompat atau terjadi begitu cepat. Bagaimanapun Grossbard sangat tahu bagaimana memperlakukan cerita ini, sinematografi Jan Kiesser pun sangat mendukungnya. Kita juga pantas memuji Leigh – salah satu aktris mainstream paling gigih dan nekat di Hollywood - yang mengeluarkan seluruh kemampuannya (hingga pada beberapa bagian terasa berlebihan), sementara Winningham mengontrol dirinya dengan luar biasa dalam salah satu penampilan terbaik - dan paling penting - sepanjang karirnya. Catatan Kecil: Sebagai sebuah film tentang dunia musik di Seattle pada pertengahan sembilanpuluhan, film ini justru tidak mengedepankan Seattle Sounds ala Pearl Jam atau Soundgarden, sebagai gantinya dapat dinikmati lagu-lagu dari Lou Reed, Shawn Colvin, Elvis Costello dll, nikmati juga bakat lain Winningham sebagai seorang musisi. [R]
* Independent Spirits Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Winningham)
Get Shorty (½)- 1995 / Barry Sonnenfeld / John Travolta, Gene Hackman, Rene Russo, Danny de Vito, Dennis Farina, Delroy Lindo, David Paymer, James Gandolfini, Miguel Sandoval, Martin Ferrero, Bette Midler / [104 mnt] Chili Palmer (Travolta) adalah seorang penagih utang yang berhasil menjerumuskan diri ke dalam dunia film yang ternyata secara moral tidak jauh berbeda dengan dunia lamanya. Film hiburan yang sinis ini dibuka dengan sangat lambat dan kemudian berkembang liar dalam plot yang bercabang-cabang dan bertumpuk. Kita mengharapkan sesuatu yang menggelitik dari cerita yang diapdaptasi dari novel yang disebut-sebut sebagai satir terliar karya Elmor Leonard, namun kita tak menemukan itu di sini, penulis skenario Scott Frank telah menurunkan tensinya sampai ke “meng-Hollywoodkan” sebagian besar dialognya. Hasilnya memang tidak sampai mengecewakan, namun film ini tak sampai istimewa. Catatan: Penny Marshall dan Harvey Keitel muncul selama kurang lebih satu menit sebagai Penny Marshall dan Harvey Keitel. [R]
* Golden Globe: Aktor Terbaik Musikal/Komedi (Travolta)
Ghost (½)- 1990 / Jerry Zucker / Pattrick Swayze, Demi Moore, Whoopi Goldberg, Tony Goldwyn, Rick Avilles, Vincent Schiavelli, Gaill Boggs, Armellia McQueen / [122 mnt] Seorang lelaki (Swayze, dalam form terbaiknya) mati terbunuh, namun arwahnya masih berkeliaran di alam kehidupan. Lewat bantuan seorang medium (Goldberg, bintang komikal pertunjukkan ini), dia berhasil menemui kembali bahkan menyelamatkan kekasihnya (Moore, tak pernah terlihat secantik ini, berkat tatapan sendu dan potongan rambut yang melebihi kepopulerannya sendiri). Skenario BJ Rubin dan penyutradaraan Zucker berusaha semaksimal mungkin untuk memaksakan kisah drama fantasi ini untuk dapat dinikmati secara akali oleh penonton, walau dengan over-romantisme yang luar biasa, hasil komersialnya yang juga luar biasa merupakan salah satu bukti bahwa Rubin dan Zucker memang berhasil, walau tak boleh dijadikan bukti bahwa semua film super laris adalah film yang super memuaskan. [R]
* Academy Awards: Skenario Asli Terbaik (Rubin), Aktris Pendukung Terbaik (Goldberg), Golden Globe: Aktris Pendukung Terbaik (Goldberg), British Academy Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Goldberg)
Gia ()- 1998 / Michael Christoffer / Angelina Jolie, Elizabeth Mitchell, Eric Michael Cole, Kylie Travis, Luis Giambilue, John Cosidine, Scott Cohen, Edmond Genest, Faye Dunaway / [120 mnt] / (Film Televisi) Biografi legenda modelling delapanpuluhan, Gia Marie Carangi, dibawa ke layar televisi dalam sebuah versi yang sensual dan - betapapun stylishnya - lebih berupa hiburan ringan daripada drama serius. Gia lahir dari keluarga Italia yang sederhana di Philadelphia, dia menjelma menjadi gadis cantik ambisius yang selalu bergaya semi-punk. Gia kemudian memberanikan diri memasuki dunia modelling, ternyata dia berhasil menjadi sebuah fenomena baru di dunia itu dan mencapai keterkenalan yang mungkin terlalu besar untuknya. Semua ini membawanya ke kehidupan penuh kokain dan heroin, tak seorangpun bisa menahannya, tidak ibunya (Ruehl), tidak induk semangnya (Dunaway), dan tidak juga pasangan lesbinya (Mitchell), mereka hanya bisa melihat Gia hanyut dan akhirnya meninggal karena AIDS pada tahun 1986. Skenario Christoffer jauh sekali dari informatif atau kontemplatif, dia tampak begitu cuwek pada kedua aspek ini, film ini tak membuat kita merasakan atau setidaknya tahu lebih banyak tentang dunia Gia. Tapi gaya penyutradaraannya yang penuh solekan – walau konvensional - membuat kita melupakan semua itu, film ini selalu enak dipandang dari menit ke menit dengan adegan-adegan yang berkarakter dan diberi ornamen yang cukup. Sementara itu, Jolie, dengan penampilan pisik yang agak jauh dari Carangi, bertingkah sama dengan sang sutradara/penulis, akurasi penciptaan kembali sosok Gia tidak diutamakannya, tapi diapun sama sekali tidak gagal, si sexy ini berhasil memaksa kita memperhatikan sesosok model liar dalam film ini, Gia Carangi atau bukan. [R]
Gingerbread Man, The (½)- 1997 / Robert Altman / Kenneth Branagh, Embeth Davidtz, Robert Downey, jr., Darryl Hannah, Tom Berenger, Robert Duvall, Mae Whitman, Fammke Janssen, Jesse James / [122 mnt] McGruder (Branagh), seorang pengacara yang hidup menduda, berkenalan dengan Mallory (Davidtz), seorang wanita muda kelas menengah ke bawah yang mempunyai ayah berkelakuan aneh (Duvall) dan selalu menerornya. Profesi McGruder sebagai pengacara dan terlebih lagi ketertarikan pribadinya pada wanita ini membuat dia berusaha melindunginya. Namun ternyata Mallory jauh lebih berbahaya dari ayah yang aneh itu. Setelah Copolla, kali ini giliran Altman mencoba cerita John Grisham, dan ternyata reputasi saja memang tak cukup untuk membuat sesuatu yang agak lain daripada yang dilakukan sutradara-sutradara yang lebih junior terhadap karya Grisham. Branagh (yang semakin fasih memainkan orang Amerika), Davidtz, dan para pemain lain bermain bagus. [R]
Girl, Interrupted ()- 1999 / James Mangold / Winona Ryder, Angelina Jolie, Brittany Murphy, Clea Duvall, Whoopi Goldberg, Jeffrey Tambor, Jared Leto, Vanessa Redgrave, Travis Fine, Elizabeth Moss, Angela Bettis, Jillian Armmenante, Drucie McDaniel, Alison Claire, Christina Myers, Joana Kerns / (127 mnt) / Susanna Kaysen (Ryder) adalah seorang remaja yang mengalami frustrasi dan perasaan keterasingan jiwa yang berat, ini membawanya ke sebuah institusi perawatan yang dipenuhi gadis-gadis sejenisnya. Film ini selanjutnya tentu saja berkutat dengan permasalahan gadis-gadis ini, dengan atmosfir latar “kebebasan baru” ala akhir 1960-an. Dengan perkembangan plot yang sangat terbatas dan kemonotonan suasana, Mangold hampir sepenuhnya bergantung pada kesanggupannnya memaksimalkan kemampuan para aktris pendukung. Untunglah dia sangat berhasil. Karakter-karakter sakit ini dimainkan dengan bagus oleh para pemainnya, walau ironisnya sosok Kaysen - sang karakter poros - malah sering tenggelam karena dia sangat pasif dan sibuk sendiri dengan masalah-masalah di kepalanya, kita tak bisa menyalahkan Ryder dalam hal ini, dia justru berhasil menerjemahkan perannya sesuai keperluan. Sunyinya Kaysen memungkinkan karakter Lisa – salah seorang pasen lain – mendominasi hampir seluruh film, selain karena karakter liarnya memang berpotensi untuk menjadi pusat perhatian, akting dan sosok Jolie juga membuat pemirsa hampir tak sempat memperhatikan yang lain ketika Lisa ada di layar. Ryder dan Susanna Kaysen yang asli turut memproduseri film ini. [R]
* Academy Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Jolie), Golden Globe : Aktris Pendukung Terbaik (Jolie)
Girls in Prison (½)- 1998 / John McNaughton / Missy Crider, Ione Skye, Anne Heche, Bahni Turpin, Nicolette Scorsese, Jon Polito, Nestor Serrano, Miguel Sandoval, Richmond Arquette, Raymond O'Connor, Tom Towles, William Boyet, Angie Ray McKinnie, Ralph Meyering, Diane McGee, Letitia Hicks, Patrick McCormack / (83 mnt) / Aggie (Cridder) adalah seorang penyanyi/penulis lagu yang dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pembunuhan yang tidak dilakukannya. Di dalam penjara wanita dia bertemu dengan Carol (Skye) dan Melba (Turpin), dua korban lain ketidakadilan (walau keduanya memang melakukan pembunuhan, tidak seperti Aggie). Muncul pula tokoh-tokoh lain yang mempersulit mereka di dalam penjara. Uh, keadaan menjadi semakin sulit, karena di luar penjara pun, orang-orang yang terkait masih mengincar ketiga gadis ini dengan berbagai cara. Dari judulnya pun kita bisa menebak bahwa atmosfer eksploitasi akan tercium dalam film ini, dan McNaughton adalah sutradara terpandang yang tak akan segan menggarap sampah, terlebih lagi skenario film ini ditulis oleh Sam Fuller, penulis film-film “kelas B” tahun limapuluhan (dia menulis Girls in Prison bersama istrinya, aktris Christa Lang). Ternyata apa yang dihasilkan memang benar-benar sebuah parade gaya-gaya klise eksploitasi ringan limapuluhan. Mereka menjejalkan apa saja yang stereotip kedalam film ini, termasuk yang tidak logis, anehnya (atau dengan sendirinya?), semuanya malah menjadi cukup mengasyikan. McNaughton menggarapnya dengan gaya penyutradaraan yang parodis dan tanpa ragu-ragu memaksimalkan unsur norak dalam filmnya, sampai ke masalah pencahayaan dan tampilan warna-warna yang saling tubruk. Film ini mempunyai setiap detil yang sempurna untuk standarnya sendiri. Para pemain pun berhasil menghanyutan diri mereka dalam arus karikatural film ini, semua karakter yang mereka ciptakan berhasil menarik perhatian, Heche dan Scorsese – keduanya sebagai pembunuh yang menyusup sebagai napi – adalah yang paling mencolok. [R]
Glengarry GlenRoss (½)- 1992 / John Foley / Jack Lemmon, Al Pacino, Ed Harris, Alan Arkin, Jude Ciccolella, Alec Baldwin, Kevin Spacey, Jonathan Pryce, Bruce Altman / [100 mnt] Film ini berkisah tentang beberapa orang salesman real estate Glengarry yang terancam pemecatan dan berusaha semampu mereka - dengan cara apapun - untuk tetap bertahan, sampai terjadi pencurian di kantor, pencurinya pasti salah satu dari mereka, tapi siapa? GGR mempunyai cerita yang sangat tipis dan penyajian visualnya dilakukan dengan sangat sederhana, nyaris tanpa variasi, lebih pantas untuk tampil sebagai sebuah film televisi, maklum, film ini diangkat dari drama panggung karya David Mamet. Namun kekurangan apapun dalam film ini tertutupi oleh keajaiban ensemble akting para pemainnya. Lemmon pantas untuk meraih award apapun (dan Paman Oscar sama sekali tak meliriknya), sementara Pacino, Harris, dan pemain-pemain lain tak kalah juga hebatnya, termasuk Baldwin yang menggebrak walau hanya tampil dalam satu adegan. Kita, yang tahu bagaimana akting yang baik, akan tak henti-hentinya berdecak kagum untuk mereka. Dijamin, inilah salah satu film dengan tim akting terbaik dalam dekade ini, atau kalau tidak, inilah yang terbaik!! GGR dipenuhi bahasa yang sangat tajam dan kasar, namun itu hanya menambah kenaturalan film yang sangat mengesankan ini. [R]
* National Board of Review Awards: Aktor Terbaik (Lemmon), Venice Film Festival: Aktor Terbaik (Lemmon)
Gloria ()- 1998 / Sidney Lumet / Sharon Stone, Jeremy Northam, Cathy Moriarty, Jean Luke Fiqueroa, Mike Starr, Sarita Choudury, Miriam Colon, Bobby Cannavale, George C. Scott / [105 mnt] / Gloria ini adalah cerita rekaan John Cassavettes tahun 1980 dengan pemain Geena Rowland, filmnya waktu itu jauh dari istimewa. Kali ini, entah kenapa Lumet tertarik memfilmkannya lagi dan meminta Stone memainkannya, untunglah, hasilnya justru lumayan lebih baik dari film aslinya. Gloria adalah seorang perempuan dari kelompok gangster yang baru keluar dari penjara. Begitu dia kembali pada bekas “pacarnya” (Northam) dan kelompoknya, Glo menemukan mereka sedang berurusan dengan seorang anak kecil hispanik, Nikky Nunez (Fiqueroa), yang memegang disket berisi file-file penting. Demi kepentingannya sendiri, Glo membawa lari anak itu dan membahayakan keselamatan mereka berdua. Baru di perjalanan mereka menyadari bahwa mereka saling membutuhkan secara lebih manusiawi. Lumet berhasil membuat film ini lebih hidup dan bermotif daripada Cassavettes, namun tetap saja: jauh dari istimewa. Versi ini juga ditunjang akting bagus Stone dan si kecil Fiqueroa. [R]
Glory Daze (½)- 1997 / Rich Wilkes / Ben Affleck, Vinnie DeRamus, Vien Hong, Sam Rockwell, French Stewart, John Rhys-Davies, Megan Ward, Matt Damon, Spalding Gray, Matthew McConaughey, Alyssa Milano, Mary Woronov / [93 mnt] Lima orang sahabat tinggal bersama disebuah rumah yang mereka beri nama “El Rancho”. Kelima pemuda ini bersiap menamatkan college menuju universitas. Mereka berpikir bahwa inilah saatnya untuk menentukan pilihan dan jatidiri, dengan cara apa saja, dari cara yang paling brutal sampai perenungan yang paling intelek. Satu lagi kisah tentang Generation-X dan ala Generation-X, namun semua yang memperhatikannya berteriak bahwa Glory Daze datang kesiangan (“Reality Bites”, “S.W.F”, “Slackers”, “Singles”, dll. datang kurang lebih tiga tahun lebih awal). GD memang menjadi aneh dan kurang segar dalam kemunculannya di tengah dunia dan trend yang telah berubah, semua permasalahannya telah pernah disinggung oleh film-film segenerasinya. Padahal jika film ini muncul sebelum yang lain, GD bisa menjadi sesuatu yang sangat segar dan asli: penggalian tokoh-tokoh dan masalahnya sangat jujur dan tidak mengada-ada, pembagian prioritas antar sub-plotnya sangat proporsional, semua didukung oleh penyampaian visual Wilkes dan akting para pemainnya. Tapi sekali lagi: kita pernah melihat semuanya jauh sebelumnya! [R]
Go(½)- 1999 / Doug Liman / Sarah Polley, Katie Holmes, Desmond Askew, Jay Mohr, Scott Wolf, Timothy Olypant, Tayo Briggs, William Fichtner, J.E. Freeman, Jane Krakowski, Breckin Meyer, James Duvall, Nathan Beeton, Jay Paulson, Jimmy Schubert / [100 mnt] / Film ini adalah sebuah "antologi palsu" yang merangkum tiga kisah yang terjadi dalam hari yang sama dan melibatkan beberapa orang yang sama. Pertama kita dibawa mengikuti perjalanan Ronna (Polley) dan temannya (Holmes), dua orang karyawati supermarket yang merencanakan sebuah pesta ekstasi - namun rencana mereka berantakan, hampir 100%. Kita kemudian memasuki kisah kedua, tentang petualangan Simon (Askew) – orag Inggris teman Ronna - di Las Vegas dan tempat-tempat lain. Selanjutnya kita menemui Zack (Mohr) dan Adams (Wolf), sepasang aktor gay yang sempat dimintai tolong seorang polisi untuk menangkap Ronna (dan juga untuk mengedarkan produk multilevel sejenis Amway!). Skenario John August yang memang sudah genit, liar, dan kaya humor mendapat perlakuan yang sangat pantas di tangan Liman, penyutradaraannya yang nakal dan inovatif adalah bintang yang sesungguhnya dalam film ini. Kita memang boleh ragu-ragu menghargai keaslian gaya seperti ini, puluhan film sejenis membanjir dalam waktu lima tahun terakhir abad ini. Pada waktu yang bersamaan kita temukan "Jackie Brown", "Thursday", dan "Lock, Stock, and Two Smoking Barrels" dalam nada miring yang hampir sama, yang mungkin tak akan pernah terdengar tanpa "Pulp Fiction", “Trainspotting”, atau sesuatu yang lain yang lebih tua. Tapi apa masalahnya? Lagipula Go termasuk yang paling segar, cerdas, dan mabuk di antara jenisnya. [R]
Godfather Part III, The ()- 1990 / Francis Ford Copolla / Al Pacino, Andy Garcia, Dianne Keaton, Talia Shire, Joe Mantegna, Sofia Copolla, Elli Wallach, George Hamilton, Bridget Fonda, Raf Vallone, Franc D’Ambrosio, Don Novello, Al Martino / [141 mnt] Masih dari Mario Puzzo, oleh Coppolla, tentang Corleone yang dimainkan oleh Pacino. Ameritalians Rule Hollywood! Kali ini tentang rencana suksesi dari Michael (Pacino) kepada keponakannnya Vincent Mancini (Garcia), sekaligus rencana pengunduran dirinya dari dunia gangster. Tak diragukan lagi bahwa kisah keluarga Corleone ini adalah trilogi film terbesar yang pernah dibuat. Kali ini durasi film terasa terlalu panjang (sekian menit untuk cerita yang tak begitu melebar), namun setiap adegan tetap terbentuk dengan hampir tanpa cacat, kecuali.....bila di sana ada Sofia! Namun masih ada Pacino, Keaton, Garcia, Shire, dan masih banyak hal lain dalam film yang mampu menutupi sangat buruknya permainan Tuan Putri. [R]
Godmoney (½)- 1997 / Darren Doane / Rick Rodney, Bobby Field, Christi Allen, Stewart Teggart, Chad Nell, Sean Atkins, Fletcher Dragge / (94 mnt) / Untuk bisa membayar sewa kamar kost-nya, Nathan (Rodney) nekat menerima sebuah pekerjaan yang berurusan dengan pembunuhan dan obat bius. Cara kerja yang amatiran membuat pemuda ini malah menceburkan diri ke dalam kesulitan yang lebih besar. Debut penyutradaraan Doane ini adalah sebuah film yang sangat stylish lengkap dengan beberapa trik plotting yang lumayan cerdik. Para pemainnya – segolongan anak muda tidak dikenal – juga bermain bagus. Namun secara keseluruhan kita tidak menemukan apa-apa dibalik permukaan film yang agak arogan ini. [R]
God and Monsters (½)- 1998 / Billy Condon / Ian McKellen, Brendan Fraser, Lynn Redgrave, Lolita Davidovich, Kevin J. O’Connor, David Dukes, Mark Kelly, Jack Plotnick / [115 mnt] Film klasik “Frankenstein” melegendakan Boris Karloff sang aktor, namun adakah yang ingat siapa sutradaranya? Pasti ada, namun tak banyak. James Whale, orang Inggris itu, memang tak pernah menjadi sutradara yang sangat dihormati. Film ini menceritakan masa tua Whale (McKellen) di Amerika. Pria gay yang sakit-sakitan ini hidup hanya ditemani Hannah (Redgrave), pembantunya yang juga tak muda lagi. Suatu waktu Frank tua tertarik untuk melukis tubuh tukang kebunnya (Fraser), tentu dengan imbalan uang. Transaksi ini kemudian berlanjut menjadi sebuah persahabatan yang intensif dan dilematis antara keduanya, dengan keterlibatan Hannah sampai batas-batas tertentu. G&M adalah film psikologis yang enak dinikmati, skenario dan penyutradaraan Condon memungkinkan semua itu, ditunjang sinematografi yang selalu berhasil menampilkan ekspresi dalam setiap shot. McKellen tampil dengan kekuatan penuh sebagai Whale, aktingnya menguasai film ini. Redgrave dan Fraser juga bermain baik. Skenario film ini adalah hasil adaptasi Condon dari buku “Father of Frankenstein” karya Christopher Bram. [R]
God’s Army (lihat: The Prophecy )
Go Fish ()- 1994 / Rose Troche / Guinevere Turner, V.S Brodie, Wendy McMillan, Migdallia Melendez, Anastasia Sharp / [83 mnt] (Hitam Putih) “Film lesbian yang sesungguhnya” atau “Beginilah seharusnya film lesbian dibuat”, ada kesan bahwa film ini ingin tampil demikian. Ceritanya berkisar dalam sebuah komunitas kecil lesbian, beberapa orang teman berusaha untuk menyatukan Max (Turner, yang juga menulis naskah dan memproduseri film ini bersama Troche), seorang penulis wanita yang selalu memapankan pendapat-pendapatnya, dengan Evy (Brodie), seorang tomboy yang agak kaku dan banyak menyimpan rahasia. Semula Max selalu menganggap Evy bukan “levelnya”, namun semakin hari dia semakin menemukan daya tarik dalam diri Evy. Ini adalah sebuah film yang dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi begitu hidup dalam gaya semi dokumenter yang eksentrik, walau dalam beberapa aspek terkesan sangat amatiran. Semua pemain mendukung ke arah situ, dengan diujungtombaki Turner dan Brodie, keduanya tak sedikitpun kelihatan berakting. Fotografi hitam putih dengan gaya yang sangat imajinatif dan perspektif tema yang cenderung dialogis (walau kadang berkhotbah juga) pasti sangat mengagumkan untuk sebagian pemirsa, namun pasti sangat membingungkan untuk yang lain. Hampir semua yang terlibat dalam film ini adalah debutan, dan juga hampir semuanya lesbian atau bisexual (Turner adalah pasangan Troche waktu itu), mereka membuat film ini konon dengan biaya kurang dari US$ 10.000,00 dalam waktu hampir dua tahun. Dari homosexual, tentang homosexual, namun jelas sekali ingin ditonton para hetero. Film yang inovatif, berani, penuh opini, provokatif, dan juga sexy, pertimbangan setuju atau tidak setuju diserahkan seluruhnya pada pemirsa. [R]
Gone in Sixty Seconds ()- 2000 / Dominic Sena / Nicolas Cage, Giovanni Ribisi, Angelina Jolie, Robert Duvall, Delroy Lindo, Christopher Eccleston, T.J Cross, William Lee Scott, Vinnie Jones, Grace Zabriskie, Scott Caan, Will Patton, James Duval, Timothy Olyphant, Chi McBride, Mike Owen / (119 mnt) Randall Reines alias Memphis (Cage) telah bertekad untuk menghentikan kegiatannya sebagai pencuri mobil.Tetapi ketika dia mendengar bahwa adiknya, Kip (Ribisi), berada dalam bahaya, tekad Memphis goyah. Kip berurusan dengan seorang gangster Inggris, Ray Calitri (Eccleston), yang mengharuskannya melakukan pencurian limapuluh mobil mewah dalam waktu empat hari, kalau tidak, nyawa Kip terancam. Siapa lagi yang bisa menolong selain Randall Raines? Tapi pekerjaan ini tentu tak bisa dilakukan sendiri, maka Randall pun mengumpulkan gang lamanya yang terdiri dari beberbagai jeis manusia. Aksi mereka adalah salah satu menu utama film ini, sebuah aksi kejahatan tingkat tinggi yang begitu rapi dan bahkan terkesan eksotik. Toh, usaha mereka tercium juga oleh seorang polisi (Lindo). Dan usaha mereka untuk menghindari sang polisi adalah menu lainnya, begitu juga urusan dengan Ray Calitri. Semua disajikan dalam gaya yang menyilaukan mata dan memekakan telinga, glamor dan berteknik tinggi. Pemirsa diminta dengan sukarela untuk memasuki dunia laga yang begitu sempurna, dan setelah film berakhir terpaksa sadar kembali bahwa mereka bermimpi pun tidak. [PG-13]
Goodbye America ()- 1998 / Thierry Notz / Corin Nemec, Rae Dawn Chong, John Haymes Newton, Alexis Arquette, Wolfgang Bodison, Nanette Medved, Alma Concepcion, Maureen Flanigan, Angel Aquino, Daviz Ramirez, Raymond Bgasing, Richard Joson, James Brolin, Michael York / (AMERIKA SERIKAT - PHILIPINA) / [119 mnt] / Film ini menceritakan hari-hari terakhir beberapa prajurit Angkatan Laut Amerika Serikat di Philipina. Romantismenya dangkal dan mendayu-dayu. [R]
Goodbye Lover (½)- 1999 / Roland Joffe / Patricia Arquette, Dermott Mulroney, Ellen DeGeneres, Mary Louise Parker, Don Johnson, Ray McKinnon, John Neville, Alex Rocco / [110 mnt] / Ben (Johnson) terbunuh. Apakah ini permainan adiknya, Jake (Mulroney), dan Sondra (Arquette), wanita licin istri Jake yang sempat serong dengan Ben? Lalu apakah Peg (Parker), calon istri Ben yang kelihatan lugu, memang tak punya rencana apa-apa? Dan apa pula kepentingan seorang detektif wanita (De Generese) yang begitu bersemangat membongkar kasus ini? Jangan dulu curiga pada berlebihan pada sosok pembunuh bayaran yang tampak licik dan kejam (Gallo) karena semua orang dalam film ini memang berpotensi untuk menjadi lick dan kejam, yang menentukan adalah siapa yang lebih tepat memilih waktu dan memilih pasangan kerja. Dengan bersamangat Joffe menggarap skenario Ron Peer, Alec Sokolov, dan Joel Cohen yang sudah berbelit menjadi lebih berbelit lagi, film ini pun menjadi semakin memusingkan atau menyenangkan berkat gayanya yang sangat “lembab”, walau segalanya terlalu familiar untuk kita. Rombongan pemainnya sangat bisa dipercaya, mereka memanfaatkan kepercayaan itu dengan baik, terutama Arquette sebagai Sondra yang berbisa dan De Generese sebagai polisi yang beracun. [R]
GoodFellas (½)- 1990 / Martin Scorsese / Ray Liotta, Lorrainne Bracco, Robert De Niro, Joe Pesci, Paul Sorvino, Christina Scorsese, Frank Siverro, Frank di Leo, Frank Vincent, Christopher Serrone, Deby Mazar, Samuel L.Jackson / [146 mnt] Kisah film ini diambil dari novel karya Niccolo Pilleggi, “The Wiseguy”. Dari nama penulis novelnya, sutradaranya, serta deretan aktor dan aktrisnya, yang hampir semuanya ItalianAmerican, kita sudah bisa menduga film dengan cerita macam apa GoodFellas ini, dan Scorsese seolah sedang memberitahu bagaimana caranya menceritakan kehidupan gangster. Fokus ceritanya adalah kehidupan Henry Hill (Liotta), seorang gangster kelas pinggir, yang demi keselamatan pribadinya akhirnya mengkhianati para mentor dan pelindungnya dengan menyeret mereka ke FBI. Scorsese hadir dengan salah satu karya terpentingnya, dan dia sedang berada dalam rangka back to basic, film ini mengingatkan kita pada semangat awal karirnya (“Who’s That Knocking at My Door?”, “Mean Streets”). Sulit mencari film tentang gangster yang bisa dijadikan tandingan GoodFellas dalam hal naturalisme (setelah menonton film ini, trilogi “The Godfather” bagaikan sebuah dongeng yang tak punya pijakan). Scorsese menggarapnya dengan penuh kejujuran dan ketelitian. Kekerasan memang kadang ditampilkan dengan sangat jelas, tapi itulah salah satu kejujuran khas Scorsese dalam menyoroti dunia kehidupan seperti ini. Para pemainnya bermain dengan sangat baik, terutama Pesci (yang memang selalu bermain bagus) dan Bracco (yang hampir tak pernah bermain bagus dalam film lain). Pujian selesai, selanjutnya hati-hatilah, gaya GoodFellas yang mendokumentasikan segala sesuatu dengan intensif bisa melelahkan sebagian dari anda, sebagai sebuah karya seni seorang sutradara, film ini adalah sebuah masterpiece bernilai , namun sebagai sebuah hiburan, rasanya GF terlalu berat untuk pemirsa yang merasa tak berkepentingan dengan kehidupan para tokohnya. [R]
* Academy Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Pesci), British Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Scorsese), Los Angeles Film Critics Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Scorsese), Aktor Pendukung Terbaik (Pesci), Aktris Pendukung Terbaik (Bracco), New York Film Critics Awards: Sutradara Terbaik (Scorsese)
Good Fight, The () -1992 / John David Coles / Christina Lahti, Terry O’Quinn, Kenneth Welsh, Lawrence Danne, Adam Trese, Andrea Roth, Tony Rosato / [100 mnt] / (Film Televisi) Penyakit kanker mulut yang menyerang seorang calon bintang football, membuat Prof. Cragin (Lahti), pengacara ahli yang juga ibu dari sahabat si pemuda, menuntut perusahaan besar pembuat rokok yang dipakai pemuda itu. Seperti biasanya, akting kelas utama Lahti - didukung skenario yang menyentuh tanpa menjadi cengeng - sanggup membuat pemirsa yang bisa menghargai film bagus tak tergoda untuk memindah saluran televisi (kecuali kalau ada acara hebat di saluran lain). Film ini digarap dengan sangat teliti dalam segala hal, namun terlalu sederhana untuk disebut istimewa. [R]
Good Will Hunting (½) -1997 / Gus van Sant / Matt Damon, Robin Williams, Ben Affleck, Stellan Skarsgard, Minnie Driver, Casey Affleck, Cole Hauser / [120 mnt] Will Hunting : usia 20 tahun, super jenius dalam matematika, yatim piatu, tidak melanjutkan sekolah, kesepian, sering berpindah-pindah pekerjaan, berkali-kali masuk sel tahanan karena kriminalitas kecil, pandai menyusun kata-kata, selalu mencoba mempertahankan diri dengan berlebihan, juga tak pernah segan menyakiti dan menyinggung perasaan orang. Tak akan mudah untuk dekat dengan sosok seperti itu, hanya beberapa temannya yang mampu. Jerry (Skarsgard), seorang profesor matematika, mencoba untuk mengarahkannya, namun Will terlalu liar. Sean (Williams), psikiater kesepian teman Jerry akhirnya berhasil menyentuh Will dan memulai sebuah hubungan yang cukup enak dengannya. Film ini hampir sepenuhnya milik Damon yang mungkin sejenius Will dalam hal lain, dia berakting luar biasa dan skenario yang dia tulis bersama Affleck memiliki kematangan yang sulit dipercaya mengingat mudabya usia mereka. Van Sant (“My Own Private Idaho”, “Drugstore Cowboys”) adalah orang yang tepat untuk menyutradarai sebuah kisah tentang anak muda yang sulit mendapat tempat di lingkungannya, dia memang mendramatisir beberapa adegan secara agak berlebihan dan membiarkan film ini mempunyai terlalu banyak klimaks, namun selain itu, ini adalah sebuah drama istimewa dari tahun 1997, tahun ketika Hollywood kekurangan film seperti ini. [R]
* Academy Awards: Skenario Asli Terbaik (Matt Damon & Ben Affleck), Aktor Pendukung Terbaik (Williams)
Gossip ()- 2000 / David Guggenheim / James Marsden, Lena Heady, Norman Reedus, Joshua Jackson, Kate Hudson, Marisa Coughlan, Edward James Olmos, Sharon Lawrence, Eric Bogossian, Timm Zemanek / (90 mnt) Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh tiga orang pelajar kolej cerdas (Marsden, Heady, dan Reedus) semula hanyalah eksperimen akademik tentang kecepatan perambatan dan dampak sebuah gosip. Mereka mencobanya dengan menyebarkan gosip hangat tentang Naomi (Hudson), salah satu figur mahasiswi paling terkenal di kolej itu. Tetapi gosip ini menyebar dan terdistorsi begitu cepat, dan sesuatu yang buruk terjadi pada Naomi, dan salah satu dari ketiga perencana itu ternyata mempunyai hubungan yang cukup erat dengan kejadian yang menimpanya. Film dengan dekorasi ruang yang cukup stylish ini terasa sangat slick, licin, dan cerdas. Plotnya dibuat gelap, kita merasakan kesengajaan, maka ketika sebagian dari plot itu menjadi tembus pandang, kita juga bisa melihat betapa artifisialnya sesungguhnya segala sesuatu dalam film ini. Ketika aksi ketiga anak muda ini telah berurusan dnegan yang berwajib, kita sudah hampir kehilangan keperdulian sama sekali pada mereka. [R]
Grave Indiscretion ()- 1995 / John Davidson / Alan Bates, Theresa Russell, Sting, Trudie Styler, Maria Aitken, Jim Carter, Michael Cronin, Richard Durden, James Fleet, Bob Goody, Lena Headey, David Henry, Edward Jewesbury, Timothy Kightley, Nick Lucas, Steven Mackintosh, Anna Massey, John Mills, Annette Badland, Chris Barnes, Jeffry Wickham / {BRITANIA} / (( The Grotesque )), (( Gentlemen Don't Eat Poets )) / (97 mnt) / Sejak kita pertama kali memasuki rumah keluarga Coal, kita sudah bisa sedikit menduga film macam apa ini. Penata artistiknya, Jan Roelfs dan Michael Seirton, mendandaninya sedimikian rupa - artistik, konyol, dan mengerikan - hingga kita pun bisa menebak orang seperti apa yang tinggal di dalamnya. Sir Hugo Coal (Bates), sang pemilik rumah, menghabiskan banyak waktu di "laboratoriumnya" berkutat dengan fosil-fosil dinosaurus. Istrinya, Harriet Coal (Russell), selalu tampak pasif, namun kepasifannya akan mencurigakan pemirsa manapun. Sementara putrinya, Cleo Coal (Headey), sibuk dengan kesunyiannya yang erotis dan rencana pertunangan dengan seorang penyair (Mackintosh). Suasana rumah ini bertambah ganjil dengan munculnya sepasang pelayan dengan tingkah laku yang tak kalah aneh dengan The Coals, mereka adalah suami istri Fledge dan Doris (dimainkan oleh suami istri Sting dan Trudie Styler, sepasang produser film ini). Melihat gelagatnya, Fledge dan Doris punya rencana lebih dari sekedar menjadi pelayan. Misteri, misteri, dan misteri, terus datang bertumpuk dalam film ini, semuanya muncul dalam sebuah komedi - kalau anda setuju dengan istilah itu - dengan selera humor yang mengerikan. Sekali saja anda bisa tertawa pada humornya, anda tak bisa lagi lepas dari daya tarik film ini, namun kalau sejak awal segalanya tampak menjijikan, jangan lanjutkan menontonnya. Sebagian pemirsa akan menganggapnya kenikmatan yang eksentrik, sebagian lagi cukup dengan mencap film ini berselera buruk. Selain detil cerita yang gila dan visualisasi yang senantiasa berlebihan, kesan-kesan film ini juga disebabkan oleh para pemainnya - terutama Bates, Sting, Styler, dan Massey - yang juga selalu berakting senada dengan suasana lingkungan mereka.
Great Expectations () -1998 / Alfonso Cuaron / Ethan Hawke, Gwyneth Paltrow, Hank Azaria, Chris Cooper, Anne Bancroft, Robert De Niro, Josh Mostel, Kim Dickens / [120 mnt] Dari London lama ke Florida dan New York di tahun 1980-an Charles Dickens mengembara dengan kisahnya tentang Finnegan Bell (Philp “Pip” Pirrip dalam buku) seorang bocah miskin yatim piatu yang menjadi pelukis terkenal dengan kesuksesan yang disutradarai seorang tokoh misterius. Selain updating, Cuaron juga mengizinkan penyederhanaan cerita dan tokoh, hasilnya, lupakan David Lean, malah menjadi sebuah film yang tergesa-gesa dan tak membekaskan kesan walau penuh dengan visualisasi yang lumayan mempesona (namun penggunaan layar lebarnya membuat keindahan gambar-gambarnya tak mungkin dinikmati dengan sempurna di televisi). Segala macam perubahan, yang sebenarnya sah-sah saja dilakukan, akhirnya membuat unsur keajaiban dalam cerita Dickens menjadi terlalu transparan dan dangkal. Harus diakui, film ini tidak sememuaskan seharusnya, tidak memenuhi great expectations kita. Bancroft gagal mencuri perhatian sebagai Mrs.Dinsmoore (Miss Havisham dalam buku), sementara duet sexy Hawke-Paltrow tidak benar-benar berada pada tempat yang bisa membuat mereka menjadi pasangan yang pantas dikenang. [R]
Green Card (½)- 1990 / Peter Weir / Gérard Depardieu, Andie MacDowell, Bebe Neuwirth, Gregg Edelman, Robert Prosky, Jessie Keosian, Ethan Philips, Loise Smith, Mary Louise Wilson / (PRANCIS - AUSTRALIA) {Bahasa Inggris dan Bahasa Prancis} / [108 mnt] Seorang wanita Amerika (MacDowell) bersedia mengaku secara hukum sebagai istri seorang laki-laki Prancis (Depardieu) ketika dia membutuhkan surat nikah dengan warga setempat untuk memperoleh kewarganegaraan. Untuk pembuktian lebih lanjut terhadap pihak imigrasi, mereka ternyata harus tinggal bersama untuk beberapa saat. Kelanjutannya? Tidak sulit ditebak, bukan? Rangkaian masalah rutin terjadi kemudian dalam komedi penghibur ini. Inilah satu dari sedikit karya Weir yang tidak istimewa, walu tidak sampai membuat film ini dengan gaya persis seperti yang diperkirakan orang akan dilakukan oleh sutradara manapun pada cerita seperti ini, Weir hanya mampu memperlihatkan sedikit sekali sentuhan khasnya. Memang tidak jelek, apalagi dengan duet Depardieu dan MacDowell yang mendekati kesempurnaan. [PG-13]
* Golden Globe: Film Terbaik Musikal/Komedi, Aktor Terbaik Musikal/Komedi (Depardieu)
Green Mile, The ()- 1999 / Frank Darabont / Tom Hanks, Michael Clarke Duncan, David Morse, James Cromwell, Michael Jeter, Sam Rockwell, Graham Greene, Bonnie Hunt, Patricia Clarkson, Doug Hutchison, Jefrey DeMunn, Harry Dean Stanton, Gary Sinise, William Sadler, Brent Briscoe/ (187 mnt) / Paul Edgecomb (Hanks) bertugas menyelia tempat para terpidana menunggu hukuman mati di Cold Mountain Penitentiary, Louisiana. Edgecomb adalah petugas yang baik, kontras dengan seorang sipirnya, Wheatmore (Hutchison). Perhatian Edgecomb, dan pemirsa, kemudian terpusat pada John Coffey (Clarke Duncan), seorang raksasa legam yang tampak sangat mengerikan. Coffey menunggu hukuman mati dengan perkara perkosaan dan pembunuhan terhadap anak-anak kecil. Edgecomb lebih dari sekedar tertarik pada raksasa ini, dia mulai mendekatinya, dan semakin dekat, Edgecomb mulai melihat jauh ke dalam pria hitam yang ternyata begitu sopan dan lugu ini, Paul menemukan sesuatu yang berada di atas kodrat fisik manusia dalam diri John Coffey. Banyak orang menganggap film ini sebagai sebuah perjalanan spiritual yang sangat emosional dan mengandung "pencerahan", maaf, kami tidak termasuk golongan itu. The Green Mile, sebuah kisah dari novel Stephen King, pada dasarnya adalah ekstremisasi dari gambaran-gambaran klise tentang berbagai hal yang dicakupnya: kematian yang mendekat, wahyu, persahabatan, dll. Kita tahu King, dia bisa dan biasa melipatgandakan kesan apapun dengan bahasa dan imajinasinya yang kadang kekanak-kanakan. Darabont mengembalikan lagi kisah ini ke alam yang lebih beralasan, sekaligus memberinya sentuhan-sentuhan Hollywood yang membuat film ini begitu mudah merasuki pemirsa tanpa mengundang keluhan pada sentimentalismenya dan pada durasinya yang panjang. Hanks dan Clarke Duncan juga pada dasarnya memainkan peran yang dibuat khusus di "pabrik peran simpati Hollywood", mungkin buku untuk memainkan peran-peran seperti ini sudah ada di pasaran, tapi bagaimanapun mereka memang punya kharisma, sesuatu yang hasilnya akan disukai banyak orang jika digabung dengan formula klise seperti ini. [R]
Gremlins 2. The New Batch ()- 1990 / Joe Dante / Zach Galligan, Phoebe Cates, John Glover, Robert Prosky, Robert Picado, Christopher Lee, Havilland Morris, Dick Miller, Jackie Joseph, Gedde Watanabe, Keye Luke, Kathleen Freeman / [106 mnt] / Kebanyakan orang berpendapat bahwa The New Batch hanya tiruan yang diperbesar dari film pertamanya, "Gremlin" (1984). Kami setuju-setuju saja, namun kami ingin menambahkan bahwa yang dilakukan bukan hanuya "pembesaran". Beberapa tahun setelah kejadian dalam film pertama, pasangan Billy Peltzer (Galligan) dan Kate Geringer (Cates) telah pindah ke New York dimana Bill bekerja di sebuah perusahan media besar. Billy bertemu lagi dengan Gizmo, si Mogwai kecil dari Pecinan. Bisa diduga, jumlah Mogwai terus bertambah dan merusak proyek besar New York. Bagi anda yang tak mengenal Gremlin pertama, kami informasikan bahwa Mogwai pada dasarnya adalah sesosok binatang kecil yang lucu, namun mempunyai pantangan makan malam dan terkena air, karena kalau tidak dia akan berkembang biak - atau tepatnya membelah diri - menjadi bermacam tipe makhluk yang nakal, usil, kurang ajar, bahkan berkelakuan iblis. Dalam penampilan kedua mereka ini, para Mogwai menjelma dalam berbagai bentuk yang mengerikan sekaligus mengundang tawa. Film ini memperkaya diri dengan berbagai satir tentang berbagai hal, mulai tentang media massa, iptek, dunia film, sampai seksualitas. Sequel ini adalah satu dari sedikit sequel yang berhasil menjadi hiburan yang lebih meriah dari film aslinnya. Satu-satunya penurunan tensi yang jelas adalah ketika aksi beberapa Mogwai terasa berlebihan dan berkepanjangan. The New Batch juga diisi puluhan cameo dari wajah-wajah akrab, yang paling menarik adalah penampilan kritikus film terkemuka, Leonard Maltin, yang digambarkan sedang mengomentari film Gremlin sebelum diserang seekor Mogwai. [PG-13]
Grifters, The (½)- 1990 / Stephen Frears / John Cusack, Anjelica Huston, Anete Bening, Pat Hingle, J.T. Walsh, Charles Napier, Gaillard Sartain, Stephen Tobolowsky / [114 mnt] Kisah hitam ini bisa menjadi potret yang mengerikan dari dunia materialisme yang membuat kata “perasaan” menjadi sangat sulit diartikan. Seorang wanita setengah baya (Huston) menemui lagi anaknya (?) (Cusack) setelah belasan tahun saling terasing. Pada saat yang bersamaan, sang anak sedang sampai pada puncak hubungannya dengan seorang wanita genit yang misterius (Bening). Jangan salah! Kisah ini tak lantas menjadi kisah klasik ibu - anak - calon menantu, karena ketiga orang ini sama-sama mencari nafkah dari berbuat curang, secara terpisah dan dalam kelas yang berbeda. Tak ada yang manis dalam cerita ini, dalam film ini dunia bahkan terasa begitu busuk dan menjijikkan. Frears berhasil menggambarkannya dengan sangat tajam, sekuen pertama sudah memberi gambaran awal bahwa dia sedang membuat sesuatu yang istimewa, dan sekuen-sekuen setelah itu meyakinkan lagi hal itu. Ketiga pemain utamanya juga benar-benar brilian. Huston dan Cusack mendapat peran yang sangat pas dan mereka memanfaatkannya dengan baik, sedangkan Bening mencuri perhatian pada seluruh adegan yang melibatkannya. [R]
* Los Angeles Film Critics Awards: Aktris Utama Terbaik (Huston), Independent Spirits Awards: Film Terbaik, Aktris Utama Terbaik (Huston)
Groove ()- 2000 / Greg Harrison / Lola Glaudini, Hamish Linklater, Denny Kirkwood, Mackenzie Firgens, Vincent Riverside, Rachel True, Steve van Wormer, Nick Offerman, Ari Gold, Angelo Spizzirri, Jeff Witzke, Bradley K. Ross, Lew Baldwin, Dmitri Ponce / (83 mnt) Ernie (van Woren) mengadakan sebuah pesta house music di sebuah gudang yang tak terpakai. Kenapa Ernie berpesta? Film ini mencoba mengatakan motivasi dan semangat Ernie. Orang-orang berkumpul di dalam gudang yang disulap menjadi mirip diskotik besar ini, melupakan segal hal di luar sana, berkenalan dengan teman-teman baru atau sekedar bertemu teman lama, dan tentu saja sebagian besar mabuk berat. Groove berputar-putar di dalam gudang untuk membahas masalah-masalah remeh yang hampir semuanya klise dan mudah ditebak. Kita memang masih bisa peduli pada tokoh-tokohnya, namun kepedulian yang hanya sampai di permukaan, sampai tarap kehadiran, mereka tak membangkitkan simpati namun juga tak bisa kita abaikan begitu saja. Daya tarik film ini murni berada pada pesta Ernie itu sendiri, dengan tidak memandang kisah-kisah manusia di dalamnya. Pilihan terbaik adalah memilih untuk hadir dalam film ini sebagai salah satu tamu pesta, untuk menikmati musik yang hingar bingar (jangan tahan-tahan volume suaranya!), melupakan masalah, dan tak mau menambah masalah dengan memperhatikan tokoh-tokoh lain dalam film ini. [R]
Grosse Pointe Blank ()- 1997 / George Armitage / John Cusack, Minnie Driver, Alan Arkin, Dan Arkroyd, Joan Cusack, Jeremy Piven, Hank Azaria, Barbara Harris, Mitchell Ryan, K. Todd Freeman, Michael Cudlitz / [114 mnt] Black comedy ini bercerita tentang Martin Blank, seorang pembunuh bayaran yang mulai tertekan oleh profesinya itu, yang sebetulnya telah bisa dia nikmati. Suatu waktu dia pulang ke kota kecilnya, Grosse Pointe, untuk menghadiri reuni sekolah dan menyelesaikan salah satu tugas terakhirnya, dengan berbagai bahayanya. Di sana juga Martin bertemu dengan pacar masa mudanya, Deb (Driver) yang bekerja sebagai penyiar radio. Deb ternyata mempunyai kaitan yang erat, bahkan sangat erat, dengan tugas Martin saat ini. GPB menyajikan sebuah tinjauan yang cukup unik atas profesi yang sangat sering disoroti film-film Amerika ini, dibungkus dalam plotting yang renyah, karakterisasi yang menarik, dan dialog-dialog yang enak dinikmati (banyak diantaranya yang disampaikan dalam close up-close up yang manis). Keklisean dan arah yang mudah ditebak masih ada di sana-sini, namun tidak terlalu mengganggu, kita juga masih bisa memaafkan kesimpulan akhirnya yang tidak begitu memuaskan. John, yang ikut menulis skenario dan menjadi salah satu produser eksekutifnya, menguasai fil dengan menawan, begitu juga Driver, Aykroyd sebagai pengejar lain, dan Mbak Joan, sebagai si “penunjuk arah”. [R]
GroundHog Day, The () - 1993 / Harold Ramis / Bill Murray, Andie MacDowell, Chris Elliott, Stephen Tobolowski, Brian Doyle Murray, Rick Ducommun, Rick Overtorn / [103 mnt] Phil Conors (Murray) adalah seorang pembawa acara ramalan cuaca yang sangat terkenal, sebuah kejadian hebat menimpanya: dia bangun pada hari yang sama dengan suasana yang sama berulang-ulang selama puluhan kali! Keaadaan ini sempat secara bergantian membuatnya heran, bingung, gembira, bosan, tersiksa, dan frustrasi sampai berkali-kali mencoba untuk bunuh diri. Dia berusaha dengan berbagai cara untuk menemukan hari esok atau, kalau itu tidak mungkin, dia harus memanfaatkan hari ini yang mungkin akan menjadi satu-satunya hari yang dia miliki. Tak ada yang membosankan dalam komedi romantis dengan ide cerita yang sesungguhnya potensial untuk menciptakan kebosanan ini, GH selallu menemukan jalan ke situasi yang segar. Selain itu, Murray nyaris sempurna sebagai Phil, dan MacDowell juga menjadi pasangan yang nyaris sempurna sebagai Rita. [PG]
Guarding Tess (½)- 1994 / Hugh Wilson / Shirley MacLaine, Nicolas Cage, Austin Pendleton, Edward Albert, James Rebhorn, Richard Griffiths, John Roselius, David Graf, Don Yesso, Susan Blommaert, Dale Dye, James Handy / [98 mnt] Cage merasa bahwa tugasnya mengawal mantan ibu negara, MacLaine, telah cukup dan harus segera berakhir. Namun tidak semudah itu, ada beberapa kejadian besar yang harus dilewatinya sebelum dia berhenti (kalau bisa). Komedi ini dibuat dari sebuah ide yang memang mudah ditebak kemana arahnya, pengawal pribadi yang frustrasi dan ibu negara yang tidak terlalu pandai bersikap manis tentu merupakan pasangan yang bisa merangkai banyak kejadian yang mengundang tawa, namun film ini tidak seluruhnya terjerumus ke keklisean, banyak kenakalannya yang cukup menggelitik. Duet ganjil namun terpercaya MacLaine dan Cage juga sangat memperbanyak persediaan udara segar. [PG-13]
Guilty By Suspicion (½)- 1991 / Irwin Winkler / Robert de Niro, Anette Bening, George Wendt, Patricia Wettig, Sam Wanamaker, Luke Edwards, Chris Cooper, Ben Piazza, Martin Scorsese, Barry Primus, Gailard Sartain / (105 mnt) Cerita ini adalah bagian fiktif kecil dari kisah "penggeledahan Hollywood" yang dianggap sarang seniman-seniman berhaluan komunis pada tahun limapuluhan, pada saat itu beberapa sutradara masuk daftar hitam dan beberapa diantaranya harus hidup dalam pengasingan (termasuk Wanamaker dalam kehidupan nyata). Tokoh utama cerita ini adalah Merill Zanuck (De Niro), salah seorang sutradara di zaman itu, dengan segala masalah yang dihadapinya. Semua bagian film ini terlaksana dengan baik dalam gaya Winkler yang sangat dingin, penokohan yang jelas, dan paduan akting yang bisa dipercaya, namun dengan semua itu, GbS tetap masih jauh sekali dari katagori film istimewa. Juga jangan menjadikan film ini referensi penting dalam usaha mengetahui apa yang terjadi pada zaman itu, ini bukan film sejarah. [PG-13]
Guncrazy (½)- 1992 / Tamra Davis / Drew Barrymore, James Le Gros, Billy Drago, Rodney Harvey, Joe D’Allesandro, Michael Ironside, Ione Skye / [97 mnt] Seorang remaja tersisih (Barrymore) yang tinggal bersama ayah tirinya dalam sebuah caravan, bersahabat pena dengan seorang narapidana (Le Gros). Sekeluarnya sang napi dari penjara, kedua sahabat yang kemudian menjadi sepasang kekasih ini memulai petualangan baru mereka di dunia yang liar. Film ini nyaris tersuruk ke dalam situasi bentukan yang klise dan membosankan, dan baru terasa menarik setelah film memasuki pertengahan ketika beberapa pendalaman cerita dan style penyutadaraan mulai muncul. Le Gros bermain cukup meyakinkan dan Drew bersinar dengan akting brutalnya yang memikat, namun apakah aktris seberbakat ini hanya dilahirkan untuk memainkan peran yang hampir sama dari film ke film? [R]
Gunmen (½)- 1994 / Deran Sarafian / Christopher Lambert, Mario van Peebles, Dennis Leary, Pattrick Stewart, Kadeem Hardison, Sally Kirkland / [90 mnt] Ini hanyalah satu dari ratusan action stereotype tentang penumpasan gembong obat terlarang dengan bumbu balas dendam. Film dibuat tanpa identitas gaya, ngawur, dan membosankan. Sebagian kecil adegan actionnya masih mungkin untuk dinikmati oleh penonton yang bukan penggemar Lambert, sebagian kecil lainnya khusus untuk penggemar Lambert, dan sisanya akan membuat penggemar Lambert pun berkata, “Pasti begitu” atau “Bosan!” [R]


H


Habitat (½)- 1999 / Renee Daalder / Alice Kriege, Balthazar Getty, Tcheky Karyo, Kenneth Welsh, Laura Harris, Brad Austin, Christopher Heyerdahl, Kris Holdenreid, Daniel Pilon / (KANADA-BELANDA) / [103 mnt] / Habitat adalah campuran antara sci-fi, thriller, drama komedi, dan pesan-pesan ekologi; tapi anda jangan mengharapkan sesuatu yang terlalu cerdas karena Daalder membungkusnya dengan selera “murahan”, yang terus terang saja lumayan mengasyikan. Karyo bermain sebagai seorang ilmuwan yang menjadi korban kecerobohan penelitiannya sendiri sehingga tubuhnya menghasilkan spora yang membuat rumah ditumbuhi berbagai tanaman. Dia kemudian mengajak istri dan anaknya pindah ke kota lain, di sana mereka bertetangga dengan seorang pelatih olahraga (Welsh). Putra Karyo (Getty) kemudian menjalin hubungan dengan putri sang pelatih (Harris). Pertentangan antara kedua keluarga kemudian terjadi, dan akhirnya sebuah badan pemerintah ikut terlibat mengkarantina dan menduduki rumah sang ilmuwan. Dalam beberapa hal, film ini terasa mirip sebuah komedi situasi televisi dengan biaya yang agak besar (sampai-sampai kita kadang mengharapkan laughing track terdengar!), Habitat memadukan jalinan permasalahan dan humor yang benar-benar konyol dengan tata artistik yang genit dan spesial efek yang efektif. Kalau saja Daalder bisa menahan diri agar tidak sok serius dalam beberapa bagian, film ini akan bisa menjadi hiburan yang lebih segar.
Hamlet (½)- 1996 / Keneth Branagh / Kenneth Branagh, Derek Jacobi, Julie Christie, Richard Briers, Kate Winslet, Nicholas Farrell, Michael Maloney, Brian Blessed, Gerard Depardieu, Jack Lemmon, Charlton Heston, Rufus Sewell, Richard Attenborough, Timothy Spall, Reece Dinsdale, John Gielgud, Judi Dench, Ken Dodd, Ray Fearon, Rosemary Harris, Ian McElhinney [242 mnt] dan [120 mnt] / Seperti yang sudah diduga sejak namanya pertama dikenal, Branagh memang tak akan tahan melewatkan Hamlet dari daftar naskah Shakespeare yang harus digarapnya, maka lahirlah film mayor keempat tentang pangeran melankolis penuh dendam dari Denmark ini. Mau tidak mau, setidaknya ada tiga film yang akan selalu dibanding-bandingkan dengan film ini, yang pertama adalah “Hamlet” versi Laurence Olivier yang seakan menjadi standar abadi untuk setiap film dari cerita yang sama, kemudian “Hamlet” pop ala Franco Zeffirelli yang menjadi perbandingan terdekat, dan yang ketiga adalah “Henry V”, karya debut - dan masih dianggap karya terbaik - Branagh sendiri. Ken cerdik sekali, naskah asli Shakespeare nyaris dibiarkan apa adanya, kecuali setting yang berpindah ke sekitar abad XIX, tak banyak nuansa teater yang dihilangkan, lalu dia memfilmkannya dengan atmosfir kegilaan dan histeria yang pekat sekali, gaya penyutradaraannya terkuras namun relatif aman dari kritikan dengan cara begini. Menampilkan “Hamlet” lengkap di layar lebar mungkin adalah ide yang tidak terlalu menarik bagi sutradara “pop” yang lain, tapi kita yakin bahwa Branagh tak pernah sebersemangat ini. Dia sendiri memainkan Hamlet dengan gaya yang cukup berbeda dengan gaya Oliver atau Mel Gibson, dan penampilannya itu berhasil menjadi pusat magnet yang kuat sekali, “Henry V” boleh menjadi landmarknya sebagai sutradara, namun sebagai Hamlet inilah kita menemukan Kenneth Branagh, sang aktor, dalam total exposure. Deretan pemeran pendukungnya adalah casting impian, kita tak akan kekurangan warna dengan orang-orang seperti ini. Di antara mereka, Jacobi sangat dominan sebagai Ulaidius dan Winslet mendidihkan peran Ophelia dengan hasil yang luar biasa. Penampilan cameo yang mengejutkan dari Billy Crystal dan Robin Williams cukup menambah selera humor film ini. Catatan : Film ini dirilis dalam versi asli 243 menit, namun anda akan menemukan versi director’s cut dalam LD dan VCD yang secara ekstrem diperpendek menjadi dua jam, kedua versi ini mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing dalam menciptakan kenikmatan menonton. [R]
Handmaid’s Tale, A (½)- 1990 / Volker Schlondroff / Natasha Richardson, Robert Duvall, Faye Dunaway, Aidan Quinn, Elizabeth McGovern, Victoria Tennant, Blanche Baker, Traci Lind / [120 mnt] Di sebuah negara, pemerintah membentuk sebuah institusi strategis yang mengumpulkan wanita-wanita untuk dijadikan ibu untuk melahirkan anak berkwalitas tinggi. Richardson adalah salah satunya, dia mendapat perhatian khusus dari Duvall, salah satu orang penting di negara itu, dan itu menimbulkan banyak masalah. Konon, thriller ini cukup menimbulkan kontroversi, namun sesungguhnya ini adalah film yang sangat biasa, tidak memberikan sesuatu yang istimewa, walaupun juga tidak jelek. [R]
Hand That Rocks the Craddle, The ()- 1992 / Curtis Hanson / Annabella Sciorra, Rebecca De Mornay, Matt McCoy, Ernie Hudson, Madeline Zima, Julianne Moore, John de Lancie / [110 mnt] De Mornay berperan sebagai seorang pengasuh bayi yang bekerja pada pasangan Sciorra dan McCoy dengan niat balas dendam dalam sebuah thriller yang sejak awal sudah bisa ditebak kemana akan mengalir. Akting De Mornay dan Sciorra mampu menjadi daya tarik untuk beberapa saat, hanya untuk beberapa saat. Setuju atau tidak, percaya atau tidak, sudah tahu atau belum, film tak istimewa ini adalah salah satu film terlaris di tahunnya! [R]
Hard Eight, The ()- 1997 / Paul Thomas Anderson / Philip Baker Hall, John C.Reilly, Gwyneth Paltrow, Samuel L.Jackson, Philip Seymour Hoffman / [94 mnt] Sydney (Hall) adalah seorang pria misterius yang tiba-tiba muncul bagai malaikat yang memberikan bantuan dan kasih sayang tanpa pamrih pada John (Reilly), pemuda pengangguran yang naif, dam pada Valentine (Paltrow), seorang pramusaji merangkap pelacur. Ketika John dan Valentine menikah, ketiga tokoh ini (yang dimainkan dengan sangat bagus oleh ketiga pemainnya) mulai saling seret ke dalam kesulitan masing-masing sampai kemudian muncul pertanyaan: apakah Sydney memang sungguh-sungguh memberikan semuanya begitu saja? Atau ada sesuatu yang besar dibalik semua itu? Gaya penyutradaraan Anderson yang serba standar melakukan pendekatan yang serba literal pada skenario yang ditulisnya sendiri, itu saja sudah cukup walau gagal membuat film menjadi istimewa. [R]
Hard Way, The (½)- 1991 / John Badham / Michael J. Fox, James Woods, Annabella Sciorra, Stephen Lang, Penny Marshall, Luis Guzman, Christina Ricci, LL Cool J / [111 mnt] Seorang aktor terkenal (Fox) ingin turun ke dunia nyata kepolisiaan dan memaksa pihak kepolisian untuk mengijinkannya menjadi partner kerja Robson (Woods), seorang detektif yang kaku dan selalu serius. Hubungan Fox-Woods cukup lucu untuk memancing tawa, sebagian adalah tawa yang tulus, segar, dan meriah, sebagian lagi bukan, karena kita sudah terlalu sering melihat sebagian idenya dalam film lain. [R]
Hear My Song ()- 1991 / Peter Chelsom / Adrian Dunbar, Ned Beatty, Tara Fitzgerald, Shirley Anne Field, David McCallum, William Hootkins, James Barren, William Nesbitt / {BRITANIA - A.S} / [92 mnt] Mickey O’Neill (Dunbar, yang juga menulis skenarionya bersama Chelsom) adalah seorang promotor konser yang juga memiliki sebuah klub di Liverpool yang menghadirkan penyanyi-penyanyi impresario (salah satu diantaranya bernama Frank Cinatra!), namun itu bukan pekerjaan yang menguntungkan bagi Mickey. Untuk menyenangkan kekasihnya, Nancy (Fitzgerald), Mickey berusaha menemukan Joseph Locke, penyanyi tenor terkenal dari Irlandia yang menghilang selama duapuluh lima tahun setelah terbelit tunggakan pajak Mickey menemukan Locke di Liverpool, namun ternyata ini juga palsu! Maka, demi nama baiknya, demi klub, demi Nancy, dan demi segala sesuatu, Mickey pergi ke Irlandia untuk menemukan Locke yang asli, dia berhasil, legenda itu masih hidup (Beatty) dan bisa dibawa ke Liverpool! Namun apakah pihak kepolisian Inggris sudah memaafkan Locke? Itulah masalahnya. HMS adalah kerja debut yang memuaskan dari Chelsom yang tak pernah membiarkan film ini - tematis dan visual - kehilangan daya tarik. Film ini juga menampilkan paduan akting yang baik, dengan ditulangpunggungi si simpatik Dunbar (bandingkan dengan perannya sebagai anggota I.R.A berdarah dingin dalam “The Crying Game”) dan Beatty yang secara menakjubkan bisa membuat kita menyukai bajingan seperti Joseph Locke. Adegan terakhir yang menampilkan aksi sebuah mobil crane mungkin agak berlebihan, namun tak apa, film ini telah berhasil menjadi sebuah komedi roman yang hangat tanpa terjebak menjadi cengeng atau terlalu manis. Catatan kecil: Beberapa bagian dari film ini diambil dari kisah hidup Joseph Locke yang sesungguhnya, namun sebagian lagi adalah fiksi belaka. [R]
Heart ()- 1999 / Charles McDougall / Saskia Reeves, Christopher Eccleston, Kate Hardie, Rhys Ifans, Bill Paterson, Anna Chancellor, Matthew Rhys / (84 mnt) / Gary Ellis (Eccleston) menerima transplantasi jantung dari sumber yang tak dikenal. Kini Gary bisa hidup lebih sehat, ini berarti istrinya, Tess (Hardie), tak punya banyak alasan lagi untuk meneruskan perselingkuhannya dengan Alex (Ifans), jenis pria yang hanya wanita seperti Tess bisa tertarik. Gary sendiri sangat ingin mengetahui siapa pemilik jantungnya dulu. Pencariannya berakhir pada alamat seorang wanita bernaman MarieAnn McCardle (Reeves). Jantung yang sekarang berada dalam tubuh Gary ternyata adalah milik mendiang putra MarieAnn, seorang petinju muda berbakat yang hampir mewakili Britania Raya ke Olimpiade andai dia tak mengalami kecelakaan diseruduk mobil seorang wanita mabuk (Chancellor). Pertemuan dengan MarieAnn sangat melegakan Gary, namun bagi Marie Ann, ini berarti lebih, mengetahui jantung anaknya masih berdenyut, walau dalam tubuh orang lain, adalah pengalaman yang sangat istimewa bagi kita. Film ini terus mengembangkan ceritanya ke arah yang tak terduga, skenario Jimmy McGovern tak pernah kenal belas kasihan dan punya cukup tegangan untuk mencekam penonton. Penyutradaraan McDougall dan tata kamera Lee Amberson mengandalkan shot-shot yang tidak proporsional dan skema warna yang mencolok untuk menambah ketajaman filmnya. Kekuatan paling dahsyat film ini terletak pada Reeves, dia memilih untuk hampir tidak pernah mengubah ekspresi wajahnya sedikitpun sepanjang film, akting seperti ini membuat penampilannya pantas disebut sebagai akting paling mengerikan oleh seorang wanita sejak Kathy Bates dalam "Misery" (1990). Untuk sebagian pemirsa, film Liverpool ini tak begitu enak dilihat, kami tak merekomendasikannya pada pemirsa yang hanya senang melihat suasana yang indah di layar.
Heart and Soul (½)- 1993 / Ron Underwood / Robert Downey, jr., Charles Groddin, Tom Sizemore, Alfre Woodard, Kyra Sedgwick, Elisabeth Shue, David Paymer, Eric Lloyd, Bill Calvert, Lisa Lucas, Richard Portnow, B.B.King / [110 mnt] Downey lahir tepat bersamaan dengan sebuah kecelakaan bis yang merenggut beberapa nyawa. Setelah dewasa, dia mengalami pengalaman spiritual tanpa henti dengan empat roh korban. Melodrama ini begitu sentimental dan agak terlalu manis, namun beberapa momen yang murni menyentuh dan ensemble akting yang bagus membuatnya menjadi hiburan melankolis yang bisa diterima. [PG-13]
Heart of the Lie, The ()- 1994 / Jerry London / Lindsay Frost, Timothy Bustlin, John Karlen, Linda Blair, James Sloan, Karen Garrett, John Pleshette, Tobin Bell, James Handy / [100 mnt] / (Film Televisi) Laurencia Bambenek, seorang bekas polisi, dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dinyatakan bersalah membunuh Christine Schultz, bekas istri suaminya. Laurie sempat melarikan diri dari penjara, dan setelah dia tertangkap lagi, tak seorangpun yakin 100% bahwa Laurie memang membunuh Christine. Plot yang berputar tak banyak membantu untuk membuat film ini menjadi lebih menarik. Ending menggantungnya terasa sangat sombong dan belum pantas untuk film sekelas ini. [R]
Heat ()- 1996 / Michael Mann / Al Pacino, Robert De Niro, Val Kilmer, Tom Sizemore, Jon Voight, Dianne Venora, Amy Brenneman, Ashley Judd, Mykelti Williamson, Wes Studi, Ted Levine, Henry Rollins, Natalie Portman, William Fichtner, Jeremy Piven, Tom Noonan, Dennis Haysbert / [174 mnt] Tak ada tawaran yang lebih menarik dari film ini daripada dua nama terdepan di daftar pemeran utamanya. Pacino bermain sebagai Vincent Hanna, polisi seksi pembunuhan yang hampir menyerahkan seluruh hidupnya untuk tugasnya dan menomor sekiankan keluarganya. De Niro bermain sebagai McCauley, penjahat kelas tinggi berotak cerdas yang menghabiskan hidup dengan jiwa yang sepi. Skenario Mann bermodalkan plot tua tentang polisi, penjahat, dan kehidupan pribadi mereka, Mann menambahkan kedalaman dan kesan intelektual hingga aspek klisenya bisa diminimalisir, lalu dia menyutradarainya dengan mengumbar tempo cepat yang menjadi ciri khasnya. Namun waktu yang begitu panjang membuat film ini hampir gagal mempertahankan ketertarikan pemirsa pada plot utamanya, mungkin justru sub-plot hubungan Chris, kepercayaan utama McCauley, dengan istrinya (keduanya dimainkan dengan sangat bagus oleh Kilmer dan Judd) yang paling menarik untuk diikuti tuntas. Juga, secara jujur, Mann sesungguhnya tak usah mempekerjakan dua orang raksasa untuk peran utama film ini, orang-orang yang tergila-gila pada akting Pacino dan De Niro akan menemukan masalah dalam melihat keduanya beradu akting (sebelumnya, pertama dan terakhir tahun 1974, “The Godfather Part II”), dan karakter kedua tokoh yang mereka mainkan pun tidak meminta aktor sekelas itu, terutama karakter Hanna yang sangat biasa. Namun bagaimanapun percakapan Hanna dan McCauley di kedai kopi adalah salah satu "duel" bersejarah ala Hollywood. Film ini juga menandai era baru karir akting De Niro yang mulai lebih sering memainkan peran-peran pendukung kecil setelah ini. [R]
Heathers ()- 1990 / Michael Lehmann / Winona Ryder, Christian Slater, Lisanne Falk, Shannen Doherty, Kim Walker, Glenn Shadix / [102 mnt] / ((Lethal Attraction)) Depresi dan neurosisme remaja-remaja Amerika akhir dekade delapanpuluhan adalah pikiran utama komedi hitam ini. Ryder (dengan akting paling eksentrik yang pernah ditampilkannya sampai saat ini) bermain sebagai Heather, seorang teman baru untuk dua gadis nakal yang semuanya bernama Heather (Falk dan Doherty). Pada saat itu “trend” bunuh diri sedang mewabah di antara remaja Amerika, termasuk sekolah mereka, dan termasuk mereka. Slater bermain sebagai seorang bajingan muda perusak dengan ayah yang keji. Sulit sekali untuk tidak tertarik oleh setengah bagian pertama film bergaya unik dan penuh black humor yang brutal ini, debut yang lumayan berani dari Lehmann, namun menjelang akhir film ini mulai didominasi kesan tolol dari kekarikaturalannya, hingga sampai pada bagian penutup yang bisa membuat kita lupa bahwa kita pernah sangat jatuh hati di awal. Bagaimanapun, Heathers masih boleh disebut sebagai film remaja Hollywood paling tajam dan paling berbeda di tahunnya. [R]
Heaven ()- 1998 / Scott Reynolds / Martin Donovan, Danny Edwards, Richard Schiff, Joanna Going, Patrick Malahide, Karl Urban, Jeremy Birchall, Clint Sharplin, Michael Langley / (AMERIKA SERIKAT - BRITANIA) (103 mnt) Robert Marling (Donovan) terlibat dalam permasalahan Stanner (Schiff) seorang teman yang penjudi dan pemilik pub yang tidak jujur. Sementara istrinya yang cantik (Going) terus merongrongnya, bahu membahu dengan pengacaranya (Malahide). Beberapa kejadian buruk memperkenalkan Robert dengan Heaven (Edwards), seorang waria peliharaan Stanner yang mempunyai kemampuan meramal kejadian yang akan terjadi. Kemampuan ini lebih banyak meresahkan Heaven, dia sering diganggu lintasan-lintasan pesan dari masa depan yang mengerikan. Kehidupan Robert dan Heaven mulai saling mempengaruhi, mereka sama-sama berhadapan dengan hari depan yang tidak ramah. Reynolds menyajikan filmnya dengan struktur naratif yang tidak konvensional, dia mengaduk susunan waktunya walau dalam dimensi yang rasional. Kita bisa saja menganggapnya sekedar bergenit ria, tetapi saat kita sadar bahwa itu dilakukannya untuk menyesuaikan diri dengan kisah film yang banyak berurusan dengan alam pikiran Heaven, kesimpulan yang didapat adalah briliannya Reynolds. Edwards menampilkan Heaven dalam sosok yang sangat ganjil, enigmatik, dan kadang menyedihkan, sementara Donovan - veteran film-film Hal Hartley - mendapatkan lagi peran yang sangat tepat untukny. [R]
Heaven and Earth (½)- 1993 / Oliver Stone / Hiep Thi Le, Tommy Lee Jones, Debbie Reynolds, Conchata Ferrell, Dustin Nguyen, Joan Chen, Haing S.Ngor, Vivian Wu, Timothy Carhart / [140 mnt] Film ini diambil dari catatan Le Ly Hayslip (Hiep), wanita Vietnam yang selalu hidup di antara kedamaian dan kesengsaraan batin sejak masa kecilnya, zaman pendudukan Prancis, perang saudara, dan perkenalannya dengan kehidupan Amerika, khususnya kehidupannya dengan Steve (Lee Jones), seorang mantan GI. Keahlian Stone dalam membuat sebuah film berskala besar tentang Vietnam dan generasinya seperti ini tak usah diragukan lagi, semuanya tervisualkan dengan hampir mendekati titik kesempurnaan, dengan mengedepankan kontrasnya kehidupan ideal dalam Budhisme dengan kenyataan sesungguhnya. Sayang, film berjalan jauh lebih lama daripada yang kita rasa perlu dan beberapa sentimentalismenya sering terasa sangat berlebihan. [R]
* Golden Globe: Tata Musik Terbaik
Heavenly Creatures (½)- 1994 / Peter Jackson / Melanie Linskey, Kate Winslet, Sarah Pierce, Diana Kent, Clive Morrison, Simon O’Connor / {NEW ZEALAND} / [99 mnt] Film ini menceritakan kembali sebuah kasus pembunuhan yang menggemparkan New Zealand pada pertengahan dekade limapuluhan. Pauline Yvonne Rieper (Linskey) adalah seorang gadis empatbelas tahun yang pendiam, kurang percaya diri, dan tampak tidak tahu apa yang diinginkannya. Dunia dan kepribadiannya tiba-tiba berubah drastis setelah dia berteman dengan Juliet Hulme (Winslet), murid baru dari Inggris yang cerdas, lincah, pemberani, dan penuh fantasi. Fantasi inilah yang berhasil diarungi bersama secara sempurna oleh kedua gadis ini, mereka memasuki sebuah dunia impian kolektif dan terstruktur yang mereka namakan “dunia keempat”, sebuah dunia yang terutama terbentuk oleh khayalan mereka tentang sebuah kerajaan fantastis yang melibatkan mereka sendiri. Lama-kelamaan, orang-orang di sekitar mereka mulai melihat banyak hal yang tidak wajar pada hubungan ini, dan “persahabatan” inipun memang harus berakhir dengan tidak wajar pula, hanya hukum yang bisa memisahkan mereka. Jackson, yang pertama mendunia lewat dua film horor/komedi sadis “Bad Taste” dan “Dead Alive”, berhasil menuangkan kisah tragis ini ke atas layar dengan gaya bertutur yang sangat mempesona, dia juga punya imajinasi dan kemampuan yang cukup untuk menggambarkan dunia sureal Pauline Yvonne dan Juliet dengan pas dan jauh dari genit (juga penuh humor yang kadang terasa terlalu sadis untuk cerita seperti ini). Walau sebenarnya pantas jadi film hit, film ini baru diedarkan secara global setelah nama Winslet meledak tahun 1997, ini adalah debut internasionalnya, dan akting remaja ini sudah mulai memberi tanda bahwa dia pantas jadi bintang, sementara Linskey sama hebatnya, bahkan justru gadis tembem ini yang lebih banyak mengundang kekaguman berkat porsi peran yang lebih besar, walau kemujurannya kelak tak pernah sebesar Kate. Catatan Lain : Sejak awal dekade delapanpuluhan, seorang penulis cerita misteri berkebangsaan Inggris bernama Anne Perry menghasilkan beberapa novel best-sellers, belakangan diketahui bahwa Perry ternyata adalah Juliet Hulme! [R]
Heaven Prisoners ()- 1996 / Phil Joanou / Alec Baldwin, Kelly Lynch, Mary Stuart Masterson, Eric Roberts, Terri Hatcher, Badja Djola, Joe Viterelli, Vondi Curtis Hall / [131 mnt] David (Baldwin) adalah seorang bekas polisi berusia tigapuluhan, hubungan antara usianya dan kata “bekas” menunjukkan bahwa masa lalunya tidak begitu bersih. Dia kemudian mencoba untuk hidup lebih normal dan menjauhkan diri dari segala kekotoran, kini dia hidup bersama istrinya (Lynch), berdua menyewakan kapal. Namun nasib berkata lain, dengan tanpa sengaja mereka mendapati sebuah pesawat terbang jatuh ke sungai, semua penumpang pesawat itu meninggal, kecuali seorang anak Hispanik yang kemudian mereka rawat. Semua ini ternyata hanya membawa David ke keadaan yang sangat mengenaskan, termasuk terbunuhnya istrinya.. Kejutan terbesar dalam film ini adalah kenyataan bahwa film ini ternyata tidak penuh kejutan. Skenarionya tidak menarik dan Joanou melukiskannya dengan sangat standar. Sebuah kekecewaan. [R]
Heavy(½)- 1995 / James Mangold / Pruitt Taylor Vince, Liv Tyler, Shelley Winters, Deborah Harry, Evan Dando, Joe Grifasi, David Pattrick Kelly / [103 mnt] / Kafé pinggir jalan “Pete & Dolly” dihuni oleh pemiliknya, Dolly (Winters) yang telah mulai tua dan sakit-sakitan, Victor (Vince), anaknya yang gemuk dan tidak pernah bergaul luas, serta seorang pramusaji yang sinis (Debbie “Blondie” Harry). Kedatangan Callie yang cantik (Tyler) sebagai pegawai baru membawa pengaruh yang sangat besar pada Vince, yang ternyata bukan seorang laki-laki dengan kedewasaan dan kecerdasan yang terbelakang seperti penampilannya. Penyutradaraan Mangold sangat cermat terhadap detil, para pemain bermain sangat bagus, dan film ini memberikan sesuatu yang pantas dihayati, namun sering sekali terasa bahwa cerita film ini kekurangan bahan untuk memenuhi durasinya sehingga mesinnya selalu berjalan dalam gigi satu. Akting Vince nyaris brilian, dia memberikan salah satu nilai tertinggi yang dimiliki film ini. [PG-13]
Hellbound (½)- 1994 / Aaron Norris / Chuck Norris, Calvin Level, Christopher Neame, Sharee Wilson, David Robbe, Kerrie Franklin / (AS - ISRAEL) /[87 mnt] Tipikal film Norris, kali ini dengan bumbu utama ilmu hitam sebagai lawan utamanya dan sang anak, Aarom, sebagai sutradara. Tidak masuk akal dalam banyak hal, dan tidak masuk akal pula jika film ini sampai bisa dinikmati oleh semua lapisan penonton. [R]
Hell Mountain ()- 1998 / Mike Rohl / Bentley Mitchum, Jack Scalia, Kate Rodger, Andrew McIlroy, Christopher Clarke, Noëlle Balfour, Vitezslav Bouchner, Sarah Douglas, Rebecca Floyd, Klara Hlouska, Marta Hrachovinova, Alena Krupka, Renata Krupka, Nicole Nieth, Richard Toth, Nada Vinecka, Tina Wiseman / {KANADA - REPUBLIK CEKO} / [90 mnt] Di masa depan bumi begitu miskin dan kekurangan sumber daya alam dan manusia, dekadensi di mana-mana. Pada masa itu gadis-gadis cantik dikumpulkan dan dibawa ke kamp kerja paksa di puncak gunung. Beberapa gadis cukup seksi dan banyak memperlihatkan keindahan tubuhnya, hanya itu yang mungkin bisa anda nikmati dari film ini.
Henry Fool()- 1998 / Hal Hartley / Thomas Jay Ryan, James Urbaniak, Parker Posey, Maria Porter, Kevin Corrigan, Venne Cox, Jan Leslie Harding, Nicholas Hope, Miho Nikaido, Chuck Montgomerry, Gene Ruffini, Diana Ruppe, James Saito, Liam Aitken, Christy Romano / [91 mnt] Simon (Urbaniak) adalah seorang operator mesin sampah yang sering disangka terbelakang oleh orang-orang disekitarnya, dia juga mempunyai ibu dan kakak perempuan dengan gaya hidup yang mengerikan (si ibu dimainkan dengan sangat “top” oleh Porter). Pada suatu hari Simon bertemu dengan seorang misterius bernama Henry Fool (Ryan). Kepolosan Simon membuat keduanya dengan mudah bersahabat. Di sela-sela berbagai peristiwa yang cukup sinting - namun tidak terlalu sinting untuk ukuran film Hartley; Henry sempat menyemangati Simon untuk menulis puisi. Simon kemudian menjadi terkenal, kontroversial, dan bahkan memenangkan Nobel (!), semua berkat dukungan semangat dari Henry. Henry sendiri tak punya bakat dan keberuntungan sebesar Simon untuk ikut terkenal. Ketika hubungan keduanya memburuk, bagaimana cara Simon membalas budi? Komedi buatan Hartley tak akan menyediakan jawaban yang mudah ditebak, ini adalah filmnya yang paling menarik disamping “Amateur”, nikmatilah semua kengawurannya jika anda bersedia. [R]
Henry: Portrait of a Serial Killer(½)- 1991 / John McNaughton / Michael Rooker, Tom Towles, Tracy Arnold / [80 mnt] Jika ini memang sebuah potret, maka potret ini betul-betul membuat kita merasa melihat hari-hari aslinya, hari-hari mengerikan Henry Lee Oscar (terinspirasi oleh kisah Henry Lee Lucas), pembunuh berantai yang membunuh dengan berbagai macam cara namun hampir tak pernah disertai motif apapun. Film ini menggambarkan Henry (Rooker) sebagai seorang mantan napi yang tinggal di rumah Otis (Towles) dan kemudian saling jatuh cinta dengan Becky (Arnold), adik Otis. Ketika Henry dan Otis menggila di luar (mereka merekam aksi sadis mereka dengan kamera video), Becky sama sekali tidak tahu. Kontroversi sangat dekat dengan film yang tidak beredar selama lima tahun sejak dibuat pada tahun 1986 ini, beberapa adegan bisa membuat penonoton terpaku di tempat duduk, meringis, atau justru memijit tombol “fast-forward”. Namun terlepas dari kontroversi, McNaughton menampilkan sebuah karya yang luar biasa hidup, mencekam, dan terasa berada tepat di depan muka kita, dengan sorotan psikologis yang tajam pada manusia-manusia berjiwa sakit, bahkan kita kadang tidak sadar bahwa yang kita lihat bukan yang sebenarnya (Rooker juga berandil besar dalam hal ini). Ini adalah satu film dengan warna paling tajam dalam dekade ini, namun kejelasan yang ditampilkannya justru membuat kita ingin melihat semakin jelas, penonton tak pernah merasa cukup. Siapa sesungguhnya yang sakit: Henry, McNaughton, atau kita? [NC-17]
Henry: Portrait of a Serial Killer II. Mask of Sanity ()- 1998 / Chuck Parello / Neil Giuntoli, Rich Komenich, Kate Walsh, Carri Levinson, Daniel Allar, Penelope Milford, Rick Komenich / (85 mnt) / Lanjutan setengah resmi dari karya John McNaughton ini menceritakan masa-masa selanjutnya yang dijalani Henry Lee Oscar (kali ini diperankan Giuntioli). Setelah melewati adegan-adegan pembukaan yang sangat mengerikan, film ini mengikuti hari-hari biasa Henry yang kali ini bekerja dan tinggal bersama pasangan Kai (Komnich) dan Cricket (Walsh), di sana juga tinggal Louisa (Levinson), keponakan Cricket yang nyeni tapi luar biasa introvert. Kita yang pernah menonton Henry. Portrait of a Serial Killer akan dengan cepat bisa menduga kelanjutannya. Walaupun setiap detik arah film ini bisa kita baca sebelumnya, perjalanan Henry terlalu menarik (?!!) untuk kita abaikan. Dia adalah "natural born killer" yang sesungguhnya, membunuh hanya untuk membunuh (tolong artikan ini seperti kita mengartikan frase "seni untuk seni"), dan semua dustanya adalah hasil dorongan internal yang hanya bisa diterangkan sebagai patologis, tanpa bisa dicari akarnya. Sebagai sebuah horor atau satir, karya Parello ini sama sekali bukan tandingan filmm McNaughton, namun sebagai sebuah drama yang murni kita hargai sebagai sekedar film, Mask of Sanity adalah hasil kerja yang lebih dari mencukupi. Kewajaran dan kemencekaman bisa ditampilkan sekaligus secara sempurna, penyutradaraan Parello dan plotting kisahnya mendung ke arah itu. Michael Rooker memainkan Henry pertama dengan intensitas yang nyaris ajaib, Giuntioli tidak sehebat itu, namun jika anda tak pernah menyaksikan hasil kerja Rooker, Giuntioli sangat memuaskan. Para pemain lain juga bermain bagus, terutama Walsh. Pertanyaan sederhana : Kenapa sequel ini harus dibuat? [R]
Hero ()- 1992 / Stephen Frears / Dustin Hoffmann, Geena Davis, Andy Garcia, Joan Cusack, Kevin J.O’Connor, Maury Chaykin, Tom Arnold, Stephen Tobolowsky, Christian Clemenson, Warren Berlinger / [112 mnt] / ((Accidental Hero)) Komedi getir ini bercerita tentang Bernard LaPlante (Hoffman), seorang pecundang malas yang agak busuk namun sangat sederhana dan apa adanya, dia tanpa sengaja menjadi penyelamat bagi korban-korban kecelakaan pesawat tanpa berambisi untuk dipuja sebagai seorang pahlawan dan membiarkan gelar itu dinikmati seorang gelandangan sahabatnya (Garcia) yang berhasil mendapat pengakuan sebagai pelaku penyelamatan dengan bermodal sebelah sepatu milik LaPlante sebagai bukti bahwa dia telah menyelamatkan Gale Gayley (Davis), seorang reporter yang diselamatkan La Plante dan mengadakan sayembara berhadiah sejuta dollar. Pahlawan palsu inilah yang kemudian menjadi tokoh pujaan masyarakat, bahkan berhasil mendapatkan Gale yang cerdas dan seksi. Skenario dan gaya penyutradaraan yang segar membuat film menjadi sangat menarik, walau kisahnya agak mengada-ada dan total karikatural. Gaya Hoffman juga kadang mengingatkan kita pada akting autistic savantnya dalam “Rain Man” (padahal itu sudah terselang empat film), namun tak ada hal lain yang salah pada akting orang ini, dan memang tak banyak hal yang salah pada film ini. [PG-13]
Hidden Agenda ()- 1990 / Ken Loach / Frances McDormand, Brian Cox, Brad Douriff, Mai Zetterling, Jim Norton, Maurice Roeves / {BRITANIA} / [108 mnt] Kematian seorang pengacara Amerika yang sedang menyelidiki pelanggaran hak-hak azasi manusia di Irlandia Utara, membawa rekan kerjanya yang juga teman wanitanya (McDormand) dan seorang polisi Inggris (Cox) menemukan fakta bahwa semua ini didalangi oleh pemerintah Inggris, bukan oleh teroris manapun. Film ini mengalir dengan arus yang deras dan tanpa banyak basa-basi, gaya penceritaan yang sangat tepat untuk ide cerita sejenis, sehingga terasa menarik walau kurang banyak memanfaatkan kemampuan penceritaan non verbal. Usahakan untuk menonton film ini dengan teks Bahasa Indonesia, kecuali jika anda faham betul slang orang Belfast. Sedikit catatan: perhatikan kedetilan film ini dalam menciptakan suasana, termasuk mode penampilan, tahun delapanpuluhan. [R]
Hideous Kinky () - 1998 / Gillies MacKinnon / Kate Winslet, Saïd Taghmaoui, Bella Riza, Carrie Mullan, Pierre Clémenti, Sira Stampe, Abigail Cruttenden,Ahmed Boulane, Michelle Fairley, Kevin McKidd / {BRITANIA - PRANCIS} / (97 mnt) / Winslet bermain sebagai Julia (alter-ego Esther Freud, cucu Sigmund), seorang wanita Inggris yang mendamparkan diri di Maroko bersama dua putri ciliknya (Riza dan Mullan). Di alam gurun Afrika Utara, Julia mencoba mencari sinergi kedamaian (pengalaman spiritual, nafkah duniawi, kasih sayang, dan sex) dengan gaya hidup bak perpaduan hyppie dan sufi. Film ini punya sangat banyak sisi menarik untuk menutupi kegersangan yang mendominasi settingnya, namun keepisodikannya membuat kita sulit mengidentifikasikan diri dengan tokoh utamanya. Winslet sendiri tampak sangat menikmati peran Julia, jenis karakter yang seperti dibuat khusus untuk si wicked girl ini. [R]
Higher Learning ()- 1994 / John Singleton / Omar Epps, Michael Rappaport, Kristy Swanson, Jennifer Conelly, Ice Cube, Laurence Fishburne, Tyra Banks, Regina King, Jason Wiles, Busta Rhyme, Jay Fergusson, Adam Goldberg, Bradford English, Andrew Bryniarski, Cole Hauser / [126 mnt] Film ini berusaha menjadi sebuah tinjauan atas mahasiswa-mahasiswa tingkat pertama di sebuah universitas yang sedang mengalami bermacam krisis identitas diri, seperti orientasi politik dan kehidupan sexual, untuk meyakinkan diri bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih dewasa daripada anak SMA. Tokoh utamanya adalah Malik (Epps), seorang pemuda kulit hitam yang merasa hanya dihargai sebagai seorang atlet lari daripada seorang mahasiswa, Kirsten (Swanson), seorang gadis lugu dari kalangan menengah yang ingin menjadi lebih berarti, dan Steve (Rappaport), pemuda yang sangat sulit bergaul. Ketiganya masing-masing mendapatkan figur “pembimbing” yang sangat mempengaruhi mereka, Malik pada Fudge (Cube), seorang mahasiswa abadi yang sangat membenci kulit putih, Kirsten pada Taryn (Conelly), seorang aktivis lesbian intelek, dan Steve pada sekelompok Neo-Nazi yang radikal. Seperti kebanyakan film tentang anak muda dalam setengah pertama dekade ini (contohnya “Singles“ atau “Reality Bites”), film ini tidak bertutur dengan lurus, cerita terpecah mengikuti perjalanan para tokoh utamanya secara sendiri-sendiri yang kemudian terhubungkan satu sama lain. Bedanya, yang satu ini bertipe lebih keras dan tragis, walau cacatnya sama : tak punya cukup waktu untuk membuat pendalaman. Film yang simpatik, walau bukan yang terbaik dari Singleton, salah satu anak muda Amerika (26 tahun) yang paling berhasil sebagai sutradara, dia mencoba untuk tidak bersikap rasial dalam mengangkat cerita yang justru mengambil permasalahan yang sangat rasial. Semua pemain bermain cukup bagus (dengan nilai lebih untuk Rappaport). Ah, tolong bandingkan betapa berbedanya kampus Amerika ala Higher Learning dengan apa yang terlihat di film-film remaja yang membanjir empat tahun setelah ini! [R]
High Fidelity ()- 2000 / Stephen Frears / John Cusack, Iben Hjelje, Todd Luiso, Jack Black, Lisa Bonet, Chaterine Zetta-Jones, Joan Cusack, Tim Robbins, Chris Rehmann, Ben Carr, Lili Taylor, Joelle Carter, Natasha Gregson Wagner, Shannon Stillo, Drake Bell, Laura Whyte, Sara Gilbert, Chris Bauer, K.K. Dodds, Bruce Springsteen, Beverly D'Angelo / (107 mnt) Cerita dari novel Nick Hornby ini bersetting asli di London, namun empat penulis skenario film ini (dua di antaranya Frears dan Cusack) memindahkannya ke Chicago, hasilnya : semenarik aslinya. Robert (Cusack) adalah seorang pengelola toko piringan hitam yang sangat gila musik dan, bersama dua temannya (Black dan Luiso), tak segan-segan menggertak calon pembeli yang mengganggu fanatisme mereka. Robert juga adalah seorang laki-laki yang pernah terlibat dalam beberapa hubungan asmara yang naik turun, ada lima hubungan yang paling penting, dan nommor satunya – yang juga bermasalah – adalah hubungan terakhirnya dengan seorang gadis baik (Hjelje). Sudut pandang Robert adalah satu-satunya sudut pandang yang dimiliki kisah ini, keterbatasan itu dieksploitasi dengan baik sehingga permasalahannya yang berputar-putar sangat menarik diikuti. Cusack, salah satu penulis skenario dan produser film ini, tampil dihampir setiap adegan, dia jelas mendominasi film ini, dengan baik sekali. Para pemain lain juga selalu menarik perhatian, terutama Black. HF adalah komedi roman yang cerdas, namun tak semua pemirsa akan senang dengan gayanya. [R]
High Heels ()- 1991 / Pedro Almodovar / Victoria Abril, Marisa Paredes, Miguel Bosé, Feodor Atkine, Bibi Andersen, Rocia Munoz / {SPANYOL} [Bahasa Spanyol] / [115 mnt] ((Taconas Lejanos)) Rebecca (Abril, aktris favorit Almodovar pasca Carmen Maura) adalah seorang penyiar berita yang menikah dengan Miguel (Atkine), pemilik perusahaan televisi yang lebih dari sekedar kebetulan adalah “bekas” pacar ibu Rebecca (Paredes), seorang aktris/penyanyi terkenal. Ketika Miguel terbunuh, siapa di antara kedua wanita ini yang melakukannya? Muncul pula tokoh-tokoh lain seperti seorang hakim dengan ibu yang serba tahu, seorang transvestite yang meniru gaya ibu Rebecca, dan seorang pemuda hilang bernama Hugo, siapakah mereka? Walau dibuat dengan visualisasi ala Almodovar yang selalu enak dilihat dan mengandung beberapa humor sakit khasnya, film ini tetap saja terasa lambat dan terlalu jinak untuk ukuran hasil kerjanya. Selain itu, segala kejadian yang berlangsung di dalam ceritanya sudah memasuki taraf superfisial dengan serius, tak semua dari kita mau dibawa ke dalam cerita seperti ini. Jelas, film ini bukan contoh paling tepat untuk mengenal sutradara nomor satu Spanyol ini.
Highway Hitcher ()- 1998 / Kurt Voss (+ske.) / William Forsythe, James LeGros, Elizabeth Pena, Jamie Kennedy, John DOe, Jaason Simmons, Michael McKean, Nancy Allen / (( The Pass )) / (90 mnt) / Forsythe mengangkut LeGros di jalan, mereka bertemu dengan Pena, saling terlibat satu sama lain. film ini mencoba membentuk tegangan tinggi, namun hasilnya malah klise dan melelahkan. (R)
Hillary and Jackie (½)- 1998 / Anand Tucker / Emily Watson, Rachel Griffiths, James Fran, David Morrissey, Charles Dance, Celia Imrie, Auriol Evans, Kelly Flanders, Rupert Penny Jones / (BRITANIA) / (123 mnt) Film ini adalah biografi tragis cellist terkemuka Inggris, Jacqualine “Jackie” du Pre, kisahnya bersumber pada buku karya Hillary dan Piers Du Pre, "A Genius in the Family" (judul yang mirip dengan biografi Jean Genet oleh Jean Paul Sartre, "L'Idiot de la Famile"). Ketika kecil, Jackie dan kakaknya, Hillary, telah sangat akrab dengan musik, Hillary yang bermain flute selalu dianggap jauh lebih berbakat daripada Jackie yang diramalkan hanya akan menjadi cellist yang biasa-biasa saja. Ini membuat Jackie berlatih dengan sangat keras dan akhirnya meraih status pemusik besar ketika karir musik Hillary justru tidak berkembang. Namun walau tak pernah menjadi terkenal seperti adiknya, Hillary dewasa (Griffiths) berhasil membina sebuah keluarga yang harmonis bersama suaminya, setidaknya sampai Jackie (Watson), dalam sosok seorang selebriti yang frustrasi, memasuki kehidupan mereka. Keterlibatan Jackie dalam kehidupan keluarga ini dengan cepat sampai ke titik yang tidak bisa diterima Hillary. Jackie yang telah banyak terguncang akhirnya mulai memasuki kehidupan dengan kesehatan pisik dan mental yang memprihatinkan. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Jacqualine Du Pre, yang sebelumnya selalu mengundang kekaguman setiap orang yang menyimak permainannya, hanya bisa mengundang kepiluan setiap orang yang melihat keadaannya. Skenario yang ditulis Franck Cottel Boyce memang kadang terasa kehilangan arah dan keseimbangan, namun penyutradaraan Tucker sangat berhasil menutupinya dengan pernik-pernik yang bagus. Selebihnya film ini adalah ajang pamer akting Watson, sebagai pemilik porsi peran terbesar, dia memainkan Jackie dengan seluruh kekuatannya yang dengan sendirinya membuat film ini menjadi begitu bertenaga. Griffiths menjadi rekan yang sangat baik dengan akting yang lebih teredam namun sama kuatnya.
Hold Me, Thrill Me, Kiss Me (½)- 1992 / Joel Hershman / Max Parrish, Andrea Naschak, Adrienne Shelley, Sean Young, Dianne Ladd, Tim Leary, Bela Lehoczky / [92mnt] Suatu ketika, Eli Morrow (Parrish) mencoba mencuri di sebuah rumah, namun dia tertangkap basah oleh Twinkle (Young), putri trilyuner pemilik rumah itu. Twinkle pada saat itu juga mengajaknya menikah! Eli kemudian membunuh Twinkle di hari pernikahan mereka. Dalam pelariannya Eli berkenalan dan kemudian hidup bersama seorang penari striptease (Naschak) yang sexaholic, di sana Eli jatuh cinta pada adik penari itu (Shelley). Gadis yang masih perawan ini kemudian nekad membunuh kakaknya yang selalu mencemburuinya. Film dengan ide cerita yang sedemikian bodoh ini dipenuhi oleh karakter-karakter aneh yang tak kalah bodoh oleh ceritanya, dialog-dialog yang miring, dan kejutan-kejutan yang kadang tidak masuk akal. Hasilnya menjadi segar, tajam, dan menghibur. Paduan yang mendekati ideal antara ketololan dan kecerdasan. Kami sangat menyarankan anda untuk tak begitu melibatkan akal sehat dalam menikmatinya. [R]
Hollow Man ()- 2000 / Paul Veerhoeven / Elisabeth Shue, Kevin Bacon, Josh Brolin, Kim Dickens, Greg Grunberg, Joey Slotnick, Mary Randle, Frank Devane / (113 mnt) Film ini punya set-up yang lumayan dan spesial efeknya cukup mencengangkan, dengan modal seperti itu orang seperti Verhoeven seharusnya bisa membuat sci-fi yang bagus (ingat “Total Recall”?). Ini kisahnya : sekelompok ilmuwan muda bekerja dalam sebuah proyek militer untuk memungkinkan manusia tidak terlihat. Uji coba mereka dengan binatang telah berhasil, kini tinggal mencobanya dengan manusia. Pimpinan kelompok ilmuwan ini, Sebastian Caine (Bacon), punya rencana lain, dia ingin melindungi temuan baru ini dengan melakukan uji coba puncak tersebut di luar pengetahuan komisi pengawas. Untuk itu diperlukan seorang sukarelawan sebagai objek percobaan, Caine menyatakan bahwa dia sendiri siap untuk itu. Ketidaksempurnaan terjadi dalam ujicoba ini, teman-teman Caine gagal mengembalikannya ke sosok kasat mata, semua panik. Ketika mereka sedang berusaha menemukan jalan, Caine diam-diam mulai menikmati keberadaannya sebagai manusia yang segala perbuatannya tidak bisa dilihat orang lain. Jika anda menonton film ini dalam bentuk VCD, sinopsis di atas habis dalamm Disc 1, sedang Disc 2 hanya berisi tingkah laku Caine gaib yang semakin liar dan usaha teman-temannya untuk menghentikan “si cerdik nan jahat” ini. Kita mungkin masih akan bisa memaafkan semua kelalaian film ini di bagian pertama karena setidaknya kita masih terpukau dengan proses terlihat – tidak terlihat – terlihat lagi yang dijalani gorilla Isabell dan Caine, tapi selanjutnya kenaifan film ini tak tertanggulangi lagi. Di tengah-tengah adegan kucing-kucingan yang klise dan membosankan, kita juga menemukan tokoh-tokoh tereduksi menjadi satu dimensi, lebih naif daripada panggung boneka anak-anak, karena di sana setidaknya para tokoh masih punya hati nurani tanpa menjadi sok psikologis. [R]
Holy Smoke (½)- 1999 / Jane Campion / Kate Winslet, Harvey Keitel, Julie Hamilton, Tim Robertson, Sophie Lee, Dan Wyllie, Pam Grier, Paul Godard, George Mangos, Kerry Walker, Leslie Dayman, Samantha Murray, Austen Tayshus, Simon Anderson / [114 mnt] Sebagian orang menduga Campion telah kehilangan selera uniknya begitu mereka menonton “Portrait of a Lady”. Salah! Holy Smoke yang ditulis bersama adiknya, Anna, adalah salah satu film mainstream paling liar di tahunnya. Ruth Barron (Winslet) adalah seorang tipikal wanita kulit putih yang menjadi pengikut sebuah sekte di India, kita tidak tahu seberapa dalam pemahaman gadis ini, namun kita yakin bahwa akan sulit sekali menariknya keluar dari dunia barunya. Ini sangat dikhawatirkan keluarganya di Sydney, mereka ingin mengembalikan Ruth ke dunianya yang dulu. Atas saran seorang sahabat, mereka meminta bantuan seorang “ahli” dari Amerika, P.J. Waters (Keitel). Sang cowboy tiba dan siap “menyadarkan” si gadis religius. P.J mempunyai reputasi yang hebat dalam urusan semacam ini (ah, anda ingat karakter Wolf the Cleaner dalam “Pulp Fiction”?), tapi tunggu dulu, sekarang dia berhadapan dengan seorang wanita muda yang kelihatan labil, namun sesungguhnya punya segudang akal dan naluri yang siap bertempur dengan teknik-teknik dan improvisasi P.J. Lewat “adu strategi” inilah Campion menciptakan sebuah petualangan penuh pergulatan nafsu, logika, dan idealisme, nuansanya sangat intens dan kasar, walau sesungguhnya semuanya hampir murni berbau parodi. Film ini menelusuri dan menertawakan berbagai stereotip tentang sex, spiritualisme/kultisme, machoisme Amerika, feminisme, dan benturan budaya. Keitel dan Winslet, dua pengembara dari belahan bumi dan generasi yang berbeda, menjadi sepasang sosok yang turut mewakili keliaran film ini, dan kalau anda teliti, anda akan bisa menangkap bahwa imej mereka berduapun diparodikan, ide tentang “Kate Winslet” simbol seks yang intelek, anti kemapanan, nakal, dan cenderung brutal hadir lengkap di sini, dan segala tipe LAKI-LAKI yang pernah ditampilkan Keitel dalam karirnya yang panjang dan berliku dijadikan bahan gurauan yang sangat serius dalam film ini. NB: Bagi anda yang mempunyai selera yang agak lain (bukan dalam hal film!), ada kemungkinan HS mempunyai nilai lebih untuk anda. [R]
Home Alone ()- 1990 / Chris Colombus / Macaulay Culkin, Joe Pesci, Daniel Stern, John Heard, Catherine O’Hara, John Candy, Angela Goethals, Billie Bird, Devin Ratray / [102 mnt] Seorang anak (Culkin dengan daya tarik fantastis) tertinggal tanpa sengaja di rumah oleh seluruh keluarganya yang pergi berlibur. Datanglah sepasang bandit basah (Pesci dan Stern, yang pasangannya hampir melegenda lewat film ini) ke rumah itu, Culkin harus mengusir mereka seorang diri. Tawa penonton diledakkan sesering mungkin lewat adegan-adegan pembelaan diri Culkin, tak perduli adegan-adegan itu penuh keajaiban dan terlalu sadis untuk penonton yang sebaya dengan pemeran utamanya. Superhit mengejutkan hasil kombinasi ide John Hughes, kelincahan Colombus, dan penampilan gila Culkin ini menjadi trendsetter neo-slapstick Hollywood dengan puluhan fotokopi yang membosankan. [PG]
Home Alone II Lost In New York ()- 1992 / Chris Colombus / Macaulay Culkin, Joe Pesci, Daniel Stern, Catherine O’Hara, John Heard, Brenda Fricker, Tim Curry, Devin Ratray, Dana Ivey, Kieran Culkin / [120 mnt] Kebanyakan hanya berupa pengulangan, namun pada situasi yang berbeda. Kali ini Culkin (yang mulai over-akting) tersesat di New York, dia bertemu dengan beberapa sahabat baru, dan tentu saja dengan sepasang bandit basah. Mungkin termasuk komedi slapstick tersadis dekade ini, namun jelas bukan yang terlucu. [PG]
Honeymoon in Vegas ()- 1992 / Andrew Bergman / James Caan, Nicolas Cage, Sarah Jessica Parker, Noriyuki “Pat” Morita, Johnny Williams, John Capadice, Robert Costanzo, Anne Bancroft, Peter Boyle, Briton Gillian, Seymour Cassel, Jerry Tarkinian, Tonny Shalhoub / [95 mnt] Jack (Cage) dan Betsy (Parker) pergi ke Vegas sebelum mereka menikah, Jack kemudian bermain poker, berpeluang menang, memasang taruhan besar, dan kalah besar! Tony (Caan) bersedia memberinya pinjaman $ 65.000,00, dengan syarat: Betsy harus menemani Tony untuk akhir pekan. Akhir pekan berakhir dan segala nya tetap tidak beres, Tony ternyata serius menginginkan Betsy. Banyak orang berpendapat bahwa film ini adalah komedi yang istimewa. Apanya? [PG-13]
Hostage ()- 1992 / Robert Young / Sam Neil, Talisa Soto, James Fox, Michael Kitchen, Christina Higuerras, Art Malik, Jean Pierre Rodriguez / ( BRITANIA ) / [101 mnt] Film sepi ini mencoba bercerita tentang peperangan batin dalam diri seorang agen rahasia (Neill) yang bertugas menculik anak-anak seorang gembong teroris. Tidak terlalu jelek, namun semua elemennya berada dibawah standar rata-rata, kecuali akting Neill. [R]
Hot Shots! ()- 1991 / Jim Abrahams / Charlie Sheen, Valerina Golino, Cary Elwes, Lloyd Bridges, Richard Crenna, Kevin Dunn, Jon Cryer, Kristy Swanson / [85 mnt] Sulit didebat bahwa inilah film komedi dengan potensi tawa tergila di awal dekade ini. Tanpa Jerry dan David Zucker, Abrahams tetap penuh dengan ide-ide sinting. Kali ini dia mencomot adegan-adegan, dialog-dialog, dan bagian-bagian cerita film-film laris (dengan “Top Gun” dan film-film lain tentang penerbang sebagai sumber utama) untuk dipelesetkan tanpa tanggung-tanggung dengan energi bergurau yang tak habis-habis, kebanyakan diobral lewat karakter Sheen (yang bermain setolol mungkin). Meledak, dan apalagi yang bisa diharapkan dari film parodi film lain selain itu? [PG-13]
Hot Shots! Part Deux (½)- 1993 / Jon Abrahams / Charlie Sheen, Lloyd Bridges, Valeria Golino, Michael Ferrer, Rowan Atkinson, Jerry Heleva, Mitchell Ryan, Gregory Sierra, Ryan Stilles, Michael Colyar / [89 mnt] / Topper Hurley (Sheen) bertugas dalam petualangan ala Rambo di Timur Tengah. Dia harus membebaskan tentara-tentara yang ditawan disana, tentara-tentara itu adalah pasukan yang ditugaskan membebaskan pasukan lain, dan pasukan lain itu adalah tentara-tentara yang ditugaskan membebaskan tentara-tentara lain. Labirin ini seakan tak kunjung berakhir karena jika berakhir cepat maka parodi ini tak akan sempat membuat gurauan. Rambo jelas bukan satu-satunya sasaran pelesetan film ini, hampir setiap zaman mewakilkan minimal satu filmnya untuk diguyoni Abrahams. Hot Shots! Part Deux hampir selucu pendahulunya dari tahun 1991, tapi sequel ini mempunyai lebih banyak ruang kosong tanpa gurauan. [PG-13]
House of the Spirits, The ()- 1993 / Bille August / Jeremy Irons, Meryl Streep, Winona Ryder, Antonio Banderas, Glen Close, Maria Conchita Alonso, Vincent Gallo, Armin Muller Stahl, Vanessa Redgrave, Teri Polo / (AS-PORTUGIS-JERMAN-DENMARK) / [versi layar lebar 138 mnt, versi video 145 mnt] Diangkat dari novel karya pengarang Chili, Isabell Alende, saga ini bercerita dengan panjang lebar tentang perjalanan hidup Esteban Trueba (Irons) dan keluarganya. Esteban, yang berkat usaha kerasnya sempat menjadi senator yang kaya raya, adalah seorang laki-laki yang selalu menyimpan dendam terhadap kemiskinan yang merupakan penyebab kesengsaraan masa mudanya, sehingga dia selalu berusaha sekeras mungkin, dengan cara yang sering menyakitkan, untuk menjauhkan istrinya, Clara (Streep), dan putrinya, Blanca (Ryder), dari dunia orang-orang miskin. Alur skenario film ini sering terasa tergesa-gesa, ini disebabkan karena durasi film yang dipaksakan merangkum secara akurat rentang waktu kisah yang begitu lebar (cerita dimulai dari tahun 1920-an dan berakhir sekitar limapuluh tahun kemudian). Emosi transparan mampu sampai pada penonton, namun sesuatu yang lebih dalamm dari itu gagal muncul. Kebanyakan pemain terjebak dalam kesulitan menghayati skenario berbahasa Inggris yang masih bergaya bahasa Spanyol, mereka sibuk “melatinkan diri” hingga kebanyakan tampil monoton (namun kebanyakan juga punya modal skill akting yang di atas rata-rata). Kalaupun film ini masih akan tetap terasa bagus, itu karena materi cerita aslinya yang memang menarik dan menghanyutkan, sangat cocok untuk orang Timur, tapi semua itu dengan syarat: jangan membaca novel aslinya! [R]
HouseSitter ()- 1992 / Frank Oz / Steve Martin, Goldie Hawn, Dana Delany, Julie Harris, Donald Moffat, Peter MacNicol / [102 mnt] Aksi tipu menipu memenuhi kisah film ini. Seorang wanita (Hawn) mengaku-aku sebagai istri seorang arsitek kaya raya (Martin) yang sesungguhnya adalah calon suami wanita lain (Delany). Akting komedik Steve, Goldie, dan Dana menjadi tiga kekuatan film ini. Selebihnya? Hampa. [PG-13]
Howards End ()- 1992 / James Ivory / Emma Thompson, Anthony Hopkins, Helena Bonham-Carter, Vanessa Redgrave, James Wilby, Sam West, Prunella Scales, Jemma Redgrave / (BRITANIA) / [140 mnt] Melodrama super teliti ini diambil dari novel E.M.Foster yang mengambil setting Inggris di awal abad keduapuluh ketika selisih status sosial menjadi masalah yang sangat menyulitkan dan sering kali mengakibatkan konsekuensi yang tragis bagi mereka yang berani melanggar batasan-batasannya Dengan sangat cermat dan hidup, film ini merangkum kisah tentang hubungan yang rumit antara keluarga Wilcox, Schlegell, dan Barst. Kalaupun film ini punya cacat, cacat itu pasti dimiliki oleh film apapun, dan itu pasti bukan berupa sesuatu yang mengganggu. Skenario Ruth Jhabvala luar biasa efektifnya walaupun sangat detil dalam menggambarkan apapun, dia juga sangat cerdas dalam memasukkan unsur komedi ke dalam film yang sesungguhnya berupa rangkaian kisah tragis yang mirip opera sabun ini, Ivory menyutradarai dengan ketepatan yang selalu jitu, Tony Pierce-Roberts memotret dengan perasaan diletakkan di lensa, semua didukung pula oleh tata artistik dan kostum dengan akurasi maksimal, dan kru-kru lain yang bekerja dengan seluruh kemampuannya. Itu belum cukup, parade aktor dan aktris terbaik Britania tampil memukau di sini, Redgrave memberikan yang terbaik dalam beberapa menit saja penampilannya, Bonham Carter tak pernah bermain sebagus ini, Wilby meyakinkan, kharisma Hopkins sedang pada puncaknya, dan Thompson - sang bintang utama - memang pantas menerima segala pujian setinggi apapun yang dialamatkan pada aktingnya dalam film ini. [PG]
* Academy Awards: Skenario Adaptasi Terbaik (Jhabvala), Aktris Utama Terbaik (Thompson), Tata Artistik Terbaik, Golden Globe: Aktris Terbaik Drama (Thompson), British Academy Awards: Aktris Utama Terbaik (Thompson), Los Angeles Film Critics Awards: Aktris Terbaik (Thompson)
Hudsucker Proxy, The (½)- 1993 / Joel Coen / Tim Robbins, Jennifer Jason Leigh, Paul Newman, Charles Durning, John Mahoney, Jim True, Bruce Campbell, Peter Galagher, Steve Buscemi, Anna Nicole Smith / [111 mnt] Norville Barnes (Robbins) adalah seorang karyawan tak berpengalaman, dan lebih dari itu, dia cukup tolol dan naif. Kejutan super : dia tiba-tiba diangkat menjadi presiden perusahaan Hudsucker setelah Waring Hudsucker (Durning), pemilik perusahaan, bunuh diri. Ini sebenarnya adalah siasat Mussburger (Newman), tangan kanan Hudsucker untuk mengguncang perusahaan demi ambisi pribadinya. Namun, tanpa diduga Mussburger, Barnes menjadi sukses dan terkenal dengan bisnis hula-hoopnya, walau ketololannya tidak seratus persen sembuh. Mussburger harus mempersiapkan siasat lain untuk mengatasi ini. Film dengan setting New York dekade limapuluhan ini adalah karya mayor pertama Coen bersaudara. Secara keseluruhan, film yang juga dengan cuwek menyerempet bagian-bagian nyata dari sejarah ini sangat berhasil sebagai ajang parade imajinasi khas mereka (Ethan memproduseri dan menulis skenario bersama Joel dan Sam Raimi), mereka semakin lekat dengan segala sesuatu yang unik dan karikatural, mulai dari setting sampai karakter tokoh. Karakter-karakter ini semakin menarik setelah dimainkan oleh pemain-pemain yang pas, Robbins menjadi tokoh kartun utama dengan sempurna, Newman berhasil mengumbar kharisma sekaligus kekonyolan, dan walau jelas dirasuki akting klasik Rosalind Russell dalam “His Girl Friday”, akting Leigh, sebagai wartawati over-lincah yang mencoba membongkar rahasia bisnis Barnes, tetap enak dinikmati (memangnya ada yang tidak enak dinikmati dari The Coens?). [PG-13]
Hurlyburly (½)- 1998 / Anthony Drezen / Sean Penn, Kevin Spacey, Chazz Palminteri, Robin Wright Penn, Garry Shandling, Meg Ryan, Anna Paquin / [90 mnt] Tiga orang buaya Hollywood menjalani berbagai pertemuan yang menelanjangi cara berpikir dan timbangan moral mereka. Kelicikan, ketamakan, sensitivitas, dan kerinduan mereka terpancar semua. Kita tak akan banyak perduli pada mereka, mereka juga tidak perduli betapa kita merasakan kemonotonan yang tak kenal belas kasihan. Tapi akuilah, semua orang yang bermain dalam film ini bermain luar biasa dan orang-orang yang membuat dialog-dialog untuk mereka memang cerdas, pemberani, egois, dan keras kepala.[R]
Husbands and Wives (½)- 1992 / Woody Allen / Woody Allen, Mia Farrow, Judy Davis, Sydney Pollack, Liam Neeson, Juliette Lewis, Lysette Anthony, Blythe Danner / [107 mnt] Film yang oleh sebagian orang dianggap mengandung berbagai refleksi kisah pribadi Allen-Farrow-Sun Yen ini adalah sebuah pseudo-dokumenter yang menceritakan tentang sepasang suami istri (Allen dan Farrow) yang tiba-tiba mempertanyakan kemapanan kehidupan rumah tangga mereka setelah sepasang teman baik mereka (Pollack dan Davis) mengumumkan berita perpisahan yang mengejutkan. Berbagai kejadian yang semakin menggoyahkan rumah tangga mereka terjadi setelah itu. Sesuatu dalam film ini yang sangat menyadarkan kita tentang kejeniusan Allen, adalah betapa tingginya kemampuannya memindahkan alam nyata ke dalam layar sehingga segala sesuatu terlihat bagaikan rekaman candid camera, hampir tak ada sutradara dan penulis lain yang mempunyai kemampuan sekonsisten dia dalam hal ini. Penggunaan jump-cut yang cukup boros sama sekali tak banyak mengganggu. Kalaupun ada sesuatu yang mengganggu, itu adalah sebagian kecil yang tidak perlu dari beberapa “wawancara” dengan para tokoh. Skenario dan penyutradaraan Allen memberikan kemudahan bagi para pemainnya untuk bermain alami, dan para pemainnya membuat segalanya menjadi baik, akting buruk tak mungkin hadir dalam filmnya. [R]
Hush (½)- 1998 / Jonathan Darby / Jessica Lange, Gwyneth Paltrow, Jonathon Schaech, Hal Holbrook, Nina Foch, Debi Mazar, Richard Lineback / [100 mnt] Helen (Paltrow), seorang gadis kota besar tanpa sanak saudara, akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Jackson (Schaech), dia juga setuju-setuju saja ketika Jackson memboyongnya ke peternakan keluarganya jauh di luar kota. Di sana Helen tinggal serumah dengan ibu Jackson, Martha (Lange), seorang wanita setenah baya yang semakin lama gelagatnya semakin mencurigakan. Helen kemudian menerima informasi-informasi penting tentang Martha dari bekas mertua Martha (Foch), isi pokoknya: Martha adalah wanita yang sangat berbahaya. Nafas psikologis cerita ini jelas, tentang seorang ibu yang begitu menyayangi dan mengharapkan banyak hal dari anak laki-lakinya hingga tak rela kehilangan dia. Semua disampaikan dengan banal dan eksploitatif oleh Darby sementara alurnya terantuk kian kemari. "The Locust" (1996), film yang mempunyai nuansa serupa, bukanlah film yang bagus, namun Hush lebih buruk. Lange dan Paltrow mencoba sebisanya, mungkin akting mereka bisa disebut bagus, tapi mereka juga bisa disebut aktris-aktris paling terhormat dari generasinya masing-masing, kenapa mereka mau bermain dalam film seperti ini? [PG-13]


I


Ideal Husband, An ()- 1999 / Oliver Parker / Rupert Everett, Julianne Moore, Jeremy Northam, Cate Blanchett, Minnie Driver, John Wood, Lindsay Duncan, Peter Vaughan, Jeroen Krabbé, Ben Pullen / {BRITANIA - PRANCIS} / (96 min.) Sir Robert Chiltern (Northam), seorang politikus muda yang berani menempuh resiko, sejauh ini berhasil menjadi suami yang ideal untuk istrinya (Blanchett). Namun saat ini karir politiknya sedang menghadapi tantangan berat, masuklah tokoh lain, Lord Arthur Goring (Everett) yang terlibat lebih dari cukup dengan problem keluarga Chiltern, termasuk potensi affair dengan adik Sir Robert, Mabel Chiltern (Driver). Tokoh berikutnya yang hadir dalam cerita adalah Lady Cheveley (Moore), dia datang dengan setumpuk rahasia dan berita dari masa lalu yang siap meruntuhkan karir dan kehidupan keluarga Chiltern. Sir Robert mengharapkan Lord Arthur bisa membantunya keluar dari masalah ini, tapi Lady Cheveley juga punya cukup amunisi untuk mengatasi Arthur. Komedi cute Henry James ini difilmkan Parker tanpa keinginan untuk benar-benar mengganti nuansa teaternya dengan realisme ala sinema. Film pun akhirnya banyak bertumpu pada setting suasana dan akting para pemain, untunglah keduanya tercipta dengan nyaris sempurna. Film ini begitu enak dipandang mata dan juga sangat enerjik. Ensemble pemainnya mengagumkan, dengan titik perhatian utama pada All American Moore yang memainkan Lady Cheverey dengan penggunaan bahasa tubuh yang sangat istimewa (plus logat kalangan atas Inggris abad XIX yang sempurna). Perhatian lainnya bisa dialamatkan pada Driver, aktingnya juga brilian, tetapi sulit sekali melihat gadis dengan penampilan fisik seperti Driver sebagai seorang bangsawan klasik Inggris. Pertanyaan terbesar muncul setelah film mencapai klimaksnya : apakah materi cerita drama minimalis ini memang lebih baik dibiarkan telanjang seperti itu ketika diadaptasi menjadi sebuah film? [PG-13]
If Lucy Fell ()- 1995 / Eric Schaeffer / Sarah Jessica Parker, Eric Schaeffer, Ben Stiller, Elle Macpherson, James Rebhorn, Bill Sage, Robert John Burke, David Thornton / [92 mnt] Lucy (Parker), seorang psikiater, mengadakan perjanjian dengan temannya Joey (Schaeffer), bahwa jika dia tidak bisa mempunyai hubungan serius dengan seorang pria dan Joey tidak bisa mempunyai hubungan serius dengan seorang wanita sampai batas waktu ulangtahun ke tiga puluh Lucy, mereka akan meloncat dari jembatan Brooklyn. Walau dalam beberapa bagian film ini memperlihatkan kecerdasannya, namun ketololan lebih sering memperlihatkan hidung busuknya, arahnyapun mudah sekali diduga. Stiller cukup mencuri perhatian sebagai seorang “seniman” yang patut dikasihani, sementara Parker dan Schaeffer sangat memaksakan diri untuk kelihatan lucu. [R]
If These Walls Could Talk ()- 1996 / Nancy Savoca, Cher / Demi Moore, Shirley Knight, Catherine Keener, Jason London, Sissy Spacek, Xander Berkeley, Hedy Buress, Joanna Gleason, Harris Yulin, Cher, Anne Heche, Jada Pinkett, Eileen Brennan, Craig Nelson / [96 mnt] Film ini adalah sebuah antologi dari tiga buah film pendek, “1952” dan “1974” disutradarai oleh Savoca, dan “1996”, karya debut Cher. Film pertama mengedepankan tokoh seorang perawat (Moore), kedua seorang ibu (Spacek) dengan tiga anak yang semuanya sudah cukup dewasa, dan yang ketiga adalah seorang remaja putri produk Generation-X (Heche), ketiganya tinggal di rumah yang sama dalam rentang waktu masing-masing duapuluh dua tahun. Mereka dililit masalah yang sama: kehamilan yang tidak diinginkan, tentu saja aborsi menjadi salah satu pertimbangan mereka, situasi pribadi, keluarga, gaya hidup generasi, dan politik yang berbeda membuat ketiganya mengambil keputusan yang berbeda pula, inilah yang coba dibandingkan film ini. Untuk ukuran film-film pendek tigapuluh menitan, ketiga karya ini semuanya berhasil dalam memanfaatkan waktu sehingga kisah terawali, mencapai klimaks, dan terselesaikan dengan memuaskan. Sudut pandang mereka pun cukup menarik, walaupun kadang-kadang keinginan untuk bersikap netral dan menyerahkan keputusan moral pada penonton ternyatakan dengan terlalu transparan. Secara keseluruhan trilogi ini memuaskan tanpa harus menjadi terlalu provokatif. [R]
If You Can't Say It, Just See It (lihat: Whore )
I Know What You Did Last Summer ()- 1997 / Jim Gillespie / Jennifer Love Hewitt, Sarah Michelle Gellar, Ryan Phillippe, Freddie Prinze Jr, Muse Watson, Bridgette Wilson, Anne Heche ("Missy"), Johnny Galecki, Stuart Greer, J. Don Ferguson, Deborah Hobart / (100 mnt) / Pada sebuah perjalanan, mobil yang ditunggangi empat orang remaja (Hewitt, Gellar, Philippe, Prinze) menubruk seorang asing. Dengan panik, mereka membuang mayatnya ke laut. Apa resiko yang harus mereka terima kemudian? Williamson baru saja sukses dengan menulis skenario “Scream” yang lumayan inovatif, tapi kali ini “Bapak Dawson’s Creek” ini malah mengobral segala macam klise yang diejek oleh “Scream”-nya sendiri. Nama para pemainnya, nama Williamson, dan sukses “Scream” membuat film ini menjadi hit besar, dan kami menganggapnya sebagai salah satu hit besar paling memalukan dalam dekade sembilanpuluhan. [R]
In & Out ()- 1997 / Frank Oz / Kevin Kline, Joan Cusack, Matt Dillon, Debbie Reynolds, Wilford Brimley, Bob Newheart, Tom Selleck, Deborah Rush, Lewis Stalden, Gregory Jbala, Shalom Harlow, J.Smith Cameron, Kate McGreggor – Stewart, Shawn Hartosy, Zak Orth, Lucien Ambrose, Alexander Holden / [111 mnt] Howard Brackett (Kline) adalah seorang guru teater di kota kecil yang sangat disukai murid-muridnya. Dia sedang melaksanakan pernikahan dengan teman sejawatnya, Emily Montgomerry (Cusack). Kehidupan mereka berjalan tenang sekali sampai seorang bekas muridnya, Cameron Drake (Dillon), yang sukses menjadi aktor tenar Hollywood, meletupkan gosip bahwa Brackett adalah seorang homoseks, ini disampaikan Drake dalam malam pemberian Oscar yang ditonton jutaan manusia! Maka, gegerlah kota kecil yang konservatif itu. Selleck muncul sebagai seorang reporter TV yang ternyata seorang gay dan menginginkan Kline, suasana semakin ramai. Apakah memang benar Pak Guru ini seorang gay? Film ini mengajak kita menuju jawaban itu lewat jalan yang penuh kejutan. Isu berat memang tak pernah diprovokasikan oleh film hiburan ini, walau sedikit-sedikit kita merasakan juga unsur satir atas kegilaan media dan maskulinisme, Oz memang tampaknya tak bermaksud terlalu serius. Kline berhasil lagi membawakan sebuah peran komik khasnya dengan baik, kali ini dia sangat dominan. Selleck yang dingin dan Cusack yang histeris juga tak kalah bagusnya. In & Out menampilkan Whoopi Goldberg dan Glen Close sebagai cameo, dan dalam film inilah Steven Seagal masuk dalam nominasi Oscar! [PG]
In Crowd, The (½) - 2000 / Mary Lambert / Susan Ward, Lori Heuring, Matthew Settle, Nathan Brexton, Ethan Erickson, Laurie Fortier, Kim Murphy, Katharine Towne, Daniel Hugh Kelly, Tess Harper, Jay R. Ferguson, A.J. Buckley, Charlie Finn, Erinn Bartlett / (108 mnt) Adrien williams adalah seorang gadis yang sedang menjalani masa bebas bersyarat dari sebuiah institusi perawatan psikologis. Adrienn disalurkan bekerja di sebuah resort liburan kalangan jet set. Bakat Adrienn sebagai seorang pramusaji dan penjaga pantai tidak seberapa dibanding bakatnya untuk bergaul. Dengan cepat dia akrab dengan seorang gadis muda kaya raya bernama Brittany (Ward). Karakter Brittany - sexy, pintar mengambil hati, mudah iri, protektif, dan penuh rahasia - sudah sangat sering kita temui dalam film-film thriller remaja Hollywood. Naif sekali kalau kita masih juga tertarik.[PG-13]
Indecent Proposal ()- 1993 / Adrian Lyne / Demi Moore, Woody Harrelson, Robert Redford, Oliver Platt, Seymour Cassel, Billy Bob Thornton, Rip Taylor, Joel Brooks, Billy Connolly, Sheena Easton, Herbie Hancock / [118 mnt] Sebuah pasangan (Harrelson dan Moore) mengalami kesulitan keuangan yang parah, seorang konglomerat (Redford) menawarkan bantuan. Tawaran itu sudah cukup mengejutkan, namun ternyata syaratnya lebih mengejutkan lagi: sang suami harus merelakan sang istri "dipinjam" selama satu malam oleh sang konglomerat. Dengan susah payah, tawaran disetujui. Selanjutnya tersusunlah cerita tentang moral, rasa cemburu, niat jahat, dan sebagainya. Semuanya disampaikan dengan cara yang tidak meyakinkan, dan memakan waktu yang lebih dari cukup. Para pemain, terutama Harrelson dan Moore, memberikan usaha terbaik untuk memperbaiki film, namun skenario dan bidang-bidang lainnya tidak mengizinkan mereka untuk berbuat lebih (walau ternyata film ini tetap saja membuat kekayaan mereka bertambah dengan cepat). Tontonlah hanya jika benar-benar penasaran, dan ingat: “Honeymoon in Vegas” - yang jauh kalah laris - dirilis setahun sebelumnya! [R]
Indictment ()- 1994 / Mick Jackson / James Woods, Henry Thomas, Sada Thompson, Mercedes Ruehl, Mark Blum, Shirley Knight, Alison Elliott, Lolita Davidovich / [132mnt] Pada tahun 1984, keluarga McMartin ditangkap atas tuduhan melakukan kekerasan sexual terhadap puluhan anak-anak yang menjadi siswa di taman kanak-kanak yang mereka kelola. Kasus yang menggemparkan ini memakan waktu enam tahun di pengadilan hingga kasus berakhir tanpa seorangpun terbukti bersalah. Tokoh utama cerita dalam film ini adalah pengacara pihak McMartin, pengacara dan kliennya ini sama-sama mendapat teror masyarakat. Indictment tampil dengan lugas tanpa banyak variasi, baik secara tematis maupun sinematografis, namun temponya yang cukup cepat dan gaya penuturannya yang menarik membuatnya berhasil mengenai sasaran dengan tepat. Semua pemeran bermain bagus, hampir tanpa kecuali, dalam tontonan yang sangat tepat untuk penggemar drama pengadilan ini. [R]
In Dreams (½)- 1998 / Neill Jordan / Annette Bening, Aidan Quinn, Robert Downey, jr., Stephen Rea, Margo Martindale, Paul Guilfoyle, Kathleen Langlois, Jennifer Berry, Dennis Boutsikaris, Prudence Wright Holmes, Kathy Sagona [115 mnt] Dengan film ini Jordan mencoba sedikit ber-Hitchkock ria dalam beberapa hal, dan hasilnya cukup spektakuler secara visual namun juga cukup membingungkan dalam segi tema. Bening bermain sebagai seorang wanita yang terus menerus dihantui mimpi-mimpi buruk sampai dia harus mendapat perawatan psikiatri yang serius. Seperti yang telah diduganya, semua mimpi ini menghubungkannya dengan seorang penderita sakit jiwa yang telah merenggut banyak nyawa, termasuk nyawa anaknya, suaminya (Quinn) dan hampir nyawanya sendiri. Beberapa bagian plot dan penyutradaraan yang sering terlalu genit dalam film ini berpotensi untuk membuat banyak penonton menggerutu, apalagi setelah film berakhir kesan yang membekas tak akan terlalu mendalam. Mungkin sebagian akan merasakannya mirip sequel “Nihtmare on Elm Street” yang dikerjakan oleh nama-nama yang lebih terhormat. [R]
In Love There are No Rules (lihat: Women & Men 2)
Inner Circle, The ()-1992 / Andrei Konchalovsky / Tom Hulce, Lolita Davidovich, Alexander Zbruev, Bob Hoskins, Feodor Chialapin, Bess Meier, Martina Baranova, Irina Kuptchenko, Vladimir Kulishov, Vsevolod Larionov, Aleksandar Filipenko, Evdokia Germanova, Maria Vigrodanova / [105 mnt] Ivan Sanshin (Hulce) adalah seorang lelaki lugu Russia yang berkeahlian sebagai operator proyektor film. Tanpa pernah diimpikannya, dia mendapat pekerjaan di Kremlin, menjadi "orang dalam" di lingkungan KGB, dan sering berkesampatan untuk bertatap muka langsung dan bercakap-cakap sepatah dua patah kata dengan idolanya, tokoh yang paling dikultuskannya: Joseph Stalin! Keterkejutannya berubah menjadi kebanggaan yang tak terkira, namun tak berlangsung begitu lama, karena ternyata kehidupan di bawah rezim Stalin adalah kehidupan yang penuh ancaman dan intimidasi, termasuk untuk orang-orang yang terdekat sekalipun. Kisah nyata ini difilmkan dengan sangat memikat oleh Konchalovsky, sutradara Rusia yang tak pernah lagi membuat film Rusia.. Lokasi pengambilan gambar yang 100% Russia (termasuk Kremlin) banyak membantu. Masalah terbesar adalah akting Hulce yang karikatural dan malah menjadi agak menyebalkan. [PG-13]
Innocent, The (½)- 1993 / John Schlessinger / Anthony Hopkins, Isabella Rossellini, Campbell Scott, Ronald Nitschke, Hart Bochner / Walaupun telah diperingatkan oleh mentornya (Hopkins), seorang insinyur yang terlibat dalam agensi PD II (Scott) tetap melibatkan diri dalam kisah asmara yang berbahaya dengan seorang wanita bersuami (Rossellini). Visualisasi yang cantik dan akting yang baik tak disertai dengan penceritaan yang menarik. [112 mnt]
Innocent Blood (½)- 1992 / John Landis / Anne Parillaud, Anthony LaPaglia, Robert Loggia, David Proval, Don Rickles, Rocco Siusto, Chaz Palminteri, Tony Sirico, Luis Guzman, Angela Basset, Leo Burmester, Linnea Quigley, Tonny Lip, Frank Oz / [112 mnt] Marie (dimainkan oleh aktris sexy Prancis, Parillaud, dengan akting yang agak aneh) adalah seorang vampire yang luar biasa selektif dalam memilih korban, dia tak pernah mau mengambil darah orang baik-baik. Ketika dia sedang tertarik pada darah mafioso-mafioso Itali-Amerika, dia gagal menahan salah satu korbannya, Sal (Loggia), seorang gembong mafia, untuk tidak gentayangan dan menjadi vampire berbahaya, Sal ini jelas tidak seselektif Marie. Horor dan cerita gangster bercampur aduk dalam film ini dan adukan itu ditampilkan dengan gaya komedi yang ribut, konyol dan membuatnya lebih cenderung lucu daripada menakutkan (termasuk tata musiknya), perpaduan unik itulah yang membuatnya menarik. Boleh dibilang masih senaif kebanyakan film segenrenya, namun tidak semua ide naif menghasilkan sesuatu yang jelek, yang ini sama sekali tidak jelek. [R]
Inside ()- 1996 / Arthur Penn / Eric Stoltz, Luois Gosset, jr., Nigel Hawthorne, Ian Roberts, Janine Eger / [102mnt] Stoltz adalah seorang doktor ilmu politik yang salah satu tulisannya dituduh subversif oleh pemerintah Apatheid Afrika Selatan. Dalam penjara, dia menerima perlakuan yang sangat tidak manusiawi dari Hawthorne. Beberapa tahun kemudian, setelah kejayaan Apartheid berakhir, Gosset - yang dulu juga berada di penjara yang sama - mencoba untuk mengungkapkan hal itu. Film karya sutradara veteran Penn ini dipenuhi dialog dan visualisasi yang tajam, namun cara penceritaanya hanya menarik jika anda perduli dengan temanya, dan jika anda memang sangat perduli, nilai  bisa jadi terlalu kecil. Film ini difilmkan di lokasi asli di Afrika Selatan dengan Gosset bertindak sebagai salah satu produser. Semua pemain bermain sangat bagus, terutama Hawthorne. [R]
Inside Monkey Zetterland (½)- 1992 / Jeffry Levy / Steve Antin, Katherine Helmond, Patricia Arquette, Tate Donovan, Sandra Bernhard, Sofia Coppola, Rupert Everett, Bo Hopkins, Martha Plimpton, Debi Mazar, Ricki Lake, Lance Loud, Francis Bay / [94 mnt] Komedi hitam ini berkisahkan tentang Monkey Zetterland (Antin, juga menulis skenario yang sedikit banyak kelihatan seperti otobiografi ini), seorang penulis skenario pemula yang hidupnya dikelilingi oleh karakter-karakter yang hampir semuanya tidak terlalu sehat secara psikologis, dari mulai ayah, ibu, saudara, pacar, tetangga, sampai psikiater. Anjingnya mungkin adalah tokoh paling biasa dalam film ini. Film ini mempunyai beberapa bagian yang menggelitik dan menarik, sebagian lagi mengada-ada, sebagian lagi menggelikan, dan tidak kurang juga yang norak Setidaknya, IMZ cukup berhasil untuk menjadi eksentrik lewat skenario dan penyutradaraannya, sementara akting para pemain pendukung, terutama Halmond, Bernhard, Coppola, dan Hopkins, juga berhasil menambah keeksentrikannya. [R]
Insider, The (½)- 1999 / Michael Mann / Al Pacino, Russell Crowe, Christopher Plummer, Diane Venora, Philip Baker Hall, Lindsay Crouse, Debbie Mazar, Stephen Tobolowsky, Colm Feore, Bruce McGill, Gina Gershon, Michael Gambon, Rip Torn, Linda Hart, Nestor Serrano, Wings Hauser / (155 mnt) / Film dibuka dengan pengalaman Lowell Bergman (Pacino), produser acara televisi CBS 60 Minutes, dalam mewawancara seorang tokoh radikal di Iran. Sekuen ini begitu mencekam, tetapi ternyata maksud utamanya adalah untuk memperkenalkan kegigihan seorang Bergman, film ini sendiri bercerita tentang tembakau yang agaknya tidak tumbuh di Iran. Kita kemudian diperkenalkan pada Jeffery Wigand (Crowe) di rumahnya, pria normal. Wigand adalah kepala bidang riset di perusahaan tembakau Brown & Williamson. Kehidupannya cukup makmur sebelum tiba-tiba dia dipecat setelah mempertanyakan penguasaan Brown & Williamson terhadap masalah serius penggunaan tembakau. Wigand juga mengacaukan sebuah perjanjian kerahasiaan dengan perusahaan raksasa itu. Dia kini berada dalam masalah besar, karirnya sudah jelas luluh lantak, dan lebih dari itu keselamatan pribadinya an juga keluarganya terancam. Dalam pelariannya, Wigand - yang sementara berprofesi sebagai guru kimia - menghampiri Bergman dan mengharapkan CBS mau mengekspos masalahnya lewat 60 Minutes. Bergman sangat antusias dengan kesediaan itu, namun setelah acaranya ditayangkan (dengan tidak setajam yang diharapkannya) dia sadar bahwa dia telah menyeret perusahaan televisi itu ke dalam masalah hukum yang sangat pelik. Bergman belum sepanik Wigand, dia masih bisa berpikir terang dan mencoba sebisanya membantu ahli kimia yang sekarang terpaksa hidup sebagai pelarian dari hotel ke hotel. Terus terang saja, gaya skenario Mann dan Eric Roth sebenarnya tak jauh berbeda dengan gaya penulisan film Hollywood yang mengangkat kisah-kisah besar seperti ini. Namun Mann menggandakan tenaga film ini puluhan kali lewat penyajian visual bergaya ekspresionistik yang sangat menggigit. Penata kamera Dante Spinotti dan trio editor William Goldenberg, Paul Rubell, dan David Rosenbloom bekerja keras menciptakan sebuah tontonan yang secara ajaib bisa membuat cerita seperti ini menjadi pertunjukan syaraf yang sangat mencekam, bahkan adegan-adegan percakapan yang panjang lebar pun tak pernah dibiarkan lolos dari suasana bertegangan tinggi. Hasil kerja orang-orang ini sungguh sensasional, mereka membuat "The Insider" menjadi film dengan tampilan paling istimewa di akhir abad XX. Kita juga tak bisa mengabaikan Crowe dan Pacino, keduanya melebur diri dalam tensi film ini lewat akting dengan intensitas luar biasa, pantas sekali jika setelah penampilannya dalam film ini, Si Kiwi Crowe langsung melejit menjadi salah satu makhluk impor paling hot di Hollywood. [R]
Interlocked – Thrilled to Death ()- 1998 / Rick Jakobson / Jeff Trachita, Schae Harrison, Sandra Fergusson, Howard Mango, Peter Fogel, Kristine Mejia, Bruce Kirby / [87 mnt] / E-mail, kantor, seks, teror, salah sangka. Jauhi! [R]
Intersection (½)- 1994 / Mark Rydel / Richard Gere, Sharon Stone, Lolita Davidovich, Martin Landau, David Selby, Jenny Morrison, Ron White / [98 mnt] / Gere bermain sebagai seorang pria yang harus memilih antara du wanita, istri dan mitra kerjanya (Stone) dan selewengannya, seorang wartawan hangat (Davidovich). Anaknya (Mmorrison) adalah satu-satunya figur yang bisa membangkitkan kesadarannya. Film dengan gaya ultra-efisien ini diceritakan dengan kilas balik yang lesu, selesu akting ketiga bintang utamanya. Melodrama atau thriller atau apapun, kita tak bisa dibuat hanyut oleh Amerikanisasi "Les Choses de la Vie" (1970) ini. [R]
Interview With the Vampire ()- 1994 / Neill Jordan / Brad Pitt, Tom Cruise, Antonio Banderas, Kirsten Dunst, Christian Slater, Stephen Rea, Thandie Newton, Domiziana Giordano, Monte Montague, Roger Lloyd Pack / [122 mnt] Kisah vampire Louis (Pitt) yang berusaha melepaskan diri dari “mentornya”, Lestat (Cruise), dengan berbagai cara, ditampilkan dengan desain produksi yang mewah dan karakterisasi yang agak tidak biasa untuk film sejenis. Jordan goes to Hollywood, membedah novel hit Anne Rice, dan berpesta pora dalam sebuah film yang sangat mahal bertabur bintang Amerika (walau Rea tetap menempel kemanapun dia pergi). Film ini tak bisa begitu saja disebut film horor karena unsur ketegangan memang tak mendominasi alur dramatisnya yang berupa semi biografi, bahkan beberapa bagian terasa agak menurunkan tensi film walau setelah itu selalu segera datang bagian yang lebih baik. IwtV adalah film yang sangat gelap, dan dalam kegelapan yang menyelimuti seluruh film, daya tarik Pitt adalah cahaya terang, walau tidak sampai mengaburkan kharisma Cruise, yang bersembunyi di balik make-up tebal dan tulang pipi menonjol. Dunst bermain luar biasa sebagai Claudia, vampire yang tumbuh dewasa dalam sosok gadis berusia dua belas tahun, dan Rea tampil menarik sebagai Santiago si tukang sulap. [R]
In the Heat of Passion ()- 1993 / Rodman Flender / Sally Kirkland, Nick Corri, Jack Carter, Michael Greene, Gloria LeRoy, Carl Franklin / [96 mnt] / Corri bermain sebagai seorang tukang yang mendapat pekerjaan di rumah pasangan Carter dan Kirkland. Kirkland adalah seorang wanita yang tak bisa membiarkan seorang pria tampan masuk rumahnya tanpa tergoda. Affair mereka tidak berjalan mulus, berbagai masalah terjadi kemudian. Film ini cukup liar dan - secara agak mngejutkan - cukup cerdik, namun naluri eksploitasi khas film-film produksi Roger Corman tetap menempati porsi terdepan hingga film ini takbisa menghindar dari kesan picisannya. [R]
In the Line of Fire ()- 1993 / Wolfgang Petersen / Clint Eastwood, John Malkovich, Rene Russo, Dylan McDermott, Gary Cole, Fred Dalton Thompson, Joan Mahoney, Jim Curley, John Heard / [128 mnt] Frank (Eastwood dalam salah satu penampilan terbaiknya) adalah seorang anggota dinas rahasia yang masih mengalami trauma atas drama penembakan Keneddy, Frank adalah salah seorang pengawalnya di tempat kejadian. Tiga puluh satu tahun kemudian, Frank mendapat teror lewat telepon dari Larry (Malkovich, dengan akting yang luar biasa bagus) yang mengancam hendak membunuh presiden yang sedang menjalankan masa jabatan, Larry juga meneror Frank secara pribadi dengan mengungkit-ungkit masa lalunya. Film ini berhasil menyampaikan cerita dan tekanannya dengan baik, walau sangat penuh dengan dramatisasi genit Hollywood sembilanpuluhan, baik dalam hal action, psikologi, maupun roman. NB: Apakah cerita film ini benar-benar memerlukan kehadiran agen Lily yang dimainkan Russo (aktris yang semakin tua semakin cantik, yang ditempatkan di urutan ke tiga daftar pemerannya, dan yang tampil dalam foto dengan fokus seorang diri di jilid laser discnya sementara Eastwood saja selalu berbagi fokus dengan tokoh lain)? [R]
In the Name of the Father (½)- 1993 / Jim Sheridan / Daniel Day-Lewis, Emma Thompson, Pete Postletweithe, John Lynch, Corin Redgrave, Beattie Edney, Daniel Massey, Gerard McSorley / (REP.IRLANDIA-AS) / [127 mnt] Kisah ini diangkat dari novel karya Gery Conlon, “Proved Innocent”, yang menelanjangi habis tindakkan manipulatif kepolisian Inggris dalam menangani kasus peledakkan bom oleh I.R.A di Guilford. Gery (Day-Lewis) semula tak lebih dari seorang hyppie Belfast yang menggelandang di London, tiba-tiba dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara bersama tiga orang temannya, ayahnya (Postletweithe), dan keluarga bibinya atas tuduhan peledakkan bom yang sesungguhnya sama sekali tak melibatkan seorangpun dari mereka. Cerita difokuskan pada pulihnya hubungan Gery dengan sang ayah selama mereka berada dalam penjara dan perjuangannnya untuk menuntut kembali kebebasannya lewat bantuan tanpa lelah dari pengacaranya, Garreth Pierce (Thompson). Sheridan menyuguhkannya dengan sangat emosional namun membagi “sumpah serapah” yang seimbang pada brutalnya aksi politik I.R.A dan kesewenang-wenangan kepolisian Inggris. Akuratnya tampilan film dan diprioritaskannya Gery (padahal dia bukan satu-satunya korban salah tangkap dalam kasus ini), memang membuat cerita mengalir dengan tekanan emosi yang sangat kuat. Duet sempurna Day Lewis - Postleweithe membekaskan kesan yang sangat mendalam tentang tokoh yang mereka perankan, sementara Thompson banyak mencuri perhatian di sepertiga bagian terakhir. Musik adalah kekuatan lain film ini, Trevor Jones mengisi ilustrasinya dengan ekspresif, dan beberapa soundtrack yang sangat mewakili suasana terdapat di banyak bagian film, dibuka oleh theme song yang dibawakan Bono dan Gavin Friday, diakhiri dengan “You Made Me the Thief of Your Heart” oleh Sinead O’Connor yang dengan menggetarkan melatari kredit penutup, kedua lagu ini ditulis oleh Bono, Gavin Friday, dan Maurice Seezer. [R]
* Berlin International Festival: Film Terbaik
In the Soup (½)- 1992 / Alexandre Rockwell / Steve Buscemi, Seymour Cassel, Jennifer Beals, Pat Moya, Will Patton, Sully Boyer, Jim Jarmusch, Carol Kane, Stanley Tucci, Rockets Redglare, Elizabeth Bracco, Rutch Malezchech, Debi Mazar / [90 mnt] Adolpho Rollo (Buscemi) telah beberapa lama menyelesaikan skenarionya, dan, aduh, tebalnya hampir enamratus halaman. Tentu dia kesulitan mencari orang yang mau memfilmkannya. Sampai datang Joe (Cassel) yang memberinya beribu janji. "Kebetulan" Joe adalah seorang gangster berpengalaman, tentu ini akan membawa masalah bagi Adolpho. Film pra-Tarantino dari Rockwell ini luar biasa konyol sekaligus inovatif, kita sulit sekali untuk tidak tertarik walau belum tentu puas atau menyenanginya. Buscemi dan Cassel menampilkan akting yang sangat menarik. Catatan kecil : Sejak film ini, berapa kali anda menemukan film sejenis tanpa Debi Mazar di dalamnya? [R]
Inventing the Abbotts (½)- 1996 / Pat O’Connor / Liv Tyler, Joaquin Phoenix, Billy Crudup, Jennifer Connelly, Joana Going, Kathy Baker, Will Pattons, Barbara Williams / [107 mnt] Film ini menceritakan dua bersaudara (Phoenix dan Crudup) yang sama-sama ditakdirkan untuk secara bergiliran menikmati cinta, pengalaman sex, dan kesedihan yang mereka dapatkan dari tiga gadis cantik keluarga Abbots (Going, Connelly, Tyler) yang ayahnya (Pattons) mempunyai masa lalu yang sangat berkaitan dengan masa lalu ibu kedua pemuda itu (Baker). Mudah dinikmati dengan alur cerita yang kadang manis dan kadang tragis, O’Connor menggarapnya dengan sangat teliti, para pemainnya pun penuh daya tarik, namun ketika film berakhir, sulit bagi kita untuk yakin bahwa film ini akan bertahan lama di ingatan kita. [R]
Illtown () - 1997 / Nick Gomez / Michael Rappaport, Lili Taylor, Kevin Corrigan, Adam Trese, Paul Schulzie, Angela Featherstone, Tony Danza, Isaac Hayes / [107 mnt] Rappaport dan Corrigan bermain sebagai sepasang pemuda yang menjalani usaha jual beli obat bius dengan penuh ketenangan sampai mereka membunuh seorang pengedar lain. Namun puncak dari terganggunya ketenangan ini adalah munculnya kembali Trese, bekas sahabat Rappaport, sesosok tokoh penghancur yang mengalir dengan sangat tenang. Film dengan muatam psikologis yang cukup berat ini disampaikan dengan gaya bertutur yang nyaris eliptik oleh Gomez, sutradara yang menarik perhatian orang sejak memulai debutnya dengan balada kelam “Laws of Gravity”. Film ini pun tampaknya akan terasa terlalu kelam atau justru genit oleh sebagian pemirsa, namun yang lain akan menganggapnya sebagai sebuah hiburan stylish yang berbeda dengan film gangster yang lain. [PG-13]
Irma Vep ()- 1996 / Oliver Assayas / Maggie Cheung, Jean Pierre Leaud, Nathalie Richard, Nathalie Bouttefeu, Alex Descas, Dominique Faysse, Arsenee Khanjian / (PRANCIS) {Bahasa Prancis & Bahasa Inggris} / [102 mnt] Maggie memerankan dirinya sendiri, datang dari Hongkong ke Prancis untuk memerankan Irma Vep, tokoh film bisu tahun 1915, yang dihidupkan kembali dalam tampilan mirip tokoh CatWoman versi Michelle Pfeiffer (apakah minuman favorit Irma Vep? Silakan acak-acak susunan huruf yang membentuk namanya!). Setelah terlibat dalam shooting, Maggie mulai mengetahui apa yang sebenarnya sedang dia jalani. Film ini disampaikan dengan gaya bercerita yang ketat dengan visualisasi yang hampir berupa pseudo-dokumenter, sisipan “film dalam film” juga disuguhkan dengan sangat menarik. Secara tematis, film ini memang menarik, penuh dengan tinjauan terhadap alam dan masyarakat perfilman Prancis pada khususnya, dan internasional pada umumnya, lengkap dengan segala sinisme yang mengejek diri sendiri. Maggie, yang memang tidak harus terlalu berakting, menjadi daya tarik yang sangat besar dengan segala kealamian ekspresinya, dan orang-orang Prancis di sekelilingnya pun bermain sangat bagus, terutama Richard sebagai penata kostum lesbian yang tertarik padanya. Tapi hati-hati saja, film ini mempunyai ending yang bisa mengesalkan pemirsa yang tidak mau berkompromi dengan segala sesuatu yang mengejutkan dan tidak lazim. [R]
I Shot Andy Warhol ()- 1995 / Mary Harron / Lily Taylor, Jarred Harris, Stephen Dorff, Martha Plimpton, Danny Morgenstern, Lothaire Bluteau, Michael Imperioli, Reg Rogers, Coco McPherson, Donovan Leitch, Tahnee Welch, Craig Chester, James Lyon, Myriam Cyr, Bill Sage, Lorraine Farris, Anna Thomson / [107 mnt] Film ini adalah kisah Valery Solanas, penulis kitab feminisme kontroversial “S.C.U.M Manifesto”, yang nekat menembak sang pangeran seni pop postmodern, Andy Warhol. Solanas (Taylor) adalah seorang lesbian yang tumbuh menggelandang di jalanan setelah menamatkan kuliah psikologinya. Dia kemudian mulai mengembangkan gagasan-gagasan feminismenya dalam skala kecil. Di pertengahan dekade enampuluhan, dia mulai memasuki lingkungan eksentrik Warhol (via superstar underground, Candy Darling), namun Valery kemudian merasa Andy mengecewakan dan memanfaatkannya, maka terjadilah kejadian itu. Harron memindahkan segala sesuatu dari kenyataan ke layar dengan sensitivitas yang sangat artistik, hampir semua adegan penting berhasil menyita seluruh perhatian kita, namun sayang di pertengahan dia sempat membiarkan cerita terulur tak jelas dalam menempatkan prioritas dan kemudian menjadi tergesa-gesa menjelang akhir. Taylor menemukan peran yang benar-benar menguras kemampuan aktingnya, inilah salah satu penampilan paling penting dalam karir aktris petualang ini. Sementara Harris hanya perlu meniru gaya Warhol, karena film ini memang tak terlalu jauh mengupas pribadinya (bandingkan dengan Warhol-nya David Bowie dalam “Basquiat”). [R]
I Still Know what You Did Last Summer (½)- 1998 / / Jennifer Love Hewitt, Freddie Prinze Jr., Brandy Norwood, Mekhi Phifer, Muse Watson, Bill Cobbs, Matthew Settle, Jeffrey Combs, Jennifer Esposito, John Hawkes, Ellerine Harding, Ben Brown / (96 mnt) Julie (Hewitt), pahlawan "IKWYDLS", kali ini mempunyai teman baru, Karla (Brandy) yang mengajaknya bertamasya ke sebuah pulau. Mereka pergi bersama Tyrell (Phifer) dan Will (Settle). Di pulau itulah semua horor muncul, sesuai dengan yang anda harapkan dari sebuah sequel ala Kevin Williamson. [R]
I Went Down (½)- 1997 / Paddy Breathnach / Brendan Gleeson, Peter McDonald, Peter Caffrey, Tony Doyle, Antoine Byrne, Donal O'Kelly, David Wilmot / {REP. IRLANDIA-BRITANIA } / (105 mnt.) / Sebagai sebuah hukuman yang diterimanya dari gangster Tom (Doyle), Git harus menyeret Frank (Caffrey) pada Tom. Tom sendiri memberi seorang teman seperjalanan pada, Git, Bunny Kelly (Gleeson). Pasangan ini sama sekali tidak cocok satu sama lain, dan setelah mereka berhasil menangkap Frank, manusia yang saling tidak cocok satu sama lin itu kini berjummlah tiga orang. Petualangan Git, Bunny Kelly, dan Peter seakan tanpa akhir ke berbagai tempat dan berbagai jenis bahaya, mereka sendiri sesungguhnya tak mengerti permasalahan secara keseluruhan. Komedi kejahatan ini adalah sebuah film hit di negerinya dan di Inggris Raya, segitiga Git-Bunny-Frank adalah modal utamanya. Lebih dari setengah kelucuan itu terkandung dalam dialog-dialognya, yang lama kelamaan melelahkan juga karena alur cerita yang terlalu mudah dikenali. Trio pemainnya bermain sangat bagus, dan film ini juga adalah satu dari sedikit film laris Irlandia yang berhasil keluar dari stereotip "film politik praktis". [R]


J


Jackie Brown(½)- 1997 / Quentin Tarantino / Pam Grier, Samuel L. Jackson, Robert Forster, Robert De Niro, Michael Keaton, Bridget Fonda, Michael Bowen, Lisa Gay Hamilton, Hattie Winston, Sid Haig, Aimee Graham, Chris Tucker / [143 mnt] Jackie Brown (Grier) adalah seorang pramugari yang terlibat dalam penyelundupan obat bius dari Ordell (Jackson). Dia kemudian bersahabat dengan penjamin tahanan, Max (Forster), dan membuat perangkap untuk Ordell bersama seorang polisi (Keaton). Jangan harapkan hal-hal baru dari Tarantino dalam film ini, dia hanya memanjangkan dan merumitkan cerita dengan memberi “bonus” beberapa variasi filmis yang nakal (salah satunya, tentu saja, permainan dimensi waktu). Grier – yang pasti merupakan favorit Tarantino remaja - tidak menampilkan sesuatu istimewa, sementara Jackson tampaknya sudah benar-benar menjadi aktor impian Tarantino dewasa. [R]
Jade (½)- 1996 / William Friedkin / David Caruso, Chaz Palminteri, Linda Fiorentino, Michael Biehn, Richard Crenna, Donna Murphy, Angie Everhart, Kevin Tighe / [101 mnt] Caruso adalah seorang polisi - kebetulan juga bernama David - yang menyelidiki kasus pembunuhan seorang trilyuner. Ternyata kasus ini berhubungan dengan pemerasan dan skandal seksual tokoh-tokoh penting. Yang tidak mengenakan David: bukti-bukti menunjukkan bahwa istri sahabatnya ternyata jelas terlibat erat dalam kasus ini. Tidak cukup sampai di situ, kasus semakin rumit dan semakin penuh tanda tanya dan ketegangan, khas hasil dari word-processor Joe Eszterhas yang pekat dengan intrik seksual. Sutradara veteran Friedkin (“The Excorcist”) meramunya menjadi sebuah thriller stylish yang penuh misteri, namun tidak semua bagiannya berhasil membuat kita perduli, dan endingnya - walau bermaksud untuk menghentak - sama sekali tidak pas. [R]
Jaded (½)- 1996 / Caryn Krooth / Carla Gugino, Rya Khilstedt, Anna Levine, Christopher McDonald, Aida Turturro, Richard Bright, Ellen Greene, Lorraine Toussaint / (100 mnt) / Seorang pria tunawisma mmenemukan Meg (Gugino) telanjang penuh luka dalam keadaan pingsan di sebuah pantai. Di kantor polisi, Meg, yang bukan berasal dari kota itu, menceritakan sebuah kisah yang melibatkan bomb-sex lesbian setempat, Pat (Khilstedt), pacarnya Alex (Levine), dan suami Alex (McDonald). Yang harus ditelusuri film ini adalah benar atau tidaknya kisah dramatis yang diceritakan Meg itu. Film ini berada tepat di batas antara film "serius" dengan film eksploitasi, dan para pembuatnya mungkin terlalu sadar dengan hal itu, begitu juga kita. [R]
James Dean: Live Fast Die Young (½)- 1997 / Mardi Rustam / Casper Van Dien, Carrie Mitchum (Pier Angeli), Diane Ladd, Louis D'Alto, Dale Gibson, Casey Kasem, Will Hall, Robert Mitchum (George Stevens), Rebecca Budig, Carman Romano / (( James Dean: Race with Destiny )) / (109 mnt) Menghadirkan biografi James Dean di film bukan perkara mudah, diperlukan lebih dari sekedar kekaguman dan kenekatan untuk itu. Sayangnya, hanya itu yang menjadi modal film ini, hampir tak ada yang layak diingat dari film ini kecuali suasana-suasana klise dan hal-hal bodoh, mulai dari dialog sampai akting. Mitchum sempat menaikan derajat film ini dengan akting bagusnya sebagai George Sevens, uniknya van Dien pun terbawa berakting lumayan ketika dia berhadapan dengan Mitchum, dan skenario untuk adegan-adegan Mitchum pun terasa lebih cerdas dari bagian-bagian lain, tapi itu saja tidak cukup, jauh dari cukup. [PG-13]
Jane Austen's Mafia (½)- 1998 / Jim Abrahams / Jay Mohr, Billy Burke, Christina Applegate, Pamela Gidley, Olympia Dukakis, Lloyd Bridges, Jason Fuchs, Joe Viterelli, Tony LoBianco, Blake Hammond, Frankie Totino, Vincent Pastore, Marisol Nichols / (90 mnt) Abrahams memparodikan sebuah genre yang mungkin dia rasa belum cukup sering diparodikan: film mafia. Seri The Godfather tentu menjadi sasaran utama pelesetannya. Fokusnya adalah keluarga mafia konyol Don Cortino (Bridges). Sejak sang Don Tua terbunuh - dalam sebuah adegan yang diharapkan bisa memancing tawa, pemutaran roda ekonomi keluarga ini sebagian besar dibebankan pada Toni (Mohr). Penghasilan terbesarnya adalah sebuah kasino, di sini giliran film Scorsese, "Casino", menjadi makanan empuk. Abrahams tidak punya waktu yang terlalu panjang untuk melucu, maka dia menggebernya dalam tempo cepat dengan berbagai gurauan mulai dari soal kentut sampai parodi "The English Patient". Tak semua humornya mematikan dan kreatif, tapi lumayan juga untuk ditonton sambil makan kacang. [PG-13]
Jane Eyre ()- 1995 / Franco Zeffirelli / Charlotte Gainsbourg, William Hurt, Anna Paquin, Joan Plowright, Charlotte Attenborough, Maria Schneider, Elle Macpherson, Billie Whitelaw, Edward De Souza, Josephine Serre, Geraldine Chaplin, John Wood, Fiona Shaw / (BRITANIA) / [113 mnt] Jane Eyre kecil (Paquin) adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di rumah bibinya yang tidak menyukainya hingga akhirnya dia dibuang ke sebuah sekolah gadis. Jane Eyre dewasa (Gainsbourg) bekerja sebagai guru dan pemerhati pribadi putri tidak sah dari Edward Rochester (Hurt), laki-laki yang menyimpan berbagai rahasia masa silam. Jutaan orang telah mengenal kisah produk romantisme yang ditulis Charlotte Brönte ini, ribuan orang yang menyukai karya Brönte akan menonton film ini, dan sebagian besar dari mereka akan kecewa. Zeffirelli sebagai sutradara dan penulis skenario (bersama Hugh Whitemore) membiarkan cerita mengalir terburu-buru tanpa kesan, dan daya tarik visual - yang biasanya menjadi andalan film-film bersetting abad lampau - tak terlihat banyak, tak ada yang istimewa dari kerja kamera, desain produksi, atau desain kostumnya. Para pemuja Jane juga berhak menginginkan sesuatu yang lebih hidup dari akting Gainsbourg (putri komposer Prancis, Serge, dan aktris Prancis asal Inggris, Jane Birkin) yang begitu dingin dan berakting sangat monoton. [PG-13]
Jennifer 8 (½)- 1992 / Bruce Robinson / Andy Garcia, Uma Thurman, Lance Henriksen, Kathy Baker, Kevin Conway, Graham Beckel, John Malkovich, Lenny von Dohlen / [127mnt] Jennifer 8 adalah kode untuk korban pembunuhan berantai yang tidak terkenali. John Berlin (Garcia), polisi seksi pembunuhan, setengah terobsesi oleh kasus ini mengkhususkan penyelidikannya dengan menganggap Helena (Thurman), seorang wanita buta, sebagai kunci kasus ini. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang baru, untunglah para pemain, khususnya Thurman, bermain bagus. [R]
Jerry Maguire (½)- 1996 / Cameron Crowe / Tom Cruise, Cuba Gooding, jr., Rene Zellweger, Kelly Preston, Jerry O’Connell, Jay Mohr, Regina King, Bonnie Hunt, Glenn Frey, Jonathan Lipnicki / [130 mnt] Salah satu roman pop Amerika terbaik di zamannya ini menampilkan Jerry Maguire (Cruise, dalam penampilan terbaiknya selama 90-an), seorang agen atlet yang selalu kelihatan perlente dan telah lama dikenal dan mengenal dirinya sebagai agen yang sukses. Sebuah “memo kesadaran” yang dia buat dengan maksud baik malah hampir membawanya ke dasar karirnya. JM harus merengkuh kembali kejayaannya! Dalam usaha mencapai ini, dia ditemani oleh dua orang yang akan menjadi tokoh terpenting sepanjang hidupnya, yang pertama adalah janda muda bernama Dorothy Boyd (Zellweger, luar biasa bagus), akuntan nekat yang bekerja di kantornya dan sangat bersimpati padanya, kedua adalah Rod Tidwell (Gooding, juga luar biasa), pemain kelas sekian di NFL, yang kini merupakan satu-satunya atlet yang dia ageni. Mereka bertiga mencoba memperbaiki hidup mereka dalam romantika kebersamaan yang mempelajari, menguji, dan juga membedakan semua hal penting dalam bentuk-bentuk hubungan mutual seperti kesetiaan, keintiman, dll. Jerry Maguire adalah dongeng modern Amerika yang sangat biasa dan penuh romantisme, namun beginilah jadinya bila sebuah cerita yang sedemikian ngepop ditangani dengan sempurna, hasilnya adalah sebuah komedi yang benar-benar memuaskan dengan satire moral yang tidak terasa dipaksakan. Crowe, sutradara, produser, dan penulis skenario, bekerja dengan sangat luar biasa dalam segala urusannya. Setiap bagian yang bagus, setiap momen yang pantas dikenang dalam film ini, semuanya membuat pujian bertumpuk pada orang Seattle ini, dia bertanggung jawab untuk semuanya. Namun jangan hanya salahkan Crowe kalau film ini sangat susah hilang dari kepala setelah anda menontonnya, salahkan juga Cruise yang membuat kita semakin sadar bahwa dia mempunyai semua alasan untuk selalu berada di papan atas, salahkan juga semua (semua!) pemeran pendukung, termasuk bocah kecil Lipnicki sebagai putra Boyd yang berusia lima tahun. Film ini juga berhasil meluncurkan Zellweger ke dunia bintang dan mengangkat lagi karir Gooding yang sempat nyaris tenggelam. Dalam tahun yang ditandai serbuan hebat film-film indies dan film-film Britania ke Hollywood dan ke kepala para kritisi, Jerry Maguire berdiri sebagai bukti bahwa dengan anggaran yang cukup besar pun orang masih bisa membuat film yang baik tanpa menghamburkannya untuk keperluan spesial efek. Catatan kecil: Eric Stoltz yang selalu muncul dalam setiap film Crowe, mucul sebentar di film ini, puluhan cameo lain juga muncul, kebanyakan adalah olahragawan-olahragawan terkenal Amerika dan agen-agen atlet asli. Jika anda penggemar musik Seattle Sound, pasang mata baik-baik agar tak melewatkan kemuculan sekilas Jerry Cantrell sebagai tukang foto kopi, Jerry dan grupnya, Alice in Chains, juga mucul pada film Crowe sebelumnya, “Singles”. [R]
* Academy Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Gooding), SAG Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Gooding)
JFK (½)- 1991 / Oliver Stone / Kevin Costner, Sissy Spacek, Kevin Bacon, Tommy Lee Jones, Laurie Metcalf, Gary Oldman, Michael Rooker, Jay O.Sanders, Beata Pozniak, Joe Pesci, Donald Sutherland, John Candy, Jack Lemmon, Walter Matthau, Vincent D’Onofrio, Wayne Knight, Sally Kirkland / [188 mnt] (Berwarna dan hitam putih) Ini adalah sebuah film yang luar biasa padat mengenai usaha dan obsesi Jim Garisson (Costner), seorang jaksa wilayah dari New Orleans, dalam mengungkap kenyataan yang sebenarnya dibalik pembunuhan presiden JF.Keneddy, sampai bertahun-tahun setelah Keneddy terbunuh. Kontroversi menyelubungi film ini, teori rumit penuh tanya miskin jawaban tentang konspirasi pembunuh yang ditawarkan Stone mengguncang Amerika. Pengamat film, ahli sejarah, dan politikus sama sibuknya dalam memberi berbagai reaksi pada film ini. Stone mengalirkan film dengan arus yang deras, sehingga penuturannya sangat intensif, dan bahkan bisa melelahkan sebagian penonton saking terbatasnya ruang untuk melepaskan diri barang sejenak dari muatan cerita film. JFK terasa sangat berat, perlu saat yang benar-benar tepat untuk menikmatinya. Disarankan untuk menonton film ini lebih dari satu kali (bila kuat), kali pertama: tontonlah dengan santai, kali kedua (paling penuh perhatian): fahami lagi jalan ceritanya karena pasti banyak informasi film yang terlewatkan (dalam tahap ini anda bisa menilai sendiri teori Stone), dan kita perlu menontonnya sekali untuk menyadari betapa bagusnya penataan kameranya, betapa bagusnya akting para pemainnya (terutama Pesci yang hanya muncul dalam dua sekuen), dan betapa bagusnya editingnya. Memang sulit sekali untuk membuat film berdasar kisah nyata yang menyangkut hal sepenting ini dengan bahasan selebar ini, kelemahannya lebih mudah ditemukan daripada film kecil, apalagi bila tak semua orang setuju dengan apa yang dikatakannya. Terlepas dari teori kontroversialnya, secara filmis film ini lebih dari sekedar bagus. [R]
* Academy Awards: Tata Kamera Terbaik, Editing Terbaik, Golden Globe: Sutradara Terbaik (Stone)
Joan Of Arc ()- 1999 / Christian Duguay / Leelee Sobieski, Jacqueline Bisset, Powers Boothe, Neil Patrick Harris, Maury Chaykin, Olympia Dukakis, Jonathan Hyde, Robert Loggia, Shirley MacLaine, Peter O'Toole, Cliff Saunders, Maximilian Schell, Peter Strauss, Chad Willett / Film Televisi / [240 mnt] / Film yang dibuat untuk jaringan televisi NBC ini adalah sebuah paparan yang cukup meluas atas kisah hidup Jeanne d’Arc, gadis legendaris dari Lorient yang memimpin “mission impossible” Prancis dalam mengusir Inggris di abad XV. Kelancaran narasi dan pemanusian sosok Jeanne menjadi titik perhatian utama film ini, dan hasilnya cukup memuaskan tanpa disertai ambisi berlebihan untuk menjadi kolosal. Sobieski memberi kejutan yang mengesankan dengan keberhasilannya menciptakan sosok simpatik dan tragis Joan lewat sensitivitas aktingnya, percayalah, banyak orang bahkan menyebutnya lebih berhasil daripada seorang legenda seperti Ingrid Bergman yang memainkan Joan di tahun limapuluhan! Dia juga dikelilingi oleh pemeran-pemeran pendukung yang bermain baik, mayoritas adalah orang-orang yang sudah menjadi bintang ketika Leelee belum lahir. Film ini dibuat sesuai dengan selera lunak pemirsa televisi Amerika, sedang untuk kisah Jeanne yang lebih brutal, lebih Eropa, dan lebih psyche, anda bisa memilih versi Luc Besson / Milla Jovovich, “The Messenger”, yang dirilis di layar lebar setahun kemudian. [R]
Joe the King ()- 1999 / Frank Whaley / Noah Fleiss, Val Kilmer, Karen Young, Ethan Hawke, John Leguizamo, Austin Pendleton, Max Ligosh, James Costa, Peter Tambakis, Harlee Ott, Camryn Manheim / (93 mnt) Joe (Fleiss), di awal masa remajanya, cukup menderita di sekolah. Tetangga tak pernah ramah padanya. Di rumah? Ayahnya (Kilmer) adalah seorang pemabuk berat yang tak segan menyiksanya. Joe seperti mendapat jalan keluar ketika dia bisa bekerja dengan Jorge (Leguizamo) walau laki-laki ini hanya membuiat dunianya lebih brutal. Kemunculan Len Coles (Hawke) sepertinya akan menjadi dewa penolong, tetapi tidak juga. Dalam debut penyutradaraannya, aktor Frank Whaley tak memperlihatkan terlalu banyak gaya yang bisa mengangkat sebuah film, namun skenario yang ditulisnya telah cukup mempunyai tenaga untuk diangkat ke layar secara literal. Remaja tanggung, Fleiss, bermain sangat bagus, didampingi oleh Kilmer yang sangat menakutkan dan Young yang juga bagus sebagai ibu Joe.[R]
Joe Versus the Volcano ()- 1990 / John Patrick Shanley / Tom Hanks, Meg Ryan, Lloyd Bridges, Robert Stack, Amanda Plummer, Abe Vigoda, Dan Hedaya, Barry McGovern, Ossie Davis / [106 mnt] / Joe (Hanks) tak bahagia dalam kehidupan pribadi dan pekerjaannya. Dia juga didiagnosa mengidap penyakit “awan otak” (what the hell is that?) dan tak akan hidup lama lagi. Dalam keadaan seperti itu Joe bertemu seorang konglomerat tua misterius (Bridges) yang menawari Joe sebuah perjanjian : Joe akan hidup mewah selama sisa hidupnya yang pendek, namun di hari terakhirnya dia harus melompat ke kawah gunung berapi di sebuah pulau terpencil. Cerita ganjil seperti ini disampaikan dengan gaya impresionisme yang nyaris norak oleh Shanley (penulis “Moonstruck”) dan kita tak bisa memberi toleransi yang terlalu banyak pada film yang tidak menembus emosi dan tidak juga menjadi tontonan aneh yang menarik. Sekedar catatan: film ini adalah yang pertama dari triple-duet Hanks-Ryan selama dekade sembilanpuluhan, dalam film ini Ryan memainkan tiga tokoh. [PG-13]
Judas Kiss () - 1998 / Sebastian Guttierez / Gil Bellows, Carla Gugino, Alan Rickman, Till Schweiger, Emma Thompson, Hal Holbrook, Greg Wise, Lisa Eichorn, Philip Baker Hall, Roscoe Lee Browne, Simon Baker-Denny, Beverly Penberthy / (97 mnt) / Film ini dimulai dari penculikan Ben (Wise), pengusaha komputer, oleh pasangan Junior dan Coco Chavez. Kemudian sub-plot lain melibatkan Danny (Schweiger) yang sejak awala kemunculannya membawa keberpihakan yang membingungkan. Sepasang polisi (sepasang Inggris, Rickman dan Thompson) ditugaskan untuk mengungkap kasus yang semakin lama semakin rumit ini. Sejak Junior membiarkan Coco berdua dengan Ben, kita sudah merasakan mulai berbelitnya kisah ini, apalagi setelah muncul tokoh-tokoh lain yang memperkeruh suasana. Tetapi Guttierez berhasil mempertahankan kerenyahan filmnya lewat penyutradaraan yang berhasil memberi karakter pada setiap adegan. Skenarionya menggantung masalah di tiap akhir sekuen, dan itu ternyata cukup efektif untuk membuat kita terus berada di depan layar sampai akhir. Bellows sukses berakting neurotik, dan Gugino selalu menonjol dalam setiap penampilan Coco, namun fun sesungguhnya yang dimiliki film ini ada pada penampilan santai Rickman dan Thompson, Guttierez memanfaatkan karakter kedua polisi ini untuk mengalirkan sisi humor film ini, dan itu adalah keputusan yang brilian. [R]
Jude ()- 1996 / Michael Winterbottom / Christopher Eccleston, Kate Winslet, Liam Cunningham, Rachel Griffith, June Whitfield / (BRITANIA) / [139 mnt] Roman klasik paling depresif di abad ke XIX, “Jude the Obscure”, karya Thomas Hardy, menyentuh layar lebar lewat tangan Winterbottom (lebih dikenal lewat “Welcome to Sarajevo”). Jude Fawley (Eccleston) adalah pemuda miskin dengan keahlian memahat batu, namun dia juga tertarik untuk menjadi sarjana, terutama setelah disemangati oleh gurunya di masa kecil, Phileston (Cunningham). Setelah gagal meneruskan sekolah, Jude sempat menikah dan kemudian ditinggalkan istri, setelah itu dia lebih tergila-gila pada hal lain: Sue Bridehead (Winslet), sepupunya yang rajin memprotes kemapanan. Sue juga tak berhasil didapatnya, Jude kembali ke desa, dan Sue menikah dengan….Phileston. Garis hidup belum berakhir, Sue membebaskan diri dari Phileston dan lari ke pelukan Jude. Mereka kemudian hidup bersama tanpa menikah, mempunyai beberapa anak di tengah-tengah kemiskinan dan lingkungan yang tidak bersahabat, yang ada di depan mereka hanya satu rangkaian kejadian : tragedi. Film ini tak pernah kekurangan keindahan visual berkat bagusnya sinematografi Eduardo Serra dan arahan Winterbottom. Namun di lain pihak, Winterbottom tak mampu melakukan banyak hal untuk menutupi tidak artikulatifnya skenario Hossein Amani, yang sama sekali tidak mempunyai sisi yang mengagumkan dalam usaha restrukturalisasi novel Hardy, semua protes yang mungkin datang dari penonton adalah tanggung jawab Mike dan Hossein. Sementara itu duet muda Eccleston-Winslet tak mengundang keluhan, keduanya punya kharisma dan kemampuan yang lebih dari cukup (juga keberanian untuk sebuah adegan yang lebih dari cukup untuk para Kate-heads). Griffith pun bermain bagus sebagai Arabella, istri pertama Jude. Sebagus atau sejelek apapun film ini, tak banyak orang meliriknya di tahun 1996. [R]
Judge Dredd (½)- 1995 / Danny Cannon / Sylvester Stallone, Dianne Lane, Armand Assante, Rob Schneider, Joan Chen, Jurgen Prochnow, Max von Sydow, Joana Myles, Mitchell Ryan, Balthazar Ghetty, Narasi : James Earl Jones / [ 96 mnt] Suatu masa di abad ke duapuluhdua, polisi adalah hakim, dan hakim adalah hukum, itulah fantasi prediktif yang coba ditampilkan film ini. Sebuah film dengan struktur dramatik yang parah naifnya dan visual efek yang kurang memadai untuk sebuah science fiction semahal ini. Jangan tanya bagaimana akting pemainnya segala macam. [R]
Ju Dou (½)- 1990 / Zhang Yimou / Gong Li, Li Wei, Li Baotian, Zhang Yi, Zheng Jian / (CINA - JEPANG) {Bahasa Mandarin} / [95 mnt] Ketika pamannya menikah lagi untuk ketiga kalinya dengan cara membeli istri, Tianqin (Li Baotian) mulai merasa bahwa bibi barunya itu (Gong) membutuhkan seseorang untuk dicintai dan mencintai, dan tentu saja itu bukan Paman Yang yang tua dan kejam. Maka bertemulah dua hasrat yang serasi ini, tentu saja tak bisa langsung secara terang-terangan, dan sesuatu yang penuh rahasia tak akan pernah bisa berjalan mulus dan berakhir baik. Zhang menunjukan kejeniusannya dalam film ini dengan membuat kemasan emosional yang irit dialog, namun kaya nuansa filmis yang sangat memukau. Bila dibandingkan dengan karya-karyanya setelah ini (“The Story of Qui Ju” dan “Raise the Red Lantern”), Ju Dou terkesan lebih “berdarah dingin”, walau tragedi memang selalu menjadi merek dagang Zhang. Film ini juga didukung oleh akting yang nyaris spektakuler oleh ketiga pemeran utamanya, yang kebetulan semuanya bernama Li. Ju Dou dicekal oleh pemerintah RRC yang menganggap tokoh Paman Yang sebagai alegori para pemimpin komunis Cina. Woody Allen dan Martin Scorsese termasuk dalam nama-nama sutradara-sutradara papan atas dunia yang berteriak meminta pemerintah RRC berpikir lebih sehat tentang karya Zhang, sutradara yang agak jarang menampilkan tokoh-tokoh yang bisa berpikir sehat. [R]
Julia Has Two Lovers (½)- 1990 / Bashar Shbib / Daphna Kastner, David Duchovny, David Charles, Tim Ray, Clare Bancroft, Martin Donovan / (KANADA) / [85 mnt] Julia (Kastner) telah dua tahun berpacaran dengan Charles (Charles), seorang yuppie realis yang tidak terlalu menikmati fantasi. Suatu hari, Julia mendapat telepon “salah sambung” dari seorang lelaki bernama Daniel (Duchovny), obrolan mereka tidak berhenti dengan cepat karena mereka malah mulai berbagi pengalaman dan fantasi seks mereka lewat telepon dan berlanjut dengan pertemuan langsung. Namun ternyata banyak yang tidak diketahui Julia tentang Daniel, sementara Daniel ingin tahu lebih banyak tentang Julia, dan Charles ditakdirkan untuk tahu tentang semua ini. Komedi romantis kecil-kecilan ini mempunyai pembukaan yang sangat menarik, isi obrolan pertama Julia dengan David diciptakan dengan sangat penuh imajinasi oleh Kastner (film ini diangkat dari sebuah cerita yang ditulisnya, dan skenarionya dia tulis bersama Shbib), namun setelah melewati pertengahan kisahnya mulai terasa mengada-ada walau masih mengandung bagian-bagian yang menarik. Duchovny dan Kastner, walau tampak amatiran, bermain cukup bagus. [R]
Jungle Fever () - 1991 / Spike Lee / Wesley Snipes, Annabella Sciorra, Spike Lee, Ossie Davis, Ruby Dee, Samuel L.Jackson, Lonette McKee, John Turturro, Frank Vincent, Anthony Quinn, Halle Berry, Tyra Ferrell, Veronica Webb, Tim Robbins, Brad Douriff, Debi Mazar, Nicholas Turturro / (132 mnt) / Flipper Purify (Snipes) adlah seorang pria kulit hitam yang cukup sukses dalam karirnya, dia juga telah menikah dengan Drew (McKee) dan telah mendapatkan anak dari perkawinan mereka. Tapi pertemuan di kantor dengan Angie Tucci (Sciorra), seorang wanita berdarah Italia, membuat Flipper berani mengambil resiko tiga kali lipat: menyeleweng dengan wanita kulit putih yang berlatang belakang etnis jelas. Lee tentu tidak membiarkan hubungan seperti ini berjalan mulus. Bagi Lee, Flipper dan Angie sepertimya hanya model dalam sebuah diskusi, hanya seorang "pria kulit hitam" dan "wanita kulit putih", hanya seorang "pria beristri" dan "wanita lajang", begitu pula tokoh-tokoh lain yang ditampilkannya, semua hanya model. Pandangan Lee terhadap permasalahnnya juga sangat pesimistis. Namun tak urung semua itu menghasilkan sebuah film yang bertenaga, dengan beberapa adegan yang sungguh pantas dikenang dan penampilan yang sangat bagus dari para pemainnya. [R]
Junior (½)- 1994 / Ivan Reitman / Arnold Schwarzenegger, Danny DeVito, Emma Thompson, Frank Langella, Pamela Reed, Judy Collins, James Eckhouse, Aida Turturro, Megan Cavanagh, Stefan Gierasch, Ira Newborn, Laurence Tierney / [96 mnt] Inti ceritanya adalah kesediaan seorang dokter Austria (Arnie, yang belum bosan berjuang untuk menjadi aktor komedi) untuk menjadikan dirinya tempat pengujian obat pemercepat kehamilan ciptaannya sendiri, dan rela menjadi laki-laki hamil pertama di dunia. Cukup menarik bukan? Tapi, maaf saja, kita tak akan terhibur total jika menyaksikan filmnya. Kerja sama kedua dari trio Reittman-Schwarzenegger-DeVito ini malah lebih kosong dan kering daripada “Twins” (1989) yang cukup menghibur, walau Schwarzenegger boleh dibilang bermain lebih baik, dialah satu-satunya daya tarik alami film ini. Tambahan tenaga dari Thompson tak memperbaiki apa-apa sama sekali. [PG]
Jurassic Park (½)- 1993 / Steven Spielberg / Sam Neill, Laura Dern, Richard Attenborough, Jeff Goldblum, Ariana Richards, Bob Peck, Martin Ferrero, Samuel L. Jackson, Wayne Knight / [126 mnt] Karya Spielberg memang sering spektakuler, dan mungkin inilah yang paling spektakuler. Seorang zillyuner tua (Attenborrough) berhasil mewujudkan impiannya untuk membangun sebuah taman yang dihuni oleh makhluk-makhluk zaman Jurassic termasuk tumbuh-tumbuhan raksasa yang sudah punah dan ......dinosurus-dinosaurus. JP adalah parade spesial efek, baik visual maupun audio, yang mungkin tak berani diangan-angakan oleh orang lain, ditambah ketegangan yang tertata rapi. Logika ilmiah dan logika skenario dapat kita lupakan sejenak disaat Spielberg, si penghambur dan penghasil dolar, memaksa kita mengakui lagi kejeniusannya dalam membuat orang merasa terhibur dan terkagum-kagum kala ditipu. [PG-13]
* Academy Awards: Efek Visual Terbaik, Tata Suara Terbaik, Editing Efek Suara Terbaik
Juror, The (½)- 1996 / Brian Gibson / Demi Moore, Alec Baldwin, Anne Heche, James Gandolfini, Richard Crouse, Matt Craven, Tony Lo Bianco, Lindsay Crouse, Michael Constantine / [118 mnt] Menjadi anggota dewan juri dalam pengadilan seorang gembong mafia bukanlah tugas sukarela yang tanpa resiko, dan itulah yang harus dihadapi Anne Laird (Moore). Seorang manusia berjuluk The Teacher (Baldwin) hadir dalam hidupnya dan mulai mengancamnya : Laird harus mempengaruhi anggota dewan juri yang lain untuk membebaskan terdakwa, kalau tidak maka nyawa anak dan kenalannya akan terancam. Ini sangat serius, bukan main serius hingga film ini terus berlangsung walau pengadilan telah selesai. Titik berat pada konflik moral yang berendengan dengan segala macam intrik tak berhasil mencapai puncak kemenarikannya. Endingnya lumayan memuaskan untuk ukuran sebuah thriller standar Hollywood dengan bumbu penyedap yang tak satupun berupa resep baru. [R]




K


Kama Sutra: A Tale of Love ()- 1996 / Mira Nair / Indira Varma, Sarita Choudhury, Ramon Tikaram, Naveen Andrews, Rekha, Khalid Tyabji, Arundhati Rao, Surabhi Bhansali, Garima Dhup, Pearl Padamsee, Kusum Haidar, Harish Patel, Ranjit Chowdhry, Achla Sachdev, Arjun Sajnani / {INDIA - BRITANIA} / (117 mnt) / Maya adalah putri seorang raja, sementara Tara hanyalah putri pelayan istana. Perbedaan status ini tidak menghalangi mereka untuk tetap bersahabat. Persahabatan mereka hancur berkeping-keping ketika seorang pangeran yang seharusnya berjodoh dengan Maya (Choudury) malah jatuh cinta pada Tara (Varma). Selanjutnya film ini mengupas petualangan cinta dan seks kedua gadis itu. Nair (sutradara wanita yang melejit namanya lewat “Salaam Bombay”) mencoba benar-benar menampilkan seni dan keindahan hubungan antara pria dan wanita dengan penyutradaraan yang tidak mengizinkan apapun yang mentah dan tidak terpoles muncul dilayar, dia memaksakan eksotisme pada hampir setiap suasana. Gaya Nair itu berjalan beriringan dengan plot yang naif hingga film ini akhirnya menjadi mirip seraut wajah lugu dengan bedak yang sangat tebal. Judulnya yang membuat penasaran dan satu dua adegan seks yang genit membuat film ini cukup sukses di pasaran internasional, walau pada kenyataannya nyaris tak ada hiburan dan pengalaman istimewa yang bisa didapat dari menontonnya.
Kalifornia (½)- 1993 / Dominic Sena / Brad Pitt, Juliette Lewis, David Duchovny, Michelle Forbes / [117 mnt] Seorang penulis buku (Duchovny, pra demam The X-Files) dan seorang fotografer yang juga pacarnya (Forbes) berencana menyusuri jejak sebuah pembunuhan berantai dari sebuah buku. Mereka ditemani oleh sepasang kekasih unik (Pitt dan Lewis, siapa pasangan yang mungkin lebih baik?) yang ternyata mampu memperkenalkan sang penulis pada dunia yang selalu ditulisnya namun tak pernah dialaminya. Cerita film brutal ini mudah ditebak, karakter-karakternya - walaupun dimainkan dengan baik - pernah kita lihat sebelumnya, realisasinya tidak memberikan sesuatu yang baru, dan dengan segala kekurangannya itu: tetap memuaskan dan enak ditonton. [R]
Kansas City ()- 1997 / Robert Altman / Jennifer Jason Leigh, Miranda Richardson, Harry Belafonte, Michael Murphy, Dermot Mulroney, Steve Buscemi / [116 mnt] Untuk menyelamatkan kekasihnya (Mulroney) yang diculik oleh gembong mafia Seldom Seen (Belafonte), Blondie O’Hara (Leigh) nekat menyandera Heanny (Richardson), istri seorang penasehat kepresidenan. Heanny ternyata tak bisa membantu apa-apa, malah dialah yang ternyata mengakhiri segala impian Blondie. Altman menggilir plot aksi Blondie dengan aksi Seldom Seen, hal ini kadang-kadang membuat film menjadi sangat mudah ditebak alirannya karena hanya dua plot itulah yang bisa ditampilkan bergiliran (sub plot tentang suami Heanny selalu menuju ke kehadiran Blondie-Heanny). Humor yang khas dan akting pemain yang rata-rata bagus sangat menolong, namun untuk para penggemar jazz klasik, lebih dari semua itu, film ini adalah obral hiburan dengan adegan panggung yang sangat bagus. Untuk ukuran Altman, film ini sama sekali tidak istimewa, namun bagaimanapun tidak mengecewakan (dan Altman juga sering membuat film yang jauh lebih jelek daripada ini). Film ini juga bagaikan alat refreshing untuk sutradara kelahiran Kansas City ini setelah dalam lima tahun sebelumnya asyik menguras tenaga rentanya dengan tiga proyek super ambisiusnya, “The Player”, “Short Cuts” dan “Ready to Wear (Pret-a-Porter)”, entah apa lagi yang selanjutnya akan dilakukan kakek yang ciri khasnya adalah “tak pernah berlama-lama mempertahankan ciri khas” ini. [R]
Keeping the Faith ()- 2000 / Edward Norton / Ben Stiller, Edward Norton, Jenna Elfman, Anne Bancroft, Eli Wallach, Ron Rifkin, Milos Forman, Holland Taylor, Lisa Edelstein, Rena Sofer, Ken Leung / (129 mnt) Norton menampilkan debut penyutradaraannya dengan sebuah cerita tentang seorang rabbi Yahudi (Stiller) dan seorang pastur (Norton sendiri). Keduanya adalah sahabat masa kecil, dan kini mereka jatuh cinta pada gadis yang sama, teman sekolah mereka yang telah menjelma menjadi wanita sukses yang menarik (Elfman). Hanya itu ide komedi roman ini, namun anda sudah bisa menduga bahwa banyak sekali potensi komedi dan roman dari ide seperti itu. Norton dan penulis skenario Stuart Blumberg berhasil memanfatkan sebanyak mungkin potensi itu, film ini adalah komedi yang sangat segar, cerdas, dan juga "punya hati", dalam lingkup ala Woody Allen. Norton dan Stiller bermain luar biasa, Elfman - yang tidak terlalu cantik - berhasil menampilkan figur yang memang pantas dicintai, Bancroft juga tampil bagus sebagai ibu Jake. Film ini berputar-putar di daerah yang hampir sama dan agak membosankan memasuki sepertiga bagian akhir, itulah satu-satunya kelemahan besar yang bisa dirasakan. [PG-13]
Kevin and Perry Go Large ()- 2000 / Ed Bye / Harry Enfield, Kathy Burke, Rhys Ifans, Laura Fraser, James Fleet, Louisa Rix, Tabitha Wady, Paul Whitehouse, Natasha Little, Kenneth Cranham / (82 mnt) {BRITANIA} Kevin (Enfield) adalah karikatur seorang remaja yang kecerdasannya kurang memadai untuk memungkinkannya bisa bergaul normal. Dia sangat terobsesi pada seks dan keperawanan, orang tuanya tidak mengerti ini. Satu-satunya yang mengerti Kevin adalah Perry (Burke), sahabatnya yang bertipe sama. Perry menemani Kevin dalam sebuah perjalanan yang mempertemukan mereka dengan seorang D.J neurotik (Ifans) dan gadis impian Kevin (Fraser). Sebagian dari anda akan sangat jijik dengan slapstik ekstrim Inggris yang diangkat dari karakter komik rekaan Enfield ini. Kami masih bisa mentolerirnya, dengan penuh perjuangan. Bagaimanapun, penampilan Burke sebagai Perry bisa dibilang "kaliber award", bisa dibandingkan dengan akting Mickey Rooney dalam "Bill".
Keys to Tulsa ()- 1997 / Leslie Greif / Eric Stoltz, James Spader, Michael Rooker, Deborah Kara Unger, Joana Going, James Coburn, Mary Tyler Moore, Cameron Diaz, Randy Graff, Peter Strauss / [106 mnt] Thriller yang diambil dari novel Brian Fair Bekey ini sebenarnya hanya bercerita tentang uang, rahasia pembunuhan, dan masalah keluarga yang tidak terlalu rumit, namun penyampaiannya sulit sekali diikuti tanpa disertai rasa bingung dan ketidaksabaran. Semua permasalahan mengelilingi tokoh utamanya (Stoltz), anak orang kaya yang kembali ke Tulsa dan bertemu dengan berbagai tokoh yang sangat membawa kesulitan untuknya. Greif tidak memperlihatkan bahwa dia mempunyai bakat untuk menjadi sutradara yang bisa melakukan lebih daripada hanya menerjemahkan skenario secara literal dan tanpa pendekatan visual yang menarik, seorang sutradara yang lebih baik mungkin bisa membuat cerita rumit ini lebih bergigi. Para pemainnya, yang merupakan deretan aktor dan aktris Amerika yang cukup bisa dipercaya, namun Stoltz yang menjadi pusat cerita justru selalu tampak kekurangan energi, kita akan lebih menikmati penampilan Rooker yang hiperaktif atau Going yang menjadi pemanis dan pemanas film ini. [R]
Kickboxer 3: The Art of War (½)- 1990 / Rick King / Sasha Mitchell, Dennis Chan, Richard Cornar, Althea Miranda / [ 90 mnt] Shasha Mitchell beraksi di Brasil untuk menyelamatkan teman-teman kecilnya. Tak ada yang menarik untuk dinikmati dari film ini, bahkan penggemar bela diri ala van Damme pun tak akan banyak yang menyukainya. Secara teknis menyedihkan, dan nasionalisme angkuh yang naif ala film kacang Amerika malah membuat film ini menggelikan. [PG-13]
Killer Inside, The (½)- 1998 / John Raffe / Peter Gallagher, John Lithgow, Frances McDormand, John Kapelos, Jack Black, Geoffrey Lower, Charlie Spradling / [100 mnt] / Gallagher berperan sebagai seorang fotografer polisi. Untuk menambah penghasilan utamanya dia kadang-kadang mencari kerja tambahan sebagai paparazzo atau semacamnya. Suatu waktu, dengan maksud memeras, bersama teman-temannya dia mencuri foto seorang politikus kaya yang mengencani seorang pelacur, namun pekerjaan sampingannya kali ini malah membawanya ke sebuah situasi yang sangat gawat. Satu persatu dari temannya terbunuh, dia tinggal menunggu giliran. Ketika memasuki perempat kedua, kita akan menyangka film ini akan menjadi sebuah drama thriller yang hambar, namun memasuki setengah kedua cerita mulai berkembang dengan sangat liar, ketegangan mulai meningkat, sayang film ditutup dengan akhir yang sangat jinak dan tidak menarik. Penyutradaraan stylish Raffe sangat membantu penciptaan suasana kelam film ini. Gallagher bermain lumayan, sementara Lithgow - dalam peran neurotik yang khas – tampil cukup dahsyat sebagai bosnya, tapi McDormand hampir sepenuhnya tersia-sia dalam peran yang tidak berisi.[R]
Killing Zoe ()- 1993 / Roger Avary / Eric Stoltz, Jean Hughues Anglade, Julie Delpy, Kario Salem, Gary Kemp, David Wasco, Tai Thai, Bruce Ramsey, Gladys Holland / (A.S - PRANCIS) {Bahasa Inggris & Bahasa Prancis} / [96mnt] Film nihilistik dan neurotik ini pada dasarnya berintikan kronologi perampokan gagal namun berdarah yang dilakukan oleh kelompok yang dipimpin Eric (Anglade, bermain luar biasa bagus) terhadap sebuah bank di Paris. Zed (Stoltz), seorang Amerika sahabat lama Eric, terpaksa terlibat di dalamnya, dia tidak menduga bahwa di bank itulah Zoe (Delpy) bekerja. Zoe adalah seorang pelacur Paris yang menyukai dan disukainya. Memang begitu sepele, namun nama Avary sudah memberi gambaran akan bagaimana jadinya film kecil ini. Setiap adegan selalu dibuat setajam mungkin dan tanpa membiarkan pemirsa mengabaikan hal seremeh apapun yang terkandung di dalamnya, termasuk humor kacau teman-teman Eric. Karya Avary ini lebih psikologis, namun kurang filosofis, dibanding karya-karya mitra setianya, Tarantino (yang juga memproduseri film ini), dan hanya itulah perbedaan yang mendasar. Akan berapa film lagi mereka hasilkan sebelum gaya seperti ini menjadi mainstream? [R]
Kindergarten Cop (½)- 1990 / Ivan Reitman / Arnold Schwarzenegger, Penelope Ann Miller, Pamela Reed, Linda Hunt, Richard Tyson, Caroll Baker, Park Overall, Richard Portnow, Cathy Moriarty, Angela Basset / [mnt] Arnie bermain sebagai seorang polisi (tentu saja macho dan agak kaku), yang terpaksa harus menggantikan rekannya yang berkesehatan jelek (Reed) menyamar sebagai seorang guru TK untuk melindungi salah satu murid, entah yang mana, yang diperkirakan akan menjadi sasaran penculikan ayahnya (Tyson), seorang residivis. Kekakuan Arnie dalam menghadapi anak-anak sudah pasti menjadi andalan film ini, cukup berhasil walau sayang sekali tak semua pemain lain melakukan tugas dalam kemampuan terbaik (kecerobohan khas Reitman). Harap maklum saja jika sering terasa berlebihan, film seperti ini belum lazim dibuat senormal mungkin, dan bagaimanapun film ini cukup menghibur, beberapa kelucuannya termasuk menggebrak. [PG-13]
King of the Hill (½)- 1993 / Steven Soderbergh / Jesse Bradford, Jeroen Krabbe, Lisa Eichorn, Adrian Brody, Karen Allen, Spalding Gray, Elizabeth McGovern, Joseph Chrest, Cameron Boyd, Kristin Griffith / [109 mnt] Eksploitasi anak-anak terhindari oleh film kelas atas yang berkisah tentang pergulatan hidup seorang anak kecil berusia dua belas tahun dalam mempertahankan hari-harinya pada zaman depresi besar Amerika antara PD I dengan PD II ini. Aaron Kurlander (Bradford) dikarunai kecerdasan dan daya fantasi yang luar biasa yang membuatnya bisa bertahan hidup dalam kemiskinan dengan ayah yang selalu pergi jauh (Krabbe) dan ibu yang sakit-sakitan (Eichorn). Ini adalah sebuah film yang selain sangat menghibur, juga mengagumkan hampir dalam segala hal, terutama aliran cerita yang mempunyai tekanan emosi yang kuat, fotografi super-kreatif oleh Elliott Davis, dan akting baik para pemainnya yang ditulang punggungi kesimpatikan aktor cilik Bradford. Semua berada di bawah kordinasi Soderbergh yang tak pernah kehabisan cara untuk membuat filmnya selalu memikat perhatian, karyanya kali ini jelas mempunyai daya tarik yang lebih "untuk umum" daripada “sex, lies, and video tape” (1989) yang membuatnya terkenal. KotH adalah tontonan hebat untuk seluruh keluarga, cerita tentang usaha seorang anak kecil dalam mendayagunakan khayalannya tanpa harus dibebani pesan hidup yang indah ala Spielberg. [PG-13]
King's Whore, The (½)- 1993 / Axel Corti / Timothy Dalton, Valeria Golino, Stephanne Freiss, Feodor Chialapin, Francesca Reggiani, Margaret Tyczak, Matteo Dondi / (PRANCIS - AUSTRIA - BRITANIA - ITALIA) / [115 mnt] Pada abad ke 17, Raja Vittorio Amaden (Dalton) dari Piedmont di Utara Italia dibuat tergila-gila oleh Jeanne de Luynes (Golino), istri pengurus rumah tangga kerajaan (Freiss). Dengan berbagai macam syarat, Jeanne bersedia menyerahkan tubuhnya pada sang raja. Kesediaan dan syarat-syarat Jeanne ini membawa kerajaan ke pergolakan yang menjurus ke kehancuran. Film yang diangkat dari novel Jacques Tournier ini tidak termasuk jelek, namun tidak ada yang benar-benar bisa menarik perhatian di dalamnya (termasuk make-up dan tata kostumnya yang tidak mampu memaksa kita untuk larut ke dalam setting waktunya, hingga Dalton tetap seperti James Bond dan Golino tetap pacar Tom Cruise dalam “Rain Man”). [R]
Kiss of Death (½)- 1995 / Barbet Schroedder / David Caruso, Nicolas Cage, Samuel L. Jackson, Michael Rappaport, Kathryn Erbe, Helen Hunt, Ving Rhames, Stanley Tucci, Anthony Heald, Philip Baker Hall, Jay O. Sanders / [101 mnt] Film ini adalah pembuatan ulang (dengan tidak begitu terikat) dari film berjudul sama produksi tahun 1947. Bintang dari serial televisi sukses, “NYPD Blue”, Caruso, bermain sebagai seorang bekas napi yang mendapat janji kebebasan dan ketentraman dengan syarat bersedia menjadi mata-mata untuk menangkap Little John (Cage, dengan akting yang aneh sekali), seorang penjahat licin. Kesediaannya ini membawanya pada intrik yang melibatkan kepolisian negara bagian, FBI, dan pengadilan. Skenario Richard Price mempunyai alur yang sangat padat dan kompleks, hingga film ini berani mengambil resiko menjadi thriller yang genit dan mengada-ada, oh…..hampir. [R]
Knight in Camelot, A (½)- 1998 / John Henderson / Whoopi Goldberg, Michael York, Paloma Baeza, Simon Fenton, James Coombs, Robert Addie, Ian Richardson, Amanda Donohoe / [120 mnt] / (Film Televisi) Goldberg berperan sebagai Vivien Morgan, seorang pelaku riset komputer yang tanpa sengaja terkirim ke zaman Raja Arthur. Cerita seperti ini sudah disampaikan berkali-kali, dan versi Whoopi ini tak merambah hal baru kecuali hubungannya dengan sebuah laptop. [G]
Komodo (½)- 1999 / Michael Lantieri / Billy Burke, Michael Edward-Stevens, Paul Gleeson, Jill Hennessy, Nina Landis, Simon Westaway, Kevin Zegers / (85 mnt) Setelah kedua orang tuanya dibantai oleh komodo, seorang anak mengalami trauma yang sangat berat. Beberapa tahun kemudian dia dibawa untuk menjalani terapi psikologis ke pulau itu. Sampai disitu dulu. Sebelum anda melihat aksi para komodo dengan spesial efek dan ketegangan yang seadanya, anda harus bisa membuat terapi itu masuk akal, kami tidak bisa. [R]
Kuffs ()- 1991 / Bruce Evans / Christian Slater, Tony Goldwyn, Milla Jovovich, Bruce Boxleitner, George De La Pena, Troy Evans, Ashley Judd / [100 mnt] Kuffs (Slater) adalah seorang pemuda yang sulit diandalkan dalam hal apapun, namun tiba-tiba dia mendapat pekerjaan warisan sebagai seorang reserse dari kakaknya yang mati terbunuh. Evans mencoba membuat film ini dengan sebergaya mungkin, usahanya antara lain adalah dengan mengaburkan setting waktu dan membiarkan Kuffs berbicara langsung pada penonton. Beberapa adegan cukup menarik, namun secara umum berkesan agak tolol. [PG-13]
Kundun (½)- 1996 / Martin Scorsese / Tenzin Thuthob Tsarong, Gyurme Tethong, Tulku Jamyang Kunga Tenzin, Tenzin Yeshi Paichang, Tencho Gyalpo, Tsewang Migyur Khangsar, Sonam Phunstok, Gyatso Lukhang, Robert Lin / [134 mnt] Film ini adalah sebuah kisah tentang Kundun, dari sejak dia mulai menampakkan keistimewaannya sebagai seorang bocah sampai perjuangannya sebagai Dalai Lama dalam mempertahankan harga diri bangsanya dari rongrongan kekuasaan Komunis China pimpinan Mao Zedong. Bagi Scorsese, membuat film ini mungkin adalah salah satu pengalaman paling mengesankan dalam hidupnya, namun belum tentu itu bisa mengesankan banyak orang. Memang tak mungkin meragukan kejeniusan Marty dalam menggambarkan sesuatu, namun tak mungkin juga terhanyut dalam cerita tentang tokoh Timur sebesar Dalai Lama, terutama ketika tokohnya masih hidup, lewat sebuah film berbahasa Inggris yang disampaikan dengan cara yang se-Barat ini. Secara visual, film ini memang membuat kita semakin sadar bahwa tak ada dua Scorsese di dunia ini, tak ada orang lain yang punya mata dan imajinasi setajam dia dengan disertai kemampuan merealisasikannya, dia berhasil menggunakan itu untuk menciptakan sisi spiritual film ini, fotografi Roger Deakins juga boleh disebut sebagai salah satu yang paling memukau dalam dekade ini, namun tetap tidak banyak isi film ini yang mengenai sasaran, bahkan beberapa di antaranya malah terasa ofensif. Kita bahkan bertanya-tanya apakah Dalai Lama menyukai film ini (walau konon dia banyak memberi masukan pada penulis skenario, Melissa Matheson, selama proses penulisan), kisah hidup beliau lebih pantas digambarkan dengan cara lain, dan Marty lebih pantas mengerjakan hal lain. [PG-13]



L


L.A Confidential ()- 1997 / Curtis Hanson / Guy Pearce, Russell Crowe, Kevin Spacey, Kim Basinger, Danny De Vito, James Cromwell, Matt McCoy, Graham Beckell, David Strathairn, Ron Rifkin, Paul Guiyfoyle, Paolo Seganti / [127 mnt] Film ini bercerita tentang beberapa skandal dalam L.A.P.D di tahun limapuluhan sehubungan dengan terbunuhnya seorang anggota mereka. Kasus ini berhubungan - atau dihubung-hubungkan - dengan praktek prostitusi kelas tinggi yang diorganisir secara sangat profesional. Itu cuma awal cerita, karena selanjutnya berbagai sampah sosial, kemunafikan kelas tinggi, dan tumbukkan gaya hidup berhimpit masuk dalam film ini menciptakan plot yang berlapis-lapis. Karakter polisi yang terlibat paling banyak dalam kisah ini adalah Ltn. Edmund Axley (Pearce) yang serius dan lurus, Sgt. Budd White (Crowe) yang brutal dan emosional, si flamboyan Sgt. Jack “Hollywood” Vincent (Spacey), dan Kapten Dudley (Cromwell) yang mempunyai motivasi misterius. Film hit yang menjadi bahan pembicaraan hangat ini mempunyai jalinan cerita penuh intrik yang cukup menarik untuk dinikmati, terutama oleh mereka yang tahu dan perduli banyak tentang urusan dalam Hollywood. Hanson juga menyelenggarakan adegan-adegannya dengan baik, tata kamera Dante Spinotti terasa sangat mesum, dan itu membuat nuansa yang cukup spektakuler. LA Confidential didukung para pemain yang umumnya memuaskan (khususnya Spacey dan Basinger, sebagai seorang call-girl kelas atas yang berwajah mirip Veronica Lake). Namun over-verbalismenya - terdapat banyak dialog panjang yang seharusnya bisa diwakili oleh visualisasi-cisualisasi ringkas - mengurangi penghargaan kami terhadap film ini. [R]
* Academy Awards: Skenario Adaptasi Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik (Basinger)
La Cucaracha (½)- 1998 / Jack Lopez / Eric Roberts, Joaquin d'Almeida, Victor Rivers, James McManus, Tara Crespo, Michael Pena, Alejandro Patino / (95 mnt) Walter Poole (Roberts) adalah seorang penulis Amerika yang tiba-tiba terjerat dalam sebuah urusan dendam di Amerika Selatan. Poole, yang sesungguhnya tidak berkepentingan langsung dengan hal ini, berubah menjadi pelaku utama dengan nyawa sebagai taruhannya. Lopez dengan intens membuat film ini berputar-putar di dalam jiwa Poole, sehingga segala sesuatu yang dialaminya tersimak sebagai halusinasi bagi kita. Jika anda menyukai "The Lost Highway"-nya David Lynch atau "Dead Girl"-nya Adam Coleman Howard, La Cucaracha akan menjadi film yang mengasyikan untuk dinikmati, kalau tidak, jangan mempersulit diri dengan menontonnya! [R]
La Femme Nikita ()- 1990 / Luc Besson / Anne Parillaud, Jean Reno, Jean Hughues Anglaude, Tcheky Karyo, Jeanne Moreau, Jean Bouise / (PRANCIS - ITALIA) / [117 mnt] ((Nikita)) Parillaud bermain sebagai seorang wanita muda yang dijatuhi hukuman mati setelah melakukan kejahatan bersama sebuah gang berandal. Ia secara rahasia diberi “jaminan kehidupan” oleh sebuah badan rahasia yang menginstitusikannya dalam waktu lama sebelum kemudian digunakan sebagai pembunuh bayaran. Dibandingkan “Assassin / Point of No Return”, versi Amerika untuk cerita yang sama, film ini jauh lebih berhasil membangun struktur dramatis yang kuat dengan gaya yang redup, bahkan nyaris hitam. Semua pemain pendukung bermain bagus mendampingi penampilan meyakinkan Parillaud yang tentu tak sadar bahwa dia telah dengan kejam memberi beban yang terlalu berat pada Bridget Fonda yang memainkan perannya dua tahun kemudian. [R]
* Cesar Awards: Aktris Utama Terbaik (Parillaud)
L’Amant ()- 1992 / Jean Jacques Annaud / Jane March, Tony Leung, Fredrique Meinenger, Arnaud Giovannietti, Melvil Popaud, Lisa Faulkner / (PRANCIS) {Bahasa Prancis} / [110 mnt] / (( The Lover )) March memainkan sebuah karakter tanpa nama - seperti juga pemain-pemain lain dalam film ini - yang bertemu dengan seorang saudagar China (Leung). Selanjutnya, gadis remaja ini sepenuhnya tergoda dan “merayakan” kebangkitan sexualnya dengan pria ini. Diambil dari novel Marguerrite Durras, diproduseri oleh Claude Berri, dishot di Vietnam, narasinya dibacakan oleh Jeanne Moreau, dan hasilnya adalah sebuah film yang agak beku plus satu atau dua adegan panas yang tak enak dipandang. [R]
La Reine Margot ( lihat: Queen Margot )
Last Boy Scout, The (½)- 1992 / Tony Scott / Bruce Willis, Damon Wayans, Chelsea Field, Noble Willingham, Taylor Negron, Bruce McGill / [98 mnt] Willis bermain sebagai seorang bekas agen dinas rahasia yang dipecat dari pekerjaannya dan kembali menentukan hukum di tangannya bersama seorang bekas bintang football (Wayans). Film laga yang termasuk keras ini dalam beberapa bagian cukup berhasil menutupi kelemahannya dengan ketinggian temponya, tapi itu cuma sebagian kecil saja, pada bagian lain, tempo tinggi itu malah ikut berandil dalam membuat film menjadi melelahkan. [R]
Last Days of Chez Nous  (½)- 1993 / Gillian Armstrong / Lisa Harrow, Kerry Fox, Bruno Ganz, Miranda Otto, Kiri Paramore, Bill Hunter / (AUSTRALIA) / [96 mnt] Kehidupan Beth (Harrow), seorang novelis, benar-benar terguncang dengan kehadiran adiknya (Fox) yang berjiwa sangat labil. Setelah mengadakan perjalanan dengan ayahnya (Hunter), Harrow menemukan keadaan rumah tangganya benar-benar berubah. LDoCN adalah sebuah film yang sangat kuat dalam dialog, penentuan setting pemilihan angle kamera (untuk setiap shot!), dan akting para pemainnya, namun semuanya sangat sepi, dingin, dan mudah ditebak. [R]
* Australian Film Institute Awards: Aktris Utama Terbaik (Harrow)
Last Days of Disco, The (½)- 1998 / Whit Stilman / Chloë Sevigny, Kate Beckinsale, Christopher Eigeman, Matthew Keeslar, MacKenzie Astin, Robert Sean Leonard, Jennifer Beals, Matt Ross, Tara Subkoff, Burr Steers, David Thornton, Ildiko Jaid, Sonseeahray Fithmann / [113 mnt] Seperti semua film Stillman yang lain, kisah ini adalah cuplikan keseharian bujangan-bujangan Amerika berkelas eksekutif (yuppie), kali ini dengan mengambil setting malam-malam di awal dekade delapanpuluhan. Persahabatan dan persaingan dua orang wanita muda menjadi poros pengantar ide-ide film ini. Seiring dengan wabah aneh classic disco, film dengan setting waktu serupa tiba-tiba menjadi trend, Stillman mengedepankan yang satu ini sebagai penyampai kesan humoris, intelek, dan agak eksklusif yang selalu lekat dengannya. Film-film Stillman selalu terpaksa menutup diri dari beberapa kalangan penonton, sementara daya tarik para pemainnya selalu berupaya menarik perhatian yang lebih luas, mereka umumnya selalu berhasil. [PG-13]
Last Light ()- 1993 / Kieffer Sutherland / Forest Whitaker, Kieffer Sutherland, Lynn Moody, Clancy Brown, Kathleen Quinlan, Amanda Plummer / [104 mnt] (Film Televisi) Kisah persahabatan unik antara Fred Whitmore (Whitaker), seorang sipir penjara, dengan Denver Bayliss (Sutherland), seorang terpidana mati yang sedang menunggu eksekusi. Film ini sangat menjanjikan untuk dijadikan gambaran masa depan karir penyutradaraan Sutherland (yang ironisnya tak berkelanjutan), ini adalah karya pertamanya. Dia berhasil memberi raga pada skenarionya yang meditatif dan lebih psikologis daripada pisikal, namun puluhan adegan dan informasi yang terasa berjalan di luar rel berseliweran lewat dalam film, contohnya sebagian dari sub-plot besar Fred dan istrinya mempunyai relevansi yang tidak meyakinkan dengan bagian lain film ini, dan terlalu banyak. Bagaimanapun, film ini masih tetap menarik dan memuaskan. [R]
Last Man Standing ()- 1996 / Walter Hill / Bruce Willis, Christopher Walken, Alexandra Powers, David Pattrick Kelly, William Sanderson, Karina Lombard, Ned Eisenberg, Michael Imperioli, Ken Jenkins, R.D. Call, Leslie Mann, Bruce Dern / [114 mnt]Smith (Willis) adalah seorang laki-laki dengan latar belakang samar yang “terdampar” di sebuah kota, di sana dia terjepit di antara dua kelompok yang sedang bertikai. Namun Smith ternyata tak hanya ingin sekedar terjepit, dia berhasil memberikan kebebasan pada dirinya sendiri untuk memilih di pihak mana dia harus berdiri dalam waktu-waktu tertentu. Dengan porsi action yang memadai, film dengan cerita yang lurus namun penuh intrik ini cukup untuk menjadi hiburan yang memuaskan untuk penggemar film keras. Skenario ini diadaptasi dari sebuah skenario yang ditulis Akira Kurosawa. [R]
Last of the Mohicans, The ()- 1991 / Michael Mann / Daniel Day-Lewis, Madeleine Stowe, Russel Meane, Jodhi May, Eric Schweig, Wes Studi, Pete Postletweithe / [122 mnt] Untuk keempat kalinya, novel klasik karya Fenimore Cooper ini dibuat ke format film. Cerita masih tetap terfokus pada tokoh utamanya Hawkeye (Day-Lewis), seorang Eropa yang hidup dalam lingkungan Mohawk, di masa peperangan antara Inggris, Prancis, dan bangsa-bangsa Indian sendiri. Film ini dibuat berdasarkan skenario Philip Dunne untuk film berjudul sama buatan tahun 1936. Mann mengangkatnya kembali dengan kecanggihan perangkat film sembilan puluhan, tata artistik dan kostum yang akurat, dan ramuan ketegangan yang kuat. Day-Lewis sangat terangkat oleh kharisma tokoh yang diperankannya (dan kharisma aslinya sendiri), walaupun permainannya sesungguhnya tidak terlalu istimewa. [R]
* Academy Awards: Tata Suara Terbaik
Last Outlaw, The (½)- 1993 / Geoff Murphy / Mickey Rourke, Dermot Mulroney, Ted Levine, John C. McGinley, Steve Buscemi, Keith David, Daniel Quinn / [90 mnt] (Film Televisi) Rourke, bekas tentara dalam Perang Saudara Amerika, memimpin sepasukan penjahat yang tidak benar-benar jahat dan menumpas apa yang tidak sejalan dengan mereka. Film ini hanya lanjutan stereotip film western lama dengan jagoan yang tidak terlalu normal dan memiliki banyak sisi. Mudah ditebak dan formulaic, memang, namun adegan-adegan actionnya terciptakan dengan sangat bagus. [R]
Last Stop, The ()- 2000 / Mark Malone / Adam Beach, Jürgen Prochnow, Rose McGowan, Callum Keith Rennie, Winston Rekert, P. Lynn Johnson, William S. Taylor, Amy Adamson, Damon Johnson / (100 mnt) {CANADA} / Dalam suatu malam yang penuh badai salju, sebuah penginapan milik Fritz (Porchnow) di perbukitan dipenuhi beberapa tamu yang mencurigakan. Jason (Beach) adalah seorang polisi muda yang bertugas mengontrol keadaan hotel itu dan memperingatkan para tamu untuk tidak pergi keluar karena cuaca sangat buruk. Keadaan di dalam hotel kemudian berubah menjadi lebih buruk daripada cuaca, genangan darah, mayat, dan karung penuh uang ditemukan secara misterius. Suasana yang terjadi kemudian tentu saja adalah suasana ala novel klaustropobik Agatha Christie ditambah muatan kekerasan yang lumayan, cukup bagu untuk diputar di TV swasta Indonesia, lain tidak. [R]
Last Supper, The ()- 1995 / Stacy Little / Cameron Diaz, Ron Eldard, Annabeth Gish, Jonathan Penner, Courtney B.Vance, Nora Dunn, Ron Perlman, Bill Paxton, Jason Alexander, Charles Durning, Bryn Errin, Mark Harmon / [100 mnt] Lima orang sahabat yang sama-sama sedang mengejar gelar master di bidang masing-masing, mengadakan acara makan malam bersama secara berkala dengan mengundang orang-orang yang mereka anggap layak untuk diajak berdiskusi tentang segala isu menarik, terutama masalah sosial, politik, dan lingkungan. Acara ini benar-benar berubah menjadi acara serius ketika mereka membunuh seorang tamu, seorang veteran perang (Paxton) yang memuji-muji Hitler. Sejak saat itu, mereka menentukan sikap: siapapun yang opininya tidak mereka sukai harus mereka undang makan malam dan harus mereka bunuh untuk “membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik”! Target utama mereka adalah seorang politikus yang berambisi menjadi presiden (Perlman). Sejak awal sekali film ini sudah bertensi tinggi dan tidak pernah santai, walau unsur komedinya tetap sangat terasa. Menjelang pertengahan kita mulai merasa bahwa beberapa hal agak berlebihan, namun film ini selalu berhasil menemukan jalan keluar untuk membuat arusnya menarik lagi. Dalam beberapa segi, niatnya untuk menjadi satir atas keangkuhan intelektual juga cukup berhasil. [R]
Last Time I Committed Suicide, The ()- 1997 / Stephen Kay / Thomas Jane, Keanu Reeves, Adrien Brody, John Doe, Claire Forlani, Jim Haynie, Marg Helgenberger, Lucinda Jenney, Gretchen Mol / [90 mnt] Kisah film ini diambil dari sepucuk surat yang ditulis Neal Cassady yang berkisah tentang masa mudanya, terutama hubungan uniknya dengan pacarnya (Forlani) yang nekat melakukan percobaan bunuh diri. Di sini anda memang tak akan menemukan Cassady sebagai salah satu petualang legendaris Beat Generation berjuluk “The Speed Limit”, surat ini ditulis sebelum perkenalannya dengan Kerouac atau Corso, namun seperti film tentang Beatnik lainnya, film dengan narasi elips ini juga memadukan keliaran dengan puitisme yang mewakili jiwa karakter-karakternya, tentu disertai resiko menjadi “benda remeh temeh” bagi orang yang tidak tertarik pada masalahnya Jane bermain tidak mengecewakan sebagai Neall, dia juga dikelilingi oleh pemeran pembantu yang bermain bagus, termasuk Reeve sebagai sahabatnya yang sangat reseh. Debut penyutradaraan yang mengesankan dari Kay. [R]
Laws of Gravity ()- 1991 / Nick Gomez / Peter Greene, Adam Trese, Edie Falco, Arabella Field, Paul Schulzie, Saul Stein, James McCauley, Rick Groel, Larry Meitrich, David Troup, Miguel Sierra, John Galagher, Anibal Lieras, Tony Fernandez / [96 mnt] Ini adalah sebuah film beranggaran sangat kecil yang cukup mendapat perhatian para kritisi di tahunnya. LoG bercerita tentang manusia-manusia kelas bawah yang mencari nafkah dengan cara yang jarang bersih, lengkap dengan kehidupan pribadi mereka, persahabatan, pengkhianatan, dan hal-hal khas lain mengenai orang-orang yang hidup dalam salah satu sisi terkeras kehidupan. Hampir seluruh adegan diambil dengan hand-held camera, itulah yang membuat film menjadi sangat hidup dan terasa begitu nyata, apalagi dengan skenario tajam yang ditulis Gomez dan penampilan yang luar biasa alami dari para pemainnya (terutama empat orang yang disebut pertama). Memang, film ini kadang-kadang terasa sebagai versi murah meriah “Mean Streets” (1972), film legendaris karya Martin Scorsese yang bertema tak jauh beda dengan LoG. Namun bau Scorsese bukanlah bau yang tidak enak selama bau itu timbul dari karya baru yang sebaik ini. [R]
League of Their Own, A () - 1991 / Penny Marshall / Geena Davis, Tom Hanks, Madonna, Lori Petty, Rosie O’Donnell, David Strathairn, Garry Marshall, Megan Cavanagh, Ann Cusack, Tracy Reiner, Jon Lovitz, Bill Pullman / [128 mnt] Pada masa perang dunia kedua, kompetisi baseball Amerika sempat terhambat karena pemain-pemainnya kebanyakan ikut wajib militer. Saat inilah liga baseball wanita mulai mencoba mencuri perhatian masyarakat. Cerita film ini difokuskan pada tim Rockford Peach yang dimanajeri Jimmy Dugan (Hanks), mantan bintang baseball yang pemabuk berat, dengan bintang tim Dottie Hutton (Davis). Penny berhasil memadukan komedi dan melodrama dalam kemasan aksi baseball, walaupun sentimentalitas dan cutesy kadang mengganggu, namun secara umum masih cukup meriah. Lagipula, olahraga apa yang lebih menyehatkan daripada bermain baseball bersama Geena, Madonna, dan Lori? [PG]
Leaving Las Vegas (½)- 1995 / Mike Figgis / Nicholas Cage, Elisabeth Shue, Julian Sands, Graham Beckel, Richard Lewis, Steven Webber, Valeria Golino, R.Lee Ermey, Xander Barkeley, Emily Procter, Laurie Metcalf, Kim Adams, Carey Lowell / (A.S - BRITANIA) / [112 mnt] Kisah ini diambil dari novel John O’Brien yang berisi kisah cinta getir antara Ben (Cage), seorang penulis skenario yang menghentikan pekerjaannya dan menggantungkan hidupnya pada alkohol hingga bertekad untuk minum sampai mati, dengan Sera, seorang pelacur yang baru lepas dari tekanan germo Latvia yang paranoid (Sand). Perpaduan keadaan Ben dan Sera mengundang banyak masalah baru, baik dari luar maupun dari dalam, termasuk masalah sexual, namun keduanya tetap menjalani beberapa saat dari kehidupan mereka bersama-sama, mecoba untuk menerima satu sama lain apa adanya, dalam keadaan yang tak bisa dikatakan lebih baik atau lebih buruk daripada ketika mereka belum bertemu. Walau tidak termasuk picisan, cerita roman ini sebenarnya murah-murah saja, tidak terlalu mendalam, dan mudah ditebak. Beruntunglah kisah ini menemukan medium yang tepat, yaitu gaya penceritaan dan penyutradaraan khas Figgis yang dingin dan penuh warna suram, inilah yang membuatnya berbeda dengan film balada percintaan lainnya. LLV memang tidak bisa sepenuhnya keluar dari gaya roman konvensional, namun anda akan merasakan sentuhan yang tidak pernah diberikan film-film sejenis, walau cara pandangnya mungkin terlalu kelam untuk kebanyakan pemirsa Indonesia. Di antara unsur-unsur terbaik film ini, daya tarik duet Cage dan Shue adalah yang paling sulit dilupakan, tak ada yang lebih cocok untuk menjadi Ben daripada si eksentrik Cage, dan Shue seakan memberikan kursus akting murah meriah pada penonton dengan akting detilnya yang tak mengandalkan ledakkan emosi, inilah salah satu pasangan akting paling mengesankan dalam dekade ini, mereka bermain dalam salah satu film paling mengesankan di tahunnya. Catatan Kecil : O’Brien melakukan bunuh diri dua minggu setelah dia menyetujui pembuatan film ini. [R]
* Academy Awards: Aktor Utama Terbaik (Cage), Golden Globe: Aktor Utama Terbaik (Cage), SAG Awards: Aktor Utama Terbaik (Cage)
Leaving Normal (½)- 1992 / Edward Zwick / Christina Lahti, Meg Tilly, Lenny von Dohlen, Maury Chaykin, James Gammon, Patrika Darbo, Eve Gordon, James Eckhouse, Brett Cullen, Rutania Alda / [110 mnt] Lahti adalah seorang wanita agresif yang selalu menganggap dunia sebagai musuh memuakkan yang tak usah begitu diperdulikan (atau begitulah kelihatannya), Tilly adalah seorang wanita rapuh yang kedewasaannya jauh tertinggal oleh angka usianya yang menjelang tigapuluh. Lahti baru saja meninggalkan pekerjaannya sebagai pelayan bar, Tilly baru saja meninggalkan suami keduanya. Kedua wanita berkepribadian kontras itu bertemu dan meninggalkan kota Normal di Wyoming menuju Alaska dimana Lahti mempunyai rumah dan tanah warisan, namun tentu saja semuanya tak berjalan sesuai rencana. Film ini tak memanfaatkan potensi kemenarikannya secara optimal, terlalu banyak episode yang datang berurutan tanpa rangkaian emosi yang membangkitkan semangat menonton. Fotografi gaya lamanya adalah nilai tambah, begitu juga duet pemeran utamanya yang bermain cukup bagus (terutama Tilly). [R]
Legalese (½)- 1998 / Glenn Jordan / James Garner, Edward Kerr, Gina Gershon, Mary Louise Parker, Brian Doyle Murray, Kathleen Turner, Scott Michael Campbell, Keene Curtis, Matthew Glave, Hy Anzell / [111 mnt] / [Film Televisi] Gershon adalah seorang aktris TV yang menjadi tersangka pembunuhan iparnya. Dia menginginkan Garner, pengacara terkenal, menangani kasusnya. Namun Garner malah menyerahkan kasus ini pada Kerr, pengacara ingusan dan penggugup. Ada apa dibalik semua ini? Drama thriller standar ini berlalu tanpa meninggalkan kesan apapun walau tidak juga mengecewakan. Beberapa potong dialog yang ditulis Jordan, terutama yang keluar lewat mulut tokoh Rica Martin (Parker), cukup menarik.
Legend of the Fall ()- 1994 / Edward Zwick / Brad Pitt, Anthony Hopkins, Aidan Quinn, Julia Ormond, Gordon Tootoosis, Henry Thomas, Tantoo Cardinal, Karina Lombard, Kenneth Welsh, Paul Desmond, Christina Pickles, Robert Wisden, John Novak / [134 mnt] Saga dari awal abad ke duapuluh ini bercerita tentang kehidupan keluarga Lodlow yang mempunyai tiga anak laki-laki, Alfred (Quinn), Tristan (Pitt), dan Samuel (Thomas), yang mempunyai karakter sangat berbeda satu sama lain, dengan titik berat cerita kisah cinta ketiganya dengan satu wanita, Susannah (Ormond). Kelemahan dalam penceritaan, yang sangat datar dan nyaris tanpa variasi gaya, berhasil ditutupi oleh fotografi karya John Toll yang luar biasa cantik dan permainan bagus para pemerannya (dengan nilai tertinggi untuk Hopkins (Lodlow Senior) dan Ormond). Tanpa kelebihan-kelebihan itu, menonton adaptasi novella Jim Harrison ini hanyalah sebuah cara untuk menghabiskan waktu dua jam seperempat dengan sentimentil. [PG-13]
* Academy Awards: Tata Kamera Terbaik
Leprechauns (½)- 1999 / John Henderson / Randy Quaid, Whoopi Goldberg, Roger Daltrey, Colm Meaney, Kieran Culkin, Zoë Wanamaker, Daniel Betts, Orla Brady, Caroline Carver, Frank Finlay, Phyllida Law, Michael Williams, Harriet Walter, Kevin McKidd / (180 mnt) / (( Magical Legend of the Leprechauns, The )) / [Film Televisi] / Jack Woods (Quaid) adalah seorang pria Amerika yang diperintahkan perusahaan tempatnya bekerja untuk mensurvei tanah dan menjajaki pembangunan cabang di sebuah desa di Irlandia. Di tempat baru yang sangat eksotis (dan nostalgik untuk selera Amerika) ini, Jack berkenalan dengan Kathleen (Brady) dan…..dunia Leprechaun! Leprechaun adalah makhluk mitologi Celtic yang berupa manusia-manusia kecil dengan komplikasi dunianya sendiri. Jack jatuh hati pada Kathleen, dia juga bersahabat dengan para Leprechaun, terutama dengan Seamus (Meaney), Leprechaun tua yang kebetulan tinggal di pondok Jack. Baik Kathleen maupun Seamus sangat menyukai Jack secara pribadi, nammun tidak secara profesional, mereka merasa rencana kerja orang Amerika ini mengancam kehidupan mereka. Sementara itu, dalam plot lain yang berhimpitan, para Leprechaun sedang terlibat perselisihan dengan para peri. Film yang aslinya berbentuk serial televisi ini berhasil memberi perhatian berimbang pada kedua cerita tersebut dan membuat keduanya cukup berpotensi untuk memuaskan jenis pemirsa tertentu: plot pertama untuk penggemar roman sederhana dan plot kedua untuk anak-anak, karena kalau anda tidak termasuk kedua golongan itu akan mungkin sekali merasakan film ini sebagai drama komedi yang sangat naif dan panjang. Untuk anda yang tidak termasuk keduanya, mudah-mudahan film ini masih bisa dianggap berhasil menampilkan nuansa tradisional Irlandia lewat sights and sounds-nya, atau kalau tidak, mudah-mudahan permainan lincah Meaney sebagai Seamus bisa menarik simpati anda. [G]
Leon (½)- 1994 / Luc Besson / Jean Reno, Natalie Portman, Garry Oldman, Danny Aiello, Peter Appel, Michael Badalaccio, Ellen Greene, Gene Enger / [100 mnt] / (A.S - PRANCIS) / ((The Professional)) Kisah persahabatan antara Leon, seorang pembunuh bayaran yang kaku dan kesepian, dengan Mathilda, gadis kecil yang frustrasi, adalah ide film ini. Mathilda meminta Leon untuk mengajarinya membalas dendam pada para pembunuh orang tuanya. Film action psikologis ini cukup menarik untuk dinikmati, namun tidak memberikan kepuasan yang maksimal dan terlalu stereotip Besson, selain itu sebagian pemirsa mungkin akan mendapat sedikit kesulitan untuk mempercayai keberadaan karakter-karakternya, terutama Mathilda yang mungkin merupakan salah satu karakter gadis kecil teraneh yang pernah hadir dalam film Hollywood, bagaimanapun si pendatang baru Portman memainkannya dengan luar biasa, mendampingi Reno yang juga sangat simpatik sebagai Leon. [R]
Léolo ()- 1992 / Jean Claude Lauzon / Maxime Collin, Ginette Reno, Roland Blouin, Julien Guiomac, Pierre Bourgault, Giuditta Delvecchio, Denys Arcand, Narasi : Gilbert Sicotte /(KANADA - PRANCIS) {Bahasa Prancis} / [107 mnt] Leo alias Léolo (Collin) adalah seorang bocah berusia 12 tahun yang tinggal di sebuah lingkungan kumuh di pinggir metropolitan Montréal, Quebec. Keluarganya adalah sekumpulan anak beranak yang busuk dan kacau balau, beberapa dari mereka sempat bergantian atau bersama-sama masuk rumah sakit jiwa, tak begitu salah kalau Leo menyebut keluarganya “lubang hitam”. Leo mengatasi kehidupan beratnya dengan kemampuannya menyusun catatan dan berfantasi, termasuk menganggap dirinya bocah Sisilia (dengan nama keluarga yang di-Italikan menjadi "Lozone", tentu dari nama Prancis "Lauzon", karena itulah semua orang curiga bahwa ini adalah biografi sang sutradara). Lingkungan barbarik ini juga mendukung Leo melalui tahap-tahap kedewasaan dengan terlalu cepat, termasuk dalam masalah seksual yang didasari rasa cinta obsesifnya terhadap Bianca (Delvecchio), ABG sensual yang tinggal di sebelah rumah dan sering diperlakukan tidak senonoh oleh kakek Leo (Guiomar). Lauzon memfilmkan kisah ini dalam kumpulan episode-episode brutal yang rawan kontroversi, dan memang demikianlah kenyataanya, film ini sangat kontroversial, semua adegan dibuat setajam mungkin dan langsung mengarah ke timbangan moral pemirsa, sebagian pemirsa akan banyak tertawa terhibur menontonnya, sebagian lagi akan sangat jijik atau tersinggung. Sekedar sebagai perbandingan gaya dan untuk menemani film ini sebagai "santapan keras", anda bisa menyewanya bersama-sama dengan film Todd Haynes "Poison", atau film Lee Clark “Kids”. [NC-17]
Les Misérables ()- 1995 / Claude Lelouch / Jean Paul Belmondo, Michael Boujenah, Alessandra Martines, Salome, Anne Girardot, Clementine Claire, Philippe Leotard, Rufus, Tricky Hogaldo, Philippe Khorsand, Nicole Croisille, Jean Marais, Michelin Presle, Darry Crow / (PRANCIS) {Bahasa Prancis} / [178 mnt] Jangan berpikir terlalu banyak tentang Waterloo dan zaman Bonaparte, karena film megah ini bercerita tentang perjalanan hidup Henry Fortin (Belmondo, yang belum juga kehilangan sedikitpun kharismanya), seorang manusia yang sangat lugu yang membingkai dan membanding-bandingkan hidupnya dengan kisah hidup Jean Valjean, tokoh karangan Victor Hugo dalam “Les Misérables”, lengkap dengan tokoh-tokoh lain dalam novel legendaris tersebut seperti Cosette, suami istri Thernadier, Fantine, Marius, dan Javert, semua dengan penjelmaan khayalnya. Fortin sendiri diceritakan hidup sekitar zaman perburuan Yahudi ketika Nazi menduduki Prancis. Lelouch, salah satu sutradara Prancis paling senior yang masih aktif, memfilmkannya dengan visualisasi yang memikat, film ini juga penuh dengan penampilan-penampilan pemain yang bagus, namun kisahnya sendiri bermasalah sebagai berikut: 1) untuk pemirsa yang pernah membaca “Les Misérables”, kisah hidup Fortin akan terasa terlalu artifisial dalam mendukung paralelismenya dengan kisah Jean Valjean, 2) Lelouch tidak perduli bahwa di dunia ini ada orang yang tak pernah membaca novel itu, biarkan sja mereka terbingung-bingung! [R]
Lethal Attraction (lihat: Heathers)
Lethal Weapon 3 (½)- 1992 / Richard Donner / Mel Gibson, Danny Glover, Joe Pesci, Rene Russo, Stuart Wilson, Steve Kahan, Darlene Love, Tracy Wolf, Gregory Miller / [100 mnt] Glover, yang dalam dua seri sebelumnya terkesan tenang, mulai memasuki masa-masa senja yang gelisah dan berencana mengundurkan diri dari kepolisian, namun aksi teror yang dilakukan oleh seorang bekas polisi (Wilson) membuatnya harus kembali bekerja sama dengan Gibson, pasangannya yang selalu bertindak agak sinting. Donner tak bisa keluar jauh dari formula sequel action komedi yang terlalu umum, Glover dan Gibson juga mulai kehilangan kesegaran mereka, namun film ini cukup tertolong dengan beberapa kegilaan yang menegangkan atau memancing tawa. Dua seri LW sebelumnya adalah hiburan yang sejati, namun untuk selanjutnya, sebaiknya siapapun tak melarang tokoh-tokoh dalam film ini untuk pensiun. [R]
Let Him Have It ()- 1991 / Peter Medak / Chris Eccleston, Paul Reynolds, Tom Courtenay, Tom Ball, Ellen Atkins, Clare Holman, Michael Gough, Ronald Fraser / (BRITANIA) / [107 mnt] Derek Bentley (Eccleston) adalah seorang remaja dengan intelegensi di bawah rata-rata. Perkenalannya dengan Rick (Reynolds), seorang remaja berbakat jahat, membawa Bentley pada kesulitan besar bahkan bencana, dia dituntut hukuman penjara seumur hidup atas kejahatan yang dilakukan oleh Rick dan kawan kawan. Dalam beberapa hal, film ini agak kaku dan sulit dipercaya sebagai sebuah kisah nyata, namun penciptaan suasana Inggris antara PD I dan PD II dan akting Eccleston yang sangat bagus, membuatnya bernilai di atas rata-rata. Di Inggris, peluncuran film ini sempat membuat kegemparan hukum yang berpuncak dengan ditelitinya kembali kasus Bentley. [R]
Let the Devil Wear Black ()- 1999 / Stacy Tittle / Jonathan Penner, Jacqueline Bisset, Mary-Louise Parker, Jamey Sheridan, Philip Baker Hall, Jonathan Banks, Maury Chaykin, Chris Sarandon, Jeffrey Schoeny, Randall Batinkoff, Norman Reedus, Matt Salinger / (89 mnt) Jack (Penner, yang juga menulis skenarionya bersama Tittle) adalah seorang laki-laki muda yang terus menjaga jarak dengan kehidupan glamor yang dijalani ibu (Bisset) dan pamannya (Baker Hall), walau dia juga membutuhkannya sampai batas-batas tertentu. Kehidupan kelas atas itu adalah warisan dari mendiang ayah Jack, seorang yang sangat dihormati baik di kalangan terpandang maupun di dunia hitam. Jack terlibat dalam beberapa bisnis kotor level rendah (namun dia bukan “bajingan” film ini, dia protagonis yang selalu membuat kita berada di pihaknya), semuanya selalu terkait dengan latar belakang keluarganya. Dalam gayanya yang suram, penuh black humor dan dengan dosis kekerasan yang memadai, Let the Devil Wears Black sebenarnya sama sekali bukan barang baru di akhir sembilanpuluhan, bahkan mungkin agak terlambat karena zaman film sejenis “Things to Do in Denver when You’re Dead” sudah lama lewat. Namun referensi tema LtDWB terhadap “Hamlet” cukup menarik perhatian, dan Tittle berhasil membuat updating tidak resmi itu menjadi sesuatu yang terasa akrab, cerdik, punya cukup intrik psikologis, bahkan masuk akal. Title juga membuat film ini menjadi sesuatu yang enak dilihat, fotografi ala film noir berwarna oleh Jim Whittaker adalah salah satu asset besar film ini (perhatikan, kebanyakan karakter tokoh berhasil ditegaskan hanya dengan lewat bagaimana si tokoh terlihat di layar). Untuk menyebut bahwa semua pemain bermain baik, kita mungkin harus mengecualikan Bisset yang sangat monoton. Catatan : Untuk anda yang teliti, pernahkah anda menghitung sesering apa Mary-Louise Parker memainkan tokoh yang mati di akhir film? Di sini dia memainkan Julia, tokoh yang – kalau kita masih terus mengacu pada Hamlet – bisa diibaratkan sebagai Ophelia. [R]
Liebestraum (½) - 1991 / Mike Figgis / Kevin Anderson, Pamela Gidley, Bill Pullman, Kim Novak / [117 mnt] Nick Kaminski (Anderson), seorang pembuat artikel tentang arsitektur, melayat ibunya (Novak) yang dirawat di sebuah rumah sakit di sebuah kota kecil, di sana dia bertemu dengan teman lamanya (Pullman) yang sedang memimpin pembongkaran sebuah gedung paling bersejarah di kota itu. Nick kemudian jatuh cinta pada Jane (Gidley), istri temannya itu, dan skandal mereka tanpa diduga menyingkap skandal penyelewengan dan pembunuhan misterius yang terjadi puluhan tahun silam. Karya yang sangat redup dari Figgis ini kadang terasa sangat menarik dan menyentak, namun sering juga membeku dan tidak bergerak. [R]
Life is Beautiful (½)- 1998 / Roberto Benigni / Roberto Benigni, Nicoletta Braschi, Giorgio Cantarini, Giustino Durano, Sergio Bustric, Marisa Paredes, Horst Buchholz, Lydia Alfonsi, Giuliana Lojodice, Amerigo Fontani, Pietro De Silva, Francesco Guzzo, Raffaella Lebboroni / [ITALIA] / {Bahasa Italia} / (( La Vita É Bella )) / (114 mnt) Pemujaan imajinasi ala Benigni yang bersama "Il Postino" (1995) mengembalikan Italia ke peta utama perfilman dunia ini menghipnotis banyak penonton dengan daya tarik uniknya. "La Vita E Bella" mengisahkan dua babak petualangan seorang lelaki tanpa latar belakang bernama Guido Orifice (Benigni). Babak pertama, berlatar tahun 1939, menceritakan perjuangannya mengejar seorang guru cantik (Flachi) dengan berbekal keberanian, kepolosan, keberuntungan, dan tentu saja imajinasi. Modal yang sama dia gunakan dalam “babak kedua” yang menggambarkan usahanya untuk menjaga anaknya, Giosue (Cantarini) ketika mereka ditangkap pasukan NAZI dan dimasukan dalam kamp penampungan Yahudi. Rasanya tak pernah ada orang yang bisa mengoptimalkan kecerdikan bersenda gurau yang manusiawi dalam alur cerita yang demikian enak diikuti seperti Benigni, dia membuat charm film ini luber dari menit awal hingga akhir (walau setiap pemirsa akan setuju bahwa kisah di kamp NAZI jauh lebih mengesankan – dan juga lebih kontroversial - daripada kisah mengejar guru). Sebagai aktor, dia juga sama hebatnya seperti sebagai sutradara dan penulis, bahasa tubuh dan seluruh gaya dan penghayatan Roberto bisa membuat Guido hidup bertahun-tahun di kepala orang yang pernah menontonnya. Pemirsa yang sebelumnya pernah menonton “Johnny Stecchino”, karya pertama Benigni, mungkin tidak akan terlalu terperangah, walau tetap akan berkata bahwa LiB lebih mempesona daripada “JS”. Yang jelas, jangan lewatkan film yang menutup dekade sembilanpuluhan dengan sangat manis ini!
* Academy Awards: Aktor Terbaik (Benigni), Film Berbahasa Asing Terbaik, Tata Musik Dramatik Terbaik (Nicola Piovani)
Life is Sweet ()- 1991 / Mike Leigh / Alison Steadman, Jim Broadbent, Jane Horrocks, Claire Skinner, Timothy Spall, Stephen Rea, Moya Brady, David Thewlis / (BRITANIA) / [102 mnt] / Leigh menyoroti sebuah keluarga lower middle-class London, lengkap dengan segala keeksentrikan dan keneurotikan mereka. Kombinasi ayah yang terobsesi dengan perjalanan panjang, ibu yang tampak selalu “easy going”, dua anak kembar yang sangat tidak identik (satu terkesan sangat normal walau terobsesi dengan Amerika, satu lagi super introvert dan penuh kelainan), ditambah beberapa teman yang tak kalah eksentrik dan neurotiknya menghasilkan berbagai sisi yang menghidupkan “komedi emosi” yang hanya mungkin dihasilkan oleh seorang Mike Leigh. Pada dasarnya, fokus utama film ini adalah makanan (masakan, cemilan, restoran, bulimia, dll), dan dengan berporos pada itu Leigh dengan luar biasa berhasil mengeksploitasi “MANUSIA” luar dalam lewat analisis psikologi sederhananya. Seperti pada film-film Leigh yang lain, ensemble akting ajaib tampil di sini, tak satu karakterpun mudah dilupakan. Namun – juga seperti film-film Leigh lainnya – diperlukan kesabaran dan sedikit keunikan dalam diri anda sendiri sebelum bisa menghargai dan menikmati film ini, sampai akhirnya anda percaya bahwa judul film ini hanya tesis yang patut dibantah. [R]
Life Less Ordinary, A ()- 1997 / Danny Boyle / Ewan McGregor, Cameron Diaz, Delroy Lindo, Holly Hunter, Ian Holm, Maury Chaykin, Stanley Tucci, Dan Hedaya, Judith Ivey, Ian McNeice, Tony Shalhoub, K.K.Dodds / [103 mnt] Robert (McGregor) adalah seorang petugas kebersihan yang dipecat dan kemudian, dalam frustrasi, menculik putri pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Gadis ini (Diaz) ternyata mempunyai pengalaman yang cukup mengagumkan dalam hal diculik/disandera dan jauh lebih licik daripada si penculik. Pada saat keduanya mulai bersekongkol, Tuhan tiba-tiba mengutus dua malaikat yang berupa pengejar konyol (Lindo dan Hunter) untuk membawa mereka kembali. Cerita film ini tak punya sesuatu yang baru walau penuh dengan humor yang menghentk-hentak, namun trio sensasional Skotlandia Andy McDonald - Boyle - John Hodges selalu berhasil membuat apapun menjadi menarik. Dobel duet McGregor-Diaz dan Lindo-Hunter sangat berhasil membuat film ini menjadi lebih menarik.[R]
Light Sleeper ()- 1992 / Paul Schradder / Willem Dafoe, Susan Sarandon, Dana Delany, David Clennon, Victor Garber, Jane Adams, Mary Beth Hurt, Paul Jabara, David Spade / [103 mnt] Kisah yang sangat depresif ini bertutur tentang Johnny LeTour (Dafoe) yang bekerja sebagai pengantar heroin yang dijual Ann (Sarandon). Tuntutan usia membuat LeTour ingin menemukan jalan hidup yang lebih baik dan berarti, apalagi setelah pertemuannya dengan Marianne (Delany), bekas teman hidupnya, seorang wanita dengan jiwa yang rapuh. Film berakhir dengan akhir khas Schradder, LeTour mengalami kejadian terburuk dalam hidupnya, kegagalannya menyelamatkan (dan diselamatkan) Marianne mengantarnya masuk penjara, namun dia juga menemukan kesempatan untuk memulai kehidupan lain bersama Ann yang telah berhenti dari bisnis heroin, akhir dari sebuah episode hidup menuju episode lain yang lebih tak terduga. Dafoe bermain sangat baik, dia semakin menonjol karena muncul di hampir semua scene, Sarandon sebagus biasanya, sementara Delany tampil dengan sangat memuaskan. Dengan agak berbau “Taxi Driver” (skenario paling fenomenal yang pernah ditulis Schradder), LS adalah film yang hanya mempunyai satu sudut pandang, juga sangat dingin, redup, dan sunyi, walau sesekali menghentak. Film yang mungkin sangat cocok untuk para pemurung yang sinis dan merasa dirinya rumit. [R]
Little Buddha (½)- 1994 / Bernardo Bertolucci / Keanu Reeves, Alex Wiesendanger, Chris Isaak, Bridget Fonda, Ying Ruocheng / [128 mnt] Suami istri Conrad (Isaak dan Fonda), produk khas materialisme, dikejutkan oleh kedatangan dua orang Lama Tibet yang bermaksud membawa anak mereka, Jesse (Wiesendanger) ke Tibet karena Jesse dianggap salah satu kandidat sosok reinkarnasi seorang Lama terpandang yang telah lama meninggal. Kisah ini tampil berselangan dengan kisah kehidupan metamorfosis Siddharta Gautama (Reeves). Pada mulanya, setidaknya selama buku cerita milik Jesse masih berperan, penyelingan ini bisa dinikmati dengan enak, namun lama kelamaan keduanya mulai kehilangan relevansi dan malah saling mengganggu. Jika ada yang bisa menahan kita agak lama, mungkin itu adalah hasil fotografi Vittorio Storaro karena selain itu film ini semakin melelahkan dari menit ke menit. [PG]
Little Kidnappers (½)- 1990 / Donald Shebib / Charlton Heston, Bruce Greenwood, Leo Wheatley, Charles Miller / (KANADA) / [100 mnt] (Film Televisi) Dua orang anak yatim piatu dari Scotlandia datang ke Nova Scotia, Amerika Utara, untuk tinggal bersama kakeknya. Di perkampungan kecil yang masih menyimpan berbagai masalah perselisihan lama antar keluarga ini, kedua bocah itu dituduh menyembunyikan seorang bayi yang coba mereka pelihara. Kisah ini pernah difilmkan ke layar lebar pada tahun 1953. Andai film televisi ini tidak terlalu bertele-tele di pertengahan, hasilnya akan lebih menarik dari ini. Sang legenda hidup, Heston, bermain bagus dan kharismatik sebagai kakek beringas yang tak bisa baca tulis. [PG]
Little Man Tate ()- 1991 / Jodie Foster / Jodie Foster, Dianne Wiest, Adam Hann-Byrd, Harry Connick, jr., George Plimpton, Debi Mazar, Celia Weston, David Pierce, Danita Vance, Josh Mostel / [99 mnt] Fred Tate (Byrd) adalah seorang anak berusia 7 tahun yang memiliki kejeniusan yang sangat menonjol dalam bidang seni dan eksakta. Ibunya, Dede (Foster), seorang pramusaji yang agak naif, tidak sepenuhnya menyadari keistimewaan anaknya, dia menginginkan anaknya untuk hidup normal saja seperti anak-anak lain. Sementara itu, Jane (Wiest), kepala sebuah sekolah untuk anak-anak pandai, sangat tertarik pada Fred dan menginginkan anak itu diperlakukan secara khusus. Berbagai konflik terjadi, sebagian disampaikan dengan sangat banal, sebagian terlalu simbolis, sebagian terlalu cute, namun tak kurang juga yang disampaikan dengan sangat cerdas, imajinatif, atau juga menyentuh. Secara keseluruhan, ini adalah karya debut penyutradaraan yang sangat mengesankan dari Foster. Film ini juga menampilkan akting luar biasa dari si kecil Byrd (film pertamanya), dengan didampingi Foster sebagai background yang tentu saja bisa dipercaya. Foster sendiri adalah aktris cilik dekade tujuhpuluhan yang dikenal memiliki intelegensi di atas rata-rata namun kesulitan memilih karir, otomatis banyak orang “curiga” bahwa film ini adalah gambaran masa kecilnya. Emang kalau bener kenapa? [PG]
Little Voice ()- 1998 / Mark Herman / Jane Horrocks, Brenda Blethyn, Michael Caine, Ewan McGregor, Jim Broadbent, Annette Holland, Philip Jackson /(BRITANIA) / [110 mnt) Horrocks, dengan akting yang sulit dilupakan – kecuali oleh Oscar, bermain sebagai seorang wanita muda yang hampir tak pernah bicara sejak kematian ayahnya hingga dia dipanggil LV atau Little Voice. LV yang selalu merasa dikunjungi arwah ayahnya tinggal bersama ibunya (Blethyn), wanita setengah baya berpenampilan norak dan berkelakuan serampangan. Seorang pemilik pub (Caine) yang sempat berhubungan dengan sang ibu tanpa sengaja menemukan bakat terpendam yang sangat mengejutkan dari gadis seperti LV : menyanyi! Akhirnya gadis yang tertekan ini bisa dibawa ke panggung dan menjadi terkenal berkat keahliannya menghidupkan lagi gaya Marilyn Monroe, Shirley Bussey, dan Judy Garland dari zaman keemasan film musikal dan big-band. Namun LV tetap LV, dia bukan gadis biasa, dan dengan ibu seperti itu keadaan mudah sekali menjadi kacau. Dengan kecenderungan setengah komedi dan setengah melodrama yang tidak sempurna, film yang diadaptasi dari drama panggung “The Rise and Fall of Little Voice” ini berjalan dalam tempo sedang dan tampak dibuat dengan tidak terlalu ambisius. Humor yang baik, suasana dramatis yang tepat sasaran, dan spektakulernya Horrocks, dengan dukungan yang juga hebat dari Blethyn, Caine, dan Broadbent (bahkan juga McGregor yang tampil seadanya dalam peran yang juga seadanya) membuat kisah para Londoner ini melambung di atas rata-rata. Banyak adegan bagus dalam film ini, adegan Caine menyanyikan frustrasinya di panggung adalah yang paling pantas diingat. [R]
Little Women (½)- 1994 / Gillian Armstrong / Winona Ryder, Trini Alvarado, Susan Sarandon, Gabriel Byrne, Claire Danes, Kirsten Dunst, Eric Stoltz, Samantha Mathis, Christian Bale, John Neville, Mary Wickes / [105mnt] Film ini adalah film Hollywood keempat yang diambil dari dua novel Louisa May Alcott, yaitu “Little Women” yang bercerita tentang kehidupan empat orang gadis kecil Meg, Jo, Beth, Amy, dan ibu mereka, “Marmee” March (Sarandon), dan “Part Second” yang lebih difokuskan pada perjalanan Jo (Ryder) yang selalu merasa dirinya salah waktu, salah tempat, dan tidak beruntung (out of time, out of place, out of luck) dalam memulai kemandiriannya. Sampai setengah film, kita - terutama yang tak pernah membaca satupun dari kedua novel Scott - akan bertanya-tanya kapan film ini hendak mulai bercerita, alur yang terus melebar menjadikannya sangat episodik, walau masih penuh momen emosional, dan ketika memasuki “Part Second”, dimana film mulai bercerita sampai akhir, kita akan berkata, “O, cuma itu yang mau diceritakan!” LW tampil dengan romantisme fotografis yang selalu menampilkan gambar yang enak dilihat dan penceritaan penuh simbolisme (termasuk pemilahan setting waktu film dalam empat musim), plot boleh dibilang bukan prioritas utama di sini, terimakasih pada ketelitian dan sensitivitas Armstrong yang membuat kita tahan menghabiskan waktu untuk film dengan cerita menggenang begini. Selain itu, semua pemeran utamanya bermain sempurna, inilah salahsatu “dream team kecil” di masanya. Figur porselen Ryder mungkin memang terlalu soft untuk peran Jo, tapi sesungguhnya – semua pasti setuju - dia bermain baik sekali. Yang jelas, di bagian-bagian awal, bintang sesungguhnya adalah Danes dengan akting sensitifnya sebagai Beth yang rapuh, dan menjelang akhir, Wickes merajalela sebagai Aunt March. [PG-13]
Live Nude Girls ()- 1995 / Julianna Lavin / Dana Delany, Kim Catrall, Cynthia Stevenson, Laila Robins, Lora Zane, Olivia D’Abo, Glenn Quinn, Tim Choate, Jeremy Jordan, V.C.Davis, Simon Templeman, Brian Markinson, Paul Petti, Joshua Beckett, Julianna Lavin / [96 mnt] Lima orang wanita dewasa yang telah berteman sejak kecil, empat hetero dan satu bi, mengadakan reuni sehari semalam, mereka membicarakan berbagai masalah dan mengungkapkan semua rahasia mereka, sembilanpuluh persen berkisar tentang pengalaman dan fantasi seksual mereka. Judulnya memang seperti hendak mengumbar kulit para aktrisnya, namun komedi ini lebih banyak mengumbar emosi dan kata, bahkan mungkin inilah salah satu film layar lebar Amerika yang paling berani dalam membicarakan seks, tanpa batasan apapun, tak akan semua penonton tahan menyimak percakapan kelima orang wanita ini, namun akan banyak juga yang tertawa terkekeh-kekeh. Lavin, dalam debut penulisan dan penyutradaraannya, tak melewatkan sedikitpun hal yang bisa dibicarakan sepanjang masih berkaitan dengan seks. Semua pemain bermain sangat bagus dalam skenario yang memang memungkinkan mereka untuk bermain bagus. [R]
Living in Oblivion (½)- 1995 / Tom DiCillo / Steve Buscemi, Catherine Keener, Danielle von Zerneck, Dermott Mulroney, James LeGros, Rica Martens, Peter Dinklage, Robert Wightman, Hillary Gilford, Kevin Corrigan, Matthew Grace, Michael Griffith, Ryan Bowker / [96 mnt] Film kecil tentang film kecil ini adalah sebuah karya yang sangat imajinatif tentang hari-hari di lokasi pembuatan sebuah film beranggaran sangat rendah oleh kru dan aktor semi profesional. Komedi ini dipenuhi suasana kacau, tumpukan mimpi, perubahan sudut pandang, dan kadang suasana sentimental (yang konyol). Ini memang bukan tipe komedi pengundang tawa berkepanjangan, namun sejak adegan-adegan awal LiO sudah terasa mempunyai magnet yang sulit ditahan (setidaknya untuk pemirsa yang mengerti apa itu “orisinalitas”). DiCillo selain brillian untuk urusan penciptaan ide awal, juga sangat berhasil dalam mengefektifkan bagian-bagian filmnya, setiap kali ada pengendoran terasa, film selalu cepat menegang lagi dengan baik. Ada beberapa bagian yang terasa naif dan berlebihan, namun tak satupun terasa sebagai sebuah gangguan besar. Terimakasih juga untuk Buscemi atas akting simpatiknya sebagai Nick Reve, sutradara yang sangat toleran namun sering meledak secara tiba-tiba. LiO adalah Hiburan yang sangat memuaskan, kalaupun anda tidak termasuk orang yang berpikir demikian, setidaknya anda akan mengakui bahwa banyak ide film ini yang belum pernah anda lihat sebelumnya. [R]
* Sundance Film Festival: Skenario Terbaik (di Cillo)
Loaded ()- 1995 / Anna Campion / Danny Cunningham, Catherine McCormick, Oliver Milburn, Nick Patrick, Thandie Newton, Bidgy Hodson, Matthew Eggleton / (NEW ZEALAND - BRITANIA) / [107 mnt] Sekelompok anak muda pergi membuat film di sebuah rumah kosong terpencil. Mereka sangat intens mencurahkan keadaan psikologis dan pengetahuan mereka ke dalam cerita film itu. Namun kesialan tidak sepenuhnya terkait dengan semua itu, salah satu dari mereka mengalami “kecelakaan” lalu lintas dan meninggal, kondisi yang sudah terlalu rumit membuat mereka tak mampu menghadapi situasi ini dengan tenang. Film yang cerdas dan cantik, kemampuan Anna (adik Jane Campion) dalam membuat tontonan visual yang indah sangat mengagumkan dan tak usah diperdebatkan, para pemain juga bermain sangat bagus dan alami, namun kesan elitis (gaya bertuturnya tak akan mampu menyentuh ketertarikan semua lapisan pemirsa) terasa dalam beberapa bagian. [R]
Lock, Stock, and Two Smoking Barrels ()- 1998 / Guy Ritchie / Jason Flemyng, Dexter Fletcher, Nick Moran, Jason Statham, Steve Mackintosh, Vinnie Jones, Sting, Nick Marcq, Charlie Forbes, Nicholas Rowe, Lenny McLean, Peter McNichol, P.H. Moriarty, Frank Harper, Steve Sweeney, Huggy Leaver, Ronnie Fox, Tonny McMahon, Steven Marcus, Vak Blackwood /(BRITANIA) / [100 mnt] / Debut penyutradaraan Ritchie ini disebut sebagai “Pulp Fiction” kesiangan dari Inggris, namun julukan mengejek itu tidak otomatis memberitakan bahwa film ini tidak segar lagi. Kalau saja Ritchie bisa membangun bagian awal filmnya dengan lebih ringkas dan efisien, resensi ini tak akan segan memberinya nilai ½. Belasan tokoh urban rat London – kebanyakan, entah kenapa, selalu berbaju hitam – muncul dalam film ini, terbagi dalam kelompoknya masing-masing. Dengan agak bingung dan ogah-ogahan kita sampai di menit empatpuluh sekian dan barulah kita sadar bahwa mereka semua saling rampok, saling tipu, saling kejar, dan bisa jadi saling bunuh, barulah kita juga sadar bahwa film ini adalah komedi kriminalitas yang sangat menghibur dengan tema dan plotting kuno yang diperbaharui dengan nakal. Penjalinan sub-plot adalah segala-galanya bagi film ini, sementara hal lain, seperti humor, action, dan beberapa variasi visual, hanyalah sarana pendukung untuk membuat penonton bertahan sampai film mendekati klimaks di saat mereka tak mungkin lagi lari (jangan sekali-kali lewatkan adegan terakhir film ini!). Semua pemain bermain bagus, mungkin tak akan ada yang anda kenal kecuali Sting (istrinya, Trudie Styler, menjadi produser eksekutif film ini), dan kalau anda penggemar lama dan fanatik sepakbola liga Inggris, anda pasti hapal wajah keras Jones, orang Wales mantan kapten kontroversial Wimbledon.
Locusts, The (½)- 1997 / John Pattrick Kelley / Vince Vaughn, Kate Capshaw, Jeremy Davies, Ashley Judd, Paul Rudd, Daniel Meyer, Jessica Capshaw, Jimmy Pickens, Jerry Haynes, Jason Davis / [106 mnt] Clay (Vaughn) adalah seorang pelarian yang terdampar di sebuah desa dan kemudian bekerja pada seorang janda misterius (Capshaw) yang menyimpan rahasia sebanyak Clay. Di sana Clay bersahabat dengan putra sang induk semang, Flyboy (Davies), seorang remaja yang mengalami keterbelakangan mental dan selalu dikurung di rumahnya. Dengan cara yang agak terlalu lambat, film ini mencoba menggali kemenarikan ceritanya lewat penundaan pengungkapan berbagai masalahnya. Secara visual, penyutradaraan Kelley cukup memuaskan dan semua pemain bermain lumayan, kecuali Capshaw yang tampak tidak begitu tahu apa yang harus dilakukannya. [R]
Long Kiss Goodnight, A (½)- 1997 / Renny Harlin / Geena Davis, Samuel L. Jackson, Pattrick Malhide, Craig Bierko, David Morse / [130 mnt] Harlin ternyata belum puas mengumbar keperkasaan teman serumahnya, setelah “CutTroath Island”, dia memberi lagi istrinya ruang untuk menjadi jagoan. Davis bermain sebagai Samantha, seorang guru SD sederhana yang tinggal di pedesaan. Samantha adalah sebuah sosok baru setelah dia sama sekali kehilangan ingatan akan masu lalunya. Lewat bantuan seorang detektif murahan bernama Mitch (Jackson), ibu guru yang agak aneh ini perlahan menemukan kembali dirinya sebagai Charlene, seorang mantan agen rahasia berpengalaman yang. telah disangka mati dan tak pernah hidup jauh dari bahaya. Cukup sering mendengar kisah serupa dan bisa menebak kemana larinya? O.K, namun film ini justru punya plot yang agak membingungkan, anda boleh buktikan sendiri. Kita juga tak bisa berharap banyak pada kelogisan sebuah film selama film itu disutradarai Harlin, dia selalu tega memperlihatkan aksi-aksi yang terlalu hebat yang membuat kita menggeleng-gelengkan kepala untuk menandakan campuran kekaguman dan ketersinggungan logika. Untung Harlin masih berbaik hati membiarkan mengalirnya setumpuk humor gaya lama, walau kebanyakan datang memaksa, yang sebagian besar disampaikan lewat Jackson yang bermain - seperti biasa - sangat pas untuk perannya. Sementara itu, Davis memang selalu bisa bersinar dalam setiap film yang dibintanginya tanpa harus cantik, sexy, muda, atau berakting hebat, namun rasanya Harlin harus mulai sadar bahwa dia bukan menikah dengan Thelma Dickinson melainkan dengan seorang aktris yang lebih mahir bermain drama atau komedi. Jangan lewatkan penampilan cameo Larry King sebagai dirinya sendiri dicandai Mitch. [R]
Lolita ()- 1997 / Adrian Lyne / Jeremy Irons, Dominique Swain, Frank Langella, Melanie Griffith / [112 mnt] Vladimir Nabokov dan bukunya menjadi kontroversial di tahun limapuluhan, Stanley Kubrick memfilmkannya dengan kontroversial pula di tahun enampuluhan, lalu apa yang akan dilakukan seorang sutradara seperti Lyne (“Fatal Attraction”, “9½ Weeks”, “Indicent Proposal”) dengan cerita yang selalu membawa masalah ini? Dolores Haze alias Lolita adalah seorang gadis berusia 14 tahun yang daya tariknya membuat Humbert, seorang profesor setengah baya yang menyewa sebuah kamar di rumah ibunya, tergila-gila secara seksual, dan membawa – atau dibawa – Lolita ke sebuah petualangan hidup yang penuh nafsu dan tragedi. Skenario Steven Sherr banyak membongkar sudut-sudut novel Nabokov dan membuat film ini menjadi lebih fisikal serta mengizinkan motif-motif psikologisnya bersembunyi dengan malu-malu di balik bara yang selalu terlihat di layar. Lyne juga memberi kebebasan pada karakter Lolita untuk benar-benar menjadi sentral cerita (sementara novel Nabokov adalah murni milik Humbert, dan film Kubrick menjadi arena kucing-kucingan Humbert dan Clare Quilty, yang dalam versi Lyne menjadi tokoh yang sangat enigmatik). Dengan berani pula dia menampilkan ABG debutan, Swain, yang mampu membuat penonton terpenjara dalam keajaiban akting natural dan sensualitas prematurnya, mungkin kesan dan ekses yang ditimbulkan penampilannya ini hampir sejajar dengan Jodie Foster (“Taxi Driver”, 1976), Brooke Shields (“Pretty Baby”, 1979), atau Emily Lloyd (“Wish You were Here”, 1988), dan jauh di atas Sue Lyon, sang “Lolita asli” versi Kubrick. Dominique berpasangan dengan Irons yang mulai kehabisan gaya dalam memerankan Mr.Lovesick, karakter tipikalnya. Permainan Griffith sebagai sang ibu tak punya sesuatu yang pantas dikenang, sementara Langella tampil dahsyat di adegan klimaks duel Humbert-Quilty, adegan yang didorong ke titik ekstrem oleh Lyne dan akan membuat sebagian besar penonton berkomentar – baik atau buruk. Berkomentarlah sesuka anda pada film Amerika paling kontroversial di tahunnya ini. [R]
Looking for Richard (½)- 1996 / Al Pacino / Al Pacino, Estelle Parsons, Penelope Allen, Kevin Spacey, Winona Ryder, Alec Baldwin, Aidan Quinn, Kevin Conway, Harris Yulin, F. Murray Abraham, Don Berry, Viveca Lindfors, Richard Cox, Fred Kimball, Wawancara dengan: Sir John Gielgud, Vanessa Redgrave, Derek Jacobi, Kenneth Branagh, Kevin Kline, James Earl Jones / [112 mnt] Dengan penuh semangat, Pacino memenuhi ambisinya untuk menjadikan Shakespeare dapat diterima, bahkan dapat mempesona Amerika dan juga dunia dengan cara yang artistik namun ringan. Film ini adalah dokumentasi hari-hari Pacino dan timnya dalam menginterpretasikan drama “Richard IV” karya Shakespeare, diselingi oleh hasil interpretasi itu sendiri. Menarik, hidup, dan juga humoris, film ini sangat bisa dinikmati walaupun oleh pemirsa yang bukan penggemar Shakespeare atau film dokumenter. Sebagai sebuah dokumenter, gaya film ini boleh disebut sebagai sesuatu yang baru. Nyeni atau sekedar ngepop, itulah pekerjaan Pacino. Kita juga boleh mencurigai karyanya ini sebagai sebuah prolog untuk langkah lain yang lebih besar dari Pacino, siapa tahu? [PG-13]
Look Who’s Talking Now ()- 1993 / Tom Ropelewski / John Travolta, Kirstie Alley, Olympia Dukakis, George Segal, David Gallagher, Tabitha Lupien, Lysette Anthony Pengisi Suara: Danny De Vito, Diane Keaton / [92 mnt] Film ketiga ini memang tidak semembosankan pendahulu terdekatnya, “Look Who’s Talking, too!” namun masih jauh dari kesegaran film pertama, “Look Who’s Talking”. Kali ini, menjelang malam Natal, Alley curiga bahwa Travolta mempunyai affair dengan wanita lain, sementara itu, dua “orang” anjing lucu (suara oleh De Vito dan Keaton) mempunyai masalah mereka sendiri. Film yang naif dan simplistik, tapi buruknya film tahun 1991 memberi kita alasan untuk memaafkan film ini. [PG-13]
Look Who’s Talking Too (½)- 1991 / Amy Heckerling / John Travolta, Kirstie Alley, Olympia Dukakis, Ellias Koteas, Twink Kaplan, Lorne Sussman, Pengisi Suara: Bruce Eillis, Mel Brooks, Damon Wayans, Roseanne Barr / [81 mnt] Bayi yang usil itu punya adik, dan film “Look Who’s Talking” pun punya adik. Adik si bayi memang lucu walau jarang melucu, tapi adik “LWT” yang bernama LWTT tetap tidak lucu walau sering sekali mencoba melucu. [PG-13]
Lorenzo’s Oil ()- 1992 / George Miller / Nick Nolte, Susan Sarandon, Petr Ustinov, Margo Martindale, James Rebhorn, Kathleen Wilhoite, Zack O’Malley / [135 mnt] Film yang mengundang banyak pertanyaan moral ini diambil dari kisah nyata keluarga Odone yang sempat menggemparkan dunia kedokteran Amerika berkat ramuan “Minyak Lorenzo” racikan mereka. Sejak tahun 1984, Augusto dan Michaella Odone harus menerima kenyataan bahwa anak tunggal mereka, Lorenzo (dimainkan oleh enam anak menurut usia Lorenzo), mengidap Adrenoleukodystrophy (ALD), sebuah penyakit bawaan yang sangat jarang dan belum tersembuhkan. Namun pasangan ini tak mau menerima kenyataan itu begitu saja, dengan kegigihan berlatar cinta dan harapan, keduanya berjuang menyembuhkan Lorenzo secara medis dengan jalan mereka sendiri. Keberanian pasangan ini menggemparkan lingkungan kedokteran yang bergerak dengan sangat lambat. Jika anda selalu sinis pada film-film penguras air mata, film ini pantas dicurigai, namun jangan terkejut jika ternyata tidak satu adegan cengengpun muncul dalam film ini! Dengan berani, skenario Miller dan Nick Enright merinci perjuangan Augusto dan Michaela yang menghabiskan bertahun-tahun berkutat dengan cara menyembuhkan ALD, tentu saja istilah kedokteran lebih banyak muncul daripada cucuran air mata namun film ini tidak lantas menjadi tidak berperasaan karena semua itu cukup untuk menghidupkan emosi dengan cara yang luwes dan “lebih dalam”. Selain sudut penceritaannya itu, film ini punya kekuatan besar lain pada tampilan visual yang juga lebih bergaya daripada yang diharapkan, salut untuk “Mr. Mad Max” Miller dengan komando jitunya. Nolte sangat simpatik sebagai Augusto yang sangat meng-Italia, dan jangan ragukan Sarandon, Hollywood tak punya banyak yang sekelas dia. [PG-13]
Loser ()- 2000 / Amy Heckerling / Jason Biggs, Mena Suvari, Zak Orth, Tom Sadoski, Jimmi Simpson, Greg Kinnear, Dan Aykroyd, Twink Caplan, Bobby Miano, Mollee Israel, Colleen Camp / (98 mnt) Paul (Biggs) baru lulus dari SMU di sebuah kota kecil, dia mendapat beasiswa college dan meninggalkan kotanya dengan harapan bisa menjadi siswa yang baik dan mendapatkan banyak teman di New York City. Paul mencoba sebisanya, namun dia mendapat masalah besar, terutama untuk memenuhi harapannya yang kedua, dia dikelilingi teman-teman yang licik dan selalu menganggapnya “kampungan”. Sementara itu, Dora Diamond (Suvari) adalah seorang siswi miskin yang berpacaran dengan seorang dosen muda (Kinnear). Teman-teman yang jahat, kuliah, nasib, dan band Everclear mempertemukan kedua remaja pecundang (loser) ini. Film ini tak akan menjadi legenda renyah seperti “Fast Time at Ridgmont High” atau “Clueless”, dua karya Heckerling lain yang bercerita tentang dunia remaja, Loser tidak berusaha menyentuh sisi-sisi esensial dunia ABG seperti kedua film itu. Namun sejak awal komedi ini telah berhasil menarik kita – yang bukan remaja sekalipun – ke dalam kisahnya dan bersimpati pada kedua tokoh utamanya, Heckerling menampilkan permasalahan tanpa terinfeksi virus cutesy yang selalu menghinggapi film-film ABG sezamannya. Biggs dan Suvari berandil sangat besar dalam membuat kita menyukai tokoh-tokoh yang mereka mainkan, selain Adrian Grenier dan Melisa Joan Hart dalam "Drive Me Crazy” kita hampir tak pernah melihat pasangan sebaik ini dalam film remaja Amerika akhir-akhir ini. Sadoski juga bermain bagus sebagai Chris, salah seorang teman Paul yang menyebalkan. Catatan : Everclear benar-benar tampil membawakan lagu mereka di panggung dalam film ini. [PG-13]
Lost Highway, The (½)- 1996 / David Lynch / Patricia Arquette, Bill Pullman, Balthazar Ghetty, Robert Blake, Robert Loggia, Michael Massee, Gary Busey, Henry Rollins, Natasha Greggson Wagner, Lucy Butler, Linda Pryor / [116 mnt] Tipikal enigma Lynch ini dimulai dengan kisah seorang lelaki yang menerima kiriman kaset video yang berisi selinapan seseorang ke rumahnya, kemudian dia dijebloskan ke penjara karena membunuh istrinya, setelah itu mulailah sebuah thriller drama surealis yang kelam, puitis, dan sexy seperti film-film Lynch yang lain, alur ceritanya: tentu saja cukup susah dimengerti, halusinasi dan kenyataan seperti biasa bertumpang tindih di dalamnya. Sejak “Wild at Heart” Lynch memasuki masa yang agak sepi, film ini masih belum juga mampu memperlihatkan kelas pembuatnya, sutradara film eksentrik tersukses yang dihasilkan Amerika dalam dekade delapanpuluhan. [R]
Love at Large ()- 1990 / Alan Rudolph / Tom Berenger, Elizabeth Perkins, Anne Archer, Kate Capshaw, Ted Levine, Anette O’Toole, Ann Magnussin, Neill Young / [96 mnt] Dua orang detektif spesialis kasus-kasus kecil yang selalu bersaing, sama-sama menangani kasus yang menyebalkan, dan pada saat-saat itu mereka mulai menyadari bahwa mereka saling mencintai (sebelumnya mereka sudah curiga akan adanya perasaan ini dalam diri masing-masing). Sebetulnya film ini mempunyai beberapa sisi yang menarik (terutama beberapa bagian humornya dan beberapa karakter warna-warninya), namun gaya penyutradaraan eksentrik ala Rudolph dalam film ini terasa terlalu norak untuk tidak menjadi bodoh. Untunglah Berenger, Archer, dan Perkins cukup bisa menarik simpati tambahan. [R]
Love, Cheat, and Steal (½)- 1994 / S / Eric Roberts, Mädchen Amick John Lithgow, Richard Edson, Donald Moffat, David Ackroyd, Dan O’Herlihy/ [95 mnt] (Film Televisi) Roberts kabur dari penjara setelah mendengar bekas istrinya (Amick) menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya (Lithgow). Dengan berpura-pura menjadi kakak Amick di depan Lithgow, Roberts siap mengacau segalanya. Ketiga pemain bermain baik tapi anda pasti sudah kenal plot seperti itu. Kalau sudah, ya, sudah saja. Ngomong-ngomong, anda tak usah hidup di dunia kalau bisa hidup tanpa curiga seperti karakter Lithgow. [R]
Love Potion # 9 (½)- 1992 / Dale Launer / Tate Donovan, Sandra Bullock, Dale Midkiff, Mary Mara, Anne Bancroft, Hillary Smith, Dylan Baker, Delia Shephard / [96 mnt] / ((Love Potion No.9 )) Komedi berbudget rendah tentang perang obat pemikat ini sesungguhnya mengandung beberapa adegan yang mampu memancing tawa yang murni, namun secara keseluruhan kita akan menolak untuk dibodohi oleh film komedi yang naif ini. Pantas sekali kalau film ini jeblok di pasaran, lagipula, di tahun 1992 siapa sangka kalau aktris utamanya akan menjadi begitu terkenal di kemudian hari? [PG-13]
Lovers. The True Story ()- 1991 / Vincente Aranda / Jorge Sanz, Victoria Abril, Maribel Verdu, Enrique Cerro, Mabel Escaño, Alicia Agut, Saturnino Garcia, Ricardo Borras / (SPANYOL) {Bahasa Spanyol} / [103 mnt] / ((Amantes)) Madrid adalah saksi atas sebuah kisah yang luar biasa getir tentang cinta segi tiga yang menjepit Paco (Sanz) di antara dua wanita, Trini (Verdu), tunangannya yang lugu, dan Luisa (Abril), "induk-semangnya" yang dipenuhi nafsu dan niat jahat. Tragedi pembunuhan yang mengakhiri kisah ini menggemparkan Madrid dan Spanyol di masa pemerintahan Jenderal Franco tahun limapuluhan. Kecuali erotisme yang sangat dipertinggi tegangannya, segala hal lain dalam film ini terasa sangat sederhana, alami, dan tidak dilebih-lebihkan, dengan nuansa yang tidak mudah ditemukan dalam film-film Hollywood. Fotografi yang impresif dan akting meyakinkan ketiga pemeran utamanya adalah kekuatan utama film ini. Lovers memang film yang tercipta dengan baik hampir dalam segala hal, namun juga memberikan perasaan sepi yang keterlaluan ketika dan setelah selesai menontonnya. [R]




M


Mad Cows (½)- 1999 / Sara Sugarman / Anna Friel, Joanna Lumley, Anna Massey, Phyllida Law, Greg Wise, Nicholas Woodeson, Prunella Scales / {BRITANIA} [90 mnt] Tipikal komedi hitam Inggris ini diadaptasi dari novel feminist Joana Quinn. Madelaine (Friel) adalah seorang imigran Australia yang ditangkap bersama bayinya karena masalah imigrasi dan kasus pencurian di toko swalayan. Untuk mencegah bayinya diadopsi, Maddy menyelundupkannya keluar penjara dengan bantuan sahabatnya, Julien (Lumley). Julien – seorang hedon binal yang tak punya pengalaman dengan bayi – harus membiasakan dirinya dengan Baby Jack, sementara Maddy sendiri berhasil membebaskan diri dari penjara dan meminta pertanggungjawaban Alex (Wise), ayah bayi itu, pria aristokrat yang sedang merintis karir di bidang politik. Berbagai pihak tentu memburu kedua wanita ini. Walau materi ceritanya memungkinkan untuk dibuat menjadi melodrama atau komedi hitam biasa, Sugarman ternyata lebih memilih untuk menjadikannya sebuah komik barbar yang benar-benar memperlihatkan “bad taste”, lengkap dengan skema warna dan yang mencolok, fotografi ala video klip Brit-pop, dan akting slapstik. Kalau mood kita memang sedang ke arah situ, film ini mungkin sekali bisa menghibur, asal kita terbiasa toleran terhadap humor yang kasar. Di tengah semua itu, Friel justru sangat simpatik dan charming dalam perannya. Catatan Kecil : Kakek pelayan Herrod yang mengobrol dengan Maddy dimainkan oleh Mohammad Al Fayed.
Mad Dog and Glory ()- 1993 / John McNaughton / Robert De Niro, Uma Thurman, Bill Murray, David Caruso, Mike Starr, Tom Towless, Kathy Baker, Derek Anunciation, J.J Johnston, Richard Belzer / [97 mnt] Wayne adalah seorang fotografer polisi lugu yang kelihatan tak bisa membereskan hidupnya sendiri (peran khas untuk De Niro), dia diejek dengan julukan Mad Dog oleh teman-temannya karena dia dikenal penakut dan tidak nekat (karakter yang tidak biasa untuk De Niro). Sementara itu, di malam hari Frank Milo adalah seorang komedian panggung yang cool dan bisa membuat segala sesuatu menjadi gurauan yang kocak (peran khas untuk Murray), di malam hari Frank adalah seorang gembong mafia yang tak pandang bulu, walau juga sangat cool (karakter yang tidak biasa untuk Murray). Suatu hari, tanpa sengaja Wayne menyelamatkan jiwa Frank yang sedang ditodong seorang perampok. Sebagai tanda terimakasih, Frank memberi Wayne hadiah yang berupa……seorang gadis pramusaji bernama Glory (Thurman), hadiah ini berstatus pinjaman selama satu pekan. Satu pekan belum habis, Mad Dog dan Glory telah saling jatuh cinta, Wayne tak mau mengembalikan Glory (maukah ANDA mengembalikan hadiah berupa Uma jika anda hidup sendiri seperti Wayne?), ini berarti dia harus berurusan dengan Frankie, berurusan dengan Frankie berarti membahayakan nyawa, dan bagaimana jadinya bila seorang penakut seperti Wayne berada dalam bahaya maut? Walaupun ditulis oleh Richard Price, disutradarai oleh McNaughton, dan diproduseri oleh Martin Scorsese, tiga orang spesialis realisme kelam, film ini adalah sebuah roman komedi ringan, walau tetap mengandung kegetiran. Cerita sempat terasa begitu lambat pada awalnya, kemudian mulai menghibur dan membuat penasaran di pertengahan, dan akhirnya tibalah kita pada ending yang konyol namun mengejutkan, dan terus terang saja, menyenangkan. Thurman agak hambar dalam beberapa adegan, namun De Niro dan Murray baik-baik saja, Caruso juga sangat memuaskan sebagai sahabat setia tempat mengadu Wayne. [R]
Maid, The ()-1990 / Ian Toynston / Martin Sheen, Jacqualine Bisset, Victoria Shalet, Jean Pierre Cassel, James Faulkner / (AS - PRANCIS) / [90 mnt] Wayne (Sheen), seorang pialang saham besar, merasakan kesendirian mulai menyiksanya. Di Prancis, dia menemukan wanita idealnya, Chantrell (Bisset), seorang orang tua tunggal dengan satu anak. Untuk mendekati Chantrell yang sibuk di bidang yang hampir sama dengannya, Wayne menyamar menjadi seorang pengurus rumah tangga dan pengurus anak sambilan dan bekerja pada wanita yang dikejarnya ini. Film yang cukup menghibur, namun akhir film sudah dapat kita capai ketika kita berada di tengah-tengahnya. [PG]
Maker, The (½)- 1996 / Tim Hunter / Jonathan Rhys - Meyers, Matthew Modine, Mary Louise Parker, Fairuza Balk, Michael Madsen, Kate McGregor - Stewart, Lawrence Pressman, Jeff Kober, Matthew David James, Marc Worden, Jesse Borrego / [92 mnt] Josh (Rhys - Meyers) adalah seorang pemuda yang tinggal bersama orang tua angkatnya. Sejak kecil, dia selalu dihantui oleh suatu mimpi buruk yang datang berulang-ulang. Pada ulang tahunnya yang kedelapanbelas, Josh dan orang tua angkatnya dikejutkan oleh kedatangan Mark (Modine), kakak Josh yang lama menghilang. Selain memberitahu Josh siapa mereka sebenarnya dan apa arti mimpi buruk Josh, Walter juga memperkenalkan Josh pada sebuah kehidupan yang penuh tipu daya dan penuh bahaya. Tidak ada yang istimewa, alur ceritanya berlubang-lubang dan mudah ditebak, dan digarap dengan penyutradaraan yang standar saja. Kebanyakan pemain bermain lumayan, namun karakter menarik yang dimainkan dengan sangat bagus oleh Balk sungguh tak jelas fungsi dan juntrungnya. Satu hal yang menarik perhatian adalah penulisan dialog-dialog yang stylish, baik ketika berbau puitis maupun ketika berbau humor spontan. [R]
Malcolm X (½)- 1992 / Spike Lee / Denzel Washington, Angela Basset, Albert Hall, Delroy Lindo, Al Freeman jr, Spike Lee, Theressa Randell, Kate Vernon, Lonette McKee, Tommy Hollis, Giancarlo Esposito, Craig Watson, John Ottavino, David Pattrick Kelly / [160 mnt] Untuk ukuran sebuah film biografi, karya Lee ini nyaris lengkap dalam menceritakan Malcolm X (Washington dengan akting luar biasa), seorang tokoh pemimpin pergerakan kulit hitam yang kontroversial, dimulai dari masa mudanya disaat dia terlibat dengan berbagai macam kejahatan, masa-masanya dipenjara, perkenalannya dengan agama Islam untuk kemudian memeluknya dan menyampaikan misi Black Moslem dengan menjadi lidah untuk Elijah Muhammad, putusnya hubungannya dengan Elijah yang membuatnya menjadi pemimpin pergerakan yang independen, sampai saat-saat penembakan yang menyebabkan kematiannya. Lee menyutradarai dengan kadar ketelitian yang tinggi atas seluruh aspek film yang bermodal skenario yang tetap terasa padat walau penuh detil ini, maka jadilah Malcolm X sebuah pertunjukan yang menghanyutkan dan tak pernah membuat durasinya (yang panjang itu) terasa panjang. Satu hal yang mungkin mengganggu sebagian kecil dari kita: seperti halnya kebanyakan film yang mewakili suara kelompok kulit hitam AS lainnya - sebagus/sejelek apapun film itu, Malcolm X mengandung bagian-bagian dengan sentimentalitas yang meledak-ledak, dan kadang mendayu-dayu. Mungkin itulah yang terasa agak melelahkan, bukan durasinya. Tapi, sekali lagi, hanya sebagian kecil saja yang akan terganggu dengan hal itu. [R]
Malice (½)- 1993 / Harold Becker / Bill Pullman, Alec Baldwin, Nicole Kidman, Bebe Neuwirth, Anne Bancroft, George C. Scott, Peter Gallagher, Joseph Sommer, Tobin Bell, Debrah Farentino, Gwyneth Paltrow / [119 mnt] Semula, pernikahan Andy (Pullman) dengan istrinya (Kidman) berjalan baik-baik saja, teror seorang pembunuh psikopat terhadap siswi-siswi di sekolah yang dipimpin Andy tidak banyak mempengaruhi perkawinan mereka. Namun semuanya berubah drastis sejak Jed (Baldwin), seorang ahli bedah baru, menjadi tetangga mereka, sepertinya tak akan ada lagi kebahagiaan untuk Andy. Ini adalah thriller yang menarik di awal, membingungkan di pertengahan, dan akhirnya menyebalkan menjelang akhir karena masalah-masalahnya masuk ke dalam cerita dengan cara yang sangat ajaib dan melupakan segala sesuatu tentang kewajaran. Semua adegan terealisasikan dengan baik dan ketiga pemeran utamanya, terutama Pullman, juga bermain baik, tanpa kedua hal itu, film ini akan sangat mengecewakan. Catatan kecil: Salah satu roket Hollywood sembilanpuluhan, Paltrow, hadir dalam satu sekuen sebagai murid Pullman, ini adalah film pertamanya. [R]
Malicious (½)- 1995 / Ian Colson / Molly Ringwald, Pattrick McGaw, Mimi Kuzyk, John Vernon, Sarah Lassez / [92 mnt] Seorang pemain baseball muda berbakat terlibat affair dengan seorang wanita misterius (Ringwald). Pemuda ini mencoba mengakhirinya dan kembali pada pacarnya (Kuzyk), namun tentu saja - dalam sebuah film seperti ini - Ringwald tak akan membiarkannya begitu saja dan berusaha sekeras tenaga untuk mengakhiri kebahagiaan Kuzyk. Sekeras apapun usaha semua pihak yang terlibat dalam film ini, klise tetap klise dan tak bertenaga. [R]
Mannequin Two: On the Move ()- 1991 / Stewart Raffill / Kristy Swanson, William Ragsdale, Meschach Taylor, Tery Kiser, Cynthia Harris / [95 mnt] Dengan berbagai cara, seorang putri Inggris kuno yang dikutuk menjadi patung lilin, dirubah lagi menjadi manusia di abad ke duapuluh. Kita tahu kalau “Mannequin” (1988) juga bukan film komedi yang bagus, tapi sequelnya ini tak terkatakan lagi jeleknya, para pembuatnya tidak melupakan apapun kecuali akal sehat. [PG]
Man on the Moon ()- 1999 / Milos Forman / Jim Carrey, Danny DeVito, Courtney Love, Paul Giamatti, George Shapiro, Tom Dreesen, Richard Belzer, Dr. Isadore Rosenfeld, Vincent Schiavelli / [118 mnt] Film ini mengikuti karir komedian cult Andy Kaufman (Carrey) sejak kecil sampai saat-saat kematiannya. Kaufman - seperti juga Carrey - bukan sosok yang bisa menyenangkan semua orang, namun dalam saat-saat terbaiknya dia bisa menarik perhatian jutaan orang. Forman membentuk Man on the Moon menjadi sebuah kolase peristiwa dalam gaya yang degan yang diterapkannya pada "People vs. Larry Flynt" (1996). Film ini menampilkan momen-momen paling kontroversial dalam karir Kaufman (pertandingan gulat melawan wanita, kehadiran tokoh Tony Clifton, kematian yang meragukan, dll.), Forman berhasil menjadikan semuanya kembali tajam. Carrey yang membawa semua beban ke layar, terbilang berhasil menghidupkan Kaufman, walau kita tak pernah bisa lupa bahwa itu adalah Jim Carrey. Konon, film ini mengandung beberapa ketidakakuratan fakta, tapi untuk kita orang Indonesia, kenapa harus perduli? [R]
Man without a Face, The ()- 1992 / Mel Gibson / Mel Gibson, Nick Stahl, Margarett Whiton, Fay Masterson, Gaby Hoffman, Geoffrey Lewis, Richard Masur, Michael de Luise, Jean de Baer, Ethan Philips / [114 mnt] Justin McLeod (Gibson) adalah seorang bekas guru berwajah rusak yang pernah dipenjara setelah seorang siswanya tewas dengan meninggalkan bukti bahwa McLeod telah melakukan pelecehan sexual tehadapnya. Setelah keluar dari penjara, ia membatasi hubungannya dengan orang lain, sampai dia bertemu dengan Chuck Norstad (Stahl), seorang anak berjiwa resah yang mempunyai ibu (Whitton) yang telah tiga kali menikah (dengan masing-masing satu anak dari setiap pernikahan). Chuck menemukan figur pembimbing sejati pada diri McLeod, dan McLeod juga menemukan seorang teman sejati pada diri Chuck. Film ini cukup untuk mejadi karya debut yang memuaskan dari Gibson, walau tidak semua seginya bagus. Lebih dari sekedar kisah persahabatan sepasang manusia kesepian, MWaF adalah film yang hangat sehingga ensemble akting yang tidak sempurna, editing yang tidak selalu enak dilihat, dan beberapa dramatisasi yang berlebihan atas beberapa adegan tidak menjadi masalah besar.
Mary Shelley’s Frankenstein (½)- 1994 / Kenneth Branagh / Kenneth Branagh, Robert De Niro, Helena Bonham Carter, Tom Hulce, Aidan Quinn, Ian Holm, John Cleese, Celia Imrie, Tevyn McDowell, Robert Hardy / (A.S - JEPANG - BRITANIA) / [123 mnt] Banyak orang mengeluh tentang kurangnya “getaran horor” yang diberikan film ini. Getaran apa yang mereka harapkan? Ala film horor expresionisme klasiknya Boris Karloff? Tanpa mengurangi kekaguman pada film buatan James Whale tahun 1931 itu, sebaiknya orang mengerti bahwa Branagh tidak bermaksud membuat yang seperti itu. Karya Ken ini memang sulit disebut sebagai sebuah film horor, namun jika kita masih mengharapkan sesuatu yang berbau gothic, inilah salah satu dari yang termegah dan terseru yang pernah dibuat, mempesona dari peristiwa ke peristiwa dan secara filmis nyaris tanpa cacat. Shakespeare selluloid pasca Laurence Olivier ini memberanikan diri memfilmkan kisah populer karya Mary Shelley tentang Victor Frankenstein dengan mencoba mendekati novel aslinya secara pisikal maupun kesan. Victor (tak usah lagi disebut siapa pemerannya) adalah dokter Swiss yang sangat membenci kematian dan terobsesi dengan penciptaan kehidupan baru hingga menciptakan sebuah/seorang biomonster (De Niro) yang akhirnya malah meneror hidupnya sendiri. Seperti biasa, gaya teater mempengaruhi karya Branagh dengan kuat, dan dia punya kecerdasan yang lebih dari cukup dalam hal memanfaatkan jiwa teaternya untuk kepentingan sinematografi. Film ini memang tidak bisa berbuat banyak dalam masalah logika ceritanya, namun siapa yang bisa? Penataan make up oleh Alan Parker menambah jatah pujian untuk film ini, De Niro hampir tak dapat dikenali, dan wajah aristokrat Carter berubah menjadi sejelek mungkin. Catatan: Francis Copolla adalah penggagas awal proyek ini, dia juga ikut memproduserinya. Uniknya, namun dapat dimengerti, orang selalu membanding-bandingkan mutu film ini dengan karya pribadi Copolla, “Bram Stoker's Dracula”. [R]
Mask, The ()- 1995 / Charles Russell / Jim Carrey, Peter Riegert, Peter Greene, Ami Yasbeck, Cameron Diaz, Peter Green, Nancy Fish, Ben Steion / [100 mnt] Stanley Ipkiss adalah seorang pegawai bank yang sulit sekali diandalkan dalam hal apapun, namun begitu dia menemukan sebuah topeng kuno, Ipkiss tak bisa dianggap enteng oleh siapapun! Hollywood kembali berpesta dengan film dengan biaya sebesar APBN sebuah negara di Afrika. Spesial efek, tata rias, dan wajah karet Carrey berpadu untuk menciptakan tontonan yang nyaris spektakuler. Alur ceritanya cukup kelam untuk bisa menjadi istimewa di tahun sembilanpuluhan, walau tentu saja jangan mengharapkan cerita yang terlalu seru. Bagaimanapun, film ini pantas disebut sebagai show terbaik Carrey dalam babak-babak awal kebintangannya (setidaknya dia sering memakai topeng sehingga ekspresi khasnya tidak terlalu sering terlihat menyebalkan). [PG-13]
Mask of Zorro, The (½)- 1998 / Martin Campbell / Antonio Banderas, Anthony Hopkins, Chaterine Zetta Jones,Stuart Wilson, Matthew Letscher, Maury Chaykin, Tony Amendola, Pedro Armendariz, L.Q. Jones, William Marquez, Jose Perez, Victor Rivers, Moises Suarez, Humberto Elizondo / (136 mnt) Hampir semua figur terkenal, dari Josef Stalin sampai Quasimodo, pernah difilmkan di tahun 90-an. Zorro jelas tak boleh terlewatkan. Ceritanya, eperti yang kita tahu, tentang masyarakat Alta, California, di tahun 1820-an yang memerlukan seseorang yang bisa membebaskan mereka dari himpitan kaum revolusioner Mexico dan imperialisme Spanyol. Harapan mereka adalah sebuah legenda berjuluk "Zorro", tetapi sang legenda, Don Diego de la Vega (Hopkins) berada di penjara. Beberapa tahun kemudian, muncul Zorro baru, muda dan sexy, dia adalah Alejandro Murietta (Banderas), siap beraksi membela yang lemah. Zorro versi baru ini tampil dengan polesan yang seharusnya untuk konsumsi sembilanpuluhan : eksotik, mewah, cute, dan punya selera humor yang tidak rummit. Semua suasana ditampilkan dengan begitu indah dan mencolok mata. Tony tua (dari Wales) dan Tony muda (asli bibit Spanyol) sama kharismatiknya, mereka menguasai film ini, sementara Zeta-Jones - campuran Wales dan Spanyol - memperindahnya dan namanya melambung cepat sekali. Tetapi film ini lambat sekali memulai hentakannya, dan setelah semuanya dimmulai, terasa seakan tak kunjung berakhir. [PG-13]
Matrix, The ()- 1999 / Larry Warchawski / Keanu Reeves, Laurence Fishburne, Carrie-Anne Moss, Joe Pantoliano, Hugo Weaving, Belinda Mcclory, Julian Arahanga, Marcus Chong, Robert Taylor, Matt Doran, Paul Goddard / (120 mnt) The Matrix mungkin adalah sci-fi Amerika dengan jalan cerita paling kompleks sejak "12 Monkeys" (1996). Tokoh utamanya adalah Neo (Reeves), seorang programer komputer, yang sadar bahwa hidupnya berada dalam dua dunia yang berbeda. Dunia keduanya adalah dunia yang sangat menarik dan membahayakan, dimana dia - yang berstatus sebagai "orang terpilih" - terus berada di bahwah kejaran. The Matrix adalah sebuah film dengan tampilan yang sangat fenomenal, salah satu yang paling fenomenal di zamannya, Warchowsky Bersaudara membuat kejutan dengan pameran sinematografi dan efek komputer grafis yang luar biasa memukau mata, kita tak akan pernah lupa bagaimana Neo menghindari peluru, sementara kita akan dengan cepat lupa siapa sebenarnya Neo dan apa urusannya dalam film ini. [R]
Men (½)- 1997 / Zoe Clark Williams / Sean Young, John Heard, Dylan Walsh, Richard Hillman, Karen Black, Shaine Conlon, Robert Lujon, Annie McEnroe, Keith Ordett, Glenn Shaddix, Shawnee Smith, Beau Starr / [mnt] Film ini adalah milik Stella James (Young), wanita yang sangat pandai memasak dan juga pandai merangkai petualangan seksual yang berisi hubungan-hubungan pendek dengan berbagai pria. Tapi suatu ketika, Stella disadarkan bahwa dia bukanlah manusia dengan cara berpikir paling liberal di dunia. Penyutradaraan yang lincah atas sebuah skenario bertempo cepat membuat film ini enak dilihat dan diikuti, namun beberapa bagian terbiarkan berlalu tanpa kesan begitu saja. Young mengeluarkan seluruh kemampuannya, cukup berhasil, namun peran Stella begitu luas dan berliku, tak semua bisa ditangani aktris sekelas dia.[R]
Menace II Society ()- 1993 / Allen Hughes, Albert Hughes / Tyrin Turner, Larenz Tate, Jada Pinkett, Vonte Sweet, Ryan Williams, MC.Eiht, Too $hort, Samuel L.Jackson / [97 mnt] Cerita kelam tentang kehidupan anak-anak muda kulit hitam dari sebuah ghetto ini mempunyai tokoh utama bernama Caine (Turner), seorang pemuda yang tidak banyak berpikir terlalu berat serta kelihatan tidak begitu sadar bahwa dirinya sedang berada di antara segala macam kesulitan hidup. Dalam tradisi “Boyz N the Hood”, MIIS adalah satu dari sekian banyak film sembilanpuluhan yang dibuat oleh dan tentang warga Afro-America, dan seperti sebagian besar yang lainnya, film ini juga tidak mengecewakan. Lebih brutal dari kebanyakan film bertema sama, juga lebih hidup, bahkan lebih tajam dibanding “BNtH”, namun masih tidak mampu berjalan di luar rel lama yang penuh sentimentalisme dan seolah-olah tidak bisa dicari gantinya. [PG]
Men at Work (½)- 1990 / Emilio Estevez / Emilio Estevez, Charlie Sheen, Leslie Hope, Keith David, Dean Cameron, Cameron Dye, John Getz / [99 mnt] Film ini boleh disebut cukup lucu, Estevez dan Sheen berurusan sepanjang film dengan sesosok mayat, tapi apa hubungannya dengan Weekend At Bernie’s? (Kenapa tidak pakai Tery Kiser saja sebagai mayatnya?) [PG-13]
Men in Thights (½)- 1993 / Mel Brooks / Cary Elwess, Richard Lewis, Roger Rees, Amy Yasbeck, David Chapelle, Mark Blankfield, Tracey Ullman, Mel Brooks, Erik Kramer, Megan Cavanagh, Isaac Hayes / [102 mnt] / (( Robin Hood: Men in Thights )) Brooks belum merasa terlalu renta untuk membuat film parodi, kali ini “Robin Hood Prince of Thieves” dan Erol Flynn yang jadi korban. Brooks memelesetkannya dengan tak tanggung-tanggung hingga hampir setiap adegan potensial untuk mengundang tawa. Elwes menjadi daya tarik utama lewat keberhasilannya mempermainkan sosok Robin Hood dan - tentu saja - Flynn dan Costner. [PG-13]
Merlin ()- 1998 / Stephen Gerren / Sam Neill, Miranda Richardson, Isabella Rosellini, Helena Bonham Carter, Martin Short, James Earl Jones, Rutger Hauer, John Gielgud / (BRITANIA) / [133 mnt] (Film Televisi) / Berpuluh kisah bercerita tentang Camelot, kebanyakan terfokus pada kisah cinta segitiga Arthur-Guinevere-Lancelot, namun yang satu ini mencoba membungkus ceritanya dengan kisah hidup Merlin, penyihir bijak yang tak pernah melihat impiannya terwujud sempurna. Dengan gaya dongeng komikal bertempo cepat, film ini menceritakan legenda Camelot dengan hampir lengkap mulai dari awal cita-cita Ratu Mapp sampai serongnya Guinevere dan naik tahtanya Galahad, semua ditampilkan dengan penitikberatan pada kejaiban-keajaiban visual yang mewakil sisi “dunia dongeng” film ini. Walau tidak ada yang terlalu istimewa, film ini cukup enak ditonton tanpa pretensi apapun. Spesial efek dan deretan pemain pendukungnya mungkin membuatnya menjadi salah satu film televisi termewah yang pernah dibuat untuk stasiun televisi non-Amerika. [PG]
Message in a Bottle ()- 1999 / Luis Mandoki / Kevin Costner, Robin Wright, Paul Newman, John Savage, Illeana Douglas, Robbie Cotrane, Jesse James, Bethel Leslie, Tom Aldredge, Viveka Davis, Raphael Sbarge, Richard Hamilton / (132 min) Theresa (Wright), seorang wartawati Chicago Tribune, suatu hari menemukan sebuah botol di pantai, botol itu ternyata berisi sebuah surat yang sangat indah dari seorang lelaki berinisial “G” untuk istrinya yang telah meninggal. Theresa sangat terpikat oleh keindahan surat itu, dan dengan memanfaatkan profesi dan koneksinya sebagai wartawan, dia berhasil menemukan “G”, yang ternyata adalah seorang pria pelaut bernama Garret Blake (Costner). Theresa kemudian menemui Garret yang tinggal bersama ayahnya (Newman). Mereka jatuh cinta dengan segala permasalahannya, Garret juga tidak sadar bahwa Theresa tahu tentang surat itu, demikianlah singkat cerita. Pada kenyataannya tak ada sesuatupun yang disampaikan dengan singkat dalam film ini, dengan materi yang tak terlalu rumit, adaptasi novel Nicholas Sparks ini disampaikan dengan sangat melelahkan dan tidak efektif. Bahkan kesimpulan akhirnya yang seharusnya menyentuh pun terasa sangat tawar karena kita telah terlalu lelah untuk sampai kesana. Kharisma ketiga pemeran utamanya sangat berperan untuk membuat kita tidak pergi sebelum film berakhir.[PG13] Messenger: The Story of Joan of Arc, The ()- 1999 / Luc Besson / Milla Jovovich, Dustin Hoffman, Faye Dunaway, John Malkovich, Tcheky Karyo, Pascal Greggory, Vincent Cassel, Richard Ridings, Desmond Harrington, Timothy West, Rab Affleck / (PRANCIS) / [148 mnt] Jeanne d’Arc bangkit dua kali di akhir millenium ini, sekali di televisi, dan sekali di layar lebar. Versi Besson ini adalah versi yang lebih sinematik, puitis, brutal, dan depresif. Joan tergambar di sini sebagai gadis pendendam yang irasional, peragu sekaligus nekat, dan akhirnya layak dipertanyakan dan dikasihani. Campuran selera mainstream Hollywood dan selera post-modern Prancis yang dimiliki Besson memungkinkan film ini mempunyai beberapa sentuhan yang sangat liar untuk ukuran biografi tokoh legendaris. Di latar depan, Jovovich bermain lumayan dalam peran dramatik pertamanya, walau kita boleh tetap yakin bahwa dia tak mungkin dipercaya untuk peran ini kalau saja sutradaranya bukan Besson, suaminya (dan dia memang ditolak oleh Katherine Bigelow yang tadinya hendak menyutradarai film ini). Untuk anda yang menginginkan tontonan heroik yang mengharukan, kami sarankan anda menonton “Joan of Arc” (1998), versi televisi yang disutradai Christian Duguay dan dibintangi Leelee Sobieski. [R]
Michael Collins () – 1996 / Neil Jordan / Liam Neeson, Aidan Quinn, Stephen Rea, Alan Rickman, Julia Roberts, Charles Dance, Ian Hart, Sean McGinley, Gary Whelan, Frank O'Sullivan, Frank Laverty, Owen O'Neill, Stuart Graham, Brendan Gleeson, Gerard McSorley, Ian McElhinney, Aisling O'Sullivan, Paraic Breathnach, Jonathan Rhys Myers / (AMERIKA SERIKAT – BRITANIA) / (117 mnt) / Siapa tokoh politik yang paling dikagumi Jordan? Melihat caranya bercerita dalam film ini, jawaban yang paling mungkin adalah Michael Collins. Film ini dengan penuh semangat menceritakan usaha Collins (Neeson) dan rekan-rekannya untuk mendirikan Republik Irlandia yang merdeka. Tokoh-tokoh seperti Eamonn de Valera (Rickman) ditampilkan dalam warna tidak seterang Collins. Jordan membuat filmnya dengan gaya pop yang penuh adegan sensasional, juga dengan bumbu roman segitiga Collins-Boland (Quinn)-Julie (Roberts). Collins - dalam kaca mata lain - adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam pertikaian abadi yang terjadi di Irlandia Utara sampai saat ini, Jordan juga tak menutup mata terhadap pendapat itu, dia bahkan menunjukkan - dari apa yang dilakukan - Collins, bahwa pendapat seperti itu memang rasional. Tapi paling tidak Jordan tetap mencoba mengatakan bahwa apapun yang terjadi kemudian, Collins adalah pahlawan yang tak pernah bermaksud menciptakan kekacauan. Film ini cukup ringkas dan efektif untuk menyampaikan setiap maksud Jordan, juga selalu enak dipandang. Pemilihan Neeson - yang tak mirip Michael Collins barang sedikit - sebagai pemeran utama adalah trik lain Jordan, hanya Neeson aktor Irlandia yang bisa memancarkan kharisma besar dalam tokoh yang dimainkannya. [R]
Mickey Blue Eyes (½) - 1999 / Kelly Makin / Hugh Grant, James Caan, Jeanne Tripplehorn, Burt Young, James Fox, Joe Viterelli, Gerry Becker, Maddie Corman, Tony Darrow, Paul Lazar, Vincent Pastore, Frank Pellegrino, Scott Thompson, John Ventimiglia / (103 min) Michael Felgate (Frant) adalah seorang pria asal Inggris yang tinggal di Manhattan sebagai seorang pengusaha muda yang sukses di bidang jual beli barang-barang seni langka. Michael jatuh cinta pada seorang wanita berdarah Italia, Gina (Tripplehorn). Gina membalas cintanya, namun menolak lamaran Michael. Penolakan itu ternyata adalah salah satu bukti cinta Gina, karena ternyata ayahnya, Frank (Caan), adalah seorang boss mafia yang berkali-kali membawa kesialan bagi bekas-bekas pacar Gina. Namun ternyata kali ini Frank menyukai pacar Gina, tapi itu bukan berarti tidak ada masalah bagi Michael, dia harus mengikuti gaya hidup mafia dan bahkan sempat harus menyamar sebagai seorang mafioso kejam yang dipanggil Mickey Blue Eyes. Hugh Grant bermain dalam sebuah film tentang gangster? Ya, tapi tak ada kejutan, ini adalah sebuah komedi romantis dan bukan lanjutan “Goodfellas”, Grant tetap Prince Charming yang pandai menempatkan diri dalam suasana lucu. Walau suasana segar cukup mudah didapat di dalamnya, tidak banyak sisi istimewa yang dimiliki film yang diproduseri Elizabeth Hurley ini, apalagi waktu kehadirannya begitu berdekatan dengan “Analyze This”, roman komedi tentang mafioso lain yang sialnya lebih inovatif dan berisi daripada MBE. [PG-13]
Midnight Clear, A (½)- 1990 / Keith Gordon / Ethan Hawke, Arye Gross, Gary Sinise, Frank Whaley, John McGinley, Kevin Dillon, Larry Joshua, Curt Lowens / [107 mnt] Pada musim dingin 1943, sebuah regu tentara Amerika dalam PD II yang terdiri dari remaja-remaja beritelegensia tinggi namun tak pernah sungguh-sungguh terlatih untuk menjadi tentara, ditugaskan di perbatasan Prancis-Jerman untuk mengawasi pergerakan tentara Jerman, yang ternyata beranggotakan beberapa tentara remaja seperti mereka, akhirnya banyak hal yang berjalan di luar rencana siapapun. Ini adalah sebuah drama yang nyaris sempurna dalam segala hal, hanya keberadaan beberapa scene yang terlalu panjang yang boleh disebut pengganggu kecil-kecilan. Semua aktor utama bermain bagus, tanpa kecuali. Film ini memang tak memberikan real fun bagi penggemar film perang standar, namun film ini memberikan real life. [PG]
Midnight in the Garden of Good and Evil ()- 1997 / Clint Eastwood / Kevin Spacey, John Cusack, Jack Thompson, Jude Law, The Lady Chablis, Alison Eastwood, Irma P. Hall, Paul Hipp, Dorothy Loudon, Anne Haney, Kim Hunter, Geoffrey Lewis, Richard Herd, Leon Rippy, Bob Gunton, Michael O'Hagan / (155 mnt) Kelso (Cusack) menghadiri pesta natal kelas atas di rumah Jim Williams (Spacey). Dalam pesta itu, Williams meledak dengan menembak pasangan gaynya, Bill (Law). Suasana tidak benar-benar menjadi heboh dengan peristiwa itu, orang-orang eksentrik terus berkumpul untuk menjalani kejadian-kejadian yang juga eksentrik. Pemandangan yang menarik selalu coba ditampilkan di depan mata pemirsa, namun kebosanan tampil lebih dulu karena tempo yang sangat lambat dan nada yang tak pernah berubah. [R]
Mighty Aphrodite, The (½)- 1995 / Woody Allen / Woody Allen, Mira Sorvino, Helena Bonham Carter, Michael Rappaport, F. Murray Abraham, Olympia Dukakis, Peter Weller, Claire Bloom, David Odgen Stiers, Jack Warden / [93 mnt] Allen bermain sebagai Lennie, seorang laki-laki yang terobsesi untuk mencari ibu kandung dari anak adopsinya yang cerdas. Setelah menemukan sang ibu (Sorvino), seorang pelacur dan bintang film porno, Lennie terobsesi pula untuk memperbaiki hidup wanita muda yang lugu itu. Inilah komedi mutakhir ala Allen, kali ini hanya sampai kelas menengah. MA masih sesegar kebanyakan film-filmnya, namun sama sekali tak punya sisi yang monumental seperti karya-karya tujuhpuluhan atau delapanpuluhannya. Selain pertanda semakin tertariknya Allen pada film musikal, untuk sebagian penggemar film, MA mungkin memberi isyarat bahwa gaya komedi romantis yang eksentrik ala Allen harus bersiap untuk tidak lagi menjadi karya yang "seperti apapun filmnya pasti hebat, yang penting buatan Allen". Sembilanpuluhan ditandai dengan sambutan yang manis untuk beberapa raja muda, dan beberapa raja lama boleh menunggu waktu untuk menghilang, tapi kita harus yakin bahwa untuk Allen waktunya masih belum tiba. [PG-13]
* Academy Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Sorvino), Golden Globe: Aktris Pendukung Terbaik (Sorvino)
Minus Man (½)- 1999 / Francis Hampton / Owen Wilson, Janeane Garofalo, Brian Cox, Mercedes Ruehl, Dwight Yoakam, Dennis Haysbert, Sheryl Crow, Eric Mabius, Larry Miller, Lois Gerace, Alex Warren, Brent Briscoe / (115 mnt) Vann Siegler (Wilson) selintas terkesan sebagai seorang pria petualang yang sopan dan tak mungkin berbuat keji. Namun sejak kita memergoki dia meracun seorang wanita pemabuk (Crow), kita mulai mengenalnya bahwa Vann adalah pembunuh yang membunuh ketika dia ingin membunuh. Kita tidak tahu kemana dia hendak pergi, Vann seakan hanya mengikuti langkahnya sampai dia terhenti di sebuah kota kecil. Di sana dia menyewa kamar di rumah keluarga Dean (Cox dan Ruehl). Vann akhirnya benar-benar tinggal di kota itu, dia bekerja sebagai petugas kantor pos dan berkenalan dengan Ferrin (Garofalo). Dalam masa-masa ini, tentu racun Vann memakan beberapa orang korban. Vann memiliki satu aturan dalam aksinya : tidak pernah membunuh orang yang tinggal satu kota dengannya. Tetapi aturan itu tak bisa selalu dipegangnya, suatu ketika Vann tak bisa menahan diri melanggarnya. Minus Man adalah film yang sangat sunyi dan dingin di mana tak seorang pun berteriak dan berlari-lari, gaya seperti ini menghadirkan sosok Vann dengan lebih jelas, sekaligus lebih samar. Kita tak pernah benar-benar tahu dia, apa maksudnya, dan apa yang sesungguhnya diinginkannya, film ini tentu tak tertarik untuk menerangkannya. Lalu apa intinya? Entahlah. [R]
Mirage ()- 1996 / Paul Williams / Edward James Olmos, Sean Young, James Andronica / [99 mnt] Olmos adalah seorang bekas polisi yang diminta untuk menjaga dan mengawasi seorang wanita cantik (Young), masalahnya adalah si wanita mengidap kepribadian bertumpuk (multiple personality). Tapi betulkah begitu? Atau ada masalah yang lebih besar daripada itu? Mirage sebetulnya mempunyai cerita yang berpotensi untuk dijadikan film yang bagus, namun penggalian dan penggarapannya tidak bisa dipercaya. Kadang cerita film ini mempunyai bagian yang menarik, namun lebih sering menunjukan bahwa film ini sedang kehabisan akal. Olmos tak berkesempatan untuk berbuat banyak daam menyiasati peran jagoan bermasalahnya yang diciptakan dengan sangat klise dan dangkal, sementara Young memainkan karakter yang nyaris tak mungkin dimainkan dan dia juga memang pada dasarnya bermain buruk. [R]
Misery (½)- 1990 / Rob Reiner / James Caan, Kathy Bates, Richard Farnsworth, Frances Sternhagen, Lauren Bacall / [107 m] Cerita film ini diambil dari novel laris Stephen King tentang seorang penulis, Paul Sheldon (dimainkan dengan cukup baik oleh Caan), yang mengalami “kecelakaan” mobil dan “diselamatkan” oleh Amy (Bates), seorang suster berkelainan jiwa. Amy kemudian menyandera Paul dan memaksa pengarang itu, dengan kekerasan, untuk membuat sebuah novel berdasarkan jalan cerita yang diinginkan Amy. Tanpa pernah membaca novel psiko Stephen King pun, kita akan dapat merasakan bahwa Reiner kurang mendalam dalam menggambarkan latar belakang karakter kejiwaan Amy dan hubungan Amy dengan Paul. Untung masih ada Bates yang mampu menutupi hampir seluruh kekurangan yang dimiliki Misery Akting monumentalnya jauh lebih baik dari film ini sendiri. [R]
* Academy Awards: Aktris Utama Terbaik (Bates), Golden Globe: Aktris Utama Terbaik (Bates)
Mr.Saturday Night (½)- 1992 / Billy Crystal / Billy Crystal, David Paymer, Julie Warner, Helen Hunt, Mary Mara, Jerry Orbach, Ron Silver, Sage Allen, Jackie Gayle, Carl Balantine, Slappy White, Conrad Janis, Jerry Lewis / [118 mnt] Crystal menyutradarai dirinya sendiri sebagai Buddy Young jr, seorang komedian yang mempunyai rentang waktu karir yang sangat panjang. Namun dia bukanlah orang yang selalu sukses, lebih dari itu, dia juga bukan orang yang sangat simpatik. Selama hidupnya dia dengan sadar atau tidak sadar menyengsarakan saudaranya sendiri (Paymer) dan puluhan orang lain yang berarti untuk karirnya, tanpa bisa banyak memberi balasan yang setimpal untuk mereka. Film ini sangat biasa, secara keseluruhan tak ada yang istimewa, penuh dengan romantisme dan ironisme yang dipaksakan khas drama biografis Hollywood. Hal yang mungkin patut mendapat pujian adalah permainan Paymer yang boleh dibilang sempurna. Sementara itu, kita akan sulit sekali “menyetujui” secara keseluruhan cara Crystal menerjemahkan perannya, hingga kadang aktingnya terasa hebat, namun tidak jarang juga terasa tidak pada tempatnya. Karena kita sudah tanggung membandingkan Paymer dan Crystal, perhatikanlah, betapa anehnya pekerjaan penata rias, mereka menuakan wajah Paymer dengan baik sementara wajah tua Crystal justru kelihatan seperti belum selesai. [R]
Monument Avenue (½)- 1999 / Ted Demme / Dennis Leary, Colm Meaney, Famke Jansen, Martin Sheen, Jason Barry, Billy Crudup, John Diehl, Greg Dulli, Jeanne Tripplehorn, Roland Emmerich, Ian Hart, Mike Armstrong / [100 mnt] / Leary dan Hart adalah anggota sebuah gang Irlandia di New York yang sedang mendapat kunjungan dari Barry, saudara muda Leary dari Irlandia. Mereka selalu hidup di bawah tekanan Meaney, gembong yang sangat ditakuti di daerah itu. Barry yang pada dasarnya tidak tahu apa-apa harus ikut merasakan semua kekerasan ini. Sheen mengambil peran di pinggir cerita sebagai seorang polisi yang sangat gamang dalam mengawasi keadaan di daerah itu. Demme – sepupu Jonathan – membawakan cerita ala “State of Grace” ini dengan dinamis dan meyakinkan, suasana dibangun dengan menarik sejak awal, namun semua pemirsa akan sulit terpuaskan oleh bagian akhirnya. [R]
Monsoon (½)- 1998 / Jag Mundhra / Richard Tyson, Matt McCoy, Jenny McShane, Goulsham Gonver, Hellen Brodie, Doug Jesaj, P. Dilip Ray, Ajay Mehta, Ahsuni Chopra / Tragedi cinta terlarang yang malu-malu di India atau dimana saja di Asia Tengah berakhir di mercu suar atau tempat apapun yang menjulang tinggi paralel dengan perjalanan pasangan kulit putih ke tempat terjadinya tragedi itu di masa lalu. Semoga anda faham. [90 mnt]
Moonlight and Valentino (½)- 1995 / David Anspaugh / Elizabeth Perkins, Whoopi Goldberg, Kathleen Turner, Gwyneth Paltrow, Jon Bon Jovi, Josef Sommer, Jeremy Sisto / [104 mnt] Dalam film yang cukup manis dan romantis ini, Perkins mencoba untuk tidak larut dalam kesedihan setelah suaminya meninggal lewat kecelakaan yang mengejutkan. Kejadian ini mendekatkannya - dengan dampak baik atau buruk - dengan ibu tirinya (Turner), adiknya yang eksentrik (Paltrow), dan temannya yang lebih unik lagi (khas peran Goldberg). Bon Jovi bermain sebagai seorang tukang cat yang hadir untuk beberapa hari di sela-sela empat sudut ini. Film ini sebetulnya tak punya banyak cacat, cerita mengalir lancar dan cerdas, para pemain bermain baik - terutama Paltrow, namun sudut pandangnya begitu tega menyederhanakan sisi-sisi rumit dari kehidupan, dan, ingat, makanan berkadar gula tinggi bisa menyebabkan diabetes atau paling tidak sakit gigi. [R]
Motel Blue (½)- 1997 / Sam Firstenberg / Sean Young, Soleil Moon Frye, Robert Vaughn, Rob Stewart, Berry Sattels, Spencer Rochfort, Malcolm Yates, Sal Landi, James Michael Tyler, Elizabeth Giordano, Lou Rawls, Seymour Cassel, John LaMotta,Jay Rasumny, Jeanette O'Conner / (96 mnt) Kesulitan pertama yang kita dapat: mempercayai casting gadis imut Frye sebagai seorang detektif. Kyle Rivers (Frye) ditugaskan untuk memata-matai wanita jet-set misterius Lana Hawking (Young). Tetapi Rivers tak bisa menahan kharisma Hawking yang malah membuatnya terlibat langsung dalam kasus yang seharusnya dimata-matainya. Lesu dan eksploitatif, lengkap dengan ending yang sangat buruk. [R]
Mortal Thoughts (½)- 1991 / Alan Rudolph / Demi Moore, Glenne Headly, Bruce Willis, Harvey Keitel, John Pankow, Billy Neal / [104 mnt] Moore bermain sebagai Cynthia Kellog diinterograsi oleh dua orang detektif (Keitel dan Pankow) berkaitan dengan terbunuhnya seorang pria bernama James Urbanski (Willis). Kemudian kita dibawa melalui kilas balik ke kehidupan Cynthia sebelumnya. Cynthia bertetangga dengan keluarga Urbanski, James dan Joyce (Headley). Cynthia sangat bersahabat dengan Joyce, hingga dia tahu bagaimana kejam dan busuknya James sebagai seorang suami, Cynthia juga tahu bahwa Joyce pernah berencana membunuh James. Kematian James sendiri terjadi di sebuah pasar malam, siapa pembunuhnya? Rudolph dengan dan penulis skenario Claude Kerven-William Rilley dengan cermat menempatkan mana keterangan yang harus muncul cepat dan mana yang tidak, ini sempat membuat kita terus tertarik dan tak henti menduga-duga. Ketiga pemain utama juga bermain baik. Namun apa artinya semua itu ketika di akhir film kebenaran disingkap dengan dengan cara yang hampir bisa dibilang menyia-nyiakan seluruh waktu kita? MT adalah film yang sempat membuat penonton tertarik sebelum akhirnya menggerutu sebal. [R]
Mother’s Boy (½)- 1994 / Yves Simoneau / Peter Gallagher, Jamie Lee Curtis, Joanne Whaley Kilmer, Luke Edwards, Vanessa Redgrave, Collin Ward, Joey Zimmerman / [95 mnt] Jamie Lee berperan sebagai seorang wanita yang meneror bekas suaminya, Brad (Gallagher), dan calon istri baru Brad (Whaley-Kilmer). Dia juga berusaha merebut hati anak yang ditinggalkannya ketika kecil (Edwards) dengan berbagai cara. Ide yang tidak terlalu baru, tapi bukan itu masalah yang membuat film ini pantas dilewatkan. Skenarionya mentah, ketegangannya klise, aktor dan aktrisnya bermain di bawah standar (Jamie Lee benar-benar kacau dan Redgrave tersia-siakan), secara keseluruhan: tidak menarik. [R]
Mrs. Doubtfire ()- 1993 / Chris Colombus / Robin Williams, Sally Field, Pierce Brosnan, Harvey Fierstein, Polly Holliday, Lisa Jakub, Mitchell Lawrence, Mara Wilson, Anne Haney / [125 mnt] Setelah bercerai dengan istrinya (Field), Daniel Hullard (Williams), seorang suami dengan kelakuan yang cukup kacau untuk dibawa ke pengadilan, gagal mendapatkan hak yang memuaskan untuk menemui ketiga anaknya sesering mungkin. Dengan kreativitas luar biasa, Hullard menyamar sebagai seorang wanita tua Inggris bernama Evgeunia Doubtfire untuk bisa bekerja sebagai pengasuh rumah tangga di rumah istrinya. Salah satu kerja terbaik Colombus ini menumpukan hampir seluruh daya tariknya pada penampilan Mrs. Doubtfire, tingkah lakunya sangat menarik (dalam pengertian yang paling sederhana), dan penampilan pisiknya diciptakan dengan tata rias yang hampir sempurna. Williams, seperti bisa diduga sebelumnya, bermain hampir tak bercela, bahkan kemampuan Daniel Hullard meniru wanita sampai semirip itu rasanya tidak masuk akal. Harus diakui bahwa kadang-kadang film ini terasa terlalu manis seperti kebanyakan komedi keluarga Hollywood, karakterisasinya tak ada yang benar-benar matang, jalan ceritanya tak memberikan banyak penggalian, tidak juga penuh kejutan, namun gayanya yang tidak eksploitatif dan tidak over-confident, baik dalam bergurau maupun dalam berkhotbah moral, membuatnya lebih menyenangkan daripada yang diharapkan. [PG-13]
* Golden Globe: Film Terbaik Komedi/Musikal, Aktor Terbaik Komedi/Musikal (Williams)
Mulholland Falls ()- 1996 / Joe Tomaheri / Nick Nolte, Melanie Griffith, Chazz Palminteri, Michael Madsen, Chris Penn, Treat Williams, Jennifer Connelly, Daniel Baldwin, Andrew McCarthy, John Malkovich, Bruce Dern, Ed Lauter, Rob Lowe, Richard Sylbert / [107 mnt] Nolte bermain sebagai seorang detektif polisi yang bertugas mengungkap kematian seorang wanita cantik (Connelly). Ini membawanya berurusan dengan U.S Army, gangster besar, dan masa lalunya yang ternyata sangat berhubungan dengan si wanita. Aliran film terjaga dengan baik, skenario Nicholas St. John mendukung dengan hal itu, dan penyutradaraan Tomaheri berhasil menjaga kemenarikannya. Sepintas, pengaruh “Chinatown” (1974) terasa begitu besar, tapi dengan setting seperti ini, apa ada jalan keluar? Semua pemain bermain dengan baik, terutama Malkovich. Bicara tentang pemain, rasanya baru kemarin kita mengenal Connelly sebagai model ABG cantik dengan wajah teduh dan senyum yang lugu, kini dia telah menjadi sex-spot dalam film ini, masih cantik, namun dengan penampilan yang tidak teduh dan lingkar dada yang tidak lugu. [R]
Mummy, The (½)- 1999 / Stephen Sommers / Brendan Fraser, Rachel Weisz, John Hannah, Kevin J. O'Connor, Arnold Vosloo, Jonathan Hyde, Oded Fehr, Omid Djalili, Erick Avari, Aharon Ipale, Patricia Velasquez, Carl Chase / (120 mnt) Pemmbuatan ulang dari film klasik berjudul sama ini menampilkan petualangan ala Indiana Jones oleh seorang Amerika tampan (Fraser) dan gadis Inggris cantik (Weisz). Mereka mencari sebuah kota legenda di Mesir, banyak sembali hambatan yang mereka temui. Bad guy yang sesungguhnya dari film ini adalah sang mummi Imhotep (Vosloo) yang hidup dan menjelma menjadi sebuah monster tanpa belas kasihan. Spesial efeknya lumayan dan selera humornya cukup mengejutkan, namun materi ceritanya yang sangat tipis ditampilkan dalam berbagai kebertele-telean yang tak bisa disebut perlu. [PG-13]
Murder in New Hampshire: The Pamela Smart Story ()- 1991 / Joyce Chopra / Helen Hunt, Chad Allen, Lary Drake, Henry Hesseman / [95 mnt] (Film Televisi) Dengan menggunakan tangan pacarnya yang masih remaja (Allen), Pamela Hart (Hunt) tega menghabisi nyawa suaminya. Film dimulai dengan suasana persidangan Hart yang dilanjutkan dengan kilas balik pada kejadian-kejadian sebelumnya, kita menyangka akan terjadi kejutan dalam cerita dan......ternyata tidak ada. Walaupun film ini berhasil mengecewakan penonton, Hunt adalah seorang bintang yang selalu memuaskan, dia tidak ikut berperan dalam aksi mengecewakan yang dilakukan film ini. [R]
Murder in the First (½)- 1994 / Marc Rocco / Christian Slater, Kevin Bacon, Gary Oldman, Embeth Davidtz, Brad Douriff, Stephen Tobolowsky, William H. Macy, R.Lee Ermey, Kyra Sedgwick, Mia Kirshner, Stefan Gierasch / [123 mnt] Hanya karena uang US$5 yang dicurinya untuk memberi makan adiknya, Henry Young (Bacon) harus mengalami penderitaan tak yang tak tanggung-tanggung di Alcatraz, di sana dia membunuh seorang narapidana lain, dan penderitaannyapun semakin bertambah, sampai seorang pengacara tak berpengalaman (Slater) bersedia membantunya dan menjadi temannya dalam sebuah pekerjaan besar: menuntut Alcatraz ke pengadilan! Rocco – dengan ciri khas kamera yang tak mau diam (kali ini ditangani dengan sangat ekspresif oleh Fred Murphy) - sangat berhasil dalam memberikan nuansa getir pada skenario Dan Gordon yang panjang lebar. Slater bermain memuaskan walau terlalu “culun” untuk perannya, Oldman dengan mudah memainkan seorang sipir yang kejam, dan Sedgwick mencuri perhatian dalam sekelumit penampilannya. Sementara itu, Bacon memainkan peran yang sangat sulit (atau dia sendiri yang mempersulitnya?), dia sering kehilangan konsistensi dalam memainkannya, kadang begitu memukau namun kadang juga tidak meyakinkan, hingga dia bisa saja dianggap biang keladi mulai melemahnya daya tarik film ini menjelang akhir. [R]
Murder of Crows, A (½) - 1999 / Rowdy Herrington / Tom Berenger, Cuba Gooding Jr, Marianne Jean-Baptiste, Ashley Laurence, Mark Pellegrino, Eric Stoltz, Doug Wert / (102 mnt) Lawson Russell (Gooding) adalah seorang pengacara yang punya reputasi lumayan bersih di bidangnya. Namun, Russell tak bisa menahan nafsunya ketika sebuah naskah buku yang belum sempat dipublikasikan berada di tangannya, sementara penulisnya mmeninggal. Russell akhirnya menerbitkannya atas namanya dan memperoleh keterkenalan baru sebagai penulis buku. Lalu muncul tokoh Berenger yang sepertinya tahu banyak tentang hal ini. Film ini menampilkan sebuah dongeng moral yang dilematis, unik, dan menarik, namun disimpulkan dengan adegan-adegan akhir yang sangat klise dan tidak relevan dengan keintelekan yang ditunjukannya di awal. [R]
Muriel's Wedding (½) - 1995 / P.J. Hogan / Toni Collette, Bill Hunter, Rachel Griffiths, Jeane Drynan, Gennie Nevinson, Matt Day, Daniel Lapaine, Sophie Lee, Belina Jarrett, Rosalind Hammond, Pippa Grandison, Chris Haywood, Daniel Wyllie, Gabby Millgate, Katie Sauders, Dene Kermond / {AUSTRALIA} (105 mnt) / Salah satu komedi roman terbaik akhir abad ini menampilkan Muriel Heslop, seorang gadis dengan kelebihan berat badan dan tingkah laku yang tidak manis yang dijauhi gadis-gadis sebayanya dan dicap tidak berguna oleh keluarganya. Tak banyak orang tahu, sesungguhnya Muriel adalah seorang gadis yang penuh cita-cita dan penuh obsesi, maka ketika kesempatan mendekatinya, dia segera memanfaatkannya, Muriel mengubah namanya dan mengubah hidupnya. Film ini kemudian mengikuti liku-liku perjalanan Muriel dalam rangkaian komedi dan tragedi yang satiris, penuh lonjakan, dan kejadian yang “tidak semestinya terjadi”. Muriel’s Wedding, salah satu simbol sukses ekspor film Australia, adalah sebuah petualangan yang dibuat dengan nyaris sempurna oleh Hogan. Skenarionya sesungguhnya hanya mengandalkan kemungkinan-kemungkinan dalam kehidupan seorang gadis obsesif seperti Muriel dengan latar tokoh-tokoh pendukung yang terlalu banyak berbuat kesalahan, namun Hogan berhasil membuat film ini mempunyai gaya tersendiri walau gaya itu jauh dari indah. Collette adalah pesona lain, tak banyak aktris yang pernah bermain sebagus ini dalam film seperti ini, sosok Murielnya akan berhasil melekat di ingatan setiap pemirsa. Selain membawa Hogan dan Collette ke Hollywood, film ini juga berandil besar dalam membangkitkan hit-hit ABBA dari kubur, lagu-lagu grup pop Swedia akhir 70-an awal 80-an ini terdengar di sepanjang film dan meledak lagi di dunia, semua karena Muriel yang bermimpi menjadi The Dancing Queen. [R]
Music from Another Room ()- 1998 / Charles Petis / Jude Law, Jennifer Tilly, Gretchen Mol, Martha Plimpton, Brenda Blethyn, John Tenney, Jeremy Piven, Jane Adams, Vincent Laresca, Bruce Jarchow, Kevin Kilner, Jan Rubes, Judith Malina / [mnt] Ketika berusia lima tahun, Danny (Law) menjadi pahlawan dalam proses kelahiran Anna (Mol). Duapuluh tahun kemudian, Danny yang baru pulang dari Inggris tergila-gila pada Anna, tanpa perduli bahwa Anna sudah bertunangan dengan pacarnya. Film ini mungkin sama dengan roman-roman komedi lain sezamannya yang bisa mengakibatkan diabetes mental akibat kadar gula yang sangat tinggi dalam ceritanya dan ketergantungannya pada insiden-insiden kebetulan yang luar biasa (lengkap dengan ending yang norak!). Namun, percayalah, yang satu ini mempunyai beberapa sisi yang bisa menarik penonton paling sinis sekalipun, penciptaan karakter-karakter eksentrik dalam keluarga Anna (yang dua kakak perempuannya bernama Karen dan Nina, ingat Tolstoy), dan berbagai ornamen lain membuatnya sedikit lebih berkesan dari film sejenisnya, Petis memanfaatkan tokoh-tokoh ini – juga tokoh Danny – untuk menyampaikan dialog-dialog yang cukup menarik. Law bermain bagus sebagai sang tokoh utama, juga Blethyn sebagai ibu Anna, namun Piven dan terutama Adams selalu mencuri perhatian setiap kali mereka tampil bersama di layar sebagai pasangan suami istri yang sangat bermasalah. Pesan khusus untuk penonton yang suka mencari cacat sebuah film : rasakan bahwa editing film ini sangat jauh dari sempurna. [R]
My Best Friend’s Wedding (½)- 1997 / P.J.Hogan / Julia Roberts, Dermott Mulroney, Cameron Diaz, Rupert Everett, Philip Bosco, M.Emmet Walsh, Rachel Griffith, Carrie Preston, Susan Sullivan / [mnt] Ini adalah salah satu yang pertama dan paling berhasil, namun sayangnya bukan yang terbaik, dari banjir hit komedi romantis dalam dekade terakhir abad ini. Roberts harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mantan kekasih yang masih dicintainya, Mulroney, hendak melangsungkan perkawinan dengan Diaz. Film ini tidak berakhir dengan Roberts berhasil memisahkan Diaz dengan Mulroney, tapi tenanglah, film seperti ini tak akan berani mengambil resiko ending yang membuat penonton terpana lesu! Nama Hogan yang pernah mencetak hit Australia “Muriel’s Wedding” (jadi ini adalah pernikahan keduanya) mungkin menjanjikan sesuatu, namun film ini hanya untuk anda yang jatuh cinta pada “There is Something about Mary” atau sejenisnya, untuk yang tidak, beberapa suasana dan dialog yang menarik serta permainan bagus Roberts dan Everett, sebagai seorang gay, bisa cukup untuk menjadi kompensasi. [R]
My Giant ()- 1998 / Michael Lehmann / Billy Crystal, Kathleen Quinlan, Gheorghe Muresan, Joanna Pacula, Zane Carney, Rider Strong, Steven Seagal, Harold Gould, Doris Roberts, Phil Sterling, Heather Thomas / (103 min) Komedi sentimentil ini menceritakan persahabatan tak sengaja antara Sammmy Kanin (Crystal), seorang pemandu bakat di bidang hiburan, dengan pemuda Rumania bertinggi badan 232 cm, Max (diperankan pebola basket NBA asal Rumania, Muresan). Semula sosok Max hanya mencuatkan naluri bisnis Sammy, namun kepribadian Max menyimpan sesuatu yang bisa membuat setiap orang - termasuk seorang oportunis seperti Sammy - berbuat baik dan tulus padanya. Tak ada yang istimewa dari film yang menyederhanakan semua masalah ini, namun beberapa bagiannya berhasil menyentuh secara alami. Muresan mungkin bisa dibilang tidak sungguh-sungguh bisa berakting, tetapi dengan sekedar tampil di layar dan mengatakan hal-hal yang baik, secara agak ajaib dia otomatis menarik simpati kita. [PG]
My Name is Joe ()- 1999 / Ken Loach / Peter Mullan, Louise Goodall, David McKay, Anne Marie Kenneddy, David Hayman, Gary Lewis, Lorraine McIntosh, Scott Hannah, David Peacock, Gordon McMurray, James McHendry / (JERMAN – BRITANIA – PRANCIS – ITALIA - SPANYOL}/ [99 mnt] / Semoga anda belum bosan : Joe Kavanaugh (Mullan) adalah seorang penganggur Skotland yang mempunyai kemampuan memimpin dan melindungi teman. Loach menjadikan film ini sebagai lukisan hari-hari keras Joe, terutama hubungan dengan pacarnya, Sarah (Goodall), yang bekerja di sebuah posyandu, dan dengan teman yang selalu dilindunginya, Liam (McKay). Liam dan istrinya yang pecandu, Sabine (Keneddy), selalu hidup dibawah tekanan gang pimpinan McGowan (Hayman). Joe melakukan apa saja untuk pasangan ini, dan keharuan yang mengejutkan tercipta ketika Liam membuktikan bahwa dia pun mau berbuat apa saja untuk membalas budi pada Joe. Realisme getir dan humor yang mengalir adalah andalan Loach untuk cerita seperti ini. Balada si Joe ini walau tak kalah tajam, dan bahkan mendapat pengakuan lebih dari khalayak, rasanya masih kalah gigitan dari karya sejenis Loach terdahulu "Riff Raff" yang lebih segar dan intim. Bagaimanapun MniJ masih menarik untuk diikuti, apalagi dengan akting kuat yang sangat simpatik dari Mullan yang didukung oleh para pendukungnya.
* Cannes: Aktor Terbaik (Mullan)
My New Gun (½)- 1992 / Stacy Cochran / Diane Lane, James LeGros, Stephen Collins, Tess Harper, Bruce Altman, Bill Raymond / [99 mnt] Gerald (Collins) membelikan istrinya, Debbie (Lane), sebuah pistol, sayang Debbie tidak terlalu suka. dan menganggap pistol bukanlah barang yang menyenangkan untuk disimpan di rumah. Kekhawatiran Debbie ternyata ada benarnya, apalagi setelah keterlibatan seorang tetangga misterius bernama Skippy (LeGros, bintang yang sesungguhnya dalam film ini, anda pasti suka aktingnya!) dan ibunya (Harper), pistol itu semakin menjadi masalah. Cerita tentang “pistol baruku” mengalir ke mana-mana, satu kejadian menyebabkan kejadian lain yang tidak diduga, namun film yang begitu menarik di bagian awal ini mulai kehilangan gigitannya sejak pertengahan sehinga kesan akhirnya hambar-hambar saja walau mencoba menampilkan ending yang riuh rendah. Tidak istimewa, namun karya debut wanita muda ini cukup mendapat perhatian dunia film Amerika dan Eropa. [R]
* Cannes: Film Debut Terbaik
Mystery of Rampo, The (½)- 1995 / Kazuyoshi Okuyama / Naoto Takenaka, Michiko Hada, Atsuo Konji / (JEPANG) {Bahasa Jepang} / [100 mnt] Rampo adalah seorang pengarang misteri yang novel terakhirnya dicekal pemerintah karena alasan moral. Tak lama dari saat itu, Rampo menemukan seorang wanita yang sangat mirip dengan tokoh utama dalam novelnya itu, dan, lebih luar biasa lagi, wanita itu juga mempunyai kisah hidup yang nyaris sama dengan tokoh itu! Maka mulailah kenyataan menjadi paralel dan bertumpuk dengan dunia khayal dalam film yang diciptakan lewat sinematografi teknik tinggi yang dipadukan dengan beberapa animasi yang lincah. Masalah utama : kisah yang dibungkusnya sangat arogan, superfisial, dan sulit dijadikan hiburan yang mengasyikan. Catatan : Film ini semula disutradarai oleh Rentaro Mayuzumi, namun Okuyama – yang semula bertindak sebagai produser – merasa tidak puas dengan hasilnya. Dia lalu memecat Mayuzumi, mengambil alih kursi sutradara, dan menyisakan sekitar 30% adegan saja dari versi Mayuzumi, sisanya reshot!
My Teacher’s Wife (½)-1998 / Bruce Leddy / Jason London, Tia Carrere, Christopher McDonald, Jeffrey Tambor, Zak Orth, Alexondra Lee, Leslie Lyle, Phyllis Yvonne Stickney / London merasa salah satu gurunya (McDonald ) menjadi penghambat utamanya masuk ke universitas terpandang. Tetapi istri sang guru begitu sexy. Lalu harus bagaimana? Tak begitu sulit diduga. Eksploitasi bertopeng film tentang anak muda ini sesungguhnya tak begitu jelek, namun cara pemberian dimensi moral para tokohnya membuatnya menjadi sangat naif dan cukup menyebalkan. [90 mnt]



N


Nang Nak ()- 1999 / Nonzee Nimibutr / Intira Jaroenpura, Winai Kraibutr / {THAILAND} / [Bahasa Thai] / [111 mnt] Kisah Nang Nak konon diambil dari sebuah legenda tentang kesetiaan seorang istri. Nak (Jaroenpura) sedang mengandung ketika dia tewas dalam penantian terhadap suaminya (Kraibutr). Ketika sang suami pulang, dia merasa Nak masih menyambutnya, namun penduduk setempat gempar karena menganggap laki-laki itu tinggal dengan hantu. Arwah nak merasa tersinggung dan mmulai gentayangan meneror penduduk. Penyutradaraan bergaya "sekolahan" ala Nimibutr pada setengah bagian awal sempat mempesona kita dan membuat kita memaafkan apapun yang tidak berkenan, namun lama kelamaan kekuatannya tak mammpu lagi menyembunyikan sebuah materi cerita dan gaya bertutur yang sangat naif dan terlalu sering kita temukan pada film-film horor Indonesia tahun delapapuluhan. Nimibutr sendiri, yang tampak masih dalam tahap berkembang, sangat berpotensi menjadi pembuat film yang baik, dia hanya butuh waktu dan skenario yang lebih mendukung.
Naked (½)- 1993 / Mike Leigh / David Thewlis, Lesley Sharp, Katrin Cartlidge, Greg Crutwell, Claire Skinner, Peter Wright, Ewen Bremmer, Susan Vider / (BRITANIA) / (131 mnt) / Inilah karya esensial Leigh dalam menyoroti zaman dan lingkungannya. Johnny (Thewlis), pria pengangguran dari Manchester, datang tiba-tiba ke flat bekas pacaranya, Louise (Sharpe), di London. Johnny sempat menggoda teman seflat Louise, Sophie (Cartlidge), sebelum akhirnya pergi dan menjadi liar di jalanan London, bertemu dengan berbagai karakter frustrasi, berdebat dengan mereka semua, menciptakan sebuah perjalanan yang hampir merangkum semua permasalahan sosial yang mendominasi keruwetan Inggris di awal sembilanpuluhan. Leigh seakan tak mau menyisakan apapun yang dia rasa harus dikomentari, dia memanfaatkan tokoh Johnny dan tokoh-tokoh lainnya untuk menciptakan diskusi-diskusi yang tajam dan sering brutal. Kita dipaksa untuk terhenyak melihatnya, menyadari bahwa mereka membawa berbagai problem universal manusia yang terjebak dalam perjuangan kelasnya. Setelah melewati pertengahan, memang terasa bahwa Leigh kurang mampu menahan diri sehingga film ini menjadi sedikit terlalu panjang. Thewlis menyumbangkan seluruh energinya untuk film ini dalam sebuah penampilan yang meledak-ledak setengah gila, semua pemain lain mau tak mau harus mengimbanginya dengan energi penuh. [R]
* Cannes: Sutradara Terbaik (Leigh), Aktor Terbaik (Thewlis), Independent Spirits Awards : Film Asing Terbaik
Naked in New York (½)- 1993 / Dan Algrant / Eric Stoltz, Mary Louise Parker, Ralph Macchio, Jill Clayburgh, Tony Curtis, Kathleen Turner, Timothy Dalton, Lynne Thigpen, Roscoe Lee Browne / (118 mnt) / Film ini berporos pada Jake Briggs (Stoltz), seorang penulis naskah drama muda yang mencoba mencari keberhasilan di New York. Dia harus menjaga semua kepentingan agar tetap seimbang, tentu dengan menempatkan pacarnya, Joanne White (Parker), seorang fotografer yang juga sedang menapak keberhasilan, sebagai salah satu prioritas utama. Bisakah Jake? Itulah pertanyaan utama yang harus dijawab komedi romantis yang sangat intelek ini. Untuk keberhasilannya mengembangkan pokok pikiran yang sangat sederhana, Algrant patut dipuji, namun ketika kadang pengembangannya itu berlebihan dan bertele-tele, kita patut kesal padanya. Stoltz dan Parker sangat ideal untuk peran mereka. Sementara Turner menggebrak dalam sebuah penampilan yang sangat singkat. Film ini juga menampilkan banyak sekali cameo, diantaranya William Styron, Eric Bogosian, Whoopi Goldberg (sebagai patung topeng di dinding yang bisa bicara), Quentin Crisp, Marsha Norman, Ariel Dorfman, dan Richard Price. [R]
Naked Lunch ()- 1991 / David Cronenberg / Peter Weller, Judy Davis, Julian Sands, Ian Holm, Roy Scheider, Monique Mercure, Nicholas Campbell, Michael Zelniker, Robert Silverman, Joseph Scorsiani / (KANADA - BRITANIA) / [115 mnt] Ingin menonton film awal sembilanpuluhan yang “tidak biasa”? Ini adalah pilihan yang tepat. Novel sakau William Burroughs dari tahun limapuluhan diangkat ke film oleh Cronenberg (betapa cocoknya kombinasi ini!) ke layar perak tanpa banyak kompromi dengan kenormalan. William Lee (Weller) adalah seorang pembunuh serangga dengan gaya hidup dan lingkungan yang sudah tidak wajar. Begitu dia secara tidak sengaja membunuh istrinya (Davis yang bermain gila-gilaan), maka dia pun memulai sebuah petualangan antara halusinasi yang parah dan kenyataan di alam aneh Interzone yang mengambil tempat di…..entahlah, anggap saja itu Tangier, Sahara.. Tak ada yang 100% bisa difahami dalam petualangannya ini, Lee bertemu orang-orang aneh (kalau tidak salah mengerti, kita juga bisa bertemu wakil Beat Generation seperti Jack Kerouac, teman Burroughs yang konon menyaksikan penulisan novel “Naked Lunch” oleh Burroughs dalam keadaan sama-sama mabuk) dan kejadian-kejadian yang sangat aneh pula. Kita mungkin agak kesal karena reaksi Lee pada rangkaian kejadian itu jauh lebih santai daripada keterperangahan kita melihat mesin tik berbentuk serangga yang berbicara, makhluk aneh berair, dan berbagai kegilaan lain. Penggemar Cronenberg dan penggemar Beat Generation akan melalap film ini dengan rakus sambil menepuk-nepuk perut kekenyangan lalu menontonnya berpuluh-puluh kali lagi, namun pemirsa yang sebelumnya tidak pernah menikmati karya kedua orang “sakit” itu hanya akan mendapatkan kebingungan yang tak terselesaikan. Bagaimanapun, selain keasliannya, keapikan efek visual dan modeling film ini akan diakui oleh siapapun. [R]
Naked Man ()- 1998 / J. Todd Anderson / Michael Rappaport, Rachael Leigh Cook, Arija Bereikis, Joe Grifasi, John Slattery, John Caroll Lynch, Michael Jeter, Jay Albright, George R. Willeman / [93 mnt] / Naked Man adalah nama yang dipakai Edward Blessed jr. – seorang dokter ahli pemijatan – dalam karir keduanya : pegulat profesional. Dia tidak mau mengikuti jejak ayahnya sebagai ahli obat-obatan, sehingga Ed senior dan Ed junior berseteru selama bertahun-tahun. Ketika keduanya hendak memulai hubungan ayah anak yang mesra lagi, sebuah tragedi besar menimpa mereka dan mulailah dendam mewarnai film yang penuh warna ini. Setelah tahu bahwa film ini diproduseri oleh Ethan Coen yang juga menulis ceritanya, nama Anderson – sang sutradara - mungkin tak berarti lagi kalau anda penggemar The Coens. Kenyataannya film ini memang bisa disangka karya santai Joel Coen, banyak sekali gaya visual film ini yang bisa membuat orang berpikir begitu, walau garis besar cerita dan karakterisasinya malah lebih mirip film-film “deadpan noir” buatan Hal Hartley. Tawa untuk humor dinginnya dan kekaguman untuk kelincahan visualnya pantas dialamatkan untuk film ini, namun sesuatu yang lebih berkesan tak muncul setelah itu (walau mungkin saja malamnya anda bermimpi bertemu Naked Man). Rappaport dengan akting dingin-dingin cuweknya berhasil menguasai film ini, Grifasi memainkan detektif yang kesepian dengan gaya yang tepat, Slatery lumayan gila sebagai si kerdil yang kejam, dan Cook tampil sekilas dan menggemaskan sebagai punker/gadis H.D yang brokenhome dan brokenhearted. [R]
Nasty Girl, The (½)- 1990 / Michael Verhoeven / Lena Stolze, Monika Baumgartner, Michael Gahr, Fred Stillkrauth, Elisabeth Bertram, Robert Giggenbach / (JERMAN) {Bahasa Jerman} / [93 mnt] / (( Das Schrekliche Mädchen )) Komedi tragis dan tajam dari Baeyern ini memaparkan kisah Sonya Rosenberger-Wesmug (Stolze), seorang wanita masa kini yang mencoba mengungkap kisah lama kotanya pada masa Nazi dan masa pendudukan Jerman oleh Sekutu (Third Reich). Semula dia melakukan itu untuk mengikuti sebuah perlombaan menulis essay, namun kemudian dia benar-benar terobsesi untuk membuka kemisteriusan masa lalu kotanya - “komitmen sosial”, menurut suaminya (Gahr). Selama itu dia mendapat dukungan, tantangan, bahkan teror dari berbagai pihak. Dengan tema yang demikian serius, film ini tetap terasa ringan dan lancar berkat keliaran penggarapan Verhoeven yang sering kali sangat humoris. Sisa-sisa simbolisme-impressionisme Jerman dapat terasa dalam caranya menciptakan adegan-adegan yang memadukan situasi aktual film dengan latar tempelan yang bisa berfungsi sebagai aksesoris untuk memperindah gambar sekaligus mengendalikan sisi emosional film. Stolze (memerankan Sonya dalam berbagai usia, dari gadis dua belas tahun sampai wanita dewasa tigapuluhan) bermain brilian dalam setiap bagian. Penataan musik yang ekspresif juga membuat film ini semakin bagus. [PG-13]
National Lampoon’s Loaded Weapon I (½)- 1993 / Joel Quintano / Emilio Estevez, Samuel L. Jackson, Jon Lovitz, Tim Curry, Kathy Ireland, William Shatner, Frank McRae, F Murray Abraham Dennis Leary, Charlie Sheen, Corey Feldman / [83 mnt] Orang-orang sedang keranjingan membuat film parodi. Kali ini mereka mempelesetkan beberapa film-film terkenal, dari “Lethal Weapon” sampai “Basic Instinct”. Dekade 90-an adalah dekade plesetan, dan yang satu ini tidak termasuk dalam golongan yang menarik. Catatan kecil: Walau memakai angka I di belakang judul, film ini -syukurlah - tak pernah punya sequel. [PG-13]
Natural Born Killers ()- 1995 / Oliver Stone / Woody Harrelson, Juliette Lewis, Tom Sizemore, Robert Downey,jr., Tommy Lee Jones, Ashley Judd, Russel Means, Rodney Dangerfield, Rachel Ticotin, Dennis Leary, Balthazar Getty, Pruitt Taylor Vince, Arliss Howard, Richard Lineback, Marshall Bell, Dale Dye, Jarred Harris, James Gammon /[119 mnt] Hardcore! Inilah salah satu film paling eksplosif dalam dekade ini, disebut-sebut sebagai yang paling amoral, dan film ini juga dipastikan menjadi film dengan angka kematian tertinggi dalam setengah pertama dekade ini, dekade kejayaan film-film berdarah. NBK mengejek heroisme dan kekerasan dalam perfilman Hollywood, dan Hollywood pasti belum pernah melihat film seperti ini. Namun, lebih dari itu, Stone tampaknya bermaksud untuk menyadarkan orang Amerika – dan dunia – bahwa para pelaku kekerasan telah diizinkan untuk dengan mudah menjadi figur-figur yang populer, dan betapa besarnya peranan media dalam hal itu. Kisahnya tentang Mick dan Mallory (Harrelson dan Lewis) sepasang kekasih psikopatik dari keluarga kacau yang kemudian menjadi sepasang pembunuh massal yang beraksi secara brutal dalam pelarian hingga mereka terkenal ke seluruh dunia. Penggemar David Lynch dan orang yang langsung terkesan pada karya-karya Tarantino (Tepat! Cerita asli film ini adalah karangannya) - dan penonton yang tak punya kegemaran sama sekali, pasti akan lebih mudah menikmati NBK daripada orang-orang yang hanya menyukai Stone lewat trilogi Vietnamnya (pasangan yang sangat aneh, Stone sang pencinta perdamaian dan Tarantino si pemuja pameran darah). Stone menampilkan realisme dan absurditas dengan sama kerasnya sampai pada titik kemungkinan mereka, film ini juga mungkin bisa disebut film mayor Hollywood dengan gaya visualisasi paling liar sepanjang zaman. Sekuen lolosnya Mick dan Mallory dari penjara adalah puncak hiruk pikuk film yang memang tak pernah tidak ricuh ini. Beberapa di antara puluhan comotan footage yang bertebaran dimana-mana sering mengganggu di kala kebanyakan hadir tanpa berpengaruh apa-apa pada pemahaman penonton terhadap film dan keinginan Stone, sementara sebagian lainnya berhasil mewakili kehebatan imajinasi puitis Stone, itupun sering mengingatkan kita pada tampilan “The Doors” yang dibuatnya sebelum ini. Soundtrack yang gemuruh (di antaranya milik L7, Nine Inch Nails, dan….Nusrat Fateh Ali Khan!) turut membuat film menjadi lebih sangar. Jangan menontonnya dengan pembacaan yang terlalu tematis, dan jika sudah terlanjur, cepat-cepat lupakan dunia horor romantis seperti ini. [R]
Nell ()- 1994 / Michael Apted / Jodie Foster, Liam Neeson, Natasha Richardson, Richard Libertini, Nick Searcy, Jeremy Davies, O’Neall Compton / [113 mnt] Nell (Foster) adalah seorang gadis hutan, yang sampai usianya yang ke tigapuluh, hanya mengenal dua orang lain dalam hidupnya: ibunya yang menderita stroke dan saudara kembarnya yang mati muda. Terbatasnya dunia Nell membuat pertumbuhan psikologis dan kemampuan berbahasanya menjadi ganjil. Setelah ibunya meninggal, Nell benar-benar hidup sendiri. Hal ini sangat menarik perhatian dr.Lovell dan dr.Olsen (dimainkan oleh suami istri Neeson - Richardson, dua orang non-Amerika bermain sebagai pasangan yang sangat Amerika), mereka berniat menyelidiki sekaligus melindungi Nell. Namun tentu saja hal ini mendapat banyak hambatan dari pihak lain yang justru mengganggu Nell yang dianggap makhluk aneh. Skenario dan penyutradaraan Apted memang kadang-kadang terjebak dalam dramatisasi yang tak perlu, bahkan tak masuk akal, namun sosok Nell berhasil ditampilkan dengan intensif sebagai simbol dari hasil peradaban yang “berbeda”. Foster (yang juga bertindak sebagai produser eksekutif) memang tidak harus melakukan observasi nyata terhadap karakter seperti ini, dia bisa menciptakan sosok Nell dengan bebas, namun bagaiamapun master muda ini kembali berkesempatan penuh untuk mendemonstrasikan kemampuannya yang memang di atas rata-rata. [R]
* SAG Awards: Aktris Terbaik (Foster)
Nevada (½)- 1998 / Gary Tieche / Amy Brenneman, Kristie Alley, Gabrielle Anwar, Saffron Burrows, Angus McFayden, Kathy Najmy, Dee Wallace Stone, James Wilder, Bridgette Wilson, Garret Henson, Ben Browder, David Damstraedter, Keith Anthony Bennet / [107 mnt] Christy (Brenneman) tersesat di sebuah kota kecil di tengah gurun Nevada, hampir semua pengisi kota itu adalah wanita. Tentu Christy tidak bisa akrab dengan semua orang di kota ini, dia memang mendapat cukup banyak sahabat, namun tak kurang yang mencurigainya, termasuk sheriff kopta itu (Alley). Nevada tentu bermaksud untuk menjadi sebuah film bersemangat feminisme, namun yang berhasil ditampilkan adalah gaya lain dari film eksploitasi. Wajah-wajah cantik di tengah gurun tak menimbulkan efek apa-apa kecuali kebosanan dan sedikit rasa sebal. Satu-satunya aspek yang pantas dipuji dari film ini adalah sinematografi Nancy Schreibber, walau dalam beberapa bagian itu juga sangat mendukung kemesumannya yang genit sekaligus sok serius. "Even Cowgirls Get the Blues" (1993) adalah contoh utama film yang gagal mengartikan kata "sisterhood", tetapi paling tidak film itu memang murni mencoba begenit-genit tidak sok serius seperti Nevada. Catatan kecil : Brenneman, Alley, Anwar berada dalam barisan produser film ini, alasan lain untuk menjadi narsis. [R]
New Age, The (½)- 1997 / Michael Tolkin / Peter Weller, Judy Davis, Pat Bauchau, Rachel Rosenthal, Adam West, Paula Marshall, Bruce Ramsay, Tanya Prohlkote, Susan Traylor, Patricia Werton, John Diehl, Samuel Miller, Audra Lindley, Samuel L. Jackson, Corbin Bernsen, Kimberley Cates / [110 mnt] Cerita khas frustrasi modernisme dan krisis spiritualisme ala Tolkin kali ini menceritakan pasangan Witner (Weller dan Davis) yang berada di ambang perceraian. Beragam bisnis, kegiatan spiritual, dan juga petualangan selingkuh mereka jalani untuk mencegah atau mempercepat perpisahan itu. Kita tidak begitu yakin kemana Tolkin mau melangkah, dia mengumbar satir dalam wacana depresi yang sangat khas, namun dampaknya terhadap sisi dramatik film kecil sekali. Penyutradaraannya memang lumayan penuh gaya dan pasangan Weller-Davis bermain penuh gairah dalam duet neurotik kedua mereka setelah "Naked Lunch". [R]
New Jersey Drive (½)- 1995 / Nick Gomez / Sharron Corley, Gabriel Casseus, Saul Stein, Gwen McGee, Adrian Moore, Arabella Field / [95 mnt] Film ini hanyalah film lain tentang kehidupan remaja kulit hitam Amerika, kali ini tentang kebiasaan melarikan mobil orang lain yang diambil dari jalanan bukan dengan maksud untuk dimiliki. Tokoh utama film ini adalah Jason Petty (Corley, konon kadang hidup seperti Petty) yang pernah sangat terlibat dalam kebiasaan itu, dia selalu dibayangi oleh Roscoe (Stein), seorang polisi yang mencoba menanganinya. Jangan mengharapkan sesuatu yang sangat baru dalam film seperti ini, selain andaikan karakter Roscoe diberi dimensi yang lebih manusiawi, film ini akan pantas mendapat nilai lebih jika dibuat tiga atau dua tahun lebih awal. [R]
New Rose Hotel ()- 1999 / Abel Ferrara / Christopher Walken, Willem Dafoe, Asia Argento, Yoshitaka Amano, Annabella Sciorra, Gretchen Mol / [92 mnt] / Di awal abad XXI, Fox (Walken) yang misterius bertekad untuk menggaet dan menjatuhkan jenius cyber Hiroshi (Amano) yang juga tak kalah misteriusnya. Fox – dengan bermodal jasa masa lalu – meminta kesediaan teman lama, X (Dafoe), untuk “meminjamkan” Sandii (Argento) sebagai alat perayu dan perusak Hiroshi. Rangkaian peristiwa kemudian menjadi mudah diduga, kecuali endingnya yang cukup di luar dugaan (dan mungkin juga agak membingungkan). Bicara tentang ending, ini mungkin satu dari sedikit sekali film Ferrara yang mempunyai akhir yang agak happy, namun di luar itu, NRH tetap sesuram film-filmnya yang lain: alurnya gelap, semua tokohnya tampil penuh misteri, visualisasinya jauh dari cerah, dan film ini juga cenderung klaustropobik, tak lebih dari tiga adegannya yang beranjak keluar pintu ruangan. Dafoe tampil intens dalam jenis peran kesukaannya, Argento - yang konon termasuk wanita terseksi Eropa dalam generasinya - memang sangat menggoda, sementara itu kalau anda bisa teliti, Walken akan terlihat sangat tidak imajinatif dan seperti bermain dengan playback peran-perannya terdahulu. [R]
Night and the City (½)- 1992 / Irwin Winkler / Robert De Niro, Jessica Lange, Cliff Gorman, Alan King, Jack Warden, Elli Wallach, Bary Primus, Pedro Sanchez / [98 mnt] Kisah yang sebelumnya pernah difilmkan tahun enampuluhan ini bercerita tentang seorang “pengusaha” serabutan (De Niro) yang berusaha menjadi promotor sebuah pertarungan tinju, inilah yang menyeretnya ke dalam kesulitan-kesulitan besar yang sebetulnya tak usah menjadi urusannya. Sebuah karya yang sangat biasa dari Winkler dan penulis skenario Richard Price (keduanya adalah rekan setim Martin Scorsese untuk waktu yang cukup lama, maka gaya film ini tak jauh dengan gaya jalanan dan pencarian pengampunan nurani ala Scorsese), walau penggambaran detil adegan dan basa-basinya cukup memikat. Akting gemilang De Niro, Lange, dan Gorman pun tak mampu mengangkat mutu film lebih dari lumayan. [R]
Night at Roxburry, A ()- 1999 / John Fortenberry / Chris Kattan, William Ferrell, Dan Hedaya, Molly Shannon, Richard Grieco, Loni Anderson, Elisa Donovan, Gigi Rice, Lochlyn Munroe, Wayne Rickman, Meredith Lynn Scott, Colin Quinn / [ 76 mnt] / Kakak beradik Kattan dan Ferrel sangat ingin menikmati suasana malam di klub, mereka siap melakukan apa saja. Kami tidak akan sampai menyebutnya "film komedi yang kehilangan kepala", Fortenberry, Kattan, dan Ferrell (mungkin juga Amy Heckerling sebgai produser eksekutif) hanya salah dalam mengartikan kata "lucu". Tetapi mereka masih berbaik hati dengan membuat film ini begitu pendek. [PG-13]
Night Eyes II (½)- 1992 / Rodney McDonald / Andrew Stevens, Shannon Tweed, Tim Russ, Rick Chavez / [97 mnt] Selain ditandai dengan banyaknya film-film parodi, awal sembilanpuluhan juga ditandai dengan menjamurnya thriller-thriller sex. Ini adalah salah satunya. Ceritanya tentang seorang penjaga malam (Stevens) yang bertugas menjaga istri seorang gubernur (Tweed, Playmate of The Year majalah Playboy tahun 1984). Adanya beberapa sekuen yang secara rasional cukup menegangkan menyelamatkan film ini dari katagori . [R]
Night Flier ()- 1998 / Mark Pavia / Miguel Ferrer, Julie Entwisle, Dan Monahan, Michael Moss / [90 mnt] P. [R]
Nightscare ()- 1996 / Vadim Jean / Craig Fairbrass, Elizabeth Hurley, Keith Allen, Anita Dobson, Jerry Burnsall, Annette Badland / (BRITANIA) / [93 mnt] Dr.Lyell (Hurley) melakukan riset sambil mencoba keampuhan obatnya pada seorang psikopat berbahaya bernama Gillmore (Allen), namun ternyata pengaruh obat ini bisa memberi kekuatan pada Gillmore untuk mengendalikan fantasi orang lain, atau begitulah kira-kira, karena sejak pertengahan film ini mulai menarik, membingungkan, sekaligus menyebalkan, puluhan tokoh aneh dan kejadian aneh mucul tanpa perduli bahwa lama-lama kita bosan dengan hal itu. Kadang kita berpikir bahwa penulis skenario dan sutradara film ini cukup kreatif, namun kadang kita merasa bahwa mereka adalah orang yang sangat sok, genit, dan terlalu sering menonton film horor psikologis yang bagus. Pendek kata, film ini tidak memuaskan dalam segi apapun. Akting jelek Fairbrass dan, ah, Sweet Lizzy semakin mengurangi nilai film ini. [R]
Nikita (lihat: La Femme Nikita)
Nil by Mouth (½)- 1997 / Gary Oldman / Charlie Creed Miles, Ray Winstone, Kathy Burke, Enda Dore, Laila Morse, Chrissie Cotterill, Jamie Foreman, Jon Morrison, Steve Sweeney / (BRITANIA) / [133 mnt] {Hitam Putih} Oldman mengumpulkan kenangan masa mudanya dan menjadikannya sebuah karya debut yang berkekuatan hampir ajaib. Fiksi yang ketat dan ultra-realis ini menyoroti dengan sangat intim kehidupan yang dijalani sekelompok masyarakat kelas menengah ke bawah di London Selatan dengan segala problem khasnya yang tak pernah jauh dari perselisihan antar orang-orang dekat. Sulit mencari film semenyengat dan senyata ini, dengan tampilan visual yang kasar (seperti juga dialek lokal yang digunakan dialognya), film ini membungkus adegan-adegan yang sangat alami, NbM menjadi benda tajam yang sangat istimewa, apalagi untuk seorang sutradara debutan seperti Oldman. Tim pemainnya bermain luar biasa, terutama Winstone dan Burke sebagai sepasang suami istri yang menjalani kehidupan rumah tangga dengan komunikasi yang sangat buruk. Dua hal yang boleh disayangkan : film seperti ini rasanya akan lebih hebat jika tidak sampai melewati dua jam begini, dan penataan musik yang ngeblues oleh Eric Clapton sering tidak efektif walau tidak mengganggu. [R]
* Cannes: Skenario Asli Terbaik (Oldman), Aktris Terbaik (Burke)
Nina Takes a Lover (½)- 1995 / Alan Jacobs / Laura San Giacomo, Paul Rhys, Michael O’Keefe, Cristi Conaway, Fisher Stevens / [100 mnt] Cerita ini disampaikan secara kilas balik dari penuturan Nina (San Giacomo) pada seorang wartawan (O’Keefe). Nina adalah seorang wanita yang sangat mencintai suaminya dengan cara yang sangat sederhana. Nina telah terbiasa berada jauh dari suaminya yang selalu pergi untuk keperluan bisnis, namun ketika mendengar cerita seorang temannya (Conaway), yang juga telah menikah, tentang betapa mudahnya melakukan penyelewengan dengan laki-laki lain, Nina mulai bertanya kembali pada dirinya sendiri tentang pemahamannya akan arti cinta dan kesetiaan. Kemudian, munculah tokoh baru, seorang fotografer muda dari Wales (Rhys) yang mengisi hidup Nina. Inilah kejutannya, penonton tak akan menduga bahwa……… Lihat saja sendiri, yang jelas kejutan inilah yang menentukan penilaian anda pada film ini, jika anda menganggap kejutan ini enak, film ini tak akan bisa anda lupakan, jika anda menganggapnya tidak pada tempatnya, rusaklah seluruh simpati anda pada film ini, karena sebelumnya film ini menampilkan tinjauan yang sangat menarik pada cinta dan perkawinan. Para pemain bermain bagus, San Giacomo sangat elastis dalam memainkan perannya, dalam film ini dia benar-benar bintang yang pantas. [R]
Nine Months (½)- 1996 / Chris Colombus / Hugh Grant, Julianne Moore, Tom Arnold, Joan Cusack, Jeff Goldblum, Robin Williams, Mia Cottet, Joey Simmrin, Ashley Johnson, Alexa Vega, Aislin Roche / [93 mnt] Grant berperan sebagai seorang yuppie dengan kecenderungan phobia terhadap anak-anak, atau tepatnya terhadap ide "memmpunyai anak". Celakanya, istrinya (Moore) malah mengumumkan kehamilannya. Selama sembilan bulan, pria ini hidup dalam kepanikan. Beberapa orang temannya (Arnold, Cusack, dan Goldblum) memperparah keadaan. Suasana komedi dalam film ini kebanyakan terlalu bisa dibaca kemana arahnya, apalagi sejak kehadiran sang dokter Rusia (Williams) yang tokohnyanya terlalu "dilucu-lucukan". Penyelamat film ini adalah para pemainnya yang mengerahkan kemampuan akting komedi mereka sampai taraf yang nyaris sempurna (sayang sekali, kami menganggap Moore - salah satu aktris kesayangan resensi ini - tertinggal oleh yang lain dan tak sampai ke sana). Colombus menyutradarai dengan merek dagang komedi kikuk lengkap dengan bagian akhir yang gila-gilaan (dan berlebihan). [R]
Normal Life (½)- 1995 / John McNaughton / Luke Perry, Ashley Judd, Bruce Young, Jim True, Dawn Maxey, Scott Cummins, Kate Walsh, Penelope Milford, Tom Towles / [115 mnt] Chris Anderson (Perry) adalah seorang polisi baru. Perkenalannya dengan Pam (Judd), gadis resah yang pada dasarnya lugu, membuatnya mabuk. Setelah mereka menikah, Pam mulai menginginkan kehidupan yang lebih “normal”. Semula normal berarti biasa, tetapi ketika kenekatan mulai menjadi hal biasa, kehidupan normal bagi mereka berarti merampok dan meneror apapun di kota kecil tempat mereka tinggal. Film ini tidak punya alasan untuk disebut jelek, namun sayang sekali tidak ada hal baru yang ditawarkannya, baik dari tema maupun gaya. Nilai untuk permainan Perry dan Judd sama-sama bervariasi dari jelek sampai bagus. Film ini juga tergolong sexy, namun kita yang bisa berpikir sehat lama kelamaan akan merasa risi karena Judd (yang sebenarnya sudah dari sononya sexy) dimanfaatkan secara agak berlebihan untuk itu. [R]
Nowhere To Run ()- 1993 / Robert Harmon / Jean Claude van Damme, Rosanna Arquette, Kieran Culkin, Ted Levine, Joss Ackland, Tiffany Taubman, Edward Blatchford / [95 mnt] Van Damme berperan sebagai seorang pelarian yang mendapat tugas dari sahabatnya sesama napi untuk menjaga istri dan anaknya yang sedang terancam penggusuran tanah yang sewenang-sewenang. Segalanya berada dibawah standar umum, namun tidak akan mengecewakan penggemar van Damme [R]



O



Of Love & Shadow (½)- 1995 / Betty Kaplan / Antonio Banderas, Jennifer Connelly, Stefania Sandrelli, Diego Wallraff, Camillo Gallardo, Patricio Contreras, Jorge Rivera Lopez / (ARGENTINA - SPANYOL) / [109 mnt] Banderas bermain sebagai seorang fotografer yang berani membahayakan jiwanya sendiri untuk turut menyingkap apa yang sesungguhnya terjadi di sebuah negara fiktif Amerika Selatan. Di sana dia ditemani oleh seorang wartawati lokal (Connelly) yang mempunyai semangat tak kalah besar darinya. Terdengar familiar? Ya, begitulah, selanjutnya bisa ditebak, thriller politik berjalan bergandengan dengan roman yang panas. Segala aspek terselenggara cukup baik, namun tak ada yang istimewa kecuali sexynya Banderas dan Connelly. [R]
On Deadly Ground (½)- 1994 / Steven Seagal / Steven Seagal, Michael Caine, Joan Chen, John C. McGinley, R. Lee Ermey, Shari Shattuck / [101 mnt] Seagal mencoba menggagalkan eksploitasi alam Alaska oleh seorang pengusaha minyak gila (Caine). Film ini tidak memberi Seagal sukses sebesar yang didapatnya dari "Under Siege" (1992). Tonton sendiri, dan anda akan tahu apa sebabnya.. [R]
One False Move ()- 1991 / Carl Franklin / Bill Paxton, Cynda Williams, Billy Bob Thornton, Michael Beach, Jim Metzler, Earl Billing, Natalie Cardenay / [105 mnt] Film keras yang banyak dipuji kritisi ini berkisah tentang pelarian tiga orang pembunuh (Thornton (yang juga menulis skenarionya), Beach, dan Williams) yang berhasil dilacak pihak kepolisian menuju kota kecil Star City. Hurricane (Paxton), sheriff Star City yang belum pernah berurusan dengan kejahatan besar, sangat bersemangat untuk menjadi bagian terpenting dalam penyelesaian kasus ini. Tak pernah diduganya bahwa kasus ini membawanya berurusan dengan masa lalu yang telah coba dilupakannya. Ini adalah salah satu angkatan awal film-film kelam sembilanpuluhan tentang kejahatan, penuh dengan kekerasan, namun senantiasa dinamis, cerdas, tak pernah melelahkan, dan dimainkan dengan baik oleh para pemain-pemainnya. Franklin memperkenalkan dirinya sebagai sutradara berbakat lewat film ini, dan Thornton mempersiapkan fondasi untuk popularitasnya yang kelak mencapai puncaknya lewat “Sling Blade” (1996), hit indie yang skenarionya juga dia tulis. [R]
One Night Stand ()- 1997 / Mike Figgis / Wesley Snipes, Nastassja Kinski, Ming Na Wen, Robert Downey, jr., Kyle McLachlan, Julian Sand / [105 mnt] Snipes dan Kinski hanya pernah bertemu selama sehari semalam, namun sangat istimewa. Satu tahun kemudian, mereka bertemu lagi. Kinski ternyata adalah istri McLachlan dan teman Downey, sahabat Snipes. Itulah malam pertama McLachlan bertemu Ming, istri Snipes. Lalu apa yang akan terjadi jika segi empat ini sudah tercipta? Akankah berakibat semakin buruk atau justru sebaliknya? Tidak terlalu sulit ditebak karena film ini memang memuat kisah yang sangat lurus, namun menjadi menarik lewat visualisasi puitis ala Figgis dengan dialog-dialog yang menarik dan penampilan bagus para pemainnya. [R]
One True Thing ()- 1998 / Carl Franklin / Meryl Streep, Renee Zellweger, William Hurt, Tom Everett Scott, Lauren Graham, Nicky Katt, James Eckhouse, Patrick Breen / [105 mnt] Zellweger adalah seorang wanita muda yang begitu menikmati kehidupan karirnya sehingga kedekatannya dengan kedua orangtuanya (Streep dan Hurt) tak lagi menjadi prioritas dalam hidupnya. Gaya hidup ayah dan ibunya baginya telah menjadi tumpukkan ketidakefektifan yang penuh dengan kesalahan dalam menempatkan prioritas. Ketika pada suatu waktu dia mengadakan kunjungan rutin ke rumah mereka, dia sudah semakin asing dengan masalah yang dihadapi kedua orangtuanya, termasuk kondisi kesehatan ibunya yang semakin memburuk. Skenario yang tidak sekedar berkutat di permukaan dan berhasil menghindari melankolisme yang berlebihan berhasil membuat film ini menarik walau penyutradaraan Franklin hanya berusaha untuk membuat setiap adegan menjadi wajar dan tidak lebih dari itu. Namun semua tidak akan cukup andai ketiga pemain utamanya, dua bintang kawakan dan salah satu gadis Hollywood paling berbakat di akhir dekade ini, tidak bermain sesempurna itu. [R]
On the Wings of the Dove ()- 1997 / Iain Softley / Helena Bonham-Carter, Linus Roache, Allison Elliott, Elizabeth McGovern, Michael Gambon, Alex Jennings, Charlotte Rampling / (BRITANIA) / [99 mnt] Dalam kisah dari novel klasik Henry James ini, Kate (Carter) dan Merton (Roache) adalah pasangan yang sulit sekali untuk mewujudkan impian mereka karena terbatasnya kemampuan keuangan mereka, apalagi Kate selalu berada di bawah tekanan bibinya (Rampling). Suatu saat, Milly (Elliott), sahabat Kate dari Amerika, datang ke London dan menjadi dekat lagi dengan Kate. Pada saat itulah suatu ide muncul dalam benak Kate, dia menyusun sebuah rencana yang memungkinkan Merton bisa dekat, dan kalau mungkin menikah, dengan Milly yang kaya raya namun tak akan berumur panjang karena mengidap sakit parah, dan kebetulan Milly mencintai Merton. Kate juga pernah rela dekat dengan Mark (Jennings) dengan maksud yang sama, hebatnya, Mark juga pernah mendekati Milly dengan maksud yang itu-itu juga. Kisah yang membelit orang-orang ini coba ditampilkan film ini dengan kecermatan maksimal untuk tidak kehilangan daya tarik aslinya, Softley sangat berhasil membuat sebuah hiburan visual yang mempesona, walau tak bisa dipungkiri bahwa film ini menyisakan beberapa lubang dalam cerita. Carter, Roache, dan Elliott bermain sangat bagus. [R]
Opposite Sex and How to Live With Them, The ()- 1993 / Matthew Mashekoff / Arye Gross, Courteney Cox, Kevin Pollak, Julie Brown, Mitchell Ryan, Philip Bruns / [85 mnt] “Tinjauan” atas sepasang kekasih (Gros dan Cox) oleh sepasang temannya (Pollak dan Brown) ini mencoba untuk bergaya dengan menggunakan komentar-komentar yang langsung disampaikan pada penonton, hasilnya malah mendekati memuakkan (setelah ditambah dengan hal-hal lain yang mendukung ke arah itu, misalnya humor yang kering). Para pemain tidak bermain jelek, namun mereka kelihatan sangat tolol untuk karakter yang tidak tolol sekalipun. Catatan kecil: The Opposite Sex and How to Live with Them? Apakah secara gramatikal judul itu benar? Melihat mutu filmnya, kami rasa para pembuatnya tidak sempat memikirkan itu. [R]
Othello (½)- 1995 / Oliver Parker / Lawrence Fishburne, Iréne Jacob, Keneth Branagh, Nathaniel Parker, Michael Maloney, Anna Patrick, Nicholas Farrel, Indra Ove, Michael Sheen, Andre Oumansky, Gabrielle Verzetti, Pierre Vaneck / [123 mnt] The Bard tak pernah mengambil cuti panjang, namun tak pernah serajin ini. Dalam satu tahun empat film Shakespeare berskala internasional menyerbu layar perak!! Apakah ini kemunduran limaratus tahun? Entahlah. Branagh sudah membuat “Hamlet” di tahun yang sama, namun dia masih mau berpartisipasi sebagai Iago, bawahan yang menghasut kalbu Othello (Fishburne), orang Moor yang gagah berani, sehingga curiga bahwa istrinya Desdemona (Jacob) telah berbuat serong. Walau tidak istimewa, film ini cukup memuaskan dengan keberaniannya mengaduk urutan adegan walau tidak seradikal “Hamlet” Zeffirelli (1990). Karya Parker ini juga cukup menarik dengan keeksotikannya. yang ditampilkan tanpa harus membuat film menjadi terlalu kolosal. Tapi isu pernikahan antar ras terasa terlalu dibesar-besarkan, melebihi atmosfer apapun dalam film ini termasuk pembentukan karakter Othello sebagai sang hero (Fishburne tak bisa disalahkan, dia berusaha maksimal) sehingga kita selalu merasa berjarak dengan semua permasalahan. Film ini juga menunjukkan bahwa Jacob memang cantik, dan dia juga mempunyai reputasi akting yang baik ("The Double Life of Veronique", "Red"), namun dalam sebuah adaptasi drama klasik berbahasa Inggris, bidadari Swiss ini tampak agak out of place. [R]
Other People’s Money (½)- 1991 / Norman Jewison / Danny DeVito, Penelope Ann Miller, Gregory Peck, Piper Laurie, Dean Jones, RD Call / [101 mnt] OP’sM adalah sebuah kisah karikatural tentang seorang konglomerat, Larry The Liquidator (DeVito), yang sangat memuja kekayaan, tak perduli itu uangnya sendiri atau uang orang lain (other people’s money, judul yang enak didengar), tak satupun yang bisa menghalanginya, kecuali Rosie (Ann Miller), seorang pengacara sexy dan cerdik yang justru adalah putri Smith (Peck), pemilik perusahaan kabel yang akan dicaplok Larry. Film ini sangat tanggung sebagai komedi, namun jauh juga dari kesan serius, hingga kita bingung dalam menset mood untuk menikmatinya (sebenarnya itu tak perlu kita lakukan bila kita tak mengharapkan apa-apa dari film yang kita tonton). Ann Miller dan Peck bermain bagus, tapi kejenakaan akting (dan casting) (dan skenario untuk) DeVito kadang cukup mengganggu image Larry sebagai seorang iblis yang menghalalkan segala cara. [R]
Other Sister, The ()- 1998 / Gary Marshall / Juliette Lewis, Dianne Keaton, Tom Skeritt, Giovanni Ribisi, Poppy Montgomerry, Sarah Paulson, Linda Thorn, Joe Flanigan, Juliet Mille / [131 mnt] Radley (Skeritt) dan Elizabeth (Keaton) mempunyai tiga orang putri, Caroline (Montgomerry), Heather (Paulson), keduanya menarik dan sangat normal, dan satu lagi adalah Carla (Lewis), baru saja menyelesaikan sekolah khusus untuk remaja penderita keterbelakangan mental. Radley yang toleran namun pemabuk dan Elizabeth yang penuh cinta namun keras kepala selalu berbeda pendapat tentang bagaiaman seharusnya mereka memperlakukan Carla. Sementara Clara sendiri terus berusaha untuk menjadi gadis yang mandiri - tentu dalam pengertiannya sendiri. Pertemuannya dengan Danny (Ribisi) yang senasib dengannya, semakin menguatkan tekad Carla. Film ini dibuat dengan sudut pandang dan gaya yang sangat lunak, tak ada "tanjakan" yang benar-benar memungkinkan pemirsa untuk memasuki dunia orang yang senasib dengan Clara dan Danny, ini hanyalah kisah plastik. Tapi jika anda memang tak mengharapkan sesuatu yang terlalu menantang, mungkin film ini sangat cocok untuk anda. Skeritt dan Keaton bermain sangat bagus. Sementara itu marilah kita akui bahwa Ribisi dan terutama Lewis adalah orang-orang muda yang sangat berbakat, mereka juga bekerja keras memainkan Carla dan Danny, kalau anda tidak setuju dengan cara mereka memainkan penderita keterbelakangan mental, tolong salahkan Marshall. [R]
Outbreak ()- 1994 / Wolfgang Petersen / Dustin Hoffman, Rene Russo, Morgan Freeman, Cuba Gooding, jr., Kevin Spacey, Pattrick Dempsey, Christopher Plummer, Donald Sutherland, Zakes Mokae, J.T Walsh, Dale Dye, Jim Antonio, Lance Kerwin / [127 mnt] Film ini dirilis ketika wabah Ebola sedang hangat-hangatnya melanda Zaire. Dalam film ini diceritakan bahwa ada sebuah wabah yang lebih hebat dari Ebola, virusnya bisa menular lewat oksigen, dan tersebar bukan di Afrika melainkan di sebuah kota kecil di Amerika Serikat! Dengan dibumbui intrik politik dan hubungan sepasang bekas suami istri, dokter militer dan ahli mikrobiologi (Hoffman dan Russo) yang sama-sama menjadi pahlawan penyelamat, film ini menjadi sebuah pertunjukkan yang sarat ketegangan. Namun, kadang-kadang kita, sebagai penonton yang berakal, bisa tersinggung juga oleh kejadian-kejadian yang “dimungkin-mungkinkan” dalam suatu film, dan Outbreak mengandung banyak hal seperti itu, Hollywood memang selalu bisa bersikap romantis walau berurusan dengan penyakit menular yang bisa menghancurkan seluruh Los Angeles di khayalan mereka. [PG-13]
Out of the Rain ()- 1990 / Gary Winick / Bridget Fonda, Michael O’Keefe, John O’Keefe, John Seltz, Georgina Hall, Al Shannon / [91 mnt] O’Keefe kembali ke kota asalnya yang sunyi, dia berhadapan kembali dengan masa lalu dan misteri keluarganya, juga dengan Fonda yang naif namun sexy. Lesu, walau kedua pemeran utamanya bermain tidak jelek. [R]
Outside Providence ()- 1999 / Michael Corrente / Alec Baldwin, Shawn Hatosy, George Wendt, Tommy Bone, Samantha Lavigne, Jonathan Brandis, Adam Lavorgna, Jesse Leach, Jon Abrahams, Richard Jenkins, Mike Cerrone, Amy Smart, Robert Turano, Kristen Shorten, Tim Crowe, Gabriel Mann, George Martin, Jack Ferver, Chris Jewett, Alex Toma, Libby Langdon / (95 mnt) Timothy Dumphy (Hatosy) harus meninggalkan gerombolan teman-teman setianya - yang masa depannya bisa diprediksi: suram - di kota kecil tempat tinggal mereka di Rhode Island untuk melanjutkan sekolahnya di sebuah kota besar terdekat. Setelah berada di sekolah baru, gaya hidup Tim tidak sungguh-sungguh berubah walau lingkungannya berubah. Kehidupan sedikit berbelok setelah dia bertemu gadis idamannya, Jane (Smart), nammun tentu tak semua berjalan lancar. Film ini diangkat dari novel Peter Farrelly, Corrente juga menulis skenarionya bersama Peter dan Gareth Farrelly, dan surprise! surprise!, dibanding karya hit The Farrellys sebelumm ini "There's Something about Mary", Outer Providence yang bercerita tentang golongan yang lebih muda justru cenderung lebih matang dan dewasa. Humor-humornya lebih menusuk walau tidak memmbanjir seperti dalam "TSaM". Film ini juga mempunyai karakter-karakter yang seluruhnya menarik, tiga dimensi, dan masuk akal, semua dimainkan dengan baik oleh para pemainnya, terutama Baldwin sebagai Dummphy senior. Satu-satunya kelemahan film ini adalah iramanya yang selalu datar sehingga kita selalu merasa tak pernah menjauhi bagian awal atau mendekati bagian akhir. [R]
Oxygen () - 1999 / Richard Shepard / Adrien Brody, Maura Tierney, James Naughton, Tim Kirkman, Laila Robins, Paul Calderon, Dylan Baker, Olek Krupa, Frankie Faison, Slavko Stimac, Michael Henderson, Robert Shepard, Eddie Perez / (90 mnt) / Clarke (Naughton) menyetorkan sebuah kaset video ke kantor polisi. Video itu dibuat oleh Harry (Brody) yang memperlihatkan ancamannya untuk membunuh istri Clarke, Frances (Robins), dengan cara menguburnya hidup-hidup beserta tabung yang berisi persediaan oxigen untuk 24 jam. Detektif Foster (Tierney) ditunjuk untuk menangani kasus ini, dan dia berhasil menangkap Harry. Namun sang detektif ternyata adalah seorang wanita yang mempunyai sedikit "keistimewaan" (kami tak akan menyebutkannya di sini), dan Harry bisa mencium hal ini, dia memanfaatkan ini untuk membuka sebuah permainan strategi dalam sesi interograsi. Film ini termasuk thriller yang cukup cerdas walau tidak terlalu inovatif. Penyajiannya efektif dalam tempo yang sangat tepat, ini berhasil menjadi penebus untuk ketidakspektakuleran tampilannya. Brody bermain sangat bagus dan kharismatik, sementara Tierney selama sembilanpuluh menit berhasil membuang kesan "gadis komedi situasi" yang selalu melekat padanya, mereka berdua adalah "pemilik" aura film ini. [R]




P


Pallbearer, The (½)- 1996 / Matt Reeves / David Schwimmer, Gwyneth Paltrow, Barbara Hershey, Michale Rapaport, Toni Colette, Carol Kane, Michael Vartan, Betty Schram, Jean DeBaer, Elizabeth Franz, Mark Margolis, Kevin Corrigan / [110 mnt] / Schwimmer tiba-tiba diminta menjadi pengusung peti jenazah seorang laki-laki tak dikenal yang meninggal seusianya, itu sangat mengejutkan. Lalu dia mendapat harta wasiat dari pemuda itu, itu tentu jauh lebih mengejutkan. Tapi Schwimmer harus menyerah pada nasib baik yang aneh ini dan menyerah juga pada ibu si pemuda (Hershey), wanita menjelang tua yang masih sangat panas dan bernafsu. Lalu bagaimana dengan Paltrow, gadis yang didambakannya? Tunggulah sampai rahasia-rahasia membocorkan diri mereka sendiri. Roman komedi ini dipenuhi dengan tokoh-tokoh menarik dan dimainkan oleh aktor-aktris yang biasa bermain bagus, namun tidak semua konfliknya benar-benar menarik dan masuk akal. [R]
Palmetto () – 1997 / Volker Schlondroff / Woody Harrelson, Elisabeth Shue, Gina Gershon, Chloe Sevigny, Tom Wright, Rolf Hoppe, Michael Rapaport. / [110 mnt] Pertemuan dengan seorang wanita bernama Rhea (Shue), membawa Harry (Harrelson), seorang reporter yang baru keluar dari penjara, ke dalam kesulitan baru dalam hidupnya. Suami dan anak tiri Rhea menjepitnya dalam intrik-intrik busuk. Film yang diangkat dari novel Just Another Sucker karya James Hadley ini adalah tipikal film noir ala sembilanpuluhan. Film ini datang kesiangan dan memang tidak menarik.
Palookaville (½)- 1997 / Alan Taylor / Vincent Gallo, William Forsythe, Adam Tresse, Frances McDormand, Garreth Williams, Lisa Gay Hamilton, Bridgit Ryan, Kim Dickens, Suzanne Shepherd, Nicole Burdette, Robert Lupone / [102 mnt] Tiga orang pemuda pengangguran (Gallo, Forsythe, dan Tresse) ingin menemukan sesuatu yang lebih berarti dalam hidup mereka, dengan jalan apa saja, legal atau tidak. Untuk menempuh jalan yang sesuai hukum, mereka tidak cukup punya kemampuan dan kemauan, dan untuk menempuh jalan melawan hukum, mereka juga ternyata kurang berbakat dan kurang beruntung. Siapa bilang kurang beruntung? Toh, pada akhirnya..…….ah, lihat saja dulu bagaimana film ini berakhir. Ending seperti yang dimiliki film ini memang mengejutkan namun sangat kosong dan membuatnya kelihatan seperti film setengah jam di televisi, padahal sejak awal film ini telah dibangun dengan sangat bagus, penuh humor, dan alami. Kita bahkan seolah tersadar bahwa orang semakin seenaknya dalam membuat film. [R]
Panthom of the Opera, The ()- 1998 / Dario Argento / Julian Sands, Asia Argento, Andrea di Stefano, Nadia Rinaldi, Corlina Cataldi - Tassoni, Istvan Bubik, Zoltan Barabas / (ITALIA) / (( Il Fantasma de l’Opera )) (103 mnt) Kisah Gothic Gaston Leroux, tentang si misterius dari bawah tanah yang jatuh cinta pada penyanyi opera cantik jelita, jatuh ke tangan schlockmeister Argento, kita berharap hasilnya adalah sebuah film dengan nuansa suspens tinggi. Uh, meleset, Argento malah membuatnya begitu jinak, steril, dan tak bergigi, walau dia mencoba memasukan sentuhan-sentuhan eksentrik dan atmosfer dekadensi. Masalah pertama telah mmuncul sejak kita sadar bahwa tokoh Phantom dalam film ini tidak berwajah rusak, Argento menghadirkannya dalam sosok flamboyan Sands, dan ini memmbuat logika cerita sulit diikuti. Asia (putri Dario) tak mampu berbuat banyak karena karakter Christine hanya sketsa, bintang sesungguhnya mungkin adalah Rinaldi yang berperan sebagai penyanyi senior yang temperamental. [R]
Pariah (½)- 2000 / Randolph Kret / Damon Jones, David Oren Ward, Aimee Chaffin, David Lee Wilson, Angela Jones, Anna Padgett, Dan Weene, Ann Zuppa, Brandon Slater, Jason Posey / (105 mnt) Steve (Damon Jones) menyaksikan pacarnya (Angela Jones) diperkosa tanpa bisa berbuat apa-apa. Steve, seorang pemmuda yang sesungguhnya sangat pendiam, terbakar dalam dendam dan bertekad untuk menjadi seorang skinhead ultra rasial dan mencoba bergabung dengan kelompok skinhead yang dicurigainya, untuk menghancurkan mereka dari dalam dan melampiaskan kemamrahan bersama aksi kelompok ini. Kelompok rasial ini sendiri adalah sekumpulan anak muda dengan tingkah laku barbar dan intelejensia yang seberapa, kehidupan memreka adalah rangkaian kegiatan dan obrolan yang tak lagi menggunakan akal sehat sebagai pijakan. Dalam menyoroti kelompok ini, Kret berhasil mengambil jarak yang begitu dekat, sehingga kita dengan mudah mengenali manusia macam apa orang-orang ini. Sorotan akrab pada tingkah laku dan obrolan yang absurd seperti ini bahkan tak pernah tampil dalam film-film "yang ebih intelek" seperti "American History X". Namun ketika harus meninjau sesuatu di luar itu (kisah keluarga para anggota, kehidupan sehari-hari Steve), Kret mengambil sudut pandang satu dimensi yang membuat tak sesuatupun terasa matang. Film ini memang tak pernah menjadi istimemwea walau mempunyai beberapa kelebihan, dan yang jelas, sebagian besar pemirsa akan menganggapnya sangat tidak enak - bukan tidak menarik - untuk ditonton. [R]
Passed Away (½)- 1992 / Charlie Peters / Bob Hoskins, Jack Warden, William Petersen, Helen Lloyd Breed, Maureen Stapleton, Pamela Reed, Tim Curry, Peter Riegert, Blair Brown, Pattrick Green, Nancy Travis, Teri Polo, Frances McDormand / [96 mnt] Seorang kepala keluarga besar dengan latar belakang yang tak seluruhnya transparan meninggal dunia. Maka bertemulah putra-putri, sanak saudara, kerabat, dan kenalannya dalam hari-hari sekitar upacara pemakamannya. Film ini adalah sebuah komedi dengan ide standar tentang reuni yang bermodalkan kemampuan untuk membenturkan karakter-karakternya, cukup berhasil dalam beberapa sisi, namun terlalu klise dalam hal lainnya. Kebanyakan pemain bermain cukup bagus. [PG-13]
Passion of Mind (½)- 2000 / Alain Berliner / Demi Moore, Stellan Skarsgard, William Fichtner, Sinead Cusack, Peter Riegert, Eloise Eonnet, Chaya Cuenot, Julianne Nicholson, Joss Ackland, Gerry Bamman, Morgan Hasson, Hadrian Dagannaud-Brouard / (105 mnt) Marty adalah seorang wanita karir di New York yang tak mempunyai pasangan. Setiap malam tiba, dia tertidur dan kita kemmudian menemukan Marty sebagai Marie, seorang wanita Amerika yang tinggal di sebuah desa yang sangat indah di Prancis. Marie adalah seorang janda yang mempunyai dua anak. Ketika malamm tertiba, Marty tertidur dan….. Begitulah seterusnya, kita menyaksikan dua buah cerita paralel, kedua tokoh menyadari kehadiran yang lair dalam impian mereka. Pada perkembangannya keduanya menemukan cinta dalam diri Fichtner dan Skarsgard. Sutradara Belgia, Berliner, membawa gayta Eropa daratannya ke Hollywood, dan di tempat ini dia berurusan dengan berbagai mmacam gula-gula yang memmbuat filmmnya berjalan begitu lambat dan tanpa tujuan yang pasti. Oh, kita tentu tak bisa begitu saja menyalahkan Hollywood, Berliner sendiri seperti tak punya bahan yang sungguh-sungguh matang untuk filmnya. Moore memainkan peran ganda dalam film ini? Hmmm, bisa disebut demikian, walau pada dasarnya apa yang dia lakukan hanya merubah gaya berpakaian, make-up, dan potongan rambut. Satu-satunya sisi mengagumkan dalam film ini adalah fotografi Eduardo Serra. [PG-13]
Passion of the Darkly Noon (½)- 1996 / Philip Ridley / Brendan Fraser, Ashley Judd, Loren Dean, Viggo Mortensen, Grace Zabriskie / (JERMAN – BRITANIA - BELGIA) / [101 mnt] / (( Die Passion des Darkly Noon )) Fraser bermain sebagai seorang pemuda yang lolos dari kematian massal dalam ritual sebuah sekte magis, dia ditemukan dalam keadaan pingsan dan kemudian hidup bersama sepasang kakak beradik, Judd dan Dean. Pemuda aneh ini tetap meletakkan setengah kehidupannya di alam lain, namun bagaimanapun dia tetap tak bisa menahan ketertarikannya pada Judd (sulit untuk menahan ketertarikan pada Judd jika Anda adalah seorang laki-laki asing yang tinggal serumah dengannya, bukan?). Kedatangan pacar Judd yang tuna rungu (Mortensen) semakin memperburuk suasana. Film ini ditangani dengan baik oleh Ridley, visualisasinya selalu enak dinikmati, di samping itu, Fraser bermain memuaskan, namun semua itu tak didukung oleh penceritaan yang mengundang kepenasaran, plotnya terlalu transparan, dan sisi-sisi spiritual yang coba diselipkan tidak terlalu menarik. [R]
Past Midnight (½)- 1992 / Jay Eliasberg / Natasha Richardson, Rutger Hauer,Clancy Brown, Tom Wright, Guy Boyd / [100 mnt] Laura (Richardson), adalah seorang pekerja sosial yang terarik untuk membantu menegakkan kebenaran untuk Ben (Hauer), seorang duda yang dituduh membunuh istrinya yang hamil. Namun selanjutnya ketertarikan Laura bukan hanya pada kasus tersebut melainkan langsung pada Ben sebagai laki-laki, hingga membiarkan sang klien menghamilinya. Celakanya, Ben justru semakin kehilangan bukti bahwa dia bukan pembunuh, apalagi setelah Steve (Brown), bekas pacar Laura yang cemburu, juga terbunuh. Cerita yang menarik, namun divisualkan dengan sangat standar dalam segala hal. [R]
Pecker ()- 1998 / John Waters / Richard Furlong, Christina Ricci, Brendan Sexton, Mink Stole, Mark Joy, Bess Armstrong, Mary Kay Place, Martha Plimpton, Lili Taylor, Patty Hearst, James Schaeffer / [100 mnt] Pecker (Furlong) adalah seorang fotografer amatir muda Baltimore yang popularitasnya tiba-tiba sampai ke New York berkat dokumentasinya atas orang-orang dan kegiatan-0kegiatan aneh di kotanya (film ini dibuat oleh John Waters, pendokumentasian keeksentrikan manusia adalah spesialisasinya!). “Menjadi terkenal tidak selalu enak, Pecker,” begitu pesannya. Tapi jangan menduga sesuatu yang benar-benar serius dan menyakitkan akan terjadi pada Pecker, ini komedi ala Waters, orang bertindak brutal dan barbarik tapi masih bisa berakhir dalam senyum dan tawa. Hmmm, sesungguhnya tidak begitu brutal, semakin lama rasanya Waters semakin kehilangan keagresifannya, tapi bagaimanapun Pecker masih menyisakan charm ganjil yang masih belum hilang sejak zaman film-film underground Water. Cerita tentang nenek ventriloquist yang relijius, pub lesbian, pasangan tikus, dan berbagai bumbu lain masih cukup untuk membuat ribut; dan penampilan para pemainnya – terutama Plimpton sebagai kakak Pecker – juga sangat menarik. [R]
Perez Family, The (½)-- 1995 / Mira Nair / Alfred Molina, Marisa Tomei, Chaz Palminteri, Anjelica Huston, Trini Alvarado, Celia Cruz, Ranjit Choudury, Bill Sage, Vincent Gallo, Sarita Choudury, Mira Nair / [105 mnt] Juan Perez (Molina) baru dibebaskan dari penjara di Cuba, dia pergi ke Miami untuk mencari istrinya, Carmella (Huston), yang telah terpisah selama dua puluh tahun darinya. Juan mendapat rekan seperjalanan bernama Doritta (Tomei, cute dan sexy, tapi kadang overakting), seorang wanita muda Cuba yang penuh dengan impian tentang Amerika,. Kedua orang ini disangka suami istri dan mereka juga terpaksa berpura-pura seperti itu. Banyaknya kejadian yang mereka alami bersama membuat Juan meragukan cintanya pada Carmella. Seluruh bagian dari roman komedi ini terlaksana dengan baik, namun cerita dan gayanya sangat standar sehingga tak bisa menjadi sesuatu yang istimewa. Orang-orang manis mungkin akan menyukai film ini, sementara jika anda termasuk orang yang tak begitu percaya bahwa hidup itu indah, jauhi film ini! [PG-13]
Perfect Murder ()- 1998 / Andrew Davis / Michael Douglas, Gwyneth Paltrow, Viggo Mortensen, David Suchet, Sarita Choudury, Constance Towers, Novella Nelson, Michael B. Moran, Gerry Bucher, Will Lymen / [106 mnt] Emily (Paltrow) adalah istri Taylor (Douglas), pengusaha kaya raya yang berusia jauh lebih tua darinya. Namun Emily lebih menemukan kehangatan pada Jeff (Mortensen), seorang pelukis yang agak misterius. Taylor bisa mencium hal ini, dengan bersenjatakan kekayaan dan pengetahuan pada masa lalu Jeff yang kelam, dia meminta pacar istrinya itu untuk melenyapkan wanita yang berada di antara mereka itu, tentu dengan berbagai keuntungan dan harapan bahwa permasalahan akan menjadi lebih sederhana, namun ternyata segala sesuatu malah berkembang semakin rumit dan penuh bahaya. Davis memang bukan sutradara yang terkenal inovatif, namun dia terkenal teliti sehingga kita pantas mengharapkan yang lebih baik dari film standar yang selalu tanggung dalam menciptakan kemenarikan ini. Para pemain juga tak menolong, penampilan Douglas terlalu beku untuk menciptakan pengaruh, akting Mortensen tak kalah monotonnya, dan segala ekspresi dan tangis Paltrow tak cukup untuk membuatnya lebih dari sekedar pajangan cantik yang tersia-siakan bakatnya dalam film ini. [R]
Permanent Midnight ()- 1998 / David Veloz / Bill Stiller, Maria Bello, Elizabeth Hurley, Owen Wilson, Janeane Garofalo, Cheryl Ladd, Liz Torres, Douglas Spain, Connie Nielsen, Fred Willard, Louise Benedicto, Charles Fleischer, Peter Greene, Spencer Garrett / [90 mnt] Film ini menceritakan pergulatan Jerry Stahl, penulis pop kontemporer Amerika, dengan ketergantungan beratnya pada narkotik. Kisah dialirkan lewat cerita panjang Stahl (Stiller) pada seorang wanita “hanyut” (Bello) dalam hubungan semalam mereka di sebuah hotel. Realisme yang lumayan tajam ditampilkan Veloz dengan baik walau kisah film ini terpotong-potong menjadi sangat episodik. Stiller memainkan Stahl dengan meyakinkan, rasanya inilah penampilan terbaiknya sampai saat ini. Hurley tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam peran ringan sebagai istri Stahl, dan Bello berhasil memberi kesan pada perannya yang sebenarnya hanya pengalir cerita. [R]
Pet Semetery II (½)- 1992 / Mary Jean Lambert / Edwards Furlong, Anthony Edwards, Clancy Brown, Jarred Rushton, Darlenne Flueggel, Sarah Trigger, Lisa Walz, Jason McGuire / [100 mnt] Diangkat dari novel horor Stephen King tentang teror yang dialami oleh penduduk-penduduk yang tinggal di sebuah areal pekuburan hewan piaraan, fokus utama film ini adalah adalah keluarga sherif setempat. Sebenarnya tekanan kengerian bisa lebih terjaga andaikan penggarapannya tidak naif begini. [R]
People vs. Larry Flynt, The (½)- 1996 / Milos Forman / Woody Harrelson, Courtney Love, Edward Norton, Brett Harrelson, Donna Hannover, James Cromwell, Vincent Schiavelli, Crispin Glover / [127 mnt] Film ini ditampilkan bagaikan sketsa bertempo cepat tentang rangkaian kontroversi yang disebabkan ulah Larry Flynt (Harrelson), pemilik majalah porno “Hustler”, salah satu manusia paling eksentrik di muka bumi. Sebagian menganggapnya sebagai malaikat penjamin kesejahteraan, sebagian orang menganggapnya jelmaan iblis, dan sebagian terbesar menganggapnya biang cerita yang lebih seru daripada isi majalah yang dijualnya. Kebanyakan kontroversinya berpuncak di pengadilan, dari mulai penerbitan pertama majalahnya yang menghebohkan di tahun enampuluhan, kasus video tentang FBI, dan diakhiri “partai terpentingnya” melawan seorang pemuka agama yang terpandang. Dua orang yang paling setia mendampinginya adalah istrinya (Love) dan pengacaranya (Norton). Forman menyampaikan cerita dengan komikal dan gaya yang sangat ringan hingga film terasa kurang mendalam, namun justru cara itu yang membuat kita merasa begitu kenal sosok Flynt yang memang sulit dicari duanya ini. Harrelson - yang wajahnya hampir sama sekali tidak mirip dengan Larry Flynt asli - menampilkan permainan terbaik sepanjang karirnya dalam sebuah panggung pertunjukkan yang seperti dirancang khusus untuknya. Permainan istimewa juga ditampilkan Love, wanita yang sebelumnya lebih terkenal lewat puluhan sensasi sebagai gembong kelompok “Hole” dan janda Kurt Cobain (konon film ini membuat CL menjadi “snob Hollywood” yang dilambangkannya dengan meninggalkan atribut gaun baby doll kumalnya yang terkenal). Norton mengimbangi mereka dengan baik (dan mengimbangi Courtney sampai ke kehidupan nyata). Catatan kecil: Film tentang kontroversi ini mengundang kontroversi lagi lewat posternya yang menggambarkan Harrelson tersalib di depan bawahan bikini seorang wanita. [R]
* Golden Globe: Skenario Terbaik, Los Angeles Film Critics Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Love), New York Film Critics Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Love), National Board of Review: Aktor Pendukung Terbaik (Norton)
Philadelphia ()- 1993 / Jonathan Demme / Tom Hanks, Denzel Washington, Antonio Banderas, Mary Steenburgen, Jason Robards, Joanne Woodward, Roger Corman, Charles Napier, Lisa Summermour, Kathryn Witt / [119 mnt] Andy (Hanks) adalah seorang pengacara muda Philadelphia yang sedang naik daun, dia dipecat secara tiba-tiba oleh firma tempat dia bekerja dengan alasan mutu kerjanya mulai menurun. Namun Andy yakin bahwa alasan sebenarnya adalah karena dia adalah seorang homosex dan - lebih hebat lagi - dia mengidap AIDS. Dia kemudian membawa masalah ini ke pengadilan dengan didampingi seorang pengacara (Washington) yang justru seorang homophobist. Film ini menyoroti sebuah masalah yang sangat sensitif dan dilematis, Demme mafhum akan hal itu, maka dia berusaha untuk tidak menempatkan filmnya ini di salah satu fihak yang bertentangan di dalamnya (tampaknya juga hal ini merupakan penebusan yang agak malu-malu dari Demme yang mungkin merasa telah menyerang kaum homosexual dalam “The Silence of the Lambs”). Skenarionya dirancang menjadi sangat natural, dan skenarionya jugalah yang banyak melupakan banyak penjelasan penting dalam cerita, selain itu tempo film ini jelas terlalu lambat untuk sebagian pemirsa. Hanks adalah kekuatan terbesar dalam film ini, Washington mendampinginya dengan permainan yang enerjik dan sanggup mencuri simpati penonton, Steenburgen juga bermain sangat baik untuk perannya yang tidak terlalu besar sebagai pengacara pihak firma, dan terimakasih untuk Boss Springsteen atas soundtracknya yang menyentuh. Catatan kecil: Film ini adalah film hit pertama dalam sejarah yang berbicara tentang AIDS, makhluk hit dalam duapuluh tahun terakhir abad ini. [PG-13]
* Academy Awards: Aktor Utama Terbaik (Hanks), Lagu Terbaik (“Streets of Philadelphia”), Golden Globe: Aktor Terbaik Drama (Hanks), Lagu Terbaik (“Streets of Philadelphia), SAG Awards: Aktor Utama Terbaik (Hanks)
Photographing Fairies (½)- 1998 / Nick Willing / Toby Stephens, Emily Woof, Frances Barber, Phil Davis, Ben Kingsley, Rachel Shelley, Edgar Hadgwicke, Hannah Bould, Miriam Grant, Clive Merrison / (BRITANIA) / [100 mnt] Berita tentang sebuah foto peri yang diambil dua orang anak kecil sempat merebak di Inggris di awal abad ke duapuluh, sampai sekarang keabsahan foto itu masih menjadi perdebatan. Film ini mengikuti perjalanan tokoh fiktif, Charles Castle (Stevens), seorang fotografer yang tiba-tiba terlibat dalam urusan ini setelah seorang wanita (Barber) membawa sebuah foto yang diambil oleh kedua anaknya, tentu ada peri – atau tepatnya bayangan peri – dalam foto itu. Castle, yang pada saat itu sedang berkabung dengan kematian istrinya, semula tidak begitu perduli, nammun kedatangannya langsung ke rumah wanita itu membuat ketertarikannya benar-benar terserap oleh masalah peri ini. Cerita selanjutnya melebar ke masalah-masalah yang lebih rumit dari sekedar materialisasi peri, bahkan dunia nyata dan halusinasi Castle pun mulai bercampur aduk. Anda bisa membandingkan film ini dengan “Fairytale. A True Story” yang dirilis setahun sebelumnya; film tersebut adalah kisah yang lebih faktual dan diambil dari sudut pandang kedua anak kecil pemotret peri. Photographing Fairy sendiri adalah film yang berusaha untuk mempunyai sisi-sisi hipnotis; tidak sampai gagal total dalam usaha itu, tetapi plotnya yang melodramatis begitu liar sampai sering terasa kehilangan pegangan. Penyutradaraan Willing menghasilkan atmosfer yang sangat cantik dalam beberapa bagian, namun tak lebih dari sekedar genit pada bagian lain. Kisah film ini diadaptasi oleh Willing dan Harrald dari buku Steve Szilagy, Szilagy sendiri masih beranggapan bahwa “Fairytale. A True Story” adalah jiplakan yang dimodifikasi dari novelnya. Entahlah. [R]
Piano, The ()- 1993 / Jane Campion / Holly Hunter, Harvey Keitel, Sam Neill, Anna Paquin, Kerry Walker, Genevieve Lemon, Tungia Baker, Ian Mune / (AUSTRALIA-PRANCIS) / [121 mnt] Kisahnya hanya sekitar segitiga cinta yang sangat gelap dan unik, yang terjadi di alam perawan New Zealand di tahun 1870-an, antara Ada McGrath (Hunter), seorang wanita bisu Skotlandia, dengan dua laki-laki, yaitu suaminya, Alisdair Stewart (Neill), dan George Baines (Keitel), lelaki kulit putih bergaya Maori, partner bisnis Stewart. Semua konflik diletuskan oleh piano Ada yang menjadi gara-gara terjadinya transaksi seksual yang ganjil antara Baines dan Ada. Kemisteriusan emosi Ada tak pernah sungguh-sungguh disingkap sampai film yang bergelora dan menghanyutkan dalam sunyi ini berakhir. Dalam masterpiece yang menjadi karya klasiknya ini, Campion berhasil menuangkan cerita yang begitu sempit ke dalam kemasan sinematografis yang luar biasa memikat lewat skenario yang kuat, fotografi yang ekspresif, dan tata artistik yang layak disebut sempurna. Sutradara wanita dari New Zealand ini berhasil memaksa dunia perfilman untuk mengenal lebih jauh siapa dia. Keitel dan Neill bermain sebagus biasanya, Paquin terlalu hebat untuk anak seusianya, namun tak terelakkan lagi bahwa film ini adalah arena pameran akting magnetis Hunter yang nyaris menjadikan The Piano sebagai show tunggalnya. Film ini adalah film yang paling bergelimang penghargaan dari berbagai festival besar dalam dekade ini, piala memang tak membuktikan apa-apa selain selera, tapi tak banyak film yang bisa begitu berhasil dalam menyeragamkan selera. [R]
* Academy Awards: Skenario Asli Terbaik (Campion), Aktris Utama Terbaik (Hunter), Aktris Pendukung Terbaik (Paquin), Golden Globe: Aktris Terbaik Drama (Hunter), Cannes: Film Terbaik, Aktris Utama Terbaik (Hunter), British Academy Awards: Aktris Utama Terbaik (Hunter), Independent Spirits Awards: Film Non-Amerika Terbaik, Los Angeles Film Critics Awards: Sutradara Terbaik (Campion), Aktris Utama Terbaik (Hunter), Aktris Pendukung Terbaik (Paquin), Tata Kamera Terbaik, New York Film Critics Awards: Sutradara Terbaik (Campion), Skenario Asli Terbaik (Campion), Aktris Utama Terbaik (Hunter), Australian Film Institute Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Campion), Skenario Terbaik (Campion), Aktor Utama Terbaik (Keitel), Aktris Utama Terbaik (Hunter), Tata Kamera Terbaik, Tata Kostum Terbaik, Editing Film Terbaik, Tata Musik Terbaik, Tata Suara Terbaik
Pickle, The ()- 1993 / Paul Mazursky / Danny Aiello, Dyan Cannon, Clotilde Coureau, Shelley Winters, Barry Miller, Jerry Stiller, Christopher Penn, Jodi Long, Rebecca Miller, Stephen Tobolowsky, Caroline Aaron / [90 mnt] Jarang ada orang Amerika yang menyukai film ini, apalagi orang negara lain. Kritikus dan penonton biasa seakan sepakat mengamblaskannya di pasaran. Kami tidak heran, namun juga tidak setuju karena sesungguhnya film ini cukup menyenangkan, walau harus diakui : cukup picisan. Harry Stone (Aiello) adalah seorang sutradara setengah baya yang selalu berkeinginan membuat Huckleberry Finn, Anna Karenina, dan Cortez & Montezuma menjadi film yang lebih baik dari bukunya. Namun pada kenyataannya dia terus terjebak - atau menjebak diri - dalam "keharusan" membuat film-film kacangan, termasuk karya terakhirnya "The Pickle" yang menceritakan sebutir mentimun raksasa yang dijadikan pesawat ulang alik ruang angkasa. Tidak seperti film tentang dunia film yang lain, balada Harry ini tidak mengisolasi penonton dengan cerita-cerita aneh khusus tentang dan untuk orang-orang yang tahu seluk beluk Hollywood, di sini kita bisa menikmati semua humor dan dramanya dengan mudah. Mazursky tak segan meliarkan dirinya dengan menumpuk adegan aktual film, cuplikan "The Pickle", dan flashback masa kecil Harry, walau yang terakhir ini memang agak mengganggu. Akhirnya cercalah kami, hai, Yang Terhormat Tuan Kritisi, karena kami juga menilai akting Aiello sempurna. [R]
Pie in the Sky (½)- 1996 / Bryan Gordon / Josh Charles, Anne Heche, John Goodman, Christina Lahti, Peter Riegert, Christine Ebersole, Bob Balaban / [113 mnt] Bill (Charles) adalah seorang pemuda yang hanya jatuh cinta pada dua hal: lalu lintas beserta reportasenya di radio, dan Amy (Heche), sahabatnya sejak kecil. Bill menghabiskan masa mudanya dengan penuh pengalaman tentang kedua hal itu, dia berhasil dekat dengan Alan Davenport (Goodman), reporter lalu lintas terkenal, yang kemudian menjadi mentornya, sementara kisah cintanya dengan Amy selalu timbul tenggelam. Cukup hangat dengan beberapa adegan yang sangat menarik, namun tidak istimewa. [R]
Pillow Book, The (½)- 1996 / Peter Greenaway / Vivian Wu, Ewan McGregor, Yoshi Oida, Ken Ogata, Hideko Yoshida, Judy Ongg, Yutaka Honda, Ken Mitsuishi, Barbra Lott / (BRITANIA - JEPANG - BELANDA) / [113 mnt] Bukan Greenaway namanya kalau tak bisa membuat sutradara lain kelihatan pemalu dan kekurangan ide, dan inilah salah satu karya paling “stylish” sutradara Inggris ini. Film ini berkisah tentang Naoko (Wu), seorang gadis Jepang yang menjadi model di Hongkong. Kenangan terbaik masa kecilnya adalah kaligrafi huruf kanji yang selalu dituliskan ayahnya di wajah Naoko setiap kali si gadis berulang tahun, isi tulisan itu didasarkan pada “The Pillow Book”. Setelah ayahnya meninggal dan beberapa kejadian buruk lain menyusulnya, kaligrafi tetap sangat berarti baginya. Naoko terobsesi secara seksual pada kaligrafi, hingga dia tak bisa lagi membedakan kaligrafer yang baik dengan pacar yang baik. Ketika dia berkenalan - dan kemudian berpacaran - dengan seorang kaligrafer Inggris, Jerome (McGregor, yang pada saat hampir bersamaan melejit lewat hit Skotland, “Trainspotting”), hasrat Naoko terhadap kaligrafi semakin meninggi dan obsesif. Puncaknya, setelah Jerome mati, Naoko menulis lagi kisah hidup dan membuat sendiri Pillow Booknya yang terdiri dari tigabelas bagian dan setiap bagian ditulis di atas tubuh seorang laki-laki yang “disetorkan” secara telanjang pada penerbitnya, yang kebetulan adalah pamannya yang dulu dianggap menghancurkan hidup ayahnya. Ceritanya provokatif dan banyak menyimpang dari taraf normal, tentu, namun itu bukan masalah ketika visualisasi arahan Greenaway selalu sangat mempesona (terutama berkat kejeniusan penata kamera Sasha Vierny), splitted screen yang kebanyakan berbentuk inzet pun tak pernah membosankan. Untuk keaslian gaya, Greenaway pantas disebut Master. Memang, film ini jelas bukan untuk semua selera, ketelanjangan dan kegilaan berdesakkan mengisi santapan keras ini. [NC-17]
Player, The (½)- 1992 / Robert Altman / Tim Robbins, Gretta Scacchi, Fred Ward, Peter Galagher, Brion James, Cynthia Stevenson, Whoopi Goldberg, Lyle Lovett, Sidney Pollack, Vincent D’Onofrio, Dean Stockwell, Richard Grant/ [123 mnt] Film ini boleh dikatakan sebuah komedi hitam, tapi bisa juga disebut thriller, yang jelas film ini layak disebut sebagai salah satu satire paling tepat tentang Hollywood berkat sentuhan khas Altman yang, entah kenapa, makin tua makin sinis. Ceritanya lumayan gombal: Griffin Mills (Robbins, man of the show), seorang eksekutif Hollywood, terus-menerus menerima teror lewat kartu pos, dia lalu membunuh Kahane (D’Onofrio), seorang penulis skenario yang diyakininya sebagai pengirim teror tersebut, ternyata salah! Mills masih menerima teror yang sama setelah itu, gilanya, Mills kemudian jatuh cinta pada June (Scacchi), pacar Kahane dan meninggalkan kekasihnya, Bonnie (Stevenson) yang juga bawahannya, lalu bagaimana akhirnya? Mills tak pernah tertangkap, dengan enak dia tetap hidup makmur, menikah dengan June, dan memecat Bonnie. Salah satu bagian paling memikat (dan juga paling terkenal) dari film ini adalah sekuen pembukaannya yang membangun kesan betapa membosakannya kehidupan yang dijalani para eksekutif di kantor sebuah perusahaan film Hollywood, beralasan kalau mereka terkena stress, depresi, bahkan paranoid (esensi tema film ini). Tracking shot yang sangat efektif ini menunjukkan betapa cerdiknya Altman dan penata kamera Jean Lepine. Ini adalah “pesta bintang” pertama Altman dalam dekade ini, dia bahkan memberi bonus berupa penampilan cameo beberapa figuran kaya raya seperti Cher, Jeff Goldblum, Bruce Willis, Julia Roberts, Susan Sarandon, Malcolm McDowell, Andie MacDowell, Sidney Pollack, Elliot Gould, Marlee Matlin, Lily Tomlin, Rod Steiger, Jack Lemmon, Anjelica Huston, Sally Kellerman, John Cusack, Scott Glenn, Mimi Rogers, Sally Kirkland, Michael Tolkin (yang juga menulis skenarionya), dan dia sendiri. [R]
* Cannes: Sutradara Terbaik (Altman), Aktor Terbaik (Robbins), Golden Globe: Film Terbaik Musikal/Komedi, Aktor Terbaik Musikal/Komedi (Robbins), Independent Spirits Awards: Aktor Terbaik (Robbins), New York Film Critics Awards: Film Terbaik
Playing by Heart ()- 1998 / Willard Caroll / Sean Connery, Gena Rowland, Ellen Burstyn, Gillian Anderson, Angelina Jolie, Jon Stewart, Madeleine Stowe, Dennis Quaid, Anthony Edwards, Jay Mohr, Ryan Phillipe, Patricia Clarkson, April Grace,Alec Mapa, Jeremy Sisto, Matt Malloy, Christian Mills, Kellie Waymire, Tim Halligan, Nastassjia Kinski, David Clennon / (BRITANIA) / (( Dancing about Architecture )) [98 mnt] / Melodrama ini adalah potongan-potongan kisah yang secara terpisah menceritakan bagaimana Connery dan Rowland mencoba menyelematkan perkawinan mereka dan pertunjukan hari-hari yang dijalani tiga anak perempuan mereka (Stowe, Anderson, dan Jolie) ditambah beberapa cuplikan kisah tokoh-tokoh lain. Sebagian besar suasana natural yang tercipta dalam vignette ini selalu bisa diterima dan tokoh-tokohnya dimainkan oleh aktor dan aktris yang sarat daya tarik (walau kecuali Jolie dan Quaid, tak satupun berakting memenuhi status bintang mereka), namum kesan steril, sentimentalisme yang berlebihan, dan overcutesy tetap cukup untuk merusak film ini. [R]
Pleasantville (½)- 1998 / Gary Ross / Tobey Maguire, Reese Whiterspoon, Joan Allen, William H. Macy, Jeff Daniels, J.T.Walsh, Don Knotts, Natalie Ramsey, Kevin Connors, Kristin Rudrud / [116 mnt] (Hitam Putih & Berwarna). Sepasang kakak beradik remaja (Maguire dan Whiterspoon) tidak selalu merasa nyaman dengan warna-warni kehidupan di sekolah dan di rumah. Kedatangan seorang mekanik tv misterius (Knotts) tiba-tiba meluncurkan mereka ke alam Pleasantville, sebuah dunia dari komedi situasi di dalam televisi yang hanya memiliki dua warna: hitam dan putih! Kedua remaja ini kini hidup di sebuah kota kecil ideal dimana semua permasalahan berada jauh dari penduduknya. Semua begitu indah dan hitam putih sampai warna-warna mulai muncul dan menciptakan keresahan pada penduduk. "Pleasantville" adalah sebuah satir yang disajikan dengan manis dalam tampilan visual yang sensasional. Fotografi berwarna dan hitam putih John Lindley adalah salah satu yang paling mengesankan di zamannya. Tata artistik, kostum, dan spesial efek film ini juga memberi dukungan yang luar biasa. Ross jelas adalah orang yang punya referensi sempurna tentang gaya film-film Hollywood tahun limapuluhan, baik layar lebar maupun televisi, Plesantville menghidupkannya kembali tanpa sedikitpun terasa dipaksakan. Para pemain bermain sangat bagus, terutama Allen sebagai seorang ibu yang berjuang menahan hasratnya. [PG-13]
Plunkett & Macleane ()- 1999 / Jake Scott / Robert Carlyle, Jonny Lee Miller, Liv Tyler, Ken Stott, Alan Cumming, Tommy Flanagan, Stephen Walters, Terence Rigby, Christian Camargo, Matt Lucas, David Walliams, Iain Robertson, David Foxxe, Jake Gavin / (BRITANIA) / [92 mnt] / “Trainspotting” bertemu “Robin Hood” dalam komedi antihero ini. Bagaikan Robin Hood, Plunkett dan McLeane menjadi terkenal berkat kelihaian mereka merampok harta orang-orang kaya, bedanya, duet ini melakukannya bukan untuk menyumbang orang-orang yang kekurangan, melainkan murni untuk kesenangan mereka sendiri (Plunkett terobsesi oleh kekayaan dan Amerika, McLeane oleh - sederhana saja – judi dan wanita). Seorang “polisi jahat” bernama Chance (dimainkan dengan sangat bagus oleh Stott) berniat menjadi nemesis mereka dan siap mengejar mereka kemana saja dengan segala cara. Adukan eksentrik antara realitas sosial Inggris abad XVIII dan masa kini menciptakan efek-efek komedik yang sangat mengasyikan, namun kerenyahan dan kecerdasan film ini tak pernah mencapai puncak, selalu terasa ada keseriusan dan juga gurauan yang tak berhasil disampaikannya, apalagi dengan endingnya yang terkesan serba salah. Alumnus kedua dan ketiga terpopuler “Trainspotting”, Carlyle dan Miller, adalah dua orang yang paling tempat untuk memainkan sepasang perampok ini, namun akting malas-malasan Tyler berada di luar jalur dan Lady Rebecca-nya gagal menjadi penyedap film ini. Sementara itu Cumming berhasil merebut setiap adegan yang menampilkannya sebagai Lord Rochester yang genit. [R]
Point of No Return (lihat: Assassin )
Poison ()- 1990 / Todd Haynes / Edith Meeks, Scott Renderer, Larry Maxwell, Susan Norman, James Lyons [85 mnt] Melengkapi barisan film kontroversial Amerika di awal sembilanpuluhan, Poison adalah sebuah antologi dengan tiga cerita yang semuanya berurusan dengan keterasingan, kesepian, harga diri, dan keterhinaan. Cerita pertama adalah sebuah parodi dokumenter tentang seorang anak berusia tujuh tahun yang menghilang secara misterius setelah menembak ayahnya, cerita kedua adalah sebuah “tiruan” film fiksi ilmiah tahun limapuluhan tentang seorang dokter yang wajahnya semakin rusak setelah meminum serum buatannya sendiri, dan yang ketiga - yang mungkin paling gila dan sulit dicerna - adalah kisah seorang narapidana homoseks. Ketiga cerita ini hadir secara bergiliran bukan satu persatu sampai selesai seperti kebanyakan antologi film, namun anda tak akan kebingungan “yang mana ini?” karena ketiganya mempunyai gaya penceritaan dan tampilan visual yang sangat berbeda satu sama lain. Walau Haynes berhasil membuktikan keliaran imajinasi dan kehebatan skillnya lewat film ini, namun rasanya film ini hanya cocok untuk penonton yang memang menginginkan atau terbiasa dengan sesuatu yang berani tampil beda. Catatan : Haynes selama belasan tahun berkarir sebagai sutradara underground, Poison adalah film pertamanya yang dipasarkan secara normal. Salah satu film bawah tanahnya adalah "Superstar. A Karen Carpenter's Story", salah satu film paling diminati dalam dunia film underground Amerika namun konon sangat sulit didapat karena pencekalan berkaitan dengan hak cipta lagu-lagu The Carpenter. [NC-17]
Poison Ivy ()- 1992 / Katt Shea Ruben / Sara Gilbert, Drew Barrymore, Tom Skeritt, Cheryl Ladd / [100 mnt] Barrymore bermain sebagai Ivy, gadis misterius yang masuk dalam kehidupan keluarga Cooper dan menghancurkan segalanya. Babak pertama film ini menjanjikan gaya yang tidak klise akan bertahan hingga akhir, namun ternyata tak usah menunggu sampai akhir, sejak konflik pertama terbangun di dalam rumah, film ini disajikan dengan gaya yang tak ada bedanya dengan gaya film-film lain tentang teror "anggota baru keluarga", bahkan masih banyak film sejenis yang lebih menarik dari PI. Barrymore adalah bagian paling meyakinkan dari film ini. [R]
Portrait of a Lady (½)- 1996 / Jane Campion / Nicole Kidman, Barbara Hershey, John Malkovich, Martin Donovan, Mary Louise-Parker, Shelley Winters, Richard E. Grant, Shelley Duvall, Christian Bale, Viggo Mortensen, Valentina Cerni, John Gielgud / [144 mnt] Isabelle (Kidman), dalam film yang diangkat dari novel Henry James ini, adalah seorang wanita Amerika yang cerdas, jujur, penuh prinsip, dan mendambakan kemandirian. Namun semua itu tak bisa dijadikan pelindung diri yang berarti banyak ketika dia jatuh dalam rayuan Hershey yang memperkenalkannya dengan seorang laki-laki Eropa yang kesepian (Malkovich) yang kemudian menjadi suaminya. Sementara itu, Isabelle sebetulnya bisa mendapatkan cinta yang lebih murni dari sepupunya yang sakit-sakitan (Donovan). Kemampuan Campion dalam membuat sebuah karya visual tak usah diragukan lagi, namun kali ini dia tak mampu menyusun gaya bertutur yang enak dinikmati, hingga berkali-kali kita merasa bahwa film ini telah harus berakhir. [R]
Practical Magic (½) - 1998 / Griffin Dunne / Sandra Bullock, Nicole Kidman, Dianne Wiest, Stockard Channing, Aidan Quinn, Goran Visnjic, Evan Rachel Wood, Alexandra Astrip, Mark Feuerstein / (105 min) Sally dan Gillian (Bullock dan Kidman, siapa yang beride pintar-pintar bodoh menjadikan mereka kakak beradik?) adalah putri-putri keluarga Owen yang sejak remaja diasuh oleh dua orang bibi mereka, Frances dan Jet (Channing dan Wiest, pantas?). Wanita-wanita Owen ini bukanlah wanita biasa, secara turun-temurun mereka mewarisi ilmu sihir yang sangat tinggi, namun kemammpuan ini juga disertai kutukan yang membuat anggota laki-laki keluarga ini tak pernah berumur panjang. Sally adalah salah satu korbannya, dia hidup menjanda bersama dua orang putri. Sally selalu melindungi kedua putrinya ini agar tidak menerima pendidikan ilmu sihir. Namun ketika Gillian yang genit berpacaran dengan seorang pria Bulgaria yang kejam (Visnjic), Sally turun tangan dan meminta kedua bibinya yang ahli pun turun tangan. Komedi romantis ini lebih naif dari novel naif yang ditulis Alice Hoffman, cerita tentang ilmu sihir dan kisah cintanya sama bodohnya. Namun Dunne masih berhasil menyelipkan beberapa adegan yang cukup menggelitik dan menyegarkan. Barisan bintangnya juga cukup memuaskan, terutama Channing dan Kidman, walau sekali lagi: melihatnya berpasangan kakak-beradik dengan Bullock serasa meminum kopi dan juice melon bersama-sama. [PG-13]
Preaching to the Perverted ()- 1997 / Stuart Urban / Guinevere Turner, Christien Anholt, Tom Bell, Julie Graham, Georgina Hale, Julian Wadham, Ricky Tomlinson, Sue Johnston / (BRITANIA) / [99 mnt] Komedi seks ini adalah sebuah kisah yang siap menguji mood pemirsa dengan berbagai sisi sakitnya. Peter Emery (Anholt) adalah seorang pemuda lugu yang taat beragama. Suatu waktu, Harding (Bell), seorang jaksa, memintanya untuk memata-matai dan mengumpulkan bukti kegiatan di sebuah pub seks yang menampilkan praktek sado-masochism secara terang-terangan yang dianggap amoral dan ilegal. Namun, cukup bisa diduga, Peter malah terperangkap di dalamnya, di bawah kekuasaan seorang tiran sado asal Amerika yang sexy dan kharismatik, Tanya Cheex (Turner, bandingkan dengan penampilan imut-imutnya sebagai intelektual lesbi dalam “Go Fish” yang menjadikannya favorit penggemar film underground). Sementara itu, Harding tetap ingin menyeret Tanya dan kelompok orang anehnya ke pengadilan, hasilnya sangat kecil. Selain menampilkan kekalutan sosio-kultural dunia dengan diwakili London, kota yang disebut-sebut ibukota segala macam budaya tandingan akhir abad ini, film ini berhasil menjadi komik yang seolah mengatakan bahwa pemberian batas antara sensualitas, naluri dasar manusia, dengan neurotisme, bukanlah sesuatu yang terlalu penting untuk dilakukan. Tergantung selera, dan secara keseluruhan memang tidak terlalu istimewa, namun banyak pengamat yang memperkirakan film yang sarat dengan dentuman house-music dan electronica ini akan menjadi sebuah santapan “cult” (film yang mempunyai kelompok penggemar khusus). [R]
Predator 2 (½)- 1990 / Steven Hopkins / Danny Glover, Gary Busey, Maria Conchita Alonso, Ruben Blades, Bill Paxton, Kevin Hall, Robert Davi, Morton Downey.Jr / [108 mnt] Sang Predator kembali lagi ke bumi, kali ini bukan ke hutan belantara, melainkan ke tengah-tengah megapolitan Los Angeles tahun 1997! Film sudah dibumbui juga oleh kehadiran pengedar obat bius yang bergaya voodoo, namun tensinya tetap saja jauh dari memadai untuk disebut film laga yang seru (Ini belum berbicara tentang kedalaman skenario, fotografi, akting, dan hal-hal “cerdas” lainnya!) [R]
Pret-A-Porter (lihat: Ready to Wear”)
Pretty Woman (½)- 1990 / Garry Marshall / Richard Gere, Julia Roberts, Ralph Bellamy, Jason Alexander, Laura San Giacomo, Hector Elizondo, Alex Hyde-White, Elinor Donahue, Larry Miller, Jane Morris / [106 mnt] Superhit yang sepertinya tak pandang bulu dalam mengumpulkan pemirsa ini sebetulnya adalah sebuah film yang kenikmatannya sangat tergantung pada subjektivitas pemirsanya. Gere bermain sebagai seorang pengusaha yang menciptakan dinding yang besar antara bisnis dan perasaan. Ketika dia memerlukan seorang teman untuk menghadiri pertemuan, dia menyewa Vivian (Roberts), seorang pelacur yang dalam beberapa hal mempunyai banyak persamaan jalan pikiran dengannya. Satu minggu mereka bersama, dalam masa itulah hedonisme, kebutuhan pribadi, dan pengertian antar sesama manusia mulai menemukan artinya sendiri-sendiri. Anda pasti setuju kalau orang berpendapat bahwa Roberts bermain sangat bagus, dan itu pantas melejitkannya ke deretan superstar (dia hanya aktris berpendapatan menengah sampai film ini), namun anda tak harus setuju atau percaya pada segala sesuatu yang disampaikan film yang memandang kekerasan hidup dengan kacamata yang super lembut ini, seperti juga anda tak harus setuju pada nilai yang kami berikan. Peran Roberts semula ditawarkan pada Daryl Hannah, namun dia menolaknya mentah-mentah dan berkata bahwa skenario film ini salah dalam mengapresiasi martabat wanita, bila anda setuju pada perkataan Hannah, anda pasti memotong minimal setengah dari nilai di atas, namun jika anda merasa bahwa perkataan Hannah tak beralasan, anda pasti menambah minimal setengah dari nilai di atas. [R]
* Golden Globe: Aktris Utama Terbaik Musikal/Komedi (Roberts)
Primary Colors ()- 1997 / Mike Nichols / John Travolta, Emma Thompson, Adrian Lester, Kathy Bates, Billy Bob Thornton, Maura Tierney, Paul Guilfoyle, Larry Hagman, Caroline Aaron, Rebecca Walker, Diane Ladd, Rob Reiner, J.C. Quinn, Allison Janney, Mykelti Williamson, Ned Eisenberg / [135 mnt] Film ini diangkat dari novel fenomenal Joe Klein, dan Nichols membuat semuanya terasa seperti tentang Bill Clinton. Travolta bermain sebagain Jack Stanton, kandidat presiden dari Partai Demokrat dalam pemilu Amerika. Sebagaimana yang terjadi pada hampir semua kandidat lain di zaman media ini, sebelum mencapai puncak Stanton harus berhadapan dulu dengan berbagai berita tentangnya yang sampai ke publik, mulai dari tindak pidana, perselingkuhan, masa lalu karir politik yang tidak bersih, sampai saingan yang tiba-tiba terkena serangan jantung setelah berbicara dengannya. Mengatasi semua itu, membersihkan nama Stanton, dan melicinkan jalannya menuju Gedung Putih adalah tugas tim kampanyenya. Ketika hambatan dan tugas sudah semakin berat, sebagian dari mereka mulai dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan moral yang sangat mendasar untuk batin masing-masing, sementara sebagian lainnya melaju lurus menubruk setiap rintangan. Kerja tim kampanye ini adalah salah satu sisi yang paling ingin ditonjolkan film ini. Sebagai sebuah satir politik, PC hampir sepenuhnya berhasil, tak ada stereotip suasana pemilu yang terlewatkan. Namun sebagai sebuah hiburan, film ini justru terlalu sering mengabaikan detil ketika kita mengharapkan keseriusan, dan sering tiba-tiba menjadi sok serius ketika kita sudah menganggapnya sebagai komedi. Akting adalah aspek yang hampir tanpa cacat dalam film ini, tak seorangpun bermain tidak mengesankan. [PG-13]
Professional, The (lihat: Leon)
Proof (½)- 1991 / Jocelyn Moorhouse / Hugo Weaving, Genevieve Picot, Russell Crowe, Heather Mitchell, Jeffrey Walker, Frank Gallacher / (AUSTRALIA) / [91 mnt] Martin (Weaving) adalah seorang tuna netra yang selalu “memandang” dunia dengan disertai rasa percaya yang minim sekali. Semua ini erat sekali kaitannya dengan masa kecilnya, ketika dia hidup berdua bersama ibunya. Setelah dewasa, kebiasaan unik Martin adalah membuat foto-foto dan kemudian meminta orang lain untuk menceritakan apa yang ada dalam foto itu padanya, dia melakukan ini dengan tujuan membuat bukti (proof) bahwa apa yang dirasakannya sama degan apa yang dilihat orang lain. Martin mempunyai seorang pengurus rumah (Picot) yang sangat terobsesi olehnya. Perkenalan Martin dengan Andy (Crowe), seorang tukang cuci piring yang pernah dia minta untuk menceritakan foto-fotonya, memulai sebuah segitiga yang rumit di antara ketiga orang ini. Kisah psikologis yang sesungguhnya sangat serius ini disampaikan dengan sangat dingin namun terkesan santai dan kaya humor, kejelian Moorhouse menulis dan menyutradarai karya pertamanya ini membuat tak satu adeganpun minta dilewatkan. Weaving, Picot, dan Crowe bermain luar biasa, apalagi mengingat bahwa mereka memainkan karakter-karakter yang sangat kompleks dan sulit diobservasi. Film tentang penglihatan dan kepercayaan ini juga membuka penglihatan dan kepercayaan Hollywood pada Moorhouse, dan tak lama kemudian suaminya, Paul J. Hogan, juga memperkenalkan diri pada dunia lewat hit yang lebih besar “Muriel’s Wedding”. [R]
Prophecy, The (½)- 1995 / Gregory Widen / Elias Koteas, Virginia Madsen, Christopher Walken, Eric Stoltz, Morah Shining Dove Sayder, Adam Goldberg, Steve Htyner, J.C.Quinn, Amanda Plummer, Viggo Mortensen / [92 mnt] ((God’s Army)) Dimulai dengan seorang korban tabrakan berwujud aneh yang ditemukannya, Sersan Thomas (Koteas) mulai menemukan sebuah kasus yang menyeretnya ke sebuah kejadian besar: sekelompok malaikat jahat melepaskan diri dari akherat dan berniat menguasai dunia, seorang anak kecil dan seorang tokoh militer yang telah meninggal menjadi dua tokoh kunci yang dibutuhkan kekuatan-kekuatan dari dunia lain itu. Walau harus diakui bahwa premis film ini dengan sangat mudah telah menarik perhatian kita, namun setelah kita mulai menontonnya ternyata cerita itu sangat sulit sekali untuk menjadi dekat dengan kita (tak perduli apapun kepercayaan kita), hingga film ini tak lebih dari sekedar dongeng yang sangat berjarak dengan penontonnya. [R]
Proposition, The ()- 1997 / Lesli Linka Glatter / William Hurt, Madeleine Stowe, Kenneth Branagh, Neill Patrick Harris, Robert Loggia, Josef Sommer, Blythe Danner / [100 mnt] Hurt, seorang kaya bergaya aristokrat, tak bisa memberi anak pada istrinya (Stowe). Dia mengajukan sebuah rencana kontroversial: membayar seorang lelaki untuk menghamili istrinya. Muncullah Harris yang penggugup atas rekomendasi seorang pastur (Branagh), tetapi rencana seperti ini akan sulit berjalan mulus, dan siapa si pastur sesungguhnya? Glatter membuat filmnya berjalan begitu datar, padahal modal materi ceritanya setajam ini, baru di akhir film dia menaikkan tegangannya, ironisnya, bagian akhir film ini adalah bagian paling artifisial dalam skenarionya. [R]
Psycho (½)- 1998 / Gus van Sant / Vince Vaughn, Julianne Moore, Viggo Mortensen, Anne Heche, William H. Macy, Chad Everett, Philip Baker Hall, Anne Haney, James Remar, James LeGros, Rance Howard, Rita Wilson, Flea / [97 mnt] Salah satu legenda Hitchcock, film yang menjadi nenek moyang semua thriller sejenis diangkat lagi ke layar lebar. Marianne (Heche) membawa uang panas dalam jumlah besar, dalam perjalanannya dia menginap di Bates Motel, penginapan kecil yang menyimpan sejumlah misteri, dikelola seorang pemuda dingin (Vaughn, tidak memalukan dalam usaha reinkarnasi karakter legendaris Anthony Perkins) dan "ibunya". Hey, apakah Van Sant memang orang yang paling tepat untuk rekreasi ini? Entahlah, dia tidak bisa dibilang gagal, gayanya cukup menarik walau agak genit, dia juga tampaknya terlalu sadar pada beban kebesaran versi asli Sang Master. Yang jelas, orang yang menonton film ini tanpa tahu banyak tentang sejarah Hollywood tak akan mengira bahwa cerita ini pernah menjadi salah satu film paling berpengaruh dalam abad ke duapuluh. [R]
Public Eye (½)- 1992 / Howard Franklin / Joe Pesci, Barbara Hershey, Stanley Tucci, Jerry Adler, Dominic Chianese, Gerry Becler, Jared Harris, Bob Gunton, Del Close, Nick Tate / [99 mnt] Leon “Bernzy” Bernstein (Pesci) adalah seorang fotografer (semi paparazzo sebetulnya) yang tak segan mengejar objek apapun yang menarik hasratnya. Perkenelannya dengan seorang pemilik klub (Hershey) membawanya ke sebuah masalah yang sangat besar, bahkan mengancam nyawanya. Banyak pengamat yang menganggapnya film istimewa, dan film ini memang dibuat dengan dengan teliti, beberapa adegannya secara visual sangat cantik, dan pemeran utamanya adalah orang yang mempunyai kebiasaan bermain baik, namun beberapa subplot dibiarkan berlalu begitu saja tanpa banyak menarik perhatian. [R]
Pulp Fiction ()- 1994 / Quentin Tarantino / John Travolta, Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Ving Rhames, Uma Thurman, Maria de Medeiros, Amanda Plummer, Tim Roth, Quentin Tarantino, Eric Stoltz, Rosanna Arquette, Harvey Keitel, Christopher Walken, Frank Whaley, Peter Greene, Paul Calderone, Steve Buscemi, Julia Sweeney, Angela Jones, Bronagh Gallagher, Alexis Arquette / [155 mnt] Radikal, fenomenal, sensasional, brutal, nakal, ngakal, gombal, dan entah -al apalagi yang bisa dialamatkan pada parodi kekerasan ini. Tarantino menghibur diri dan orang lain dengan cerita-cerita dari dunia kejahatan yang ditumpuk berdesak-desakkan dengan alur cerita yang zigzag dan tampilan yang revolusioner yang kadang-kadang sampai membuat kita geleng-geleng kepala, tertawa kecil, atau bahkan ngakak. Ada kisah tentang Pumpkin (Roth) dan Honey Bunny (Plummer), dua rampok kecil, juga ada Butch (Willis), petinju tua yang merugikan penyuapnya, dan yang paling sering kita temui adalah Jules (Jackson) dan Vincent (Travolta), dua kepercayaan gembong penjahat bernama Marsellus Wallace (Rhames) dan istrinya, Mia (Thurman). Karakter-karakter ini menjalani kisahnya dalam kelompok masing-masing dan dipertemukan satu sama lain secara tak terduga, kita pun ditantang untuk bisa menyusun urutan kejadiannya setelah film memasuki sekuen-sekuen akhir (keputusan terakhir adalah: sia-sia mencoba mengurutkannya secara kronologis!). Segala macam kekerasan, ketololan, gurauan sinting, dan kejorokan film ini adalah bagian dari terapi artistiknya yang hadir hampir di setiap adegan. Lebih dari itu, sebagian besar kesepakatan tingkat lanjut tentang bagaimana sebuah film seharusnya tampil, diruntuhkan dengan mudah oleh semangat main-main film ini. Mungkin inilah kandidat utama untuk menjadi film paling penting dalam menandai perkembangan film Amerika dekade sembilanpuluhan. Film ini pun berhasil menciptakan karakter-karakter yang menjadi klasik serta dialog-dialog terlezat yang pernah ditulis untuk sebuah film. Untuk karya semandiri ini, nilai  yang diberikan boleh anda tentukan sendiri artinya. Salut, terimakasih banyak, dan merdeka, Tarantino! [R]
* Academy Awards: Skenario Asli Terbaik (Tarantino, Roger Avary), Cannes: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Tarantino), Independent Spirits Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Tarantino), Skenario Terbaik (Tarantino, Avary)
Punisher, The ()- 1990 / Mark Goldblatt / Dolph Lundgren, Louis Gosset, jr., Jeroen Krabbe, Kim Miyori, Nancy Everhard, Brian Rooney, Bryan Marshall, Barry Otto, Zoshka Mizak / (A.S - AUSTRALIA) / [92 mnt] Dari komik Gerry Conway, si Viking besar, Lundgren, bermain sebagai Frank “The Punisher” Castle, polisi yang membalas dendam kematian orangtuanya dengan cara yang luar biasa sadis. Beberapa bagian dari style penyutradaraannya cukup menarik, selebihnya anda tahu sendiri. [R]
Pushing Tin ()- 1999 / Mike Newell / John Cusack, Billy Bob Thornton, Cate Blanchett, Angelina Jolie, Vicki Lewis, Jake Weber, Kurt Fuller, Matt Ross, Jerry Grayson, Michael Willis / [124 mnt] / Cusack adalah seorang petugas pengawas lalu lintas udara di TRACON dengan reputasi kerja dan reputasi perkawinan yang baik. Prestasi kerjanya hampir sempurna dan dia adalah suami yang hampir sempurna untuk istri yang hampir sempurna pula (Blanchet). Namun kedatangan Russell Bell (Thornton) dan istrinya yang sangat sexy namun peminum dan depresif (Jolie) ke dalam lingkungan kerjanya siap mengobrak-abrik nilai-nilai bagus itu. Santai saja, ini hanya roman komedi, suasana tidak akan dibiarkan kacau sampai akhir. PT mempunyai detil-detil yang cukup menggelitik, satiris, eksentrik, dan humoris, namun garis besar ceritanya justru tak cukup untuk membuatnya istimewa selama masih dikerjakan dengan gaya selumrah ini, film ini juga mempunyai terlalu banyak klimaks di bagian akhirnya (sehingga adegan terakhirnya malah terasa tidak berkesan dan “murah” sekali). Duet tangguh Cusack-Thornton menjadi nilai tambah integral yang sangat besar, dibantu oleh akting segar Blanchet, Jolie, dam semua pemain lain yang sangat fasih menerjemahkan peran masing-masing. Skenario film ini ditulis Les dan Gari Charles, penulis serial televisi “M*A*S*H”,. “Cheers”, dan “Taxi”. [R]


Q



Queen Margot (½)- 1994 / Patrice Chereau / Isabelle Adjani, Vincent Perez, Danny Auteuil, Jean Hugues Anglade, Pascal Greggory, Virna Lisi, Asia Argento, Dominique Blanc, Claudio Amendola, Miguel Bose, Julien Rassam, Tomas Kretschman, Jean Claude Brialy / (PRANCIS-PORTUGIS-JERMAN-ITALIA) {Bahasa Prancis} / [166 atau 143 mnt] (( La Reine Margot )) Kisah ini diangkat dari karya klasik Alexandre Dumas tentang Margueritte de Valois alias Margarett de Navarre alias Ratu Margot (Adjani), putri Raja Louis XIII dari Catherine, adik Raja Charles IX, isteri Henry IV de Navarre, dan kekasih gelap prajurit Joseph La Môle (Perez). Margot mencoba mencari kedamaian dalam kegelisahannya di lingkungan istana Prancis yang secara de fakto berada dalam kekuasaan ibu suri Catherine de Medici (Lisi) dan Duc d’Anjou (Greggory), sementara Charles hanya sebagai lambang saja. Perang agama menjadi pemicu utama kekacauan Prancis saat itu. Film ini terbungkus pekat oleh nuansa kegilaan dan nafsu yang hampir di luar kontrol, Chereau berhasil menjadikan keduanya sebagai salah satu modal untuk menciptakan nuansa yang mencengangkan (perhatikan sekuen pembantaian, sekuen Margot di lorong jalanan, dan banyak lagi) yang tak selalu ditemukan pada film bagus produksi Eropa yang lain dan tak pernah ditemukan pada film Amerika. Semua bintang pendukung bermain sangat meyakinkan, hampir tanpa kecuali, walau Anglade (Charles) tak bisa dipungkiri adalah yang paling memukau. Sementara itu sulit memastikan apakah hidup laginya Ratu Margot dalam film ini adalah akibat akting Adjani yang sempurna, atau sekedar karena kharisma ajaib aktris bertampang tahan lama ini, atau mungkin juga karena kedua sebab itu. Catatan : Film ini dirilis di Prancis dalam versi asli 166 menit, namun Miramax tak mau mengambil resiko dan mengedarkannya secara internasional dalam versi 143 menit. [R]
* Cesar Awards: Aktris Utama Terbaik (Adjani)
Queens Logic (½)- 1991 / Steve Rash / Kevin Bacon, Joe Mantegna, Linda Fiorentino, Ken Olin, Chloe Webb, John Malkovich, Jamie Lee Curtis, Tony Spirandakis, Tom Waits / [112 mnt] Beberapa orang sahabat lama dari Queens, New York, bereuni untuk mengenang masa lau dan menyadari perubahan-perubahan yang telah terjadi pada diri mereka masing-masing dan juga pada diri teman-teman lamanya. Formula klise menjadi masalah yang membuat film menjadi kurang menarik, namun lumayan tertolong oleh permainan Mantegna, Webb, Malkovich, dan terutama Curtis yang memainkan karakter yang memang paling menarik, yang justru bukan salah satu dari para sahabat lama, film menjadi lebih menarik sejak kemunculannya dan kembali ke asal sejak dia tak ada lagi di layar. [R]
Quest, The (½)- 1996 / Jean Claude van Damme / Jean Claude van Damme, Roger Moore, James Remar, Janet Gunn, Paul McKee, Louis Mandylor, Aki Aleong / [99 mnt] Formula umum pertandingan beladiri berpadu dengan atmosfer ala Indiana Jones. The Quest adalah debut penyutradaraan van Damme, apa lagi yang bisa diharapkan kemudian? [R]
Quick (½)- 1993 / Rick King / Teri Polo, Jeff Fahey, Robert Davi, Martin Donovan, Tia Carrere / [99 mnt] Quick (Polo, dengan akting yang tidak menarik) adalah seorang pembunuh bayaran cantik yang bertugas menculik dan menyandera seorang akuntan (Fahey, satu-satunya pemain film ini yang aktingnya tidak membosankan), kelanjutannya bisa ditebak. Segala sesuatu dalam film ini berjalan hambar dan membuat kita ingin cepat melihatnya selesai. [R]
Quick and the Dead, The ()- 1994 / Sam Raimi / Sharon Stone, Russel Crowe, Gene Hackman, Leonardo di Caprio, Gary Sinise, Pat Hingle, Lance Henriksen, Tobin Bell, Robert Blossom, Kevin Conway, Keith David, Bruce Campbell, Fay Masterson / [105 mnt] Lanjutan aksi SSS ini tak lebih dari sebuah film western standar dengan susunan plot yang melelahkan dan tak memberikan sesuatu yang baru. Kisahnya tentang Ellen (Stone) seorang jago tembak wanita yang terlibat dalam sebuah kontes duel untuk kemudian bertemu lagi dengan Herod (Hackman) orang yang harus bertanggung jawab atas pembunuhan ayah Ellen (Sinise). Para pemain bermain cukup memuaskan dan fotografinya lumayan (kalau kita memaafkan keklisean), tak lebih. [R]




R


Raiders of the Sun ()- 1992 / Cirio Santiago / Richard Norton, Brigitte Steinberg / [ 80 mnt] Ide ceritanya: dunia sangat miskin dan kacau setelah perang dunia ketiga berakhir, geng-geng penjahat menjadi penguasa dan berperang satu sama lain. Hasilnya: siapa yang mau percaya pada orang-orang yang sibuk bermain perang-perangan, bertampang aneh-aneh, dan mengatakan hal-hal yang memuakkan hampir setiap saat? Produksi hancur lain (bukan satu-satunya) dari Corman, sutradara kawakan yang jelas punya kemampuan membuat film yang jauh lebih bagus daripada ini. [R]
Raise the Red Lantern ()- 1992 / Zhang Yimou / Gong Li, He Caifei, Ma Jingwu, Cao Cuifeng, Jin Shuyuan, Kong Lin, Ding Weimin, Cui Zhigang / (CINA - TAIWAN - HONGKONG) {Bahasa Mandarin}/ [125mnt] Songlian (Gong) sebenarnya mempunyai cita-cita untuk meneruskan pendidikannya, tapi nasib dan keadaan ekonomi berkata lain, dia terpaksa menjadi selir seorang bangsawan (Ma, yang tak pernah bisa dikenali dengan jelas di layar). Songlian menjadi istri keempat sang bangsawan dan memasuki kehidupan yang detil-detilnya menjadi bahan tinjauan film ini. Raise the Red Lantern, sebuah satir yang tragis namun tak segan menyelipkan humor - yang juga tragis, mengupas habis segala jenis hubungan yang terjadi dalam rumah sang bangsawan dan perkembangan jiwa Songlian selama satu tahun kehidupannya di sana. Walau skenario Ni Zhen (dari novel Su Tong) sangat memperhatikan detail, namun tak ada alasan untuk menyebut temponya terlalu lambat, Zhang tahu bagaimana membuat filmnya selalu mencengkram perhatian penonton. Visualisasinya, yang hanya bisa digambarkan dengan kata menakjubkan, adalah kesempurnaan yang jarang ditemukan, tak seorangpun akan mengeluhkan shot-shot statis yang mendominasi film, justru dari sana sebagian besar kekuatan visual film ini muncul. Semua aktor dan aktris menghidupkan perannya tanpa cacat, dengan Gong Li – aktris dengan kharisma visual paling dahsyat yang pernah lahir di Asia - sebagai bintang utama yang benar-benar bintang. Inilah karya terbaik Zhang sampai saat ini, yang membuatnya menjadi master film lain dari Asia yang paling banyak dikenal dunia setelah Kurosawa, dan rasanya inilah salah satu film terbaik dunia dalam tiga tahun pertama dekade ini. Catatan kecil: Di belakang layar, skandal Zhang - Gong semakin memanas seiring dengan popularitas film ini di berbagai festival dunia. [PG]
* New York Film Critics Awards: Film Asing Terbaik, Berlin Film Festival : Film Terbaik, Aktris Terbaik (Gong)
Raising Cain (½)- 1993 / Brian De Palma / John Lithgow, Lolita Davidovich, Steven Bauer, Frances Sternhagen, Gregg Henry, Mel Harris, Teri Austin / [95 mnt] Lithgow nyaris beraksi seorang diri, dia memainkan beberapa karakter yang bersemayam pada satu tubuh, tubuh dr.Nix, seorang dokter ahli pertumbuhan anak, dia sangat berbahaya bagi istrinya, anaknya, dan bagi semua orang yang sedang bernasib sial ketika bertemu dengannya. De Palma memang sangat ahli dalam meneror penonton, namun hal itu justru dilakukannya secara berlebihan hingga terasa sangat artifisial. Kemampuan Lithgow memainkan perannya yang hampir tak mungkin dimainkan, dan beberapa di antara kejutan-kejutan logis ala De Palma merupakan kekuatan film ini. Bersiaplah untuk salah satu ending paling mengejutkan di tahun 1993! [R]
Rambling Rose (½)- 1991 / Martha Coolidge / Laura Dern, Lukas Haas, Robert Duvall, Dianne Ladd, John Heard, Kevin Conway, Robert Burke, Lisa Jakub, Evan Lockwood / [112 mnt] Ketenangan hidup keluarga Hillyer - terutama Buddy (Haas), anak tertua berusia 12 tahun yang selalu penuh rasa ingin tahu - terguncang dan menjadi penuh warna sejak kedatangan pembantu rumah tangga baru bernama Rose (Dern), gadis desa yang malang, naif, polos, kampungan, dan....hippersex! Rose lah yang membangkitkan keakilbaligan Buddy dan menjadi tokoh yang tak terlupakan dalam kehidupan keluarga ini. Bagi penonton yang pernah membaca novelnya yang ditulis Calder Willingham (yang juga menulis skenarionya), film ini akan terasa terlalu jinak dan kurang lengkap karena tidak tertangkapnya cerita dari sudut pandang Buddy dan berakhirnya cerita begitu Rose menikah. Namun tak terdebat lagi bahwa kerjasama Willingham, Coolidge, dan semua kru film ini telah menghasilkan sebuah karya yang padat dan menarik dengan karakter tokoh utama yang sangat unik. Semua pemain juga membentuk sebuah tim pemeran yang mendekati kesempurnaan, Dern bahkan sudah sampai di sana, dia memberikan salah satu akting terbaik yang pernah ditampilkan seorang aktris dalam dekade ini. [R]
* Independent Spirits Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Coolidge), Aktris Pendukung Terbaik (Ladd)
Rapture, The ()- 1991 / Michael Tolkin / Mimi Rogers, David Duchovny, Pat Bauchau, Kimberly Cullum, Will Patton, Victoria Williams / [99 mnt] Film ini cukup menggebrak dan cukup mengundang tanggapan. Sharon (Rogers dalam penampilan terbaik sepanjang karirnya sampai saat ini) adalah seorang operator telepon yang menempuh kehidupan sexual bebas dan nyaris teratur (bersama seorang teman lelakinya, dia melakukan kencan seks segi empat dengan beberapa suami istri atau pasangan mana saja dengan terencana), hingga pada suatu saat dua orang asing “memberi petunjuk” padanya untuk mengikuti sebuah sekte keagamaan yang berpendapat bahwa akhir dunia hampir tiba dan Jesus akan segera turun, mereka berkata bahwa hanya pengikut sekte merekalah yang akan diselamatkan. Sharon yang pada saat yang bersamaan sedang mengalami kekosongan makna hidup dan mulai merasakan ketidaknormalan gaya hidupnya, tidak terlalu sulit untuk mempercayainya. Selanjutnya, mulailah petualangan spiritual Sharon yang baru yang berada antara mimpi dan kenyataan. Film ini memang tak bergaya provokatif, dialog-dialognya juga tak ada yang terlalu tajam dan dalam untuk mempengaruhi sesorang, namun ide cerita seperti itu dan realisasi filmis yang cukup berani sudah cukup untuk membuatnya tampil beda. [R]
Ratchet ()- 1997 / John Johnson / Tom Gilroy, Margaret Welsh, Mitchell Lichtenstein, Nuritt Roppell, Matthew Dixon, Neall Jones, Robert Whaley, John A. McKay / [99 mnt] Elliott Callahan (Gilroy) adalah seorang penulis skenario - bukan penulis yang terlalu hebat dan orisinal - yang sedang dikejar dead line, sedangkan dia sendiri sedang mengalami kemandegan ide sementara pengacara studio mulai mengancamnya. Dia kemudian memutuskan untuk pergi ke sebuah pulau dan menulis di sana, namun kemudian dia malah ikut berperan dalam sebuah permainan licik antar manusia di pulau itu bersama seorang agen real estate (Welsh), seorang penulis lain (Lichtenstein), seorang pemahat sexy (Roppell), seorang pembunuh berantai yang menulis autobiografi berbentuk skenario (Dixon), dan seorang sherif misterius (Jones). Thriller ini dibuka dengan cukup menarik, kemudian memasuki keklisean, menjadi menarik lagi, dan setelah itu mulai membabi buta dengan jalinan cerita yang tak henti-hentinya menampilkan intrik. Sedikit atau banyak, Johnson jelas-jelas menulis dan menyutradarainya dengan keinginan mempermainkan penonton, beberapa bagian memang bisa ditebak kemana arahnya, namun bagian lainnya benar-benar datang begitu tiba-tiba. Dia juga tampak berusaha untuk membungkus sebuah satir, langsung atau simbolis, tentang bagian psikologis intern dunia film. Kedua usahanya memang lumayan berhasil. [R]
Ravenous (½)- 1998 / Antonia Bird / Guy Pearce, Robert Carlyle, David Arquette, Jeremy Davies, Jeffrey Jones, John Spencer, Stephen Sponella, Sheilla Tousey, Neal McDomun, Brett Serrohtup, Joseph Rehuno /(AMERIKA SERIKAT - BRITANIA) / [100 mnt] / Film ini rasanya adalah paparan bergaya mainstream yang paling eksentrik tentang kanibalisme, selama kita tidak membandingkannya dengan fantasi Prancis buatan Jeunet-Caro, “Delicatessen”. Seorang kanibal Skotland yang mengaku bernama Cohen (Carlyle) memerangkap beberapa orang petugas pos penjagaan perang Amerika-Mexico tahun 1847. John Boyd (Pearce), seorang letnan berkecenderungan pengecut, berhasil membebaskan diri, namun hanya untuk sementara, Cohen siap untuk datang lagi dalam sosok lain yang berniat menjadikan Boyd temannya atau santapannya. Setting Amerika abad XIX, dunia ketentaraan, atau unsur lain apapun dalam film ini seakan hanya menjadi topeng transparan bagi satir filosofis penulis skenario Ted Griffin tentang naluri kejam manusia, sedemikian transparan dan pretensiusnya sampai film ini gagal menjadi film hiburan. [R]
Ready to Wear (½)- 1995 / Robert Altman / Sophia Loren, Anouk Aimee, Marcello Mastroianni, Kim Basinger, Rupert Everett, Richard E. Grant, Tim Robbins, Julia Roberts, Stephen Rea, Lauren Bacall, Lili Taylor, Sally Kellerman, Forrest Whitaker, Tracey Ullman, Linda Hunt, Anne Canovas, Chiara Mastroianni, Jean-Pierre Cassel, Danny Aiello, Teri Garr, Lyle Lovett, Jean Rochefort, Michael Blanc, Ute Lemper, Francois Cluzet, Tara Leon / (A.S - PRANCIS) / [133 mnt] / ((Pret-A-Porter)) Sebelum membaca lebih jauh, kami peringatkan bahwa resensi ini termasuk golongan “minoritas” karena hampir tak ada resensi lain yang memuji film ini, semua menyebutnya ngaco, tidak berisi, eksploitatif, bahkan idiot, tapi kami tidak. Altman lagi-lagi datang dengan sebuah extravaganza supersinis bertabur bintang, kali ini tentang hingar bingar dunia modeling yang bagaikan planet kecil di dalam planet bumi, dengan Paris sebagai pusatnya. Menjelang sebuah pesta modeling besar, seorang tokoh fashion kenamaan (Cassel) meninggal, diduga dibunuh, dan banyak pihak dari dunia elit mode menjadi tersangka, dan itu bukan satu-satunya skandal, karena “skandal” memang menjadi salah satu kata terpenting film ini. Altman menyoroti dunia modeling dengan sudut pandang yang kadang terkesan brutal dan apriori, namun kita tak sanggup menahan daya tariknya. Cerita tampil melebar dengan segala remeh-temehnya, penuh basa-basi yang enak dinikmati, lengkap dengan humor-humor segarnya. Memang sebagian pemirsa akan merasa bahwa film ini tidak punya fokus yang jelas namun sulit disangkal bahwa film ini punya tampilan yang sangat menarik. Semua adegan tercipta untuk menyita perhatian. Selain itu, hampir semua pemeran bermain sangat bagus. Di antara mereka, Basinger dan Rea adalah yang paling mengesankan, Kim bermain dengan sangat enerjik sebagai Kitty Potter, seorang reporter TV yang menggeluti profesinya dengan didasari ketertarikan dan obsesinya sendiri terhadap dunia mode, sementara Stephen bermain sebagai Milo, fotografer kondang Irlandia yang licik. Penggemar film lama pun akan senang menyaksikan permainan bagus tiga bintang legendarisnya. Kesabaran dibutuhkan pada menit-menit awal, namun sejak Mastroianni mulai menampakkan kemisteriusannya, sejak Kitty mulai menampakkan kenaifannya, atau sejak Robbins dan Roberts (peran keduanya mewakili pemirsa yang tak punya perhatian terhadap dunia mode) "tersesat" masuk kamar hotel yang sama, anda yang cinta, benci, atau tak perduli pada dunia mode pun akan mulai merasakan sentuhan menarik yang hanya bisa didapat dari film-film Altman, hanya saja jika kita menontonnya di bioskop-bioskop Indonesia, peragaan "karya" Simone Lo (Aimée) tak akan bisa kita saksikan, padahal itu adalah salah satu bagian paling prinsipil dari sinisme film ini (lagu backgroundnya, oleh The Cranberries, berlirik “you’re so pretty the way you are, you have no reason to be so shy….dst). Informasi lain: Cher, Jean Paul Gaultier, Christian Dior, Thiery Mugler, Henry Belafonte, Claude Montana, Sonia Rykell, sampai Claudia Schiffer dan David Copperfield muncul sebagai mereka sendiri dalam film ini, dan para peraga busana dalam film ini di antaranya nyata bernama Helena Christensen, Eve Salvail, Tatjana Patitz, Christy Turlington, Rushamba, Brandi, Naomi Campbell, Amber Valetta, Saskia de Jong dan nama-nama lain yang sebanding. Kebanyakan nama tenar itu hadir disini untuk mengejek dirinya sendiri. Apapun kesannya, yang jelas Ready to Wear siap untuk ditonton sebagai salah satu hiburan paling menggoda dalam dekade ini. [R]
Reality Bites ()- 1994 / Ben Stiller / Winona Ryder, Ethan Hawke, Ben Stiller, Janeanne Garofalo, Steve Zahn, Swoosie Kurtz, Joe Don Baker, John Mahoney, Barry Sherman, Harry O’Reilly, Renee Zellweger, Susan Norfleet, John Walsh, Anne Meara, Kevin Pollak / [99 mnt] RB bercerita tentang generasi terakhir impian modernisme bangsa Amerika, film ini memang tak mengangkat sisi radikal dari Generation X ini. Ceritanya hanya tentang kebimbangan beberapa anak muda Houston dalam mempertahankan prinsip-prinsip hidup mereka setelah menamatkan masa kuliah. Penghidup ceritanya adalah kisah cinta segitiga antara Lelaina (Ryder), gadis idealis pembuat film video dokumenter kecil-kecilan, dengan dua laki-laki: Troy (Hawke), idealis santai yang bercita-cita menjadi musisi yang berpengaruh bagi generasinya, dan Michael (Stiller), seorang produser program televisi tentang anak muda. Semua dalam film ini adalah tentang manusia 20-an, untuk manusia 20-an, dan oleh manusia 20-an. Stiller (26 tahun) tampak tahu betul dunia anak muda Amerika secara mendalam. Peristiwa-peristiwa dan dialog-dialog dalam film ini mungkin tak akan terpikir untuk ditampilkan oleh seorang sutradara - sehebat apapun - yang tak hidup dalam generasi yang diceritakannya. Ini adalah penyutradaraan pertama Stiller, maka tampak sekali ketergesa-gesaannya, dia terlalu sibuk memberi tahu penonton secara deskriptif dunia apa yang diceritakannya dan seakan mengabaikan potensi film sebagai sebuah cerita yang mengalir sehingga dua per tiga bagian pertama yang begitu menarik termentahkan oleh sepertiga bagian akhir. Ryder tampil cemerlang, film inilah yang membuatnya sempat dianggap sebagai simbol utama aktris Amerika produk generasinya, Garofalo mengimbanginya lewat perannya sebagai Vicky yang kompromistis, dan siapa yang tak suka pada penampilan sexy ála Hawke? Catatan kecil: Jeanne Tripplehorn, Evan Dando dari Lemonheads, dan gembong Soul Asylum, Dave Pirner (teman seatap Ryder saat itu) hadir sesaat dalam film ini. [PG-13]
Real McCoy ()- 1993 / Russel Mulcahy / Kim Bassinger, Val Kilmer, Terrence Stamp, Gailard Sartain, Zach English, Raynor Scheine / [106 mnt] Karena paksaan keadaan, Karen McCoy (Bassinger), perampok ahli yang baru bebas dari penjara, terpaksa harus kembali merampok bank untuk bisa hidup bersama anak tunggalnya lagi. Sekuen penjebolan sistem keamanan bank adalah segala-galanya bagi film ini, itupun penuh dengan hal-hal yang tak logis. [R]
Real Thing, The (½) -1997 / James Morendino / James Russo, Jeremy Piven, Fabrizio Bentivoglio, Robert La Sardo, Ashley Laurence, Emily Lloyd, David Buzotta, Rod Steiger, Pattrick Gallagher, Esai Morales, Gary Busey, Max Perlich / [95 mnt] James (Buzotta) masuk sel untuk kejahatan kecil, di dalam sel dia mendengar tahanan lain berbicara tentang rencana perampokan di sebuah pesta tahun baru. Sekeluarnya dari sel, orang itu menembak James sampai harus mengalami transplantasi hati. Rupert (Russo), kakak James, seorang bekas narapidana, tidak mempunyai uang untuk ini, setelah berdiskusi dengan temannya (Piven), Rupert akhirnya berniat untuk merampok pesta yang sempat diceritakan James. Rupert mempersiapkan sekelompok teman-temannya yang telah berpengalaman dalam dunia kriminal, segala sesuatu telah mereka perhitungkan dengan seksama kecuali satu hal yang justru bisa membawa bencana : ada kelompok lain yang berencana sama, dan ini tidak mereka tangkap dari cerita James. Penyutradaraan dan skenario yang hidup dan lincah serta ensemble pemain yang bagus membuat film ini menarik sejak awal, namun sekuen perampokannya justru tidak ditampilkan dengan menarik dan gagal menjadi klimaks, bagaimanapun, secara umum film ini memang tidak jauh dari apa yang sering kita lihat sejak “Red Rock West” dan “One False Move”. [R]
Red Rock West () -1993 / John Dahl / Nicholas Cage, Lara Flynn Boyle, J.T.Walsh, Dennis Hopper, Timothy Carhart, Dan Shor, Dwight Yoakam / [98 mnt] Film kelam ini adalah film yang banyak mendapat pujian dari banyak kritisi (bersama “One False Move” dan “Laws of Gravity”, film ini dianggap sebagai tonggak gaya baru film-noir ala Amerika). Cage bermain sebagai Michael, seorang pengangguran dari Dallas yang terdampar di Red Rock West. Dia menemukan dirinya terjepit di antara sepasang suami istri (Walsh dan Boyle) yang sama-sama berniat membunuh satu sama lain, dengan menggunakan tangan Mike yang mereka kira seorang pembunuh bayaran dari Dallas. Kedatangan pembunuh bayaran asli (Hopper) beberapa saat kemudian, semakin merumitkan keadaan. Banyak sekali keadaan yang tak akan pernah bisa masuk akal dalam film ini, skenario dan penyutradaraan Dahl dengan angkuh seakan tidak perduli pada hal itu dan sama sekali tidak berusaha menutupinya. Walau demikian, film ini patut dipuji untuk keberhasilannya membentuk suasana duapuluh empat jam yang selalu sibuk dan penuh ketegangan hingga bisa membuatnya menjadi hiburan yang nyaris sempurna, asalkan, ya itu tadi, maafkanlah beberapa "keangkuhannya". [R]
Red Shoe Diaries ()- 1992 / Zalman King / David Duchovny‚ Billy Wirth, Brigitte Bako / [98mnt] Godaan sinematis ala Zalman King ini seperti bisa diduga adalah sebuah thriller ringan yang eksentrik dan penuh adegan panas (walau tidak seekstrem seri “Wild Orchid”) . Film ini berkisah tentang seorang suami yang baru tahu ketidaksetiaan istrinya dari diari yang ditemukannya setelah sang istri bunuh diri. Skenarionya membosankan dan semua pemain bermain dengan otot wajah yang sulit digerakkan. Fotografinya sudah mencoba, namun tetap tak ada yang mampu menyelamatkan film ini. [R]
Ref, The (½)- 1994 / Ted Demme / Dennis Leary, Kevin Spacey, Judy Davis, Robert J.Steinmiller, Glynis Johns, Raymond J.Barry, Richard Bright, Christina Baranski, Bill Raymond, Bob Ridgely / [93 mnt] Untuk menghindari kejaran polisi, Gus (Leary), seorang pembobol rumah, menyandera sepasang suami istri (Spacey dan Davis) dan bersembunyi di rumah mereka di malam Natal. Malam Natal ini tidak terlalu indah bagi Gus karena ternyata kedua suami istri itu bermulut luar biasa kotor dan tak henti-hentinya saling mencerca hingga dia akhirnya menjadi lebih mirip “bintang tamu” daripada maling, keadaan menjadi semakin sulit ketika para kerabat keluarga itu datang, mereka tak kalah gilanya dari Gus dan pasangan itu. Walau sering terkesan dibuat-buat, banyak bagian film ini yang cukup untung mengundang tawa, namun dengan syarat: kita mau menerima segudang dialog yang sangat kasar dan sangat kurang ajar. Leary – orang Australia dan penyiar nomor satu MTV Amerika - dan dua pemain terpandang, Spacey dan Davis, dalam film ini menampilkan berbagai taraf akting dari buruk sampai bagus. [R]
Remains of the Day, The (½)- 1993 / James Ivory / Anthony Hopkins, Emma Thompson, James Fox, Christopher Reeve, Peter Vaughan, Hugh Grant, Michael Lonsdale, Tim Piggot Smith / (BRITANIA) / [135 mnt] Kisah ini diambil dari novel Kazuo Ishiguro berjudul sama, berisi nostalgia persahabatan yang sangat kaku antara dua pelayan, Stevens dan Sarah Kenton (King Tony dan Queen Em, sekali lagi mengibarkan Union Jack di Amerika dengan akting kelas grandmaster mereka), dalam usia mereka yang tak muda lagi. Selain kisah tersebut, film ini memiliki sub-plot lain tentang majikan mereka (Fox), seorang bangsawan yang diperalat oleh para politikus pro Nazi menjelang perang dunia kedua. Pendukung utama film ini: Ismail Merchant (produser), James Ivory (sutradara), Ruth Praver Jhabvala (penulis skenario), Anthony Hopkins dan Emma Thompson (aktor dan aktris utama), reuni yang sangat cepat dari elemen-elemen “Howards End” (1992), karena itu warna dan mutu kedua film jelas tak jauh berbeda, hanya saja hasil kerja sama terbaru mereka ini terasa lebih dingin, sunyi, serius, kontemplatif, dan lebih sepi hentakan dibanding HE (karakter dan akting Hopkins mewakili semua itu), namun jika anda meyenangi sesuatu yang seperti itu, film ini bisa jadi sempurna untuk anda. Film ini juga akan termasuk satu dari sedikit film adaptasi dari novel yang tak akan mengecewakan penggemar novelnya. [PG]
* British Academy Awards: Aktor Utama Terbaik (Hopkins), Los Angeles Film Critics Awards: Aktor Utama Terbaik (Hopkins), National Board of Reviews: Aktor Utama Terbaik (Hopkins)
Reservoir Dogs ()- 1992 / Quentin Tarantino / Harvey Keitel, Tim Roth, Michael Madsen, Chris Penn, Steve Buscemi, Lawrence Tierney, Quentin Tarantino, Eddie Bunker, Kirk Baltz / [99 mnt] Perkenalkan, Nama : Quentin Tarantino, Usia : 28 tahun, Profesi: Sutradara debutan paling sensasional di Hollywood! Si liar berwajah kocak ini bercerita tentang enam orang perampok bank profesional yang tak semuanya saling mengenal, mereka memakai nama kode Mr.White, Mr.Blue, Mr.Brown, Mr.Blonde, Mr.Pink, dan Mr.Orange (jangan lewatkan adegan pemberian nama ini!). Keadaan kemudian meleset jauh - jauh sekali - dari rencana, mereka menyadari bahwa salah satu di antara mereka adalah informan polisi, masalahnya: yang mana? Lalu, kecuali Mr.Pink (Buscemi), semua pemeran utama film inipun mati, termasuk si informan! Setting dan karakter minimalis, dialog yang cerdik namun sering konyol dan ganjil, dan sadisme yang melampaui batas-batas kelayakan untuk dipertontonkan (terutama adegan gila yang menggambarkan penyiksaan seorang opsir polisi oleh Mr.Blonde), membuat film ini tak mungkin dapat dinikmati oleh setiap orang. Namun pasti banyak pemirsa setuju bahwa ini adalah film yang berani tampil beda, dan juga banyak pemirsa pasti setuju bahwa semua pemeran film ini bermain luar biasa, tanpa kecuali, tanpa terutama, walau Madsen sering kelihatan paling menonjol berkat karakter Mr. Blonde yang dingin dan hampir psikopatik. Walau film ini sangat sukses secara kritikal, bahkan dianggap trend-setter untuk sebuah model film baru, namun semuanya sangat tergantung pada toleransi pemirsa. Yang jelas, ini adalah sebuah pemanasan yang berdarah dingin untuk sensasi panas dingin Tarantino yang sesungguhnya: “Pulp Fiction”. [R]
* Independent Spirits Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Buscemi)
Resurrection Man(½)- 1998 / Marc Evans / Stuart Townsend, Geraldine O’Rawe, James Nesbitt, Brenda Fricker, Sean McGinley, John Hannah, Zara Turner, James Ellis / (REP. IRLANDIA - BRITANIA) / [107 mnt] / Victor (Townsend) adalah seorang pemimpin gang yang sangat misterius di Dublin, Irlandia, dia dikenal dengan nama “Resurrection Man”, hanya nama, tanpa wajah. Beraksi dengan penuh kekerasan dan ketertutupan, jarang sekali ada orang yang bisa dekat dengannya. Kalaupun ada, mereka tidak tahu bahwa sosok Vincent si pemuda pengangguran sama dengan si legendaris Resurrection Man. Sementara itu Nesbitt berperan sebagai seorang wartawan yang sangat terobsesi oleh keberadaan RM, hingga suatu saat dia berkesempatan untuk bertatap muka dengannya. Film ini adalah bagian dari banjir deras tiba-tiba film-film Irlandia, dan yang satu ini juga tidak buruk, walau tidak juga istimewa. Penyutradaraan Evans sangat berkarakter dan semua pemain tampil bagus. Sebagai perbandingan, anda bisa menyewanya bersama film seangkatannya, “The General” karya John Boorman.
Return to the Blue Lagoon (½)- 1991 / William Graham / Brian Krausse, Milla Jovovich, Lisa Pelikan, Courtney Barilla, Garett Rattliff / [100 mnt] Seperti pendahulunya, ketidakmatangan penggarapan mendominasi hasil film ini. Dikisahkan bahwa anak dari pasangan Shields dan Atkins (Jovovich) terdampar bersama Krausse dan ibunya, Pelikan. Satu-satunya unsur yang tidak masuk katagori sangat jelek adalah tata kameranya (yang begitu tergila-gila pada dua hal: air, dan pisik remaja Amerika-Ukraina-Yugoslavia, Jovovich), namun itu tak cukup untuk menyelamatkan mutu film kekanak-kanakan yang tak pantas ditonton anak-anak ini. [PG-13]
Reversal of Fortune (½)- 1990 / Barbet Schroedder / Jeremy Irons, Glen Close, Ron Silver, Annabella Sciorra, Uta Hagen, Fisher Stevens, Jack Gilpin, Christine Baranski, Stephen Mailer, Julie Hagerty / [120 mnt] / Bangsawan jet-set Eropa, Claus von Burlow (Irons), dituduh membunuh istrinya, Sunny (Close), dengan memberinya dosis insulin yang berlebihan. Alan Dershowitz (Silver) adalah seorang pengacara Harvard yang menerapkan berbagai metode unik untuk menangani kasus dan membalikkan (to reverse) keputusan jaksa dan keberuntungan von Burlow. Hanya beberapa langkah lagi film ini akan menjadi sebuah masterpiece dalam berbagai bidang. Skenario Nicholas Kazan dengan berani menyusun sebuah narasi yang memutar kejadian sedemikian rupa hingga secara prinsip kita telah mulai dari tengah-tengah cerita (walau pada saat itu Dershowitz belum mendengar langsung dari von Burlow atau Sunny yang sekarat) lalu kembali ke awal dalam tone yang berbeda, itu membuat satir sosial ini selalu menarik dari awal sampai akhir. Irons berada dalam puncak penampilannya, dia membuat von Burlow menjadi sesosok monster yang bisa tampak menjijikan, kejam, romantis, kocak, atau apa saja. Silver mengimbanginya dengan baik sebagai seorang profesor hukum Yahudi yang hiperaktif. Tentu akhirnya semua berujung pada Schroedder yang memungkinkan semuanya tampil di layar, inilah karya terbaik orang Belanda ini dalam karirnya. [R]
Ricochet ()- 1992 / Russel Mulcahy / Denzel Washington, John Lithgow, Ice T, Kevin Pollack, Mary Ellen Trainor, Lindsay Wagner, Josh Evans,Victoria Dillard, John Amos, John Cotran jr / [97 mnt] Seorang pengacara-polisi (Washington) mendapat teror balas dendam dari psikopat yang dulu dijebloskannya ke penjara (Lithgow). Luar biasa keras dan kasar, tapi itu bukan masalah, masalahnya adalah film ini kelihatannya dibuat juga dengan kasar dan menyia-nyiakan para pemainnya yang kebanyakan bermain cukup bagus. [R]
Ridicule (½)- 1996 / Patrice Leconte / Chris Berling, Fanny Ardant, Judit Gadroche, Bernard Girardeau, Jean Rochefort / (A.S-PRANCIS) {Bahasa Prancis} / [103 mnt] Film ini adalah sebuah tinjauan antropologis yang humoris tentang suatu babak dalam sejarah budaya. Untuk mengeringkan rawa di kampung tempat tinggalnya, Gregoire (Berling), seorang insinyur pengairan, harus bisa menembus istana Versaille, bahkan melobi raja Louis XIV (raja terakhir sebelum revolusi). Dalam usahanya itulah dia tahu bahwa ternyata ada sesuatu yang lebih berkuasa dan lebih dipuja daripada sang raja sendiri : kecerdikan dan kepintaran bermain kata. Selama masih ada kesempatan, setiap orang berlomba mendapatkan simpati dengan mengumbar perkataan-perkataan yang menunjukkan kecerdasan mereka. Selain itu, Gregoire juga terjepit di antara dua wanita, Mathilde (Gadroche), gadis muda dan lugu yang terjerat dalam perkawinan paksa, dan Countess Blayac (Ardant), wanita matang pengunjung rutin Versailles. Ridicule adalah sebuah satire yang dirancang dengan gila-gilaan dalam mengefektifkan setiap menitnya untuk menyentil dan mengundang senyum bahkan tawa meriah, walau harus diakui bahwa renggang waktu dan tempat mungkin membuat beberapa humor terlalu asing untuk kita, orang Indonesia yang hidup di masa pergantian millenium. Dengan berbagai alasan, ini adalah salah satu film paling menarik di tahunnya dengan nilai sempurna untuk berbagai hal. [R]
* Cesar Awards: Film Terbaik
Riff Raff ()- 1991 / Ken Loach / Robert Carlyle, Emer McCourt, Ricky Tomlinson, Jimmy Coleman, George Moss, David Finch, Bill Jesse / (BRITANIA) / [96 mnt] Komedi sosial tentang kelas pekerja ala Inggris ini bercerita tentang sekelompok buruh bangunan dari berbagai daerah di Britania yang bekerja membongkar sebuah apartemen yang tak terpakai di London. Fokus utama ceritanya adalah kisah Stevie/Pattrick (Carlyle, kelak menjadi Bagbie berkumis dalam “Trainspotting” dan Gaz si stripper dalam “The Full Monty”), salah satu buruh, seorang pemuda Skotland yang mempunyai masa lalu buruk. Di London dia berkenalan dengan Susan (McCourt), seorang gadis Irlandia yang depresif dan mempunyai cita-cita untuk menjadi penyanyi terkenal. Suasana yang jujur, bersahaja, dan “meriah” diciptakan dengan sangat alami sehingga film ini menjadi sangat menggigit walaupun tidak mempunyai alur cerita yang terlalu berarti. Para pemain juga memainkan peran mereka tanpa terlihat berakting sama sekali. Skenarionya ditulis oleh Jesse (berperan sebagai salah satu teman Stevie) yang pernah lama bekerja sebagai buruh bangunan. Catatan: Dialog film ini menggunakan Bahasa Inggris dalam berbagai dialek lokal yang membingungkan dan berbeda-beda dari setiap tokoh, distributor film ini sampai harus memberinya teks Bahasa Inggris standar untuk peredaran internasional! [R]
Riot (½)- 1996 / Galen Yuen, Alex Munoz, Richard Dilello, David Johnson / Dante Basco, Kieu Chien, Mako, Alexis Cruz, Yelba Osorio, John Ortiz, Douglas Spain, Luke Perry, Peter Dobson, Lucy Liu, Sarah Rayne, Moira Wallace, Mario van Peebles, Melvin van Peebles, Cicely Tyson, Angela Brooks, Hawthorn James / [90 mnt] Ini adalah sebuah antologi yang menyoroti kerusuhan rasial di Los Angeles pada tahun 1995 dari empat sudut pandang. Gold Mountain melalui sebuah keluarga pemilik toko Cina, Caught in the Fever melalui seorang pemuda hispanik yang ikut menjadi penjarah, Empty melalui seorang anggota LAPD berkulit putih, dan Homecoming Day melalui seorang laki-laki kulit hitam dan ibunya. Keempat film ini berhubungan paralel satu sama lain. Kita patut memuji idenya yang terbilang unik, apalagi dengan fokus cerita yang sangat potensial untuk menjadi sebuah film yang menarik. Namun mencoloknya pretensi khotbah, sentimentalisme, kedangkalan nuansa, dan anggaran yang terlalu ketat membuat kita menuntut tontonan yang lebih intens dan tajam daripada film ini. [R]
Rising Sun ()- 1993 / Philip Kaufman / Sean Connery, Wesley Snipes, Harvey Keitel, Cary-Hiroyuki Tagawa, Kevin Anderson, Mako, Ray Wise, Stan Egi, Stan Shaw, Tia Carrere, Steve Buscemi, Tatjana Patitz, Peter Crombie, Sam Lloyd, Alexandra Powers, Daniel Von Bargen, Lauren Robinson, Amy Hill, Tom Dahlgren, Clyde Kusatsu, Michael Chapman / (129 mnt) Ketika mayat wanita panggilan papan atas, CherylLynn Austin (Patitz) ditemukan, sebuah intrik multinasional yang berlapis-lapis menanti untuk diungkap. Austin meninggal di sebuah pesta pembukaan perusahaan komputer Nakamoto. Letnan Smith (Snipes) ditugaskan menangani kasus ini, namun karena permasalahn telalh terlihat tidak sederhana sejak awal, bantuan seorang detektif yang menguasai seluk beluk "per-Jepang-an" sangat diperlukan, maka muncullah John Connor (Connery). Tak lama kemudaian tersangka berhasil ditangkap berdasarkan rekaman video di gedung itu, dia adalah Sakamura (Takagawa), putra rival Nakamoto. Tetapi seorang ahli video (Carrere) menyatakan bahwa video itu adalah hasil manipulasi. Sejak titik ini, cerita film ini sudah tak mungkin lagi disinopsiskan dengan singkat, alurnya terus memanjat sampai ke intrik politik dan ekonomi global. Novel Rising Sun tulisan Michael Crichton dikenal sebagai novel yang menyemburkan kesan anti-Jepang - atau lebih tepatnya anti invasi ekonomi ala Jepang - yang sangat kuat. Kaufman tak mau mengambil resiko ini di layar lebar, dia mengambil sudut pandang yang lebih netral, dan memperlakukan film ini hanya sebagai sebuah labirin gila dan satir moral yang lebih universal (Chrichton benar-benar tidak setuju, dia bahkan ngacir dari salah satu kursi penulis skenario). Tanpa kesabaran dan ketelitian, film ini akan dengan mudah menjadi sesuatu yang membingungkan, namun dengan kesabaran dan ketelitian, dongeng Rising Sun adalah sebuah hiburan yang mengenyangkan. Terlepas dari semua pertentangannya dengan novel, Kaufman berhasil menampilkan nuansa ultra modernisme di sekujur film, menyadarkan kita bahwa betapa kalutnya dunia di sini dan di luar sana. [R]
River Runs Through It, A (½)- 1992 / Robert Redford / Craigh Sheffer, Brad Pitt, Tom Skeritt, Emily Lloyd, Brenda Blethyn, Eddie McClurg, Stephen Shellen, Vann Gravage, Nicole Burdette, Susan Taylor, Joseph Gordon Levitt, Narasi oleh : Robert Redford / [123mnt] Film ini mengalir sebagai sebuah kisah panjang tentang berilsafat melalui memancing ikan, persaudaraan, dan semangat hidup. Diambil dari biografi Norman Maclean (Sheffer) yang menceritakan masa mudanya, kebijaksanaan ayahnya, dan adiknya yang liar, Paul (Pitt). Film ini tak lebih dari sebuah novel yang digambarkan dengan tata kamera yang cantik. Terlalu indah untuk dilewatkan, namun terlalu panjang, bisu, dan tumpul untuk dinikmati. [R]
* Academy Awards: Tata Kamera Terbaik
River Wild, The (½)- 1994 / Curtis Hanson / Merryl Streep, Kevin Bacon, David Strathairn, John C.Reilly, Joseph Mazzello, William Lucking, Benjamin Bratt, Elizabeth Hoffman / [108 mnt] Streep berperan sebagai mantan jagoan arung jeram yang menyelamatkan dirinya, anak, dan suaminya dari dua orang pelarian dalam Die Hard versi sungai ini. Setting tempat yang tak banyak berpindah berhasil dimanfaatkan sebagai sarana pencipta ketegangan, sekaligus kebosanan. Ketika alur ceritanya seperti dibuat dengan menggunakan penggaris, satu bintang tambahan didapat melalui dua hal: akting ala Rambo terbaik sepanjang zaman oleh Streep dan, di atas itu, keberhasilan film menampilkan dan menyiasati keganasan Gauntlet dengan sangat hidup, belum ada film yang berhasil mengeksploitasi sungai sebagai sumber ketegangan utamanya sampai taraf ini. Tapi di balik semua itu terdapat fondasi klise yang sangat mudah ditebak, plus irasionalitas yang sering nongol tanpa kenal malu. Ah, jangan harap Streep perduli, dia telah bertekad "Sekali merengkuh dayung, dua juta dolar terlampaui". [R]
Road Trip ()- 2000 / Todd Phillips / Breckin Meyer, Sean William Scott, Amy Smart, Paulo Costanzo, D.J. Qualls, Rachel Blanchard, Anthony Rapp, Fred Ward, Tom Green, Andy Dick, Ethan Suplee / (91 mnt) Josh (Meyer) harus berpisah dengan pacarnya sejak kecil, Tiff (Blanchard), karena mereka bersekolah di sekolah yang berbeda. Menjalin hubungan jarak jauh ternyata tidak semudah saling telepon atau berkirim surat, banyak sekali godaan yang mungkin timbul, bahkan suatu ketika Josh tak bisa menghindari daya tarik Peg (Smart), mereka berhubungan seks dan merekam hasilnya ke video. Bencana pun terjadi, teman sekamar Josh, Rubin (Costanzo), salah mengirimkan barang pada Tiff, dia malah mengirimkin video serong Josh-Peg. Inti kisah film ini - seperti ditunjukkan judulnya - adalah jurnal perjalanan Josh dan kawan-kawan berlomba dengan kiriman paket pos, mereka harus ngebut dari New York ke Texas sebelum video itu jatuh ke tangan Tiff. Tentu saja segala macam bencana susulan yang mmungkin terjadi mereka dapatkan di perjalanan. Secara garis besar Road Trip cukup mempunyai sesuatu untuk dihargai dan dinikmati, namun ketika telah sampai pada detil film ini terlalu banyak mengedepankan gurauan klise yang membosankan. [R]
Robin Hood: Men in Thights (lihat: Men in Thights )
Robin Hood: Prince of Thieves (½)- 1991 / Kevin Reynolds / Kevin Costner, Morgan Freeman, Mary Elizabeth Mastrantonio, Alan Rickman, Christian Slater, Michael McShane, Brian Blessed, Geraldine McEwan, Michael Wincott, Nick Brimble, Jack Wild / (138 mnt) Pahlawan superlegendaris dari hutan Sherwood, bersama Azeem, serta John Little dan pengikutnya, bertempur melawan kezaliman Sheriff of Nottingham ketika Raja Richard masih berada di perang salib. Desain produksi dengan romantisme khas film-film sembilanpuluhan ditambah flamboyannya Costner sang Robin H(ollyw)ood membuatnya menjadi hit besar. Everything I Do, I Do It for Fame! [PG-13]
* British Academy Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Rickman)
RoboCop 2 ()- 1990 / Irvin Kershner / Peter Weller, Nancy Allen, Daniel O’Herlihy, Belinda Bauer, Tom Noonan, Gabriel Damon, Felton Perry, Patricia Charbonneau / [118 mnt] Robocop beraksi lagi, lawannya kali ini adalah sebuah robot berbentuk aneh dengan kemampuan sangat dahsyat (yang anehnya hancur dengan begitu mudah dan konyol di akhir certa). Potensi actionnya tak termanfaatkan maksimal dan spesial efeknya di bawah standar (kecuali animasinya). Tidak semenghibur pendahulunya (1987). [R]
Rob Roy (½)- 1995 / Michael Caton Jones / Liam Neeson, Jessica Lange, Tim Roth, John Hurt, Brian McCardie, Eric Stoltz, Brian Cox, Andy Keir, David Hayman, Gil Martin, Vicki Masson / (BRITANIA - A.S) / [139 mnt] Robert “Rob Roy” Campbell McGregor (Neeson) adalah pemimpin klan McGregor di Skotlandia abad ke delapanbelas, Rob Roy berjuang untuk memberantas kemiskinan dan mempertahankan kehormatan, salah satu motivasi utamanya adalah kecintaan yang mendalam terhadadap istri setianya (Lange) yang juga berwatak keras. Rob Roy mempunyai nuansa cerita dan penokohan yang cukup mendalam dan penuh warna, Rob Roy dibuat oleh tangan-tangan teliti yang tak membiarkan satu adegan pun tanpa kesan, para pemeran utamanya pun bermain sangat bagus, Neeson begitu kharismatik, Lange memainkan semua bagian dengan betul, Hurt memang over-akting namun tetap meyakinkan (walau secara mengherankan kadang mengingatkan kita pada akting transvetistnya dalam “Even Cowgirls Get the Blues”), dan Roth mencuri perhatian setiap kali tampil di layar, dia hampir menjadi bintang yang sesungguhnya dalam film ini. Namun masalah utama yang dimiliki film yang cukup bagus ini bukan didapat dari dalam, melainkan “Braveheart”! Proyek megah Mel Gibson yang dirilis pada saat hampir bersamaan itu benar-benar menenggelamkan film ini, akhirnya pemanfaatan anggaran menentukan segalanya, Rob Roy yang agak sepi menjadi kalah warna oleh “Braveheart” yang hingar bingar. [R]
Rogue Trader ()- 1998 / James Dearden / Ewan McGregor, Anna Friel, Yves Beneyton, Betsy Brantley, Caroline Langrishe, Tim McInnerny, Irene Ng, Lee Ross, Simon Shepherd, John Standing, Pip Torrens / {BRITANIA} (105 min) Kasus Nick Leeson sempat menjadi berita ekonomi paling menggemparkan di Asia menjelang goncangan besar sektor ekonomi benua ini. Leeson adalah seorang staff muda yang pernah berprestasi menyelamatkan Barings Brothers Bank di Indonesia. Setelah keberhasilannya itu, dia dipromosikan ke pusat bursa saham Singapura. Atmosfir kebangkitan sedang melanda perekonomian Aisa, dan juga kondisi domestik Barings, pada saat itu. Ini menciptakan euforia di kalangan para pialang, dan keberanian spekulasi yang tinggi pada mereka, termasuk Nick. Dengan kecerdasannya Nick berhasil menutupi sebuah kesalahan dengan memutar balik laporan bahkan nilai rekening. Cara darurat ini kemudian berubah menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi jalan satu-satunya, Nick semakin panik dan terdesak, dan akhirnya belangnya terungkap. Bersama istrinya (Friel), dia kemudian menjadi seorang pelarian yang terus dikejar-kejar sampai ke Emirat Arab, tempat dimana dia tertangkap. Rogue Trader tidak mengawali kisahnya dengan mulus, semula kita begitu bingung dengan apa yang sesungguhnya sedang terjadi dan di titik faktual mana kita berada, namun seiring perjalanannya film ini semakin rapi menyusun penjelasan sekaligus menaikkan tegangan sampai memuncak di titik yang hampir sempurna. Semua itu disajikan dalam gaya ringan, santai, dan variatif oleh Dearden, kita bisa membayangkan bagaimana jadinya jika filmm ini dibuat Hollywood, kita akan kehilangan keringanan hati dan terbawa dalam sebuah melodrama yang emosional dan…artifisial. Rogue Trader memperlakukan Leeson sebagai seorang ekonom muda cerdas dan manusia biasa yang mempunyai ambisi kehidupan yang lebih baik dan juga rasa takut, film ini memaksa kita bersimpati sebagai seorang manusia padanya, namun juga meminta kita untuk tetap menyalahkan perbuatannya yang bisa dibilang menyangkut nasib ratusan juta manusia. Seperti juga tanggapan kita terhadap film ini secara keseluruhan, semula akan sulit sekali melihat McGregor sebagai seorang intelektual seperti Leeson, namun lama kelamaan - ketika perannya telah semakin berurusan dengan tensi dan emosi - kita semakin bisa mengidentifikasikan McGregor sebagai Leeson, dia bermain sangat baik, bahkan mungkin ini adalah peran dan pemnampilan terbaiknya sampai saat ini. [R]
Romeo is Bleeding ()- 1994 / Peter Medak / Gary Oldman, Lena Olin, Anabella Sciorra, Roy Scheider, Juliette Lewis, David Proval, Will Patton, Larry Joshua, Dennis Farrina / [ 96 mnt] Kisah yang suram dan pedih ini menokohkan Jack Grimaldi (Oldman), polisi harus bersiap kehilangan segala yang dimilikinya, termasuk istrinya (Sciorra), ketika dia terjepit di antara tugasnya, tekanan gerombolan mafia, dan godaan seorang ratu gangster super bengis sekaligus super panas (Olin). Medak kali ini tampil dengan sangat “centil”, dia membuat film ini menjadi sangat pesolek dengan berbagai macam aksesoris yang mengejutkan dan kadang agak janggal, namun tak banyak yang bisa mengundang keluhan ataupun yang terasa berlebihan, hampir semua bagian dalam film ini bisa diterima, bahkan karakterisasi Jack Grimaldi terasa menyentuh dan tetap manusiawi (Oldman adalah pilihan yang tepat, walau terlalu rutin). [R]
Ronin (½)- 1998 / John Frankenheimer / Robert De Niro, Jean Reno, Jonathan Pryce, Natascha McElhone, Stellan Skarsgard, Sean Bean, Skipp Sudduth, Michael Lonsdale, Jan Triska, Bernard Bloch, Feodor Atkine, Katarina Witt, Ron Perkins / [121 mnt] Deirdre (McElchonne) mengumpulkan lima tenaga internasional (DeNiro, Reno, Skarsgard, Bean, dan Sudduth) untuk mendapatkan sebuah tas besi di Paris. Ini adalah pekerjaan yang sulit dan berbahaya karena tas itu selalu berada dalam pengawasan yang sangat ketat, tapi Deirdre dan kelima orang ini punya cukup skill untuk melakukan hal seperti ini. Seperti dalam "Reservoir Dogs"-nya Quentin Tarantino, enam orang ini adalah orang asing untuk satu sama lain dan tidak tertutup kemungkinan salah satunya berkhianat. Film ini juga melibatkan sebuah sindikat gangster Russia yang bertubrukan kepentingan dengan kelompok Deirdre. Ronin adalah sebuah film yang hampir buta tuli terhadap bumbu dramatis yang trendy atau seluk beluk psikologis, film ini adalah kereta api full action yang berjalan lurus tanpa pernah menurunkan tempo terlalu lama. Kisahnya sederhana tapi intriknya menarik, para pemainnya cool, dialog mereka pendek-pendek dan tidak berbelit, adegan kejar-kejaran mobilnya hebat (mungkin salah satu yang paling mengasyikan dalam sejarah perfilman), aksi laganya masuk akal tapi luar biasa seru, untuk yang suka menu seperti ini, Ronin adalah pilihan ideal. [R]
Rookie, The ()- 1990 / Clint Eastwood / Clint Eastwood, Charlie Sheen, Raul Julia, Sonia Braga, Lara Flynn Boyle, Pepe Serna, Marco Rodriguez, Tom Skeritt, Roberta Vasquez / [121 mnt] Eastwood adalah polisi veteran, Sheen polisi baru, mereka berdua bekerja sama dengan segala problem khasnya, hampir 100% akrab di telinga, kan? Dijamin, anda akan dengan lancar bisa mendiktekan apa yang akan terjadi kemudian. Lagipula, karakter pasangan polisi ini tidak begitu menarik, bahkan Sheen dan Eastwood nyaris tenggelam oleh duet Julia - Braga yang sangat elegan, namun apa sesungguhnya maksud Eastwood memasang kedua orang ini dan beberapa Latino lainnya sebagai orang Jerman? Lain kali berilah Jacky Chen dan Whitney Houston peran sebagai sepasang orang Serbia. [R]
Roots of Evil (½)- 1993 / Chad Bernin / Alex Cord, Delia Shephard / [93 mnt] Pembunuhan berangkai terhadap pelacur-pelacur Chicago ternyata dilakukan oleh seorang polisi berkelainan jiwa yang beribu bekas pelacur. Dimaksudkan untuk menjadi sebuah thriller gelap, namun hasilnya tak mencekam sama sekali. [R]
Rounders ()- 1998 / John Dahl / Matt Damon, Edward Norton, Gretchen Mol, John Turturro, John Malkovich, Martin Landau, Famke Janssen, Paul Cicero, Josh Mosterl / [ 120 mnt] Mike (Damon) dan Worm (Norton) adalah dua sahabat, terutama di meja poker, mereka adalah karakter yang berbeda dan otomatis mendapatkan hari depan yang berbeda pula. Mike berhasil hidup teratur, kuliah dan tinggal bersama pacar baik-baik, Jo (Mol). Sementara Worm keluar masuk penjara dan tak pernah kekurangan masalah. Hanya kesetiakawanan dan perasaan terikat pada masa lau yang memaksa Mike (Damon) untuk kembali ke meja poker bersama Worm. Jo telah memperingatkannya, Jo telah memperingatkannya, tapi apa yang harus diceritakan jika Mike menurut? Master noir baru, Dahl ("Red Rock West", "The Last Seduction"), mencoba di daerah yang agak berbeda dengan film-filmnya terdahulu (ini adalah film mayornya yang pertama, dan skenarionya tidak dia tulis sendiri). Tapi kali inipun dia berhasil membuat sesuatu yang menarik walau terasa terlalu familiar dan tanpa kejutan. Adegan-adegan di meja judi cukup menarik untuk disimak, begitu juga karakter-karakter yang mengelilingi meja. [R]
Rowing the Wind ()- 1990 / Gonzalo Suarez / Hugh Grant, Lizzy McInnerny, Valentine Pelka, Elizabeth Hurley, Jose Luis Gomez, Virginia Mataix / {SPANYOL} / (( Remando al Viento )) / (96 mnt) Rowing the Wind mencakup lingkungan yang sama dengan "Gothic" dan "Haunted Summemr", yaitu tentang mamsa-mamsa sekitar ditulisnya novel legendaris Frankenstein oleh Mary Wollstonecraft Goldwin SHelley. Jalinan kisahnya melibatkan Mary Goldwin (McInnerny), Percy Shelley (Pelka), Claire Clarmont (Hurley), Lord Byron (Grant), dan Polidori (Gomez). Dimulai dari perjalanan bersama ke Swiss yang diikuti oleh terbentuknya hubungan-hubungan pribadi yang penuh konflik. Film ini memandang Mary sebagai fokus utamanya, seorang wanita sensitif yang mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan dan isi tulisannya sendiri. Ketika tokoh lain digambarkan sebagai manusia-manusia eksentrik yang agak stereotip, terutama Byron, Mary terus digali dalam dimensi-dimensi yang normal. Suarez berhasil membawa suasana yang benar-benar "Gothic" ke dalam filmm ini, namun dengan tetap menjaga plot yang menarik dan mudah dinikmati. Visualisasi yang selalu ekspresif - nilai khusus untuk sinematografi Carlos Suarez - juga menjadi sandaran lain yang mendukung. Masalah terbesar adalah dialog-dialog yang kurang elastis sehingga kesan kaku sering muncul dalam adegan-adegan verbal, dan para aktor kesulitan untuk menampilkan yang terbaik. Grant, McInnerny, dan Hurley terlihat paling nyaman dalam perannya, mungkin karena di antara para pemain hanya mereka yang benar-benar lahir untuk menggunakan Bahasa Inggris.
Ruby in Paradise (½)- 1993 / Victor Nunez / Ashley Judd, Todd Field, Bentley Mitchum, Allison Dean, Dorothy Lyman / [115 mnt] Ruby Lee Gissing, gadis di awal duapuluhan, meninggalkan rumahnya dan mencoba hidup mandiri di sebuah kota pinggir pantai. Dia mendapat pekerjaan sebagai pramuniaga di toko pakaian milik Ny. Chambers (Lyman), dia juga harus menentukan sikap menghadapi ketertarikan putra Ny. Chambers, Jack (Field), padanya. Itu baru awal petualangan Ruby, selanjutnya film ini mengikuti “perjalanan” gadis yang selalu mengungkapkan jiwanya lewat buku harian ini. Hati-hati: Ini bukan film petualangan seorang supergirl yang penuh adegan laga atau seks! RiP adalah sebuah kisah yang penuh perenungan puitik, cenderung sunyi namun mendalam dan intensif. Mungkin itu yang membuat karya independen ini mendapat sambutan yang hangat dari festival, kritikus, dan masyarakat umum Amerika, RiP dianggap sebagai film yang berhasil menampilkan sosok seorang wanita muda yang kuat secara sangat manusiawi. Nunez memang membuatnya dengan sangat sederhana, dia hanya mengandalkan beberapa ekspresi pencahayaan sebagai variasi visual, namun gaya bertuturnya yang cerdas dan arif, tanpa menghilangkan kebersahajaan, membuat karya debutnya ini lain dari yang lain, RiP memberikan perjalanan dan pengalaman. Arusnya memang hanya bersandar pada bagaimana karakter Ruby digali dan dieksploitasi, tapi itu sudah cukup. Beruntung pulalah Nunez, dia punya Judd yang tampak begitu faham dengan karakternya, tak satupun “nada sumbang” dimainkannya. Ashley yang manis mendapat imbalan yang pantas untuk hasil kerjanya: dia adalah satu dari sedikit sekali aktris yang namanya melambung “hanya” berkat debutnya di sebuah film indie. Singkatnya, ini adalah film yang sangat mengesankan berkat kesederhanaan, kedalaman, dan keberbedaan sudut pandangnya, namun kami tak berani merekomendasikannya untuk penonton yang hanya suka film yang mencolok (andai kami berani, kami – yang begitu terpesona oleh film ini – akan memberinya epat bintang!).
* Independent Spirits Awards : Aktris Terbaik (Judd)
Rush (½)- 1991 / Lili Fini Zanuck / Jason Patric, Jennifer Jason Leigh, Sam Elliott, Max Perrlich, William Sadler / [120 mnt] Untuk melacak mekanisme perdagangan obat bius, Patric dan Leigh ditugaskan untuk menyamar sebagai pemakai dan pembeli, namun keduanya terlibat sangat jauh hingga tak lagi bisa membedakan mana penyamaran dan mana kenyataan. Nilai yang tinggi pantas diberikan untuk penyutradaraan Zanuck yang kuat dalam menciptakan suasana yang kelam, namun tetap saja film berjalan sangat lambat dan akhirnya menjadi lesu. Patric dan Leigh bermain bagus. Catatan: Lewat soundtrack film inilah (Tears in Heaven) Eric Clapton kembali ke zaman keemasannya. [R]
Russia House, The (½)- 1990 / Fred Schepissi / Sean Connery, Michelle Pfeiffer, Roy Scheider, James Fox, Klaus Maria Brandauer, John Mahoney, Ken Russell / [123mnt] Seorang penerbit Inggris (Connery) menjadi alat spionase Barat ketika dia menjadi tujuan penyelundupan buku oleh seorang ilmuwan Russia (Brandauer) lewat pacarnya (Pfeiffer). Kisah yang diadaptasi dari novel humanis John LeCarre ini muncul di saat glasnost dan perestroika ala Gorbachev sedang marak, sehingga jika ditonton di tahun 1990 atau 1991, idenya mungkin akan terasa segar aktual atau justru ganjil tak tepat waktu. Film ini membangun diri lewat scene-scene yang kebanyakan pendek dan muatan cerita yang sangat padat, selalu menanjak, namun ternyata kita tak pernah mengalami puncak kemenarikan itu ketika film berakhir. Memang RH tidak begitu berguna sebagai referensi faktual, tidak juga terlalu menghibur, namun anda tidak akan berani menyebutnya film jelek. Schepissi dan krunya sangat perduli pada penciptaan detil, itu sangat membantu. Deretan pemainnya juga memuaskan, Connery sangat kharismatik, Pfeiffer mungkin adalah aktris Amerika paling tepat untuk peran Katja, sementara Fox dan Scheider menjadi sepasang manusia dengan akting paling enak dinikmati di sini. [R]




S


Saint, The (½)- 1997 / Philip Noyce / Val Kilmer, Elizabeth Shue, Rade Sherbezija, Valery Nikolaev, Henry Goodman, Alun Armstrong, Michael Byrne, Evgeny Lazarev, Irina Apeximova, Lev Prigunov, Charlotte Cornwell, Emily Mortimer / (114 mnt) Salah satu generasi pemirsa televisi di Indonesia mengingat The Saint dalam sosok Ian Ogilvy di layar TVRI akhir 70-an sampai awal 80-an, sebagian kecil mungkin melihatnya juga dalam sosok Roger Moore dan George Sanders. "The Saint" versi 1997 ini bukan kisah petualangan manis seperti itu, walau orang yang diceritakan masih Simon Templar, tokoh rekaan Leslie Charteris. Film Philip Noyce ini pada dasarnya adalah kisah psycho vs. psycho. Templar adalah lelaki murung yang kesepian dengan masa lalu yang gelap. Dia diminta seorang pengusaha minyak Rusia (Sherbedzija, aktor Yugoslavia yang semakin laris di Hollywood) untuk merampas formula ciptaan Emma Russell (Shue). Ini bukan tugas baik-baik, Templar pada dasarnya adalah orang "baik", lalu akankah dia beralih ke pihak Emma? Film ini disajikan dalam teknik sinematografi tingkat tinggi mengikuti petuaangan Templar ke berbagai tempat di penjuru dunia dalam berbagai penyamaran yang tidak semuanya mengesankan. Untuk membuat film menjadi seru, semua tokoh jahat harus berupa manusia dengan egoisme super, cerdas, ultra ambisius, megalomaniak yang tak kurang gila, tammbahkan pula roman yang malu-malu dan soundtrack yang enerjik. Semua itu tersedia dalam film ini, apa yang kurang? Alur menarik yang bisa membuat pemirsa penasaran. [PG-13]
Samantha (½)- 1992 / Steven LaRocque / Martha Plimpton, Dermot Mulroney, Iona Skye, Mary Kay Place / [91 mnt] Samantha (Plimpton) baru saja menemukan fakta bahwa dia bukan anak kandung "kedua orang tuanya", dia adalah bayi yang ditemukan dalam keranjang di depan pintu. Dalam segala dilemanya Samantha mencoba mencari asal-usulnya yang sesungguhnya. Kalau saja film ini muncul sedikit lebih lambat, tahun 1994 misalnya, mungkin LaRocque bisa mendapat lebih banyak masukan dari film-filmm independen Amerika yang menjamur di pertengahan sembilanpuluhan, sementara film ini tampak sangat tanggung dan malu-malu meramu gaya mainstreamm Hollywood dengan gaya yang lebih "alternatif". Plimpton memberikan nuansa yang memadai untuk film ini dengan akting bagusnya. [PG]
Saving Private Ryan ()- 1998 / Steven Spielberg / Tom Hanks, Edward Burns, Tom Sizemore, Jeremy Davies, Vin Diesel, Adam Goldberg, Barry Pepper, Giovanni Ribisi, Matt Damon, Dennis Farina, Ted Danson, Harve Presnell, Dale Dye, Bryan Cranston, David Wohl, Paul Giamatti, Ryan Hurst, Harrison Young / [155 mnt] Film ini dibuka dengan sebuah sekuen panjang bertensi tinggi yang menggambarkan penyerbuan pantai oleh sebuah regu yang sangat nekat pada Perang Dunia ke II. Kemudian pada sekuen lain, sebuah medium long shot memperlihatkan seorang ibu jatuh terduduk setelah membaca surat yang memberitakan gugurnya tiga dari empat putranya yang turut berperang. Itulah dua sekuen terbaik film ini, keduanya - dalam nuansa yang kontras dan saling mendukung - adalah dua dari adegan paling sulit dilupakan yang terdapat dalam sebuah film Amerika dekade sembilanpuluhan. Itu belum cukup, film ini juga mempunyai sekuen penutup yang sangat mengesankan. Namun di antara awal dan akhir itu kita merasakan sebuah rentangan yang hampir melelahkan. Kisah perjalanan penuh konflik sebuah regu yang dipimpin Hanks untuk mencari Prajurit Ryan (Damon), satu-satunya anak si ibu yang tersisa, dipenuhi formula standar "film anti perang" Hollywood yang penuh romantisme dan perangkap-perangkap yang terukur. Saving Private Ryan adalah sesuatu yang besar dari salah satu pembuat film terbesar yang pernah dilahirkan Amerika, namun - seperti juga The Thin Red Line, film lain tentang moralitas individu pelaku PD II yang dirilis pada waktu hampir bersamaan - film ini terlalu pretensius untuk murni dianggap sebagai sebuah masterpiece seperti kisah PD II Spielberg sebelum ini, "Schindler's List" (1994). [R]
* Academy Awards : Sutradara Terbaik (Spielberg), Editing Terbaik
Savior (½)- 1998 / Peter Antonijevic / Denis Quaid, Natasha Ninkovic, Stellan Skarsgard, Nastassja Kinski / (AMERIKA SERIKAT - YUGOSLAVIA) / [96 mnt] Joshua Ross (Quaid) adalah seorang tentara bayaran yang bertempur untuk pasukan Serbia di Bosnia dengan dilatari rasa sakit hatinya atas kematian istri dan anaknya di tangan orang Muslim. Pertemuannya dengan seorang wanita Serbia yang diperkosa (Ninkovic), dan kemudian dengan bayinya, membuatnya tergerak untuk memandang hidup dengan kaca mata yang lain. Quaid bermain bagus dalam film yang diproduseri oleh Oliver Stone ini, namun film ini sendiri gagal untuk bercerita banya tentang segala sesuatu yang ingin disampaikannya. [R]
Scarlett Letter, The ()- 1995 / Roland Joffe / Demi Moore, Gary Oldman, Robert Duvall, Robert Prosky, Edward Hadwicke, Joan Plowright, Lisa Joliff Andoh, Diana Salinger, Roy Dotrice, Amy Wright, Dana Ivey / [135 mnt] Film ini adalah film ketiga yang diambil dari novel klasik Nathaniel Hawthorne tentang seorang wanita yang dituduh berzina dalam sebuah masyarakat puritan ketika jauh dari suaminya, sebagai hukuman pertama dia harus mengenakan kalung huruf “A” merah yang melambangkan “Adultry” (perzinahan). Versi Joffe ini cukup teliti dalam menampilkan periode waktu, namun empasis atas feminismenya sering terkesan naif, sangat naif. Namun jauh lebih naif lagi adalah usaha Joffe dan penulis skenario Douglas Day Stewart untuk “menambah aksesibilitas” kisah Hawthorne dengan membelokkan beberapa karakter dan memaksakan popularisasi adegan seks dan laga yang tak perlu. Oldman bermain lumayan, namun Duvall sering terlihat over-akting ketika Moore justru senantiasa membeku. Film ini beredar ketika para wanita pengarang romantis klasik seperti Brönte bersaudara, Mary Louisa Alcott, dan Jane Austen tiba-tiba kembali rajin mengunjungi layar perak. Catatan kecil: Ini adalah film terakhir yang melibatkan Dodi Al Fayed di barisan eksekutifnya. [R]
Scenes from a Mall ()- 1991 / Paul Mazursky / Bette Midler, Woody Allen, Bill Irwin, Darren Freestone, Rebecca Nickels, Paul Mazursky / [87 mnt] Nick (Allen) dan Deborah (Midler) merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke enambelas di sebuah mall. DI sana mereka menghayati kembali pernikahan mereka, melihat, dan melakukan apa saja yang menjadikan film ini bisa bercerita. Karakter yang dimainkan kedua bintang senior itu sebenarnya cukup menarik, akting mereka juga tak usah diragukan. Tetapi semua pengalaman eksentrik mereka di mall ini adalah perjalanan yang melelahkan bagi pemirsa. [R]
Scent of a Woman ()- 1992 / Martin Brest / Al Pacino, Chris O'Donnell, Jim Rebhorn, Philip Hoffmann, Gabrielle Anwar / [137 mnt] Untuk menambah uangnya, Charlie Simms (O'Donnell) menerima pekerjaan melayani seorang pensiunan kolonel buta (Slade). Kolonel ini mempunyai kepribadian yang mengejutkan Simms yang masih sangat muda. Mereka semakin menemukan sesuatu pada diri satu sama lain setelah sang Kolonel mengajak Simms untuk berakhir pekan di New York dan memberinya pengalaman-pengalaman yang lebih mengejutkan. Film ini tidak memberikan kepuasan yang hebat dan terasa terlalu panjang karena memang tidak semua bagiannya menarik. Hanya Pacino yang membuat SoaW tidak sekedar berkelas lumayan, juga O'Donnell, di luar dugaan, mampu menjadi pendamping yang sangat pantas untuk pendekar tak tergantikan ini. [R]
* Academy Awards: Aktor Utama Terbaik (Pacino), Golden Globe: Film Terbaik Drama, Aktor Utama Terbaik Drama (Pacino), Britsh Academy Awards: Skenario Adaptasi Terbaik (Bo Goldman)
Schindler’s List ()- 1993 / Steven Spielberg / Liam Neeson, Ben Kingsley, Ralph Fiennes, Caroline Goodall, Jonathan Sagalle, Embeth Davidtz, Magolscha Gebel, Shmulik Levy, Mark Ivanir, Beatrice Macola / [195 mnt] (Hitam Putih dan Berwarna) Salah satu epos termegah Hollywood ini adalah lambang perhatian pertama Spielberg atas darah yang mengalir di tubuhnya. Kisah ini diangkat dari novel tulisan Thomas Kenealy yang memaparkan sosok Oskar Schindler, seorang Jerman kaya raya yang mempunyai kekuatan sangat besar dan sangat dekat dengan kekuasaan Nazi, Oskar juga adalah seorang pria yang sangat menikmati kehidupan yang dipenuhi wanita cantik, pesta, dan hiburan-hiburan lain. Namun bukan itu semua yang membuatnya dikenang oleh kaum Yahudi Jerman, melainkan “kemurah hatiannya” mempekerjakan lebih dari seribu orang Yahudi di pabriknya sehingga mereka bisa selamat dari ancaman kematian mengenaskan dibantai di kamp Nazi. Apapun motivasi Schindler sesungguhnya, dia tetap dikenang sebagai seseorang yang telah mempertahankan kesempatan hidup banyak orang sampai dia sendiri mengalami kebangkrutan. Film dengan tema sebesar ini tentu tak akan menjadi favorit pribadi seorang penggemar film, namun seseorang yang mampu menghargai sebuah film akan setuju bahwa Spielberg telah bisa membuat ide sebesar itu menjadi sesuatu yang menakjubkan dan nyaris sempurna. Fotografi hitam putihnya boleh disebut masterpiece dalam era film warna, tata artistiknya tanpa cacat, dan secara umum pendekatannya terhadap realitas layak disebut spektakuler. Neeson sangat meyakinkan sebagai pusat perhatian, Kingsley tak punya masalah dengan perannya, dan Fiennes selalu merebut setiap adegan yang melibatkannya sebagai Amon Goeth, seorang perwira SS yang lebih dari sekedar berdarah dingin. Di Indonesia karya besar ini menjadi sangat terkenal justru karena pelarangan yang membuatnya tak bisa masuk ke sini, simpati seseorang terhadap orang lain ternyata menjadi masalah di negeri ini, anda nilai sendiri. [R]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Spielberg), Skenario Adaptasi Terbaik (Steven Zailian), Tata Kamera Terbaik, Tata Artistik Terbaik, Editing Terbaik, Tata Musik Terbaik, Golden Globe: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Terbaik, Tata Musik Terbaik,
Secret Life of Ian Fleming, The (lihat: Spymaker)
Secrets & Lies (½)- 1996 / Mike Leigh / Brenda Blethyn, Timothy Spall, Phyllis Logan, Marianne Jean-Baptiste, Claire Rushbook, Ron Cook, Lesley Manville, Elizabeth Berrington, Michele Austin, Lee Ross, Emma Amos, Hannah Davis / (BRITANIA) / [76 mnt] Leigh menampilkan satu lagi kisah realistis tentang kelas pekerja di Inggris, lebih lunak dan jinak dari biasanya, namun justru yang satu ini yang sanggup merebut hati lebih banyak orang, film inilah yang berhasil “mem-pop-kan” namanya setelah belasan tahun gigih berkarya dengan penggemar yang tidak seberapa. Cynthia Purley (Blethyn) adalah seorang pekerja pabrik berusia empatpuluhan yang tidak pernah menikah, dia tinggal bersama putrinya, Roxanne (Rushbook), penyapu jalanan yang bertingkah laku seenaknya. Cynthia, wanita naif yang menjalani kehidupan sangat sederhana, suatu waktu dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita muda berkulit hitam bernama Hortense (Baptiste) yang mengaku sebagai putrinya yang dulu diserahkan ke panti adopsi, dari sinilah cerita menanjak menuju terungkapnya segala “rahasia dan dusta”. Film ini dibangun dengan teliti lewat skenario dan penyutradaraan yang penuh improvisasi, suasana dramatis dan komedik diciptakan dengan sangat wajar sehingga segala sesuatu selalu terasa berada tepat di depan muka kita. Sepertiga pertama film ini mungkin terasa terlalu lambat untuk kebanyakan pemirsa, dan tampaknya tak akan menceritakan sesuatu yang berarti. Namun sejak komunikasi pertama antara Cynthia dan Hortense, kita tak mampu melepaskan lagi perhatian dari karya yang sederhana ini, tak ada kecengengan walau penuh isak tangis. Leigh dan para pemainnya mendiskusikan suasana dan karakter secara super intensif selama sembilan bulan, disertai bakat, hasilnya menjadi luar biasa, semua pemain tak sedikitpun kelihatan berakting. Blethyn menjadi ujung tombak orkestra ini dengan permainan yang sulit dilupakan, terus terang saja, sulit membayangkan film ini akan tetap istimewa jika dia tidak bermain sehebat itu. Satu dari sedikit sekali melodrama istimewa dalam dekade spesial efek ini. [PG-13]
* Cannes: Film Terbaik, Aktris Terbaik (Blethyn), Golden Globe: Aktris Utama Terbaik Drama (Blethyn), Britsh Academy Awards: Aktris Terbaik (Blethyn)
Search & Destroy ()- 1995 / David Salle / Griffin Dunne, Christopher Walken, John Turturro, Illeana Douglas, Dennis Hopper, Rosana Arquette, Martin Scorsese, Ethan Hawke, Robert Knepper, David Thornton / [93 mnt] Dunne sangat ingin memproduksi sebuah film, seorang ahli pertolongan metafisika (Hopper) mencoba menelongnya. Tapi Dunne malah terperosok ke dalam pengalaman-pengalaman yang sulit dia fahami. Black comedy ini bisa menjadi sesuatu yang sangat menarik, apalagi dengan susunan pemain seperti itu, tapi bukan itu yang kita dapatkan. [R]
Sense & Sensibility ()- 1995 / Ang Lee / Emma Thompson, Alan Rickman, Kate Winslet, Hugh Grant, Harriet Walter, James Fleet, Gemma Jones, Emille Francois, Elizabeth Spriggs, Richard Hardy, Imogen Stubbs, Gregg Wise, Imelda Staunton, Hugh Laurie / (BRITANIA) / [136 mnt] Jane Austen adalah sebuah nama yang belum mampu dilupakan orang-orang film Inggris, di samping William Shakespeare, E.M Forster, Brönte bersaudara, dan sedikit nama lain. Kali ini giliran salah satu karya populernya, “Sense & Sensibility”, yang bercerita tentang perjalanan cinta dua gadis Dashwood, diadaptasikan ke layar film. Film ini bagaimanapun lebih dikenal sebagai prestasi spektakuler debut penulisan skenario Thompson, yang memang - walau dengan cara sangat konvensional - berhasil membuat film ini bertutur lebih lancar dan enak dari pada novelnya, setidaknya Thompson membuat romantismenya mempunyai unsur sinisme yang tepat. Dia juga menampilkan akting terbaiknya, terlepas dari tepat tidaknya dia dipilih (atau memilih diri?) untuk peran Elinor Dashwood, dan semua pemain lain bermain sama baik dengannya. Ang Lee, sutradara Taiwan yang dikenal Barat lewat “The Wedding Banquet”, secara nyaris tak dapat dipercaya berhasil membesut suasana Inggris abad ke sembilanbelas, tempat dan waktu yang tak punya hubungan erat dengan kehidupannya, kita dipaksa meyakini dan menyukai hampir segala sesuatu yang digambarkannya dalam film ini. (Tapi, ngomong-ngomong, apa salahnya dia suruh Nona Winslet, yang tampang dan aktingnya sama mewahnya, untuk menyempatkan diri belajar main piano barang satu dua nada sebelum main film ini agar tuts yang tak dipijit Marianne Dashwood tidak kelihatan berbunyi sendiri? Mungkin nanti, ketika Emma sudah berani mengadaptasi karya Austen yang paling populer, “Emma”, atau tidak usah sama sekali karena dua tahun kemudian popularitas Kate memang berbunyi sendiri lewat megahit “Titanic”, dan novel “Emma” sudah lebih dulu diserobot versi Gwyneth Paltrow.) [PG]
* Academy Awards: Skenario Adaptasi Terbaik (Thompson), Golden Globe: Film Terbaik Musikal/Komedi, Skenario Terbaik (Thompson)
Serial Mom (½)- 1994 / John Waters / Kathleen Turner, Sam Waterston, Ricki Lake, Matthew Lillard, Scott Wesley Morgan, Traci Lords, Patricia Hearst, Susanne Sommers / [93 mnt] Beverly Sutphin (Turner, dalam permainan bunglon gila-gilaan) adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat menyayangi suami dan kedua anaknya. Namun ternyata di balik itu, Bev menyimpan kekejaman terpendam yang luar biasa, hanya untuk kesalahan sepele, dia bisa tega mengambil hati siapa saja (dalam arti yang sesungguhnya!). Kekejamannya itu bukan menjadikannya musuh masyarakat, melainkan selebriti nomor satu di media masa. Cukup menggigit, riuh rendah, dan satiris, namun kadang ada kesan film ini agak lambat dan mudah ditebak, apalagi bila mengingat bahwa film ini adalah karya Waters, sutradara underground yang tak pernah percaya pada sopan santun, kita mengharapkan sesuatu yang lebih hingar bingar. Bukankah itu bukti bahwa kekerasan adalah hiburan? Catatan kecil: Film ini menampilkan aksi panggung L7, grup Seattle yang selama karir bermusiknya hanya pernah mengisi dua soundtrack film: Serial Mom dan “Natural Born Killers”, wah! [R]
Seven (½)- 1995 / David Fincher / Brad Pitt, Morgan Freeman, Gwyneth Paltrow, Richard Roundtree, R. Lee Ermey, John McGinley, Julie Araskog, John Cassini, Kevin Spacey, Mark Boone jr., Richard Portnow / [127 mnt] Dua orang detektif seksi pembunuhan (Freeman menjelang tua, hidup sendiri, dan penuh pertimbangan, Pitt, muda, emosional, dan beristri gelisah) berhasil menyimpulkan bahwa pembunuh berantai yang sedang beraksi ternyata menyusun korban-korbannya berdasarkan tujuh dosa besar yang terdapat dalam injil. Kedua polisi ini tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang psikopat megalomaniak yang cerdas, trampil, tak kenal rasa takut, dan ingin menantang mereka secara langsung. Ide cerita film ini bukan barang baru, namun skenarionya berhasil menutupi hampir semua sisi klise yang bisa timbul. Penyutradaraan Fincher menggambarkannya dengan sangat kreatif dengan perhatian penuh pada kerja semua unsur pembuatan dalam setiap adegan hingga menjadi begitu penuh warna dan sering menyentak. Film ini adalah sebuah hiburan yang enak ditonton dari awal sampai akhir, dan setiap menit memang menuju ke sebuah sekuen penutup yang benar-benar layak ditunggu selama ratusan menit, bagian itu adalah satu dari sedikit ending yang betul-betul menggetarkan dalam dekade ini. [R]
Seventh Coin, The (½)- 1992 / Dror Soref / Alexandra Powers, Navin Chowdry, Peter O’Toole, John Rhys Davis, Ally Walker, Julius Washington / [95 mnt] Kisah tentang petualangan remaja-remaja tanggung yang memiliki sebuah koin keramat peninggalan Raja Herod yang membuat mereka dikejar-kejar oleh seseorang yang mengaku sebagai reinkarnasi Herod ini benar-benar tak memuaskan, hampir dalam segala segi. Manusia selegendaris O’Toole tak bisa menolong. [PG-13]
Sex & the Other Man ()- 1997 / Karl Slovin / Ron Eldard, Kari Wuhrer, Stanley Tucci / [89 mnt] Anda boleh menyebutnya komedi romantis, komedi tragis, komedi sex, komedi gila, atau apa saja. Billy (Eldard) adalah seorang penderita impotensi yang sangat kecewa pada dirinya. Suatu hari dia memergoki istrinya, Jess (Wuhrer), bermain cinta dengan Arthur (Tucci), boss istrinya. Billy tidak terlalu marah, dia hanya memeras Arthur, menyanderanya, dan membiarkannya menonton dia dan Jessica bercinta. Di bawah tatapan mata Arthur, impotensi Billy mendadak sembuh. Apakah tanpa ada Arthur menonton Billy akan tetap sembuh? Lihat saja sendiri, banyak sekali lonjakan kegilaan terjadi di sini. Bukan karya yang istimewa, namun sangat cukup untuk mengundang dan mempertahankan ketertarikan pemirsa. [R]
Shaft ()- 2000 / John Singleton / Samuel L. Jackson, Vanessa L. Williams, Jeffrey Wright, Christian Bale, Busta Rhymes, Dan Hedaya, Toni Collette, Richard Roundtree, Ruben Santiago-Hudson, Josef Sommer, Lynne Thigpen, Philip Bosco, Pat Hingle, Lee Tergesen, Daniel Von Bargen / (98 mnt) Shaft adalah nama detektif polisi kulit hitam yang pernah menjadi fenomena penting dalam arus film-film "Blaxploitation" di tahun tujuhpuluhan. Singleton mencoba menghidupkannya kembali, bukan dalam sosok Richard Roundtree namun dalam sosok kharismatik Sammy Jackson. Singleton dan Jackson, mmungkin memang mereka yang paling kompeten saat ini kalau bukan Spike Lee dan Damon Wayans. Kali ini John Shaft berurusan dengan bajingan jet set, Walter Wade (Bale), anak papi yang sangat licin. Wade melakukan pembunuhan namun berhasil lolos dari tangkapan Shaft dan melarikan diri ke Swiss. Shaft tak pernah melupakannya. Ketika Wade merasa dirinya sudah aman, dia kembali ke Amerika, dan Shaft telah menunggunya. Namun Wade tetap Wade, dia masih licin. Dua orang lain yang terlibat erat dalam urusan ini adalah Diane Palmieri (Colette), seorang pramuniaga yang menjadi saksi perbuatan Wade, dan Peoples Hernandez (Wright), gembong gang obat bius Hispanik yang mempunyai urusan sendiri dengan Wade. Singleton benar-benar tak mau menyisakan sedikitpun nuansa tujuhpuluhan dalam filmnya, dari mulai atmosfer suasana sampai tampilan film yang justru lebih mirip serial televisi tujuhpuluhan daripada film "Shaft" asli. Jackson juga punya segalanya untuk menjadi Shaft, penampilan fisik, keflamboyanan, dan skill akting. Para pemain pendukung juga sangat pas, terutama Wright yang penuh gaya. Kecuali untuk pameran kostum eksklusif para pemmainnya, Shaft milenium ini memang tak akan menjadi fenomena seperti versi aslinya, walau Singleton dan temannya menulis skenario Richard Price mencoba membubuhkan isu rasialisme yang halus namun meluas dan terasa di sepanjang film. Yang jelas, ini adalah sebuah film yang funky dan menghibur. [R]
Shakespeare in Love (½)- 1998 / John Madden / Gwyneth Paltrow, Joseph Fiennes, Colin Firth, Geoffrey Rush, Judi Dench, Tom Wilkinson, Ben Affleck, Simon Callow, Jim Carter, Martin Clunes, Imelda Staunton, Steven O'Donnell, Tim McMullen, Steven Beard, Antony Sher, Patrick Barlow, Sandra Reinton, Rupert Everett, Jill Baker, Nicholas Le Prevost [118 mnt] Komedi roman sensasional ini seakan meresmikan Shakespeare sebagai salah satu tokoh terpenting dalam dunia film sembilanpuluhan yang kebetulan memang dipenuhi roman komedi. Willy yang culun (Fiennes) sedang berhadapan dengan berbagai masalah berkaitan dengan naskah terbarunya yang kelak akan menjadi “Romeo & Juliet” yang melegenda. Sementara itu, Lady Viola de Lesseps (Paltrow, yang terus mempersempit lapangan kerja aktris muda Inggris) adalah seorang wanita muda dari kelas bangsawan yang sangat tertarik untuk bermain dalam drama Willy hingga dia nekat menyamar menjadi seorang pria demi mendapatkan perannya karena pada saat itu wanita dilarang berakting (karakter Lady Viola muncul dalam komedi terbaik Shakespeare, Twelfth Night). Kisah ini melaju semakin liar dari menit ke menit, sering kali tanpa memperdulikan kebiasaan, sejarah, bahkan nalar. Siapa yang tidak bisa melihat Gwyneth dalam kostum laki-lakinya? Bandingkan karakter Ratu Elizabeth ala Dench dengan karakter sama yang dimainkan Cate Blanchet dalam “Elizabeth” yang dirilis di tahun yang sama! Dan bukankah sebagian dari masalah profesional Willy adalah masalah orang-orang Hollywood? Namun segala kecuwekannya itu selalu disertai pameran filmis kelas tinggi, hampir tak ada aspek sinematografis film ini yang tak layak disebut sangat bagus. Skenario Marc Norman dan Tom Stoppard juga dengan cerdik menyempatkan diri memberi efek satiris yang menyentil sana-sini di antara gaya komedi ringannya. Cerita off-screen SiL tidak kalah seru dengan kisah yang dikandungnya, komedi yang dibuat dengan biaya yang tidak termasuk boros untuk ukuran perusahaan sebesar Miramax ini tiba-tiba membuat “keributan” ketika Miramax menghambur-hamburkan dollar untuk membiayai kampanye Oscarnya. Masalahnya, setelah mencatat rekor keborosan itu, SiL dengan santai menuai 6 Oscar, membungkam semua saingannya dan menambah ribut para penggunjing. Lupakan Oscar dan segala skandalnya, Shakespeare in Love memang sebuah hiburan ringan yang memenuhi banyak syarat untuk disukai dan dikagumi. [R]
* Academy Awards: Film Terbaik, Skenario Asli Terbaik (Marc Norman & Tom Stoppard), Aktris Utama Terbaik (Paltrow), Aktris Pendukung Terbaik (Dench), Tata Artistik Terbaik, Tata Kostum Terbaik Golden Globe: Film Terbaik Musikal/Komedi, Aktris Terbaik (Paltrow), British Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Madden), Aktris Pendukung Terbaik (Dench)
Shallow Grave ()- 1994 / Danny Boyle / Kerry Fox, Christopher Eccleston, Ewan McGregor, Keith Allen, Ken Stott, John Hodge / (BRITANIA) / [94 mnt] Kerja sama pertama Boyle dengan penulis Hodge dan produser Andrew McDonald ini memberikan beberapa kisi-kisi gaya film mereka setelah ini, “Trainspotting”, yang membuat mereka menjadi tim pembuat film paling fenomenal yang pernah dihasilkan Skotland. Tiga orang kariris muda, Alex, Julia, dan David, tinggal bertiga dalam sebuah flat, mereka berencana menambah jumlah penghuni satu orang lagi (mereka mengadakan audisi untuk itu!). Kemudian masuklah Hugo yang “menarik”, Hugo semakin menarik setelah dia mati telanjang di tempat tidur pada pagi pertamanya dengan meninggalkan satu koper penuh poundsterling dalam jumlah besar. Alex sangat bersemangat melihatnya, Julia tertarik namun agak ragu, sedang David menyarankan untuk bersikap lebih hati-hati. Siapa sesungguhnya yang punya paling banyak rencana di antara mereka bertiga? Film ini bisa membuat kita selalu ingin menebak, dan di sini tebakan kita tak akan terlalu meleset, namun juga tak mungkin sepenuhnya tepat. Memang, alur ceritanya terlalu mengandalkan kejutan-kejutan dan perubahan yang drastis, namun penyutradaraan Boyle yang super lincah, seperti juga gambar-gambar Brian Tufano dan dialog-dialog Hodge, membuat segala sesuatunya - termasuk beberapa kesuperfisialan - terasa enak ditelan dan tak pernah kehilangan daya tarik semenit pun. Ketiga pemeran utamanya juga patut diberi pujian (Eccleston paling meyakinkan, Fox bagus, dan si supercool McGregor tetap O.K walau kadang-kadang over-akting). Film ini sering dibanding-bandingkan dengan start fenomenal The Coens, “Blood Simple”. [R]
Shameless ()- 1996 / Henry Cole / Elizabeth Hurley, C. Thomas Howell, Joss Ackland, Frederick Treves, Andrew Connelly, Chris Adamson, Brett Forrest, David Harewood, Louis Delamere, Paula Hamilton, Jerome Brett, Claire Bloom / (BRITANIA) / [99 mnt] Salah satu manusia paling sensual di daratan Inggris, Hurley, bermain sebagai Antonia (baca: Anthseonia!), seorang wanita muda yang tak bisa menahan kecanduannya pada heroin, walaupun Mike (Howell), pemuda Amerika berpenampilan gembel yang mencintai dan dicintainya, selalu mencoba untuk membawanya kembali ke kehidupan normal. Sementara itu, Ackland bermain sebagai seorang polisi tua yang mempunyai masalah yang sangat berat dengan anak gadisnya (Delamere). Apa hubungan antara orang-orang ini? Anda mengharapkan jawaban yang menarik, sayang film ini tak punya suspense yang cukup untuk menjadikannya thriller yang memikat, dan tak punya kematangan yang cukup untuk menjadi drama psikologis, baik penokohan atau penciptaan masalah tercipta dangkal dan setengah jadi. Sayang, padahal modal ceritanya sesungguhnya punya potensi untuk menjadikannya menarik. Sementara itu, Lizzy tak bermain jelek, kecantikannya juga mencorong tajam, namun memang belum saatnya dia untuk menciptakan sensasi akting yang sejajar dengan popularitas modelingnya atau dengan sensasi Hugh Grant, tunangan tercintanya, pangeran perfilman Inggris dekade ini yang hanya kalah jago oleh orang Buckingham dalam hal membuat berita panas di koran-koran. [R]
Shattered (½)- 1991 / Wolfgang Petersen / Tom Berenger, Gretta Scacchi, Bob Hoskins, Joanne Whaley-Kilmer, Corbin Bernsen, Theodore Bikel / [98 mnt] Kelly (Scacchi) melaksanakan sebuah rencana yang sangat matang untuk membunuh Jason, suaminya, dan untuk bisa hidup dengan kekasih gelapnya, Dean. Dia merancang kematian suaminya dan kecelakaan mobil yang membuat Dean menjadi amnesia, kemudian Kelly meyakinkan Dean - dengan gaya memulihkan ingatan - bahwa dia adalah Jason. Gaya penceritaan film ini tentu saja jauh lebih berbelit-belit dari sinopsis singkat ini, nama thriller suspensi memang tepat sekali untuknya, sulit ditebak dan menegangkan, walau mungkin tak masuk akal. Tata fotografinya yang redup cukup menambah ketegangan, namun terlalu stereotype, hingga lama-kelamaan justru menjadi penurun tensi. [R]
Shattered Image (½)- 1994 / Fritz Kiersch / Bo Derek, Jack Scalia, David McCallum, John Savage, Dorian Harewood, Carol Laurence, Ramon Franca / [100 mnt] Thriller erotis ini (mau sampai kapan, Bo?) bermodal cerita yang cukup kompleks, mulai tentang pembunuhan, perebutan uang, dan tentu saja skandal sexual, semuanya melibatkan seorang bekas model (Derek) dan seorang detektif (Scalia). Dengan skenario yang mudah ditebak (dari awal-awal) dan fotografi yang menganggu dengan kegenitannya, film ini bahkan jauh di bawah kelas “biasa-biasa saja”. [R]
Shattered Image ()- 1998 / Raul Ruiz / William Baldwin, Anne Parillaud, Lisanne Falk, Graham Greene, Billy Wilmott, O'Neil Peart, Leonie Forbes, Bulle Ogier / (103 mnt) Film gelap lain muncul menjelang akhir abad XX, kini berkisah tentang seorang wanita Jessie (Parillaud_, seorang istri yang pasif, yang dalam sebuah kehidupan di dimensi lain berperan sebagai seorang pembunuh berdarah dingin dan sexist (juga sexy). Kedua kehidupan ini digambarkan sebagai dua sisi cermin, entah siapa yang bercermin dan mana yang mencerminkan, semakin lama kita semakin tidak tahu lagi mana kenyataan dan mana impian, kalau memang salah satunya adalah impian. Ruiz adalah seorang sutradara dengan reputasi yang bagus, namun dengan cerita seperti ini, dai tampak kerepotan menjaga alur dan ritme ceritanya agar tetap menarik. Ya, kerepotan dan rasanya dia gagal, awalnya kita merasa sangat tertantang oleh kisah ini, nammun lama-kelamaan film menjadi semakin genit, mengesalkan, dan akhirnya kehilangan pijakan sama sekali. [R]
Shawshank Redemption, The (½) - 1994 / Francis Darabont / Tim Robbins, Morgan Freeman, Bob Gunton, William Sadler, Clancy Brown, Gill Bellows, James Whitmore, Mark Rolston, Larry Brandenburg Brian Libby, Neill Guntuni, David Proval, Joseph Ragno, Paul McCrane, Jude Ciccolella, Jeffrey De Munn, Frank Medrano / (142 mnt) Film ini diangkat dari novel Stephen King, “Rita Hayworth and The Shawshank Redemption”, yang bercerita tentang persahabatan dua orang narapidana penjara Shawshank, Redding (Freeman) dan Andy Dufresnee (Robbins). Andy adalah seorang napi yang sebenarnya tidak bersalah dalam tuduhan pembunuhan istrinya yang membuatnya dijebloskan ke penjara. Akhirnya diapun kabur, tanpa sepengetahuan Redding, dengan cara melewati lubang di dinding kamar sel yang dibuatnya sedikit demi sedikit selama....duapuluhempat tahun! Tidak pernah sebuah novel King difilmkan dengan sebagus ini. Darabont mengadaptasinya menjadi sebuah skenario dengan penuh ketelitian, yang membuat film ini padat dan berjiwa dengan struktur dramatis yang menghanyutkan, dan karakterisasi tokoh-tokoh utamanya terjelaskan secara wajar. Freeman menjadi bintang utama pertunjukan dengan aktingnya yang khas, banyak gerakkan yang tidak efisien, namun justru itulah yang menghidupkan tokoh yang diperankannya, dan Robbins juga tak kalah bagus. [R]
Sheltering Sky ()- 1990 / Bernardo Bertolucci / Debra Winger, John Malkovich, Campbell Scott, Jill Bennett, Timothy Spall, Eric Vu-an, Sotigui Koyate, Amina Annabi, Paul Bowles, Nicoletta Braschi / [137 mnt] / Malkovich dan Winger bermain sebagai Prt dan Kit, sepasang suami istri Amerika yang merasa harus menyegarkan lagi hubungan mereka. Untuk itu mereka pergi ke Afrika Utara bersama seorang teman (Scott). Masalah pertama bisa ditebak: Winger malah menjalin affair dengan Scott. Selanjutnya ketiga orang ini menjalani petualangan mereka sendiri-sendiri, lengkap dengan berbagai tokoh baru, di gersang dan teriknya Sahara. Dalam atmosfir sepanas itu, Bertolucci masih menambah suhunya dengan mempertinggi tegangan erotik film ini, sisi petualangan psikologis dan filosofis dalam novel Paul Bowles (yang hadir sebagai narator dan sebagai seorang kakek misterius di restoran) hampir tereduksi menjadi sebuah petualangan birahi yang difotografikan dengan luar biasa cantik oleh Vittorio Storato. Ah, mungkin sebenarnya Bertolucci berada di persimpangan jalan, dia harus bergelut dengan sebuah kisah yang hampir seluruhnya berjalan di kepala Port dan Kit, bukan dalam tingkah laku mereka, apalagi yang bisa dilakukan seorang sutradara selain mengambil permukaannya? Durasi film yang panjang dan kisah yang sunyi membuat film ini menjadi cukup melelahkan, kesejukan gambar-gambar Storato harus bersaing dengan pemandangan gersang Sahara yang kita saksikan setiap menit. Begitu intensnya Winger – yang tak lagi muda, namun belum sedikitpun kehilangan sensualitasnya yang termasyhur di dekade 80-an – memainkan Kit kadang membuat kita meringis, sementara Malkovich kembali menemukan peran romantik kesukaannya, dia tak pernah salah dalam urusan ini. [R]
Sherlock Holmes and the Leading Lady ()- 1990 / Peter Sasdy / Christopher Lee, Pattrick Macnee, Morgan Fairchild, Engelbert Humperdinck, Robert Rietty, John Bennett, Jenny Quayle / (BRITANIA - PRANCIS - BELGIA - ITALIA - LUXEMBOURG) / (201 mnt) (Film Televisi) Irene Adler (Fairchild), artis bangsawan yang pernah menyita kekaguman Sherlock Holmes (Lee) kembali meminta bantuan dari sang detektif legendaris dari Baker Street. Film ini dibuat dengan gaya film Inggris 50-an atau 60-an, dan itu tak banyak menolong walau untuk penggemar Sherlock Holmes atau penggemar film lama. Selain itu, sangat panjang dan rasanya tak kunjung selesai hingga bisa membuat penonton malas untuk melanjutkan menontonnya. Satu-satunya daya tarik besar adalah plot yang selalu berbelok-belok seperti kisah-kisah Holmes lainnya, tapi mungkin Sir Conan Doyle lah yang paling berjasa untuk hal itu. [PG-13]
She’s All That ()- 1999 / Robert Iscove / Freddy Prinze, jr., Rachael Leigh Cook, Jodi Lyn O’Keefe, Matthew Lillard, Paul Walker, Kevin Pollak, Kieran Culkin, Elden Henson, Usher Raymond, Kimberley Jones, Debbie Morgan, Tim Matheson, Anna Paquin, Gabrielle Union, Dulle Hill, Tamara Mello / [98 mnt] / Prinze adalah seorang pemuda bintang sekolah yang berpacaran dengan pemudi yang juga bintang sekolah (O’Keefe). Namun O’Keefe kemudian tertarik dengan seorang selebritis kelas kacang (Walker) dan memutuskan hubungan mereka. Dalam frustrasinya, Prinze bertaruh dengan temannya (Lillard) untuk berlomba mencari pasangan kencan sementara. Prinze kemudian menemukan Cook, sesosok stereotip gadis aneh SMU film pop Amerika: seniman, kutu buku, kaku, dan tak bisa berdandan, tentu lengkap dengan kaca mata minus dan rambut kepang. Cook adalah bukti taruhan, namun selanjutnya Prinze jatuh cinta padanya (adakah yang menganggap ini kejutan?). Anda yang pernah menonton dan menyukai “Dogfight” (1990) akan menertawakan SAT yang sangat renyah ini. Namun bila anda sudah menjadi anak muda ketika “Dogfight” dirilis, anda sungguh terlalu tua untuk film ini dan akan sulit mengimbangi keringanan hati tokoh-tokoh SAT, atau kenaifan pembuatnya. Satu-satunya unsur film ini yang bisa berbekas di ingatan mungkin hanya lagu hit dari soundtracknya, “Kiss Me”, oleh Six Pence and None the Richer. [PG-13]
She’s So Lovely () - 1997 / Nick Cassavettes / Sean Penn, Robin Wright Penn, John Travolta, Harry Dean Stanton, Debi Mazar, James Gandolfini, David Thornton, Susan Traylor, Bold Cooner, Kelsey Mulroney, John Marshall Jones, Chloe Webbs, Burt Young, Geena Rowland / (150 mnt) “She” dalam film ini (Wright) adalah seorang wanita yang berkelakuan tidak terlalu “lovely”. Sementara suaminya (Penn, suami asli Wright) adalah seorang laki-laki dengan berbagai ketergangguan yang mempunyai kesulitan besar dalam urusan mengendalikan diri. Penn kemudian dimasukkan (lagi) ke sebuah institusi penderita sakit jiwa dan tinggal di sana untuk masa sepuluh tahun (yang diyakininya sebagai tiga bulan), selama itu Wright tak pernah menjenguknya. Ketika dia keluar, Penn menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah menikah dengan Travolta. Mereka harus bertemu, lalu apa yang akan terjadi? Anda boleh mengira bahwa film ini mengandung banyak hal klise, tapi anda salah, skenario John Cassavetes (ayah Nick) mengandung sedikit sekali hal klise, dan memberikan kesegaran yang berlimpah. Ini adalah sebuah komedi hitam yang cukup kurang ajar, bersiaplah untuk hal itu karena endingnya hanya akan bisa dirasakan sangat menghibur asalkan anda sudah bisa merasakan kekonyolan film ini sejak awal, jika tidak, anda akan merasakan kehilangan waktu percuma karena menonton film ini. Yang jelas, Penn, Wright, dan Travolta berakting gila-gilaan, nilai sempurna untuk mereka bertiga. [R]
* Cannes: Aktor Terbaik (Penn)
Shine (½)- 1996 / Steve Hicks / Geoffrey Rush, Armin Muller-Stahl, Noah Taylor, Lynn Redgrave, Googie Withers, Sonia Todd, Nicholas Bell, John Gielgud / (AUSTRALIA - BRITANIA) / [106 mnt] David Helfgott, salah satu pianis terpandang Australia, dibesarkan dalam sebuah keluarga Yahudi sederhana. Ayahnya, Elias (Stahl), mendidiknya dengan perlindungan yang berlebihan. Walaupun Elias menginginkan David menjadi pemain piano yang terkenal namun dia tak rela untuk melepas David ketika anaknya mendapat tawaran untuk bersekolah musik di Amerika. Akhirnya David melepaskan diri dari rumah dan pergi ke Royal College of Music. Perkembangan kedewasaannya tidak pernah normal di sana, puncaknya setelah pertunjukan penting pertamanya, dia terjatuh dan mengalami kerusakan fungsi otak dan syaraf hingga harus tinggal di sebuah panti perawatan psikiatri. Skenarionya yang melodramatis kadang-kadang terjebak dalam kesentimentalan yang banal, namun penyutradaraan Hicks berhasil menebusnya dengan kelincahan visual yang luar biasa. Sebagian besar kelezatan film ini tentu saja diakibatkan oleh spektakulernya akting Rush - aktor antah berantah yang mengguncang berbagai festival internasional lewat film ini, selama dia ada di layar, kekurangan apapun dari film ini bisa kita maafkan (dia juga bahkan melakukan sendiri seluruh permainan pianonya). Taylor juga bermain sangat bagus sebagai David muda.
* Academy Awards: Aktor Terbaik (Rush), Golden Globe: Aktor Terbaik (Rush), British Academy Awards: Aktor Terbaik (Rush), Independent Spirits Awards: Karya Debut Terbaik, Film Asing Terbaik, Aktor Terbaik (Rush), LAFC Awards: Aktor Terbaik (Rush), NYFC Awards: Aktor Terbaik (Rush), Australian Film Institute Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Hicks), Aktor Terbaik (Rush), Aktor Pembantu Terbaik (Taylor) [PG-13]
Shooting Elizabeth ()- 1992 / Dane Wilson / Jeff Goldblum‚ Mimi Rogers / [96 mnt] Berbagai perasaan membuat Goldblum berencana untuk membunuh Elizabeth (Rogers), istrinya yang tangguh dan sukses dalam berkarir. Namun sesaat sebelum dia berhasil menjalankan rencananya itu di sebuah hotel, Elizabeth menghilang, sedangkan rencana itu telah terlanjur bocor pada orang-orang dekat. Dengan alasan apapun, suami yang kebingungan ini harus menemukan lagi istrinya. Terdengar seperti sebuah ide brillian untuk menjadi sebuah komedi hitam? Suruh Joel dan Ethan Coen menggarapnya! [PG-13]
Short Cuts ()- 1993 / Robert Altman / Andie MacDowell, Bruce Davison, Zakk Casiddy, Jack Lemmon, Julianne Moore, Matthew Modine, Anne Archer, Fred Ward, Jennifer Jason Leigh, Chris Penn, Lili Taylor, Robert Downey, jr., Madeleine Stowe, Tim Robbins, Lili Tomlin, Tom Waits, Frances McDormand, Jarret Lennon, Peter Gallagher, Lori Singer, Annie Ross, Lyle Lovett, Buck Henry, Huey Lewis / [189 mnt] Setelah mengembara dengan mencoba berbagai macam gaya selama belasan tahun, petualang tua Altman akhirnya kembali lagi pada gaya “Nashville”-nya yang legendaris. Kali ini dia tak kurang ambisius, Short Cuts seperti menunjukkan bahwa pembuatnya adalah seorang megalomaniak yang ingin membuat sesuatu dengan cakupan yang lebih luas daripada yang mungkin dibuat manusia lain. Film yang diambil dari tulisan Raymond Carver ini adalah sebuah megamosaik realis yang penuh warna tentang kehidupan manusia masa kini di sebuah suburban di California, melibatkan kurang lebih sembilan keluarga/pasangan, ditambah beberapa tokoh lain, sebagian terhubung oleh berbagai kejadian, sebagian lagi sama sekali tidak. Tidak ada kesamaan tertentu yang menggiring semua cerita ke satu titik, bahkan untuk emosinya pun tidak bisa kita sebut “satu nada”. Neurotisme, senda gurau brutal, tragedi, melankolia dan segala hal yang menjadi agenda frustrasi sehari-hari kehidupan kelas menengah di sebuah kota sepi di negara besar digambarkan film ini bagaikan dengan menggunakan sebuah mikroskop, hanya Altman yang bisa begini. Tak terhindarkan lagi, film ini selalu membuat konsentrasi kita terfokus per sekuen, untunglah tak ada sekuen - bahkan adegan - yang tidak tergarap dengan sempurna, beberapa di antaranya bahkan termasuk katagori memukau, baik berkat kewajarannya maupun berkat ketidakwajarannya. Short Cuts adalah parade kehidupan, dan kebetulan juga daftar pemainnya adalah sebuah parade orang-orang yang bisa dipercaya jika mendapat skenario yang bagus dan sutradara yang bagus, itu mereka dapatkan di sini, maka semua bermain sangat bagus, dengan pujian khusus untuk Robbins, Stowe, Downey, Lovett, Waits, dan Moore (yang dengan sensasional membawakan salah satu adegan terbaik film ini dengan nude waist down). [R]
* Independent Spirits Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Altman), Skenario Adaptasi Terbaik (Altman & Frank Barhydt), Aktris Pendukung Terbaik (Moore), NSFC Awards: Aktris Pendukung Terbaik (Stowe), Venice Film Festival: Film Terbaik
Showdown in Little Tokyo (½)- 1991 / Mark Lester / Dolph Lundgren, Brandon Lee, Cary Hiroyuki-Tagawa, Tia Carrere, Toshiro Obata / [76 mnt] Demi kesegaran: Lundgren adalah polisi bule murni yang dibesarkan di Jepang dan menghayati budayanya yang bekerja dengan Lee, polisi Asia-Amerika yang 100% berjiwa muda Amerika. Selebihnya klise, bahkan lucu tanpa sengaja, seiring dengan perjalanan mereka menumpas Yakuza, tentu saja dengan bumbu balas dendam. Sampai kapan plot seperti ini akan bertahan? Sampai orang sadar bahwa yang seperti ini tak patut dinantikan. [R]
Silence of the Lambs, The (½)- 1991 / Jonathan Demme / Jodie Foster, Anthony Hopkins, Scott Glenn, Ted Levine, Anthony Heald, Brooke Smith, Diane Baker, Kasi Lemmons, Charles Napier, Roger Corman, Chris Isaak / [118 mnt] Inilah thriller paling menarik dalam dekade penuh thriller ini. Kisahnya diangkat dari novel Thomas Harris tentang penyelidikan yang dilakukan Clarice Starling (Foster), seorang calon agen FBI, untuk melacak pembunuh berantai yang dikenal dengan nama Buffallo Bill. Tahap pertama penyelidikan Clarice adalah mewawancarai seorang doktor psikopat yang kanibal, Hannibal Lecter (Hopkins). Lecter diyakini tahu cukup banyak tentang Bufallo Bill. Hubungan psikologis Starling-Lecter yang terbentuk kemudian menciptakan sebuah sub-cerita baru yang memberi ruang pada kronologi penyelidikan Starling yang mengejutkan FBI. SotL adalah sebuah hiburan keras yang mendalam dan menggetarkan. Demme mempermainkan suasana lewat kemasan yang sangat kelam dan dingin, dia didukung oleh skenario cerdas yang ditulis Ted Tally (saking cerdasnya, ada beberapa hal yang memerlukan sedikit keajaiban untuk terjadi), tata kamera yang ekspresif, editing yang membuat film menjadi begitu penuh hentakan, dan duet brillian Foster-Hopkins. Secara keseluruhan film ini hampir pantas mendapat nilai sempurna. [R]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Demme), Skenario Adaptasi Terbaik (Ted Tally), Aktor Utama Terbaik (Hopkins), Aktris Utama Terbaik (Foster), Golden Globe: Aktris Terbaik Drama (Foster), British Academy Awards: Aktor Utama Terbaik (Hopkins), Aktris Utama Terbaik (Foster), DGA Awards: Sutradara Terbaik (Demme), National Board of Review: Sutradara Terbaik (Demme)
Silhouette ()- 1994 / Lloyd A.Simandl / Tracy Scoggins, Marc Singer, Brion James / [92 mnt] Plotnya bertumpuk-tumpuk, ada cerita tentang sebuah klan persaudaraan, sebuah kristal yang menentukan urusan politik, dan hubungannya dengan Scoggins yang kesepian (dan juga kepanasan hingga sering sekali membuka baju). Penyutradaraan, skenario, dan fotografi yang genit namun tak cerdas membuat kita sulit perduli pada apapun yang terjadi dalam film ini. [R]
Simple Men (½)- 1992 / Hal Hartley / Robert Burke, William Sage, Karen Silias, Elina Löwensohn, Martin Donovan, John McKay, Mark Chandler Bailey / [105 mnt] Dua orang pria muda (Burke dan Sage) mencari ayahnya, seorang anarkis berat (dan konyol) yang diduga meledakkan bom dan kini melarikan diri dari penjara. Di perjalanan, dan setelah bertemu ayahnya, kakak beradik ini bertemu karakter-karakter unik yang memberi mereka pengalaman-pengalaman yang aneh. Film ini mempunyai cerita dan gaya penyutradaraan yang mandiri, khas Hartley, itu membuatnya menarik, namun beberapa bagiannya terasa sangat dipaksakan, selain itu, Burke dan Sage dikelilingi oleh banyak pemeran pembantu yang berakting terlalu norak, bahkan untuk ukuran film Hartley yang selalu mengizinkan segala macam kenorakan. [R]
Simple Plan, A (½)- 1998 / Sam Raimi / Bill Paxton, Billy Bob Thornton, Bridget Fonda, Brent Briscoe, Becky Ann Baker, Chelcie Ross, Gary Cole, Jack Walsh, Bob Davis, Peter Syvertson / [120 mnt] Kakak beradik Jacob (Thornton) dan Hanks (Paxton) menjalani kehidupan yang sangat berbeda, Hanks yang terpelajar hidup rapi dan terencana bersama istrinya Sarah (Fonda), semetara Thornton tertinggal jauh di belakang dan tak pernah meninggalkan kota kecil mereka. Namun pada suatu hari keduanya terlibat dilema yang harus mereka hadapi bersama. Ketika mereka berburu bersama sahabat Jacob (Briscoe), mereka menemukan sebuah pesawat kecil terpuruk di padang salju, pilotnya telah menjadi mayat dan setumpuk uang sejumlah lebih dari empat juta dollar terdapat di kokpit belakang. Apa yang harus dilakukan dengan uang sebanyak itu? Menyerahkannya ke pihak berwajib? Membaginya bertiga? Atau ada rencana lain? Dan siapa yang paling jujur serta siapa yang paling licik di antara ketiga orang ini? Siapa yang paling cerdas? Siapa yang paling berpengaruh? Kisah dari novel Scott B. Smith ini sepintas tampak klise dan bisa diperkirakan akan menghasilkan sebuah film yang juga klise. Raimi - sutradara yang lebih terkenal sebagai pembuat film horor komedi dan Bapak dari serial televisi Xena. The Warrior Princess - sangat waspada pada kecenderungan itu. Dia memilih untuk lebih bermain dengan kesadaran para tokohnya, mencoba membuat semua pilihan mereka semasuk akal mungkin sesuai dengan karakter masing-masing. Insiden-insiden baru yang terus bermunculan untuk memperumit masalah dan menciptakan ketegangan tampil satu persatu dengan rapi dan pada saat yang tepat. Raimi juga memanfaatkan setting musim dingin bersalju tebal untuk melatari setiap kekejaman dalam film ini, sebetulnya ini bukan taktik baru, hanya beberapa tahun sebelumnya The Coen Brothers menampilkan "Fargo" yang berwajah sama, kebetulan atau bukan, Raimi pernah menjadi mitra setia The Coens dalam menulis skenario. Tensi film ini juga sangat dipengaruhi permainan para pemainnya, yang semuanya bermain sangat bagus, Thornton jelas yang paling menonjol dalam sosok yang sulit dikenali, sementara Fonda muncul sewaktu-waktu dengan menampilkan personifikasi "hawa nafsu dan ketamakan" dengan sangat kuat. [R]
Singles ()- 1992 / Cameron Crowe / Kyra Sedgwick, Matt Dillon, Campbell Scott, Bridget Fonda, Sheilla Kelly, Jim True, Bill Pullman, James LeGros, Devon Raymond, Camillo Gallardo, Ally Walker, Jeff Ament, Eddie Vedder, Stone Gossard / [99 mnt] Film ini mungkin terasa tak lebih daripada sebuah kumpulan episode mengenai kehidupan para bujangan berusia duapuluhan sampai tigapuluhan awal di kota besar yang unik seperti Seattle di awal sembilanpuluhan. Singles adalah salah satu film tentang anak muda yang paling “bergaya” di antara banyaknya film anak muda seangkatannya, dibuat sebagai sebuah deskripsi yang tak memberikan tawaran kesimpulan di akhir film. Mungkin gaya semi episodik seperti inilah yang membuatnya menarik dan berani, namun gaya seperti ini juga membuat sebuah film tak pernah benar-benar mengenai sasarannya dengan tepat karena penonton tak pernah diberi kesempatan cukup untuk mempunyai keterlibatan emosi dalam masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya. Catatan kecil khusus untuk penggemar musik Seattle-Sound : Tiga personel Pearl Jam yang tampil disini (Ament, Vedder, Gossard) hadir tanpa dibayar dan tak tercantum dalam daftar nama pemeran di awal film tetapi mereka muncul cukup sering sebagai rekan satu band Dillon. Selain ketiganya, kita juga bisa menemukan Christ Cornell sebagai tetangga Dillon, TAD sebagai penerima telepon salah sambung, dan penampilan panggung Soundgarden serta Alice In Chains. Soundtrack film ini juga adalah bagian dari sejarah musik Seattle-Scene yang mengguncang bisnis musik dunia di awal sembilanpuluhan. [PG-13]
Single White Female (½)- 1992 / Barbet Schroeder / Bridget Fonda, Jennifer Jason Leigh, Steve Weber, Peter Friedman, Stephen Tobolowsky, Rene Estevez Frances Bay, Ken Tobey / [107 mnt] Allison Jones (Fonda) mencari seorang SWF (wanita kulit putih yang belum atau sedang tidak punya pasangan hidup) untuk dijadikan teman berbagi apartemen dengannya, Hedra Carlson (Leigh) adalah orang yang tapat sebelum Allison menemukan Hedra meniru pakaiannya, meniru potongan rambutnya, menyembunyikan surat-surat untuknya, mencampuri urusan pribadinya, “memperkosa” pacarnya, dan tentu saja diakhiri dengan mengancam jiwanya. Thriller psikologis ini tak pernah mencapai puncak. Jalan cerita yang diinginkan penonton untuk terus menanjak, di awal dan pertengahan memang sedikit terganggu oleh beberapa adegan yang dipaksakan, namun film masih terasa matang dan menyimpan gejolak yang menarik, sampai tiba pada pilihan ending yang hampir tak ada bedanya dengan yang dipilih film-film horor-thriller kelas kacang: kejar-kejaran yang membosankan dan dipenuhi kalimat “Where are you?”. Bagaimanapun, SWF sangat layak tonton bila hanya untuk melihat akting bagus Fonda dan akting sangat bagus Leigh. [R]
Sirens (½)- 1994 / James Duigan / Hugh Grant, Tara Fitzgerald, Sam Neill, Elle Macpherson, Kate Fischer, Portia de Rossi, Pamela Rabbe, Mark Berger / (AUSTRALIA - BRITANIA) / [94 mnt] Inilah film yang sempat menggemparkan beberapa belahan bumi, terutama sebelah Selatan kita, namun tidak pernah dikenal luas di Indonesia. Dikisahkan bahwa Anthony Campion (Grant, yang seperti biasa tampil memikat dengan bibirnya yang kaku), seorang pendeta muda Inggris, ditugaskan untuk memperingatkan Norman Lindsey (Neill, sayang aktingnya tidak semenarik biasanya), seorang pelukis yang menggemparkan Australia dan Inggris melalui lukisan dan jalan pikirannya yang dianggap porno dan melecehkan moralitas Kristen. Setibanya di studio Lindsey, Campion dan terutama istrinya, Estella (Fitzgerald, bermain sebagus Grant), benar-benar dihadapkan pada suatu pandangan dan gaya hidup unik yang sangat mengejutkan, terutama dengan adanya tiga model telanjang yang tinggal di sana (Fischer, de Rossi, dan Macpherson, semuanya bermain bagus, terutama de Rossi) yang kemudian menjadi dekat dengan Estella. Secara filmis, komedi tentang seks, kebebasan, dan idealisme ini hampir mendekati titik sempurna, hanya sebagian kecil penonton yang akan mengeluhkan keminiman plotnya. Jarang ada film ringan yang bisa hadir selengkap ini, Sirens berhasil sekaligus menjadi sebuah komedi segar, observasi kejiwaan yang renyah, karya fotografi yang indah. Tetapi (atau ‘lebih asyiknya’?) film ini juga lebih dari sekedar sensual, di antara pemeran-pemeran yang ditulis di atas, Grant dan Neill tak pernah satu kali pun melepas seluruh pakaian mereka dan pada saat yang bersamaan hampir selalu ada satu atau lebih pemeran lain yang sedang tak membutuhkan kostum apapun (tentu saja termasuk dia yang paling ditunggu oleh sebagian besar pemirsa, Macpherson). Masih belum juga penasaran dengan film ini? [R]
Six Days Seven Nights (½)- 1998 / Ivan Reitman / Harrison Ford, Anne Heche, David Schwimmer, Jacqualine Obradors, Temuera Morrison / [93 mnt] Untunglah tidak semua film hit seperti ini. Heche dan tunangannya (Schwimmer) pergi berlibur ke surga tropika untuk merayakan pertunangan mereka. Ketika sesuatu membuatnya harus kembali ke New York, Heche terpaksa menyewa seorang pilot (Ford!!) untuk membawanya pulang. Hujan, angin, topan, badai memaksa mereka terdampar di sebuah pulau liar, dan terdampar pulalah logika di tempat-tempat yang sulit sekali ditemukan. Reitman seakan berusaha mengumpulan semua keklisean dan menjejalkannya dalam setiap adegan dimana kita melihat Ford, Heche, dan Schwimmer menampilkan permainan terburuk sepanjang karir mereka (sementara Obradors memang pantas dicurgai tidak bisa berakting sama sekali). [R]
SLC Punk (½)- 1999 / James Merendino / Matthew Lillard, Michael Goorjan, Annabeth Gish, Jennifer Lien, Christopher McDonald, Devon Sawa, Jason Segel, Summer Phoenix, James Duval, Til Schweiger, Adam Pascal, Chiara Barzini, Kevin Breznahan, Christina Karras, Russ Peacock / (99 mnt) / Kebangkitan sub-kebudayaan punk muncul agak terlambat di Amerika setelah mencapai puncaknya di Inggris Raya. SLC Punk menyoroti gaya hidup sebuah lingkungan punker di Salt Lake, Utah, Amerika Serikat, pada masa Reagan. FIlm ini menggunakan Stevo (Lillard), punker fanatik yang berperan sebagai semacam narator yang selalu tampil di layar, memperlihatkan kepada kita dengan bangga bagaimana sisi dalam kehidupan gerombolannya yang sebenarnya. Tak ada optimisme dalam semua cerita Stevo, kisahnya sebenarnya adalah cerita getir tentang anak-anak muda yang meragukan identitas dirinya. Film ini memang bukan merupakan kisah kemenangan, melainkan lebih berupa renungan yang terlambat. Merendino sesungguhnya berhasil menciptakan nuansa yang sangat efektif lewat radikalisme pseudo-dokumenter ala MTv, surrealisme tanggung ala "Trainspotting", dan aliran humor-humor yang memojokkan diri sendiri. Namun terlalu banyaknya sub-plot dan tokoh yang berseliweran di dalam film membuat kekuatannya tak pernah maksimal karena terlalu sibuk menerangkan detil kesana-kemari. Tiba saatnya kita mengomentari Lillard, "sang pembawa acara", dia bisa mengundang berbagai komentar, dari yang berupa pujian pada aktingnya dan simpati pada tokohnya, sampai sumpah serapah pada penampilannya yang bisa membuat jijik sebagian orang.[R]
Sleepers (½)- 1996 / Barry Levinson / Jason Patric, Brad Pitt, Billy Crudup, Ron Eldard, Robert De Niro, Dustin Hoffman, Kevin Bacon, Vittorio Gassman, Minnie Driver, Terry Kinney, Jeffrey Donovan, Lennie Loftin, Joe Perrino, Brad Renfro, Jonathan Tucker, Geoff Wigdor, Bruno Kirby, Sean Reilly, Joe Urla, Wendell Pierce, Frank Medrano, John Slattery , Aida Turturro, Ben Hammer, James Pickens Jr. / (140 mnt) Shakes, Michael, Tommy, dan John (Ron Eldard) tumbuh bersama di lingkungan kumuh New York. Mereka juga bersama-sama dijebloskan ke sebuah panti pendidikan anak-anak nakal, selama berada di tempat itu, mereka mendapatkan siksaan-siksaan dan bahkan pelecehan sexual dari para penjaga, terutama Fred Miles (Bacon). Dendam dan sakit hati keempat pemuda ini tak pernah padam setelah mereka bebas, Tommy (Crudup) dan John (Eldard) berhasil melampiaskannya dengan membunuh Miles di sebuah restoran. Mereka tertangkap lagi dan Michael (Pitt), kini seorang jaksa muda, segera turun tangan untuk menolong kedua temannya di pengadilan. Kisah film ini diadaptasi dari novel Lorenzo Carcatera dengan penuangan yang hampir sepenuhnya literal, film ini membawa kita membaca sebuah buku yang divisualisasikan seperti cerita bergambar, hampir tak ada yang lain yang dilakukannya. Arusnya tak pernah mengalir karena satu kejadian dengan kejadian lain tak pernah mendapat pembedaan prioritas dan nuansa film pun terasa begitu-begitu saja dari awal hingga akhir. Michael Balhaus mencoba sebisanya dengan memberikan emosi visual pada setiap adegan, namun gambar-gambar yang ditangkapnya hadir tanpa nyawa. Bagaimanapun orang-orang pasti telah bekerja keras dalam film seambisius ini, sulit sekali untuk tidak menghargai jerih payah mereka sama sekali. [R]
Sleepless in Seattle ()- 1993 / Nora Ephron / Tom Hanks, Meg Ryan, Bill Pullman, Rossie O’Donnell, Ross Mallinger, Rob Reiner, Gaby Hoffman, Victor Garber, Rita Wilson, Dana Ivey / [104 mnt] Roman komedi ini bercerita tentang seorang wanita (Ryan) yang sangat percaya pada tanda-tanda yang membuatnya meninggalkan tunangannya (bahkan melintasi lebar Amerika dari Baltimore ke Seattle) untuk menemui seorang duda yang kesepian, dengan harapan dan keyakinan bahwa itulah guratan nasibnya. Skenario yang hidup - paduan antara Ephronism dan sedikit Allenism - dan visualisasi yang manis membuat film ini menjadi enak untuk dinikmati ketika kisahnya bisa membuat sebagian orang merasa sebal, dan sebagian lagi tersentuh secara ajaib. Duet penuh daya pikat, Hanks dan Ryan, adalah asset berharga lain yang mengangkat nilai film ini, dan tentu turut berperan dalam melambungkan film ini ke daftar dua puluh besar film terlaris dalam dekade ini. Tidak istimewa, namun layak tonton, atau kemungkinan besar anda juga sudah menontonnya. [PG]
* Golden Globe: Film Terbaik Musikal/Komedi, Aktris Terbaik Musikal/Komedi (Ryan)
Sleepwalkers (lihat: Stephen King’s “Sleepwalkers” )
Sleep with Me ()- 1995 / Rory Kelly / Meg Tilly, Eric Stoltz, Craig Sheffer, Todd Field, Susan Traylor, Tegan West, Dean Cameron, Amaryllis Borego, Thomas Gibson, June Lockhart, Adrienne Shelley, Quentin Tarantino, Lewis Arquette / [87 mnt] Joseph (Stoltz) memutuskan untuk menikahi pacarnya, Sarah (Tilly), dan tidak lama setelah itu, Frank (Sheffer), sahabat baik mereka, merasa tidak bisa lagi memendam perasaan cintanya pada Sarah, maka terjadilah segitiga cinta yang sangat sulit dipecahkan. Suasana dipenuhi oleh sekelompok teman-teman mereka yang menjadi saksi dan pembahas segitiga ini. SWM adalah sebuah komedi "berpikir", yang cerdas sekaligus konyol dan juga inovatif dalam segala hal. Skenarionya, yang setiap bagian ditulis secara terpisah oleh enam penulis, sangat kaya sudut pandang serta ditulis dengan sewajar mungkin. Kelly, salah satu dari enam penulis, menyutradarainya dengan sangat dinamis dan penuh gaya. Para pemain, terutama Tilly dan Stoltz, bermain sangat bagus (walaupun akting keduanya sangat khas). Simak pula teori edan Sid (Tarantino, siapa lagi?) tentang “Top Guns”. Pertanyaan besar: Yang mana penulis skenario yang harus bertanggung jawab atas endingnya yang sama sekali tidak bergema? [R]
Sliding Doors ()- 1998 / Peter Howitt / Gwyneth Paltrow, John Hannah, John Lynch, Jeanne Tripplehorn, Zara Turner, Douglas McFerran, Paul Brightwell, Nina Young, Virginia McKenna, Peter Howitt, Kevin McNally, Neil Stuke, Christopher Villiers / (BRITANIA) / [99 mnt] Suatu pagi, Helen (Paltrow), seorang London carrier girl, berlari di lorong stasiun memburu kereta api bawah tanah yang hampir berangkat. Apa yang akan terjadi jika dia berhasil naik ke kereta itu? Apa yang akan terjadi jika dia terlambat hanya beberapa detik dan tidak ikut dengan kereta itu? Dalam kehidupan nyata atau dalam film lain hanya akan ada satu dari dua kemungkinan itu yang bisa dibuktikan, namun SD menjawab keduanya, dua alternatif nasib Helen yang disampaikan secara berselingan, satu membawa Helen menghabiskan hari-hari bersama pacarnya, Gerry (Lynch), dan satu lagi memperkenalkannya pada roman baru bersama James (Hannah). Ide yang cemerlang, dan Howitt tidak membiarkan kecermelangannya berhenti sampai taraf ide, dia berhasil menggarap keseluruhan film ini dengan sangat memuaskan, walau banyak penonton yang akan merasa luar biasa bingung dengan intertwine-nya (ingat, film ini berpenampilan sangat ringan, sehingga segmen penontonnya lebih dekat segmen MTv daripada segmen Cannes). Visualisasi yang cenderung tenang namun selalu ekspresif, roman yang jauh dari bodoh, dan humor yang memadai membantu SD untuk menjadi semakin menarik dan unggul dari roman-roman anak muda cute Amerika di tahunnya. Menjadikan Paltrow gadis Inggris memang bukan ide bagus yang termurah, namun dia melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, sebaik Lynch yang tampil dengan akting karikatural yang pas. Sinar keduanya memang kadang agak redup ketika Hannah muncul, setiap gerak tubuh dan kata yang ditampilkannya adalah daya tarik. [R]
Slight Case of Murder, A ()- 1999 / Steven Schachter / William H.Macy, Adam Arkin, Felicity Huffman, James Cromwell, Julia Campbell, James Pickens, jr., Paul Mazursky, Vinny Pastore, Michael McMurtry, Stephanie Belding / (100 mnt) / (( A Travesty )) / {Film Televisi} Tery Thorpe (Macy) adalah seorang pembuat resensi film bergaya Leonard Maltin. Namun kali ini dia punya urusan lain untuk dipikirkan, tanpa sengaja dia membunuh teman kencannya (Campbell), dan seorang detektif (Arkin) telah mencium hal ini. Selanjutnya adalah kejar-kejaran yang melingkar-lingkar antara Thorpe dan sang detektif, Thorpe mengandalkan pengetahuan kejahatan yang didapatnya dari film sementara sang detektif mencoba memerasnya. Yang harus kita tunggu adalah siapa yang akan menjadi pemenang dalam adu cerdik ini. Adaptasi dari novel Donald E. Westlake ini disutradarai dengan sangat lincah oleh Schachter sehingga ceritaya yang tipis dan mengada-ada berhasil ditutupi dengan gaya black comedy yang sangat variatif. Macy, seperti biasa, sangat faham dengan peran karikatur manusia terpojok seperti ini, kita tak pernah bosan melihatnya di sepanjang film.
Sling Blade ()- 1996 / Billy Bob Thornton / Billy Bob Thornton, Dwight Yoakam, Lucas Black, John Ritter, Natalie Canerday, James Hampton, Robert Duvall, J.T Wlash, Brent Briscoe, Christy Ward, Vic Chestnut / [130 mnt] Indie favorit ini adalah lambang sukses yang luar biasa untuk Thornton baik secara komersial maupun kritikal. Dia menyutradarai dan menulis sendiri skenario adaptasi tentang kisah Karl Childers yang juga dia mainkan sendiri. Childers adalah seorang laki-laki dengan intelegentsia rendah yang harus menghuni pusat rehabilitasi mental setelah pembunuhan yang dilakukannya. Sekeluarnya dia dari sana, dia mulai menjalani kehidupan baru yang ditandai dengan persahabatannya dengan seorang anak yatim (Black), ibunya (Hanerday), dan seorang homoseksual yang sensitif (Ritter), tiga orang ini selalu dirongrong oleh seorang penyanyi pemabuk bernama Doyle (Yoakam). Walaupun dipenuhi adegan yang sangat natural dan tepat sasaran, ditambah daya tarik hebat dari akting Thornton yang sulit dilupakan, namun kita bisa merasakan betapa lambatnya tempo film ini, Thornton juga tampak kurang berusaha mengungkapkan cerita film dengan cara non-verbal. Tidak termasuk film istimewa, namun memang patut untuk dipuji dan disukai.
* Academy Awards: Skenario Adaptasi Terbaik (Thornton)
Sliver ()- 1994 / Philip Noyce / Sharon Stone, Tom Berenger, William Baldwin, Polly Walker, Colleen Camp, Amanda Forman, Martin Landau / [109 mnt] Thriller ini tak punya sesuatu yang baru untuk ditawarkan, pemandangan tubuh Stone juga jelas bukan barang baru. Clara (Stone) mulai tinggal di sebuah apartemen yang menyimpan sebuah misteri pembunuhan Naomi, seorang wanita yang mirip dengannya. Di sana pulalah dia menarik perhatian dua orang laki-laki (Berenger dan Baldwin), salah satu diantaranya adalah pembunuh Naomi dan juga potensial untuk membunuh Clara. [R]
Slum of Beverly Hills (½)- 1998 / Tamara Jenkins / Alan Arkin, Natasha Lyonne, Marisa Tomei, Kevin Corrigan, Jessica Wilson, Rita Moreno, David Krumkoltz, Eli Marienthal, Carl Reiner / [90 mnt] Arkin memimpin sebuah keluarga beranak tiga yang hidup berpindah-pindah dari kota ke kota, dari penginapan ke penginapan atau ke tempat apa saja yang mereka anggap layak (mereka cukup selektif!). Kisah disampaikan dengan mengambil sudut pandang si anak kedua (Lyonne), ABG yang merasa payudaranya terlalu besar. Kehidupan keluarga ini semaikin kacau setelah kehadiran keponakan Arkin, Tomei, ayahnya adalah orang kaya yang membiayai kehidupan keluarga ini, namun sang putri tak lebih dari seorang gadis liar yang jauh dari cerdas atau dewasa. Film ini mempunyai brutalisme yang sedap dan berani, namun kita tak pernah menemukan inti dari semua itu sehingga semua berakhir tanpa kesan apa-apa. Arkin dan Lyonne bermain sangat pas di barisan terdepan sementara Tomei dan Corrigan mengiringi dengan penuh semangat.[R]
Small Faces ()- 1997 / Gillies MacKinnon / Iain Robertson, Clare Higgins, Ian McElhinney, Joseph McFadden, J.S.Duffy, Laura Fraser, Kevin McKidd, Garry Sweeney, David Walker / {BRITANIA} / [120 mnt] Potret realisme anak muda Skotlandia setelah demam “Trainspotting” ini menyoroti kisah hidup Lex McQuinn (Robertson), seorang anak dari keluarga pelukis tahun enampuluhan, yang bersama dua kakaknya terseret dalam kehidupan remaja yang penuh dengan pertentangan antar gang, terutama antara dua kelompok pimpinan Charlie Sloane (Duffy) dan Malky Johnson (McKidd, salah satu alumni “Trainspotting”). Film ini kaya dengan insight, dan mempunyai selera humor yang enak, semua direalisasikan dengan baik oleh MacKinnon dalam gaya naturalis. Robertson, walau kadang menampilkan over-akting khas aktor ABG, bermain sangat memuaskan. Catatan: Jika anda terlalu terbiasa dengan aksen Amerika atau Inggris Selatan dan berani menonton film ini tanpa teks, bersiaplah untuk merasa bingung dengan logat Glasgow pinggiran yang membelit dulu lidah sebelum keluar dari mulut. [R]
Small Time Crooks (½)- 2000 / Woody Allen / Woody Allen, Tracey Ullman, Michael Rapaport, Tony Darrow, Jon Lovitz, Elaine May, Elaine Stritch, Hugh Grant, George Grizzard, Brian McConnachie, Kristine Nielsen, Larry Pine, Julie Lund, Maurice Sonnenberg, Richard Mawe / (95 mnt) Komedi ringan Allen ini menampilkan Ray Winkler (Allen), seorang veteran perampok yang kini hidup baik-baik sebelum tiba-tiba mempunyai ide brilian: membuat terowongan dari sebuah toko kosong di seberang jalan ke bank dan merampoknya. Melalui beberapa pergulatan yang cukup lucu, idenya berhasil. Istrinya, Frenchie (Ullman), kini berubah menjadi pengusaha kue nomor satu di Amerika, dan pasangan ini menjalani kehidupan jet-set yang gilang gemilang. Tetapi "kelas" tak bisa dibeli begitu saja, pada dasarnya Ray dan Frenchie tetap manusia yang "kurang beradab" untuk ukuran pergaulan golongan atas, kosakata mereka kelas pekerja, humor mereka jorok, dan mereka tak mengerti apapun tentang seni, sastra, dan kesopanan. Tapi Frenchie punya niat untuk belajar, sebagai pengajar tata krama dia memilih David (Grant), kolektor seni yang tampan dan punya banyak rencana. Semntara Ray tak mampu menahan ketertekanan hidup barunya yang dia rasa sangat kosong dan menyika. Sejak pertengahan delapanpuluhan, semua film Allen yang bisa mempertahankan reputasinya sebagai master film kontemporer Amerika mengambil pokok bahasan dan gaya yang terbilang serius dan sangat realis ("Hannah and Her Sister", "Another Woman", "Husbands and Wives"), sementara film-filmnya yang murni komedi dengan dongeng-dongeng aneh ("Manhattan Murder Mystery", "Shadow and Fog", "Everyone Says I Love You") tak pernah bisa disebut karya besar, padahal justru film-film seperti itulah yang membesarkan namanya di awal tujuhpuluhan. Small Time Crooks juga tak cukup untuk mengingatkan kita bahwa dia pernah menjadi pembuat komedi-komedi kontemporer terbaik Amerika, film ini begitu kecil dan tak berwibawa. Dialog-dialognya memang masih sangat menggelitik (masih hanya Allen yang bisa begini), juga penampilan para pemainnya, namun semuanya terlalu biasa, jinak, dan di bawah harapan. [PG]
Snow Falling on Cedars (½)- 1999 / Scott Hicks / Ethan Hawke, James Cromwell, Richard Jenkins, Youki Kadoh, James Rebhorn, Max von Sydow , Sam Shepard, Rick Yune, Reeve Carney, Anne Suzuki, Arija Bareikis, Eric Thal, Celia Weston, Daniel von Bargen, Akira Takayama, Cary-Hiroyuki Tagawa, Zak Orth, Zeljko Ivanek / (125 mnt) Setelah perang dunia kedua berakhir, masyarakat kulit putih dan etnis Jepang sepertinya hidup rukun di sebuah pulau kecil di pantai Barat Daya Amerika Serikat. Ternyata tidak setenang kelihatannya, apalagi setelah terjadinya kasus pembunuhan terhadap seorang nelayan kulit putih, Carl Heine (Thal). Tersangka utama adalah Kabuo Miyamoto (Yune), pria yang keluarganya berada dalam sengketa tanah dengan keluarga Heine. Semua ini dilihat dari kaca mata Ishmael Chambers (Hawke), dia adalah veteran PD II yang kini meneruskan pekerjaan warisan ayahnya sebagai wartawan koran lokal. Bagi Chambers, masalah ini bukan hanya masalah profesionalisme jurnalistik, karena Miyamoto adalah suami Yuko (Kudoh), pacar masa kecil Chambers yang masih dicintainya. Semua dalam film ini adalah tentang dilema, dilema masyarakat Amerika Serikat dalam melihat sejarah pelanggaran hak azasi dan rasialismenya yang jauh dari muluis, dilema hukum dan keadilan dalam menjatuhkan putusan dalam sebuah suasana yang sulit, dan dilema moral Ishmael Chambers ketika bukti kuat untuk penyelesaian kasus ini ada di kantongnya. Tapi anda jangan lantas menuduh Hicks juga menghadapi dilema dalam menentukan prioritas filmnya, dia memang mengacak susunan alur maju mundur ke masa kecil Ishmael dan Yuko, ke masa-masa penangkapan orang-orang Jepang, dan ke berbagai masa lain yang terjadi sebelum kasus itu. Semua ini dilakukan Hicks dengan perhitungan relevansi - atau kadang irrelevansi - adegan yang matang, sejak "Reversal of Fortune" (1992) rasanya ini adalah film drama Amerika pertama yang menerapkan struktur narasi hiper deduktif dengan sangat efektif. Bekerja dengan penata kamera stylish Robert Richardson semakin membuat Hicks - yang memang dikenal dengan keistimewaan visi visualnya - leluasa menciptakan gambar yang bicara senyaring ribuan kata, fotografi Richardson adalah yang terbaik di tahunnya. Film ini juga berhasil menangkap sisi yang terdalam dari novel David Guterson, pemirsa akan bisa merasakannya di akhir film seiring dengan pilihan Chambers yang menunjukkan sisi kemanusiaan terbaik yang dimilikinya. Film ini rasanya akan mendekati kesempurnaan jika Hicks mau mempercerah suasana dengan "lebih rela" dalam beberapa bagian, namun itu tidak pernah sungguh-sungguh dilakukannya sehingga film ini selalu terasa sebagai sebuah kisah yang sangat pekat, serius, dan tanpa ironi. [PG-13]
Soldier (½)- 1998 / Paul Anderson / Kurt Russel, Jason Scott Lee, Connie Nielsen, Sean Pertwee, Michael Chiklis, Gary Busey, Jason Isaacs, Jared Thorne, Taylor Thorne, Brenda Wehle, Mark Bringelson, K.K. Dodds / (98 min) Soldier dibuka dengan suaasana di sebuah kamp pendidikan militer yang sangat kejam. Kamp ini sangat bertumpu pada kemajuan teknologi, satu generasi tentara akan menjadi ketinggalan zaman dan digantikan lagi dengan generasi lain yang dibuat lebih sempurna melalui manipulasi genetik. Menyusul sebuah pertikaian intern, salau satu produk kadaluwarsa, Sersan Todd (Russell), terdampar di planet Arcadia 234 dan dirawat oleh penduduk setempat, tidak semua penduduk menyukainya. Ketika kekuatan super dari Bumi yang membuang Todd datang menyerbu planet itu, Todd harus membalas kebaikan para penduduk dengan berdiri di pihak mereka. Cerita film ini ditulis oleh David Webb Peoples yang hasil tulisan terdahulunya diantaranya adalah "Blade Runner" (1982) dan "Twelve Monkeys" (1996), dua fiksi ilmiah yang oleh sebagian orang dianggap fenomenal. Tetapi kali ini tak ada sesuatupun yang mendekati keunikan ala Webb Peoples sebelumnya. Film ini memang konon dibuat dengan anggaran yang tergolong kecil untuk sebuah fiksi ilmiah kolosal, bahkan kabarnya 75% properti yang dipakai adalah sisa-sisa properti film lain, tapi dengan kisah seperti ini anggaran sebesar apapun tak akan bisa berbuat banyak. Sebaliknya, Anderson dan penata kamera David Tattersall justru patut diacungi jempol karena bisa menciptakan berbagai nuansa yang mendukung filmnya tanpa didukung cerita yang hebat atau spesial efek yang spektakuler. [R]
Soldier's Sweetheart, A ()- 1998 / Thomas Michael Donnelly / Kiefer Sutherland, Georgina Cates, Skeet Ulrich, Daniel London, Louis Vanaria, Lawrence Gilliard, Jr., Christopher Birt / (112 min.) {Film Televisi} Cerita pendek Tim O'Brien, "Sweetheart of the Song Tra Bong", berkisah tentang seorang anggota unit medis militer dalam perang Vietnam, Fossie (Ulrich) yang nekat menyelundupkan pacarnya, Marianne (Cates), ke Vietnam. Yang harus dicemaskan adalah, pertama, jelas kedatangan Marianne akan menjadi masalah besar jika tercium oleh pembuat peraturan, kedua: anggota unit yang lain mungkin merasa iri atau mengganggu Marianne, dan ketiga: Marianne sendiri bisa saja bertingkah macama-macam. Kecemasan pertama dan kedua belum terjadi, namun kecemasan ketiga dengan cepat menjadi masalah. Marianne ternyata adalah gadis belasan yang serba ingin tahu dan cukup sulit diatur, dia melakukan beberapa hal yang sangat membahayakan. Semakin lama tingkah laku Marianne semakin mengundang resiko hingga Fossie akhirnya berkeputusan untuk memulangkannya, namun pada saat itulah masalah terbesar terjadi. Film ini disampaikan lewat kilas balik dalam cerita Rat (Sutherland), salah satu rekan Fossie dalam unit itu. Donnelly menyampaikan ceritanya dengan seefektif mungkin tanpa banyak berbasa-basi dan membiarkan satir moralnya tersirat halus di init filmnya, bukan tersembur eksplisit di mana-mana. Ensembel pemain yang baik menambah daya tarik film ini, pujian khusus untuk Ulrich dan Cates. [R]
Some Mother’s Son()- 1996 / Terry George / Helen Mirren, Fionula Flannagan, Aiden Gillen, David O’Hara, Tim Woodward, Tom Hollander, Ciaran Hinds, Gerard McSorley, Geraldine O’Rawe, Ciaran Fitzgerald, Dan Gordon, Grainne Delany, John Lynch / {REP. IRLANDIA} / [103 mnt] Mirren bermain sebagai seorang wanita yang menggalang para ibu untuk menuntut hak anak-anak mereka, para pemuda Irlandia Utara, yang menjadi tahanan politik pemerintah Britania Raya. Pemuda-pemuda ini sebtulnya adalah korban kenaifan dan permainan politik yang lebih tinggi. George, penulis "In the Name of the Father", kali ini menyutradarai sendiri filmnya. Dan seperti rekannya Jim Sheridan, dia mengerti betul bagaimana mengangkatnya menjadi sebuah kisah yang menggetarkan. Mirren bermain luar biasa, begitu juga Flannagan sebagai ibu lain yang lebih sinis dan skeptis. [R]
Son in Law ()- 1993 / Steve Rash / Pauly Shore, Carla Gugino, Lane Smith, Cindy Pickett, Mason Adams / [ 95 mnt] Komedi tolol ini mencoba melucu dengan cerita tentang seorang laki-laki desa (Adams) yang dihadapkan pada dua pilihan calon suami untuk anak gadisnya (Gugino), yaitu antara seorang pemuda desa yang kelihatan baik (Smith) atau seorang pemuda Los Angeles yang gila-gilaan tetapi bertanggung jawab (diperankan dengan over akting oleh Shore). Kering tawa dan memuakkan. [R]
Southie (½)- 1998 / John Shea / Donnie Wahlberg, Rose McGowan, Anne Meara, James Cummings, Amanda Peet, Will Arnett, Lawrence Tierney, John Shea, Steve Koslowski / (95 min.) Danny Quinn (Wahlberg) kembali ke Boston setelah mengalami masa-masa yang tidak mengenakan di New York. Dia mencoba hidup lebih bersih dan teratur, namun lingkungannya yang sangat dipengaruhi pergerakan Mafia Irlandia tak pernah mengizinkannya mencuci diri. Teman-teman lamanya, semua menghormati Danny dan mengagungkan tokoh-tokoh Irish Mafia, malah membuka sebuah tempat perjudian kecil yang menjadi masalah lain. Danny tak bisa berbuat banyak. Kisah film ini mirip kisah "Carlito's Way" (1993) dengan berbagai variasi, tokoh yang dipermuda, Hispanik menjadi Irlandia, pub menjadi casino kecil, dll.. Tapi dengan menganggap semua itu tidak sengaja, Shea membuat karya skala kecil yang sebenarnya cukup tajam, hanya penggarapan yang tanggung terhadap adegan action yang cukup mengganggu, selain kecenderungan untuk terkadang menjadi terlalu melankolis (tapi untuk soal ini apa mau dikata, mereka orang Irlandia, Bung!). [R]
Spanish Girls (lihat: Belle Epoque )
Spanish Prisoner, The ()- 1997 / David Mamet / Campbell Scott, Steve Martin, Felicity Huffman, Rebecca Pidgfon, Ben Gazzara, Ricky Jay / [mnt] Dongeng khas Mamet, penuh dengan tipuan melingkar-lingkar, memerangkap Scott dalam sebuah skandal perebutan formula ciptaannya. Karyawan muda yang cerdas dan serius ini menjadi korban dari plot jahat yang sangat rapi yang disusun bosnya sendiri (Jay) dan seorang konglomerat misterius (Martin), bahkan pada akhirnya tak seorangpun boleh dia percayai. Cerita dibuka dengan awal yang lambat, namun lama-kelamaan kita mulai merasakan ketegangan yang mengasyikan, itulah Mamet. Sayangnya, hampir semua penonton yang telah terbawa arus akan kecewa dengan endingnya yang tidak relevan dengan intelektualitas film ini. [R]
Speaking Parts (½)- 1990 / Atom Egoyan / Michael McManus, Arsinée Khanjian, Gabrielle Rose, Tony Nardi, David Hemblen, Patricia Collins, Gerard Parkes / (KANADA - BRITANIA - ITALIA) / [93 mnt] Film psikologis ini bercerita dengan sangat stylish tentang pengaruh video yang sangat besar terhadap kehidupan manusia modern. Lisa (Khanjian) adalah seorang pegawai hotel yang terobsesi oleh teman sekerjanya, Lance (McManus), Lisa bahkan terus menerus menyewa kaset-kaset video film yang melibatkan Lance sebagai figuran. Pada saat yang bersamaan, Lance, yang sama sekali tak memperdulikan Lisa, justru sedang mendapat kesempatan untuk memainkan peran penting pertamanya dalam sebuah film yang memperkenalkannya dengan Claire (Rose), penulis skenario yang selalu dihantui rasa bersalah atas kematian adiknya. Sampai di sana sudah cukup menarik, namun cerita tidak sesederhana itu, banyak sekali pernik yang terdapat di dalamnya, dan semua disampaikan oleh Egoyan dengan gaya bertutur dan kelincahan visual yang menakjubkan, mungkin belum pernah anda temukan dalam film lain. Beberapa pendekatan yang agak arogan dan karakter-karakter tokoh yang sangat kompleks namun irit kata (sehingga para pemainnya kelihatan sulit bermain wajar, terutama Khanjian, istri Egoyan) mungkin membuat kepuasan yang diberikan film ini pada kita tidak maksimal, namun bagaimanapun, film ini mampu membuat kita mengakui bahwa ternyata banyak sutradara jenius yang tidak banyak dikenal di Indonesia. Catatan kecil: Hampir seluruh film Egoyan bercerita seputar video, Speaking Parts adalah salah satu yang paling terkenal di kalangan para kritisi. [R]
Species (½) - 1995 / Roger Donaldson / Natasha Henstridge, Ben Kingsley, Forrest Whitaker, Marg Helgenberger, Michael Madsen, Alfred Molina, Michelle Williams [111 mnt] Selain formula bahan bakar anti polusi, pemerintah A.S juga mendapat kiriman rantai DNA dari makhluk angkasa luar yang bisa dirangkaikan dengan DNA manusia. Hasilnya adalah sesosok makhluk dengan dua penampilan: wanita cantik yang sexy (Henstridge) dan makhluk mengerikan yang tetap mengandung sisi seksual. Makhluk ini kemudian beraksi membabi buta dan membuka kemungkinan untuk reproduksi yang tidak terkendali. Jauh dari istimewa dan sangat formulaic, namun penyutradaraan Medak membuatnya tampil cukup lumayan untuk kelas yang tidak terlalu mewah dari genrenya. [R]
Speechless (½)- 1996 / Ron Underwood / Michael Keaton, Geena Davis, Christopher Reeve, Bonnie Bedelia, Ernie Hudson, Charles Martin Smith, Gailard Sartain, Ray Baker, Mitchell Ryan, Willie Gerson, Paul Lazar, Richard Poe / [98 mnt] Komedi romantis standar Hollywood ini bercerita tentang dua orang pembuat pidato dalam kampanye senator, satu dari Partai Demokrat yang lainnya dari Republik. Namun cinta tidak mengenal partai, maka bersatulah Kevin (Keaton) dan Julia (Davis, yang juga memproduseri bersama suaminya, Renny Harlin), walau berkali-kali mengalami pasang surut dan saling serang. Seperti biasa, keartifisialan dan kesan “ultra-jinak” selalu tampil dalam film seperti ini, walau dalam beberapa bagian skenario Robert King berhasil menampilkan dialog-dialog yang menggigit, dan duet Keaton - Davis memang menyediakan sisi kharismatik yang cukup terasa. [PG-13]
Speed ()- 1994 / Jan de Bont / Keanu Reeves, Dennis Hopper, Sandra Bullock, Joe Morton, Jef Daniels, Alan Ruck, Glenn Plummer, Richard Lineback, Beth Grant, Carlos Carrasco / [115 mnt] Setelah sempat satu kali menggagalkan usaha Payne (Hopper) meledakkan sebuah gedung, Jack (Reeves), anggota team elit SWAT, kembali harus berurusan dengan veteran frustrasi yang dia anggap telah mati itu. Dalam “quiz” kedua ini, Payne menguji Jack untuk menyelematkan sebuah bis berpenumpang yang akan meledak jika melaju dalam kecepatan kurang dari 50 mil/jam atau kelihatan menurunkan penumpang. Apa akal Jack sekarang? Mungkin hanya itu pertanyaan film ini, namun satu pertanyaan cukup untuk menjadikannya sebuah hiburan ringan dengan keberhasilan yang fantastis. Karakter Hopper boleh dijadikan sebuah bukti kuat bahwa film ini tak luput dari stereotip kacang goreng Hollywood, namun keberhasilan Speed meminimalisasi ketidakmasukakalan dan memaksimalisasi kejutan dan ketegangan yang spektakuler dan tanpa henti membuat penonton tak tertarik untuk meninggalkannya sebelum selesai. Blockbuster ini tercatat juga sebagai film yang mengubah nasib sepasang pahlawannya (si jantan berwajah mulus dengan potongan rambut yang sensasional walau dengan suara yang agak mirip pemuda idiot, dan si cantik dengan lonjakan popularitas yang dalam dekade ini hanya bisa ditandingi oleh lonjakan Julia Roberts sejak “Pretty Woman”) [R]
Spymaker(½) - 1992 / Ferdinand Fairfax / Jason Connery, Kristin Scott Thomas, Jason Ackland, Patricia Hodge, David Warner, Colin Weland, Fiona Fullerton, Richard Johnson / (BRITANIA) / ((The Secret Life of Ian Fleming)) [92 mnt] Kalau orang pernah memfilmkan kisah hidup W.C.Fitzgerald atau Bronte bersaudara, kenapa Ian Fleming tidak? Maka munculah film ini, film yang hampir berupa kumpulan episode nyata dan fiktif dari kehidupan Fleming (Connery) yang beraksi ala tokoh ciptaannya, James Bond, pada masa sekitar Perang Dunia II. Film ini tak henti-hentinya meledek dan menjadikan kisah James Bond sebagai bahan gurauan, gurauan terbesarnya tentu saja pemilihan Connery (putra Sean) untuk memainkan Fleming. Catatan: Film ini sebenarnya dibuat untuk stasiun televisi Inggris, namun kemudian diedarkan ke bioskop-bioskop mancanegara. [R]
Stalin ()- 1992 / Ivan Passer / Robert Duvall, Maximillian Schell, Julia Ormond, Jeroen Krabbe, Joan Plowright, Frank Finlay, Daniel Massey, Joanna Roth / (A.S - BRITANIA - KANADA - RUSSIA - HUNGARIA) / [170 mnt] (Film Televisi) Film ini mencakup kisah yang cukup panjang tentang kehidupan Josef Stalin (Duvall), salah satu tokoh paling kharismatik dan paling sangar sepanjang abad ini. Film ini bercerita tentang karir politiknya dan kehidupan pribadinya. Secara tematis, Stalin tidak tergolong lebih dari lumayan, bangunan ceritanya tidak utuh dan terlalu dipermulus, namun fotografi dan tata artistiknya menutupi kelemahan itu, hingga tampilan visualnya menjadi cukup memikat. Duvall sangat berhasil menghidupkan peran Stalin, dan Ormond mencuri kekaguman di setengah bagian pertama sebagai Nadya Aliluyeva, istri Stalin yang bunuh diri. NB: Apakah dalam film berbahasa Inggris tentang sebuah kelompok masyarakat yang aslinya tak bicara dalam bahasa Inggris para pemainnya memang perlu berbicara bahasa Inggris dengan logat bahasa asli masyarakat tersebut? Apakah itu memang menghidupkan film atau malah menggelikan dan membuang waktu? [R]
Stargate (½)- 1995 / Roland Emerich / Kurt Russell, James Spader, Jaye Davidson, Viveca Lindfors, Alexis Cruz, Mili Avital, Leon Rippy, John Diehl, Carlos Laucehe, Djimon, Erik Avary / [125 mnt] Seorang profesor ahli sejarah Mesir Kuno (Spader) dan sekelompok penyelidik angkatan bersenjata AS ditugaskan untuk melintasi lingkaran gerbang misterius Stargate yang dibawa ke AS setelah ditemukan di Mesir. Petualangan ini ternyata membawa mereka ke dunia lain Mesir Kuno. Mereka berhasil menjalin persahabatan dan mengumpulkan keterangan dari penduduk setempat, namun mereka juga harus berurusan dengan Ra (Davidson), dewa matahari Mesir Kuno yang berkekuatan luar biasa. Sungguh sebuah film dengan tampilan yang spektakuler, spesial efeknya hampir tanpa cacat dan sangat memukau (termasuk penciptaan binatang bertampang aneh yang dipelihara para penduduk), nuansa petualangan dan ketegangan juga tertata dengan baik. Percaya atau tidak: Film ini 100 % di buat di Amerika. Namun rasanya film ini lebih seru dan menegangkan pada bagian-bagian sebelum kemunculan Ra, karena setelah itu justru terasa klise, membodohi, dan hanya pantas untuk penonton-penonton yang berusia di bawah tigabelas tahun (padahal film ini mendapat batas usia PG-13), dan Ra muncul cukup awal! [PG-13]
Star Wars: Episode I - The Phantom Menace ()- 1999 / George Lucas / Ewan McGregor, Liam Neeson, Natalie Portman, Jake Lloyd, Pernilla August, Frank Oz, Ian McDiarmid, Oliver Ford Davies, Hugh Quarshie, Ahmed Best, Samuel L. Jackson, Ray Park, Ralph Brown, Terence Stamp, Brian Blessed, Sofia Coppola / (131 min.) Salah satu kejutan paling menyenangkan di tahun akhir sembilanpuluhan adalah rencana pembuatan film keempat seri Star Wars, George Lucas berbaik hati meneruskan legendanya. Tapi orang agak terkejut ketika yang hadir ternyata bukan lanjutan "Return of the Jedi", melainkan sebuah "babad" yang menceritakan masa-masa yang terjadi jauh sebelum zaman Hans Solo dan Luke Skywalker. Film ini menampilkan Obi-Wan Kenobi dalam sosok muda Ewan McGregor, Obi-Wan masih merupakan seorang pelajar Jedi, murid Qui Goon Jinn (Neeson, ugh, Celtic dan Celtic, apa maksudnya ini?). Mereka berencana untuk memmbawa Ratu Naboo, Amidala (Portman, dalam kostum yang jelas diproyeksikan untuk menandingi penampilan Putri Leia Organa ala Carrie Fisher) ke pertemuan antar para pemimpin Republik. Namun bersama seorang Gungan yang sok tahu mereka malah terdampar di Planet Tatooine. Peristiwa yang sangat bersejarah dalam dongeng Star Wars terjadi di sini, Qui Gon Jin menemukan seorang anak kecil berbakat luar biasa, insting guru Jedi ini mengatakan bahwa anak ini kelak akan menjadi pemimpin besar Jedi. Bocah ini bernama Anakin, yang kelak akan memperanakkan Luke Skywalker, dan kelak juga nama Anakin akan hilang ketika dia telah muncul dalam figur lain dengan nama Darth Vader. Lucas membuat film ini dengan resep yang hampir sama dengan ketiga seri sebelumnya: tokoh yang jumlahnya ratusan, humor-humor yang cute, dan visualisasi yang tak pernah sunyi lengkap dengan transisi wiping dari moving shot ke moving shot disertai ilustrasi musik yang gagah. Bahkan dia tampaknya ingin tetap mempertahankan sisi klasik Star Wars dalam hal spesial efek, Lucas tentu bisa membuat filmnya lebih spektakuler dari ini, namun dia seperti tak mau mengkhianati nostalgia para penggemar lama. Ya, Lucas memang berurusan dengan banyak sekali selera lewat pembuatan film ini. The Phantom Menace adalah sebuah film yang sangat menghibur, namun kita hanya bisa berkata begitu jika nama-nama berbau Mongol dan makhluk-makhluk aneh itu pernah akrab dengan kita, jika tidak, semua gerakan cepat pesawat luar angkasa dan perkenalan wajah-wajah baru di layar bisa membuat kepala kita bertambah pusing dari menit ke menit, walau percayalah selalu ada hal lain yang bisa menjadi penawarnya. Star Wars telah menjadi sebuah legenda Hollywood, dan The Phantom Menace menjadi bagiannya, walau mungkin bukan bagian yang paling penting. [PG]
State of Grace (½)- 1990 / Phil Joanou / Sean Penn, Ed Harris, Gary Oldman, Robin Wright, John Turturro, Burgess Meredith, John C.Reilly / [134 mnt] Tery Noonan (Penn) kembali ke lingkungan Irlandianya setelah menghilang selama beberapa tahun. Dia datang lagi untuk bekerja dengan Frankie (Harris) dan Jackie Flannery (Oldman), kakak beradik gangster, dan juga membawa kesulitan bagi kedua sahabat lamanya itu karena Noonan menyimpan sebuah rahasia yang bisa merubah segalanya yaitu……tak usah disebutkan di sini. Film ini membawa masalah bagi penonton: tak konstan menarik dari peristiwa ke peristiwa, beberapa sekuennya sering menurunkan semangat menonton dan beberapa di antaranya justru membuatnya kelihatan akan pantas menjadi film keras berkelas ½. Permainan meyakinkan para pemeran utamanya cukup menolong. [R]
Stendahl Syndrome, The ()- 1996 / Dario Argento / Asia Argento, Thomas Kretchman, Marco Leonardi, Luigi Dambati, Julien Lambroschini, John Quentin / (ITALIA) / [100 mnt] Film standar dari raja horor Italia ini bercerita tentang Anna Manni (diperankan putrinya, Asia), seorang detektif yang menyelidiki sebuah seri kasus pembunuhan oleh seorang psikopat, Alfredo Rossi (Kretschman). Pada saat itu Anna mulai mengidap Stendahl Syndrome, sebuah sindrom yang membuat penderitanya mengalami halusinasi yang menakutkan ketika emosinya terlarut oleh sebuah karya seni. Rossi segera memanfaatkan hal ini. Dia boleh saja bisa dihentikan, namun kali ini Anna sendirilah yang menjadi sosok yang berbahaya. Film ini miskin kekerasan dan darah jika dibanding film Argento sebelumnya, namun juga miskin ketegangan dan daya tarik filmis lainnya. [R]
Stephen King’s “Sleep-walkers” ()- 1993 / Mick Garris / Brian Krausse, Alice Kriege, Madchen Amick, Jim Hayney, Cindy Pickett, Ron Perlman, Dan Martin / [91 mnt] / ((Sleepwalkers )) Cerita horor ini berkisah tentang sepasang ibu dan anak (Kriege dan Krausse) yang merupakan makhluk Sleepwalker terakhir yang masih hidup. Mereka adalah sebangsa hantu yang harus menyedot energi hidup manusia untuk tetap hidup, dan mereka takut pada kucing. Seluruh aspek film ini berada sedikit di bawah standar, satu-satunya hal yang cukup menggetarkan sebagai sebuah film horor adalah permainan Kriege, aktris berkebangsaan Afrika Selatan. [R]
Step Mom (½)- 1998 / Chris Colombus / Julia Roberts, Susan Sarandon, Ed Harris, Jena Malone, Liam Aiken, Lynn Whitfield, Darrell Larson, Mary Louise Wilson / [mnt] Roberts bersiap untuk menikah dengan Harris, duda beranak dua, dia juga harus "bersaing" dengan Sarandon, bekas istri Harris yang sangat dicintai kedua anaknya. Kesan klise tak mampu dilepaskan film ini, hampir tak ada "penerangan baru" yang mampu diberikannya. Penyutradaraan teliti Colombus dan penampilan yang memuaskan para pemain cukup untuk membayarnya, walau akting Roberts kadang terasa agak "pucat" ketika beradu dengan Sarandon. Kedua wanita kaya raya ini juga menjadi produser eksekutif film ini. [R]
Stigmata ()- 1999 / Rupert Wainwright / Patricia Arquette, Gabriel Byrne, Jonathan Pryce, Nia Long, Thomas Kopache, Rade Sherbedgia, Enrico Colantoni, Dick Latessa, Portia de Rossi, Patrick Muldoon, Ann Cusack / (102 mnt) Dalam film ini stigmata dijelaskan sebagai manifestasi fisik luka yang diderita Jesus dalam penyaliban dan terjadi pada orang yang percaya. Tokoh kita dalam film ini adalah Frankie Paige (Arquette), seorang penata rambut atheis. Suatu hari Paige menerima kiriman rosario dari ibunya yang sedang berada di Brasil, dan beberapa saat setelah itu Paige mengalami siksaan dari sesuatu yang tak terlihat yang menimbulkan luka-luka di tubuhnya. Pada saat yang bersamaan, di Brasil, Pater Andrew Kiernan (Byrne) sedang menjalankan tugas dari Vatikan untuk menyelidiki kebenaran bahwa seorang kepala biara yang baru saja meninggal adalah penderita stigmata. Begitu kembali ke Vatikan Pastur Kiernan langsung ditugaskan ke Amerika Serikat untuk menyelidiki fenomena Paige yang telah lebih dari satu kali menderita luka-luka secara gaib, semuanya tepat di tempat luka Penyaliban. Bukti-bukti awal mengharuskan Pastur Kiernan mempercayai bahwa Paige memang mengalami stigmata; namun selanjutnya kejadian aneh semakin banyak terjadi pada Paige, Pastur ini mulai curiga bahwa stigmata bukanlah pangkal yang sesungguhnya dari fenomena Paige. Kenapa film ini menjadi begitu menarik? Penyutradaraan membara dan meledak-ledak ala Wainwright adalah jawabannya. Dia menghasilkan kerja sama yang sangat menawan dengan penata kamera Jeffrey Kimball, editor Jim Rooney, dan penata musik Billy Corgan (otak Smashing Pumpkins), mereka tampak saling mengerti apa yang diinginkan satu sama lain sehingga mata dan telinga kita begitu dimanjakan oleh sinkronisasi bertempo tinggi (Wainwright menghitung irama audio-visualnya sampai ke potongan kata dalam dialog). Sementara kisah film ini sendiri kalau kita bongkar sebenarnya tak punya getaran sehebat yang kita duga, walau pokok bahasannya terhitung baru, namun pola alurnya sangat mudah diduga. Pokok bahasan seperti inipun sesungguhnya hanya bisa menarik orang yang benar-benar mudah terpukau, lain tidak. Tapi sekali lagi, Wainwright dan krunya, juga Arquette yang bermain sangat bagus, berhasil melipatgandakan kekuatan kisah ini. [R]
Stir of Echoes, A ()- 1999 / David Koepp / Kevin Bacon, Kathryn Erbe, Illeana Douglas, Kevin Dunn, Zachary David Cope, Conor O'Farrell, Lusia Strus, Stephen Eugene Walker, Mary Kay Cook, Larry Neumann Jr., Jenny Morrison, Steve Rifkin, Chalon Williams / (110 mnt) Tom Witzkey (Bacon), seorang tukang pipa, hidup tenang bersama istrinya, Mag (Erbe), dan anaknya, Jake (Cope). Pada suatu pesta kecil, kakak Maggie (Douglas) memperlihatkan kemampuannya menghipnotis orang, dan Tom - yang tidak percaya pada hal-hal seperti itu - menjadi orang yang dicobanya, dan Tom melihat lebih dari cukup dalam pengalamannya dalam pengaruh hipnotis itu. Setelah itu kehidupan keluarga ini mulai dicekam hal-hal yang mistis, Tom terus diganggu mmimpi buruk, dan lebih buruk lagi, anaknya mulai sering bercakap-cakap dengan sesuatu yang bisa dilihat orang lain. Tom mulai panik dan kehilangan kesabarannya, dia merasa ada sesuatu di rumahnya, dan mulailah pekerjaan gilanya, Tom membongkar dan mengobrak-abrik rumahnya untuk mencari apa sebenarnya yang tersembunyi. Bersama Stigmata, kami memilih film ini sebagai film horor supranatural terbaik Hollywood di akhir abad XX, dan kalau kita hanya mengukur sisi kemencekamannya, film ini unggul dari film hantu Hollywood manapun sejak Candyman (1992). Koepp mengadaptasi novel Richard Matheson dengan satu tujuan: membuat penonton tercekam. Dia mengirit-irit suspens film ini sehingga penonton selalu sadar bahwa kejadian yang lebih menakutkan masih ada di menit-menit yang akan datang. Sayangnya Koepp malah terkesan tidak sabaran menjelang akhir, sejak tokoh Samantha (Morrison) mulai ditampilkan lewat kilas balik, film ini bergerak dalam tempo yang terlalu cepat. Bacon, Erbe, dan aktor cilik Cope bermain sangat bagus [R]
Stone Cold ()- 1990 / Craig Baxley / Brian Bosworth, Lance Henriksen, William Forsythe, Arabella Holzbog / [90 mnt] Ini adalah sebuah film laga dengan skenario dan penyutradaraan yang menggelikan tentang geng motor yang berurusan dengan FBI dan gangster besar sekaligus. Tak ada yang bisa diharapkan dari sini selain tawa kecil tidak sengaja. [R]
Stop! or My Mom Will Shoot (½)- 1992 / Roger Spottiswoode / Sylvester Stallone, Estelle Getty, Jo Beth Williams, Roger Rees, Gailaird Satain / [87 mnt] Stallone bermain sebagai seorang polisi Los Angeles yang selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh ibunya (Getty), ini membuatnya sangat rikuh, namun justru bersama ibunya itulah dia berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Film komedi ini mengandalkan tingkah sang ibu sebagai gurauan tunggalnya, terus menerus sampai terasa overdosis pada taraf yang serius. Akting Stallone, seperti biasa ….. [PG-13]
Story of Us, The ()- 1999 / Rob Reiner / Michelle Pfeiffer, Bruce Willis, Rita Wilson, Julie Hagerty, Paul Reiser, Tim Matheson, Colleen Rennison, Jake Sandvig, Red Buttons, Jayne Meadows, Tom Poston, Betty White, Rob Reiner, Bill Kirchenbauer, Lucy Webb, Marci Rosenberg, Art Evans, Renee Ridgeley / [90 mnt] / Ben dan Katie Jordan menjalani kehidupan rumah tangga yang hampir sempurna di mata kedua anak belasan tahunnya. Namun ketika kedua remaja itu tak berada di rumah, perkawinan mereka adalah perang berkepanjangan, dingin atau panas. Dalam situasi komedi via berbagai kilas balik, keduanya mencoba menelusuri sebab-sebab ketidakharmonisan ini. Lewat SoU, Reiner berkarya tak lebih dari sekedar sebagai Pak Ephron yang menggemari roman komedi Prancis dan kemudian ber-Allen-isme dengan setengah hati. Sebagai salah satu orang Amerika yang menjadi generator trend film-film sejenis (ingat “When Harry Met Sally”), Fat Rob pantas diharapkan untuk membuat sesuatu yang lebih menggigit dan bukan parade taktik dan jargon usang seperti ini, sebuah tontonan melelahkan yang bahkan tak bisa diselamatkan oleh sepasang manusia sepopuler Bruce dan Michelle. [R]
Strange Justice (½)- 1999 / Ernest R. Dickerson / Delroy Lindo, Mandy Patinkin, Regina Taylor, Paul Winfield, Stephen Young, Louis Gossett Jr, Phillip Shepherd, Leila Johnson, Julie Khaner, Janet Land, Kathleen Laskey, Lisa Mende / (95 mnt) (Film Televisi) Film ini adalah film pertama yang menyoroti salah satu skandal terbesar dalam dunia hukum Amerika sejak Watergate, kasus Clarence Thomas - Anita Hill. Dan ternyata yang muncul adalah sebuah film televisi dengan dramatisasi dan melankolisme yang gila-gilaan, versi yang meragukan, dan tidak bisa dipercaya sebagai sebuah dokumentasi sejarah. Tetapi terlepas dari obyektifitasnya dalam memandang tema, Dickerson - mantan penata kamera untuk Spkie Lee - telah membuat sebuah film ini dengan gaya yang jelas, visualisasinya selalu mengatakan pada kita bahwa yang diceritakannya adalah sebuah mimpi buruk dalam dunia yang penuh harapan. Lindo juga bermain bagus, walau mungkin sesungguhnya dia bukan memainkan Clarence Thomas. [R]
Striking Poses(½)- 1997 / Gail Harvey / Shannen Doherty, Joseph Griffin, Tamara Gorski, Aidan Devine, Diane D’Aquilla, Sean Hewitt, Colm Feore / [100 mnt] / [Film Televisi] Doherty bermain sebagai Gabe O'Sullivan, paparazzo yang kini mulai merasakan sendiri bagaimana rasanya dikuntit seseorang yang membawa kamera. Gabe kemudian melapor pada polisi, dia juga - atas saran asistennya (D'Aquilla) - meminta perlindungan seorang bodyguard/detekstif swasta (Griffin). Cerita kemudian mulai berkembang dan akhirnya semua orang yang terlibat dalam film ini terlibah pula dalam perburuan sejumlah uang dengan Gabe sebagai pusatnya. Film ini hanya dibuat untuk memenuhi standar dan tak lebih dari itu. Doherty bermain lumayan namun hampir semua pendukunya overakting. [R]
Striptease (½)- 1996 / Andrew Bergman / Demi Moore, Armand Assante, Burt Reynolds, Robert Pattrick, Ving Rhames, Rumer Willis / [102 mnt] Moore (sengaja melebihkan berat badan beberapa kilo agar terlihat “berat” dan “berdaging”, salut untuk usahanya) dengan bangga berperan sebagai Erin, seorang penari “topless” yang terlibat dalam berbagai masalah, mulai dari masalah hak pengasuhan anak (sang anak diperankan Rumer, putrinya sendiri) sampai masalah dengan seorang politikus yang memang selalu bermasalah (Reynolds). Masalah yang lebih besar dari itu: film ini tak tahu bagaimana membuat semua masalah itu menjadi menarik. Dengan judul yang sangat percaya diri, seolah film ini hendak menjadi film esensial tentang dunia striptease, film ini hanya menampilkan keklisean dan keterpaksaan. Ada kesan bahwa film ini juga berambisi untuk menjadi satir atas segala sesuatu (sex, perkawinan, moral, politik, dll), dengan segala komentar di atas, anda tahu bagaimana hasilnya. Untuk menjadi melodrama yang berarti, jauh dari memadai. Untuk menjadi sebuah komedi, mana pembuat tawa, atau minimal, senyumnya? Seluruh tarian erotis Moore, atau seratus kali lebih hebat dari itu, tak cukup untuk membuat film ini menjadi apapun yang pantas dikagumi. Anda lebih baik menonton “The Full Monty”. [R]
Sudden Death ()- 1995 / Peter Hyams / Jean Claude van Damme, Powers Boothe, Raymond J. Barry, Dorian Harrelwood / [110 mnt] Wakil presiden disandera ketika menghadiri final “Stanley Cup”, salah satu kejuaraan hockey es terbesar di A.S. McCord, seorang petugas pemadam kebakaran bermasalah rumahtangga, ikut terjebak dalam situasi itu bersama kedua anaknya. Tentu saja akhirnya McCord yang berotot ini jadi pahlawan. Familiar, klise, dan tak selalu masuk akal, aksi beladirinya juga tak ada apa-apanya dibanding film van Damme yang lain. Namun jika anda suka adegan-adegan ajaib nan spektakuler, satu dua bisa ditemukan di sini. [R]
Sugartime()- 1995 / John N. Smith / John Turturro, Mary Louise Parker, Elias Koteas, Maury Chaykin, Louise de Grandi, Deborah Duchene, Larissa Lapchinski / [117 mnt] Gembong mafia legendaris, Sam Giancana (Turturro), adalah orang yang bisa mewujudkan mimpi siapapun, menjadi kenyataan terindah untuk orang yang disukainya, dan terburuk untuk orang yang tidak disukainya. Ratusan orang selalu berebut menghampirinya, baik kawan, maupun lawan, yang bisa berupa FBI atau saingannya sesama gangster besar. Namun bagi Phyllis McGuire (Parker), seorang penyanyi panggung terkenal, Sammy hanya harus ditunggu, bukan dihampiri, apapun yang diperbuat gadis ini, Sammy selalu bisa menyukai atau memaafkannya. Film ini ditampilkan dengan gaya yang tidak jauh dari film-film sejenis, Smith tak melakukan sesuatu yang terlalu istimewa, aliran ceritalah yang membuat film ini menarik, walaupun kita sudah bisa menebak kemana arahnya. Sementara itu, Turturro berhasil mengatasi kekurangtepatan casting untuknya sedang si manis Parker bermain sebagus biasanya. [R]
Suicide King()- 1997 / Peter O’Fallon / Christopher Walken, Sean Patrick Flanery, Jeremy Sisto, Johnny Galecki, Jay Mohr, Henry Thomas, Dennis Leary, Cliff de Young, Brad Garrett, Frank Meadrano, Nina Siemaszko, Laura Harris, Louis Lombardi, Joseph Call, Joeph Whipp, Laura San Giacomo / [117 mnt] Empat orang pemuda hijau dari kalangan menengah ke atas nekad menculik Charlie Bertolucci (Walken), nama besar yang mereka yakini bisa membantu mereka membebaskan Elise (Harris) yang merupakan adik Avery (Thomas) dan pacar Max (Flanery), dua dari empat pemuda itu. Mereka sempat memotong sebuah jari Charlie, namun kedudukan belum jelas, siapa yang memegang kendali permainan? Si penculik yang pemula atau korban penculikan yang berpengalaman? Atau ada orang lain selain mereka? Permasalahan film ini semula tampak sederhana, kemudian plottingnya mulai agak liar dan bercabang sehingga membuat kita mulai curiga bahwa orang-orang ini berada dalam situasi yang lebih runyam daripada yang kita lihat. Memang begitulah kenyataannya. Asal penonton mematuhi azas “segala sesuatu mungkin terjadi” dan “ilmu psikologi adalah omong kosong”, maka komedi hitam yang padat suspens ini tampaknya akan mudah sekali menarik perhatian tanpa protes. [R]
Susan's Plan (½)- 1998 / John Landis / Nastassja Kinski, Billy Zane, Michael Biehn, Rob Schneider, Lara Flynn Boyle, Dan Aykroyd, Lisa Edelstein, Thomas Haden Church, Bill Duke, Adrian Paul, Sheree North, Jeff Morris, Lauren Tom, Steven Banks, Christina Venuti / (89 mnt) Film ini adalah comedy of error tentang kejahatan, melibatkan beberapa karakter yang terlibat dalam rencana Susan (Kinski) yang bernilai jutaan dolar. Untuk mengisi waktu senggang, film ini cukup layak untuk ditonton, humornya muncul dalam kerapatan tinggi dan tak pernah tidak menarik. Namun sebuah contoh yang lebih baik dari gaya serupa, "Two Days in the Valley", baru saja muncul beberapa tahun sebelumnya dalam gaya yang lebih segar. [R]
Suspect Device ()- 1995 / Sam Elliott / C.Thomas Howell, Stacey Travis, Jed Allen, Jack Ladd / [102 mnt] Seorang analis lalu lintas informasi politik menemukan dirinya tak dikenal oleh setiap orang yang dikenalnya, dia juga menjadi sasaran kejaran sekelompok orang yang menyebutnya proyek berbahaya. Ini adalah sebuah kisah fantasi, yang jika kita termasuk penonton film yang rajin, bisa mengingatkan kita pada puluhan film lain, dari film bangkrut seperti “The Hand of Iron” sampai superhit seperti “Total Recall”. Mungkin cuma kecurigaan yang berlebihan, bagaimanapun satu jam pertama film ini cukup mengundang tanda tanya yang menarik walau di setengah bagian kedua kita menyesal habis-habisan karena telah begitu tertarik. [R]
Swingers (½)- 1996 / Doug Liman / Jon Favreau, Vince Vaughn, Ron Livingston, Patrick Van Horn, Alex Desert, Heather Graham, Deena Martin, Katherine Kendall, Brooke Langton, Blake Lindsley / (97 mnt) Sebelum mencetak sukses yang lebih besar lewat "Go" (1998), Liman membuat debut penyutradaraannya lewat film ini, yang juga cukup berbunyi di pasaran. Film ini berpusat pada masalah yang dihadapi Mmike (Favreau, yang juga menulis skenarionya), seorang komedian New York yang sedang mengalami krisis dengan pacar yang telah bertahun-tahun dipacarinya. Kini dia berada di L.A, dikelilingi teman-teman lama yang punya berbagai hal untuk dinikmati bersama. Film ini adalah campuran antara ballada yuppie ala Whilt Stilman dengan roman indies ala Steiberg/Jimenez, Liman dan Fivrezu menambahkan gigi yang lebih tajamm pada ramuan ini. Hasilnya adalah sebuah film yang cerdas dengan humor dan wawasan yang menggelitik, sekaligus kasar dan lumayan ofensif untuk ukuran sebagian pemirsa, temponya pun begitu lambat sehingga ada saat-saat dimana kita justru merasa terpenjara oleh takoh-tokohnya. Para pemain bermain baik, terutama Vaughn sebagai si eksentrik, Trent. [R]
Switch (½)- 1991 / Blake Edwards / Ellen Barkin, Jimmy Smits, Lorraine Bracco, Jo Beth Williams, Terry Roberts, Perry King / [114 mnt] Seorang playboy dermawan yang kaya raya kaya dibunuh salah satu pacarnya, kegemarannya mempermainkan wanita menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya ditolak masuk surga. Karena kedermawanannya selama hidup, dia diberi kesempatan untuk meneruskan hidupnya untuk memperbaiki sikapnya terhadap wanita, sebagai pemberat dia diturunkan lagi ke bumi ....dengan pisik seorang wanita (Barkin). Masalah bertambah ketika seorang sahabatnya ketika dia masih laki-laki, jatuh cinta padanya. Komedi ini seharusnya lebih berhasil memancing tawa dari kekurang ajarannya, namun hasilnya hanya cukup berhasil bukan sangat berhasil, bahkan beberapa humor slapstik yang agak klise sering membuatnya agak hambar, namun Barkin memanfaatkan setiap kesempatan dengan habis-habisan dan menyelematkan segalanya. [R]


T


Talented Mr. Ripley, The (½)- 1999 / Anthony Minghella / Matt Damon, Gwyneth Paltrow, Jude Law, James Rebhorn, Cate Blanchett, Philip Seymour Hoffman, Jack Davenport, Sergio Rubini, Philip Baker Hall, Celia Weston, Rosario Fiorello, Stefania Rocca, Ivano Marescotti, Anna Longhi, Alessandro Fabrizi, Lisa Eichorn / (139 mnt) Tom Ripley (Damon) suatu hari dikejutkan oleh permintaan laki-laki kaya, Herbert Greenleaf (Rebhorn), untuk memperingatkan atau kalau perlu memmbawa pulang putranya, Dickie Greenleaf, dari Italia. Permintaan Herbert ini dibuat setelah dia salah faham dan mengira Ripley sebagai teman lama Dickie. Adegan pembuka ini disampaikan dalam tempo yang cepat dan logika yang kurang terjelaskan, dan mungkin ini adalah satu-satunya bagian film ini yang mempunyai cacat yang jelas karena selanjutnya segalanya tampak luar biasa. Kita kembali pada cerita, Ripley pergi ke Italia dengan segala biaya ditanggung oleh Herbert, ini adalah pengalaman luar biasa bagi pemuda pengangguran dan putus sekolah ini. Sesampainya di sana, Ripley tidak tertarik lai untuk melaksanakan tugas aslinya, karena dia langsung terkesan pada Dickie (Law), pacarnya Marge (Paltrow), dan gaya hidup mereka. Ripley adalah seorang yang mempunyai kemampuan belajar yang luar biasa, dengan cepat dia merubah kepribadiannya menjadi sebuah sosok yang lebih memungkinkan dia untuk bertahan (dengan kata lain: tidak diusir Dickie dan Marge). Kemampuan dan usaha Ripley ini semula tersimak sebagai rangkaian perbuatan yang wajar, bahkan lucu, namun lama kelamaan kita semakin melihat sisi-sisi yang sangat tidak normal pada usaha-usaha pemuda ini, dan film ini pun mulai berjalan ke arah yang dingin, mencekam, dan bahkan mengerikan. Minghella menangkap sisi psiko-sosial dan satir dalam novel Patricia Highsmith dengan sensitivitas yang mengagumkan, dia seakan mengajak kita melihat kejahatan sebagai sebuah seni yang memerlukan sedikit kegilaan untuk dipelajari. Film ini adalah contoh lain gaya penceritaan yang tetap ringkas dan efektif walau penuh detil, juga contoh dari sebuah film yang terus menanjak tanpa pernah menurun sedikitpun sampai ke sebuah bagian akhir yang betul-betul menjadi klimaks. Minghella juga tampaknya sengaja membuat film ini secara visual terlihat demikian indah dan cantik (sinematografi, kostum, tata artistik, semuanya luar biasa), untuk semakin memberi tekanan yang kontras pada kisahnya yang justru sangat buruk rupa. Damon bermain luar biasa, "Good Will Hunting" (1996) memperkenalkan dirinya sebagi aktor muda berbakat luar biasa, dan Talented Mr. Ripley (atau bisa juga Talented Mr. Creepy) memuncakinya, inilah penampilan terbaik dalam karirnya sampai saat ini. Law mengimbanginya juga dengan sangat baik. Di samping "American Beauty", "Boys Don't Cry", dan "The Insider", kami menganggap film ini sebagai film Amerika terbaik di tahunnya. [R]
Taconas Lejanos (lihat: High Heels )
Teaching Mrs. Tingle ()- 1999 / Kevin Williamson / Katie Holmes, Helen Mirren, Jeffrey Tambor, Barry Watson, Marisa Coughlan, Liz Stauber, Michael McKean, Molly Ringwald, Vivica Fox, John Patrick White, Lesley Ann Warren / (96 min.) Mrs. Tingle (Mirren) adalah nama seorang guru sejarah yang dirasakan LeighAnn Watson (Holmes) telah merusak peluangnya untuk menjadi siswi terbaik di angkatannya, guru galak ini berkali-kali memberi nilai yang buruk pada LeighAnn. Ini diikuti dengan fitnahan yang dilakukan seseorang pada LeighAnn, isinya tentang pencurian kertas ujian akhir oleh gadis itu. LeighAnn dan dua orang temannya (Tambor dan Coughlan) kemudian menculik Bu Tingle, menyekapnya, dan "mengajarinya" berbagai hal, mereka sendiri mempelajari berbagai "sejarah" dari perkenalan lebih dekat yang dipaksakan ini. Film ini disutradarai Kevin Williamson, penulis yang berada di belakang sukses thriller-thriller remaja seperti "Scream", seri "I Know what You Did Last Summer", dan "The Faculty". Williamson langsung membuka filmnya dengan awal yang salah, namun film ini berhasil memperbaiki diri ketika memasuki pertengahan ketika fakta-fakta menarik dan masuk akal mulai saling mendukung, namun semua dengan mudah hancur dan terlupakan oleh bagian-bagian akhirnya yang boleh dibilang menjijikan dan memperlihatkan bahwa Williamson benar-benar sudah kekeringan ide. Penyelamat yang luar biasa berarti bagi film ini adalah Mirren yang dengan heroik menampilkan akting kompleks kaliber award dan mengatasi segala keterbatasan skenario yang didapatnya, tanpa akting seperti itu, film ini akan sulit sekali dimaafkan. [PG-13]
Terminator II Judgment Day ()- 1990 / James Cameron / Arnold Schwarzenegger, Linda Hamilton, Edward Furlong, Robert Pattrick, Earl Boen, Joe Morton, Castullo Guerra, Jenette Goldstein / [136 mnt] Sang terminator kembali lagi ke abad XX, kali ini dengan misi yang baik, menyelamatkan John Connor (Furlong) dan ibunya (Hamilton) dari ancaman T-2000 (Pattrick) yang berkemampuan lebih hebat dari Terminator sendiri. Visual efek yang memukau - pelopor dalam beberapa macam teknologi film - adalah keunggulan utama film ini, sedangkan kebanyakan aspek lainnya (termasuk tegangan actionnya) hanya berkelas rata-rata saja. [R]
* Academy Awards: Tata Rias Terbaik, Tata Suara Terbaik, Editing Efek Suara Terbaik
Texas Chainsaw Massacre ()- 1999 / Kim Henkel / Matthew McConaughey, Rene Zellweger, John Harrison, Tony Parenski, Robert Jacks, Joe Stevens, John Jack, James Gale, Tayler Cone, Lisa Newmyer/ [85 mnt] / Pembuatan ulang - atau tepatnya versi lain - dari film eksploitasi fenomenal tahun tujuhpuluhan berjudul sama ini masih tetap memfokuskan diri pada sebuah keluarga eksentrik, brutal, dan benar-benar gila yang tinggal di sebuah hutan di Texas. Jenny (Zellweger) dan teman-temannya, anak-anak SMU dari kota, adalah medium yang membawa kita pada keluarga ini. Remaja-remaja ini tersesat di hutan dan mulai dikejar-kejar Vilmer (McConnaughy), salah satu anggota keluarga aneh itu. Henkel, salah satu penulis film aslinya, tentu sengaja membuat filmnya mentah dan norak, juga menampilkan Leatherface (Jack) sebagai sebuah tokoh menyedihkan yang tak enak dilihat. Dia tentu berharap daya tarik film ini justru tampil dari nuansa cult dan campy seperti itu, tapi kali ini Henkel benar-benar gagal mengenai sasaran. Modal-modal seperti itu akan menjadi aspek yang menghibur hanya jika disajikan dengan penuh variasi, sementara di sini Henkel menyajikannya dengan sangat satu nada, monoton, dan melelahkan. Catatan : Film ini selesai dibuat sekitar tahun 1996, namun tak ada distributor yang cukup percaya diri untuk mengedarkannya, sampai tiba-tiba McConnaughy dan Zellweger menjadi bintang melalui film-film lain dan memberi suntikan komersial pada film ini. [R]
Texasville (½)- 1990 / Peter Bogdanovich / Jeff Bridges, Cybill Shepherd, Annie Potts, Timothy Bottoms, Cloris Leachman, Randy Quaid, Eileen Brennan, Will McNamara / [123 mnt] Sequel dari “The Last Picture Show” ini mempertemukan lagi Bridges dengan Shepherd dan beberapa tokoh lain. Film ini hadir tanpa benang cerita yang pasti, kita tak akan bisa menebak kapan film ini akan berakhir dan kemana arahnya karena gayanya yang episodik, selain sunyi dan lambat. Sesungguhnya Texasville sangat berhasil dalam melakukan pendalaman karakter tokoh-tokohnya, kadang dengan pendekatan komedi yang cerdas, semua pemainnya pun cukup mendukung untuk hal ini, namun tetap saja film ini tak bisa menjadi tontonan yang sangat mengasyikan. [R]
Thelma and Louise (½)- 1991 / Ridley Scott / Geena Davis, Susan Sarandon, Harvey Keitel, Michael Madsen, Christopher McDonald, Brad Pitt, Stephen Tobolowsky / [128 mnt] Ini adalah salah satu film Hollywood dengan cerita paling mencurigakan di awal dekade ini (ingat, Amerika adalah negara yang waspada sekali terhadap isu sexisme). Kisahnya tentang petualangan dua orang wanita, Thelma Dickinson (Davis) dan Louise Sawyer (Sarandon), yang menjadi buronan polisi setelah Louise membunuh seorang laki-laki yang coba memperkosa Thelma, ditambah lagi dengan perampokan toko yang dilakukan oleh Thelma di perjalanan. Sudah banyak film tentang sepasang buronan seperti ini, masalahnya Thelma dan Louise adalah sepasang wanita dan semua tokoh penting yang berjenis kelamin laki-laki dalam film ini digambarkan secara karikatural atau, kalau tidak begitu, penuh kejelekan (kecuali Hal (Keitel) detektif polisi yang seolah menggambarkan bahwa hanya satu dari seratus laki-laki adalah makhluk berperasaan). Karena itulah skenario dan cerita asli Callie Khouri ini dituduh sexist dan menampilkan feminisme dalam bentuk ekstrim, ditambah lagi penyutradaraan Scott yang malah membuat tuduhan itu menjadi semakin kuat. Terlepas dari hal itu, skenario Khouri memang pantas menjadi bahan pembicaraan, karakterisasi tokoh dan peristiwanya sangat hidup dan potensi visualnya tinggi, walau temanya sangat tradisional. Sementara penyutradaraan Scott kadang-kadang mengagumkan akuratnya namun kadang-kadang malah over-dramatis. Walau filmhya sendiri tampaknya tak akan menjadi legenda seperti “Butch Cassidy and The Sundance Kid” (1973) apalagi “Bonnie and Clyde” (1967), namun akting ultra dinamis duo Geena dan Susan adalah duet klasik sembilanpuluhan yang akan menjadi salah satu kenangan Hollywood dan penikmatnya untuk waktu yang lama. Ketika keduanya sedang tak muncul di layar, beberapa kali perhatian tercuri oleh akting menarik McDonald sebagai suami Thelma yang karikatural dan Pitt sebagai seorang begundal sexy yang “dipungut” Thelma di perjalanan [R]
* Academy Awards: Skenario Asli Terbaik (Khouri)
Theory of Flight (½)- 1997 / Paul Greengrass / Helena Bonham Carter, Kenneth Branagh, Gemma Jones, Holly Aird, Ray Stevenson, Sue Jones Davies / (BRITANIA) / [94 mnt] / Richard (Branagh) berpisah dengan pasangan hidupnya (Jones) dan memasuki saat-saat frustrasi. Dia melakukan beberapa hal bodoh yang menyebabkannya harus menjalani hukuman kerja sosial. Pekerjaan yang harus dijalaninya adalah menjadi pembimbing untuk Jenny (Bonham Carter), wanita dengan kerusakan saraf motorik, berkursi roda, dan sulit dimengerti pembicaraannya. Film ini mencoba menggali hubungan mutual di antara kedua manusia ini, dimulai dengan fase-fase sulit, memasuki babak baru ketika Jane menginginkan sex dan cinta, dan berpuncak saat Richard kembali melakukan hal bodoh dalam bentuk kejahatan lain. Greengrass menjadikan dunia perakitan pesawat terbang ringan sebagai latar dan kadang alegori untuk temanya. Dia begitu sok serius dan sok puitis sehingga film ini terasa monoton sekaligus artifisial, padahal dengan pendekatan yang lebih jujur dan akrab cerita ini bisa dibuat menjadi film yang menarik Kedua pemeran untamanya bermain bagus dan menyelamatkan film dari kerusakan lebih jauh. [R]
There's Something About Mary (½)- 1998 / Peter Farrelly, Bobby Farrelly / Cameron Diaz, Ben Stiller, Matt Dillon, Lee Evans, Chris Elliott, Lia Shaye, Jeffrey Tambor, Markie Post, W.Earl Brown / [mnt] Ketika puluhan roman komedi ringan membanjiri gedung bioskop dunia pada waktu yang hampir bersamaan, tak banyak yang yang mampu menandingi kesuksesan komersial film ini. There's Something about Mary memang termasuk yang paling dikejar penonton, juga yang paling liar dan berani di antara film segenre generasinya. Ted (Stiller, dengan akting komedi yang lumayan) adalah seorang lelaki yang pernah mengalami kencan yang memalukan dan traumatis dengan seorang gadis cantik bernama Mary (Diaz, and there's something about Cameron, too, tentu saja). Setelah dewasa dan lumayan sukses, Ted berusaha melacak lagi Mary lewat bantuan seorang detektif (Dillon, atau Jim Carrey yang gagal?). Tapi Pak Detektif ini ternyata tertarik juga pada Mary dan mulai melancarkan berbagai tipuan. Begitu besarnya daya tarik Mary hingga ternyata bukan hanya kedua orang ini yang melakukan berbagai cara untuk mendekatinya, tinggal sekarang kita menunggu siapa yang akan dipilihnya. Berbagai humor dari yang lunak sampai yang kasar dan cukup ofensif ditumpuk masuk ke dalam film ini, sebagian lucu dan menarik, sebagian lagi hambar atau menyebalkan, jumlahnya kurang lebih seimbang. Kalau begitu, apalagi yang bisa kami berikan selain nilai tengah? [R]
Things to Do in Denver When You’re Dead ()- 1995 / Gary Fleder / Andy Garcia, Christopher Walken, Christopher Lloyd, William Forsythe, Bill Nunn, Treat Williams, Jack Warden, Steve Buscemi, Fairuza Balk, Gabrielle Anwar / [103 mnt] Jimmy The Saint (Garcia) sudah lama meninggalkan kehidupan hitamnya, dia kini menekuni usaha jasa perekaman video bagi orang yang ingin mengabadikan pesan terakhir anggota keluarga yang hendak meninggal. Namun Jimmy tak bisa menolak godaan dollar ketika mantan bossnya yang cacat (Walken) menawarinya pekerjaan untuk menakut-nakuti orang yang berusaha menggangu mantan pacar anak si mantan boss. Untuk mengerjakan pekerjaan ini, Jimmy mengumpulkan lagi geng lamanya yang terdiri dari lima orang termasuk dia. Tumpukan uang sudah di depan mata, sayang, kenyataan tidak seperti yang direncanakan, Bill (Williams), salah satu anggota geng yang agak neurotik, melakukan hal yang fatal yang bisa mengancam keselamatan mereka berlima. Sang Boss tak bisa memaafkan hal ini, Jimmy harus bertindak demi keselamatan dirinya dan orang-orang yang dicintainya. Film berjudul panjang ini hanya salah satu dari sekian banyak film sejenis di masa kebangkitan kembali kejayaan film-film bernuansa kelam seperti ini, dan TtDiDWYD termasuk contoh yang berhasil dalam banyak segi, gaya penceritaan dan penyutradaraan Fedler membuatnya menjadi menarik, walau sesungguhnya ada beberapa bagian dari inti cerita yang kurang mendapat penekanan logika. Akting sang pemeran utama, Garcia, memang begitu-begitu saja dari film ke film dan tidak bisa disebut sangat bagus, namun sulit dipungkiri bahwa orang ini memang simpatik dan kharismatik, sulit untuk tidak menyukainya. Kalau resensi harus memberi pujian pada pemain yang bermain sangat bagus, itu harus dialamatkan pada Balk yang tampil dalam peran kecil sebagai seorang gadis jalanan yang selalu dilindungi Jimmy. Penggemar “Red Rock West” atau “One False Move” adalah segmen pemirsa yang tepat untuk film ini. [R]
Thinner (½)- 1996 / Tom Holland / Robert John Burke, Joe Mantegna, Lucinda Jenney, Michael Constantine, Joey Lens, Kari Wuhrer, Time Winters, John Horton, Ruth Miller / [110 mnt] Lagi-lagi buku Stephen King diadaptasi menjadi film, kali ini berkisah tentang kutukan. Billy (Burke, bermain sangat baik) adalah seorang pengacara yang tak segan bertindak manipulatif dalam bertugas, termasuk dengan melindungi Richie (Mantegna), seorang mafioso di kotanya. Billy juga mempunyai masalah lain: berat badannya mencapai 140 kg. Pada suatu malam, tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita tua gipsi sampai meninggal. Hukum negara memaafkannya, tapi hukum Gipsi tidak! Mulailah “babak baru” dalam hidup Billy, berat badannya mulai susut, pertamanya jelas menggembirakan, namun lama kelamaan Billy mulai sadar bahwa ini adalah kutukan kaum gipsi yang tak dapat dihentikan! Hal paling menarik bagi penonton tentu saja adalah menunggu hari demi hari yang dialami Billy setelah mengalami kutukan. Make up untuk Burke memang tidak spektakuler (bahkan wajah Constantine, tokoh utama Gipsi, malah lebih mengesankan), namun lumayanlah usaha para perias. Film ini juga memang cukup untuk sekedar hiburan yang pahit, walau kaku dan tidak membuat percaya. [R]
Thin Red Line, The ()- 1998 / Terrence Mellick / Elias Kotas, Sean Penn, Adrien Brody, Jim Caviezel, Ben Chaplin, George Clooney, Nick Nolte, John Cusack, Woody Harrelson, Elias Koteas, John Travolta, Jared Leto, Dash Mihok, Tim Blake Nelson, John C. Reilly, Larry Romano, John Savage, Arie Verveen, Nick Stahl, David Harrod, Paul Gleason, Sean Hatosy, Travis Fine, Matt Doran, Thomas Jane / [125 mnt] Sepasukan anak muda Amerika pimpinan Koteas menjalankan misi perebutan sebuah pulau yang telah diduduki Jepang pada PD II. Perintah dari atasan dan suasana medan tak selalu bisa disejalankan, sementara situasi yang pelik membuat para serdadu semakin panik sekaligus kontemplatif. Mallick adalah orang yang memanfaatkan film sebagai media berpuisi, dan Thin Red Line adalah sebuah puisi yang sangat ritmis. Kebrutalan di medan pertempuran berjalan kontras dengan lintasan-lintasan pikiran yang penuh kerinduan di benak para prajurit. Mereka "berada di sana tapi tidak sungguh-sungguh disana", itu poin pertama. Sebagian pemirsa akan sulit menyesuaikan diri dengan temponya yang turun naik secara radikal, namun ketika film ini sedang mencapai puncak intensitasnya, Thin Red Line punya kemampuan untuk menghipnotis siapa saja. Penokohan juga menjadi masalah yang mungkin membingungkan penonton seiring dengan penciptaan kesan bahwa "dalam pertempuran, serdadu tak punya wajah" yang coba ditanamkan. Pendeknya, film ultra-serius ini bukan untuk semua lapisan pemirsa, bahkan bukan untuk semua lapisan penggemar film perang. Di tengah ratusan wajah yang melintas, Nolte menciptakan karakter paling nyaring dengan akting hebat sebagai seorang kolonel text-book. [R]
This Boy’s Life(½)- 1993 / Michael Caton Jones / Robert De Niro, Ellen Barkin, Leonardo di Caprio, Jonah Blenchmann, Eliza Dushku, Chris Cooper, Carla Gugino, Zachary Ansley, Tracey Ellis, Kathy Kinney, Gerrit Graham / [115 mnt] Satu hal yang tidak dimiliki film ini: inti cerita yang khusus! Selain itu, dalam bidang apapun film ini pantas mendapat nilai yang tinggi. This Boy adalah Tobias Wolff, cerita ini diambil dari buku yang ditulisnya yang menceritakan masa usia belasannya (di Caprio) bersama ibunya (Barkin) yang memuja kebebasan dan hidup berpindah dari kota ke kota dari kekasih ke kekasih. Waktu yang paling banyak disoroti film adalah masa-masa kehidupan ibu dan anak ini bersama seorang veteran perang (De Niro) yang berkelakuan kasar dan tidak puas pada dirinya sendiri. Fotografi, tata artistik, dan semua unsur film lainnya terselenggara dengan mulus berkat komando Caton-Jones yang sangat teliti. Sementara itu, De Niro dan Barkin bisa dibilang bermain sempurna, itu bukan berita utama, karena lihatlah di Caprio, waktu beberapa belas tahun hidup di dunia ternyata sangat cukup untuk membuatnya bisa berakting sebagus itu. Film yang bagus, untuk banyak alasan. [R]
Thomas Crown Affair, The (½) - 1999 / John McTiernan / Pierce Brosnan (prd.), Rene Russo, Denis Leary, Ben Gazzara, Faye Dunaway, Frankie Faison, Fritz Weaver, Charles Keating, Mark Margolis, Michael Lombard / {AMERIKA SERIKAT - REP. IRLANDIA} (113 mnt) Pembuatan ulang dari film berjudul sama produksi tahun 1968 ini masih bercerita tentang seorang pria tampan kaya raya, Thomas Crown (Brosnan), yang dengan sedemikian isengnya mencuri lukisan Monet dari sebuah museum di siang bolong, hanya karena dia merasa senang melakukan itu! Chaterine Banning (Russo) yang bekerja untuk perusahaan asuransi museum ini adalah orang pertama yang mengarahkan kecurigaan pada Crown. Usaha yang dilakukan Banning kemudian adalah sebuah petualangan berbahaya bermata dua - atau tiga, empat, atau entah berapa - yang dimulai dengan mendekatkan dirinya secara pribadi pada Crown. Maka terlibatlah kedua sosok penuh muslihat ini dalam permainan berlumur ambisi, birahi, dan nafsu-nafsu lain. Keduanya saling memanfaatkan dan saling mengintai sambil terus terlibat dalam rangakaian adegan erotis. Kisah yang sangat legit ini difilmkan McTiernan dengan pemanfaatan maksimal terhadap segala ornamen kemewahan yang bisa dimunculkan, dari mulai properti, cara kameranya bergerak, sampai tubuh telanjang Brosnan dan Russo. Sang sutradara juga mungkin bisa disalahkan menyangkut begitu mudah ditebaknya arah cerita film ini, McTiernan begitu jatuh cinta pada setiap bagiannya hingga dia seakan tak berkeberatan membiarkan bocoran-bocoran yang terekspos lebih awal dalam skenarionya. Brosnan dan Russo tak melakukan hal istimewa yang berkaitan dengan teknik akting, namun tak diragukan lagi sosok mewah mereka adalah pilihan yang mendekati sempurna untuk menciptakan Thomas Crown dan Chaterine Banning. [R]
Thousand Acres, A()- 1997 / Jocelyn Moorhouse / Jessica Lange, Michelle Pfeiffer, Jason Robards, Jennifer Jason Leigh, Colin Firth, Keith Carradine, Kevin Anderson, Pat Hingle, Ray Baker, John Carroll Lynch, Anne Pistoniak, Vito Ruginis / [105 mnt] Ini adalah satu dari sedikit melodrama Hollywood di tahunnya yang memberikan sesuatu yang benar-benar tentang manusia (itupun lahir dari tangan seorang sutradara Australia). Kisahnya diambil dari novel pemenang Pullitzer karya Jane Smiley tentang tiga kakak beradik yang tinggal di sebuah wilayah perkebunan. Ginny (Lange) tidak mempunyai anak, Rose (Pfeiffer) hanya memiliki sebelah payudara, dan Caroline (Leigh) adalah seorang pengacara yang tinggal jauh dari kedua kakaknya. Permasalahan ketiga kakak beradik ini tak pernah jauh dari persoalan tanah perkebunan yang mereka tinggali, intrik tentang laki-laki, dan terutama segala sesuatu yang diberikan ayah mereka, Larry (Robards), baik berupa trauma dari masa lalu, kerumitan di masa kini, dan masa depan yang sulit diduga. Dengan materi cerita yang sangat membumi tentang pahit manis kenyataan hidup, Moorhouse membuat rangkaian tragedi ini tidak menjadi sebuah film yang over-cute atau over-sentimental, namun skenario Laura Stone mempunyai tempo yang tidak begitu enak dinikmati, kadang melompat-lompat dan kadang terlalu lambat. Duet “high-class”, Lange-Pfeiffer, menunaikan tugas mereka untuk membuat kita tak ingin mengeluh tentang apapun, dan aktor veteran Robards mencuri beberapa adegan dengan sempurna dalam film yang sesungguhnya bisa dibuat sempurna untuk penggemar melodrama. [R]
Three Colors: Blue ( lihat: Blue )
Three Musketeers, The (½)- 1994 / Stephen Herek / Chris O’Donnell, Charlie Sheen, Kiefer Sutherland, Oliver Platt, Tim Curry, Rebecca de Mornay, Gabrielle Anwar, Michael Wincott, Paul McGann / [105 mnt] Versi film terbaru dari petualangan D’Artagnan (O’Donnell) yang ingin menjadi seorang musketeer (pasukan pembela Raja Prancis abad pertengahan) yang sebenarnya telah dibubarkan ini mempunyai tata artistik dan kostum yang sangat bagus, namun aspek lainnya di bawah rata-rata dan penuh romantisme Hollywood.. Selain itu, dengan mengcualikan Sutherland (sebagai Amos), semua aktor utamanya bermain jelek [PG-13]
Three of Hearts (½)- 1994 / Yurek Bogayevicz / William Baldwin, Sherilyn Fenn, Kelly Lynch, Joe Pantoliano, Gail Strickland, Cic Verrell, Claire Callaway / [102 mnt] Ceritanya cukup menarik, seorang lesbian (dimainkan dengan simpatik oleh Lynch) yang ditinggalkan kekasihnya (Fenn) dan kemudian menyewa seorang gigolo (Baldwin, bermain sebaik Lynch) untuk menyakiti hati kekasihnya itu agar kepercayaannya terhadap laki-laki hilang dan kembali padanya. Rencana itu gagal total, sang gigolo dan korbannya malah saling jatuh cinta. Film yang serba tanggung dalam usaha untuk menjadi apapun, tak ada yang benar-benar dapat dicapai secara maksimal untuk memuaskan penonton, walau tidak juga begitu mengecewakan. Catatan: Versi laser disc film ini memuat dua ending yang berbeda. Ending yang kita saksikan di bioskop-bioskop Indonesia malangnya adalah ending yang lebih payah dan murahan, sementara yang satunya lagi justru lebih mengena dan memberikan pilihan. [R]
Threesome ()- 1994 / Andrew Fleming / Lara Flynn Boyle, Stephen Baldwin, Josh Charles, Alexis Arquette / [95 mnt] / Alex (Boyle) terpaksa harus kost bersama dua orang pria, Eddie (London) dan Stuart (Baldwin). Dua pria, satu wanita, dan mereka hidup dalam dunia yang sangat bebas, anda bisa menduga apa yang akan terjadi, ménage á trois. Tapi jangan dulu menebak bahwa Alex akan bermain dengan dua pria sekaligus, karena Eddie tampaknya adalah seorang gay. Kalau saja film ini dibuat duapuluh tahun lebih awal, mungkin film ini akan menjadi terkenal dan kontroversial. Namun di pertengahan sembilanpuluhan, cerita seperti ini tidak cukup liar, walau kata “threesome” benar-benar diterjemahkan secara visual dalam beberapa adegan, sebuah film tetap membutuhkan modal lain untuk menjadi terkenal atau kontroversial, dan film ini tak punya cukup modal. Caranya bertutur sangat kaku hingga topik yang menarikpun tak bisa menjadi lebih menarik lagi walau cara pandangnya terhadap segala sesuatu sesungguhnya cukup original dan segar (juga kadang murni ngeres jika sedang kehabisan akal). Charles bermain cukup baik, Boyle dan Baldwin juga tidak jelek, bahkan mungkin berlebihan menyebut mereka overakting, mereka hanya “kelebihan energi”. [R]
Thursday ()- 1998 / Skipp Eckwood / Thomas Jane, Aaron Eckhart, Paulina Porizkova, James LeGros, Paula Marshall, Michael Jeter, Mickey Rourke, Glenn Plummer / [93 mnt] Thursday adalah satu hari dalam kehidupan Jane, laki-laki yang mencoba hidup bersih dengan masa lalu hitam. Kedatangan teman lamanya (Eckhart) bersama setumpuk kokain dan sejumlah orang-orang aneh bisa membuat kehidupan Jane kacau lagi. Apakah Jane akan menyelamatkan ketenangannya atau merasa telah tanggung mengikuti permainan Eckhart dan kawan-kawan? Semuanya terjawab dalam satu hari, hanya satu hari dan tak ada yang membosankan dalam film keras yang eksentrik ini. Eckwood memaksimalkan setiap kejutan dan hentakan semenarik mungkin, inilah salah satu yang paling enak dinikmati dari generasi “Post-Tarantinisme” yang mulai lelah. Setiap orang bermain bagus dalam film ini, Jane dan Eckhart adalah pusatnya, namun Porizkova yang sudah lama menghilang dari peredaran mencuri beberapa adegan lewat penampilan kharismatik sebagai seorang penjahat supersexy yang sayangnya muncul sangat sebentar. [R]
Tie that Binds, The (½)- 1995 / Wesley Strick / Keith Carradine, Darryl Hannah, Moira Kelly, Vincent Spano, Julia Devin, Cynda Williams, Bruce A. Young, Ned Vaughn, Jenny Gago, Carmen Argenziano, Willie Geson / [106mnt] Setelah tertangkap polisi ketika kedua orangtuanya merampok, Jane (Devin), seorang gadis kecil dmasukan ke sebuah panti pendidikan anak-anak dan dipelihara oleh sepasang suami istri muda (Kelly dan Spano). Namun tentu saja Jane tak bisa dengan mudah beradaptasi dengan kehidupan baik-baik pasangan ini, dia juga tak bisa melupakan kedua orangtuanya dengan mudah, itu bukan masalah besar, namun bagaimana jika kedua orangtuanya yang brutal itu (Hannah dan Carradine) yang tak bisa melupakannya? Itu masalah besar untuk Kelly dan Spano. Fotografi Robert Bukowsky penuh atmosfir memikat dan para pemain dewasanya bermain memuaskan (akting si kecil Devin tampaknya kurang tertangani dengan baik), namun ceritanya berkisar dari mudah diduga ke klise. [R]
Time Bomb Terminator ()- 1990 / Avi Nesher / Michael Biehn, Patsy Kensit, Tracy Scoggins, Robert Culp, Raymond St.Jacques, Richard Jordan, Billy Blanks, Ray Mancini / [96mnt] Seorang pembuat dan ahli reparasi jam (Biehn) berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan oleh sekelompok orang asing dan aneh, dia tidak tahu bahwa dia sebenarnya punya kekuatan untuk bisa melawan orang-orang yang sebenarnya punya hubungan dengan masa lalunya yang hilang dari ingatannya. Dia menculik seorang psikiater (Kensit) yang dianggap bisa menjelaskannya. Film ini punya banyak kejutan dan ketegangan, spesial efeknya, dan juga penampilan Biehn cukup banyak membantu. Namun keutuhan bangunan dramatiknya tidak selalu terjaga dan juga ditata dengan sangat lambat sehingga kejutan dan ketegangannya tak akan memberi kesan yang kuat pada penonton. Tidak jelek, hanya sedikit di bawah rata-rata. [R]
Time Served ()- 1999 / Glen Pitre / Catherine Oxenberg, Jeff Fahey, Louise Fletcher, Bo Hopkins, James Handy, Larry Manetti, Lourdes Colon, Scott Schumacher, Zach Gray, Maureen Steindler / (90 mnt) Oxenberg berperan sebagai Sarah, seorang ibu yang dijebloskan ke penjara karena mengaku telah melakukan pembunuhan yang sesungguhnya dilakukan oleh anaknya. Di dalam penjara, Sarah menemukan kehidupan yang sangat busuk, penjara wanita itu memaksa para napinya yang berpenampilan menarik untuk menjadi penari striptease - atau lebih dari itu - di sebuah klub malam, Sarah yang mempunyai tubuh lumayan sexy tentu termasuk dalam program itu. Untuk ukuran sebuah film eksploitasi murahan seperti ini terus terang saja film ini sama sekali tidak jelek, Pitre tidak membuat filmnya menjadi sok serius dan para pemain pun - terutama Fahey sebagai pengacara protagonis dan Hopkins sebagai seorang hakim antagonis - berhasil menyesuaikan diri dengan banyolan dingin film ini. Sayangnya, film ini masih menyempatkan diri berkutat terlalu intens dengan beberapa masalah yang terlalu "dibikin berat" hingga masih terasa agak malu-malu untuk menjadi sajian campy yang full norak dan fulI menyenangkan. [R]
Tin Cup (½)- 1996 / Ron Shelton / Kevin Costner, Rene Russo, Cheech Marin, Linda Hart, Don Johnson, Dennis Barkley, Rex Linn, Lou Myer, Richard Lubeck, Micky Jones, Michael Milharn, George Perez / [131 mnt] Roy (Costner) adalah seorang golfer flamboyan, dia tak pernah mempunyai kesulitan dalam urusan wanita, kecuali ketika dia menghadapi Dr. Ringwold (Russo), psikiater yang berlatih golf padanya. Masalah terbesar adalah Nick (Johnson), pacar sang psikiater yang kebetulan adalah seorang pegolf pro. Shelton dan Costner bereuni setelah “Bull Durham”, kali ini dalam film yang lebih romantis yang sayangnya tidak semenggigit “BD”, film yang juga bercerita seputar atlet dan cinta. Tin Cup sangat manis, sangat manis sampai-sampai kita harus memuntahkan lagi sebagian. Memang tak terlalu mengecewakan, apalagi dengan penampilan bagus Costner yang - jika bermain jelek pun - selalu sulit ditahan daya tariknya. Sementara Russo lumayan berhasil mengimbanginya, walau aktris pop tetap aktris pop yang tak pernah teruji menerjang resiko akting yang menantang. [R]
Titanic ()- 1997 / James Cameron / Leonardo di Caprio, Kate Winslet, Billy Zane, Bill Paxton, Jonathan Hyde, Kathy Bates, Suzy Amis, Frances Fisher, Gloria Stuart, Bernard Hill, David Warner, Victor Garber, Lewis Abernathy, Nicholas Cascone, Dr Anatoly M Sagalevitch / [194 mnt] Titanic, sebagai sebuah kapal atau sebagai sebuah film, memenuhi segala macam persyaratan untuk masuk dalam daftar raksasa terrakus dalam abad ini. Magnum opus Cameron ini dengan mudah menenggelamkan semua film di zamannya secepat Atlantik menenggelamkan Titanic, kapal penumpang nomor dua paling terkenal setelah Perahu Nuh. Kronologi bencana transportasi legendaris ini bungkus membungkus dengan fiksi cinta usang antara seniman muda yang dekil dengan gadis kaya yang tak mencintai tunangannya. Mana yang lebih diperdulikan penonton? Entahlah. Pecandu kebesaran Hollywood mana yang tak akan terpuaskan oleh anggaran di atas US$ 200.000.000,00? Kesederhanaan jiwa pop mana yang sanggup menahan godaan Pangeran Leo dan Putri Kate? Kisah James dan Ruth bisa membuat sebagian pemirsa menangis, tapi film seperti ini juga akan dengan mudah menciptakan lapisan kecil orang yang menanggapinya dengan sinis. Yang jelas segala kemegahan teknis film ini akan mampu membuat semua penonton terbelalak walau beberapa di antaranya akan menertawakan bumbu romantismenya. Pemerhati serius yang sudah tanggung merasa sebal pada film seperti ini mungkin akan mencapai puncak kemuakan mereka jika kelak film ini melegenda seperti kapalnya. Namun agak berlebihan jika mengatakan bahwa karya Cameron ini tak punya apa-apa selain ukuran badan dan pundi-pundinya, tak banyak film seperti ini. Paling tidak, adegan patahnya Titanic sampai berdiri secara vertikal adalah salah satu adegan musibah paling spektakuler yang pernah muncul di layar perak. [R]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Cameron), Tata Kamera Terbaik, Editing Terbaik, Tata Artistik Terbaik, Tata Suara Terbaik, Efek Suara Terbaik, Efek Visual Terbaik, Golden Globe: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Cameron)
To Die For (½)- 1995 / Gus van Sant / Nicole Kidman, Matt Dillon, Joaquin Phoenix, Casey Affleck, Allison Foland, Illeana Douglas, Kurtwood Smith, Dan Hedaya, Susan Traylor, Wayne Knight, Buck Henry / [108 mnt] Suzanne Stone (Kidman) adalah seorang wanita muda yang terobsesi oleh keinginannya menjadi selebriti di bidang pertelevisian. Untuk mengejar cita-citanya dia tega membujuk seorang anak SMU yang lugu (Phoenix) dengan rayuan sexual untuk membunuh suaminya (Dillon), yang dianggap penghalang terbesar dalam karirnya. Film ini disampaikan lewat narasi yang mendahului adegan-adegan kilas balik, sinismenya selalu kena, humor gelapnya selalu tepat, semua digambarkan lewat gaya penyutradaraan ironis ala van Sant yang dipenuhi skema warna-warna yang berani. Namun sayangnya skenario yang ditulis Henry (yang memerankan seorang guru) tidak selalu bisa membuat penonton selalu terlibat di dalamnya, dan semua sisi menarik yang kita temukan dari menit ke menit membuat film ini berjanji begitu banyak, namun tak pernah memenuhinya sampai berakhir. Film ini juga boleh disebut sebagai film yang “secara resmi” membuat nama Kidman terdaftar dalam golongan eksklusif aktris elite yang memiliki penggemar khusus yang mungkin bersedia to die for idolanya, dia belum pernah (lagi) bermain sebagus ini. Phoenix dan Folland (sebagai gadis SMU yang juga terlibat) bermain sangat bagus mendampinginya. Kisah serupa pernah difilmkan dalam “The Murder in New Hampshire. The Pamela Smart Story”, tidak ada keterangan apa hubungan antara kedua film ini. Catatan kecil: Sutradara radikal Kanada, David Cronenberg, tampil sebentar sebagai orang terakhir yang bertemu Suzanne. [R]
* Golden Globe: Aktris Terbaik Musikal/Komedi (Kidman)
Tombstone (½)- 1993 / George P.Cosmatos / Kurt Russell, Val Kilmer, Dana Delany, Michael Biehn, Powers Boothe, Robert Burke, Sam Elliott, Stephen Lang, Terry O’Quinn, Joana Pacula, Bill Paxton, Jason Priestley, Michael Rooker, Jonathan Tenney, Dana Wheeler Nicholson, Billy Zane, Buck Taylor, Harry Carey, jr., Thomas Arana, Thomas Haden Church, John Corbett, Pedro Armendariz, jr., Frank Stallone, Billy Bob Thornton, Cecil Hoffman, Charlton Heston, Narrator : Robert Mitchum / [128 mnt] Sebagai epik western tentang Wyatt Earp, Tombstone muncul berdesakkan dengan “Wyatt Earp” versi Kasdan-Costner (yang akhirnya mengalah dan mengundurkan masa edarnya). Versi Cosmatos ini adalah versi yang lebih renyah tentang salah satu episode hidup Earp. Penegak hukum legendaris ini datang ke Tombstone bersama para saudaranya, di sana dia bertemu sahabat lamanya, si eksentrik Doc Holliday yang tersiksa TBc, dan akhirnya mereka terlibat dalam banjir darah di O.K Corral melawan The Clantons (di sini grup ini merupakan bagian dari geng yang lebih besar, The Cowboys). Walau beberapa “kecerdikan” ala Hollywoodnya agak menyebalkan, namun secara keseluruhan Tombstone jauh lebih berhasil daripada “WE” untuk menjadi sebuah film yang menghibur, setidaknya sampai ¾ bagiannya, karena menjelang akhir film ini memberikan terlalu banyak klimaks dan anti klimaks yang cukup melelahkan, bahkan tak akan ada ruginya kalau anda pergi sekitar 15 menit sebelum film berakhir. Berbeda dari Kasdan pada “WE”, Cosmatos tidak menitik beratkan filmnya pada kemegahan walau deretan pemainnya bisa membuat orang berpikir bahwa ini adalah film kolosal, dia lebih condong memperlakukan kisah hidup Earp sebagai sebuah kisah penuh aksi yang layak dinikmati. Russell memimpin geng para pemain dengan baik, sementara Kilmer memanfaatkan setiap peluang untuk bersinar lewat karakter unik Doc Holliday, walau dia harus rela dibanding-bandingkan dengan Dennis Quaid yang mendapat skenario yang lebih wajar dalam “WE”. [R]
Tomorrow Never Dies (½)- 1997 / Roger Spottiswoode / Pierce Brosnan, Jonathan Pryce, Michelle Yeoh, Teri Hatcher, Judi Dench, Desmond Llewelyn, Samantha Bond, Gotz Otto, Joe Don Baker, Ricky Jay, Geoffrey Palmer, Colin Salmon, Terence Rigby, Vincent Schiavelli / {AMERIKA SERIKAT - BRITANIA} (119 mnt) Film kedua Brosnan sebagai James Bond ini menghadapkannya dengan Elliott Carver (Pryce), megalomaniak yang ingin menguasai bisnis media di seluruh dunia - sesuatu yang pada akhirnya berarti menguasai dunia - dengan cara-cara yang kotor. Sang Agen 007 tentu menghadapinya dengan berbekal peralatan-peralatan berdaya kerja mencengangkan (termasuk mobil yang jelas-jelas terinspirasi oleh mobil Batman), kali ini untuk pertama kalinya dia berpartner dengan wanita Asia, sexy nan perkasa (Yeoh, aktris Malaysia/Hongkong). Tomorrow Never Dies menempatkan Bond dalam hubungan yang semakin menarik dengan rekan-rekan abadinya (Q, M, Miss Monneypenny), dan mempertahankan hubungan klise dengan wanita-wanita di sekitarnya, lalu film mulai bergerak semakin cepat menjadi sebuah tontonan full-action yang tak mengenal lelah dengan adegan-adegan stunt yang menakjubkan, dialog-dialog pendek yang menusuk, tempo yang mirip lagu trash metal, dan editing yang fenomenal. Lalu tiba-tiba semua berakhir cepat seperti api disiram air. Semua yang ada dalam film ini bisa mencengangkan kita, namun setelah kita meninggalkan bioskop atau mematikan disc-player, kita hampir tak punya sesuatu untuk dibicarakan dengan teman menonton kita, dan keesokan harinya kita telah lupa apa saja yang kita lihat kemarin dalam film ini.. [PG-13]
Torrents of Spring (½)- 1990 / Jerzy Skolimovski / Timothy Hutton, Nastassia Kinski, Valeria Golino, William Forsythe, Francesca de Sapio, Urbano Barbelli / (PRANCIS - ITALIA - POLANDIA) / [101 mnt] Film ini adalah adaptasi dari novel Ivan Turgenev berjudul sama tentang Dmitri Sanin (Hutton), seorang pria Rusia abad ke sembilanbelas yang terperangkap rasa cintanya sendiri untuk dua wanita Amerika, Gemma (Kinski) dan Maria (Golino), tanpa bisa mendapatkan satupun. Beberapa adegan dalam film ini direalisasikan dengan sangat bagus, namun secara umum lambatnya tempo penceritaan dan tidak meyakinkannya akting Hutton dan Kinski menjadi cacat yang cukup mengganggu. [PG-13]
Total Eclipse ()- 1995 / Angelišzka Holland / Leonardo di Caprio, David Thewlis, Romane Bohringer, Dominique Blanc, Nita Klein / (PRANCIS-BRITANIA-BELGIA-AMERIKA SERIKAT) / [110 mnt] Kapan anda terakhir melihat film tentang penyair terkenal? Kalaupun pernah, pasti sudah lama sekali sebelum Total Eclipse, film yang bercerita tentang kisah “persahabatan” Arthur Rimbaud (di Caprio), salah satu penyair paling revolusioner dalam sejarah kesusasteraan Prancis, dengan Paul Verlaine (Thewlis), penyair biseksual yang lebih senior. Rimbaud, bakat sensasional yang menulis masterpiece-masterpiecenya dalam usia antara limabelas dan sembilanbelas tahun (setelah itu dia berhenti menulis karena merasa “tidak menemukan apa yang dicari”), adalah sebuah pribadi yang sangat rumit, begitu juga dengan hubungan bertahun-tahunnya dengan Verlaine. Penyutradaraan Holland, sutradara Polandia yang pernah diasingkan pemerintah negerinya, berhasil membuat film ini sangat artikulatif walau skenario Christopher Hampton tampaknya tidak terlalu tertarik untuk menggali hal-hal yang terlalu dalam dari psikologi karakter dan masalahnya. Di Caprio termasuk aktor yang sangat beruntung karena dalam usia semuda itu dia telah mendapatkan banyak kesempatan untuk memerankan peran-peran yang menantang, seperti biasa di sini juga dia melakukannya dengan baik walau sering tenggelam oleh akting Thewlis yang bermain luar biasa.
Total Recall ()- 1990 / Paul Verhoeven / Arnold Schwarzenegger, Rachel Ticotin, Sharon Stone, Rony Cox, Michael Ironside, Marshall Bell, Mel Johnson.Jr / [109 mnt] Fiksi eksentrik ini (mungkin) sengaja dibuat tanpa membangun dinding pemisah antara ilusi dengan kenyataan. Ceritanya berkisar tentang sebuah proyek perealisasian ilusi yang menawarkan wisata ke Mars lewat impian tiga dimensi. Plot yang samar sangat mungkin membingungkan penonton, mungkin memang itu yang diinginkan Verhoeven. Yang jelas, TR akan bisa menarik minat penonton untuk terus memperhatikannya, terutama karana spesial efek dan tata riasnya yang hampir sempurna dalam membangun imejnya, film ini juga punya selera humor yang menghibur. Hit besar ini muncul mengikuti “Terminator 2: Judgment Day” yang juga menampilkan Arnie, dan dalam beberapa segi, TR jauh lebih segar dan menarik. [R]
* Academy Awards: Efek Visual Terbaik
Touch (½)- 1997 / Paul Schradder / Skeet Ulrich, Bridget Fonda, Christopher Walken, Tom Arnold, Janneane Garofalo, Lolita Davidovich, Gina Gershon, Paul Mazursky / [110 mnt] Juvenat (Ulrich) adalah seorang pemuda yang dikaruniai keajaiban pada sentuhannya yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Walken sangat tertarik untuk menjadikan dia selebritis yang bisa menghasilkan banyak uang, untuk itu dia mengandalkan asistennya (Fonda), yang akhirnya malah saling tergila-gila dengan Juvenat. Setelah menemukan gadis impiannya, perlahan-lahan Juvenat mulai kehilangan minatnya dan akhirnya kehilangan sentuhan ajaibnya. Apa yang akan terjadi kemudian? Film ini mencoba untuk menciptakan berbagai kejutan yang bisa hadir bersama-sama dengan humor, cukup berhasil pada beberapa bagian, cukup gagal pada bagian-bagian lain, bumbu sinisme tentang fundamentalisme agama dan dunia penyiaran juga tak seluruhnya menggigit. Musik ditata oleh Dave Grohl, vokalis/gitaris Foo Fighters, yang juga bekas drummer Nirvana, grup legenda “Generation-X”. [R]
Touch Me ()- 1997 / H. Gordon Boos / Amanda Peet, Michael Vartan, Peter Facinelli, Kari Wuhrer, Erica Gimpel, Jamie Harris, Greg Louganis, Stephen Macht / (107 mnt) Melodrama ini menceritakan roman seorang penderita AIDS (Peet) dengan pria yang mencoba untuk mengerti. Hubungan mereka sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang dipenuhio oleh teman-teman dari berbagai tipe. Booos mencoba menulis dan menyutradarai dengan perspektif, namun dia tak tahu bagaimana membebaskan diri dari kesan melankolis yang berlebihan. [R]
Tower of Terror () - 1997 / D.J. MacHale / Steve Guttenberg, Nia Peeples, Michael McShane, Kirsten Dunst, John Franklin, Shira Roth / {Film Televisi} (113 mnt) Sebuah hotel tua menyimpan begitu banyak misteri di dalamnya. Seorang fotografer (Guttenberg) dan keponakannya (Dunst) diundang seorang wanita misterius (Roth) untuk memasuki dunia supranatural hotel ini. Film horor yang cute dan sentimental. [PG]
Traces of Reds ()- 1993 / Andy Wolk / James Belushi, Tony Goldwyn, Lorraine Bracco, William Russ, Michelle Joyner/ [105 mnt] Seorang calon senator (Russ) mengedapankan sebuah misteri pembunuhan, kecurigaan utama sempat tertuju pada seorang janda (Bracco dalam salah satu penampilan terburuknya) yang punya affair gelap dengannya. Penyidikan dilakukan oleh seorang detektif (Belushi) adik sang senator, yang kemudian sempat berselisih dengan partnernya (Goldwyn) sebelum keduanya mengungkap bahwa dalang pembunuhan itu ternyata tidak begitu susah dicari. Ceritanya padat konflik yang rumit, Belushi bermain baik sebagai polisi yang mempunyai trauma sexual di masa kecil. Penyutradaraan dan editing film ini menghancurkan sendiri daya tarik ceritanya dengan pengemasan yang terganggu kesinambungannya. [R]
Trainspotting ()- 1996 / Danny Boyle / Ewan McGregor, Ewen Bremmer, Kevin McKidd, Jonny Lee Miller, Robert Carlyle, Kelly McDonald, Peter Mulan, Irvine Welsh, James Cosmo, Eilleen Nicholas, Susan Vidler, Pauline Lynch, Shirley Henderson, Keith Allen / (BRITANIA) / [120 mnt] Film Britania paling fenomenal dalam dekade terakhir abad XX ini adalah sebuah black comedy berbentuk jurnal hari-hari seorang pemuda kelas pekerja Skotland bernama Mark Renton (McGregor, yang langsung menjadi simbol aktor muda Britania untuk generasinya, ganjaran yang setimpal untuknya) dalam menjalani kehidupan masa muda yang selalu berhubungan dengan obat bius, loyalitas dilematik, dan keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Cerita yang diadaptasi dengan sangat cerdas oleh John Hodges dari novel Irvine Welsh (bermain juga sebagai Mickey Foster) memperkenalkan Renton dalam kekiniannya yang seolah selalu mempunyai jarak dengan masa kecil apalagi dengan masa depannya Kita boleh membandingkannya dengan “Drugstore Cowboys” dan “Basketball Diaires”, dan dibanding dua film bertema serupa itu, Trainspotting secara tematis memang tidak jauh lebih menggigit, namun penyutradaraan Boyle membuat film ini mempunyai kekuatan yang besar dan langka. Bersenjatakan surrealisme yang luwes dengan simbolisme yang tak dipaksakan untuk mendukung potret realisme yang tajam dengan penggalian psikologis berlatar tinjauan sosial atas sebuah lingkungan kecil, sulit sekali mencari sesuatu yang tak memuaskan dari film ini. Penata kameranya, Brian Tufano, mencapai prestasi kerja pribadi yang boleh dibilang spektakuler. Jika Amerika punya “Pulp Fiction” sebagai monumen film karya generasi alternatif sembilanpuluhannya, maka Britania punya Trainspotting, film yang turut menjadi agen invasi budaya generasi muda kelas menengah Britania ke seluruh penjuru dunia pada pertengahan dekade ini, agen yang berkriteria wajib tonton untuk penggemar film bagus yang perduli pada perkembangan zaman dan masalah generasinya. Selain McGregor, dua alumni lainnya, Carlyle dan Lee Miller juga langsung melompat ke deretan papan atas aktor muda Inggris akhir abad ini. Catatan kecil film ini juga menghasilkan soundtrack yang membuat Brit-Pop dan Electronica semakin menggebu, diisi oleh Underworld, Primal Scream, Lou Reed, Pulp, Sleeper, Elastica, Iggy Pop, Blur dll.
Trigger Effect ()- 1996 / David Koepp / Kyle McLachlan, Elisabeth Shue, Dermott Mulroney, Richard Jones, Bill Smitrevich, Michael Rooker / [110 mnt] Pernahkah anda menyaksikan drama thriller yang melulu bercerita tentang apa yang akan terjadi jika aliran listrik di sebuah kota kecil mati selama empat hari? Jika belum, tontonlah film ini. Itulah yang diceritakannya, dengan mengambil kacamata masyarakat-masyarakatnya dalam melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Fokus utamanya adalah kehidupan sepasang suami istri muda (McLachlan dan Shue) serta seorang teman mereka (Mullroney) dan apa yang mereka lakukan selama empat hari itu. Tidak semua tawaran ceritanya bisa dipercaya dan memang seakan tak ada cukup bahan yang bisa membentuk sebuah cerita yang berarti, namun penyutradaran meyakinkan Koepp, dialog-dialog yang wajar dan tajam, serta permainan yang bagus para pemainnya membuat film ini cukup berharga untuk ditonton. Simak juga sekuen awal yang sangat menarik. [R]
Trees Lounge ()- 1997 / Steve Buscemi / Steve Buscemi, Chlöe Sevigny, Mark Boone Junior, Anthony LaPaglia, Elizabeth Bracco, Eszter Balint, Carol Kane, Daniel Baldwin, Mimi Rogers, Deby Mazar, Michael Imperioli, Seymour Cassel, Samuel L. Jackson / [91 mnt] Buscemi, salah satu aktor generasi sembilanpuluhan yang paling aktif dan konsisten, akhirnya melakukan sesuatu yang pantas dilakukannya: menyutradarai. Dia bercerita tentang Tommy, diperankannya sendiri, seorang laki-laki yang sangat biasa dengan harapan-harapan yang biasa pula. Tommy setiap hari nongkrong di Trees Lounge, sebuah café tempat berkumpul karakter-karakter yang akhirnya menjadi pewarna film ini. Orang seperti Buscemi sudah pasti mampu membuat film seperti ini, segar, lugu, humoris, instropektif, dan kaya insight. Jujur saja, ini adalah film dengan kerenyahan yang sempurna. Namun dengan sangat disesalkan, Buscemi begitu pesimistis sehingga membuatnya berakhir begitu cepat ketika sesuatu yang benar-benar pantas dikenang belum muncul. Mungkin pantas untuk ½ jika ada sedikit tambahan durasi, dan  jika ada tambahan durasi dan substansi. [R]
Trial of the Pig (lihat: The Advocate)
Trial of the Serial Killer (lihat: Deceiver)
Trois Couleurs: Bleu (lihat: Blue)
Tromeo & Juliet (½)- 1997 / Lloyd Kaufman / Jane Jensen, Will Keenan, Valentine Miele, Maximillian Shaun, Steve Gibbons, Sean Gunn, Danny Rochan / [91 mnt] Setelah beberapa tahun bungkam, Troma, studio spesialis film eksploitasi, akhirnya gatal juga untuk melanjutkan tradisi kegilaannya. Kali ini mereka kembali merambah parodi, dengan film hit Baz Luhrman sebagai korbannya. Kisah cinta paling legendaris sepanjang zaman ini didorong sampai ke titik yang mampu mengetes toleransi anda terhadap kadar kesintingan dalam sebuah film. Di tangan orang lain, parodi cenderung berarti komedi, di tangan Kaufman dan gengnya, parodi adalah pameran sadisme, rangkaian adegan seks, incest, tentu dalam penyimpangan plot yang diisi oleh suasana neurotis, tokoh-tokoh mengerikan, dan dialog-dialog yang tak akan anda ucapkan di depan umum. Nilai ½ terpaksa kami berikan, karena toh selera anda akan dengan mudah mengubahnya menjadi berapa saja, dari yang berarti “menjijikan” sampai “enak, gila!”, yang jelas kecil kemungkinan anda memberi nilai “biasa-biasa” untuk film seperti ini. Komentar yang paling menarik untuk didengar mungkin bukan dari resensi ini, bukan juga dari anda, bukan dari Kaufman, bukan juga dari Luhrman, melainkan dari Pak William sendiri (di sini namanya dijadikan merek penerbit CD-room porno). Ah, andai saja dia masih sempat menonton! [NC-17]
Trouble Bound ()- 1992 / Jeffrey Reiner / Michael Madsen, Patricia Arquette, Seymour Cassel, Florence Stanley, Sal Jenco, Darren Epton, Billy Bob Thornton / [90 mnt] Madsen bermain sebagai seorang penjudi yang berada dalam pelarian, dia bertemu Arquette, seorang pelayan kafe yang kemudian ikut menumpang dengannya. Keadaan kemudian menjadi semakin kacau dan tak terduga. Film yang bertempo tinggi dan brutal, namun sering terkesan bodoh walau Madsen dan Arquette bermain lumayan bagus. [R]
True Romance (½)- 1993 / Tony Scott / Christian Slater, Patricia Arquette, Dennis Hopper, Gary Oldman, Michael Rappaport, Bronson Pinchot, Christopher Walken, Brad Pitt, Val Kilmer, Saul Rubinek, Chris Penn, Samuel L. Jackson, Tom Sizemore, James Gandolfini, Conchata Ferrel, Victor Argo, Anna Thomson, Paul Bates / [100 mnt] Contoh lain dari tipe film laga dari generasi sembilanpuluhan ini bercerita tentang Clarence (Slater) dan pacarnya Alabama (Arquette), seorang bekas pelacur, yang tanpa sengaja membawa lari sejumlah besar kokain yang membuat mereka terjepit di antara kejaran mafia dan FBI. Konyol, kasar, dan punya banyak kejutan walau tak cukup alasan untuk menyebutnya sangat seru (tapi cukup alasan untuk menyebutnya sangat sadis). Skenarionya ditulis oleh Quentin Tarantino, dan bisa diduga hasilnya: penuh darah, penuh humor-humor sinting, dan hampir tanpa karakter tokoh yang normal. Semua pemain bermain sangat bagus, terutama - justru - para pemeran pembantu, yang untungnya berjumlah cukup banyak dan dimainkan oleh orang-orang yang bisa dipercaya (bahkan untuk figuran hantu saja mereka memakai Kilmer). [R]
Truman Show ()- 1998 / Peter Weir / Jim Carrey, Ed Harris, Laura Linney, Hannah Gill, Noah Emmerich, Louis Coltrane, Natascha McElchone, Sylvia Garland, Holland Taylor, Brian Delate, Blair Slater, Peter Krause, Heidi Schanz, Ron Taylor, Don Taylor, Ted Raymond, Judy Clayton, Fritz Dominique, Angel Schmiedt / [122 mnt] Truman (Carrey) adalah seorang pria biasa yang hidup tenang di sebuah kota kecil yang hampir sempurna. Truman menjalani hari-hari yang takj jauh berbeda satu sama lain. Ketika permasalahan-permasalahan mulai muncul dalam hidupnya, juga ketika dia bertemu seorang gadis yang disukainya (McElchone), Truman mulai curiga bahwa ada sesuatu yang lebih besar dibalik semua ini. Dan ternyata sesuatu itu memang lebih besar dari yang bisa dibayangkannya. Dia ternyata tak lebih dari seorang aktor yang tidak sadar, dan semua oirang yang ditemuinya tiap hari adalah aktor-aktor bayaran yang melengkapi hidupnya. Truman adalah obyek dari sebuah proyek besar candid camera yang direncanakan dan diproduksi dengan sangat matang oleh seorang ahli media (Harris), Truman telah dipilih sejak lahir tanpa pernah mengetahuinya! Pertunjukannya disebut Truman Show, mendokumentasi setiap hari-harinya sampai ke detil-detil kecil dan ditonton jutaan manusia lewat televisi. Bisakah Truman memberontak dari kurungan ini? Truman Show sebagai sebuah film mungkin bisa dianggap sebuah satir yang terlalu transparan, bahkan banal, tentang kungkungan media dan dehumanisasi yang disebabkannya. Nammun jika kita rela melihatnya tanpa pretensi apapun, film ini adalah drama yang mampu menyentuh setiap nilai kemanusiaan, diselenggarakan dengan baik melalui ketelitian dan visi Weir. Carrey memainkan peran paling serius yang pernah didapatnya, dan dia berhasil, sangat berhasil, Truman-nya sangat menyentuh dan untuk pertama kalinya aktor populer ini benar-benar berhasil menarik simpati yang murni dari pemirsaa [PG]
Trust (½)- 1991 / Hal Hartley / Adrienne Shelley, Martin Donovan, Maria Porter, Meritt Nelson, John McKay, Edie Falco, Marko Hunt, Karen Silias / [105 mnt] / Matthew (Donovan) cerdas, pendiam, tidak memuaskan ayahnya, dan sangat membenci televisi (walaupun dalam keadaan dimatikan!), dia juga suka membawa sebutir granat tua kemanapun dia pergi. Maria (Shelley) menjalani hidup yang ricuh sekali, dia hamil namun pacarnya tak mau bertanggung jawab, ayahnya meninggal dan dia dianggap ibunya harus bertanggung jawab. Matthew dan Maria bertemu. Kisahnya mungkin akan berjalan bahagia atau sedih kalau saja bukan Hartley yang membuatnya, baginya emosi tidak boleh tampil terlalu depan. Saksikan wajah-wajah dingin tanpa ekspresi dan dialog-dialog aneh dengan motif yang aneh pula, itulah menu khasnya. Trust rasanya tidak termasuk film Hartley yang berkatagori sangat menghibur, humor-humor liar khasnya agak terkekang dan temponya kurang cepat, namun di sini dia sudah mulai menampilkan suasana-suasana tidak wajar yang kelak menjadi cirinya, di sini diapun mulai berkutat dengan aktor-aktris favoritnya seperti Donovan, Shelley, Porter, dan Silias. [R]
12 Monkeys (½)- 1996 / Terry Gilliam / Bruce Willis, Madeleine Stowe, Brad Pitt, Christopher Plummer, Jon Seda, Ernest Abuba, Bill Raymond, Simon Jones, Bob Adrian, Carol Florence, H.Michael Walls, David Morse, Frank Gorshin, Joseph Melito / [131 mnt] James Cole (Willis) berpendapat bahwa jutaan orang akan mati akibat suatu virus dan kedudukan manusia sebagai penguasa alam akan digantikan oleh makhluk lain. Dia juga berkata bahwa dia dikirim dari tahun 1997 untuk melacak virus tersebut dan juga mencari informasi tentang pasukan "12 Monkeys". Pada tahun 1990, Cole ditangkap dan dimasukan ke dalam sebuah institusi untuk penderita sakit jiwa. Setelah melarikan diri, dia muncul lagi pada tahun 1996 dan menculik psikiaternya, Kathryn (Stowe). Hubungan penculik dan korbannya ini berkembang sampai Cole mulai mempertanyakan kewarasannya sendiri sementara Kathryn justru sedikit demi sedikit mulai terpengaruh oleh pendapat-pendapat Cole. Akhirnya segala sesuatu berjalan dan berakhir di luar dugaan. Sebuah karya yang sangat imajinatif dan penuh gaya, paduan antara fiksi ilmiah dan cerita tentang dunia orang yang kehilangan batas khayalan dengan kenyataan, disajikan lewat gaya khas Gilliam yang selalu cerdas dan tidak membumi. Sebagai sebuah hiburan, film ini hampir tanpa cacat, selalu mampu merebut perhatian dari awal sampai akhir dengan visualisasi yang bisa dipercaya dan tegangan cerita yang tak pernah mengendor semenitpun. Mungkin kesimpulan semu di akhir film hanya bisa memuaskan beberapa orang penonton, namun sulit memikirkan jalan selain itu. Film ini juga membuktikan bahwa film fantasi tidak selalu membatasi kesempatan para pemainnya untuk mempertunjukkan akting yang bagus, Willis tak pernah bermain sebagus ini (di akhir film, dia juga sangat cute dengan wig ala Depardieu dan kumis), Stowe - yang mulai menua - juga bermain baik, dan Pitt bermain luar biasa sebagai seorang psikopat dengan ide-ide gila dan hampir jenius, peran paling menantang sepanjang karirinya. Inilah salah satu film fantasi dengan struktur dramatis paling memikat dalam dekade ini, walau tanpa efek khusus yang betul-betul mencengangkan. [R]
* Golden Globe: Aktor Pendukung Terbaik (Pitt)
Twilight (½)- 1998 / Robert Benton / Paul Newman, Susan Sarandon, Gene Hackman, Stockard Channing, Reese Whiterspoon, Giancarlo Esposito, James Garner, Liv Schreiber, M.Emmet Walsh, Margo Martindale, John Spencer / [96 mnt] Newman bermain seorang detektif tua yang sekana tak punya lagi hal lain yang bisa dilakukan selain berursan dengan segala macam intrik keluarga Ames (Sarandon dan Hackman) dan putri Ames (Whiterspoon). Intrik-intrik itu mungkin adalah hal yang menarik, namun semuanya pernah koita lihat sebelumnya. Ensemble aktor aktris senior yang penuh kharisma membayar semua kelemahannya. [R]
Twin Falls Idaho (½)- 1999 / Michael Polish / Michael Polish, Mark Polish, Michele Hicks, Lesley Ann Warren, Patrick Bauchau, John Gries, Garrett Morris, William Katt, Teresa Hill, Robert Beecher / (105 mnt) Melodrama yang sangat berkabut ini mmenampilkan Penny (supermodel Hicks), seorang gadis yang bercita-cita menjadi model atau musisi, namun untuk sementara di menjajakan sex. Penny baru saja mendapat seorang klien yang mengaku bernama Falls dan menunggunya di sebuah hotel. Alangkah terkejutnya Penny - dan juga kita - ketika menyadari bahwa Falls ini adalah nama yang dimiliki oleh dua orang, Francis Falls dan Blake Falls (diperankan Polish bersaudara), mereka adalah sepasang kembar siam yang bersatu pada pinggul dan hidup dengan tiga kaki. Penny pada dasarnya adalah wanita yang sangat simpatik - film ini bahkan menginginkan kita untuk, kalau bisa, jatuh cinta padanya - dia dengan cepat menguasai diri dan mencoba untuk tidak menyinggung perasaan pasangan kembar siam ini. Hubungan mereka kemudian mulai berkembang menjadi persahabatan yang sangat akrab. Tetapi kemungkinan terburuk terjadi: salah seorang dari The Falls jatuh cinta pada Penny, dan Penny ternyata merasakan hal yang sama! Lalu bagaimana nasib saudaranya yang kebetulan adalah Francis yang secara fisik lebih lemah? Twin Falls Idaho adalah debut yang sangat stylish dari Michael Polish, dia menulis skenarionya bersama saudara kembarnya, Mark. Polish segan-segan mendandani filmnya dengan gaya puisi liris yang sangat sunyi dan redup, baik secara visual maupun dialog-dialognya. Celakanya, ceritanya dialirkan dalam tempo yang sangat lambat sehingga rentangan film menghasilkan kekosongan substansi. Bagian akhir film yang mempertemukan kembali Penny dengan salah satu The Falls juga terasa berada sangat di luar jalur, mungkin karena sentuhan realita yang terlalu kuat, sementara sebelumnya sepanjang film kita serasa bermimpi. Dibanding skenario yang mereka tulis, hasil kerja Michael dan Mark sebagai aktor mungkin lebih sempurna, penampilan mereka - dari ekspresi wajah hingga gaya berjalan - sangat menggetarkan dan membuat kita sering tak tahu harus bertanya dan berkomentar apa terhadap cara mereka mengatur hidup. Sementara Hicks berhasil memanfaatkan skill akting yang agak amatiran, wajah yang unik, dan make-up gothic untuk menciptakan aura misterius Penny. [R]
Twin Peaks: Fire Walk With Me (½)- 1992 / David Lynch / Sherryl Lee, Ray Wise, Moira Kelly, James Marshall, Grace Zabriseski, Frank Silva, Chris Isaak, David Lynch, Dana Ashbrook, Lenny von Dohlen, Mädchen Amick, Kyle McLachlan, Kieffer Sutherland, Miguel Ferrer, Michael Anderson, Phoebe Agustine, Eric DaRae, Pamela Gidley, Calvin Lockhart, Heather Graham, Harry Dean Stanton, Jurgen Prochnow, David Bowie / [135 mnt] Serial televisi “Twin Peaks” pernah diputar TVRI programa 2, bercerita tentang misteri meninggalnya seorang gadis bernama Laura Palmer, sementara prequel seluloidnya ini membawa kita kembali pada hari-hari terakhir kehidupan Laura (Lee) yang dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman surreal. Tentu saja film ini mencoba mengeksploitasi pengalaman-pengalaman sureal itu, hasilnya tetap sebuah parade kerja fotografi yang unik ala Lynch, sayangnya, dan anehnya, kali ini sering sekali senjata utamanya itu tak membantu apapun pada gaya penceritaannya yang lebih tidak mengigit dibanding film Lynch manapun. Akting para pemainpun tak kalah anehnya (Kelly adalah satu-satunya pemain dengan akting wajar yang mendapat peran cukup besar) dan semua memainkan karakter yang sulit dicari persamaannya di muka bumi. Terlalu banyak hal-hal yang sulit tercerna artinya di sini, oleh penggemar berat Lynch sekalipun. Walau demikian, TP:FWWM secara teknis tetap menunjukkan kreativitas “satu dari seratus juta” yang dimiliki Lynch. [R]
* Independent Spirits Awards: Tata Musik Terbaik
Twin Town ()- 1997 / Kevin Allen / Rhys Ifans, Ilys Evans, Dougray Scott, Dorien Thomas, William Thomas, Sue Roderick, Di Dotchey, Amy Ceredig, Rachel Scorgie, Jenny Evans, Brian Hibbard, Morgan Hopkins, David Hayman, Keith Allen / (BRITANIA) / [99 mnt] / Ifans dan Evans adalah sepasang remaja kembar dari sebuah keluarga kumuh yang harmonis namun brutal dan berantakan. Keduanya tidak pernah akrab dengan apa yang disebut tata krama atau sejenisnya. Keterlibatan dini mereka dalam lingkungan yang kasar membawa akibat yang sangat tragis. Di antara serbuan film Irlandia dan Skotlandia, tragedi komikal dari Wales ini menyelipkan diri. Ketajaman realisme Twin Town tidak mampu bersaing dengan hambarnya suasana karikatural yang dicampurinya hingga hasilnya tidak memuaskan apalagi fenomenal walau dengan produser eksekutif Danny Boyle dan Andrew McDonald, duet Skotland yang turut membuka gelombang baru film Britania. Ngomong-ngomong, apa sih maksud judul film ini?
Two Bits ()- 1996 / John Foley / Jerry Barone, Mary Elizabeth Mastrantonio, Al Pacino, Joe Grifasi, Joanna Merlin, Alec Baldwin, Andy Romano, Pattrick Boriello, Donna Mitchell / [93 mnt] Kisah film ini hanya menceritakan satu hari dalam kehidupan seorang anak bernama Gennaro (Barrone) yang tinggal bersama ibunya, Luisa (Mastrantonio), seorang janda miskin. Gennaro ingin sekali menonton pembukaan sebuah bioskop, untuk itu dia harus mempunyai uang dua puluh lima sen, jumlah yang sangat sulit didapat pada masa depresi antara PD I dan PD II. Gennaro bersedia melakukan berbagai macam pekerjaan untuk siapa saja agar bisa mendapat dua puluh lima sen, namun hanya Gaetano, (Pacino), kakeknya yang sakit-sakitan namun selalu tinggal di halaman rumah, yang benar-benar bisa menolongnya, tentu dengan beberapa syarat. Film ini sangat sederhana, menyentuh, dan difilmkan dengan indah sekali oleh Foley. Hubungan Gennaro dan Gaetano - yang karakternya sangat menarik - sangat masuk akal dan dimainkan dengan menawan oleh duet yang terselang satu generasi (kira-kira generasi Mastrantonio). Barrone memperlihatkan bakat luar biasa lewat aktingnya, sementara peran seorang laki-laki tua dimainkan dengan penuh kekuatan magnetis oleh Begawan Pacino, peran ini mungkin mulai menandai babak baru dalam karir aktingnya. Film ini juga merupakan satu dari sangat sedikit film dengan tokoh masyarakat Italia - Amerika, apalagi dengan setting tahun tigapuluhan, yang tidak menyinggung-nyinggung soal mafia dan mafiosonya. Beberapa hal yang mungkin kurang mengena dari film ini hanyalah satu dua titik sentimentalitas dan sisi logis yang patut dipertanyakan dari beberapa bagiannya. [PG]
2 Days in the Valley ()- 1997 / John Herzfield / Danny Aiello, Gregg Curtwell, Jeff Daniels, Teri Hatcher, Glenne Headly, Peter Horton, Marsha Mason, Paul Mazursky, James Spader, Eric Stoltz, Charlize Teron, Keith Carradine, Louise Fletcher, Austin Pendleton / [93 mnt] Ratusan basa-basi berserakan, film ini tetap menarik. Pada awalnya, kita hanya diperkenalkan pada berbagai tokoh, mulai dari dua orang pembunuh profesional dan perampok, seorang atlet yang terbangun di samping mayat bekas suaminya, dua orang polisi yang sangat berbeda karakter, seorang bekas penulis skenario yang putus asa, seorang Viking blonde sexy yang misterius, perawat tua yang kesepian, hingga seorang pengusaha muda Inggris yang sombong beserta sekretarisnya yang tidak percaya diri. Semakin lama kita menonton, cerita semakin terjalin di antara mereka, dibumbui setumpuk misteri dan segudang humor. Film diakhiri dengan banjir darah yang tak terduga untuk sebagian dari mereka dan kebahagiaan yang tak terduga untuk yang lain. Kata “tak terduga” memang banyak mewarnai film ini, sehingga walaupun sesungguhnya kisahnya sepele saja, film ini tetap menarik. Mungkin saja hasilnya tidak akan semenyenangkan ini andai semua pemain tidak bermain sebagus ini (tepuk tangan ternyaring untuk konyolnya Aiello dan dinginnya Spader). Untuk yang ingin menghabiskan satu jam setengah dengan hiburan ringan, ini adalah pilihan yang bagus. [R]
Two Girls and a Guy (½)- 1997 / James Toback / Robert Downey, jr., Heather Graham, Natasha Gregson Wagner / [70 mnt] Graham dan Wagner bertemu ketika keduanya sedang menunggu pacar masing-masing. Usut punya usut ternyata mereka menunggu orang yang sama. Mereka tidak menjadi bermusuhan, sebaliknya, mereka berencana untuk menjebak si pelaba, yang tentu saja tidak bisa ditundukkan dengan mudah. Menarik sekali. Ya, akan menarik andai saja film ini bisa membuat kita penasaran dan bukannya membuat kita kesal dan bosan. Toback menggarap komedi minimalis ini dengan kepercayaan diri yang berlebihan sampai ke taraf memalukan. Ketiga pemainnya tidak bisa disalahkan dalam situasi seperti ini. [PG-13]
200 Cigarettes (½)- 1999 / Risa Bramon Garcia / Ben Affleck, Casey Affleck, David Chappelle, Guillermo Diaz, Angela Featherstone, Gaby Hoffman, Courtney Love, Christina Ricci, Janneane Garofalo, Kate Hudson, Jay Mohr, Martha Plimpton, Paul Rudd / [98 mnt] / Tahun baru 1981 dipenuhi beberapa kelompok tokoh yang semuanya berada dalam perjalanan menuju pesta di rumah Plimpton. Tokoh-tokoh ini dimainkan oleh serombongan aktor/aktris yang mampu bermain bagus, Garcia juga memberi mereka peran dan dialog yang mungkin dibawakan dengan bagus, namun itu bukan jaminan bahwa ini adalah film yang menarik. Para pemuda-pemudi delapanpuluhan telah dewasa, beberapa di antara mereka membuat film, dan di akhir sembilanpuluhan film-film yang persis seperti ini tiba-tiba menjamur (“Last Days of Disco” dll), tentu tidak semuanya menyenangkan dan tidak semuanya menyebalkan, malangnya, 200 Cigarettes termasuk contoh yang menyebalkan. Dalam film ini, ornamen-ornamen populer awal delapanpuluhan disampaikan dengan luar biasa membosankan sampai kita kehilangan seluruh keperdulian kita pada apa yag dialami tokoh-tokohnya. Menonton film ini sampai selesai sama rasanya dengan merokok 200 batang puntung rokok dari merk yang paling anda benci. [R]
Two Jakes (½)- 1991 / Jack Nicholson / Jack Nicholson, Harvey Keitel, Meg Tilly, Madelaine Stowe, Eli Wallach, Ruben Blades, Frederic Forrest, David Keith, Richard Farnsworth, Tracey Walter, Joe Mantell, Perry Lopez, James Hong / [122 mnt] Detektif swasta Jake Gittes (Nicholson) kembali beraksi. Jake kali ini menangani kasus rumah tangga dan bisnis yang sangat rumit yang diajukan Jake Boorman (Keitel). Ternyata keterlibatannya kali ini banyak membawa Gittes berurusan lagi dengan kenangan dan masa lalu (Katherine, Evelyn, dan segala macam), mundur beberapa tahun ke prequelnya, “Chinatown” (1970). TJ adalah karya yang dibuat dengan penuh percaya diri oleh Nicholson, hasilnya tidak jelek, namun: 1) Terlalu bertele-tele dan berbelit-belit tidak perlu, 2) Warna kuning tidak selalu enak dilihat, 3) Untuk yang tidak pernah menonton “Chinatown”, selamat bingung, terasing, dan kekurangan informasi! [R]




U


Unbelievable Truth, The ()- 1990 / Hal Hartley / Adrienne Shelley, Robert Burke, Christopher Cooke, Julia McNeal, Mark Bailey, Gary Sauer, Katherine Mayfield, Bill Sage, Eddie Falco / [90 mnt] Film pertama Hartley ini bercerita tentang Josh (Burke), seorang bekas narapidana yang kembali ke kota asalnya, dan semua orang yang mengetahui kepulangannya serentak menggunjingkannya dengan berbagai cara. Josh juga menjalin hubungan dengan Audrey (Shelley), gadis yang terobsesi pada segala sesuatu yang berkaitan dengan modeling dan hari kiamat, Audrey (bukan) kebetulan adalah putri pemilik bengkel tempat Josh bekerja. Film ini menjadi “template” untuk film-film Hartley berikutnya: sangat sunyi dan eksentrik dengan karakter-karakter kurang sehat dan humor-humor redup bertebaran di mana-mana (jangan lewatkan percakapan bolak-balik Burke-Falco di kafe, adegan paling pantas dikenang dari film ini!). Memang, tidak semua pemirsa akan menyukai film dengan gaya seperti ini, namun jika anda termasuk pemirsa yang suka, itu berarti anda baru saja berkenalan dengan salah satu sutradara muda Amerika dengan persediaan ide paling unik dalam dekade ini. Catatan kecil: film ini konon dibuat dalam waktu hanya delapan hari. [R]
Underneath, The (½)- 1995 / Steven Soderbergh / Peter Gallagher, Alison Elliott, William Fichtner, Adam Trese, Joe Don Baker, Paul Dooley, Shelley Duvall, Elisabeth Shue / [99 mnt] Beginilah kalau Soderbergh menggarap ulang film noir tahun limapuluhan: berbelit, berkabut, dan berdarah dingin. Dalam remake “Criss Cross” ini Michael (Gallagher) kembali ke kota asalnya, dia mendapat pekerjaan kembali di situ sebagai sopir truk pengangkut uang. Lebih dari itu, Michael bertemu lagi dengan mantan istrinya, Rachel (Elliott) yang kini telah bersuami lagi, Tommy (Fichtner), seorang laki-laki yang siap mengambil jalan apa saja demi uang. Mengambil jalan apa saja demi uang? Ternyata Michael pun demikian ketika dia terjepit dalam keadaan dan tekanan adiknya (Trese). Michael berkomplot dengan Tommy yang berniat untuk merampok truk yang dikendarainya, dan tentu saja ini tidak akan berakibat baik untuk Rachel. Kemampuan unik Soderbergh dalam menciptakan sebuah karya visual yang teknikal dan asli memang tak usah diragukan lagi, dan itu cukup menolong untuk menutupi cerita film ini, yang sangat tipis di bagian tengah. Walau demikian, film sunyi ini tetap akan membekaskan ketidakpuasan ketika film ini berakhir, sebanding dengan kepuasan yang diberikannya. [R]
Unforgiven ()- 1992 / Clint Eastwood / Clint Eastwood, Gene Hackman, Morgan Freeman, Richard Harris, Frances Fischer, Jaimz Woolvet, Saul Rubinek, Anna Thompson / [127 mnt] Ini adalah film yang mendapatkan penghargaan (terlalu) berlimpah di tahunnya. Film western ini mengisahkan seorang pembunuh bayaran yang telah mengundurkan diri (Eastwood), tetapi karena godaan seorang pemuda pengagumnya, dia kembali turun ke dunia kekerasan untuk mengikuti sayembara yang diadakan sekelompok pelacur yang menyediakan hadiah uang dan kuda bagi siapa saja yang berhasil menangkap pelaku penyiksaan terhadap salah satu pelacur. Eastwood sudah sangat mendarah daging dengan film seperti ini, sehingga untuk urusan penciptaan suasana old west dialah pakarnya. Semua aktor dan aktrisnya bermain bagus, Hackman (sebagai sherif di kota para pelacur) adalah yang paling menyita kekaguman. Skenario film ini sesungguhnya tak lebih dari kelas lumayan, namun tata artistik, tata kamera, dan editingnya tak meragukan untuk membuat segalanya menjadi bagus. [R]
* Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Eastwood), Aktor Pendukung Terbaik (Hackman), Editing Film Terbaik, Golden Globe: Sutradara Terbaik (Eastwood), Aktor Pendukung Terbaik (Hackman), British Academy Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Eastwood), Aktor Pendukung Terbaik (Hackman), DGA Awards: Sutradara Terbaik (Eastwood), New York Film Critics Awards : Aktor Pendukung Terbaik (Hackman), NSFC Awards: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik (Hackman)
Unlawful Entry (½)- 1992 / Jonathan Kaplan / Kurt Russell, Ray Liotta, Madeleine Stowe, Roger Mosley, Ken Lerner, Deborah Offner, Carmen Argeziano, Dino Arnello / [111 mnt] Thriller ini mempunyai formula yang sangat umum, bercerita tentang seorang polisi patroli yang obsesif (Liotta) yang menghancurkan ketentraman sebuah pasangan (Russell dan Stowe) sejak dia dipercaya untuk mengelola sistem keamanan di rumah tempat tinggal pasangan itu. Film ini cukup menegangkan dan menarik dalam beberapa bagian, namun secara keseluruhan tidak berhasil membebaskan diri dari kesan klise dan tak selalu logis. Russell lebih bagus dari biasanya, Liotta kadang hebat, kadang hambar, dan Stowe hanya sampai taraf lumayan. [R]
Until the End of the World (½)- 1991 / Wim Wenders / Solveig Dommartin, Sam Neill, William Hurt, Max von Sydow, Jeanne Moreau, Rudiger Vogler, Ernie Dinog, Chick Ortega / [158 mnt] Fiksi ilmiah yang cukup rumit ini bercerita tentang ancaman perang nuklir, spionase, halusinasi, perekaman ingatan, sampai perekaman mimpi. Film ini mengambil setting empat benua dengan limabelas kota besarnya, cukup istimewa (dan Wenders memang selalu begitu), demikian juga dengan tata artistik lainnya, teknologi HDTV-nya, dan tentu saja keliaran idenya. Memang lumayan banyak daya tariknya, menjanjikan sesuatu yang spektakuler, cerdas, dan baru. Namun, apa intinya? Film ini sejak awal terasa lambat sekali membangun kerangka cerita, dan sampai akhir tak ada sesuatu yang benar-benar berhasil dibangun, tak sesuatupun pernah mencapai puncaknya, segalanya serba tanggung. [R]
Up Close & Personal ()- 1995 / Howard Franklin / Robert Redford, Michelle Pfeiffer, Stockard Chaning, Joe Mantegna, Kate Nelligan, Glenn Plummer, James Rebhorn, Scott Bryce, Ramon Cruz, DeDee Pfeiffer, Miguel Sandoval, Noble Willingham / [124 mnt] Tally Atwater (Pfeiffer) adalah seorang wanita yang merintis karir mulai dari bawah dengan berbagai cara sampai akhirnya menjadi reporter televisi yang sangat terkenal, lebih terkenal daripada Warren Justice (Redford), mentor yang membuka jalan keterkenalan Tally, dan kini juga merangkap sebagai kekasihnya. Roman mereka mendapat berbagai tantangan, begitu juga karir mereka. Itulah yang mencoba dikupas film yang diilihami kisah tentang Jessica Savitch ini, ditambah dengan “pengintipan” ke kehidupan para pembuat berita. Semuanya tidak memuaskan, kisah cintinya seperti roman sederhana yang terdiri dari ribuan halaman, dan untuk tinjauan pertelevisiannya kita mengharapkan lebih banyak sinisme baru. Film ini pun akhirnya terkesan sangat klise dan melankolis. Redford bermain lumayan, kharisma banyak menolongnya, namun film ini tanpa malu-malu menampilkan akting terburuk yang pernah ditunjukkan Pfeiffer dalam karir jutaan dolarnya. [PG-13]
Urban Legend ()- 1998 / Jamie Blanks / Jarred Leto, Alicia Witt, Rebecca Gayheart, Michael Rosenbaum, Natasha Gregson Wagner, Danielle Harris, Richard Englund / [88 mnt] Gadis baru (Witt) mendapatkan banyak sekali gangguan di tempat tinggalnya. Dia mulai mencari sumbernya pada legenda-leganda kota itu. Namun sungguhkah ini gangguan hantu? Film ini dilengkapi intrik-intrik khas anak muda dalam dunia dekadensi. Tensinya dibangun dengan cukup rapi, namun bagian akhir film ini, yang bermaksud menjadi "kejutan besar", merusak sendiri kemencekaman yang dibangunnya sejak awal. [R]
Usual Suspects, The ()- 1995 / Brian Singer / Gabriel Byrne, Kevin Spacey, Stephen Baldwin, Chazz Palminteri, Kevin Pollack, Benicio del Torro, Pete Postletwaithe, Giancarlo Esposito, Suzi Amis, Paul Bartel, Dan Hedaya / [105mnt] Ini adalah kisah cukup rumit yang disusun dengan cerdas tentang lima orang penjahat yang bertemu di sel dan berakhir dengan keterlibatan mereka pada pembunuhan besar-besaran di atas sebuah kapal. Verbal (Spacey) adalah satu-satunya dari mereka yang bertahan hidup dan memberi keterangan yang mengacaukan seluruh penyelidikan polisi dengan ceritanya tentang tokoh besar misterius bernama Keiser Sose. Alur rekaan McQueerie adalah modal utama menariknya film ini, cerita yang berbelit mempunyai potensi visual yang sangat menggigit, Singer sukses merealisasikannya, McQueerie wajib puas dengan kerja orang ini. Semua aktor juga bermain sangat baik. Namun, akhirnya, semua tergantung dari bagaimana anda menanggapi ending film ini, kalau anda menganggapnya kejutan yang mengasyikan: tambahkan nilai setengah pada tiga bintang di atas; namun jika anda menganggapnya sebagai tipuan yang seenaknya: potonglah nilai tiga bintang di atas dengan sekehendak hati. [R]
* Academy Awards: Skenario Asli Terbaik (Christian McQueerie), Aktor Pendukung Terbaik (Spacey), SAG Awards: Aktor Pendukung Terbaik (Spacey)
U-Turn (½)- 1998 / Oliver Stone / Sean Penn, Jennifer Lopez, Nick Nolte, Billy Bob Thornton, Powers Boothe, Claire Danes, Joaquin Phoenix, Jon Voight, Julie Haggerty, Bo Hopkins, Valery Nikolaev, Aida Linares, Ilia Volokh, Brent Briscoe, Sherie Foster, Laurie Metcalf, Liv Tyler, Richard Rutowski / (125 mnt) Bobby Coooper (Penn) terdampar di suatu kota perbatasan yang sangat tidak ramah, dia sendiri sedang dikejar-kejar oleh gangster Russia yang dipimpin Nikolaev, Cooper adalah orang yang tak bisa dipercaya dalam hal memegang uang, Nikolaev dan kawan-kawan pernah memotong salah satu jarinya karena itu. Di kota itu Cooper bertemu Jake (Nolte) dan istrinya yang jauh lebih muda, Grace (Perez). Berbagai misteri ada di depan Cooper dan puluhan tokoh eksentrik mengelilinginya, hidupnya berada dalam bahaya dan sepertinya tak ada jalan keluar. Stone mengacak-acak novel sederhana John Ridley menjadi sebuah pameran trade mark-nya yang penuh fotografi asimetris, editing yang melanggar norma-norma text-book, dan lintasan-lintasan surealisme. Secara sinematis film ini adalah aplikasi lain dari teknik tinggi yang dipakainya dalam "Natural Born Killers", namun kali ini hal itu terkesan hanya menjadi media pamer Stone dan tak punya relevansi apa-apa dengan cerita yang dibungkusnya. [R]





V


Vanishing, The (½)- 1993 / George Sluizer / Jeff Bridges, Kiefer Sutherland, Nancy Travis, Sandra Bullock, Park Overall, Lisa Eichorn, George Hearn, Maggie Linderman, Lynn Hamilton / [110 mnt] Jack (Sutherland), seorang pengarang, kehilangan jejak pacarnya, Diane (Bullock), secara misterius di sebuah pom bensin. Selama tiga tahun, dia dihantui kenangan tentang Diane dan selalu berusaha mencarinya dengan berbagai cara, walau dia sudah mempunyai seorang kekasih baru, Rita (Travis). Kemudian, munculah Bernie Cousins (Bridges), dia adalah seorang dosen yang mempunyai pola pikir yang sangat terganggu dan mengerikan, Barnie mengaku pada Jack bahwa dialah yang bisa mempertemukan Jack dengan Diane. Sluizer pernah membuat film dengan cerita sama di negerinya, Belgia. Versi Hollywoodnya ini banyak kehilangan ketegangan melalui teror psikologis yang dimiliki film pertama, karakter Bernie juga menjadi lebih stereotip psikopat Hollywood, dan endingnya melenceng jauh ke arah norak. [R]
Velvet Goldmine ()- 1998 / Todd Haynes / Jonathan Rhys Meyers, Ewan McGregor, Christian Bale, Toni Collette, Eddie Izzard, Emily Woof, Michael Feast / (BRITANIA – AMERIKA SERIKAT) / [112 mnt] / Di salah satu mata air utama budaya pop dunia, London, pertengahan tujuhpuluhan, antara generasi hyppie dan generasi punk, terbentuklah sebuah sub-kultur minor yang digerakkan oleh sekelompok musisi underground. Para glam-rocker ini membentuk gaya hidup mereka dari berbagai prilaku khas, yang paling menonjol adalah biseksualisme dan penampilan yang sangat menor hingga meleburkan perbedaan gender. Konon dari generasi inilah lahir David Bowie, The Cure, dan Lou Reed/Velvet Underground. Tapi bukan mereka yang hendak diceritakan film ini, melainkan Brian Slade (Myers), glammer misterius yang meraih kepopuleran bersama Curt Wilde (McGregor) yang sedikit lebih senior. Cerita disampaikan lewat kilas balik yang liar dari tahun 80-an seiring penelusuran jejak Slade yang dilakukan seorang wartawan (Bale) yang juga bekas penggemarnya. Wartawan ini memulai pencariannya dengan mewawancarai bekas teman wanita Slade (Colette) di sebuah café yang sangat remang. Film ini disampaikan lewat gaya bertutur yang tidak konvensional dan agak sulit diikuti oleh penonton awam. Kalau anda sempat menonton karya pertama Haynes “Poison” (1990) yang kontroversial, anda akan memakluminya, orang ini memang tak bisa diharapkan bercerita lurus. VG masih mungkin memanjakan pemirsa yang bisa menikmati musiknya, namun pemirsa lain akan merasa tersisih oleh film yang sudah bergaya glam ini. Ramuan brutalisme takaran tinggi, estetika puitis, dan simbol-simbol Haynes memang bukan untuk semua selera. Semua pemain bermain luar biasa bagus, kalau anda masih perduli. NB : Salah satu produser eksekutif film ini adalah Michael Stipe dari R.E.M dan lagu-lagunya ditampilkan oleh berbagai grup dan musisi Inggris dari tiga dekade terakhir. [R]
Vendetta (½)- 1999 / Nicholas Meyer / Alessandro Colla, Bruce Davison, Christopher Walken, Luke Askew, Clancy Brown, Richard Libertini, Megan McChesney, Gerry Mendicino, Stuart Stone, Andrew Connelly, Andrea Di Stefano, Joel Gordon, Edward Herrmann, Kenneth Welsh, Joaquim d'Almeida / (130 mnt) {Film Televisi} Vendetta menceritakan kembali kisah suram dari akhir abad XIX ketika imigran-imigran Sicilia membanjiri pantai New Orleans. Komunitas dagang mereka sangat tidak disukai lingkungan WASP di sekitarnya dan ketika seorang polisi terbunuh, fitnah memfitnah pun terjadi. Kekacauan merebak dalam aroma rasialisme yang tjamm. Film ini memmaparkan secara kronologis insiden besar itu dengan cara penceritaan yang cukup bertenaga, kita juga tidak dibiarkan bingung dengan banyaknya tokoh yang berseliweran di dalamnya. Namun sentimentalismenya sangat terlalu artifisial dan hanya menempel begitu saja sehingga tidak bisa berjalan seiring dengan tone keras yang dibawanya. [R]
Very Bad Thing (½)- 1997 / Peter Berg / Christian Slater, Cameron Diaz, Jeremy Piven, Daniel Stern, Leland Oster, Jon Fivreau, Jeanne Tripplehorn / Empat orang lelaki berpetualang, salah satu di antara mereka hendak menikah. Teman-temannya merasa harus melepasnya dengan pesta bujangan, di situlah tanpa sengaja mereka membunuh seorang penari striptease dan seorang sekuriti hotel. Kekacauan dan kebusukan tidak berhenti di situ, semua orang mulai dirasuki potensi untuk berbuat keji. Banyak ketegangan, kelucuan, dan akting bagus dalam film ini, tapi para penikmat black comedy akan merasa terlalu sering disuguhi gaya seperti ini. [100 mnt] [R]
Victory ()- 1995 / Mark Peploe / Willem Dafoe, Sam Neill, Irène Jacob, Rufus Sewell, Jean Yanne, Ho Yi, Bill Paterson, Irm Hermann, Simon Callow / [BRITANIA - PRANCIS – JERMAN} / [100 mnt] Tahun 1913, Axel Heyst (Dafoe) bertemu dengan seorang saudagar (Callow) di Surabaya. Dia kemudian menarik simpati istri muda sang saudagar (Jacob) yang tidak bahagia. Keduanya melarikan diri ke sebuah pulau terpencil, namun mereka tidak bisa berlama-lama hidup tenang di sana setelah kedatangan Neill dan Sewell dengan maksud yang misterius. Fakta bahwa cerita film ini mengambil setting tempat di Indonesia mungkin adalah satu-satunya hal yang betul-betul menarik dari film ini (plus sensualitas Jacob, mungkin), karena sisi-sisi lainnya sangat tidak bertenaga dan artifisial. Bahkan para aktor/aktris terpercaya seperti Dafoe, Neill, Jacob, dan Callow pun tak bisa bermain bagus dalam film ini.
Virtual Sexuality ()- 1999 / Nick Hurran / Laura Fraser, Rupert Penry-Jones, Luke De Lacey, Kieran O'Brien, Marcelle Duprey, Laura Aikman, Natasha Bell, Steve John Shepherd, Laura MacAulay, Roger Frost, Ruth Sheen, Ram John Holder, Alan Westaway / (BRITANIA) / [92 mnt] / Keperawanan di usia delapanbelas membuat Justine (Fraser) merasa “tidak laku” dan kurang percaya diri. Di tengah suasana desperatenya ini, dia pergi bersama sahabatnya Chaz (De Lacey) ke sebuah taman hiburan virtual dan mencoba sebuah mesin yang bisa memperbaiki penampilannya, namun yang menjelma justru adalah sesosok alter-egonya yang berfisik laki-laki ideal versi Justine. “Justine” pria yang menamakan dirinya Jake ini (Penry-Jones) kemudian menjalani eksistensi yang tak kalah runyam dari tokoh yang dimainkan Tom Hanks dalam “Big” (1985). Film yang seakan dibuat untuk menandingi arus roman-roman komedi remaja Amerika ini hadir dengan kelincahan dan kerenyahan yang hampir sempurna, kata “enak” lebih cocok disandangnya daripada “bergizi” atau “mengenyangkan”, apalagi saat kita sadar bahwa film yang diangkat dari novel Chloe Rayban ini tidak menuntut kita berlogika macam-macam, kita cukup mengikuti rangkaian kejadian yang memukau, dialog yang cerdik, dan tampang-tampang segar anak-anak muda Inggris. Usaha VS untuk memotret kenyataan moral remaja akhir abad pun dilakukan dengan santai dan tidak sok tahu. Penyutradaraan nakal Hurran menyerempet berbagai film populer sezamannya dari “Velvet Goldmine” sampai “There is Something about Mary”. Good fun. [R]



W


Waking the Dead () -2000 / Keith Gordon / Billy Crudup, Jennifer Connelly, Molly Parker, Janet McTeer, Paul Hipp, Sandra Oh, Hal Holbrook, Nelson Landrieu, Ivonne Coll, Lawrence Dane, Ed Harris, Larry Marshall, John Carroll Lynch, Bruce Dinsmore / (103 mnt) Sebagai seorang anak muda, Fielding Pierce (Cudrup) adalah seorang pemuda ambisius yang baru selesai mengikuti wajib militer. Dia kemudian bertemu dengan Sarah (Connelly), seorang aktivis muda yang idealis. Mereka kemudian menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai walau mereka tidak banyak mempunyai persamaan dalam pandangan politik dan latar belakang. Delapan tahun kemudian, Fielding telah menjadi seorang politikus muda, tetap ambisius, dia sedang berada dalam pencalonan sebagai seorang anggota kongres. Fielding dewasa ini telah lama kehilangan Sarah, gadis yang gigih itu telah meninggal dalam usahanya menyelamatkan anak-anak pengungsi Chili. Ketika masa pencalonan hampir mencapai puncak, tiba-tiba Fielding terganggu oleh lintasan-lintasan penglihatan yang menampilkan sosok Sarah, tanda-tanda ini semakin jelas, bahkan suatu malam Fielding menerima telepon, dan suara di seberang sana tak lain adalah suara Sarah. Apakah wanita yang sangat dicintainya ini memang masih hidup atau Fielding hanya terhalusinasi karena tekanan profesi yang sangat berat? Pertanyaan itu mungkin bukan sesuatu yang benar-benar ingin dijawab Gordon yang mengadaptasi kisah ini dari novel Scott Spencer, dia lebih tertarik pada prosesnya, tentang cinta yang mengatasi segala perbedaan, tentang ambisi yang mengatasi idealisme, dan tentang rasa rindu dan kehilangan yang mengatasi akal sehat. Produksi Egg Production-nya Jodie Foster ini cukup berhasil dalam usaha selalu mendekatkan kita dengan Fielding, merasakan ketertekanan dan kebingungannya, walau dalam beberapa bagian kita juga sadar bahwa Gordon kadang lebih tertarik pada dramatisasi daripada pendalaman isi. Crudup memainkan perannya dengan sangat baik, intensitasnya luar biasa dan ledakan-ledakan emosinya menggetarkan, ini adalah salah satu penampilan terbaik dalam karir aktor muda berbakat ini. Sementara Connelly mempunyai kharisma yang memadai sebagai Sarah, dia juga melengkapi alasan Fielding, lelaki mana yang tak akan menjadi setengah gila ditinggal mati kekasih sesimpatik Sarah dan secantik Connelly? [R]
Wag the Dog (½)- 1997 / Barry Levinson / Dustin Hoffman, Robert De Niro, Anne Heche, Andrea Martin, Dennis Leary, Willie Nelson, Kirsten Dunst, William H. Macy, Woody Harrelson / [97 mnt] Komedi ultra hitam ini mencoba menyentil banyak hal lewat sebuah cerita tentang dua orang manusia (Hoffman dan De Niro) yang mencoba memanipulasi kenyataan lewat kemampuan mereka di bidang jurnalisme dan politik. Walau beberapa hasil manipulasi kedua orang ini bisa mengubah keadaan masyarakat, semua tak selalu mudah dan tak selalu berakibat “baik”. Kampanye presiden dan masalah Albania mungkin masih bisa ditangani, namun ketika permasalahan semakin global, mereka harus berhadapan dengan keterbatasan kemampuan, kehendak alam, dan berbagai kejutan. Ambisius, terlalu ambisius, bukan kedua tokoh itu yang kami maksud, namun film ini. Diperlukan usaha dan kecerdikan yang spektakuler untuk membuat film dengan kisah seperti ini menjadi menarik sekaligus meyakinkan, Levinson dan kawan-kawan rasanya tidak begitu berhasil melakukan itu, walau tidak juga terlalu gagal. [R]
Walk in the Moon, A (½)- 1999 / Tony Goldwyn / Diane Lane, Liev Schreibber, Viggo Mortensen, Anna Paquin, Jonah Foldshuk, Star Jasper, Lisa Jakub, Bobby Boriello, Joseph Porrino / (AMERIKA SERIKAT - KANADA) / [106 mnt] / Sebuah tempat di AS, musim panas 1969, apa yang anda bisa bayangkan? Sensasi Apollo 11? Woodstock? Revolusi seksual? Pesta ganja? Ya, ini adalah masa favorit para pembuat film, bukan hanya Oliver Stone. Kali ini Goldwyn dan penulis skenario Pamela Gray mengambil mikroskop dan membahas sebuah kisah kecil dengan bingkai demam kebebasan di zaman Neill Armstrong dan Jimi Hendrix itu. Pearl (Lane) adalah seorang wanita tigapuluhan yang sedang tinggal di sebuah lingkungan pedesaan sementara suaminya, Marty (Schriebb), tetap bolak-balik bekerja di kota dan sering meninggalkannya. Angin kebebasan dan rasa sepi menerpa ibu cantik ini dan mendekatkannya pada seorang penjual pakaian keliling, Walker Jerome (nama aneh, diperankan Mortensen Viggo), semi gypsy, semi hyppie, yang jelas lebih tahu tentang dunia liar daripada Marty. Pada saat yang bersamaan Pearl juga mulai melihat bahwa anak gadisnya yang berusia 14 tahun, Alison (Paquin), mulai akil balig, liar, dan sekaligus semakin perasa. Skenario Gray cukup berhasil menggali pernik-pernik psikologis dalam diri Pearl, Marty, dan Alison, namun waktu yang diperlukannya terlalu panjang, dia juga terlalu sibuk menjejerkan adegan-adegan yang sangat pendek yang diperburuk dengan editing yang terlihat amatiran dan budget minim. Goldwyn - lebih diingat orang sebagai penjahat "Ghost" - tampaknya memang butuh jam terbang lebih untuk membuat filmnya menarik. Para pembuat film ini beruntung memilih Lane untuk sebuah peran yang akan lari ke Jessica Lange di tahun delapanpuluhan atau Michelle Pfeiffer di awal sembilanpuluhan. Pearl dimainkannya dengan sangat sensitif, sudah lama dia tak mendapatkan peran yang memungkinkan dia bermain semenawan ini. Schreibber mengimbanginya dengan sangat berkarakter, dan "kiwi wonderkid" Paquin bermain sempurna. Sayang permainan aktor seberbakat Mortensen tidak berkembang, peran Jerome yang seharusnya menarik diciptakan Gray dengan dangkal dan mirip sketsa yang asal jadi. [R]
Warlock III: The End of Innocence ()- 1999 / Eric Freiser / Bruce Payne, Ashley Laurence (Kris), Paul Francis, Jan Schweiterman, Richard P. Hearst, Angel Boris, Boti Bliss, Eamon Draper, Catherine Siggins, Majella Corley / (90 mnt) Sang Warlock, penjelmaan setan dari abad lampau, beraksi lagi, kali ini meneror beberapa mahasiswa/i yang menginap di sebuah rumah tua. Tak ada yang baru dan hampir 100% klise, lengkap dengan omong kosong khas tentang mistik Timur, namun Payne memercikan beberapa tetes kharisma dan sebagian kecil penyutradaraan Freiser berhasil meninggikan tensinya. [R]
Waterdance, The ()- 1992 / Neall Jimenez & Michael Steinberg / Erik Stoltz, Wesley Snipes, William Forsythe, Helen Hunt, William Allen Young, Elizabeth Peña, Thai Tai, Grace Zabriskie / [106 mnt] Film ini memiliki kisah yang hangat (dan Hunt membuatnya menjadi agak panas) tentang suasana dalam rumah sakit khusus untuk orang-orang yang baru saja menjadi penderita lumpuh. Fokus utama cerita adalah tiga orang penderita lumpuh akibat kecelakaaan (Stoltz, Snipes, dan Forsythe). Mereka harus belajar menerima kenyataan bahwa mereka telah menjadi manusia baru yang harus menjalani gaya hidup baru pula setelah mereka menjadi cacat. Sederhana saja, namun film ini tidak lantas menjadi cengeng atau menjadi membosankan, iramanya selalu enak dinikmati karena rangkaian cerita yang semi-episodik berhasil disiasati menjadi sebuah kumpulan konflik yang mempunyai satu arah penyelesaian. Para aktor bermain cukup bagus, bahkan khusus untuk Snipes: sangat bagus. Mungkin perlu juga diketahui, Jimenez, yang juga menulis skenarionya, adalah seorang penyandang cacat yang harus hidup di atas kursi roda. [R]
* Independent Spirits Awards: Karya Debut Terbaik, Skenario Terbaik
Wedding Bell Blues () -1997 / Dana Lustig / Paulina Porizkova, Illeana Douglas, Julie Warner, John Corbett, Jonathan Penner, Charles Martin Smith, Richard Edson, Debbie Reynolds, Victoria Jackson, Joe Urla, Stephanie Beacham, John Capodice, Steven Gilborn, Carla Gugino, Leo Rossi, Jeff Seymour, Liz Sheridan / (111 mnt) Jasmine (Douglas) yang berjiwa bebas, Tanya yang secantik supermodel kelas dunia (dimainkan oleh Porizkova yang memang ex-supermodel) namun ditinggalkan pacarnya dalam keadaan hamil, dan Micki (Warner) yang “kurang bersemangat” bergabung bertiga dan pergi ke Las Vegas dengan harapan mereka bisa menemukan laki-laki yang tepat untuk mereka ajak menikah sebelum ketiganya berusia tigapuluh tahun. Bisa diduga, ini adalah tipikal film “petualangan cinta gadis-gadis” yang penuh dengan semangat feminisme ringan. Namun komedi getir ini berhasil membebaskan diri dari kesan klise berkat kesederhanaan dan kejujuran cara pandangnya. Bila dibandingkan dengan “Boys on the Side” (1995) yang mempunyai ide yang sangat mirip, WBB mungkin terasa kalah profesional, namun justru unggul dalam keluwesan bertutur, berhumor, dan kemampuan menghindari melankolisme murahan. Douglas, Porizkova, dan terutama Warner juga sangat berhasil merebut simpati lewat karakter yang sangat berbeda. [R]
Wedlock (½)- 1991 / Louis Teague / Rutger Hauer, Mimi Rogers, James Remar, Joan Chen, Stephen Tobolowsky, Basil Wallace / [95 mnt] / ((Deadlock )) Pada suatu masa, sebuah penjara melengkapi para napinya dengan kalung (tepatnya kunci logam yang dipasang di leher) berisi bom, kalung itu dibuat berpasangan, bila dua napi yang kalungnya berpasangan itu berpisah lebih dari 100 yard, maka meledaklah bomnya. Yang membuat para napi tak mungkin kabur adalah: mereka tak tahu siapa pasangannya. Namun akhirnya ada juga yang berhasil menemukan pasangannya dan kabur (Hauer dan Rogers). Film ini sangat kuat di pertengahan, namun jatuh di akhir. Dua unsur yang stabil bagusnya adalah efek pyrotekniknya dan akting Rogers. [R]
Weekend at Bernie’s II ()- 1993 / Robert Klane / Andrew McCarthy, Jonathan Silverman, Terry Kiser, Barry Bostwick, Troy Beyer / [89 mnt] Ini benar-benar sebuah dekadensi kreativitas yang sangat parah, dari sebuah film komedi dengan ide aneh yang gemilang ke sequelnya yang kering tawa dan dipaksakan. Ceritanya Silverman dan McCarthy kembali bertemu dengan Bernie (Kiser) yang tentu saja masih menjadi mayat. Film ini bahkan jauh lebih tidak lucu dibanding “Men at Work” yang disebut-sebut meniru pendahulunya, “Weekend at Bernie’s”. Bahkan Kiser, yang begitu menyenangkan di seri pertama, mulai membuat sebal di sequel ini. [PG]
Welcome Home, Roxy Carmichael (½) - 1990 / Jim Abrahams / Winona Ryder, Jeff Daniels, Laila Robins, Dinnah Manoff, Thomas Wilson Brown, Joan McMurtrey, Frances Fischer, Stephen Tobolowsky / [98 mnt] Dinky Bosetti (Ryder, harus selalu berpakaian serba hitam dalam film pertama yang menjadikannya pemeran utama), adalah seorang gadis dekil yang sangat tertutup, kaku, eksentrik, cantik, cerdas, namun kelihatan agak sinting. Dia bersikeras yakin - tanpa alasan yang kuat - bahwa Roxy Carmichael adalah ibunya. Roxy, penyanyi country terkenal, kebetulan akan datang ke kota tempat tinggal Dinky, yang juga kota kelahiran Roxy. Film ini berjalan sangat datar dan tanpa kemampuan memberi tekanan pada satupun permasalahannya, padahal banyak sekali potensi kemenarikan bisa digali dari ide cerita seperti ini. Setengah dari dua setengah angka yang diperoleh film ini disumbangkan seorang diri oleh akting dominan Ryder, dan dua angka lainnya juga tak mungkin didapat tanpa andilnya, hanya aktris muda dengan bakat dan kharisma istimewa yang dapat mengatasi skenario seperti ini; Ryder membuktikan: dia istimewa. [PG-13]
Welcome to Sarajevo ()- 1997 / Michael Winterbottom / Stephen Dillane, Woody Harrelson, Kerry Fox, Emily Lloyd, Marisa Tomei, Emira Nusevic, Goran Višnjic, James Nesbitt, Igor Dzamburov, Gordana Gadzic, Juliet Aubrey, Drazen Sivak, Vesna Orel, Davor Janjic, Vladimir Jokanovic, Labina Mitenski / (BRITANIA - AMERIKA SERIKAT) / [112 mnt] Film ini diambil dari buku karya Michael Henderson tentang masa-masa tugasnya sebagai wartawan di sebuah “posko” wartawan di Sarajevo yang terkoyak perang. Melalui kacamata Michael (Dillane), seorang wartawan yang mencoba untuk bersikap bersih dari prasangka dan sentimentalisme (namun tampaknya gagal), film ini berhasil memberi gambaran yang cukup bisa dipercaya tentang keadaan Sarajevo yang mengenaskan sekitar tahun 1992, dan betapa pembersihan etnis yang dilancarkan pihak Serbia cepat atau lambat akan berhasil jika tak ada penanggulangan lebih lanjut terhadap neraka yang sering terabaikan dunia ini. Walau fokus ceritanya tidak begitu jelas (namun tampaknya tak berniat juga jadi episodik karena porsi wartawan dan porsi tragedi teratur begitu rapi), karya Winterbottom ini bukan sekedar potret tragis yang dibuat ala kadarnya, sering kita merasa bahwa yang kita hadapi bukan sebuah film cerita, ada banyak “nafas kehidupan” (selain “kematian”) dalam film ini, acungan jempol untuk Winterbottom. Dillane juga memimpin para pemain lain untuk bermain sangat meyakinkan. Sejauh ini inilah film terbaik tentang permasalahan Bosnia yang menyesakkan dada dunia, banyak orang menunggu yang lebih baik. [R]
What Dreams May Come () - 1997 / Vincent Ward / Robin Williams, Annabella Sciorra, Cuba Gooding, jr., Max von Sydow, Rosalind Chao, Jessica Brooks Grant, Josh Paddock / [mnt] Williams adalah seorang kaya raya yang didera duka akibat kematian dua putranya, kemudian dia sendiri meninggal dan pergi ke surga. Di sana dia disambut dengan keindahan yang luar biasa, termasuk kehadiran kedua anaknya, kadang dalam sosok malaikat pembimbingnya. Di surga pulalah dia mendapat kabar bahwa istrinya (Sciorra) bunuh diri, tentu saja seseorang yang bunuh diri tak mungkin dikisahkan langsung menghuni surga. Lalu apa yang harus dilakukan ayah dan anak-anaknya ini untuk menemui sang ibu? Revolusioner, fantastis, spektakuler, dan temukanlah kata-kata hebat lain untuk menilai kebesaran efek visual dan tata artistik film ini, lalu temukanlah sebuah kata yang bisa mencakup seluruh makna dari kata “cengeng”, “menjemukan”, dan “malas” untuk menilai gaya dan materi cerita film ini. Namun simpulkanlah, keindahan visual tak menghiasi setiap menit dari film ini, sedangkan melankolisme yang berlebihan dan melelahkan tak pernah absen dihasilkannya. Kita berhak bertanya kenapa Williams dan Sciorra tak pernah lelah berakting dalam emosi dan pokok bahasan yang sedemikian monoton dari menit ke menit, dan dalam kondisi sesentimentil apakah skenario film ini ditulis. Tontonlah film ini, kecilkan suaranya dan/atau jangan baca teksnya, lewatlah setiap adegan tanpa spesial efek, dan selamat menyaksikan salah satu karya visual terbaik yang pernah dibuat manusia. [PG-13]
* Academy Awards: Efek Visual Terbaik
Whatever It Takes ()- 2000 / David Hubbard / Jodi Lyn O'Keefe, Shane West, Marla Sokoloff, Manu Intiraymi, Aaron Paul, Julia Sweeney, James Franco, Kip Pardue, Scott Vickaryous, Colin Hanks, Richard Schiff, Erin Champaign / (92 mnt) Ketika seorang bintang tampan yang tidak cerdas, Chris (Franco), jatuh cinta pada Maggie (Sokoloff) yang cerdas dan bijak, tetangga Maggie, Ryan (West), dimanfaatkan Chris untuk menjadi comblang. Tapi Ryan membantu lebih dari itu, dia adalah tetangga Maggie dan sahabat Maggie sejak kecil, dia tahu persis bahwa Chris bukan tipe Maggie, maka Ryan dengan gigih "mendidik" Chris untuk menjadi cocok dengan Maggie. Tentu Ryan melakukan ini dengan pamrih, dia meminta bayaran dari Chris berupa kesempatan untuk berkencan dengan Ashley (O'Keefe), si seksi nan binal, sepupu Chris. Kedua pemuda yang jatuh cinta ini pun saling membantu, tapi tahukah anda bahwa cinta tak bisa dipaksakan? Dan tahukah anda bahwa seseorang yang paling cocok dengan kita mungkin adalah orang yang paling dekat dengan kita yang selama ini justru sering kita abaikan? Tahu, pasti tahu, tahu sekali, karena sebagian dari kita mungkin pernah menonton "Somekind of Wonderful" di tahun delapanpuluhan dan "Drive Me Crazy" tak lama sebelum film ini. Whatever It Takes mencoba berkelit bahwa ide ceritanya diambil dari kisah klasik Edmond Ronstad "Cyranno de Bergerac". Ah, kenapa harus sok nyastra? [PG-13]
What Lies Beneath ()- 2000 / Robert Zemeckis / Harrison Ford, Michelle Pfeiffer, Diana Scarwid, Joe Morton, James Remar, Miranda Otto, Amber Valetta, Katharine Towne, Victoria Bidewell, Eliott Gorestsky, Ray Baker, Wendy Crawson / (123 mnt) Setelah anaknya harus meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah di college, Claire (Pfeiffer) mulai merasa kesepian, apalagi suaminya, Norman (Ford), semakin sibuk dengan penelitian-penelitian genetikanya. Pada saat sering sendiri di rumah inilah, Claire mulai semakin sering melihat dan mendengar hal-hal aneh di dalam rumah dan di pinggir danau dekat rumah. Claire berpendapat bahwa ada jiwa mati yang ingin memberitahu sesuatu padanya. Kecurigaan pertama Claire terarah pada seorang tetangga yang misterius (Remar), mungkin dia telah membunuh istrinya dan arwah istrinya kini meminta tolong padanya. Ketika Claire sadar bahwa kecurigaan itu meleset, dia mulai merasa bahwa yang sesungguhnya terjadi bahkan bukan sesuatu di luar pagar rumah. Film ini mengidap salah satu penyakit yang sering menimpa film-film thriller supranatural seperti ini: ketegangan dan kemencekaman ditata dengan baik sejak awal, kita bahkan sering tak berani menatap layar; namun semua itu rusak begitu saja ketika film mulai memasuki babak-babak kesimpulan. Dalam film ini semua itu diperburuk dengan adegan kejar-kejaran yang sangat berkepanjangan di akhir film, untuk apa adegan sepanjang itu jika kita telah tahu bagaimana hasilnya? Untunglah supermodel Amber Valetta terapung dengan make-up yang sungguh mengerikan di dalam air sehingga kebosanan kita agak terbayar. Jika anda menginginkan sebuah cerita yang lebih baik dan suasana yang lebih mencekam tentang sebuah rumah berhantu, pilih "Stir of Echos" bukan What Lies Beneath. [PG-13]
What’s Eating Gilbert Grape? ()- 1993 / Lasse Halstorm / Johnny Depp, Leonardo di Caprio, Juliette Lewis, Mary Steenburgen, Darlene Cates, Laura Harrington, Mary Kate Schelhardt, Kevin Tighe, John C. Reilly, Crispin Glover, Penelope Branning / [102 mnt] / Gilbert Grape (Depp) adalah seorang pemuda kota kecil yang baik hati, dia harus bertanggung jawab atas keluarga miskinnya yang terdiri dari seorang ibu berbobot tigaratus kilo gram (Cates), dua orang adik wanita yang pasif (Harrington dan Schelhardt), serta seorang adik laki-laki yang idiot (di Caprio). Gilbert juga menjalin hubungan gelap dengan seorang wanita bersuami (Steenburgen). Kedatangan seorang gadis eksentrik (Lewis) dan ibunya yang bohemian memberi nuansa baru dalam kehidupan Gilbert, walau tidak membawanya keluar dari masalah-masalahnya. Kesederhanaan dan kewajaran membuat film ini terasa dekat dan menarik, sutradara Swedia, Halstrom (“My Life as a Dog”) membuktikan bahwa dia belajar banyak dan tahu banyak tentang Amerika. Depp begitu simpatik dan para pendukungnya juga bermain bagus (di Caprio yang brilian, Cates yang menyentuh, Steenburgen yang histeris). Namun kisah ini sering kehilangan arah dan bobotnya tak pernah penuh sampai film berakhir, saat kita bertanya “So, what?”. [PG-13]
When Night is Falling ()- 1997 / Patricia Rozema / Pascale Bussieres, Rachael Crawford, David Fox, Tracy Wright, Don McKellar, Henry Czerny / (KANADA) / [112 mnt] Satu lagi film generasi ini yang tak segan-segan memotret dunia homoseksualisme dengan mata yang penuh empati dan tanpa phobia. Camille (Bussier) adalah seorang guru di sekolah Calvinist konservatif. Dia telah merencanakan pernikahan dengan rekan kerjanya, Warren (Fox). Selama itu, Camille telah merasakan kemapanan dalam hidupnya, tak banyak hal yang dia rasa harus dipertanyakan. Tetapi di dalam, jauh di dalam, tersimpan hasrat liar yang terkekang oleh lingkungan dan konvensinya. Kehadiran Petra (Crawford), seorang pemain sirkus yang berjiwa bebas membuka keberanian Camille untuk mengeluarkan hasrat itu sedikit demi sedikit, sampai batas yang tidak terperkirakan, yang membuat Camille harus memilih antara masa lalunya yang konvensional dan masa depannya yang panas dan liar. Rozema adalah sutradara wanita Kanada yang memperkenalkan diri pada publik Amerika tahun 1987 lewat karya pertamanya “I’ve Heard the Mermaids Singing”, sebuah komedi roman yang juga bercerita tentang lesbianisme. Film keduanya ini jauh lebih berani dari debutnya, baik dari segi tema maupun realisasi, walau tidak lebih baik. Rozema mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam merancang visualisasi yang membuat filmnya enak dilihat, skenario yang ditulisnya juga menghasilkan dialog-dialog yang cerdas dan penuh insight, namun modal dasar ide cerita film ini terlalu tipis dan mudah ditebak, juga mengandung beberapa bagian yang tidak terlalu logis, dan kalau mau terus mengungkit-ungkit kekurangannya: semua adegan sexnya sangat soft-corish, dibuat-buat, mirip film-film Zalman King, namun Bussieres dan Crawford terlanjur sensual dan mengundang simpati sehingga semua itu menjadi oke-oke saja. [R]
Where the Day Takes You (½)- 1992 / Marc Rocco / Dermot Mulroney, Robert Knepper, Sean Astin, Balthazar Getty, Lara Flynn Boyle, Kyle MacLachlan, David Arquette, Will Smith, James LeGros, Ricki Lake, Peter Dobson, Nancy McKeon, Adam Baldwin, Rachel Ticotin, Alyssa Milano, Leo Rossi, Stephen Tobolowsky / [105 mnt] Film ini berkisah tentang pemuda-pemudi yang terbuang dari keluarga mereka dan kemudian hidup berkelompok, menggelandang tanpa arah yang jelas di Hollywood Boulevard. Mulroney berperan sebagai seorang yang dituakan dalam kelompok ini, dia mencoba mengendalikan teman-temannya agar tidak terjerumus ke dunia kejahatan, dan juga mengendalikan dirinya sendiri. Kisah ini disampaikan secara setengah flash back lewat konsultasi Mulroney pada seorang psikiater baik hati yang tidak terlihat (Laura San Giacomo yang menyumbangkan suaranya tanpa dibayar). Masalah utama film ini adalah penyutradaraan Rocco, gayanya mungkin cocok untuk membesut sebuah thriller psikologis atau drama seks, namun untuk kisah seperti ini pendekatan visual yang dipakainya terasa kurang bergigi dan kurang mentah. Modal tematisnya juga memang tidak istimewa dan sedikit terlalu sentimentil, namun dalam beberapa bagian kita mampu dibawa hanyut dalam permasalahan para tokohnya. Rombongan pemain mudanya secara umum bermain baik, dengan ditulangpunggungi Mulroney yang kharismatik. [R]
Where the Heart is (½)- 1990 / John Boorman / Dabney Coleman, Uma Thurman, Joana Cassidy, Crispin Glover, Suzy Amis, Maury Chaykin, David Hewlett, Dylan Walsh, Ken Pogue, Sheila Kelley, Christopher Plummer / [108 mnt] Stuart yang kaya raya (Coleman), dengan kemarahan bercampur hati yang berat dan maksud baik, mengusir tiga anaknya (Amis, Glover, dan Thurman) dari rumah dan menempatkan mereka di sebuah bekas perumahan yang telah menjadi sangat kumuh. Nasib buruk kemudian mempersatukan lagi keluarga ini, dan ketika semuanya semakin memburuk, mereka harus bersama-sama memulai dari awal. Berkat beberapa keeksentrikannya, film ini memperlihatkan sisi-sisi yang enak dinikmati secara visual, saling menyeimbangkan dengan sebuah cerita moralis yang bertutur secara agak naif, manipulatif, dan berkadar gula sangat tinggi. [R]
Where the Heart Is ()- 2000 / Matt Williams / Natalie Portman, Ashley Judd, Stockard Channing, Joan Cusack, James Frain, Dylan Bruno, Keith David, Sally Field, Margaret Ann Hoard, Natalie Pena, Yvette Diaz / (120 mnt) Kisah bergaya cute-eksentrik ini adalah milik Novalee Nation (Portman). Novalee suatu hari ditinggalkan pacarnya (Bruno) di sebuah supermarket Wal-Mart di kota yang sama sekali tak dikenalnya. Masalahnya, remaja ini sedang hamil tua dan tak punya uang sama sekali. Namun berada dalam keadaan terbuang seperti ini bukanlah sesuatu yang terlalu menakutkan untuk gadis seperti Novalee, dia telah terbuang sejak kecil, seorang brokenhome murni. Maka Novalee secara sembunyi-sembunyi menginap setiap malam dalam supermarket itu, mencoba mencukupi kebutuhannya dengan barang-barang yang ada di situ. Setiap siang dia berjalan-jalan dan bertemu dengan seorang petugas perpustakaan misterius (Frain). Pria ini jugalah yang tiba-tiba datang mendobrak pintu kaca mart ketika Novalee meregang dan mencoba melahirkan bayinya tanpa bantuan siapa-siapa. Ketika dia siuman di rumah sakit, Novalee sadar bahwa dia telah menjadi seorang ibu dan diapun tiba-tiba menjadi terkenal ke seluruh negara bagian dengan sebutan "Ibu Wal-Mart". Selanjutnya Novalee memutuskan untuk tetap tinggal di sana, dan film ini mengikuti romantika hidupnya yang tak pernah lepas dari suasana-suasana eksentrik dan emosional. Film ini tak mendapatkan sambutan yang terlalu hangat dari para kritisi dan masyarakat film Amerika, kehidupan manis yang menimpa Novalee dianggap sangat irrasional dan semua karakter dalam film ini tak lebih dari kartun-kartun Amerika yang stereotip, kritik yang sangat mirip dengan yang dulu dialamatkan pada film Gus van Sant "Even Cowgirls Get the Blues" (1994). Tapi rasanya tidak adil untuk membandingkan kedua film itu, nuansanya sangat jauh berbeda, Where the Heart is jauh lebih manusiawi, dan kita tak bisa menutup mata bahwa dengan hati yuang lebih ringan kita sangat rela untuk ikut menghayati perjalanan Novalee. Film ini juga tampak tulus dan tidak sok pamer, tak sesuatupun tampak dilebih-lebihkan. Portman adalah magnet, daya tarik gadis ini selalu luar biasa dan aktingnya sangat alami. Para pemain pendukung, dari mulai Judd, Chaning, dan Frain yang memiliki peran yang luas, Cusack yang lebih sedikit, sampai Field yang hanya tampil dalam satu adegan, semua berhasil menarik perhatian. Dan perhatikan juga adegan topan tornado yang sangat mengagumkan, para pembuat "Twister" mestinya malu melihat adegan ini. [PG-13]
Whispers in the Dark (½)- 1992 / Christopher Crowe / Anabell Sciorra, Jamey Sheridan, Alan Alda, Anthony LaPaglia, Jill Clayburgh, Deborah Unger, John Leguizamo, Anthony Heald / [100 mnt] Seorang psikiater muda (Sciorra) mendapat kesulitan dalam membatasi diri untuk tidak terpengaruh oleh fantasi sex seorang pasiennya (Unger), itu baru awal cerita, kemudian “Psikiaterku tidur dengan pacarku!”, dan setelah itu cerita mulai berbelit-belit kesana kemari hingga kita tak akan disebut pikun jika sampai lupa darimana semuanya berawal. Kerumitan ini pada mulanya memang mengasyikan, namun lama kelamaan kita merasa dilecehkan dan tak mau lagi mempercayainya. Para pemain bermain cukup bagus dan tata kameranya lumayan, itu cukup menolong. [R]
Whipped (½)- 2000 / Peter M. Cohen / Amanda Peet, Brian van Holt, Judah Domke, Zorie Barber, Jonathan Abrahams, Callie Thorne / (85 mnt) Tiga orang pemuda lajang (van Holt, Damke, dan Barber) selalu mendiskusikan pengalaman mereka bersama wanita di sebuah restoran kecil. Pada saat yang hampir bersamaan, mereka sama-sama bercerita bahwa masing-masing telah menemukan wanita impian mereka. Tak seorangpun berdusta tentang hal ini. Tapi tak seorangpun sadar bahwa ternyata wanita dalam cerita mereka adalah wanita yang sama bernama Mia (Peet)! Mia mestilah merupakan seorang wanita yang jenius dan tak ada duanya di dunia untuk bisa membuat kisah film ini masuk akal. Dan ketika kita sadar bahwa semua itu terjadi hanya karena kebegoan yang tidak masuk akal dari ketiga tokoh prianya, film ini tak berguna lagi untuk diikuti. [R]
White Balloon, The (½)- 1995 / Jafar Panahi / Aïda Mohammadkhani, Mohsen Kalifi, Fereshteh Sadr Orfani, A. Burkouwska, Mohammad Bakhtiari, Mohammad Sahani / [IRAN] / {Bahasa Persia} / [81 mnt] Film kecil ini dianggap sebagai salah satu film terpenting dalam kebangkitan perfilman Iran di akhir abad XX. Razieh adalah seorang gadis Teheran berusia tujuh tahun yang sangat menginginkan seekor ikan cantik yang dijual di sebuah toko menjelang tahun baru Persia. Lewat bantuan kakaknya, Ali, dia berhasil mendapatkan uang dari ibunya, maka pergilah Razieh ke toko ikan. Namun anak ini terlalu bersemangat sehingga uang itu sempat jatuh ke tangan darwis pemain akrobat ular dan - lebih parah lagi - ke dalam gorong-gorong. Dua pertiga bagian film ini hanya menceritakan usaha Razieh untuk mendapatkan kembali uangnya itu, dan itu tak pernah membuat kita bosan, bahkan kita dengan mudah jatuh hati pada film ini. Simplicity is beauty, atau sebaliknya, akan terbuktikan oleh film ini, keluwesan penceritaan dan keluguan dalam menampilkan masalah juga membuatnya terasa dekat dengan kita. Beberapa ketidakcermatan teknis akan dengan mudah termaafkan (dan itupun hanya akan bisa dilihat oleh mata yang sangat cermat). Akting elastis si kecil Aïda menyediakan daya tarik lain yang membuat film amatiran ini semakin manis. Film ini juga menampilkan beberapa sisi unik Teheran dan masyarakatnya.
* Cannes: Karya Pertama Terbaik, Film Terbaik Pilihan Kritikus Internasional
White Palace (½)- 1990 / Luis Mandoki / Susan Sarandon, James Spader, Jason Alexander, Kathy Bates, Eileen Brennan, Spiros Focas, Gina Gershon, Steven Hill, Rachel Levin, Corey Parker, Renee Taylor, Kim Myers / [100 mnt] Max (Spader), 27 tahun, adalah seorang bekas guru yang kemudian sukses sebagai pengacara dan menempatkan dirinya di kalangan yang sangat terhormat dalam keadaan menduda. Dengan agak ajaib, dia jatuh cinta sampai ke sumsum tulang belakang pada Nora, seorang pelayan restoran hamburger, janda berusia 44 tahun yang masih lumayan sexy walau juga lumayan acak-acakan (di awal sembilanpuluhan siapa yang lebih cocok untuk peran ini daripada Sarandon?). Maka Max dan Nora pun menjalani kisah cinta antar fase hidup dan antar status sosial. Walau film ini lebih banal dan kadang lebih cengeng - selain lebih panas - daripada “Pretty Woman”, namun kewajaran penggambaran gaya hidup para tokohnya sempat membuat film ini sangat menarik dan menghibur, terutama di pertengahan, sampai di sana film ini pantas untuk nilai . Namun bagian akhirnya yang (aduh!) murahan dan dipaksakan, dengan mudah memotong lagi setengah nilai. WP adalah film terakhir dari era Sexy Susan yang berani beradegan apa saja, terlepas dari itu, akting sempurnanya banyak sekali memberi bobot pada film ini, sementara Spader, seperti biasa, tak pernah bermain jelek, namun juga tak pernah sempurna. [R]
Whole Nine Yards, The ()- 1999 / Jonathan Lynn / Matthew Perry, Bruce Willis, Rosana Arquette, Natasha Henstridge, Amanda Peet, Michael Clarke Duncan, Kevin Pollak, Harland Williams, Carmen Ferlan / (KANADA – AMERIKA SERIKAT) / [98 mnt] Kehidupan dokter gigi Oz (Perry) tidak terlalu indah, istrinya, Sophie (Arquette, dengan karikatur Bahasa Inggris berlogat Quebecois), bisa mengacaukan apa saja. Kedatangan Jimmy The Tullip (Willis) untuk menjadi tetangga sebelahnya memperburuk suasana, Oz tahu bahwa Jimmy adalah pembunuh yang baru beas dari penjara. Lagi-lagi Sophie mengacaukan keadaan dan melibatkan gembong penjahat Janni Gogolak (Pollack). Keadaan sudah kacau, belum lagi ditambah keterlibatan asisten Oz, Cynthia (Peet), yang punya rencana sendiri. Intrik dalam komedi ini begitu banyak, namun Lynn tak mampu membuatnya menjadi sesuatu yang segar, kemasannya klise dan tidak bergigi. Willis, Peet, dan Clarke Duncan berhasil sedikit menghangatkan suasana. [R]
Whore ()- 1992 / Ken Russell / Theresa Russell, Benjamin Mouton, Antonio Vargas, Sanjay, Elizabeth Morehead, Michael Crabtree / [85 mnt] ((If You Can't Say It, Just See It! )) Dengan gaya mandiri ala Russell, Whore mengemas kisah depresif tentang kehidupan para pelacur di tengah tekanan para germonya. Cerita mengalir lewat narasi seorang pelacur menjelang tua bernama Pink (Russell dalam jenis akting yang tak mungkin dikatakan bagus atau buruknya) yang menampilkan dirinya hampir dalam setiap adegan. Film ini tak seliar film Russell lain, namun mungkin masih cukup berhasil sebagai sebuah karya seni pribadi pembuatnya, namun luar biasa membosankan untuk dinikmati orang lain. [R]
Wild at Heart ()- 1990 / David Lynch / Nicolas Cage, Laura Dern, Dianne Ladd, Willem Dafoe, Isabella Rosellini, Harry Dean Stanton, Crispin Glover, Sherilyn Fenn, Sherryl Lee / [127 mnt] Sepasang kekasih, Sailor (Cage) dan Lula Pace (Dern) bertualang untuk menjauhkan diri dari teror Mariette, ibu Lula (diperankan oleh Ladd, ibu asli Laura), wanita yang dipenuhi ambisi yang merusak. Drama jalanan ini adalah film wajib tonton untuk penggemar Lynch, walau bukan yang paling penting di antara karya-karyanya. Ada hal yang sangat menarik: di sini terlihat sekali bahwa eksploitasi ego Lynch tak ditunjukkan dengan habis-habisan, hingga secara tematis film ini tak lebih dari film dengan pendekatan naturalisme biasa, walaupun beberapa adegan surrealis sisipannya mungkin masih terasa berlebihan bagi sebagian orang, ending teatrikalnya (Sailor menyanyikan “Love Me Tender” di kap mobil di tengah-tengah kemacetan) juga masih sangat khas dan mungkin membuat marah sebagian pemirsa yang bukan penggemar Lynch, akting super (atau over?) enerjik Ladd dan Dern juga mungkin hanya cocok untuk film-film Lynch. Mungkin dan mungkin. [R]
* Cannes: Film Terbaik, Independent Spirits Awards: Tata Kamera Terbaik
Wild Orchid ()- 1990 / Zalman King / Mickey Rourke, Jacqualine Bisset, Carrie Ottis, Billy Greenwald, Oleg Vidov / [95 mnt] Ottis adalah seorang pengacara yang dikirim Bisset ke Brazil, kemudian di sana dia bertemu Rourke, seorang ……..ah, sudahlah! Tidak ada perlunya mengetahui cerita dan bagaimana penggarapan film ini. Jika yang anda tunggu adalah adegan sex terakhir Rourke-Ottis, putarlah langsung di bagian itu! Dan, ngomong-ngomong, tentang adegan yang “legendaris” itu, sebenarnya tak ada yang harus banyak dibicarakan kecuali bahwa adegan itu tidak masuk akal, dibuat-buat, membosankan, memalukan, membuat risi, murahan, dan tidak sexy. Tontonlah blue film, jenis apa saja, jika yang seperti itu yang anda cari, agar tak terganggu oleh sembilanpuluh menit awal yang sia-sia. [R]
Wild Things ()- 1997 / John McNaughton / Kevin Bacon, Matt Dillon, Neve Campbell, Denise Richards, Carrie Snodgress, Daphne Rubin-Vega, Bill Murray, Robert Wagner, Jeff Perry, Corie Pendergrast / [113 mnt] Dua orang gadis SMU (Campbell dan Mitchell) mengadukan pelecehan seksual yang dilakukan seorang kriminolog (Dillon). Tapi apakah itu bukan sebuah siasat skematis untuk mendapatkan sesuatu? Lalu seorang detektif (Bacon) terlibat untuk membereskannya. Benarkah dia sungguh-sungguh bermaksud demikian? Belum lagi ibu salah satu gadis (Russell) yang tampak begitu misterius. Dan segala sesuatupun melingkar, berbelit, menjerat, dan menipu kita. McNaughton tahu bagaimana caranya membuat kebingungan menjadi hiburan, dia memamerkan bermacam gaya untuk kepentingan itu, dari yang classy dan kontemplatif sampai yang trashy dan eksploitatif. Semua pemain bermain bagus, terutama Bacon dan Campbell. Anda boleh suka atau tidak suka pada film ini, tapi tunggu, buatlah penilaian terakhir anda setelah menyaksikan rangkaian sekuen “coda” yang dengan gila muncul di antara kredit penutup. [R]
Wild Wild West (½)- 1999 / Barry Sonnenfeld / Will Smith, Kevin Kline, Salma Hayek, Kenneth Branagh, Ted Levine, M. Emmet Walsh, Bai Ling, Rodney Grant, Musetta Vander, Frederique Van Der Wal, Sofia Eng / (107 min) Film ini memasangkan Jimmmy West (Smith) dan Artemus Gordon (Kline), sepasang agen resmi yang sepertinya tak mungkin bekerja sama, untuk melawan jenius cacat yang sakit hati dan punya kemampuan jauh mendahului zamannya, Dr. Arliss Loveless (Branagh). Oh, ya, film ini bersetting tahun 1860 tapi orang telah bisa menciptakan apa saja, di antaranya laba-laba mesin yang sangat besar. Tanggapan anda tentang apakah film ini memperlukan karakter Loveless dengan adil atau tidak akan mempengaruhi tanggapan keseluruhan tentang film ini. Kalau anda menganggap WWW berlaku ofensif pada penyandang cacat, sulit sekali untuk menyukai seluruh pertunjukan. Namun jika itu O.K O.K saja, semua yang ditunjukkan oleh Sonnefeld (dia menyutradarai "The Addams Family" dan "Man in Black", anda dapat gammbaran sekarang?) akan sangat menghibur anda, dan semua humor yang mentah dan kasar mungkin cukup untuk membuat anda tersenyum. Film yang hampir spektakuler di permukaan, sekaligus hampir kosong setelah tergali. [PG-13]
William Shakespeare's A Midsummer Night Dream ()- 1999 / Michael Hoffman / Kevin Kline, Michelle Pfeiffer, Rupert Everett, Stanley Tucci, Anna Friel, Calista Flockhart, Christian Bale, Dominic West, David Strathairn, Sophie Marceau, Roger Rees, Max Wright, Gregory Jbara, Bill Irwin, Sam Rockwell, Bernard Hill, John Sessions / {AMERIKA SERIKAT - ITALIA} (115 mnt) Seperti yang pernah dilakukan Keneth Branagh dalam "Hamlet" (1996), Hoffman memindahkan setting komedi klasik Shakespe ini ke abad XIX. Namun Hoffman membuatnya dengan gaya yang sama sekali berbeda. Tuscany sedang bersiap-siap menikahkan Hermia (Friel) dengan Demetrius (Bale), padahal Hermia telah menjalin cinta dengan Lysander (West), sementara Demetrius digilai oleh Helena (Flockhart), bedanya Demetrius menolak Helena mentah-mentah. Keadaan ini membuat Oberon (Everett), dewa hutan, ingin menolong mereka. Dia menugaskan pembantu setianya, Puck (Tucci), untuk menyebar mantra yang bisa memmbuat keempat anak muda itu menjadi dua pasangan yang berbahagia. Namun Puck kurang teliti dan malah membuat masalah lebih runyam. Oberon juga berurusan dengan ratu peri, Titania (Pfeiffer), keduanya memiliki banyak sekali permasalahan masa lalu. Tokoh lain adalah Bottom (Kline), pekerja kasar yang sedang mempersiapkan pertunjukan teater, namun malah dijadikan Oberon alat untuk mengecoh Titania. Film ini lebih santai dan lincah dibanding film-film lain sezamannya yang sama-sama mencoba mengabadikan karya Shakespeare. Cerita kebanyakan difokuskan di tengah hutan, dan penata artistik Andrea Gaeta, Maria Barbasso, dan Ian Whitaker menyulapnya menjadi arena yang hampir berbau impressionistik. Dunia peri Titania mungkin tidak terlalu spektakuler, namun setidaknya kostum rekaan Gabriella Pescucci sangat indah dipandang. A Midsummer Night Dream adalah komedi Shakespeare dengan penumpukan plot yang paling revolusioner, dan skenario Hoffman memanfaatkan setiap potensi yang dimilikinya berkaitan dengan hal itu. Irama film ini mungkin tidak 100% cocok dengan keinginan pemirsa, namun jika hanya untuk menikmati per bagian, banyak sekali adegan/sekuen yang sangat mengesankan, terutama semua yang melibatkan Kline yang memerankan Bottom dengan sangat enerjik. Sekuen teater kelompok pekerja juga pantas mendapat acungan jempol. [PG-13]
William Shakespeare’s Romeo & Juliet (½)- 1996 / Baz Luhrmann / Leonardo DiCaprio, Claire Danes, Brian Dennehy, John Leguizamo, Christina Pickles, Pete Postlewaithe, Paul Sorvino, Diane Venora, Harold Parinneau, Vondie Curtis Hall, M.Emmet Walsh, Jesse Bradford / [120 mnt] Lima abad setelah zamannya, Shakespeare masih bisa menghebohkan kalangan yang lebih banyak daripada sekedar penggemar teater, lagi-lagi lewat karyanya yang paling memasyarakat, kisah tentang tragedi cinta sepasang remaja dengan orangtua yang bertikai. Dengan updating pada setting yang dipadukan dengan dialog yang hampir 100% murni, film ini memang memberikan sesuatu yang inovatif dan meriah dengan penyutradaraan Luhrmann yang sangat lincah didukung segala aspek filmis yang kaya warna dan paduan pemain yang “tepat waktu”, diujungtombaki oleh sepasang magnet remaja, di Caprio dan Danes. Namun segala keberanian film ini jugalah yang membuatnya sering terasa terlalu genit dan selalu membatasi keterlibatan emosi kita di dalamnya, namun toh sudah menjadi superhit juga….. [PG-13]
Winter People ()- 1990 / Ted Kotcheff / Kurt Russell, Kelly McGillis, Lloyd Bridges, Mitchell Ryan, Amelia Burnette, Eileen Ryan / [110 mnt] Seorang pembuat jam (Russell) dan anaknya tiba di sebuah perkampungan dan bertemu dengan seorang wanita (McGillis) bersuami misterius. Beberapa kejadian di perkampungan itu menyusul kemudian, melibatkan dan bahkan mengancam hidup si pembuat jam. Sebuah gabungan drama roman, action, dan thriller kelas ringan. Mentah. [R]
Witch Way Love (½)- 1997 / S / Vanessa Paradis, Gill Bellows, Jeanne Moreau, Jean Reno, Dabney Coleman / (A.S - PRANCIS) / [100 mnt] Mike Firth (Blelows) seorang eksekutif muda komputer Amerika datang ke Prancis, di sana dia disambut oleh seorang sopir wanita, Morganne (Paradis), dan anaknya yang bisa mengubah sesuatu hanya dengan tatapan. Tanpa harus menunggu lama, Mike dan Morganne saling jatuh cinta, dan ternyata Mike harus memasuki urusan keluarga Morganne yang penuh keajaiban dan ilmu sihir. Penyutradaraan dan akting pemain sama naifnya dalam film ini, sementara tema cerita dan spesial efek sama-sama ketinggalan zaman. [R]
With Honors (½)- 1994 / Alek Keshihian / Brendan Fraser, Joe Pesci, Moira Kelly, Patrick Dempsey, Josh Hamilton, Gore Vidal / [100 mnt] Fraser adalah seorang mahasiswa Harvard yang kebetulan menjatuhkan lembaran-lembaran tesisnya ke gorong-gorong Harvard. Pesci adalah seorang gelandangan terpelajar dan sakit-sakitan yang kebetulan tinggal di bawah situ dan menemukan lembaran-lembaran itu. Mereka bertemu, bersahabat, dan kemudian tinggal sekost. Komedi intelek ini kemudian menyoroti pershabatan mereka dan mencoba menggali hal-hal yang lebih dalam. Tidak selalu tergali. Selain penampilan Pesci dalam perannya yang eksentrik (yang di Amerika mungkin hanya bisa ditangani Robin Williams selain dia), cool-nya Fraser, dan beberapa momen yang menyentuh, tidak banyak yang istimewa dalam film ini. Arusnya terlalu datar dan gagal membuat kita hanyut. Film ini juga mengingkari beberapa potensi romannya, tapi justru sering terjebak dalam cutesy dan sentimentalisme. Keberhasilannya di pasar sangat terbantu oleh Madonna yang mengisi soundtracknya dengan “I’ll Remember”. [PG-13]
Wolf ()- 1994 / Mike Nichols / Jack Nicholson, Michelle Pfeiffer, James Spader, Christopher Plummer, Ka